Mahkota Darah: Jalan Menuju Puncak
Bab 3
Api Pertama di Lembah Bayangan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Fajar menyingsing di Lembah Naga Tidur, menyapu kabut tipis yang masih bergelayut di puncak-puncak batu. Cahaya merah keemasan menari-nari di atas permukaan danau kecil di pusat sekte, memantulkan bayangan candi-candi batu yang menjulang seperti raksasa tidur. Lin Feng membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk setelah malam pertama di asrama murid baru. Ia duduk di atas tikar bambu yang keras, menatap langit-langit kayu yang dipenuhi ukiran naga dan pedang. Bau dupa dan minyak tanah memenuhi udaranya, bercampur dengan aroma tanah basah dari luar. Di kejauhan, terdengar suara lonceng perunggu yang dipukul tiga kali, menandakan dimulainya hari pertama pelatihan.
Lin Feng mengusap wajahnya yang lelah. Semalam ia hampir tidak tidur, pikirannya terus berputar-putar pada sumpah yang ia ucapkan di bawah langit berbintang. Mahkota, kekuatan, perlindungan untuk yang lemah. Semua itu terasa begitu jauh di pagi yang sunyi ini. Ia bangkit, meraih jubah abu-abu yang disediakan sekte, dan mengenakannya dengan gerakan kaku. Di luar asrama, udara dingin menusuk kulitnya. Lembah itu masih diselimuti kabut, tetapi beberapa titik api unggun sudah mulai menyala di sekitar lapangan latihan.
Langkah kakinya ringan di atas batu kali yang basah. Ia berjalan menuju sumber suara, di mana sekelompok murid baru berkumpul di sekitar seorang instruktur tua berjanggut putih. Instruktur itu memegang tongkat kayu hitam dan matanya tajam seperti elang. "Dengar, kalian semua! Di Sekte Pedang Abadi, tidak ada tempat untuk yang lemah. Hari ini kalian akan memulai latihan dasar: mengendalikan Qi. Jika ada yang gagal, kalian akan dikirim ke tambang batu giok selama sebulan sebagai hukuman!" Suaranya bergema di lembah.
Lin Feng bergabung dengan kerumunan, merasakan tatapan sinis dari beberapa murid lama yang berdiri di pinggir. Ye Hao ada di antara mereka, bersandar pada tiang batu dengan tangan bersilang. Matanya dingin, bibirnya melengkung dalam senyum meremehkan. "Lihat, si anak jalanan yang beruntung," bisiknya pada teman di sampingnya. "Aku ingin tahu berapa lama ia bertahan sebelum pingsan karena kehabisan napas." Lin Feng mendengarnya dengan jelas, tetapi ia memilih untuk tidak bereaksi. Kemarahan hanya akan menguras energinya.
Latihan dimulai. Instruktur itu mengajarkan teknik pernapasan dasar: hirup energi spiritual dari alam, tahan di dantian, lalu lepaskan perlahan. Lin Feng mengikuti instruksi, matanya terpejam. Ia merasakan aliran hangat menjalar dari telapak kaki hingga ke pusar. Namun, energi itu terasa kental dan sulit dikendalikan, seperti mencoba meremas air dengan tangan. Beberapa murid lain sudah mulai mengeluarkan asap tipis dari tubuh mereka, tanda bahwa mereka berhasil menggerakkan Qi. Lin Feng menggeram frustrasi. Ia membuka matanya, melihat sekeliling. Seorang gadis berpakaian sederhana - Xiao Mei - duduk tidak jauh darinya, matanya fokus pada segenggam batu kecil di tangannya. Batu-batu itu mengeluarkan cahaya redup saat ia merapal mantra pelan.
"Jangan terburu-buru," suara Xiao Mei terdengar lembut di telinganya. Ia menoleh, dan gadis itu tersenyum. "Kau punya bakat, Lin Feng. Tapi tubuhmu belum terbiasa dengan energi spiritual. Coba bayangkan Qi itu seperti air sungai yang mengalir, bukan seperti lumpur yang kau paksa." Lin Feng mengangguk, mencoba teknik baru itu. Kali ini, ia membayangkan sungai jernih mengalir di dalam nadinya. Perlahan, ia merasakan hangat yang lebih stabil. Napasnya menjadi lebih panjang, dan dantiannya bergetar.
Sesi latihan berlangsung selama dua jam. Saat matahari sudah meninggi, instruktur memerintahkan istirahat. Lin Feng duduk di bawah pohon cemara tua, keringat membasahi dahinya. Xiao Mei menghampiri, membawa dua cangkir air herbal. "Minumlah. Ini campuran akar ginseng dan daun gingko, membantu memulihkan tenaga." Lin Feng menerima cangkir itu dengan ucapan terima kasih. Mereka duduk berdampingan, saling diam untuk beberapa saat. "Kau tahu," kata Xiao Mei akhirnya, "aku sudah mendengar tentang ujianmu di hutan. Banyak yang meremehkanmu, tapi aku tahu kau kuat. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu."
Lin Feng menatapnya, merasakan kehangatan aneh di dadanya. "Terima kasih. Tapi aku masih sangat lemah. Aku bahkan belum bisa mengendalikan Qi dengan benar." Xiao Mei tertawa kecil. "Itu normal. Aku butuh tiga bulan untuk bisa menggerakkan Qi pertamaku. Dan kau sudah bisa dalam satu pagi? Itu kemajuan yang luar biasa." Ia meletakkan tangannya di bahu Lin Feng. "Percayalah pada dirimu sendiri. Dan ingat, kau tidak sendirian di sini."
Mereka berbincang lebih lama, tentang teknik kultivasi, tentang keluarga mereka, tentang mimpi. Xiao Mei bercerita bahwa ia berasal dari keluarga pedagang yang bangkrut, dan satu-satunya harapannya adalah menjadi alkemis ulung agar bisa menghidupi adik-adiknya. Lin Feng merasa simpati, dan ia menceritakan sedikit tentang masa lalunya di desa miskin. Saat ia menyebut tentang ibunya yang meninggal saat melahirkannya, Xiao Mei menggenggam tangannya erat. "Kita akan berjuang bersama," bisiknya.
Tiba-tiba, bayangan besar menutupi mereka. Lin Feng menengadah dan melihat Ye Hao berdiri di depannya, diikuti oleh dua pengawalnya. Wajah Ye Hao dingin seperti batu. "Lin Feng, kan? Selamat atas kelulusanmu. Tapi jangan kira itu membuatmu istimewa. Di sini, kau hanyalah sampah yang akan diinjak-injak oleh para ahli sejati." Ia meludah ke tanah di dekat kaki Lin Feng. "Jauhi Xiao Mei. Dia bukan untuk kelas bawah sepertimu."
Xiao Mei berdiri, matanya berkilat marah. "Ye Hao, jangan lancang! Aku bisa berteman dengan siapa pun yang aku suka." Ye Hao tersenyum sinis. "Oh, sobat kecil marah? Baiklah, terserah. Tapi ingat, suatu hari nanti, kau akan merasakan pedangku." Ia berbalik dan pergi, diikuti oleh tawa murid-muridnya.
Lin Feng mengepalkan tinjunya. Darahnya mendidih, tetapi ia menahan diri. "Jangan khawatir," katanya pada Xiao Mei. "Aku tidak akan membiarkannya mengganggumu." Xiao Mei menghela napas. "Hati-hati dengannya, Lin Feng. Ye Hao punya hubungan dengan tetua sekte. Ia bisa membuat hidupmu sengsara." Lin Feng mengangguk, tetapi di dalam hatinya, api tekad semakin membara. Ia harus menjadi kuat, dan cepat.
Sore harinya, Master Bai memanggil Lin Feng ke paviliun pribadinya. Paviliun itu terletak di lereng barat lembah, dikelilingi oleh bambu perak yang berkilauan di bawah sinar senja. Di dalam, Master Bai duduk di atas bantal sutra, di depannya terbentang gulungan kuno. "Lin Feng, duduklah. Aku ingin berbicara tentang warisan yang kau bawa."
Lin Feng terkejut. "Warisan? Maksudmu...?" Master Bai mengangguk perlahan. "Fragmen Warisan Dao Agung yang ada di dalam dirimu. Aku sudah mencium jejaknya saat kau pertama kali masuk sekte. Itu adalah teknik kuno yang sangat berbahaya. Jika diketahui oleh tetua sekte, kau bisa menjadi sasaran pemburuan."
Jantung Lin Feng berdetak kencang. Ia tidak tahu persis apa itu warisan, tetapi ia ingat saat-saat di hutan ketika tubuhnya tiba-tiba dipenuhi kekuatan aneh. "Apa yang harus aku lakukan, Guru?" tanyanya dengan suara gemetar. Master Bai menatapnya dengan mata penuh perhatian. "Kau harus belajar mengendalikannya. Aku akan mengajarimu teknik meditasi khusus untuk menyembunyikan tanda-tanda warisan itu dari pengintaian. Tapi ingat, ini rahasia antara kita. Jangan beri tahu siapa pun, bahkan Xiao Mei."
Malam itu, di bawah sinar rembulan, Lin Feng duduk bersila di tepi danau. Ia mengikuti instruksi Master Bai, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Energi spiritual mengalir masuk, tetapi kali ini ia mencoba merasakan sesuatu yang lebih dalam: fragmen itu, seperti percikan api di dalam sumur gelap. Ia merasakan kehangatan yang membakar, tetapi juga kebijaksanaan yang purba. Tiba-tiba, ia mendengar suara bisikan di kepalanya, suara tua yang bergema: "Bangkitlah, pewaris. Takdir menunggumu."
Lin Feng membuka matanya, kaget. Di permukaan danau, ia melihat bayangan dirinya, tetapi matanya bersinar merah redup. Ia menggigil, lalu menundukkan kepala. 'Apa ini? Siapa yang berbicara?' pikirnya. Tapi tidak ada jawaban. Angin malam berdesir melalui dedaunan bambu, dan burung hantu terbang rendah di atas air. Lin Feng merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Ia berbalik cepat, tangan siap meraih pedang.
Di kejauhan, di antara pepohonan, ia melihat bayangan hitam berdiri diam. Tinggi, kurus, dengan jubah panjang yang berkibar meskipun tidak ada angin. Dua titik merah menyala di tempat matanya seharusnya berada. Lin Feng merinding. Ia ingin berlari, tetapi kakinya terpaku. Bayangan itu melangkah maju satu langkah, lalu menghilang dalam kabut. detak jantung Lin Feng berdegup kencang. Apa itu? Apakah itu pengintai dari sekte lain? Atau sesuatu yang lebih gelap?
Ia buru-buru kembali ke asrama, tetapi tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan: tentang warisan, tentang bayangan misterius, tentang ancaman Ye Hao yang tidak kunjung reda. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali yang tipis, di atas jurang yang dalam. Satu kesalahan, dan ia akan jatuh ke dalam kegelapan. Bibirnya bergetar, tetapi ia mengepalkan tinjunya. 'Aku tidak akan mundur. Demi ibuku, demi semua yang lemah, aku akan terus maju. Bahkan jika aku harus berjalan di atas lautan darah.'
Pagi berikutnya, latihan dimulai lagi. Instruktur mengumumkan bahwa dalam seminggu akan ada turnamen kecil antar murid baru untuk menentukan peringkat. Yang teratas akan mendapat akses ke Perpustakaan Rahasia Sekte. Yang terbawah akan dikirim ke tambang. Lin Feng merasakan tekanan di dadanya. Ia harus menang. Tapi bagaimana caranya, dengan teknik yang masih kasar dan warisan yang belum ia kuasai?
Saat ia berlatih pedang kayu di lapangan, Xiao Mei mendekat dengan wajah cemas. "Lin Feng, dengar. Aku mendapatkan informasi dari seorang pelayan di paviliun tetua. Ada sebuah gua terlarang di ujung utara lembah, di balik air terjun. Konon di sana tersimpan peninggalan kuno yang bisa meningkatkan kekuatan kultivasi secara drastis. Tapi sangat berbahaya. Banyak yang masuk dan tidak pernah kembali."
Lin Feng berhenti sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. 'Apakah ini jawaban untuk masalahku?' pikirnya. Ia menatap Xiao Mei dengan tekad. "Aku akan pergi. Malam ini." Xiao Mei meraih lengannya. "Tunggu! Aku ikut. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Lagipula, aku punya beberapa jimat pelindung dan ramuan penyembuh yang mungkin berguna."
Lin Feng tersenyum, terharu oleh kesetiaannya. "Baiklah. Tapi kita harus berhati-hati. Jika Ye Hao tahu..." Xiao Mei memotong. "Biarkan saja. Kita akan pergi saat bulan purnama, saat penjaga gua sedang lengah. Tapi kita harus bersiap untuk yang terburuk."
Malam itu, saat lonceng berbunyi dua belas kali, Lin Feng dan Xiao Mei menyelinap keluar dari asrama. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu, melewati hutan bambu perak, menuju air terjun raksasa yang gemuruhnya terdengar dari jauh. Cahaya bulan memantul di permukaan air, menciptakan pelangi tipis di tengah malam. Di balik air terjun itu, mereka melihat mulut gua yang gelap, seperti lubang hitam yang menanti untuk menelan siapa pun yang berani masuk.
Xiao Mei merapal mantra, dan tangannya mengeluarkan cahaya biru lembut yang menerangi jalan. Langkah mereka bergema di dalam gua. Udara dingin menusuk tulang, dan bau belerang bercampur amis darah tercium kuat. Lin Feng merasakan fragmen di dalam dirinya berdenyut, seolah-olah merespons sesuatu di kedalaman gua.
Mereka berjalan lebih dalam. Dinding gua dipenuhi ukuran rune kuno yang berkilauan samar. Tiba-tiba, suara gemuruh menggetarkan tanah. Dari kegelapan, muncul sekelompok makhluk bayangan dengan mata merah menyala - sama seperti yang dilihat Lin Feng di tepi danau. Makhluk-makhluk itu menggeram, siap menerkam.
Lin Feng menghunus pedang kayunya, sementara Xiao Mei bersiap melemparkan jimat. Pertempuran pun tak terhindarkan. Lin Feng menggerakkan pedangnya dengan teknik yang baru dipelajari, tetapi makhluk-makhluk itu terlalu cepat. Ia terluka di lengan, darah mengalir. Xiao Mei melemparkan jimat api yang meledak, mengusir beberapa makhluk, tetapi lebih banyak lagi yang datang dari bayang-bayang.
Dalam kepanikan, Lin Feng merasakan fragmen di dalam dirinya meletus. Gelombang energi dahsyat meledak dari tubuhnya, menerangi seluruh gua dengan cahaya putih yang menyilaukan. Makhluk-makhluk itu menjerit dan lenyap menjadi abu. Lin Feng jatuh berlutut, napas tersengal. Xiao Mei berlari menghampirinya, wajahnya pucat. "Lin Feng! Kau baik-baik saja?"
Ia mengangguk lemah, tetapi matanya tertuju pada sesuatu di ujung gua: sebuah peti batu yang diukir dengan naga bersayap. Peti itu memancarkan aura purba yang begitu kuat. Lin Feng merangkak mendekat, dan saat ia menyentuh tutupnya, suara bisikan itu terdengar lagi: "Buka... dan terimalah takdirmu..."
Tanpa pikir panjang, ia mendorong tutup peti. Di dalamnya, terbaring sebilah pedang pendek berwarna hitam legam, dengan bilah yang tampak seperti terbuat dari kristal gelap. Di gagangnya, terukir kata-kata kuno: "Penghancur Takdir". Saat Lin Feng meraih pedang itu, panas yang membakar menjalar ke seluruh tangannya. Ia merasakan seolah-olah pedang itu hidup, menyatu dengan darahnya.
Tapi saat itu juga, suara langkah kaki bergema dari luar gua. Suara tawa dingin yang dikenalnya : "Kukira kau akan datang ke sini, sampah. Sekarang, kau dan temanmu akan menjadi santapan para penjaga abadi."
Lin Feng menoleh dan melihat Ye Hao berdiri di mulut gua, dikelilingi oleh puluhan murid bersenjata lengkap. Di belakangnya, sesosok bayangan hitam dengan mata merah - makhluk yang sama yang ia lihat semalam - berdiri diam. Ye Hao tersenyum jahat. "Serahkan pedang itu, atau kau akan mati di sini, bersama dengan Xiao Mei."
Lin Feng menggenggam pedang hitam itu erat, darah menetes dari lengan lukanya. Ia menatap Xiao Mei yang gemetar, lalu kembali menatap Ye Hao. Api di dadanya membakar lebih dahsyat dari sebelumnya. "Kau menginginkan perang, Ye Hao? Kau akan mendapatkannya."
Di dalam gua yang gelap, di antara bayang-bayang yang bergoyang, pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai.
~ Bab 3 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.