Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Darah: Jalan Menuju Puncak

Bab 2

Badai dari Debu

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Debu di bawah kakinya masih terasa hangat saat Lin Feng melangkah maju, mengikuti kerumunan calon murid yang berdesakan menuju arah gerbang Sekte Pedang Abadi. Wang Long, yang kini berjalan di sampingnya, tidak menyembunyikan ejekan di matanya. "Jangan terlalu berharap, anak desa. Ujian masuk bukan sekadar soal nyali. Kamu akan melihat sendiri betapa kejamnya dunia ini."

Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya mengingat kata-kata ibunya yang seperti api di dalam dada-kata-kata yang membuatnya berdiri tegak meski hati gemetar. Jalan setapak berbatu yang mereka lalui dipenuhi dengan bayang-bayang pohon kuno yang menjulang tinggi, seolah-olah menyaksikan setiap langkah para pendatang baru dengan tatapan penghakiman. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan sedikit darah-bau yang sudah akrab di dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum.

Di kejauhan, ia melihat sekelompok pemuda berdiri di bawah pohon beringin raksasa. Salah satu dari mereka, berjubah sutra biru dengan sulaman naga perak, menatapnya dingin. Wajahnya tampan, tapi matanya penuh keangkuhan yang membuat siapa pun merasa kecil. Itu adalah Ye Hao, putra dari Klan Ye yang terkenal. Beberapa murid lain berbisik-bisik ketika Ye Hao melangkah maju.

"Hei, anak miskin," sapa Ye Hao dengan suara yang terdengar seperti pisau menggesek batu. "Apa kau yakin ingin melangkah lebih jauh? Atau kau hanya ingin menjadi pakan bagi binatang buas di dalam sekte?"

Lin Feng menahan napas. Ia tahu bahwa melawan Ye Hao secara langsung adalah bunuh diri-setidaknya untuk saat ini. Namun hatinya berkata lain. "Aku tidak takut pada binatang buas," jawabnya perlahan, "aku hanya takut pada ketidakadilan yang dibuat oleh manusia."

Mendengar itu, Ye Hao tertawa kecil, tapi matanya semakin tajam. "Ketidakadilan? Dunia ini adil, anak desa. Yang kuat berkuasa, yang lemah mati. Kau akan mempelajarinya dengan cepat-atau kau akan mati dengan cepat."

Tanpa menunggu jawaban, Ye Hao berbalik dan berjalan pergi ke arah gerbang besar yang terbuka lebar. Di belakangnya, dua pengawal berotot mengikuti dengan langkah tegap. Wang Long mendekat, berbisik, "Itu Ye Hao. Jangan coba-coba melawannya. Dia sudah berada di puncak tahap Qi Gathering, hampir mencapai Foundation. Satu gerakan darinya bisa menghancurkanmu."

Namun Lin Feng tidak gentar. Fragmen Dao di dalam dirinya berdenyut dengan irama yang aneh-seperti nyanyian kuno yang mengalir dalam darahnya. Ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan: seolah-olah ada kekuatan terpendam yang menunggu untuk dibangkitkan. Tapi untuk saat ini, ia harus bertahan.

Perjalanan menuju gerbang sekte memakan waktu setengah hari. Hutan yang mereka lalui semakin gelap dan lembab. Di sana-sini, terlihat kerangka hewan yang membusuk, dan sesekali lolongan serigala hitam terdengar dari kejauhan. Para calon murid semakin tegang. Beberapa dari mereka sudah mulai berdebat tentang siapa yang paling layak, sementara yang lain hanya diam dan fokus pada tujuan.

Saat matahari mulai condong ke barat, mereka tiba di sebuah lembah luas yang dikelilingi tebing karst menjulang. Di tengah lembah, berdiri sebuah menara batu hitam setinggi seratus meter-tiang langit yang menjadi simbol Sekte Pedang Abadi. Di sekelilingnya, formasi batu kuno berkilauan dengan cahaya spiritual yang redup, menandakan bahwa tempat itu dijaga oleh susunan sihir tingkat tinggi.

Seorang lelaki tua berjubah putih muncul dari balik menara. Rambutnya putih panjang, wajahnya keriput namun matanya bersinar seperti bintang di malam hari. Ia adalah Master Bai, tetua yang diasingkan namun masih memiliki pengaruh di kalangan bawah. Pandangannya segera tertuju pada Lin Feng, dan senyum samar terbit di bibirnya.

"Kalian semua calon murid baru?" suara Master Bai bergema, tenang namun penuh wibawa. "Ujian dimulai sekarang. Kalian harus melewati tiga gerbang: Gerbang Ketahanan, Gerbang Kebijaksanaan, dan Gerbang Kekuatan. Hanya mereka yang lulus yang akan diterima sebagai murid resmi."

Kerumunan berbisik. Beberapa dari mereka sudah pernah mendengar rumor tentang ujian ini-bahwa banyak peserta yang tewas atau lumpuh seumur hidup. Wang Long, yang duduk di samping Lin Feng, bergumam, "Gerbang Ketahanan adalah yang paling mematikan. Konon, di sana kalian akan dihadapkan pada ilusi yang menggali ketakutan terdalam. Jika hatimu lemah, kau akan menjadi gila."

Lin Feng menelan ludah. Ia teringat masa kecilnya yang penuh penderitaan-ayahnya yang mati dibunuh oleh bandit, ibunya yang bekerja keras siang malam, dan ejekan dari anak-anak desa lainnya. Semua itu bisa menjadi senjata bagi ilusi. Namun ia juga ingat tekadnya: ia harus menjadi kuat, bukan untuk balas dendam, tetapi agar tidak ada lagi yang menderita di sekelilingnya.

Master Bai mengangkat tangannya. Sebuah gerbang batu besar muncul dari tanah, dihiasi ukiran naga dan burung phoenix yang saling bertarung. Cahaya merah darah menyilaukan mata. "Ini Gerbang Ketahanan," kata Master Bai. "Masuklah seorang diri. Kalian akan keluar setelah berhasil mengatasi semua ujian di dalamnya. Ingat: apa pun yang terjadi, jangan pernah menyerah. Hanya mereka yang mampu bertahan di tengah badai yang layak menjadi murid Pedang Abadi."

Satu per satu peserta masuk. Ada yang berjalan mantap, ada yang gemetar, dan beberapa bahkan pingsan sebelum menyentuh gerbang. Saat tiba giliran Lin Feng, ia merasakan jantungnya berdebar kencang. Fragmen Dao di dadanya berdenyut lebih cepat, seolah memberi peringatan. Namun ia tetap melangkah.

Begitu melewati ambang gerbang, dunia segera berubah. Ia berdiri di tengah padang pasir yang tak berujung, di bawah matahari yang membakar. Tidak ada bayangan, tidak ada angin. Hanya panas yang menyengat dan debu yang menyesakkan napas. Ia mendengar suara ibunya dari kejauhan-"Feng'er, jangan pergi!"-tapi ketika ia berbalik, hanya ilusi yang menghilang.

"Ini hanya ujian," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak akan jatuh."

Langkah demi langkah, ia berjalan. Debu pasir menempel di kulitnya yang basah oleh keringat. Ilusi demi ilusi datang silih berganti: wajah ayahnya yang berlumuran darah, suara ejekan anak-anak desa, dan bayang-bayang binatang buas yang siap menerkam. Namun setiap kali, fragmen Dao di dalam tubuhnya memancarkan kehangatan yang menenangkan. Seperti api kecil di tengah badai, ia terus menyala.

Setelah berjam-jam-atau mungkin hanya beberapa menit, karena waktu terasa kacau-ia mencapai ujung padang pasir. Di depannya, sebuah gerbang kedua muncul: Gerbang Kebijaksanaan. Di sana, ia dihadapkan pada teka-teki kuno tentang hukum langit dan bumi, tentang siklus kehidupan dan kematian. Ia harus mengingat fragmen-fragmen pengetahuan yang ia pelajari dari buku-buku usang di perpustakaan desa.

"Apa yang lebih berat: gunung atau kesombongan?" tanya suara dari angkasa.

Lin Feng merenung. "Kesombongan," jawabnya akhirnya. "Karena gunung hanya diam, tapi kesombongan membuat manusia jatuh."

Gerbang terbuka. Cahaya keemasan menyilaukan, dan ia melangkah ke ruang ketiga: Gerbang Kekuatan. Di sini, ia harus bertarung melawan bayangan dirinya sendiri-manifestasi dari keraguan dan ketakutannya. Pertarungan itu berlangsung sengit. Tinju mereka saling beradu, tubuh dipenuhi luka. Namun Lin Feng ingat: ia tidak melawan musuh di luar, melainkan dirinya sendiri. Maka ia berhenti sejenak, menarik napas dalam, dan memaafkan dirinya atas semua kelemahan masa lalu.

Bayangan itu lenyap.

Ketika ia keluar dari gerbang terakhir, langit sudah gelap. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di atas lembah. Master Bai menunggu di luar, diikuti oleh beberapa murid lain yang sudah lulus-termasuk Ye Hao yang duduk di samping api unggun dengan ekspresi dingin. Wang Long juga ada di sana, matanya melebar melihat Lin Feng selamat.

"Selamat datang di Sekte Pedang Abadi, Lin Feng," ucap Master Bai dengan suara pelan. "Kau telah menunjukkan bahwa debu pun bisa menjadi badai. Tapi ingat: perjalananmu baru dimulai. Di sini, setiap hari adalah pertempuran. Dan musuh terbesarmu bukanlah Ye Hao atau siapa pun-melainkan dirimu sendiri."

Lin Feng mengangguk. Ia menatap api unggun yang menjulang, membayangkan mahkota di puncak yang harus ia rebut. Di sudut matanya, ia melihat sesosok gadis berpakaian sederhana-mungkin Xiao Mei-yang tersenyum padanya dari kejauhan. Ada harapan di matanya, dan itu membuat Lin Feng merasa bahwa meskipun dunia ini penuh darah dan pengkhianatan, ia tidak akan berjalan sendirian.

Malam itu, di bawah langit berbintang, Lin Feng bersumpah dalam hati: ia akan menjadi yang terkuat, bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk melindungi mereka yang lemah. Dan jika perlu, ia akan menginjakkan kaki di jalanan berlumuran darah untuk mencapai puncak itu.

~ Bab 2 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai