Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Mahkota Darah: Jalan Menuju Puncak

Bab 1

Debu di Tiang Langit

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Di perbatasan utara Benua Tian Yuan, di mana deru angin gurun berpadu dengan bisik hutan purba, terbentanglah Desa Seratus Tulang. Bukan nama yang indah, melainkan peringatan tak terucap tentang kerasnya hidup di bawah bayang-bayang Sekte Pedang Abadi. Di sini, setiap pagi lahir dengan warna kelabu, bukan karena awan, melainkan debu yang beterbangan dari lantai tanah yang dipijak seratus kali oleh kaki telanjang. Di salah satu gubuk reyot yang atapnya bocor di tujuh tempat, seorang pemuda bernama Lin Feng membuka matanya sebelum ayam jantan pertama berkokok.

Matanya, meskipun redup karena kurang tidur, menyimpan api yang tak bisa dipadamkan oleh kemiskinan. Ia meregangkan tubuh kurusnya, tulang-tulang berbunyi seperti rantai berkarat yang digerakkan. Di usianya yang keenam belas, tubuhnya lebih mirip kerangka yang dibungkus kulit daripada seorang kultivator masa depan. Namun di dalam dadanya, sebuah pusaran energi samar – fragmen Warisan Dao Agung yang diwariskan secara tidak sadar – berdenyut pelan, tak terdeteksi bahkan oleh tetua sekte paling bijak sekalipun.

Ia melangkah keluar gubuk. Embun pagi yang dingin menusuk pori-pori, membawa aroma tanah basah dan keringat yang mengering di pakaiannya. Di kejauhan, gunung-gunung menjulang seperti pilar-pilar raksasa yang menyangga langit. Puncak tertinggi, yang disebut Puncak Pedang Langit, adalah rumah bagi Sekte Pedang Abadi – tempat di mana energi spiritual mengalir seperti sungai tak terlihat, dan hidup adalah perjuangan terus-menerus antara yang kuat dan yang lemah.

"Feng! Kamu masih melamun? Ayo bekerja!" suara serak ibunya terdengar dari dalam. Wanita itu, dengan punggung bungkuk karena bertahun-tahun membanting tulang, sudah menyiapkan sarapan sederhana: semangkuk bubur dari umbi-umbian yang rasanya pahit. Lin Feng menghampiri, menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Bukan karena lapar, melainkan karena rasa malu yang menggerogoti. Ia adalah seorang pemuda yang gagal mengaktifkan inti Qi-nya pada usia dua belas tahun, seperti biasa dilakukan anak-anak lain di desa. Ia dicap sebagai mayat hidup yang tak layak untuk menjadi kultivator.

Tapi ibunya tidak pernah mengeluh. Wanita itu selalu bilang, "Nasib hanya milik langit, tapi tekad adalah milik manusia." Kata-kata itu menjadi tali yang menahan Lin Feng dari kehancuran total. Setelah meneguk bubur hangat, ia bergegas ke sawah. Di sawah, ia tidak bekerja sendiri. Bersama puluhan petani lainnya, ia membajak tanah dengan bajak kayu yang ditarik kerbau. Lumpur hitam menyapu kakinya, kotoran hewan bercampur dengan keringat. Namun di tengah kehinaan itu, Lin Feng rajin mengingat setiap gerakan yang diajarkan oleh seorang kakek tua bijak yang pernah singgah di desa lima tahun lalu - mungkin hanya seorang petapa biasa, atau mungkin seorang kultivator yang menyamar. Kakek itu mengajarinya teknik pernapasan yang sederhana namun aneh: menarik napas seolah-olah ia menghirup seluruh dunia, lalu menghembuskannya seolah-olah ia mengusir semua racun kehidupan.

"Tarik napas... tahan... hembuskan..." bisiknya dalam hati sambil mengayunkan bajak. Energi spiritual di sekitarnya, yang sangat tipis di desa ini, mulai berputar pelan di sekitar tubuhnya. Ia merasakan sesuatu – seperti kehangatan yang merambat dari pusar ke seluruh tubuh. Cuma sekejap, dan lenyap. Tapi itu cukup untuk membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Mungkin, pikirnya, mungkin takdir belum sepenuhnya menutup pintu untuknya.

Setelah matahari naik setinggi tombak – sekitar pukul sembilan pagi menurut jam matahari desa – tengara tiba-tiba mengguncang desa. Suara genderang dari arah gunung. Suara itu menggetarkan jiwanya. Ia tahu apa artinya: Sekte Pedang Abadi akan mengadakan ujian penerimaan murid baru. Setiap tiga tahun sekali, sekte itu membuka gerbangnya bagi anak-anak berbakat dari seluruh penjuru Tian Yuan. Bagi pemuda seperti Lin Feng, ini adalah satu-satunya jalan keluar dari kubangan lumpur.

Ia berhenti membajak. Kerbau di depannya mendengus tidak sabar. Tapi Lin Feng tidak peduli. Ia melompat keluar dari sawah, meninggalkan bajak di tengah jalan. Petani-petani lain memandangnya sinis. "Dia mau ke mana? Mau ikut ujian? Hah! Mending dia jadi babi saja, lebih berharga," ledek salah seorang.

Lin Feng menggertakkan gigi, tapi tidak membalas. Ia sudah terbiasa dengan cemoohan. Ia tahu kata-kata hanya akan membuang energinya. Jadi ia berlari menuju rumah. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Xiao Mei, sahabat satu-satunya di desa ini. Gadis itu cerdas, dengan rambut diikat dua ekor kuda, dan selalu membawa buku alkimia di tangannya. "Feng! Aku dengar kabar. Kau akan ikut ujian?" tanyanya dengan mata berbinar.

"Ya. Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini," jawab Lin Feng sambil menyeka lumpur dari wajahnya.

"Tapi... tubuhmu masih belum ber-Qi Gathering. Ujian paling awal di Sekte Pedang Abadi adalah tes bakat. Mereka akan memeriksa apakah tubuhmu bisa menampung energi spiritual. Kau tahu sendiri..." suara Xiao Mei mengecil.

"Aku tahu. Tapi lebih baik mencoba dan gagal, daripada... daripada tidak mencoba sama sekali," kata Lin Feng dengan suara serak. Ia menunduk, lalu menatap Xiao Mei dengan sorot mata yang membuat gadis itu terhenyak. Di mata Lin Feng ada api, api yang sama yang membakar gurun.

Xiao Mei mengangguk. "Kalau begitu, aku akan membantumu. Aku punya beberapa pil Qi palsu - hanya sepele, tapi bisa memberi sedikit dorongan energi. Enggak banyak, tapi mungkin cukup untuk membuatmu terlihat sedikit lebih berbakat."

"Tidak. Aku tidak ingin curang. Jika langit menghendaki aku gagal, biarlah gagal dengan jujur," tolak Lin Feng tegas. Harga dirinya adalah satu-satunya harta yang tersisa.

Xiao Mei menghela napas. "Keras kepala. Baiklah, setidaknya aku akan menemanimu. Aku juga ingin melihat ujian." Mereka berdua berjalan ke alun-alun desa. Di sana, sudah berkumpul puluhan orang tua dan anak-anak dari beberapa desa sekitar. Di tengah, berdiri tiga orang berpakaian jubah putih bersulam awan emas – pelayan sekte utama. Salah satunya, seorang pemuda tampan dengan rambut biru, memandang kerumunan dengan dingin. Itu bukan karakter dari daftar utama, tapi mungkin salah satu murid sekte yang diutus.

"Hari ini, Sekte Pedang Abadi dengan rendah hati membuka kesempatan bagi jiwa-jiwa yang lapar akan kekuatan. Siapa yang merasa pantas, majulah!" seru pemuda biru itu. Suaranya lembut namun menusuk telinga seperti jarum es.

Lin Feng melangkah maju bersama puluhan anak lainnya. Tubuhnya gemetar. Ia melihat anak-anak dari desa sebelah yang sudah memiliki postur tegap – jelas-jelas sudah berlatih seni bela diri. Ada juga satu anak bangsawan dengan pakaian sutra hijau, dikawal dua pelayan. Anak itu adalah Ye Hao? Tidak, tapi mungkin seorang bangsawan kecil. Ye Hao disebut dalam karakter sebagai antagonis utama yang jenius dan sombong, tetapi mungkin belum muncul di Bab 1. Namun untuk menjaga konsistensi, bisa disebutkan bahwa Ye Hao adalah murid senior yang mengawasi. Tapi dalam skenario ujian masuk, lebih tepat jika yang memandu adalah murid senior. Mungkin Ye Hao tidak hadir secara langsung, tapi disebut namanya oleh pemuda biru itu.

"Perhatian! Aku adalah Murid Inti, Wang Long. Aku bertindak atas nama Tetua Sekte. Sekarang, kalian akan diperiksa menggunakan Batu Jiwa. Letakkan tangan kalian di atasnya, dan biarkan batu itu membaca potensi spiritual kalian." Wang Long mengeluarkan sebuah batu bulat bercahaya hijau dari sakunya. Batu itu melayang di udara, memancarkan aura yang membuat bulu kuduk merinding.

Satu per satu anak-anak maju. Kebanyakan hanya membuat batu itu berkedip samar – artinya mereka hanya memiliki bakat rendah, cukup untuk menjadi murid biasa. Lalu anak bangsawan tadi maju. Begitu tangannya menyentuh batu, batu itu bercahaya terang seperti api hijau. Wang Long mengerutkan kening. "Bakat Kelas B! Bagus, bagaimana namamu?"

"Aku Liu Che, putra kedua Klan Liu dari Wilayah Selatan," jawab anak itu dengan angkuh.

"Kamu diterima. Masuk ke barisan kanan."

Giliran berikutnya adalah anak-anak lain yang hanya memicu kedipan lemah. Sampai akhirnya tiba giliran Lin Feng. Ia menarik napas panjang. Di belakangnya, Xiao Mei menggenggam tangannya erat. "Kau bisa, Feng."

Lin Feng melangkah menuju batu itu. Ia meletakkan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan di atas permukaan batu yang dingin. Sesaat, tidak terjadi apa-apa. Hening. Lalu batu itu bergetar. Cahaya merah tipis muncul di permukaannya, lalu memudar. Wang Long melihatnya, lalu menggeleng kepala. "Hanya bakat Kelas F – yang terendah. Tubuhmu nyaris tidak peka terhadap energi spiritual. Tidak ada harapan."

Lin Feng merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam tulang rusuknya. Ia ingin menjerit, ingin membanting batu itu ke tanah. Tapi ia menahan diri. Ia hanya menunduk, lalu berbalik.

"Tapi..." Wang Long tiba-tiba berseru. "Tubuhmu meskipun tidak berbakat, tapi ada sesuatu... energi asing di dalammu. Fragmen? Tidak, tidak mungkin. Anak miskin macam kamu..." Wang Long mendekat, menyipitkan mata. "Apa yang kamu sembunyikan?"

Lin Feng tersentak. Fragmen Warisan Dao Agung! Apakah ketahuan? Dadanya berdebar kencang. Ia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya. Wang Long merasakan ada keanehan. "Kamu, ikut aku ke sekte. Akan kuperiksa lebih lanjut. Mungkin kamu menyimpan harta terlarang, atau menelan sesuatu yang tidak seharusnya. Jika terbukti curang, kamu akan dihukum mati."

Kerumunan bergemuruh. Ibu Lin Feng yang berada di pinggir lapangan menjerit panggil namanya. Tapi Lin Feng hanya terdiam. Di dalam pikirannya, ia berperang: antara menerima kenyataan pahit bahwa ia mungkin akan menjadi bahan eksperimen sekte, atau melarikan diri dan menjadi buronan. Tapi ia juga teringat pada kata-kata ibunya, dan tekadnya yang membaja.

"Aku akan ikut," katanya lirih, namun tegas. "Apa pun risikonya."

Wang Long tersenyum sinis. "Bagus. Aku suka nyali. Tapi ingat, di Sekte Pedang Abadi, nyali saja tidak cukup. Kamu harus punya kekuatan untuk melindungi dirimu sendiri. Dan engkau... tidak punya apa-apa."

Sorot mata Wang Long penuh penghinaan. Namun Lin Feng tidak gentar. Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menembus kulit telapak tangan. Darah menetes ke debu.

Di kejauhan, di balik pepohonan, sesosok lelaki tua berjubah compang-camping mengamati dengan mata setajam elang. Lelaki itu – Master Bai – tersenyum tipis. "Fragmen Dao... akhirnya aku menemukanmu, anak muda. Langit telah menunjukkan jalannya."

Matahari tengah hari menyinari debu yang beterbangan. Di atas panggung, Lin Feng berdiri di antara kerumunan yang mengejek dan ragu. Ia adalah debu di tiang langit – hina, namun bisa menyatu menjadi badai. Atau mungkin, hanya akan tertiup angin dan lenyap. Tapi ia tidak akan menyerah. Sebab dalam hati kecilnya, di antara fragmen Dao yang berdenyut, ia meyakini bahwa mahkota sejati hanya bisa diraih oleh mereka yang berani menginjakkan kaki di jalanan berlumuran darah.

~ Bab 1 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai