Sekelumit Lorong Senyap
Bab 1
Lorong yang Bernafas
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Senja itu, ketika Pak Sigit melangkahkan kaki ke teras rumah nomor 13 Perumahan Sekelumit, ia merasa ada yang menekan dadanya-bukan sesak napas, melainkan semacam kehadiran purba yang menyusup ke dalam rongga paru-parunya. Langit di atas atap genting yang berlumut itu terbelah oleh semburat jingga yang mengerikan, seakan api abadi dari masa lalu sedang merembes melalui celah-celah awan. Perumahan tua ini, yang dulu ia lihat dalam brosur murah hati, kini tampak seperti sebuah katedral kematian: jendela-jendela kosong bagai rongga mata tengkorak, dan lorong-lorong di antara bangunan membisikkan sesuatu dalam bahasa yang tidak dikenal. Pak Sigit menekan kenop pintu kayu jati yang berat, dan ketika daun pintu terbuka, sebuah bau usang menerpa-campuran kamper, debu berabad-abad, dan sesuatu yang lebih kelam: harum tanah kuburan yang baru digali.
Rumah itu berdiri di ujung gang buntu, dikelilingi oleh pepohonan asam yang akarnya seperti jari-jari kurus mencengkeram pondasi. Ia telah membeli properti ini dengan harga yang tidak masuk akal-separuh dari nilai pasar-dan agen properti dengan cepat menutup telepon begitu tanda tangan dibubuhkan. Warga sekitar, yang ia temui di warung kopi sore tadi, hanya menggelengkan kepala saat mendengar alamat barunya. Seorang nenek dengan mata sayu bahkan berbisik: "Jangan tidur di lorong," sebelum meludah ke tanah dan pergi. Pak Sigit menganggap itu semua takhayul kampung. Lagipula, ia adalah pria rasional yang percaya pada angka-angka di spreadsheet, bukan pada bisikan di kegelapan. Namun malam itu, ketika ia berjalan menyusuri koridor panjang menuju kamar tidur utama, ia merasa langkahnya diam-diam disinkronkan dengan detak jam dinding yang sudah mati berkarat.
Kamar tidurnya terletak di ujung lorong yang membentuk huruf L terbalik. Di sisi kiri lorong, sebuah cermin besar berbingkai ukiran naga berdiri tegak, permukaannya buram oleh usia. Pak Sigit sempat berhenti sejenak, menatap pantulannya yang samar-samar. Ia melihat kemeja putihnya yang lusuh, rambut yang mulai memutih di pelipis, dan raut wajah lelah seorang pegawai negeri yang sudah dua puluh tahun bergelut dengan tumpukan berkas. Apa yang ia lakukan di sini? Pertanyaan itu mengambang di udara seperti dupa yang baru dipadamkan. Ia menggeleng, lalu masuk ke kamar dimana dipan tua beralas kapuk telah menunggu. Tanpa mengganti pakaian, ia merebahkan tubuh, dan sebelum kesadaran benar-benar lepas, ia mendengar sesuatu seperti desahan panjang dari arah lorong. Mungkin tikus, pikirnya. Atau angin yang menyusup lewat celah-celah jendela.
Tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa ia tiba-tiba terbangun di tengah lorong beberapa jam kemudian. Bukannya di atas dipan yang hangat, ia berdiri di atas ubin dingin yang memantulkan sinar rembulan dari jendela pecah di atas. Pak Sigit kebingungan-kakinya telanjang, dan ia tidak ingat meninggalkan kamar. Lorong itu kini tampak berbeda: lebih panjang, lebih gelap, dan dinding-dindingnya seolah-olah bernafas perlahan. Di ujung lorong, cermin besar yang tadi ia lewati kini bersinar dengan cahaya pucat. Pak Sigit berjalan mendekatinya, tanpa sadar, seperti boneka yang ditarik tali. Dan ketika ia berdiri di depan cermin itu, ia melihat dirinya sendiri-tetapi bukan dirinya yang sekarang. Pantulan itu mengenakan jas hitam yang tidak ia miliki, dengan kancing emas yang berkilau aneh. Wajahnya more muda, lebih tajam, tetapi matanya kosong seperti sumur tua. Kemudian, dari pantulan itu, muncul suara yang sekaligus akrab dan asing: "Kau bukan yang pertama, tapi kau bisa menjadi yang terakhir."
Pak Sigit tersentak. Suara itu bergema dari dalam dadanya sendiri, namun mulutnya tidak bergerak. Ia menekan telapak tangan ke permukaan kaca yang dingin-dan seketika rasa panas membakar telapaknya. Ia menarik tangan, tetapi terlambat: di lengan kirinya, sebuah tato mulai muncul, menggores kulit seperti besi panas menyentuh daging. Angka 1666 tercetak di sana, dalam huruf romawi yang rumit, dikelilingi oleh lingkaran rantai yang patah. Rasa sakit itu luar biasa, tetapi lebih mengerikan lagi adalah pemahaman yang merayap masuk ke dalam pikirannya: angka itu adalah tahun pendirian kolonial Belanda di daerah ini. Portal kuno yang dijaga oleh rumah-rumah tua seperti ini. Dan tato itu adalah segel-tanda bahwa ia telah dipilih menjadi penjaga.
"Apa ini?" bisiknya, suaranya pecah di lorong yang sunyi. Cermin itu mulai retak, garis-garis halus menjalar dari pusat pantulannya seperti urat saraf yang putus. Dalam retakan itu, ia melihat kilasan-kilasan: seorang pria berbaju kolonial dengan pedang terhunus, seorang perempuan bersarung yang menangis di bawah pohon beringin, dan deretan angka yang sama-1666-terukir di batu nisan. Kemudian, pantulan dirinya yang muda tersenyum-senyum yang penuh kemenangan dan kekalahan sekaligus. "Aku sudah kalah sebelum kau lahir," kata pantulan itu, dan tawanya menggema, menggetarkan dinding-dinding lorong hingga plester berjatuhan seperti abu.
Pak Sigit mundur, tetapi kakinya seperti terpaku di lantai. Ia menatap lengan kirinya yang kini terbakar oleh tato yang terus menggeliat, seolah-olah angka-angka itu adalah cacing yang hidup di bawah kulit. Dan di dalam kepalanya, suara-suara mulai berbisik, tumpang tindih, seperti paduan suara dari dimensi lain. Ia mendengar nama-nama: Raden Mas, Van der Wijck, Maria van der Heijden-nama-nama yang tidak pernah ia dengar tetapi terasa familiar di lidah. Ia sadar bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan. Lorong ini bukan sekadar lorong. Lorong itu adalah sebuah kesadaran, makhluk purba yang hidup dengan memakan ingatan penghuninya. Dan ia-Pak Sigit, pegawai negeri biasa yang tidak pernah percaya pada hal-hal gaib-adalah inkarnasi ketiga belas dari penjaga yang gagal menyegel portal.
Cermin itu kini retak seluruhnya, dan pantulannya hancur menjadi serpihan yang memantulkan wajah-wajah lain. Ia melihat dua belas pria dan wanita yang sama dengannya, dengan lengan yang sama bertato angka 1666, semuanya mati dengan cara yang mengerikan: tenggelam di sumur, terbakar di dapur, jatuh dari loteng, atau hilang begitu saja tanpa jejak. Mereka adalah para penjaga sebelumnya, yang telah dikalahkan oleh kegelapan yang tinggal di dalam rumah. Dan sekarang, Pak Sigit tahu bahwa ia bukanlah orang baru yang datang untuk mencari tempat tinggal murah. Ia adalah bagian dari siklus yang telah berputar selama berabad-abad. Ia tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri-ia hanyalah boneka yang ditarik oleh benang waktu.
Tiba-tiba, suara itu kembali-bukan dari cermin, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Ia mendengar pikirannya sendiri yang berbicara, tetapi dengan nada yang lebih dalam, lebih tua: "Aku adalah kamu, tetapi dari masa depan yang sudah hancur. Aku datang untuk memperingatkanmu, meskipun kita tahu bahwa peringatan ini tidak akan mengubah apa-apa. Lorong ini bukanlah pintu menuju dimensi lain. Lorong ini adalah dirimu sendiri-sejarahmu, kegagalanmu, dosa-dosa yang kamu bawa dari kehidupan sebelumnya. Dan satu-satunya cara untuk memutus siklus adalah dengan mengalahkan aku-dirimu sendiri."
Pak Sigit berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Lorong itu mulai berdenyut, seperti jantung raksasa yang berdetak di bawah lantai. Ia melihat bayangan-bayangan melintas di dinding-bentuk tanpa kepala, tangan-tangan yang meraih dari balik plester. Cermin itu mulai mengeluarkan cairan hitam yang mengalir ke lantai, membentuk genangan yang memantulkan langit malam tanpa bintang. Dan di dalam genangan itu, ia melihat wajahnya sendiri-yang lebih tua, dengan rambut putih seluruhnya-tersenyum sinis. "Kau tidak bisa lari," bisik wajah itu. "Kau sudah menjadi bagian dari lorong ini sejak kau lahir."
Ia menekan telapak tangannya ke lengan kiri, mencoba merobek tato itu, tetapi kulitnya justru mengelupas, meninggalkan daging yang berkilauan seperti mutiara hitam. Angka 1666 kini bersinar dalam gelap, menerangi lorong dengan cahaya merah jambu yang buruk. Dan dari ujung lorong, ia mendengar langkah kaki-langkah kaki yang berat, seperti seseorang yang memakai sepatu bot besi. Perlahan-lahan, sebuah bayangan besar muncul di tikungan. Tidak ada wajah, tidak ada tubuh yang jelas, hanya siluet yang menyerap cahaya. Dan dari dalam siluet itu, suara yang sama dengan suaranya sendiri-tetapi lebih dalam, lebih penuh dengan dendam-berkata: "Selamat datang, Penjaga Ketiga Belas. Sekarang, kita akan bermain."
Pak Sigit menutup matanya, berharap ini semua mimpi. Tetapi ketika ia membuka mata, ia masih berdiri di lorong yang bernafas itu, dengan tato yang membakar di lengannya, dan bayangan yang semakin mendekat. Ia sadar bahwa tidak ada jalan keluar. Satu-satunya jalan adalah melalui lorong ini-melalui dirinya sendiri. Dan di ambang keputusasaan itu, ia mendengar bisikan terakhir dari masa depan yang gagal: "Jangan percaya pada cermin. Cermin hanya memantulkan apa yang ingin kau lupakan."
~ Bab 1 Selesai ~