Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Sekelumit Lorong Senyap

Bab 8

Lorong Terakhir yang Tak Pernah Berakhir

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Pak Sigit melangkah, dan setiap langkahnya seperti menekan tombol yang mengubah frekuensi dunia. Lorong di sekelilingnya bukan lagi lorong rumah tua di perumahan pinggiran kota. Ia telah melewati batas antara yang nyata dan yang tidak, antara waktu dan keabadian. Di depannya, cahaya itu tidak bertambah terang atau semakin dekat; ia tetap menggantung di horizon, seperti fatamorgana yang menari-nari di padang pasir ilusi. Namun Pak Sigit tahu, fatamorgana ini bukanlah tipuan mata, melainkan pintu terakhir yang harus ia lalui - atau jebakan yang akan menelannya utuh-utuh.

Di dalam dadanya, bisikan Van Houten masih bergetar, bukan lagi sebagai suara dari luar, melainkan sebagai denyut kedua yang menyatu dengan jantungnya. "Jangan korbankan yang kau cintai demi kekuasaan." Kalimat itu berulang seperti mantra, namun kini terasa seperti belati yang menusuk dari dalam. Pak Sigit meraba dadanya, dan di bawah jemarinya ia merasakan sesuatu yang hangat – mungkin energi penjaga yang mulai merasuk, atau mungkin sisa-sisa kemanusiaannya yang mencoba bertahan. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, setiap langkah membuatnya semakin lupa siapa dirinya sebelum menjadi penjaga. Nama istrinya, Rina, mulai samar di ingatan. Wajah anaknya, Gilang, hanya tersisa bentuk-bentuk abstrak yang mengambang di batas kesadaran.

Lorong di sekitarnya mulai berdenyut. Dinding-dindingnya bukan lagi tembok berlumut, melainkan lapisan-lapisan kaca bening yang memperlihatkan potongan-potongan waktu. Di sebelah kirinya, ia melihat dirinya sendiri duduk di meja kantor, menekan tombol mouse dengan wajah letih. Di sebelah kanan, kilasan masa kecilnya: seorang bocah berlari di halaman rumah ibu, sebelum semuanya hancur. Pak Sigit ingin berhenti, ingin menyentuh kaca itu dan menarik masa lalunya kembali, tetapi kakinya terus bergerak. Sesuatu yang lebih kuat dari kehendaknya menariknya maju. Ia seperti boneka yang talinya dipegang oleh lorong itu sendiri.

"Jangan menoleh," bisik suara lain, kali ini lebih tua, lebih serak, seperti gemerisik daun kering di kuburan. Pak Sigit tersentak. Dari balik kaca di kanannya, muncul sesosok bayangan - tinggi, kurus, dengan jubah hitam yang tidak pernah terkena cahaya. Wajahnya tidak jelas, hanya dua titik merah yang menyala di posisi mata. Pak Sigit mengenalinya: itu adalah entitas yang ia lihat dalam mimpi-mimpi pertamanya di rumah angker itu. Penjaga lama, atau mungkin penghuni yang gagal, yang telah menjadi bagian dari dinding lorong.

"Siapa kau?" tanya Pak Sigit, suaranya serak oleh debu dimensi.

Bayangan itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya yang panjang dan menunjuk ke arah cahaya di ujung lorong. Lalu, dengan suara yang seperti angin malam, ia berbisik, "Di sana, kau akan memilih. Atau kau akan dipilih. Tidak ada jalan tengah. Aku dulu memilih setengah-setengah, dan lihatlah aku sekarang. Terjebak di antara waktu, menjadi bagian dari lorong yang tidak pernah tidur."

Pak Sigit merasakan dingin menjalari tulang belakangnya. "Kau... salah satu penghuni yang hilang?"

Bayangan itu mengangguk, dan gerakannya meninggalkan jejak kabut hitam. "Aku kepala desa di sini pada masa kolonial. Van Houten menawarkanku kekuasaan atas dimensi, asal aku mau menjaganya. Aku terima, pikirku bisa mengendalikan segalanya. Tapi aku tidak siap dengan pengorbanan yang diminta. Aku ingin tetap menjaga istri dan anak-anakku di dunia manusia, sambil memegang kunci lorong. Akhirnya... aku kehilangan semuanya. Keluargaku mati dalam wabah, dan aku menjadi bagian dari lorong. Tidak bisa kembali, tidak bisa mati. Hanya menunggu."

Pak Sigit menelan ludah. Dadanya bergetar. "Apa yang harus kulakukan?"

"Kau sudah tahu," kata bayangan itu. "Di ujung lorong, ada altar. Di atasnya, ada dua benda: sebuah kunci emas dan sebuah jam pasir hitam. Kunci emas akan menutup portal selamanya, tapi kau akan terperangkap di sini sebagai penjaga abadi. Jam pasir hitam akan mengirimmu kembali ke duniamu, tapi pintu lorong akan terbuka lebar, dan makhluk dari dimensi lain akan bebas berkeliaran. Pilihlah dengan hati, bukan dengan pikiran. Karena hati tidak pernah berbohong tentang cinta."

Bayangan itu mulai pudar, kembali menjadi kabut yang menempel di kaca. Pak Sigit ingin bertanya lebih banyak, tetapi tenggorokannya seperti tercekat. Ia hanya bisa melangkah lagi, dengan bayangan kepala desa yang terus mengikutinya dari dalam pantulan kaca, seperti pengingat akan nasib yang mungkin menantinya.

Langkah demi langkah, lorong mulai berubah. Kaca-kaca itu pecah menjadi serpihan cahaya yang berputar di sekelilingnya, membentuk pusaran yang memusingkan. Pak Sigit merasakan pusing yang amat sangat, tetapi ia memaksa matanya tetap terbuka. Di antara pusaran itu, ia melihat serpihan-serpihan masa depan: ia melihat dirinya duduk di ruang tamu rumahnya, dengan Rina dan Gilang tersenyum di sofa, namun bayangan hitam melingkari mereka. Lalu ia melihat dirinya berdiri di altar, dengan kunci emas di tangan, sendirian di lorong yang sunyi, selamanya. Keduanya mengerikan, keduanya menyakitkan.

"Kenapa harus aku?" gumamnya, hampir menangis. Air matanya tidak keluar; mungkin sudah menguap oleh panas dimensi.

Lalu, tiba-tiba, pusaran itu berhenti. Pak Sigit jatuh berlutut di lantai batu yang dingin. Ia mengangkat kepalanya, dan di depannya, hanya beberapa meter lagi, berdiri altar yang dimaksud. Altar itu sederhana: terbuat dari batu hitam yang dipahat kasar, dengan dua lekukan di atasnya. Di lekukan kiri, kunci emas kecil berkilau seperti matahari palsu. Di lekukan kanan, jam pasir hitam dengan pasir putih yang terus mengalir - tidak pernah habis, tidak pernah berhenti.

Pak Sigit menatap kedua benda itu. Keduanya sama-sama berkilau, sama-sama menggoda. Kunci emas berbisik tentang kedamaian abadi, tentang akhir dari semua teror. Jam pasir hitam berbisik tentang pelukan keluarga, tentang udara segar di dunia nyata. Namun di balik bisikan itu, ia mendengar suara lain: suara jeritan dari lorong-lorong yang telah ia lewati, suara kepala desa yang terkutuk, suara Van Houten yang kecewa.

Ia mengulurkan tangan, dan tangannya gemetar. Tidak ada yang membimbingnya. Tidak ada petunjuk dari langit atau bumi. Hanya lorong senyap yang menunggu, dengan napasnya yang dingin dan hitam.

"Apa yang kucintai?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Rina? Gilang? Atau ketenangan yang kudambakan sejak kecil? Atau... rasa ingin tahu yang membawaku ke sini?"

Ia menutup matanya. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan Van Houten. Lelaki tua itu tersenyum getir. "Kau tahu jawabannya, Sigit. Jangan buat kesalahan yang sama sepertiku. Jangan korbankan yang kau cintai demi kekuasaan. Tapi juga jangan korbankan dunia demi cinta yang buta. Ada jalan ketiga, jika kau berani menciptakannya."

Pak Sigit membuka matanya. Jalan ketiga? Apa maksudnya? Ia menatap altar lagi, lalu menatap sekeliling. Lorong di belakangnya mulai runtuh, satu per satu. Dimensi-dimensi kecil meledak menjadi titik-titik putih. Waktu semakin sempit.

Ia meraih... bukan kunci emas, bukan jam pasir hitam, melainkan kedua tangannya sendiri. Ia tidak mengambil benda apa pun. Sebaliknya, ia meletakkan telapak tangannya di atas altar, tepat di antara kedua lekukan itu. Dan ia berbisik, "Aku tidak akan memilih, karena pilihan adalah jebakan. Aku akan menjadi lorong itu sendiri. Aku akan menutup pintu dari dalam, tanpa menjadi penjaga yang terpenjara, tanpa membiarkan kegelapan keluar. Aku akan mengorbankan diriku - bukan untuk kekuasaan, bukan untuk cinta, tetapi untuk keseimbangan."

Altar itu bergemuruh. Dari bawah batu hitam, retakan-retakan cahaya keemasan mulai merambat. Kunci emas dan jam pasir hitam meleleh menjadi cairan yang menyatu, mengalir ke retakan-retakan itu. Lorong di sekelilingnya bergetar hebat. Pak Sigit merasakan tubuhnya seperti direnggut dari dalam, semua ingatan, semua rasa, semua identitasnya tercerabut dan menyebar ke setiap celah lorong. Ia bukan lagi manusia biasa, bukan pula penjaga seperti Van Houten. Ia menjadi bagian dari lorong, tetapi dengan kesadaran yang tetap utuh - sebuah paradoks yang hanya mungkin terjadi di tempat di mana logika tidak berlaku.

Ia melihat cahaya di ujung lorong mulai meredup. Pintu-pintu dimensi yang terbuka liar perlahan menutup, satu per satu, seperti kelopak bunga yang layu. Di kejauhan, ia melihat kepala desa bayangan itu tersenyum, lalu lenyap. Suara Van Houten terdengar sekali lagi, kali ini dengan nada lega: "Kau menemukan jawabannya. Sekarang, tidurlah. Kau telah menjadi bagian dari lorong senyap, dan lorong senyap telah menjadi bagian dari dirimu. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti."

Namun di saat yang sama, saat Pak Sigit merasa dirinya mulai larut, tiba-tiba ia mendengar suara lain. Suara yang sangat ia kenal. Suara Rina. "Sigit... Sigit, di mana kau? Tolong... Gilang sakit..."

Suara itu tidak berasal dari lorong. Ia datang dari luar, dari dunia yang telah ia tinggalkan. Pak Sigit membuka matanya yang tidak lagi miliknya. Ia masih ada di altar, tetapi altar itu kini berada di tengah lorong yang sunyi - dan lorong itu tidak lagi sunyi. Di depannya, muncul pintu kayu tua yang berderit terbuka. Di balik pintu itu, ia melihat ruang tamu rumahnya. Rina berdiri di sana, dengan wajah pucat dan air mata. Di gendongannya, Gilang terbaring lemah, wajahnya kebiruan.

Pak Sigit ingin berlari ke arah mereka, tetapi kakinya tidak bisa bergerak. Ia sudah menjadi lorong. Ia sudah mengikatkan dirinya pada altar. Namun Rina terus memanggil, dan Gilang terus merintih. Apakah ini ujian terakhir? Ataukah keputusannya yang heroik justru menjebaknya dalam siksaan abadi?

"Jangan... jangan tinggalkan kami," suara Rina pecah.

Pak Sigit berteriak dalam batin. Ia mencoba merobek ikatan lorong, tetapi semakin ia berusaha, semakin dalam ia tenggelam. Altar itu mulai menyerapnya, dan pandangannya mulai kabur. Di ambang kehilangan kesadaran, ia melihat sesuatu. Di sudut ruang tamu, di belakang Rina, berdiri sesosok pria tua dengan jas kolonial. Van Houten. Tapi bukan Van Houten yang getir - Van Houten yang kini tersenyum licik, seperti seorang dalang yang melihat wayangnya jatuh ke dalam perangkap.

"Kau pikir kau bisa mengubah aturan, Sigit?" suara Van Houten bergema di lorong dan di ruang tamu secara bersamaan. "Tidak ada jalan ketiga. Hanya ada dua: menjadi penjaga atau menjadi pintu. Kau memilih menjadi pintu, tetapi pintu selalu bisa dibuka dari luar. Dan aku... aku selalu punya kunci cadangan."

Pak Sigit melihat Van Houten mengangkat tangan. Di telapak tangannya, sebuah kunci emas kecil berkilau - kembaran dari kunci yang meleleh tadi. Dan di tangan yang lain, jam pasir hitam yang utuh.

"Selamat datang di lorong terakhir yang tak pernah berakhir, Sigit. Kau pikir kau sudah sampai di ujung? Padahal, ini baru permulaan."

Kegelapan total menyelimuti Pak Sigit. Suara Rina dan Gilang lenyap, digantikan oleh tawa Van Houten yang bergema di setiap dinding lorong. Dan Pak Sigit, yang kini setengah lorong, setengah manusia, merasakan kesadaran yang baru: ia tidak bisa kembali, namun ia juga tidak bisa benar-benar pergi. Ia selamanya akan menjadi saksi dari perjalanan yang tak selesai, dan ia harus menemukan cara untuk menghancurkan dalang di balik semua ini - bahkan jika itu berarti menghancurkan dirinya sendiri.

Di lorong senyap, tidak ada yang benar-benar mati. Tidak ada yang benar-benar hidup. Hanya ada pilihan-pilihan yang terus berputar, seperti pasir di jam hitam yang tidak pernah berhenti mengalir.

~ Bab 8 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai