Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Sekelumit Lorong Senyap

Bab 6

Ritual di Ujung Lorong Senyap

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Cermin itu tidak lagi memantulkan wajahnya. Sejak ia menatap tanpa rasa takut, permukaan kaca berubah menjadi pusaran kabut kelabu yang berdenyut seperti jantung raksasa. Pak Sigit merasakan getaran halus menjalar dari ujung jari hingga ke tulang belulang, seolah setiap serat tubuhnya dipanggil oleh sesuatu di balik lapisan realitas. Ia tidak mundur. Di lorong-lorong sepi yang menjadi saksi bisu perjuangannya, ia tahu bahwa langkah selanjutnya adalah memasuki pusaran itu-atau membiarkan portal menganga selamanya.

Dari kedalaman cermin, suara berbisik mulai terdengar, bukan dalam bahasa manusia, melainkan dalam getaran frekuensi yang langsung menyentuh naluri. Pak Sigit menutup mata, mengingat petunjuk dari dukun lokal yang pernah ditemuinya di pasar malam tua. "Jika kau berani melihat ke dalam cermin, kau harus siap kehilangan bayanganmu sendiri," kata perempuan tua dengan selendang hitam itu. Kata-kata itu kini bergema di kepalanya seperti mantra. Ia membuka mata dan melangkah maju, satu kaki menembus kaca seperti memasuki air dingin. Seluruh ruangan berputar, dan ia tersedot ke dalam lorong dimensi yang tidak pernah ia bayangkan.

Di sisi lain, ia berdiri di sebuah ruangan yang sama persis dengan rumahnya, namun terbalik. Lampu-lampu menyala redup, dan bayang-bayang bergerak mandiri, melingkar di dinding seperti ular. Di sudut ruangan, sesosok wanita berbaju putih duduk di kursi goyang, wajahnya menghadap ke dinding. Pak Sigit merasakan bulu kuduknya meremang, tetapi ia berusaha tenang. "Siapa kau?" tanyanya, suaranya bergema aneh. Wanita itu tidak menjawab, hanya terus bergoyang pelan. Kemudian, dari balik dinding, terdengar suara ketukan berirama-tiga kali cepat, dua kali lambat. Pak Sigit teringat salah satu catatan di buku kuno yang ia temukan di loteng: kode morse dimensi. Tiga cepat dua lambat berarti "jangan percaya penampakan". Ia menggenggam erat jimat kayu yang diberikan dukun.

Ketukan itu berhenti, dan wanita di kursi goyang mulai berputar perlahan. Wajahnya tidak memiliki fitur-hanya permukaan halus seperti topeng kertas. Namun dari dalam topeng itu, suara serak keluar: "Kau tidak seharusnya datang ke sini, penjaga gagal." Pak Sigit tersentak. Ia belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya. "Penjaga gagal? Maksudmu penghuni sebelumnya?" tanyanya. Wanita itu-atau apa pun itu-tertawa, suaranya seperti kerikil bergesekan. "Mereka semua gagal karena mereka takut kehilangan. Tapi kau... kau mungkin berbeda. Atau mungkin lebih bodoh."

Udara di ruangan itu terasa berat, seperti atmosfer sebelum badai. Pak Sigit merasakan kehadiran lain di belakangnya. Ia menoleh dan melihat lorong panjang yang sama dengan di rumah asli, tetapi di kedua sisi berdiri barisan arwah-lelaki, perempuan, anak-anak, semuanya dengan mata kosong. Mereka adalah penghuni yang hilang, para penjaga yang gagal. Namun tidak seperti sebelumnya yang hanya melintas, kini mereka diam, menatapnya dengan penuh harap sekaligus putus asa. Pak Sigit mengerti: mereka adalah korban yang terperangkap di antara dimensi, menunggu seseorang yang bisa menyegel portal. Ia berjalan menyusuri lorong, dan setiap langkahnya diikuti bisikan yang semakin jelas: "Korbankan... korbankan..."

Di ujung lorong, sebuah pintu kayu besar berukir simbol-simbol kuno. Pak Sigit mengenalinya dari buku catatan dukun-simbol pengorbanan sukarela. Ia membuka pintu dengan hati-hati, dan di dalamnya terdapat altar batu dengan sebuah belati perak berlapis emas. Di belakang altar, dinding berlumuran tulisan darah yang sudah mengering: "Siapa yang menusuk jantung portal, ia harus menusuk jantung dirinya sendiri."

Pak Sigit mundur selangkah. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengerti maknanya: untuk menyegel portal, ia harus melakukan ritual yang membutuhkan pengorbanan nyawa-nyawanya sendiri. Namun dukun berkata ada cara lain, cara yang lebih rumit. Tiba-tiba, dari belakangnya, suara wanita tanpa wajah itu kembali: "Kau pikir kau bisa lari? Pengorbanan adalah satu-satunya jalan. Atau kau biarkan portal ini terbuka dan dunia kalian tenggelam dalam kegelapan."

Pak Sigit menoleh, dan wanita itu kini berdiri tepat di sampingnya, topengnya mulai retak, memperlihatkan mata manusia yang penuh air mata. "Aku juga pernah menjadi penjaga," bisiknya. "Aku memilih untuk tidak mengorbankan diri, dan lihatlah aku sekarang-terkutuk menjadi bagian dari lorong ini. Tapi jika kau berani, kau bisa menyelamatkan mereka semua." Ia menunjuk ke arah barisan arwah di lorong. "Namun kau harus siap kehilangan segalanya. Bahkan ingatan tentang dirimu sendiri."

Pak Sigit merasakan dadanya sesak. Ia memikirkan keluarganya, teman-temannya, kehidupannya yang biasa di kantor. Semua itu akan lenyap jika ia mati di sini. Namun jika ia tidak melakukan apa-apa, bukan hanya ia yang menderita, melainkan seluruh kota, seluruh dunia. Ia menggenggam jimat kayu itu erat-erat, lalu tiba-tiba ia mendengar bisikan lain, lebih lembut, seperti suara anak kecil. "Pak Sigit... jangan dengarkan dia." Ia menoleh dan melihat seorang bocah laki-laki bercelana pendek, salah satu arwah yang paling muda. Bocah itu tersenyum sedih. "Kami tidak ingin kau mati. Ada cara lain. Tapi kau harus percaya pada lorong ini, bukan melawannya."

Pak Sigit mengerutkan kening. "Cara lain?" Bocah itu mengangguk, lalu menunjuk ke belakang altar. Di sana, tersembunyi di balik bayangan, ada sebuah cermin kecil. Cermin itu memantulkan wajah Pak Sigit sendiri, tetapi dengan ekspresi damai. "Cermin itu bisa membawamu ke masa lalu," kata bocah itu. "Ke saat pertama kali portal terbuka. Kau bisa mencegahnya terbuka, tanpa harus mati. Tapi kau harus menghadapi pencipta portal, dan ia adalah bayanganmu sendiri yang jahat."

Wanita tanpa wajah mendesis marah. "Jangan dengarkan dia! Itu jebakan!" Namun Pak Sigit merasa ada kebenaran dalam kata-kata bocah itu. Ia berjalan menuju cermin kecil, dan ketika ia mendekat, permukaannya mulai beriak. Ia melihat dirinya sendiri di cermin, tetapi bayangan itu tersenyum sinis. "Kau pikir kau bisa mengubah takdir?" suara bayangannya bergema. "Aku adalah bagian dari dirimu yang takut mati. Jika kau masuk ke sini, kau akan tersesat selamanya."

Pak Sigit terdiam. Konflik batinnya memuncak. Di satu sisi, pengorbanan diri adalah jalan yang jelas-mati untuk menutup portal. Di sisi lain, ada kesempatan untuk mengubah sejarah, meskipun berbahaya. Ia menatap barisan arwah yang menunggu, wanita tanpa wajah yang tampak putus asa, dan bocah laki-laki yang penuh harap. Udara di lorong semakin dingin, dan lampu-lampu mulai berkedip.

"Aku bukan penjaga yang gagal," gumamnya akhirnya. "Aku adalah penjaga yang akan memilih jalanku sendiri." Ia meraih cermin kecil itu, dan ketika jari-jarinya menyentuh permukaannya, seluruh dunianya berputar lagi. Ia tersedot ke dalam pusaran waktu, meninggalkan lorong senyap yang mulai runtuh. Di kejauhan, ia mendengar wanita tanpa wajah berteriak, "Bodoh! Kau akan menyesal!" Namun suaranya semakin samar.

Pak Sigit jatuh ke tanah yang lembap. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di tengah hutan bambu tua, di bawah cahaya bulan purnama. Di depannya, ada sebuah rumah panggung kuno, dengan pintu terbuka. Dari dalam, terdengar suara orang berbicara dalam bahasa Belanda. Ia menyadari bahwa ia telah melompat ke masa kolonial, ke saat portal pertama kali diciptakan. Dan di ambang pintu, sesosok lelaki dengan wajah yang sama persis dengannya-namun dengan jubah hitam-menatapnya dengan penuh kebencian.

"Kau datang," kata lelaki itu, suaranya seperti gema dari kedalaman sumur. "Aku sudah menunggumu. Tapi kau terlambat. Portal ini akan tetap terbuka, dan aku akan mendapatkan keabadian." Pak Sigit menggenggam jimat kayunya, bersiap untuk pertempuran terakhir. Ia tidak tahu apakah ia bisa menang, atau apakah ia akan terjebak selamanya di lorong waktu. Namun yang pasti, ia tidak akan mundur. Di lorong-lorong senyap yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, hanya satu hal yang ia yakini: keberanian adalah satu-satunya kunci yang tidak bisa diambil oleh kegelapan.

Dan malam itu, di hutan bambu tua, di bawah bulan purnama yang merah, pertempuran antara dua jiwa yang sama dimulai-sebuah cerminan dari pertarungan abadi antara rasa takut dan harapan. Pak Sigit melangkah maju, sementara di kejauhan, ia mendengar bisikan para arwah yang terkurung, berdoa agar ia berhasil. Atau gagal. Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi waktu sendiri adalah lorong yang paling senyap dan paling kejam di antara semuanya.

Penutup: Pak Sigit tahu bahwa langkah ini adalah titik balik. Apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan lamanya. Namun mungkin, justru itu yang membuatnya bebas. Atau justru itu yang akan menjebaknya selamanya. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, di lorong-lorong sepi ini, setiap pilihan adalah batu nisan yang menunggu untuk ditulis. Dan malam ini, ia sedang menulis bab paling gelap dalam hidupnya-sebuah bab yang akan menentukan nasib dunia atau menguburnya dalam kegelapan abadi.

~ Bab 6 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai