Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Sekelumit Lorong Senyap

Bab 5

Nyanyian dari Lorong Waktu

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Langit di luar jendela beralih menjadi kelam pekat, seolah waktu sendiri enggan menampakkan wajahnya yang sejati. Pak Sigit berdiri kaku di tengah ruang tamu berdebu itu, jemarinya masih gemetar memegang surat yang kini kusut karena keringat dinginnya. Nyanyian sumbang itu terus bergema, merayap di setiap celah dinding, memantul dari balok-balok kayu lapuk yang berusia lebih dari seabad. Ia mencoba mengendalikan napasnya, namun paru-parunya terasa sempit oleh atmosfer yang kental dengan misteri. Dari lorong gelap di ujung rumah, suara langkah kaki bertambah cepat, seperti irama jantung yang kian mencekam.

"Siapa kau?" bisiknya, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Namun, dari lorong itu muncul jawaban yang justru membuat bulu kuduknya berdiri semua. "Aku adalah kunci yang telah lama hilang, Sigit. Aku adalah pintu yang tidak pernah terkunci sepenuhnya," suara itu terdengar lembut, namun menusuk relung jiwa. Wajah Sari-atau yang menyerupai Sari-perlahan tersibak dari kegelapan. Tubuhnya berkilau samar, seperti ilusi yang dibentuk oleh debu dan udara. Senyumnya manis, tapi matanya kosong, tanpa kehidupan. Pak Sigit mundur selangkah, punggungnya membentur dinding batu yang dingin.

"Kau bukan Sari," desisnya, berusaha mengeraskan suara agar tidak terdengar ragu. "Sari istriku, dia bukan wanita yang bernyanyi di lorong gelap." Sosok itu mendekat, berhenti tepat di ambang pintu. Kini nyanyiannya berhenti, digantikan dengan tawa kecil yang renyah, seperti kaca pecah di keheningan malam. "Benar, aku bukan Sari. Aku adalah bayangan yang ditinggalkan oleh pintu yang pernah terbuka. Kesalahan dari pengorbanan yang gagal. Dan kau, Sigit, adalah gerbang baru yang hendak kulalui."

Pak Sigit mencoba mengingat pesan dukun lokal, Ki Mardiko, yang pernah berkata bahwa di lorong waktu ini, kenyataan bisa terlipat seperti kain. Setiap pertemuan dengan entitas harus dihadapi dengan kebijaksanaan, bukan ketakutan. Ia menarik napas panjang, memusatkan pikirannya pada detak jantung yang berdegup kencang. "Jika kau adalah bayangan, tunjukkan dirimu yang sebenarnya," katanya, suaranya mulai mantap. Sosok Sari semu itu menggeleng, rambutnya yang panjang seolah terbuat dari benang tipis bergerak tanpa angin. "Diri sebenarnya tidak pernah tunggal, Sigit. Aku adalah masa lalu yang kau coba kubur, tapi tak pernah mati. Aku adalah Sari dari tahun 1892, Sari yang menjadi tumbal agar portal ini tetap diam. Namun, kalian yang hidup sekarang merobek segelnya dengan keangkuhan."

Dengan ucapan itu, lorong mulai berdenyut. Dinding-dinding kayu berubah transparan, menampilkan serpihan-serpihan pemandangan dari zaman berbeda. Di satu sisi, terlihat kolonial Belanda sedang mengangkut kotak-kotak misterius di bawah sinar lampu minyak. Di sisi lain, rumah ini masih hutan lebat dengan pohon-pohon raksasa yang akarnya menjalar seperti naga. Pak Sigit merasa pusing, namun ia paksakan matanya tetap terbuka. Di tengah kaleidoskop waktu itu, ia melihat seorang wanita berbaju kebaya putih berlumuran darah, berdiri di altar batu di tengah halaman. Wanita itu persis Sari, tapi lebih tua, lebih muram. Wanita itu menatapnya langsung, bahkan melewati jarak lebih dari seratus tahun. Bibirnya bergerak membentuk kata-kata: "Temukan kunci di dalam kunci. Cermin itu tidak berbohong, hanya memantulkan kebenaran yang kau takut lihat."

Pemandangan itu lenyap seketika. Sosok Sari semu kini berada di depannya, wajahnya berubah menjadi topeng marmer putih tanpa ekspresi. "Aku akan memberimu petunjuk, Sigit. Kau harus pergi ke ruang bawah tanah. Di sana ada altar yang belum selesai. Sentuhlah batu pusatnya, dan kau akan melihat mengapa perumahan ini disebut 'Sekelumit Lorong Senyap'. Tapi ingat, setiap langkah di ruang itu adalah taruhan antara jiwa dan ingatan. Jika kau gagal, kau akan menjadi bagian dari lorong selamanya."

Tanpa menunggu jawaban, sosok itu melayang mundur, larut ke dalam lorong seperti asap. Nyanyian sumbang kembali terdengar, kali ini lebih pelan, hampir seperti ratapan. Pak Sigit berdiri gemetar, keringat mulai membasahi kemejanya. Ia tahu ia harus bergerak cepat. Ruang bawah tanah-ia belum pernah benar-benar menjelajahinya sejak pindah. Hanya sekilas melihat tangga kayu menurun yang gelap dan berbau tanah basah. Sekarang, dengan kata-kata entitas itu berdesir di telinga, rasa penasaran dan ketakutan berbaur menjadi satu dorongan yang tak tertahankan.

Ia mengambil senter dari saku celana, menyalakannya, dan melangkah menuju pintu dapur yang konon menghubungkan ke basement. Setiap langkahnya memicu bunyi berderit dari lantai kayu yang sudah termakan usia. Hembusan udara dingin menyambutnya saat membuka pintu dapur. Di baliknya, terlihat tangga menurun yang curam, dengan dinding terbuat dari batu bata kuno yang berlumut. Cahaya senter hanya mampu menembus beberapa meter, menyisakan kegelapan absolut di ujung bawah. Pak Sigit menghela napas, lalu mulai menuruni anak tangga. Hitungannya sepuluh, dua puluh, hingga tiga puluh, tapi tangga masih berlanjut. Ia merasa seolah menuruni sumur waktu tanpa dasar.

Setelah apa yang terasa seperti sejam, akhirnya kakinya menjejak lantai tanah yang keras. Ruang bawah tanah itu luas, jauh lebih luas dari kesan rumah di atas. Pilar-pilar batu menyangga langit-langit rendah, dan di tengah ruangan terdapat altar yang persis seperti dalam penglihatannya. Sebuah meja batu hitam dengan ukiran aneh, mengelilingi pusat altar ada lilin-lilin yang menyala sendiri, dengan nyala api biru pucat yang tidak memancarkan panas. Pak Sigit mendekati altar, jantungnya berdegup kencang. Di atas meja batu, tergeletak sebuah cermin bundar kecil, bingkainya dari perak berkarat. Cermin itu tidak memantulkan wajahnya, melainkan sebuah lorong yang tak berujung, dipenuhi bayangan-bayangan yang bergerak.

Ia teringat pesan surat lama: jangan pernah percaya pada cermin, karena cermin adalah pintu yang sudah terbuka. Namun, wujud Sari semu tadi menyuruhnya menyentuh batu pusat. Pak Sigit ragu. Ia menekan rasa takut, lalu mengulurkan tangan dan menyentuh permukaan cermin. Seketika, altar bergemuruh. Lilin-lilin biru menyala terang, dan dari dalam cermin, sebuah tangan keluar-tangan wanita dengan kuku panjang dan kulit pucat. Tangan itu meraih pergelangan Pak Sigit dengan cengkeraman yang tak terduga kuat. "Kau memanggilku, Sigit. Sekarang, kita akan berjalan bersama melalui lorong-lorong yang tidak pernah kamu bayangkan," suara yang sama, namun kini terdengar serak dan dalam, seolah berasal dari perut bumi.

Pak Sigit berusaha melepaskan diri, tapi cengkeramannya semakin erat. Tubuhnya terasa ringan, lalu tersedot ke dalam cermin. Ia melihat dunia berputar, melewati batas-batas dimensi. Ia merasa jatuh, namun juga terbang. Akhirnya, ia mendarat di sebuah ruangan yang tak asing: kamar tidurnya di perumahan lama, rumah yang ditinggali sebelum pindah. Namun, segalanya tampak kusam, seperti foto hitam putih. Di sudut ruangan, duduk seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah dirinya sendiri-Pak Sigit dari masa lalu, sedang membaca koran dengan ekspresi tenang. "Selamat datang di rumah yang hilang, Sigit. Ini adalah ingatanmu yang kau kubur. Sesuatu terjadi di sini, dan kau lari ke perumahan tua ini untuk melupakannya. Tapi luka tak bisa disembunyikan di lorong waktu. Sekarang, saatnya kau mengingat."

Ia menoleh dan melihat cermin di dinding kamar. Di cermin itu, bukan wajahnya yang terpantul, melainkan seorang wanita-Sari asli, dengan perut buncit, tersenyum bahagia. Namun, senyum itu berubah menjadi tangis, lalu bayangan itu pecah. Pak Sigit merasa ada yang runtuh di dalam dadanya. Ia ingat sekarang. Sari hamil, tapi ia mengalami keguguran hebat di rumah lama itu. Dan ia, dalam depresi, mengubur kenangan itu dalam-dalam, pindah ke perumahan angker ini untuk melarikan diri. Tapi kenyataannya, duka itu justru menciptakan celah bagi entitas kuno untuk menguasai bayangan Sari. "Kunci yang kau cari bukan di altar batu. Kunci itu adalah pengampunan, Sigit. Pengampunan pada dirimu sendiri," bisik suara itu, kini lembut dan penuh kasih.

Pak Sigit jatuh berlutut, air mata mulai mengalir. Ia sadar bahwa perjuangannya di perumahan tua ini adalah metafora perjuangannya melawan rasa bersalah dan trauma. Lorong-lorong sepi yang ia susuri selama ini adalah lorong-lorong ingatan yang ia hindari. Di batas dimensi ini, ia bertemu dengan bayangan Sari-yang sebenarnya adalah proyeksi dari istrinya yang telah tiada, masih setia menunggu suaminya berdamai.

"Maafkan aku, Sari," bisiknya dengan suara bergetar. "Maafkan aku." Cermin di dinding memantulkan kembali sosok Sari yang tersenyum, lalu perlahan memudar. Pegangan di pergelangan tangannya terlepas. Ia kembali terlempar, dan kini ia mendapati dirinya di ruang bawah tanah lagi, sendirian. Altar batu sudah dingin, lilin biru padam. Namun, di dadanya ada rasa lapang yang belum pernah ia rasakan. Ia memahami bahwa perburuan sesungguhnya bukan melawan entitas supranatural, melainkan melawan iblis dalam dirinya yang bernama penyesalan.

Dari atas, terdengar suara langkah kaki dan pintu kayu dibuka. Pak Sigit menaiki tangga dengan langkah ringan. Di pintu dapur, berdiri Ki Mardiko dengan tatapan khawatir. "Kau berhasil?" tanya dukun itu singkat. Pak Sigit mengangguk. "Saya bertemu dengan kunci sejati, Ki. Kunci itu ada di dalam diri saya." Ki Mardiko tersenyum tipis, namun matanya masih menyimpan kegelisahan. "Bagus. Tapi ingat, portal itu tidak hanya satu. Masih ada lorong-lorong lain yang harus ditutup. Malam ini, kita akan menghadapi tantangan yang lebih besar. Makhluk penjaga dimensi akan mengetahui bahwa kau telah menghancurkan jerat pertama. Ia akan datang."

Pak Sigit menoleh ke luar jendela. Langit semakin merah, seperti luka terbuka. Angin menderu membawa aroma bunga kamboja yang busuk. Di kejauhan, dari lorong antar rumah, ia melihat bayangan-bayangan mulai berkumpul. Mereka tidak lagi melintas cepat, melainkan berdiri diam, seperti penonton setia yang menunggu pertunjukan pamungkas. Napas Pak Sigit memburu, namun ia tidak lagi gentar. Ia telah menemukan kuncinya: keberanian untuk menghadapi masa lalu. Namun, masa depan masih membentang gelap, dan pertanyaan yang lebih besar menggantung: apakah ia sanggup mengorbankan segalanya untuk menyegel portal, bahkan jika itu berarti ia harus kehilangan sebagian dari dirinya sendiri lagi? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, di lorong-lorong sepi ini, pertempuran barusan hanyalah babak pertama dari drama yang akan menghancurkan atau menyelamatkan dunianya. Dan langkah pertama dalam pertempuran itu adalah menatap cermin tanpa rasa takut, meski di dalamnya ia hanya melihat kebenaran yang mengerikan.

~ Bab 5 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai