Sekelumit Lorong Senyap
Bab 4
Hutan yang Bernapas dalam Waktu
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Pak Sigit terjatuh di atas tanah lembap yang mengeluarkan aroma anyir seperti tanah kuburan yang baru digali. Lututnya gemetar, bukan karena lelah melainkan karena sadar bahwa ia telah melintasi batas yang tak seharusnya dilalui manusia. Lorong di belakangnya telah tertutup rapat, menyisakan dinding pepohonan yang menjulang seperti tiang-tiang katedral kuno, namun tidak ada cahaya suci yang menembus rimbunnya dedaunan. Hanya remang-remang merah yang merembes dari sela-sela ranting, seolah langit di dimensi ini sedang mengalami pendarahan.
Ia mencoba mengatur napas, namun udara di sini terasa pekat dan berat, seperti menghirup kabut yang terbuat dari abu dan dupa. Setiap tarikan napas membawa rasa logam di lidah, dan setiap hembusan meninggalkan uap putih yang langsung diserap oleh lumut yang menempel di batang pohon. Pak Sigit meraba saku celananya, mencari ponsel yang sejak tadi tidak berguna-layarnya gelap, mati total, seolah perangkat elektronik pun enggan berfungsi di tempat yang tidak mengenal listrik ini. Ia tersenyum pahit. Di dunia nyata, ia hanyalah pegawai administrasi yang menghabiskan delapan jam sehari di depan spreadsheet. Di sini, ia adalah penjaga yang gagal, seorang buruan dalam perburuan yang lebih tua dari peradaban.
Dari kejauhan, gemuruh langkah kaki raksasa masih terdengar, namun kinifrekuensinya berubah. Tidak lagi teratur seperti genderang perang, melainkan seperti detak jantung raksasa yang berdenyut dalam ritme yang tidak stabil. Kadang cepat, kadang lambat, dan setiap kali denyut itu melambat, Pak Sigit merasakan getaran di tulang dadanya seolah ada sesuatu yang mencoba menyelaraskan frekuensi tubuhnya dengan dimensi ini. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri, memastikan bahwa ia masih sadar, masih bernapas, masih hidup-atau setidaknya, masih memiliki kesadaran yang bisa disebut hidup.
"Aku harus bergerak," bisiknya pada diri sendiri, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, seperti suara orang lain yang bersembunyi di dalam rongga kepalanya. Ia berdiri, memperhatikan sekeliling. Hutan ini tidak seperti hutan di dunia manusia. Pohon-pohonnya tidak memiliki kulit kayu yang kasar, melainkan permukaan yang halus dan mengilap seperti marmer hitam, dan dari celah-celahnya mengalir cairan kental berwarna merah gelap yang mengalir perlahan ke tanah. Pak Sigit menyentuh salah satu pohon, dan seketika itu juga ia merasakan sengatan dingin yang menjalar dari ujung jarinya ke seluruh lengan. Ia menarik tangan, dan di ujung jarinya tertinggal noda merah yang tidak mau hilang meskipun digosokkan ke celana.
"Jangan sentuh apa pun," katanya lagi, kali ini lebih keras, seolah ingin meyakinkan bahwa ia masih bisa memberi perintah pada dirinya sendiri. Ia mulai berjalan, mengikuti arah yang terasa paling tidak mencekam-sebuah jalur yang tampak seperti bekas jalan setapak, namun tertutup oleh dedaunan yang berwarna ungu tua. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di tanah yang lembek, dan jejak itu segera diisi oleh cairan merah yang merembes dari bawah, seolah bumi ini ingin segera menutup setiap tanda kehadirannya.
Berjalan di hutan ini terasa seperti berjalan di dalam mimpi buruk yang enggan berakhir. Waktu seolah kehilangan maknanya; Pak Sigit tidak tahu apakah ia sudah berjalan selama beberapa menit atau beberapa jam. Yang ia tahu, kakinya mulai terasa pegal, dan tenggorokannya kering seperti gurun. Ia berhenti di dekat sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut berkilauan. Batu itu berbentuk seperti altar, dengan ukiran-ukiran yang sulit dipahami-gambar spiral, lingkaran konsentris, dan figur manusia tanpa kepala yang sedang menari. Pak Sigit menunduk, mencoba membaca maksud dari ukiran itu, namun matanya justru tertumbuk pada sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti: di sudut altar, tergeletak sebuah benda yang dikenalnya dengan baik.
Sebuah dompet kulit berwarna coklat tua, persis seperti dompet yang ia beli sepuluh tahun lalu saat masih menjadi pegawai magang. Ia meraihnya dengan tangan gemetar, membukanya, dan di dalamnya terdapat kartu identitas-KTP atas nama Sigit Prasetyo, dengan foto dirinya yang lebih muda, yang belum beruban di pelipis, yang belum memiliki kerutan di sudut mata. Namun yang lebih mengerikan, tanggal lahir di KTP itu menunjukkan tahun 1945, bukan 1985 seperti yang seharusnya. Pak Sigit menjatuhkan dompet itu seolah tersengat listrik. Dompet itu jatuh ke tanah, dan dari dalamnya meluncur sebuah foto yang menguning-foto seorang wanita bercadar dengan mata yang sayu, dan di balik foto itu tertulis tulisan tangan: "Untuk penjaga dari masa depan, jangan percaya pada bayanganmu sendiri."
Ia tidak sempat merenungkan makna tulisan itu karena tiba-tiba langkah kaki raksasa itu berhenti. Keheningan yang mengikutinya justru lebih menakutkan. Tidak ada suara burung, tidak ada desiran angin, bahkan suara napasnya sendiri seolah lenyap ditelan hutan. Pak Sigit menoleh ke belakang, dan di sela-sela pohon marmer hitam, ia melihat samar-samar sebuah bayangan besar yang sedang bergerak perlahan. Bayangan itu tidak memiliki bentuk yang jelas, hanya gumpalan hitam pekat yang bergerak seperti kabut hidup, dan dari dalamnya muncul dua titik merah yang bersinar seperti mata iblis.
Pak Sigit mundur selangkah, lalu selangkah lagi, namun bayangan itu terus mendekat tanpa menggerakkan apa pun yang terlihat. Tidak ada kaki, tidak ada tangan, hanya massa gelap yang seolah meluncur di atas tanah. Ia merasakan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, dingin yang bukan dari suhu udara melainkan dari sentuhan kematian itu sendiri. Dalam kepanikan, ia teringat pada kata-kata Sari-atau makhluk yang menyerupai Sari-tentang penjaga yang diburu. Mungkin inilah pemburunya: entitas yang tidak bisa dihadapi dengan senjata fisik, karena ia adalah bagian dari lorong itu sendiri.
Namun naluri bertahan hidupnya tetap menyala. Ia berlari, tidak peduli ke arah mana, selama menjauh dari bayangan itu. Kakinya menembus semak-semak berduri yang melukai betisnya, namun ia tidak merasakan sakit-hanya getaran aneh yang menjalar dari luka itu, seolah darahnya sendiri berbisik padanya. Ia terus berlari hingga tiba di sebuah tempat yang lebih terbuka, sebuah lapangan kecil di tengah hutan yang ditumbuhi rumput putih pucat seperti tulang yang telah direbus. Di tengah lapangan itu berdiri sebuah sumur tua dari batu bata merah, dengan tutup kayu yang setengah terbuka.
Pak Sigit berhenti, terengah-engah, dan menatap sumur itu. Dari dalam sumur terdengar suara gemericik air, namun bukan air biasa-suaranya seperti campuran tangis dan tawa yang samar-samar. Ia merapat, mencondongkan tubuh ke dalam lubang sumur, dan yang ia lihat bukanlah air, melainkan seberkas cahaya kebiruan yang berputar-putar seperti pusaran bintang. Dan di dalam pusaran itu, ia melihat potongan-potongan gambaran: rumah tuanya di perumahan, istrinya Sari yang tersenyum di dapur, lalu tiba-tiba berubah menjadi wajah tanpa kulit yang menjerit tanpa suara.
"Ini portal," bisiknya, napasnya tersengal. "Ini jalan pulang."
Namun sebelum ia sempat bertindak lebih jauh, bayangan hitam itu telah tiba di belakangnya. Pak Sigit merasakan hembusan dingin di tengkuknya, lalu sebuah suara yang tidak berasal dari mulut mana pun-suara yang langsung bergema di dalam kepalanya, seolah diproyeksikan oleh gelombang keheningan yang pekat.
"Kau telah membaca pesan dari penjaga sebelumnya," kata suara itu, lembut namun penuh tekanan, seperti angin yang bersiul di antara bebatuan. "Sekarang, kau harus memilih: melompat ke dalam sumur dan menghadapi masa lalu yang akan membunuhmu, atau tetap di sini dan menjadi bagian dari hutan ini selamanya."
Pak Sigit menoleh perlahan, dan di hadapannya, bayangan itu telah berubah bentuk. Kini ia tampak sebagai sosok pria tua berjubah lusuh dengan wajah yang setengah membusuk, namun matanya masih bersinar merah. Pria itu tersenyum, memperlihatkan gusi tanpa gigi, dan berkata, "Aku adalah penjaga sebelumnya yang gagal. Aku memilih untuk melompat, dan inilah hasilnya: jiwa yang terperangkap di antara dua waktu, tidak bisa mati, tidak bisa hidup. Pilihanmu, Sigit, akan menentukan apakah lorong-lorong ini akan terus berdarah atau akhirnya tenang."
Pak Sigit menatap sumur, lalu menatap pria itu. Ia ingat dompet dengan tahun 1945, ingat pesan tentang bayangan sendiri, ingat Sari yang mungkin bukan Sari. Kepalanya pusing, hatinya perih, namun di lubuk terdalam, ia merasa bahwa setiap langkah yang telah ia ambil sejak memasuki lorong gelap di rumahnya adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Mungkin ia bukan sekadar korban. Mungkin ia memang ditakdirkan untuk menjadi penjaga yang berbeda-penjaga yang tidak gagal.
Dengan napas yang terakhir kali ia hirup sepenuh paru-paru, ia menutup mata, dan melompat ke dalam sumur. Kejatuhannya terasa seperti terbang, dan di sekelilingnya, pusaran cahaya kebiruan berputar semakin cepat, memperlihatkan potongan-potongan kehidupan yang belum pernah ia jalani: seorang pemuda berseragam kolonial berdiri di gerbang perumahan, seorang perempuan dengan gaun putih menangis di lorong yang sama, dan bayangan dirinya sendiri yang sedang bercermin di kamar mandi, berlumuran darah.
Ia mendarat di air yang dangkal, lututnya membentur batu. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di hutan dimensi purba. Ia berada di sebuah ruangan yang gelap, lembap, dan berbau tanah. Dindingnya terbuat dari batu bata kuno, dan di sudut ruangan, sebuah lampu minyak menyala redup, menerangi sebuah meja kayu yang penuh dengan buku-buku tua. Di atas meja itu, sebuah surat terbuka dengan cap lilin merah berbentuk lingkaran konsentris-simbol yang sama dengan ukiran di altar. Pak Sigit meraih surat itu dan membaca baris pertama:
"Untuk penjaga yang baru tiba, selamat datang di tahun 1924. Rumah yang kau tinggali kini baru dibangun. Jangan pernah percaya pada apa yang kau lihat di cermin, karena cermin adalah pintu yang sudah terbuka. Dan ingat, Sari bukanlah istrimu-dia adalah kunci yang harus kau temukan, atau kau akan kehilangan segalanya."
Pak Sigit menjatuhkan surat itu, gemetar. Di luar ruangan, ia mendengar suara langkah kaki di lantai kayu, dan suara perempuan yang bernyanyi dengan nada sumbang. Ia tahu, tanpa harus melihat, bahwa nyanyian itu berasal dari Sari-atau apa pun yang menggunakan wajah Sari-yang telah menunggunya di masa lalu yang kelam ini. Dan ia juga tahu bahwa perburuan sesungguhnya belum berakhir; ia hanya memasuki babak baru, di mana ia harus berjuang melawan waktu, melawan ilusi, dan melawan versi dirinya yang sudah lama terkubur dalam lorong-lorong sepi perumahan tua itu.
~ Bab 4 Selesai ~