Sekelumit Lorong Senyap
Bab 3
Sang Penguasa Lorong
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Tawa itu masih bergema di antara pilar-pilar marmer hitam, seakan setiap batu di aula raksasa ini ikut bergetar dalam kegilaan yang tak terperi. Pak Sigit berdiri kaku, jantungnya berdetak seperti genderang perang yang dipukul oleh tangan-tangan tak kasatmata. Wajah di balik kerudung hitam itu-wajah yang telah ia kubur dalam relung paling dalam memorinya selama sepuluh tahun terakhir-kini menatapnya dengan senyum yang tak pernah ia lihat semasa hidup. Senyum itu bukan senyum lembut istri yang dulu membawakan teh hangat setiap malam; senyum ini adalah senyum seorang penguasa dimensi yang telah melihat ribuan jiwa hancur di bawah telapak kakinya.
"Kau terkejut, Sigit?" suara itu keluar dari bibir yang dulu ia cium, namun kini terdengar seperti bisikan seribu bayang-bayang yang terperangkap dalam satu tenggorokan. "Sepuluh tahun kau mengira aku mati tertabrak kereta di perlintasan utara. Sepuluh tahun kau menangisi batu nisan kosong. Tapi lihatlah, aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya berganti kostum."
Pak Sigit merasakan dadanya sesak. Udara di aula ini terasa berat, penuh dengan debu zaman yang mengendap di setiap sudut. Lampu-lampu gantung dari tengkorak manusia menyala redup, memancarkan cahaya kebiruan yang membuat bayangan-bayangan menari seperti hantu di dinding marmer. Ia mencoba menggerakkan kakinya, tetapi seolah terpaku di lantai yang terbuat dari lempengan obsidian mengilap. Di bawah kakinya, ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri, tetapi pantulan itu-pantulan itu tersenyum lain. Pantulan itu menunjuk ke arah singgasana.
"Siapa-siapa kau sebenarnya?" akhirnya ia berhasil berujar, suaranya serak seperti kerikil yang digerus arus sungai kering.
Perempuan di singgasana itu menurunkan kerudungnya perlahan. Wajah Sari-istrinya-muncul utuh: lesung pipit di pipi kiri, alis tipis yang melengkung sempurna, hidung mancung yang selalu membuatnya jatuh cinta. Namun matanya, mata itu kini berwarna merah gelap dengan pupil vertikal seperti ular kobra. Di dahinya, tergambar sebuah lingkaran dengan simbol-simbol kuno yang tak pernah ia lihat dalam buku sejarah mana pun.
"Aku adalah apa yang kau tinggalkan, Sigit. Sepuluh tahun lalu, ketika kau memilih untuk tidak mengejar kereta itu, ketika kau membiarkan aku pergi ke stasiun sendirian karena pekerjaanmu di kantor, aku bertemu dengan mereka. Para penjaga lorong sebelumnya. Mereka memberiku pilihan: mati sia-sia di bawah roda besi, atau hidup abadi sebagai ratu dimensi. Dan seperti perempuan yang pernah kau cintai, aku memilih hidup."
Dari balik singgasana tulang belulang, muncullah anak kecil yang tadi memanggilnya di kamar. Kini anak itu terlihat lebih jelas: rambutnya putih seperti salju, kulitnya pucat tembus pandang, dan di lehernya tergantung sebuah kunci perak berukir naga melingkar. Anak itu tersenyum-senyum yang sama dengan Sari, senyum yang tidak pernah dimiliki anak seusianya.
"Dia adalah penjaga masa depan, Sigit. Atau masa lalu?" Sari terkekeh. "Di lorong ini, waktu hanyalah mainan. Kau bisa memutarnya, memelintirnya, bahkan menghapusnya. Tapi ada harga yang harus dibayar. Kau tahu harga itu, bukan?"
Pak Sigit menggeleng lemah. Pikirannya kini berputar seperti film yang diputar mundur. Ia ingat malam itu: hujan deras, ia sedang menyelesaikan laporan keuangan yang harus diserahkan besok pagi. Sari menelepon dari stasiun, mengatakan kereta akan berangkat dalam lima belas menit, dan ia lupa membawa payung. "Antar aku, Sig, atau aku akan kehujanan," katanya. Namun Pak Sigit menjawab, "Kau bisa beli payung di stasiun. Aku sibuk."
Itu adalah kata-kata terakhir yang ia ucapkan pada istrinya. Dua jam kemudian, kereta itu tergelincir di tikungan utara. Dari tiga puluh penumpang, hanya lima yang selamat. Sari tidak termasuk. Setidaknya, itulah yang ia percaya selama sepuluh tahun.
"Kau tidak pernah datang menjemputku, Sigit. Tidak pernah. Jadi aku dijemput oleh mereka yang lebih peduli," suara Sari kini berubah menjadi bisikan yang menusuk. "Mereka mengajarkanku segalanya. Tentang lorong, tentang waktu, tentang pengorbanan. Dan kini, setelah sepuluh tahun, tugas mereka menjadi milikku. Aku adalah penjaga utama lorong ini. Dan kau, karena memasuki rumah ini tanpa izin, telah menjadi tamuku. Tamu yang wajib menjalani ritual."
Anak itu melangkah mendekat, kunci perak di lehernya bergemerincing seperti lonceng kematian. Ia mengulurkan tangan mungilnya, dan dari telapak tangannya muncul cahaya keemasan. Pak Sigit merasakan tubuhnya melayang, kakinya terangkat dari lantai, dan ia kini tergantung di udara seperti boneka yang diikat tali.
"Ritual pertama: mengenali harga dari setiap lorong," kata Sari sambil berdiri dari singgasana. Gaun merahnya mengalir seperti darah yang mencurah ke lantai. "Kau harus melihat setiap dimensi yang telah aku kunjungi, setiap jiwa yang aku kumpulkan, setiap pilihan yang kau buat di masa lalu."
Dengan lambaian tangan, dinding-dinding aula berubah menjadi jendela-jendela besar yang memperlihatkan panorama masa lalu. Di satu jendela, Pak Sigit melihat dirinya sendiri pada malam itu-di meja kerjanya, menatap layar komputer dengan mata lelah, sementara Sari berjalan sendirian di tengah hujan. Di jendela lain, ia melihat Sari di dalam kereta, duduk di kursi dekat jendela, air hujan mengalir di kaca. Lalu, tiba-tiba, kereta itu oleng, tubuh Sari terlempar ke depan, dan kegelapan menyelimuti.
"Tetapi aku tidak mati, Sigit. Di detik terakhir, lorong itu terbuka di bawah kakiku. Aku jatuh ke dalam dimensi lain, di mana penjaga sebelumnya-seorang wanita Belanda dari masa kolonial-menungguku. Ia mengajarkanku rahasia rumah ini. Rahasia yang kini menjadi milikku."
Pak Sigit merasakan air mata mengalir di pipinya. Namun air mata itu bukan air mata penyesalan semata, melainkan air mata kemarahan yang mengendap selama bertahun-tahun. Sepuluh tahun ia hidup dalam duka yang palsu, sepuluh tahun ia menyalahkan dirinya sendiri, dan kini ternyata semuanya adalah tipu daya lorong.
"Kau bisa saja pulang!" teriaknya dengan sisa tenaga. "Kau bisa saja menemui aku, memberi tahu bahwa kau masih hidup! Mengapa kau memilih tinggal di sini, menjadi... menjadi monster ini?"
Sari tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menepuk tangan anak itu. Anak itu mengangguk, memutar kunci di lehernya. Seketika, lorong-lorong baru terbuka di sekeliling aula. Di satu lorong, Pak Sigit melihat hamparan padang pasir dengan piramida di kejauhan. Di lorong lain, kota modern dengan gedung pencakar langit yang runtuh dalam gerakan lambat. Di lorong lain lagi, hutan purba dengan dinosaurus yang melintas di antara pepohonan raksasa.
"Setiap lorong adalah waktu yang berbeda, Sigit. Dan kau harus memilih satu lorong untuk memulai perjalananmu. Jika kau berhasil melewatinya, aku akan mempertimbangkan untuk mengembalikan masa lalu. Namun jika gagal-" Sari menjentikkan jari, dan di salah satu jendela tampak bayangan-bayangan manusia yang terbakar dalam api ungu. "-kau akan menjadi abu seperti mereka."
Pak Sigit menunduk. Di lantai obsidian, pantulannya sendiri kini tertawa, menunjuk-nunjuk ke arah lorong hutan purba. Seolah pantulan itu tahu sesuatu yang tidak ia ketahui. Ia merasakan desakan dari dalam dirinya, semacam firasat bahwa hutan purba adalah jawabannya. Namun di lorong padang pasir, ia melihat sekilas sesosok perempuan berbaju putih-mungkin penjaga sebelumnya, wanita Belanda itu-yang melambai padanya?
"Kau punya waktu satu menit untuk memutuskan," suara Sari kembali bergema. "Setelah itu, aku akan memilihkan untukmu. Dan percayalah, pilihanku tidak akan menyenangkan."
Anak itu kini berdiri di samping Pak Sigit, menyentuh lengannya. Sentuhan itu dingin, lebih dingin dari es, tetapi anehnya menenangkan. Anak itu berbisik, "Aku tahu kau takut. Semua penjaga sebelumnya juga takut. Tapi kau bisa memercayai nalurimu. Lorong yang kau pilih bukan sekadar lorong waktu, melainkan cermin dari jiwamu."
Pak Sigit memejamkan mata. Ia mencoba mengingat semua yang telah ia lalui sejak malam pertama di rumah ini. Bisikan di lorong, bayangan tanpa kepala di cermin, dan kini wajah Sari yang telah berubah menjadi penguasa dimensi. Semua itu adalah bagian dari suatu pola, suatu teka-teki yang harus ia pecahkan.
"Lorong hutan purba," katanya akhirnya, suaranya berbisak namun tegas. "Aku memilih hutan purba."
Sari mengangguk, tetapi matanya menyipit curiga. "Kau yakin? Hutan itu adalah awal dari segalanya. Di sanalah portal kuno pertama kali dibuka oleh leluhur penjaga. Binatang buas dan roh pohon yang murka akan menguji keberanianmu. Tapi jika kau berhasil-"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dari lorong hutan purba, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggetarkan seluruh aula. Daun-daun raksasa berguguran melintasi jendela, dan dari kegelapan di balik pohon-pohon, muncul sepasang mata kuning sebesar piring. Mata itu menatap langsung ke arah Pak Sigit, dan ia bisa merasakan bahwa makhluk di balik mata itu lebih tua dari peradaban manusia.
Anak itu melepaskan tangannya, melangkah mundur dengan wajah pucat. "Raja rimba telah terbangun," bisiknya. "Sigit, kau harus cepat. Jika ia keluar dari lorong, semua akan hancur."
Pak Sigit mendadak merasakan kakinya kembali menyentuh tanah. Ia kini berdiri di ambang lorong hutan, di mana angin panas berbau tanah basah dan darah menghembus dari dalam. Di belakangnya, Sari tertawa lagi-tawa yang sama seperti sebelumnya, tetapi kini terdengar seperti isak tangis.
"Selamat berburu, Penjaga," katanya. "Atau lebih tepat, selamat diburu."
Lorong itu mulai menutup di belakang Pak Sigit, menjebaknya di dalam dimensi purba yang tak dikenal. Sementara itu, dari kejauhan, gemuruh langkah kaki raksasa semakin mendekat, dan Pak Sigit sadar bahwa petualangannya yang sesungguhnya baru dimulai.
Di lubuk hatinya, ia bertanya-tanya: apakah Sari benar-benar istrinya, atau hanya iblis yang menggunakan wajah Sari? Dan apakah ia akan keluar dari hutan ini sebagai manusia, atau sebagai abu yang terbang bersama angin lorong? Tidak ada jawaban, selain desiran dedaunan yang berbisik dalam bahasa yang ia tidak mengerti, dan langit hutan yang mulai memerah seperti lukisan akhir zaman.
~ Bab 3 Selesai ~