Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Sekelumit Lorong Senyap

Bab 2

Cermin yang Berdiam

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Pak Sigit membuka matanya dengan perlahan, seolah-olah kelopak matanya terbuat dari timah cair yang dingin. Lorong itu masih sama: gelap, lembap, dan bernafas. Dinding-dindingnya berdenyut pelan, seperti paru-paru raksasa yang sedang menarik udara dari dimensi lain. Tato di lengan kirinya terasa panas membara, dan ketika ia menatapnya, angka XIII berkilauan merah darah di bawah cahaya remang-remang yang entah datang dari mana.

Ia ingin berlari. Namun kakinya terasa kaku, seolah-abad telah membekukan otot-ototnya. Bayangan tanpa kepala itu masih berdiri di ujung lorong, diam, menunggu. Tidak bergerak, namun keberadaannya mengisi seluruh ruang dengan tekanan yang mencekik. Pak Sigit mencoba mengingat jalan masuk, tetapi setiap tikungan di lorong ini seakan-akan berubah bentuk setiap kali ia berkedip. Lorong itu hidup. Lorong itu bernafas. Dan lorong itu kini miliknya.

"Siapa kau?" bisiknya, suaranya bergetar dan bergema seperti suara orang asing. Tidak ada jawaban. Hanya embusan angin dingin yang membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang busuk-seperti mayat yang terkubur terlalu lama. Pak Sigit meraba-raba dinding di sebelah kirinya. Permukaannya terasa seperti kulit manusia yang hangat, namun kasar seperti batu apung. Jari-jarinya menyentuh ukiran-ukiran kecil: simbol-simbol kuno yang tidak ia kenal, semuanya berdenyut seiring nafas lorong.

Ia berjalan maju. Setiap langkah meninggalkan jejak kaki yang segera terhapus oleh kabut tipis yang merayap di lantai. Bayangan di ujung lorong mulai bergerak-perlahan, seperti air yang mendidih dalam tungku. Tanpa suara, bayangan itu membesar, menyebar ke dinding, dan kemudian lenyap ke dalam celah-celah lorong. Pak Sigit berhenti. Jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin yang membuat tangannya gemetar. Ia menoleh ke belakang, tetapi lorong di belakangnya kini tertutup oleh tembok bata yang tiba-tiba muncul. Tidak ada suara runtuhan. Hanya keheningan yang tebal.

Ia terjebak.

"Jangan percaya pada cermin," bisiknya mengulangi kata-kata dari masa depan yang gagal. Tapi di mana ada cermin di lorong ini? Matanya menyapu sekeliling. Semuanya abu-abu dan gelap, kecuali satu titik di kejauhan-sebuah pantulan redup. Ia mendekat. Di sana, tergantung di dinding tanpa bingkai, ada sebuah cermin bulat seukuran piring besar. Permukaannya tidak memantulkan lorong, melainkan ruang tamu rumahnya dulu. Pak Sigit melihat dirinya sendiri di dalam cermin itu: duduk di sofa, membaca koran, dengan segelas kopi di tangan. Wajahnya tenang, tanpa beban. Itu adalah dirinya dua minggu lalu, sebelum ia memutuskan pindah ke perumahan tua ini.

"Itu hanya ilusi," gerutunya pada diri sendiri. Namun tangannya sudah terulur menyentuh permukaan cermin. Begitu jari menyentuh kaca, seluruh lorong berguncang hebat. Cermin itu tidak dingin, melainkan hangat-seperti kulit manusia. Dan dari dalam pantulan, gambar dirinya yang sedang membaca koran itu menoleh, menatapnya dengan mata kosong, lalu tersenyum. Senyum itu janggal. Terlalu lebar. Terlalu penuh gigi.

Pak Sigit menarik tangannya, tetapi cermin itu menangkap pergelangannya. Kaca berubah menjadi cair, melingkari lengannya seperti lengan yang tak terlihat. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari tato di lengan kirinya. Angka XIII itu bersinar terang, dan tiba-tiba Pak Sigit merasa ditarik ke dalam cermin. Bukan secara fisik, melainkan kesadarannya. Ia merasa terlempar ke dalam pantulan, melayang di antara dua dimensi.

Ia melihat dirinya yang lain-diri yang sedang membaca koran-berdiri di hadapannya. Mereka berhadapan dalam ruang putih tanpa batas. Dirinya itu berkata dengan suara yang persis sama: "Kau datang lebih cepat dari yang kuduga, Penjaga. Aku pikir kau akan lari seperti yang lain."

"Siapa kau?" tanya Pak Sigit, suaranya hilang di ruang hampa.

"Aku adalah bayangan dari masa lalumu. Atau masa depanmu. Tergantung dari arah mana kau memandang waktu. Aku adalah kegagalanmu, penyesalanmu, dan semua keputusan yang tidak pernah kau ambil. Aku adalah kau yang menyerah."

Pak Sigit menggeleng. "Aku tidak menyerah. Aku akan keluar dari sini."

"Tidak akan," jawab bayangan itu dengan tenang. "Lorong ini adalah jiwamu, Pak Sigit. Setiap tikungan adalah pilihan yang tidak kau ambil. Setiap dinding adalah luka yang tidak kau obati. Dan aku adalah kunci yang menahanmu di sini. Hanya dengan menghadapiku kau bisa pergi. Tapi menghadapiku berarti menghadapi seluruh hidupmu."

Bayangan itu melangkah mendekat. Kini mereka berdiri hanya sejengkal. Pak Sigit bisa mencium bau yang sama dengan tubuhnya sendiri-campuran keringat, kopi, dan ketakutan. Bayangan itu mengulurkan tangan, menyentuh dada Pak Sigit. Seketika, serangkaian penglihatan membanjiri pikirannya. Ia melihat masa kecilnya: rumah sederhana di desa, ibunya yang menangis diam-diam di dapur, ayahnya yang pulang mabuk. Ia melihat masa remajanya: ia duduk di perpustakaan, membaca buku tentang mitologi lokal, bermimpi menjadi arkeolog, tetapi kemudian memilih jurusan akuntansi karena desakan orang tua. Ia melihat pernikahannya yang kandas, anak yang tidak pernah lahir, dan pekerjaan kantoran yang membosankan yang ia jalani selama dua puluh tahun. Semua kekecewaan, semua ketakutan, semua harapan yang layu-semua terhampar di hadapannya seperti mayat yang membusuk.

"Ini bukan aku," pekik Pak Sigit, air mata mengalir tanpa ia sadari. "Aku bisa menjadi lebih dari ini."

"Tapi kau tidak pernah menjadi lebih. Kau memilih aman. Kau memilih diam. Kau memilih untuk tidak percaya pada cermin, karena cermin memantulkan apa yang ingin kau lupakan. Itulah mengapa kau ada di sini. Lorong ini adalah hasil dari semua pilihan yang tidak kau buat."

Bayangan itu tersenyum lagi, dan senyum itu menusuk seperti pisau. "Sekarang, Penjaga Ketiga Belas, kau harus memilih: tetap di sini dan menjadi bagian dari lorong, atau berjalan maju dan menghadapi apa yang ada di balik cermin. Tapi ingat: di balik cermin tidak ada jalan keluar. Hanya pintu menuju lorong-lorong lain. Dan di setiap lorong, ada bayangan yang menunggumu."

Pak Sigit merasa dunianya runtuh. Namun di tengah keputusasaan, ada secercah kemarahan. Kemarahan pada dirinya sendiri yang selalu lari. Kemarahan pada kehidupan yang ia biarkan mengalir tanpa arah. Ia mengangkat wajah, menatap bayangannya dengan mata berapi-api. "Jika lorong ini adalah jiwaku, maka aku adalah penguasanya. Bukan kau. Kau hanya hantu dari penyesalanku. Dan aku akan menghapusmu."

Tanpa menunggu reaksi, Pak Sigit melangkah maju, menembus dada bayangan itu. Tubuhnya terasa terbakar saat melintasi wujud kaca dan bayangan. Namun ia terus berjalan, meninggalkan bayangan yang menjerit di belakangnya. Jeritan itu berubah menjadi tawa, lalu menghilang.

Dunia berputar. Pak Sigit tersungkur di lantai kayu yang dingin. Ia kembali ke lorong, tetapi lorong yang berbeda. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua, dengan ukiran naga dan bunga teratai. Lampu minyak tergantung di langit-langit, mengeluarkan cahaya kuning redup. Udara terasa berat dengan dupa. Di ujung lorong, ada pintu kayu besar dengan ukiran lingkaran dan simbol matahari.

Pak Sigit meraba lengannya. Tato itu masih ada, tetapi tidak lagi panas. Sebagai gantinya, ia merasakan denyutan pelan, seperti detak jantung kedua. Ia berdiri, menatap pintu di ujung lorong. Dari balik pintu, terdengar suara orang bernyanyi dengan bahasa yang tidak ia mengerti. Nadanya sendu, penuh ratapan. Dan di sudut lorong, di balik tirai kain usang, ia melihat sesosok perempuan tua dengan kain putih, menatapnya dengan mata tanpa pupil.

Perempuan itu berbisik: "Kau telah melewati cermin pertama. Tapi masih ada sembilan cermin lagi, Penjaga. Sembilan lorong, sembilan kematian. Dan di ujung jalan, sang ibu menunggumu."

Pak Sigit ingin bertanya, tetapi mulutnya terasa terkunci. Perempuan itu lenyap seperti asap. Kini hanya pintu kayu di ujung lorong yang menjadi satu-satunya jalan. Dengan langkah gemetar, ia berjalan mendekat. Setiap langkah terasa seperti berabad-abad. Ketika ia mencapai pintu, ia mendengar isak tangis dari dalam. Isak tangis seorang anak kecil. Dan di balik pintu, lampu minyak berkedip, menciptakan bayangan yang menari di dinding.

Pak Sigit meletakkan telapak tangan di permukaan pintu. Kayunya hangat, seperti kayu yang baru dibakar. Ukiran lingkaran itu mulai berputar perlahan, dan dari dalam pintu, suara anak kecil itu berkata: "Ayah, aku kedinginan. Buka pintunya."

Air mata mengalir lagi di pipi Pak Sigit. Ia tidak punya anak. Tapi suara itu terasa begitu akrab, seperti suara yang ia dengar dalam mimpinya. Ia mendorong pintu. Pintu itu terbuka dengan derit panjang, dan di dalam, ia melihat kamar tidur dengan tempat tidur kayu, mainan berserakan, dan seorang anak laki-laki duduk di sudut, membelakangi pintu. Anak itu bergoyang perlahan, bernyanyi lagu yang sama dengan yang didengar Pak Sigit dari lorong.

"Ayah, lihatlah," kata anak itu tanpa menoleh. "Aku membuat gambar untukmu."

Pak Sigit melangkah masuk. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia hampir pingsan. Di lantai, ada gambar yang dibuat dengan kapur: gambar seorang pria yang sedang memegang pedang, berdiri di depan pintu bercahaya. Di bawah gambar, tertulis: "Penjaga Ketiga Belas, penyelamat atau penghancur."

Anak itu menoleh. Wajahnya putih pucat, dengan mata hitam pekat tanpa putih. Bibirnya tersenyum manis, tapi senyum itu tidak mencapai mata. "Kau sudah terlambat, Ayah. Ibu sudah bangun. Dan dia marah."

Di belakang Pak Sigit, pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Suara langkah kaki berat mulai terdengar dari luar, mendekat. Bumi bergetar. Dan dari celah-celah dinding, kabut hitam mulai merembes, membawa aroma amis darah.

Pak Sigit memegang lengan kirinya. Tato itu bersinar terang, dan seolah merespon, dari dalam dirinya muncul kekuatan asing yang membuat ia mampu melihat lapisan lain dari realitas. Ia melihat di balik dinding, sebuah entitas raksasa dengan seribu mata sedang meregangkan tubuhnya. Dan entitas itu mengarahkan semua matanya padanya.

Ia sadar: ini bukan sekadar lorong. Ini adalah rahim dari sesuatu yang lebih tua dari waktu. Dan ia, Pak Sigit, adalah benih yang ditanam untuk menuai akhir dari segalanya.

Namun di tengah ketakutan yang mencekik, ia mendengar bisikan dari tato itu: "Jangan percaya pada cermin. Tapi percayalah pada pintu. Di balik pintu, ada jalan. Di balik jalan, ada pilihan. Pilihlah dengan hatimu, bukan matamu."

Pak Sigit memejamkan mata, menarik napas panjang, dan ketika ia membuka mata lagi, kamar anak itu telah berubah. Sekarang ia berdiri di aula besar dengan kolom-kolom marmer hitam. Di depannya, singgasana dari tulang belulang, dan di atas singgasana, duduk seorang perempuan dengan gaun merah darah, wajahnya tertutup kerudung hitam. Di sampingnya, anak itu kini tersenyum dengan puas.

"Kau datang, Penjaga," suara perempuan itu bergema. "Seperti yang dijanjikan."

Dan dari balik kerudung, ia melihat sekilas wajah yang dikenalnya. Wajah istri yang dulu hilang. Wajah yang telah lama ia kubur dalam ingatan, tetapi kini bangkit kembali sebagai penguasa lorong.

"Tidak mungkin..." bisik Pak Sigit, lututnya gemetar.

Perempuan itu tertawa, dan gema tawanya menggetarkan seluruh lorong waktu.

~ Bab 2 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai