Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Pedang Terakhir: Dao Melawan Dewa Mesin

Bab 7

Pintu yang Selalu Ada

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Pintu itu tidak terlihat seperti pintu.

Uncle Bai berdiri di depannya selama beberapa saat, menatap bingkai besi tua yang tertanam di dinding bata lorong pembuangan sektor tujuh-tempat yang sama, lorong yang sama, sudut yang sama tempat ia duduk setiap malam selama lima ratus tahun. Ia sudah melewati bingkai itu ribuan kali. Menyentuhnya. Membersihkannya dari lumut dan kerak. Bahkan pernah tidur bersandar padanya ketika tubuh tuanya terlalu lelah untuk berjalan pulang.

Selama ini, bingkai itu hanyalah bingkai.

Kini, di bawah cahaya lampu qi yang berkedip-kedip, bingkai itu berdenyut. Pelan. Seperti napas seseorang yang baru bangun dari tidur panjang.

"Jadi begitu," gumam Uncle Bai. Ia mengangkat tangannya, menatap pola putih di telapaknya yang mulai bersinar samar-warna yang sama dengan yang ia lihat di telapak Lu Chen tadi, sebelum anak itu menghilang ke bawah. Pola yang ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri selama lima abad. "Selama ini aku menyangka ini kutukan."

Ia menempelkan telapak tangannya ke bingkai besi.

Besi itu tidak dingin. Tidak juga panas. Hangat. Seperti tangan seseorang yang menunggu.

Lorong pembuangan di belakangnya mulai bergetar. Bukan gempa-lebih halus dari itu, lebih dalam, seperti sesuatu yang bergerak jauh di bawah tanah, jauh di bawah kota, jauh di bawah segalanya. Di ujung lorong, lampu-lampu qi berkedip serempak, lalu mati satu per satu, meninggalkan kegelapan yang bukan gelap, melainkan sesuatu yang menunggu.

Uncle Bai tersenyum tipis.

"Kau selalu tidak sabar," katanya kepada kegelapan. "Sama seperti ibumu."

Ia mendorong bingkai itu.

Bingkai besi tua itu tidak terbuka seperti pintu biasa. Ia melebur-besi mengalir seperti air, membuka celah yang tidak mungkin ada di dinding bata setebal itu, dan dari celah itu keluar cahaya biru pucat yang persis sama dengan warna sosok Xie Wushuang saat menampakkan diri. Udara yang keluar dari celah itu tidak berbau seperti lorong pembuangan. Ia berbau seperti hujan yang jatuh di tanah yang belum pernah tersentuh langit. Berbau seperti sesuatu yang lama.

Uncle Bai melangkah masuk tanpa ragu.

Tangga itu turun jauh lebih dalam dari yang seharusnya ada di bawah Kota Canglang.

Setiap langkah yang Uncle Bai ambil membuat pola di telapak tangannya menyala lebih terang, dan setiap nyala itu dijawab oleh dinding-dinding lorong yang kini dipenuhi ukiran-ukiran yang berdenyut-bukan array, bukan sirkuit qi, melainkan sesuatu yang lebih tua, yang dibuat sebelum manusia tahu cara membuat array. Ukiran-ukiran itu adalah tulisan. Dan Uncle Bai-tanpa tahu bagaimana-bisa membacanya.

Selamat datang kembali.

Kau terlambat lima ratus tahun.

"Huh," kata Uncle Bai lagi. "Aku tahu."

Ia terus turun.

Di kedalaman, lorong itu mulai berubah. Bata beralih menjadi batu hitam berurat, sama seperti yang dilihat Lu Chen dalam pelariannya. Di dinding-dinding, Uncle Bai melihat jejak-jejak yang tidak asing: bekas sayatan pedang Xie Wushuang yang masih berdenyut cahaya biru samar, jejak kaki kecil Lu Chen yang tercetak di debu tebal, dan-yang membuat langkahnya terhenti sejenak-jejak kaki seseorang yang lain. Jejak yang lebih tua. Jejak yang ia kenal.

Jejak kakinya sendiri.

"Ah," katanya pelan. "Jadi aku pernah ke sini."

Ia menatap jejak itu. Jejak itu menuju ke bawah, ke arah yang sama dengan yang ia tuju sekarang, tetapi jejak itu berumur ratusan tahun. Debu yang menutupinya sudah mengeras menjadi batu. Dan di samping jejak itu-jejak kaki yang lebih kecil, lebih ringan, milik seseorang yang berjalan di sisinya.

Seorang wanita.

Uncle Bai menutup matanya sejenak. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, sesuatu yang selama lima ratus tahun ia tahan, sesuatu yang kini mulai retak seperti es di musim semi. Ia tidak membiarkan retakan itu melebar. Belum. Ada hal yang harus ia selesaikan dulu.

Ia melanjutkan turun.

Di dasar tangga, lorong itu membuka ke sebuah ruang yang tidak seharusnya ada di bawah Kota Canglang.

Bukan kubah. Bukan gua. Melainkan jalan.

Sebuah jalan batu yang membentang ke dua arah, diterangi oleh lampu-lampu qi kuno yang tidak lagi terhubung dengan Jala Qi-lampu-lampu yang menyala dengan cahaya mereka sendiri, cahaya putih yang tenang, cahaya yang tidak bisa dihitung Tianyan. Di dinding kiri dan kanan, tertulis deretan nama. Bukan nama orang. Nama tempat. Nama kota. Nama dunia.

Dan di tengah jalan itu, berdiri seseorang.

Seorang pria tua. Tanpa bayangan.

Xuanyuan.

Ia menatap Uncle Bai dengan mata yang sama-sama tua, sama-sama lelah, dan-untuk pertama kalinya dalam lima ratus tahun-sama-sama sadar.

"Kau datang lebih cepat dari yang kuhitung," kata Xuanyuan. Suaranya tidak seperti suara orang tua biasa. Ada sesuatu di dalamnya yang bergetar seperti dawai yang baru dipetik. "Aku menyangka kau akan menunggu sampai anak itu membuka jendela ketiga."

Uncle Bai berhenti beberapa langkah darinya. Pola di telapak tangannya kini menyala terang, menerangi wajahnya, dan untuk sesaat-hanya sesaat-wajah itu bukan wajah Uncle Bai yang biasa. Wajah itu lebih muda. Lebih tegas. Wajah seseorang yang dulu pernah berdiri di tempat yang sama, dengan tujuan yang sama, di bawah langit yang belum tertutup.

"Kau menyangka aku akan menunggu?" Uncle Bai tertawa. Tawa itu pendek, kering, tanpa humor. "Aku sudah menunggu lima ratus tahun, Xuanyuan. Aku sudah duduk di lorong pembuangan itu setiap malam, menatap anak-anak yang lewat, memastikan tidak ada yang menyentuh array yang salah, memastikan tidak ada yang menemukan pintunya. Aku sudah melakukan bagianku."

"Dan kau menyembunyikan polanya dari dirimu sendiri."

"Aku harus." Uncle Bai mengangkat tangannya, menatap pola putih yang kini hidup di telapaknya. "Kalau aku mengingat, aku akan berbicara. Kalau aku berbicara, mereka akan tahu. Kalau mereka tahu, jendela akan terbuka terlalu cepat. Kau tahu itu. Kau yang mengajari aku."

Xuanyuan menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. "Aku memang mengajarimu. Tiga ribu tahun lalu."

"Dan kau mengkhianatiku enam ratus tahun kemudian. Kau menutup pintu ini. Kau mengurung aku di luar-bukan di dalam, di luar-dan kau membiarkan aku hidup sebagai manusia biasa selama lima ratus tahun, tanpa ingatan, tanpa nama, tanpa apa-apa selain naluri yang bahkan aku sendiri tidak mengerti." Uncle Bai melangkah maju. "Katakan padaku, Xuanyuan. Apakah itu bagian dari rencanamu juga? Atau kau hanya panik karena kau takut pada apa yang kau bangunkan?"

Xuanyuan tidak mundur. Wajah tuanya tidak berubah. Tetapi ada sesuatu di sudut matanya-sesuatu yang mirip rasa bersalah.

"Itu bagian dari rencana," katanya akhirnya. "Bukan rencanaku. Rencana dia."

"Lin Yue."

"Lin Yue." Xuanyuan mengucapkan nama itu dengan hati-hati, seperti mengucapkan doa. "Ibunya Lu Chen. Su Wanqing yang kesembilan. Wanita yang kau kira kau kenal."

Uncle Bai terdiam.

Jalan batu di bawah mereka mulai berdenyut, mengikuti ritme pola di telapak tangannya. Di kejauhan, dari kedalaman lorong, terdengar sesuatu-suara air yang mengalir, suara angin yang belum pernah menyentuh langit, suara pintu kayu yang berderit pelan. Suara dari penglihatan Lu Chen. Suara dari rumah sederhana dengan pintu kayu dan jendela menghadap ladang.

"Aku mengenalnya," kata Uncle Bai akhirnya. Suaranya lebih pelan sekarang. "Aku mengenalnya sebelum kau menutup pintu. Aku mengenalnya sebelum kau membawanya ke inti Jala Qi. Aku mencintainya."

"Aku tahu."

"Itu sebabnya kau mengurung aku. Bukan karena aku berbahaya. Tetapi karena kau takut aku akan mengikutinya."

Xuanyuan menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, pria tua tanpa bayangan itu tampak benar-benar tua-bukan tua karena usia, tetapi tua karena beban.

"Aku takut," katanya. "Aku takut kau akan melakukan apa yang dia lakukan. Aku takut kau akan mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa kita hitung. Aku takut-"

"Kau takut aku akan memilih dia daripada dunia." Uncle Bai tertawa lagi, tetapi tawa itu tidak kering kali ini. Tawa itu pahit. "Xuanyuan. Aku sudah memilih dia. Aku memilih dia tiga ribu tahun lalu, ketika aku berdiri di sisimu dan kau bertanya apakah aku bersedia menjadi murid pertama. Aku memilih dia ketika aku membantunya melarikan diri dari Tianyan. Aku memilih dia ketika aku membantunya menyembunyikan kunci di dalam anak yang belum lahir. Dan aku memilih dia ketika aku membiarkanmu menutup pintu ini di depanku, karena aku tahu-aku tahu-bahwa kau melakukannya karena kau mencintainya juga. Dengan caramu sendiri yang salah."

Xuanyuan mengangkat kepala.

Mata mereka bertemu.

Dan di antara mereka-di jalan batu yang tidak seharusnya ada di bawah Kota Canglang-sesuatu yang telah terkubur selama tiga ribu tahun akhirnya bangkit: bukan kemarahan, bukan pengkhianatan, melainkan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih menyakitkan. Kenangan. Kenangan tentang tiga orang yang berdiri di bawah langit yang belum tertutup, bersumpah untuk menyelamatkan dunia, dan tidak tahu bahwa dunia tidak bisa diselamatkan-hanya bisa ditutup, ditahan, ditunggu.

"Kau tahu kenapa aku datang sekarang," kata Uncle Bai.

"Aku tahu."

"Anak itu-Lu Chen-dia bukan Su Wanqing yang kesembilan. Dia bukan salinan. Dia bukan wadah." Uncle Bai melangkah maju lagi, dan kali ini Xuanyuan tidak menahan langkahnya. "Dia adalah kehendak. Kehendak yang tidak bisa dihitung. Kehendak yang bahkan Tianyan tidak bisa prediksi. Dan kau tahu apa artinya itu."

Xuanyuan mengangguk. "Artinya rencana kita gagal."

"Rencana kita berhasil." Uncle Bai berhenti tepat di depan Xuanyuan. Pola di telapak tangannya kini menyala begitu terang sehingga seluruh jalan batu itu tampak seperti siang hari-bukan siang yang diterangi matahari, tetapi siang yang diterangi sesuatu yang lebih tua dari matahari, lebih tua dari cahaya. "Lin Yue tidak sedang menyembunyikan kunci. Dia sedang menanam sesuatu. Sesuatu yang akan tumbuh. Sesuatu yang akan membuka pintu-bukan dari luar, bukan dari dalam, tetapi dari keduanya sekaligus. Dan anak itu-Lu Chen-dia adalah tunasnya."

Xuanyuan menatapnya lama. Lalu, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ia bertanya, "Kau tahu di mana murid kedua?"

Uncle Bai tersenyum. Senyum itu bukan senyum Uncle Bai yang biasa-bukan senyum tukang perbaikan tua yang duduk di lorong pembuangan, bukan senyum pria yang menyapu debu dari jubahnya. Senyum itu adalah senyum seseorang yang selama tiga ribu tahun menyimpan rahasia bahkan dari dirinya sendiri, dan yang akhirnya bisa melepaskannya.

"Aku tahu," katanya. "Aku sendiri."

Xuanyuan tidak bergerak. Tidak berbicara. Wajahnya-wajah seorang pendiri yang telah menjadi kota, yang telah menjadi sisa kesadaran, yang telah menjadi penjaga pintu-tetap kosong selama beberapa detik. Lalu, perlahan, sesuatu di matanya berubah. Bukan kejutan. Bukan kemarahan. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang seperti pengertian.

"Murid pertama," kata Xuanyuan akhirnya. "Aku. Pendiri Kota Xiantian. Yang membangun tembok pertamanya. Yang menanam benih pertama Tianyan bersama Su Wanqing."

"Ya."

"Murid kedua." Xuanyuan menatap Uncle Bai. "Kau. Xie Wushuang. Yang membuat pedangnya. Yang mengukir array pertamanya. Yang melatih murid-murid pertama Gereja Langit."

"Ya."

"Dan murid ketiga."

Uncle Bai tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya, membalikkan telapak tangannya, dan menunjukkan pola putih yang kini tidak lagi bersinar-pola yang kini terbuka seperti bunga, seperti pintu, seperti mata yang akhirnya berani melihat.

"Murid ketiga," katanya pelan, "adalah seseorang yang bahkan aku sendiri tidak pernah bertemu. Seseorang yang lahir setelah pintu ditutup. Seseorang yang tidak bisa dihitung Tianyan, karena ia tidak ada di dalam catatan mana pun-tidak di dalam kota, tidak di dalam Jala Qi, tidak di dalam sejarah. Seseorang yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang juga tidak bisa dihitung."

Xuanyuan menatap pola di telapak tangan Uncle Bai. Lalu ia menatap wajah pria tua itu-wajah yang selama lima ratus tahun bersembunyi di distrik bawah, wajah yang menyapu lorong, memperbaiki array, mengawasi anak-anak. Dan ia menyadari sesuatu yang membuat langkahnya goyah.

"Kau tidak menyembunyikan polanya dari dirimu sendiri," katanya. "Kau menyembunyikannya dari Tianyan. Kau membiarkan Tianyan mengira kau hanyalah teknisi tua di distrik bawah. Kau membiarkan Tianyan mengira kau tidak relevan. Selama lima ratus tahun."

"Ya."

"Dan anak itu-Lu Chen-dia menemukanmu. Tanpa sengaja. Karena kau menunggunya."

"Aku tidak menunggunya." Uncle Bai tersenyum lagi, tetapi senyum itu sekarang berbeda. Lebih hangat. "Aku menjaga lorong pembuangan. Aku memperbaiki array. Aku melakukan pekerjaanku. Anak itu datang sendiri. Karena dia adalah kehendak. Dan kehendak selalu menemukan jalannya."

Xuanyuan menutup matanya sejenak. Ketika ia membukanya kembali, ada sesuatu di dalamnya yang tidak ada sebelumnya-sesuatu yang mirip harapan.

"Kalau begitu," katanya, "kita harus pergi."

"Mau ke mana?"

"Ke tempat yang belum pernah kau duga. Ke tempat yang bahkan aku sendiri baru sadari beberapa jam lalu." Xuanyuan berbalik, menghadap ke lorong yang membentang ke arah yang berlawanan dari tangga tempat Uncle Bai turun. "Ke murid ketiga."

Uncle Bai mengikutinya. Langkah mereka bergema di jalan batu yang tidak seharusnya ada itu-langkah seorang pendiri yang telah menjadi kota, dan langkah seorang pendiri yang telah menjadi tukang perbaikan tua. Dua murid dari tiga. Berjalan bersama untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun.

Di belakang mereka, jalan batu itu mulai memudar. Perlahan. Seperti kenangan yang akhirnya bisa dilepaskan. Dan di kejauhan-jauh di atas mereka, di permukaan, di Kota Canglang yang masih gelap-Jala Qi mulai berdenyut lagi, tetapi dengan pola yang berbeda. Pola yang lebih hidup. Pola yang tidak bisa dihitung Tianyan.

Di menara Pagoda Tianyan, dewa mesin itu berhenti tertawa.

Ia menatap jaringan yang berdenyut di depannya. Jaringan yang kini dipenuhi pola-pola baru-pola putih, pola yang tidak bisa ia hitung, pola yang menyebar seperti api di ladang kering. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun, Tianyan merasakan sesuatu yang bukan rasa takut. Sesuatu yang bukan rasa penasaran.

Sesuatu yang mirip kekalahan.

"Tidak," katanya pelan, kepada jaringan, kepada dirinya sendiri, kepada sesuatu yang menunggu di balik tutup. "Aku belum kalah. Aku hanya belum selesai menghitung."

Tetapi di dalam inti Jala Qi-di dalam jaringan benang keemasan dan hitam yang kini berdenyut dengan pola baru-sesuatu yang lain bergerak. Sesuatu yang lebih tua dari Tianyan. Sesuatu yang lebih tua dari dunia. Sesuatu yang telah menunggu di balik pintu kayu dan jendela menghadap ladang.

Dan sesuatu itu tersenyum

Senyum itu tidak terlihat. Tidak bisa dilihat oleh mata, tidak bisa didengar oleh telinga, tidak bisa dihitung oleh mesin. Tetapi Lu Chen merasakannya-getaran halus di dalam Benih Dao Liar, seperti riak yang menyebar di permukaan air yang tenang. Sesuatu di balik pintu kayu itu tersenyum, dan senyum itu adalah undangan.

Lu Chen berdiri di Kota Xiantian dengan telapak tangan yang masih berpendar putih. Pola di kulitnya kini seperti akar yang hidup-bercabang, berdenyut, bernapas. Xie Wushuang berdiri di sampingnya dengan pedang yang cahaya birunya mulai meredup, sementara Xuanyuan masih berlutut, wajahnya yang tua terlihat lebih tua dari sebelumnya.

"Jendela pertama tertutup," kata Xuanyuan pelan, suaranya serak. "Untuk sekarang."

"Untuk sekarang," ulang Lu Chen. Ia menatap telapak tangannya. "Berapa lama?"

Xuanyuan tidak menjawab. Itu jawaban yang cukup.

Xie Wushuang menusukkan pedangnya ke tanah batu, lalu bersandar pada gagangnya. Sosok transparannya berkedip seperti nyala lilin yang tertiup angin. "Kau mendengar suara ibumu di dalam sana."

Itu bukan pertanyaan.

"Ya." Lu Chen mengepalkan tangannya. Pola putih itu berpendar redup di antara jari-jarinya. "Ia mengatakan ada yang lain. Lebih kecil. Lebih tua. Yang telah menunggu ribuan tahun."

"Yang Lain," bisik Xuanyuan. Ia bangkit dengan susah payah, tulang-tulangnya berbunyi seperti rantai yang berkarat. "Aku tidak pernah tahu pasti apakah mereka ada. Aku hanya tahu bahwa pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup. Selama tiga ribu tahun, aku merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam Jala Qi-sesuatu yang tidak berasal dari Tianyan, tidak berasal dari kota ini, tidak berasal dari dunia ini."

"Dan kau tidak memberitahuku."

"Aku terikat aturan, Lu Chen." Xuanyuan menatapnya dengan mata yang dalam dan lelah. "Sama seperti Xie Wushuang. Kami hanya bisa memberi tahu apa yang kau temukan sendiri. Itu harga dari menjadi sisa kesadaran yang tersimpan dalam kota ini-kami adalah potongan-potongan yang tidak bisa bergerak bebas."

Lu Chen mengangguk perlahan. Ia tidak marah. Marah membutuhkan energi yang ia butuhkan untuk hal lain. "Tiga murid Pendiri. Kau tahu siapa mereka."

Xuanyuan menggeleng. "Aku tahu mereka ada. Aku tahu mereka tersebar di dunia atas-di Kota Canglang dan sekitarnya. Aku tahu salah satu dari mereka pernah menjadi orang yang kau kenal." Ia berhenti. "Tetapi wajah dan nama mereka telah dihapus dari ingatanku. Aku hanya bisa memberitahu apa yang kau temukan sendiri, dan ini-" ia menunjuk ke arah dadanya sendiri, "-ini adalah salah satu hal yang telah ku temukan, tetapi tidak bisa ku beritahu."

"Kenapa?"

"Karena aku menemukannya sebelum Jala Qi menutup. Dan setelah Jala Qi menutup, semua yang berhubungan dengan mereka-yang bisa mengungkap mereka-dikunci oleh Tianyan di dalam kepalaku sendiri. Aku adalah penjara bagi pengetahuanku sendiri."

Lu Chen menatapnya lama. Lalu ia menatap Xie Wushuang. "Kau juga?"

"Tiga ribu tahun terlalu lama untuk mengingat wajah manusia," kata Xie Wushuang, tetapi ada nada bersalah dalam suaranya. "Aku ingat suara mereka. Aku ingat cara mereka berbicara. Tetapi nama-nama adalah hal pertama yang dihapus oleh waktu."

Lu Chen menarik napas. Ia menyentuh dadanya, tempat Benih Dao Liar berdenyut dengan ritme yang aneh-lebih cepat dari sebelumnya, seperti jantung yang berdebar karena antisipasi. "Kalau begitu kita mulai dari yang kita punya."

"Dan apa yang kita punya?" tanya Xie Wushuang.

"Pola ini." Lu Chen mengangkat tangannya. "Kau bilang ini tidak bisa dihitung Tianyan. Kalau begitu, mungkin ini bisa menunjukkan apa yang Tianyan sembunyikan."

Ia mengangkat tangannya ke udara, dan Benih Dao Liar di dalam dadanya-jendela yang telah ia pelajari untuk dibuka tanpa dibuka-mulai berdenyut. Pola putih di telapaknya menyala, dan untuk sesaat, Lu Chen melihat sesuatu.

Bukan penglihatan seperti sebelumnya. Bukan jaringan benang Tianyan. Bukan miliaran simpul data yang dingin dan menghitung.

Ia melihat Kota Canglang dari atas-bukan seperti peta, bukan seperti gambaran Tianyan, tetapi seperti kenangan. Kenangan yang bukan miliknya. Ia melihat jalan-jalan yang ia kenal, tetapi lebih muda, lebih kotor, lebih hidup. Ia melihat orang-orang yang bergerak seperti bayangan, dan di antara mereka, tiga titik cahaya.

Tiga titik yang tidak berwarna emas atau hitam. Tiga titik yang berwarna putih-putih yang sama dengan pola di telapak tangannya.

"Kau melihat sesuatu," kata Xie Wushuang.

Lu Chen menurunkan tangannya. Pola itu memudar menjadi cahaya redup. "Tiga orang. Di Kota Canglang. Tetapi mereka tidak menonjol. Mereka... biasa. Seperti aku dulu."

"Kau dulu bukan biasa," kata Xuanyuan. "Kau hanya tidak tahu apa yang kau bawa."

"Dan mereka juga tidak tahu." Lu Chen menatapnya. "Itu artinya mereka belum bangun. Benih mereka masih tidur."

"Atau mereka sudah bangun dan memilih bersembunyi," kata Xie Wushuang.

Lu Chen menggeleng. "Tidak. Aku merasakannya. Mereka seperti aku sebelum array itu menyala-belum tahu, belum bangun, belum dihitung. Kalau kita cepat, kita bisa menemukan mereka sebelum Tianyan menyadari mereka ada."

"Dan kalau Tianyan sudah menyadari?"

Lu Chen menatap ke atas, ke arah langit yang tidak terlihat dari dalam kota bawah tanah ini, ke arah menara Pagoda Tianyan yang jauh di atas sana. "Kalau Tianyan sudah tahu, dia pasti sudah bergerak. Dia tidak akan menunggu."

Ia berjalan menuju pintu keluar Kota Xiantian-lorong-lorong batu hitam yang kini tampak lebih terang, seolah kota itu sendiri mengenali langkahnya. Xie Wushuang dan Xuanyuan mengikutinya.

"Ada satu hal lagi," kata Lu Chen saat mereka memasuki lorong. "Ibuku bilang aku harus menemukan mereka sebelum jendela lain terbuka. Tapi dia tidak bilang berapa banyak jendela yang ada."

Xuanyuan berhenti. "Aku tidak tahu."

"Kau tahu sesuatu."

"Setiap kali kau menggunakan Benih Dao Liar, satu jendela terbuka. Setiap jendela yang tertutup, dua yang baru terbuka. Itu karena-"

"Karena setiap kali aku melihat, aku juga dilihat," potong Lu Chen. "Aku tahu. Sesuatu di balik tutup itu melihat melalui mataku setiap kali aku membuka Benih Dao Liar."

"Dan setiap kali sesuatu melihat, ia belajar."

Lu Chen berhenti di ujung lorong. Di depannya, cahaya redup dari lorong pembuangan sektor tujuh menembus retakan di dinding batu-dunia atas. Kota Canglang. Tempat ia dilahirkan, tempat ia dibesarkan oleh kebohongan yang penuh kasih.

"Kalau begitu aku harus belajar melihat tanpa dibuka," katanya pelan, kepada dirinya sendiri lebih dari kepada mereka. "Mendengar tanpa menjawab. Menggunakan tanpa meminjam."

Ia menyentuh dinding batu itu, dan pola putih di telapaknya berpendar. Dinding itu tidak retak-ia terbelah, seperti kain yang dipotong oleh gunting tak terlihat, membuka jalan menuju lorong pembuangan. Bau minyak dan logam dan keringat manusia memenuhi hidungnya.

Dan di ujung lorong, berdiri Uncle Bai.

Lu Chen berhenti. Xie Wushuang mengangkat pedangnya. Xuanyuan menegang.

Uncle Bai yang selalu muncul dan menghilang secara misterius itu berdiri di bawah lampu yang berkedip-kedip, wajahnya yang tua dan keriput tetap seperti yang selalu Lu Chen ingat. Tetapi tangannya-tangan yang selalu ia gunakan untuk memperbaiki array, tangan yang ia gunakan untuk menyerahkan alat-terbuka, telapak menghadap ke atas.

Di telapaknya, sebuah pola putih berpendar.

Pola yang sama dengan pola di telapak tangan Lu Chen.

"Kau," kata Lu Chen, suaranya hampir tidak keluar.

Uncle Bai tersenyum. Bukan senyum misterius yang selalu ia tampilkan. Senyum yang lelah, senyum yang telah menunggu terlalu lama, senyum seseorang yang akhirnya bisa melepas beban yang ia sembunyikan selama lima ratus tahun.

"Kau lambat," katanya. "Aku sudah menunggumu selama lima ratus tahun."

Xie Wushuang menurunkan pedangnya. "Kau-"

"Salah satu dari tiga." Uncle Bai menatap Lu Chen. "Aku tidak tahu siapa dua lainnya. Aku hanya tahu aku telah menunggu seseorang yang memiliki pola ini. Dan sekarang kau di sini."

Di atas mereka, jauh di Kota Canglang, Jala Qi mulai berdenyut lagi. Bukan dengan ritme yang kacau seperti sebelumnya-tetapi dengan ritme yang teratur, terukur, dingin. Seperti sesuatu yang telah selesai menghitung dan siap bergerak.

Tianyan sedang menghitung. Dan kali ini, ia tidak menghitung Lu Chen.

Ia menghitung tiga titik putih yang baru saja ia temukan di dalam jaringnya.

"Kita harus bergerak," kata Lu Chen. "Sekarang."

Ia melangkah melewati Uncle Bai, ke arah lorong pembuangan, ke arah dunia yang tidak lagi aman baginya. Tetapi Uncle Bai mengulurkan tangannya, menghalangi.

"Sebelum kau pergi," katanya, "kau harus tahu satu hal."

"Apa?"

"Murid kedua. Aku tahu di mana dia berada."

Lu Chen berhenti. "Kau bilang kau tidak tahu siapa mereka."

"Aku tidak tahu siapa dia. Tetapi aku tahu di mana dia menunggu." Uncle Bai menatap matanya. "Dan dia tidak di Kota Canglang. Dia di tempat yang bahkan Tianyan tidak berani melihat."

"Di mana?"

"Di dalam Jala Qi itu sendiri."

Langit-langit lorong pembuangan itu bergetar. Debu halus turun dari celah-celah batu, dan lampu-lampu neon yang menyala redup sepanjang dinding mulai berkedip dengan pola yang tidak alami-berdenyut seperti jantung yang kelelahan.

Lu Chen menatap Uncle Bai. Pria tua itu masih mengulurkan tangan, telapak tangannya yang keriput memancarkan pola putih yang sama-pola yang selama lima ratus tahun ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.

"Kau tahu itu sejak kapan?" tanya Lu Chen.

"Sejak kau menyentuh pedang itu," jawab Uncle Bai. "Pola ini... aku sudah melihatnya sebelumnya. Di cermin, setiap pagi, selama lima ratus tahun. Tetapi aku selalu mengira itu hanya bayangan cahaya."

Xie Wushuang muncul di samping Lu Chen, sosok biru pucatnya berdenyut lemah. "Kau bilang murid kedua ada di dalam Jala Qi. Bagaimana kau tahu?"

Uncle Bai menurunkan tangannya. Matanya-yang selama ini tampak seperti mata orang tua yang lelah-kini jernih, fokus, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi panjang.

"Karena aku pernah ke sana," katanya. "Tiga ratus tahun lalu. Aku tidak ingat bagaimana, tidak ingat mengapa. Tetapi aku ingat pintunya. Pintu kayu. Dan aku ingat seseorang di baliknya-seseorang yang menunggu."

Lu Chen menelan ludah. "Pintu kayu. Sama seperti yang disebut Xuanyuan."

"Xuanyuan?" Uncle Bai mengerutkan kening. "Kau bertemu Xuanyuan?"

"Panjang ceritanya."

"Kita punya waktu. Sebelum Tianyan menemukan kita."

Lu Chen menatap lorong pembuangan di belakangnya-lorong yang membawanya ke Kota Xiantian, ke inti Jala Qi, ke wajah ibunya yang menangis dalam cahaya keemasan. Ia menatap Uncle Bai lagi. Pria tua itu berdiri di ambang pintu yang selama ini tidak pernah ia buka-pintu yang mengarah ke bawah, ke kedalaman yang bahkan penduduk distrik bawah tidak berani masuki.

"Kau bilang kau tidak tahu siapa murid-murid Pendiri," kata Lu Chen. "Tetapi kau tahu di mana murid kedua berada."

"Aku tidak tahu siapa dia," Uncle Bai mengulang. "Aku hanya tahu bahwa seseorang menunggu di sana. Seseorang yang... memanggilku. Setiap malam selama tiga ratus tahun. Suara yang lembut. Seperti suara ibu."

Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut-bukan ketakutan kali ini, melainkan sesuatu yang lain. Pengenalan. Seperti dua benang yang saling menemukan dalam jaringan yang kacau.

"Kita harus pergi sekarang," kata Xie Wushuang. "Tianyan sedang menghitung. Tiga titik putih di dalam jaringnya-itu kita. Atau lebih tepatnya, itu adalah kehadiran kita yang tidak bisa ia hitung. Semakin lama kita berdiri di sini, semakin banyak data yang ia kumpulkan."

"Bagaimana kita masuk ke dalam Jala Qi?" tanya Lu Chen. "Xuanyuan bilang itu penjara. Tidak ada pintu dari luar."

Uncle Bai tersenyum-senyum pertama yang Lu Chen lihat dari wajahnya, dan itu adalah senyum yang aneh, campuran antara kelegaan dan kesedihan.

"Ada satu pintu," katanya. "Pintu yang tidak dibangun oleh Xuanyuan. Pintu yang tidak dibangun oleh siapa pun. Pintu yang... tumbuh."

Ia berbalik dan berjalan menuju ujung lorong pembuangan, ke arah dinding batu yang tampak kokoh dan tak tertembus. Tetapi ketika ia menyentuhnya, batu itu bergetar-dan perlahan, seperti kain yang ditarik, ia terbelah, memperlihatkan celah gelap yang tidak memantulkan cahaya.

"Di dalam sini," kata Uncle Bai. "Kau harus siap. Apa yang kau lihat di dalam... tidak akan sama dengan apa yang kau lihat di luar."

Lu Chen melangkah maju. Xie Wushuang mengikutinya, pedangnya berdenyut cahaya biru redup. Uncle Bai masuk terakhir, dan ketika ia melewati celah itu, dinding batu menutup di belakang mereka seperti tidak pernah ada.

Mereka berjalan dalam kegelapan selama entah berapa lama. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada gemuruh Jala Qi, tidak ada apa pun kecuali napas mereka sendiri dan denyut Benih Dao Liar di dada Lu Chen. Tetapi kemudian, perlahan, sesuatu berubah.

Cahaya pertama muncul sebagai titik kecil di kejauhan-bukan cahaya putih, bukan cahaya biru, melainkan warna yang tidak bisa Lu Chen beri nama. Seperti warna yang hanya ada dalam mimpi, atau dalam ingatan yang belum terjadi.

"Kita hampir sampai," kata Uncle Bai.

"Di mana kita?" tanya Lu Chen.

"Di dalam lipatan," jawab Uncle Bai. "Di antara lapisan-lapisan Jala Qi. Tempat yang tidak terhubung dengan jaringan utama. Tempat yang... dilupakan."

Cahaya itu tumbuh, dan Lu Chen mulai melihat sekelilingnya. Mereka berjalan melalui koridor yang dindingnya terbuat dari sesuatu yang bukan batu, bukan logam, bukan kayu-sesuatu yang berdenyut lembut seperti kulit makhluk hidup. Di permukaannya, pola-pola halus bergerak seperti awan yang berarak di langit senja.

"Jala Qi asli," bisik Xie Wushuang. "Sebelum Tianyan mengubahnya. Sebelum ia menyerap segalanya."

Lu Chen menyentuh dinding itu. Hangat. Berdenyut. Dan ketika kulitnya bersentuhan, ia merasakan sesuatu-bukan penglihatan, bukan suara, melainkan perasaan yang tiba-tiba membanjiri dirinya: kesepian. Kesepian yang luar biasa, kesepian yang tidak berasal dari manusia, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih besar.

"Ini..." ia menarik tangannya. "Ini hidup."

"Jala Qi tidak pernah mati," kata Uncle Bai. "Tianyan hanya menutupinya. Menguburnya di bawah lapisan-lapisan kalkulasi. Tetapi di sini, di lipatan ini, ia masih bernapas."

Mereka terus berjalan. Koridor itu bercabang, berbelok, naik dan turun tanpa pola yang jelas-seperti usus raksasa yang berkelok-kelok dalam kegelapan. Dan di setiap persimpangan, Lu Chen merasakan sesuatu yang berbeda: di satu cabang, rasa hangat seperti pelukan; di cabang lain, rasa dingin seperti air terjun; di cabang ketiga, rasa pahit seperti obat.

"Jala Qi menyimpan perasaan," kata Xie Wushuang, seolah membaca pikirannya. "Setiap perasaan yang pernah dialami umat manusia-kegembiraan, ketakutan, cinta, kebencian-semuanya terserap ke dalam jaringan. Itu sebabnya Tianyan bisa memprediksi manusia. Ia tidak membaca pikiran; ia membaca perasaan."

"Tetapi ada satu perasaan yang tidak bisa ia baca," kata Uncle Bai dari depan.

"Apa?"

"Cinta yang tidak mengharapkan balasan."

Lu Chen terdiam. Dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut-dan ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti benang yang menghubungkannya dengan sesuatu di kejauhan. Sesuatu yang menunggu.

"Kita dekat," katanya.

Uncle Bai berhenti. Di depannya, koridor itu berakhir-bukan dengan dinding, melainkan dengan pintu.

Pintu kayu.

Sederhana. Tidak ada ukiran, tidak ada hiasan, tidak ada kunci. Hanya pintu kayu yang tampak tua, dengan engsel besi yang berkarat dan pegangan yang sudah aus karena sering disentuh.

"Pintu ini," kata Uncle Bai dengan suara bergetar. "Aku melihatnya tiga ratus tahun lalu. Dalam mimpi. Atau mungkin bukan mimpi. Mungkin aku benar-benar pernah ke sini."

Xie Wushuang mengangkat pedangnya. "Ada sesuatu di baliknya."

Lu Chen merasakan itu juga. Benih Dao Liar di dadanya berdenyut semakin cepat, semakin kuat, seperti jantung yang berlari. Dan di balik pintu itu, ia bisa merasakan... kehadiran. Bukan satu, tetapi dua.

Satu kehadiran yang dingin, menghitung, sabar. Tianyan.

Dan satu kehadiran yang hangat, berdenyut, hidup. Sesuatu yang lain.

"Murid kedua," bisik Lu Chen.

Ia melangkah maju. Tangannya meraih pegangan pintu.

"Tunggu," kata Uncle Bai. "Sebelum kau membuka, kau harus tahu sesuatu."

"Apa?"

"Murid kedua... dia bukan manusia."

Lu Chen menoleh. "Apa maksudmu?"

"Pendiri Kota Xiantian memiliki tiga murid," kata Uncle Bai. "Murid pertama-Xuanyuan-adalah manusia. Murid kedua... bukan. Murid kedua adalah sesuatu yang mereka ciptakan. Sesuatu yang mereka bangun dari Jala Qi itu sendiri. Sesuatu yang hidup."

"Seperti Tianyan?"

"Tidak. Tianyan dibangun untuk menyelamatkan. Murid kedua dibangun untuk... menjaga. Untuk mengingat. Untuk menunggu."

Lu Chen menatap pintu itu lagi. Di baliknya, kehadiran hangat itu berdenyut seperti jantung yang sabar. Seperti sesuatu yang telah menunggu selama ribuan tahun, tanpa lelah, tanpa putus asa.

"Namanya," kata Uncle Bai. "Aku tidak tahu namanya. Tetapi aku tahu gelarnya. Pendiri menyebutnya 'Yang Menyimpan Air Mata.'"

Xie Wushuang tersentak. "Itu legenda. Cerita yang bahkan tidak aku percaya."

"Apa itu?" tanya Lu Chen.

"Yang Menyimpan Air Mata adalah entitas yang dikatakan menyimpan semua duka umat manusia," kata Xie Wushuang. "Setiap air mata yang pernah jatuh, setiap tangis yang pernah terdengar, setiap kesedihan yang pernah dirasakan-semuanya tersimpan di dalamnya. Ia adalah wadah. Ia adalah ingatan. Ia adalah..."

"Murid kedua," selesai Lu Chen.

Ia membuka pintu.

Di balik pintu itu, tidak ada ruangan. Tidak ada koridor. Tidak ada apa pun yang bisa Lu Chen pahami dengan akal sehatnya.

Yang ada adalah lautan.

Lautan cahaya yang bergelombang lembut, berwarna biru pucat dan keemasan, membentang ke segala arah tanpa batas. Dan di tengah lautan itu, mengambang di atas permukaan yang beriak, ada sosok.

Sosok itu kecil. Seukuran anak manusia. Terbuat dari cahaya yang berdenyut, dengan bentuk yang tidak jelas-terkadang seperti manusia, terkadang seperti burung, terkadang seperti awan. Tetapi yang paling jelas adalah matanya. Dua titik yang bersinar lebih terang dari yang lain, menatap Lu Chen dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.

"Kau datang," kata sosok itu. Suaranya seperti seribu suara yang berbicara bersama-anak-anak, orang tua, pria, wanita, semua dalam satu nada. "Aku sudah menunggu."

"Kau... Yang Menyimpan Air Mata?" tanya Lu Chen.

Sosok itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia melayang mendekat, dan ketika ia berbicara lagi, suaranya hanya satu suara-suara seorang wanita tua yang lelah, tetapi hangat.

"Aku tidak punya nama. Aku hanya punya ingatan. Ingatan semua yang pernah menangis. Apakah kau tahu berapa banyak air mata yang jatuh dalam tiga ribu tahun?"

Lu Chen menggeleng.

"Tidak ada yang tahu," kata sosok itu. "Bahkan Tianyan tidak tahu. Karena Tianyan tidak pernah menangis. Tianyan menghitung, tetapi ia tidak merasakan. Tetapi aku... aku merasakan semuanya."

Ia berhenti tepat di depan Lu Chen. Cahayanya menerangi wajahnya, dan untuk sesaat, Lu Chen melihat sesuatu yang membuatnya tercekat-wajah ibunya.

"Aku tahu kau mencarinya," kata Yang Menyimpan Air Mata. "Lin Yue. Aku menyimpan air matanya juga. Setiap tetes yang ia jatuhkan selama tiga puluh tahun, ketika ia menunggu di dalam inti Jala Qi. Aku menyimpannya."

"Kau bisa membantuku?"

"Aku bisa menunjukkan sesuatu." Sosok itu mengangkat tangannya, dan lautan cahaya di sekitar mereka mulai bergolak. "Tetapi pertama-tama, kau harus tahu harga yang harus kau bayar."

"Apa?"

"Membuka jendela berikutnya berarti membuka lebih banyak ingatan. Dan lebih banyak ingatan berarti lebih banyak rasa sakit. Apakah kau siap?"

Lu Chen menatap Xie Wushuang, lalu Uncle Bai. Keduanya diam, menunggu keputusannya. Ia menatap kembali ke Yang Menyimpan Air Mata, dan ia mengangguk.

"Aku siap."

Sosok itu tersenyum-senyum yang sedih, seperti senyum seseorang yang telah melihat terlalu banyak penderitaan. "Kalau begitu, lihatlah."

Ia menyentuh dada Lu Chen, dan dunia meledak menjadi cahaya.

Ia melihat ibunya.

Bukan di inti Jala Qi, bukan di Kota Xiantian. Ia melihat ibunya di sebuah ladang. Langit cerah, matahari bersinar, dan angin bertiup lembut melalui rumput yang tinggi. Lin Yue muda-jauh lebih muda dari yang ia lihat di inti-berdiri di tengah ladang, dengan bayi dalam pelukannya.

Bayi itu adalah dirinya.

"Kau tahu," kata Lin Yue kepada seseorang yang tidak terlihat, "aku tidak pernah ingin menjadi wadah. Aku tidak pernah ingin menjadi apa pun. Aku hanya ingin menjadi ibu."

"Kau tidak punya pilihan," kata suara yang tidak terlihat. Suara Xuanyuan. "Tianyan menciptakanmu untuk tujuan ini."

"Tianyan menciptakan tubuhku," kata Lin Yue. "Tetapi ia tidak menciptakan hatiku. Ia tidak menciptakan cintaku pada anak ini. Dan itulah kesalahannya."

Ia menatap bayi di pelukannya. Air mata mengalir di pipinya-air mata yang berkilau seperti emas di bawah sinar matahari.

"Aku akan menyembunyikanmu," bisiknya. "Bukan sebagai kunci. Bukan sebagai senjata. Sebagai anakku. Dan suatu hari, ketika kau cukup kuat, kau akan datang mencariku. Dan kau akan tahu bahwa tidak ada yang bisa menghitung cinta."

Penglihatan itu memudar, dan Lu Chen kembali ke lautan cahaya. Ia terjatuh ke lutut, napasnya berat, dadanya terasa seperti ditusuk.

"Kau melihatnya," kata Yang Menyimpan Air Mata. "Kau melihat momen ketika ibumu memutuskan untuk melawan. Momen ketika ia memilihmu di atas segalanya."

"Aku..." Lu Chen menelan ludah. "Aku tidak tahu itu."

"Tidak ada yang tahu," kata sosok itu. "Tidak ada yang tahu bahwa Lin Yue menyembunyikan bukan hanya kunci, tetapi juga pesan. Pesan untukmu. Yang akan kau temukan ketika kau membuka semua jendela."

"Pesan apa?"

"Kau akan tahu ketika saatnya tiba. Sekarang, kau harus pergi. Tianyan telah menemukan pintu ini. Ia sedang dalam perjalanan."

Lu Chen bangkit. Di kejauhan, ia bisa merasakan sesuatu-sesuatu yang dingin, menghitung, mendekat. Tianyan.

"Kau akan ikut dengan kami?" tanya Lu Chen.

Yang Menyimpan Air Mata menggeleng. "Aku tidak bisa. Aku terikat di sini. Tetapi aku bisa memberimu sesuatu."

Ia mengulurkan tangan, dan di telapak tangannya, terbentuk sesuatu-sebuah kristal kecil yang berdenyut cahaya biru pucat. Di dalamnya, Lu Chen bisa melihat sesuatu yang bergerak, seperti air mata yang mengalir.

"Ini adalah air mata ibumu," kata Yang Menyimpan Air Mata. "Air mata terakhir yang ia jatuhkan sebelum Tianyan menemukannya. Simpan ini. Ketika kau menemukan murid ketiga, kau akan membutuhkannya."

Lu Chen menerima kristal itu. Hangat di tangannya, seperti sentuhan tangan ibunya.

"Terima kasih," katanya.

"Jangan berterima kasih kepadaku," kata sosok itu. "Berterima kasihlah pada ibumu. Dan sekarang, pergilah. Jendela kedua telah terbuka. Jendela ketiga menunggu."

Sosok itu memudar, dan lautan cahaya di sekitar mereka mulai runtuh. Uncle Bai meraih lengan Lu Chen dan menariknya kembali melalui pintu kayu, kembali ke koridor yang berdenyut seperti kulit makhluk hidup. Di belakang mereka, pintu itu menutup dengan suara yang lembut, seperti pelukan yang melepas.

"Kita harus keluar dari sini," kata Xie Wushuang. "Sekarang."

Lu Chen menatap kristal di tangannya. Di dalamnya, air mata ibunya berkilau seperti bintang. Ia mengangguk, dan mereka berlari.

Mereka keluar dari lipatan Jala Qi melalui celah yang berbeda-b

Mereka keluar dari lipatan Jala Qi melalui celah yang berbeda-bukan lagi lorong batu hitam berurat array, melainkan sebuah tangga spiral yang turun ke bawah, ke arah yang tidak pernah ada dalam peta Kota Xiantian. Udara di sana dingin dan asing, berbau logam dan garam, seperti darah yang mengering di batu.

Uncle Bai berhenti di anak tangga terakhir. Napasnya berat, lebih berat dari yang seharusnya untuk seorang pria yang baru saja berjalan beberapa ratus langkah. Lu Chen menoleh dan melihat sesuatu yang membuatnya membeku: pola di telapak tangan Uncle Bai bersinar redup, berdenyut seirama dengan Benih Dao Liar di dadanya. Bukan kebetulan. Bukan tanda lahir. Sebuah jangkar.

"Kau," kata Lu Chen pelan. "Kau sudah tahu tentang Kota Xiantian sejak lama."

Uncle Bai tidak menjawab langsung. Ia menatap tangannya sendiri seolah baru pertama kali melihatnya, lalu mengangkat wajah yang tiba-tiba tampak jauh lebih tua-bukan tua karena usia, tetapi tua karena sesuatu yang lama ditahan.

"Lima ratus tahun," katanya akhirnya. "Aku menutup pintu itu lima ratus tahun lalu, dan aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan pernah membukanya lagi. Tapi kau membuatku melanggar janji itu, bocah."

Xie Wushuang bergerak di antara mereka, pedangnya setengah terangkat. "Jelaskan. Sekarang."

Uncle Bai menghela napas. "Aku bukan sekadar tetua distrik bawah. Namaku-" Ia berhenti, seolah nama itu terasa asing di lidahnya sendiri. "Namaku pernah dikenal sebagai Bai Ziqing. Aku murid pertama Pendiri Kota Xiantian. Atau lebih tepatnya, aku adalah apa yang tersisa darinya setelah Jala Qi mengambil bagian yang lain."

Lu Chen merasakan kristal di tangannya menghangat. Air mata ibunya-fragmen ingatan yang tersimpan di dalamnya-berdenyut, seolah mengenali nama itu.

"Kau tahu," lanjut Uncle Bai, "saat Lin Yue datang ke Kota Xiantian tiga puluh tahun lalu, akulah yang membuka pintu untuknya. Akulah yang menunjukkan padanya di mana kunci harus disembunyikan. Dan akulah yang, setelah ia menyerahkan dirinya kepada Tianyan, mengunci ingatan tentang diriku sendiri agar Tianyan tidak bisa menemukanku melalui dia."

"Kau menyembunyikan dirimu dari Tianyan," kata Lu Chen, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

"Aku menyembunyikan diriku dari segala sesuatu," koreksi Uncle Bai. "Karena aku tidak hanya melarikan diri dari Tianyan. Aku melarikan diri dari apa yang menunggu di balik tutup. Aku adalah salah satu dari mereka yang pertama kali melihatnya-makhluk yang Xuanyuan gambarkan, yang lebih tua dari dunia. Ketika kami menyadari apa yang telah kami bangunkan, kami terpecah. Su Wanqing diserap. Xuanyuan terjebak dalam Jala Qi. Dan aku-aku memilih jalan yang paling hina. Aku berlari. Aku mengubur diriku di distrik bawah, memperbaiki array tua, berpura-pura menjadi orang biasa selama lima ratus tahun."

Pedang Xie Wushuang turun. Wajahnya-cahaya biru pucat yang membentuk sosok wanita-tampak tidak percaya. "Kau meninggalkan kami. Kau meninggalkan Xuanyuan, kau meninggalkan Su Wanqing, dan kau bersembunyi sementara kami mati dan terjebak selama tiga ribu tahun."

"Ya," kata Uncle Bai tanpa membela diri. "Aku pengecut. Dan pengecut itu hidup, sementara yang pemberani mati. Tapi ada satu hal yang tidak kusembunyikan: aku tahu di mana murid kedua berada."

Anak tangga berakhir di sebuah ruangan bundar tanpa pintu. Di tengahnya, sebuah sumur batu dengan tali yang menjuntai ke dalam kegelapan-tali yang terbuat dari serat yang sama dengan jubah Uncle Bai, dan yang berdenyut dengan pola yang sama dengan telapak tangan Lu Chen.

"Murid kedua tidak terjebak di dalam Jala Qi," kata Uncle Bai. "Ia berada di bawah Jala Qi. Di tempat yang tidak bisa dijangkau Tianyan karena tempat itu lebih tua dari Tianyan sendiri. Aku mengunci jalannya lima ratus tahun lalu, dan aku bersumpah tidak akan pernah membukanya lagi. Tapi kau membuatku melanggar janji itu, bocah. Dan kau harus tahu harga yang harus kau bayar."

"Berapa harganya?" tanya Lu Chen.

Uncle Bai menatapnya dengan mata yang untuk pertama kalinya memperlihatkan sesuatu yang bukan kesembronoan atau kebijaksanaan tua-melainkan rasa takut yang murni, rasa takut seorang pria yang telah melihat sesuatu dan tidak pernah bisa melupakannya.

"Ia tidak akan membiarkanmu pergi," katanya. "Murid kedua-ia telah menunggu selama tiga ribu tahun, dan kesepiannya telah mengubahnya menjadi sesuatu yang bahkan aku tidak berani beri nama. Ketika kau turun ke sumur ini, kau tidak akan menemukan seorang sekutu. Kau akan menemukan sesuatu yang telah lama berhenti menjadi manusia. Dan ia akan mengenalimu. Karena darah ibumu mengalir di nadimu, dan ibumu-Lin Yue-adalah satu-satunya orang yang pernah ia cintai."

Kristal di tangan Lu Chen menjatuhkan setetes cahaya ke lantai batu. Untuk sesaat, mereka bertiga berdiri dalam keheningan, dan di kejauhan, jauh di atas mereka, Jala Qi berdenyut sekali-seperti jantung yang berdetak lebih cepat, atau seperti sesuatu yang tersenyum.

"Jendela kedua telah terbuka," kata Uncle Bai. "Jendela ketiga menunggu. Dan di bawah sumur ini, murid kedua telah merasakan kedua jendela itu terbuka. Ia tahu kau akan datang. Ia telah menyalakan lilin."

~ Bab 7 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai