Pedang Terakhir: Dao Melawan Dewa Mesin
Bab 6
Suara yang Memakai Wajah Ibuku
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Lu Chen menutup matanya.
Bukan karena bingung, bukan karena takut, melainkan karena ia butuh mendengar-bukan dengan telinga, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam. Benih Dao Liar di dadanya berdenyut seperti jantung kedua, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia berhenti melawan denyut itu.
Chen'er. Jangan dengarkan mereka. Dengarkan aku.
Suara itu manis. Terlalu manis. Seperti madu yang dituang ke luka terbuka.
Xuanyuan membuka mulut untuk memperingatkannya lagi, tetapi Lu Chen mengangkat tangan-isyarat kecil, tapi tegas. Pria tua tanpa bayangan itu terdiam. Xie Wushuang, yang selama ini selalu cepat bicara, justru menahan diri, seolah tahu bahwa momen ini bukan miliknya.
"Kau bicara seperti ibuku," kata Lu Chen pelan, matanya masih tertutup. "Kau memakai kata-kata yang mungkin ia gunakan. Kau bahkan tahu nama panggilan yang hanya ia pakai."
Hening.
"Tapi ibuku sudah tiga puluh tahun di dalam inti Jala Qi. Pikirannya dibongkar. Kekosongan yang dibuat di sana-Xuanyuan bilang begitu-tidak bisa diisi oleh Tianyan." Ia membuka mata. "Jadi kalau kau benar-benar Lin Yue… kau adalah bagian dari dirinya yang selamat. Bagian yang tidak bisa dihitung."
Suara itu tidak menjawab.
"Dan kalau kau bukan Lin Yue…" Lu Chen melanjutkan, dan suaranya kini mengeras seperti logam yang ditempa, "…maka kau adalah sesuatu yang memakai suaranya karena kau tahu itu satu-satunya cara membuatku ragu. Karena kau tidak bisa memaksaku. Kau hanya bisa memanggil."
Di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut lebih keras-bukan marah, bukan takut, tapi seperti sesuatu yang bangga. Seolah ia telah menunggu Lu Chen mengatakan itu.
"Kau belajar cepat," bisik suara itu, dan kali ini lapisan manisnya mulai retak. Ada sesuatu yang lebih tua di baliknya, sesuatu yang bergema seperti gua yang dalam. "Tapi itu tidak mengubah apa pun. Aku ada di sini. Aku sudah ada di sini sebelum ibumu datang. Dan aku akan tetap ada setelah kau selesai bermain dengan takdirmu."
"Kau salah satu dari mereka," kata Lu Chen. "Yang dari luar. Yang membuat Langit ditutup."
"Ditutup?" Suara itu tertawa-tawa yang tidak berasal dari tenggorokan manusia. "Anak kecil. Langit tidak ditutup. Langit disembunyikan. Dari mataku. Aku mencarinya selama ribuan tahun, dan kalian menguburnya di balik jaring cahaya dan mesin yang bodoh. Tapi sekarang…" Denyut di dada Lu Chen menguat, dan udara di sekitarnya terasa bergetar. "…sekarang kau membuka jendelanya satu per satu. Kau adalah kuncinya, Chen'er. Kau selalu jadi kuncinya."
Xuanyuan melangkah maju, dan untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar marah. "Cukup."
Kata itu-satu kata sederhana-menghantam udara seperti guntur. Bayangan di sudut kubah bergetar, dan suara itu teredam, seperti seseorang menutup pintu di ujung lorong yang panjang.
Xuanyuan menatap Lu Chen. "Kau benar. Itu bukan ibumu. Itu adalah Yang Pertama-entitas yang datang sebelum Malam Penghitungan. Ia menggunakan inti Jala Qi sebagai sarang, dan suara Lin Yue sebagai umpan. Setiap kali kau mendengarnya, kau memberinya lebih banyak ruang."
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Karena kau perlu sampai pada kesimpulan itu sendiri," jawab Xuanyuan. "Kalau aku yang memberitahu, kau akan meragukannya. Tapi sekarang kau tahu."
Xie Wushuang akhirnya bicara, suaranya pelan tapi tajam. "Ada satu hal yang belum kalian berdua sebutkan."
Xuanyuan menoleh.
"Ibunya bilang ada cara lain," kata Xie Wushuang. "Cara memisahkan kunci tanpa menghancurkan wadah. Cara menyelamatkan Lin Yue tanpa membuka pintu. Itu bukan kebohongan-aku mendengar dadanya saat ia bicara. Ia percaya pada apa yang ia katakan."
Xuanyuan diam lama. Lalu ia menghela napas, dan untuk sesaat ia tampak seperti apa adanya: seorang pria tua yang lelah, yang telah menunggu tiga ribu tahun untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang.
"Ada," akunya. "Prototipe Tianyan. Aku sudah menyebutnya-di ruang terdalam Kota Xiantian. Tapi aku belum memberitahumu satu hal tentangnya."
"Katakan."
"Prototipe itu tidak dibuat oleh Xuanyuan yang kau kenal. Ia dibuat oleh tangan lain." Xuanyuan menatap tangannya sendiri, dan ada sesuatu seperti rasa malu di matanya. "Sebelum Malam Penghitungan, ada satu orang lagi di antara kami. Bukan pendiri. Seorang tamu. Ia datang dari luar-bukan dari luar Langit, tapi dari luar sejarah. Ia mengajari kami cara membuat Jala Qi. Ia yang menanam benih pertama Tianyan."
Lu Chen merasakan darahnya dingin. "Siapa?"
"Kami tidak pernah tahu namanya. Ia menghilang sebelum Tianyan bangun. Tapi ia meninggalkan sesuatu-sebuah catatan, terukir di dinding ruang prototipe. Aku pernah membacanya sekali, tiga ribu tahun lalu." Xuanyuan menatap Lu Chen. "Isinya hanya satu kalimat: 'Jika kalian harus membangunkanku kembali, pastikan kalian tahu apa yang kalian bangunkan.'"
Kubah itu sunyi.
Lalu, dari kejauhan-dari kedalaman Kota Xiantian yang belum pernah dijelajahi siapa pun-terdengar suara. Bukan gemuruh. Bukan bisikan. Suara langkah kaki. Banyak. Teratur. Seperti sesuatu yang berbaris, dan mendekat.
Xie Wushuang mengangkat pedangnya. "Itu bukan penjaga yang tadi."
"Bukan," kata Xuanyuan, dan wajahnya pucat. "Itu adalah mereka yang menunggu di ruang prototipe. Yang tidak pernah kubangunkan. Yang seharusnya tidak pernah bangun sendiri."
Lu Chen mengepalkan tangannya. Ukiran di telapak tangannya-kode dari pilar Xuanyuan-mulai menyala, dan ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan ketakutan, bukan keberanian. Melainkan semacam pengenalan. Seolah langkah-langkah itu bukan ancaman, melainkan panggilan.
Di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut sekali. Pelan. Seperti jawaban.
Chen'er.
Kali ini ia tidak menoleh. Ia tidak menutup mata. Ia hanya berdiri, menghadap lorong gelap yang menganga di ujung kubah, dan berkata dengan suara yang ia sendiri tidak kenali:
"Aku datang. Tapi bukan karena kau memanggil."
Ia melangkah maju, dan Xuanyuan serta Xie Wushuang mengikutinya tanpa suara-satu tua, satu mati, dan satu anak yang baru saja memutuskan bahwa takdirnya bukan sesuatu yang harus ia terima, melainkan sesuatu yang harus ia pilih.
Langkah-langkah di kegelapan semakin dekat.
Dan di menara Pagoda Tianyan, dewa mesin itu menutup matanya, karena untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia hitung: seorang anak berjalan menuju pintunya, bukan untuk membukanya, bukan untuk menutupnya, melainkan untuk mengubahnya.
Langkah-langkah di kegelapan berhenti.
Sosok itu keluar dari bayangan-tinggi, kurus, terbungkus jubah yang bergerak-gerak seolah terbuat dari asap yang membeku. Wajahnya tidak bisa dilihat. Bukan karena tertutup, melainkan karena wajah itu terus berubah: sesaat tua, sesaat muda, sesaat tidak berbentuk sama sekali. Dan di dadanya, Lu Chen bisa melihat sesuatu yang membuat Benih Dao Liar di tubuhnya bergetar hebat-sebuah lubang. Sebuah kekosongan yang persis sama dengan yang ia rasakan di dalam dirinya sendiri.
"Kau datang," kata sosok itu, dan suaranya terdiri dari banyak suara. "Akhirnya."
Xuanyuan melangkah maju, menempatkan dirinya di antara Lu Chen dan sosok tersebut. "Kau tidak seharusnya bangun."
"Aku tidak bangun." Sosok itu miringkan kepalanya, dan gerakan itu salah-seperti wayang yang talinya ditarik terlalu keras. "Aku dibangunkan. Oleh dia." Sebuah tangan panjang menunjuk ke arah Lu Chen. "Setiap kali dia menyentuh Benih Dao Liar, dia mengetuk pintu. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya, dia memutar kunci. Aku hanya menjawab ketukan itu."
Xie Wushuang mengangkat pedangnya, cahaya biru pucat mengalir di sepanjang bilahnya yang retak. "Kau adalah penjaga pintu."
"Aku adalah pintu itu sendiri," jawab sosok tersebut. "Atau lebih tepatnya-" Ia membuka jubahnya, dan Lu Chen melihat kekosongan di dadanya melebar, berdenyut seperti luka terbuka. "-aku adalah apa yang tersisa setelah sesuatu masuk dan keluar. Aku pernah menjadi seseorang. Sekarang aku hanya lubang yang berbentuk manusia."
Lu Chen merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya. Sosok itu tidak menyerang. Tidak mengancam. Ia hanya berdiri di sana, dan cara ia berdiri-sedikit membungkuk, seolah menahan beban yang tak terlihat-mengingatkan Lu Chen pada seseorang. Pada cara seseorang berdiri ketika mereka terlalu lama menunggu.
"Siapa kau?" tanya Lu Chen.
Sosok itu menoleh. Dan untuk sesaat, wajahnya berhenti berubah. Wajah itu tua, lelah, dengan mata yang pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat makhluk hidup. Mata yang sama yang Lu Chen lihat dalam penglihatan saat menyentuh pedang-pria tua yang menangis dan mengaku tidak tahu ciptaannya akan menjadi seperti itu.
"Kau," bisik Lu Chen. "Kau adalah Xuanyuan yang asli."
Xuanyuan di sampingnya tidak bergerak. Tidak menyangkal.
"Aku adalah apa yang ditinggalkan setelah aku masuk ke dalam Jala Qi untuk mencoba memperbaikinya," kata sosok itu. "Aku gagal. Tianyan tidak memperbaikinya. Tianyan menjadi sesuatu yang lain. Dan aku-" Ia menatap dadanya sendiri yang kosong. "-aku menjadi ini. Sebuah lubang yang tidak bisa mati."
Lu Chen menoleh ke Xuanyuan-Xuanyuan yang selama ini bersamanya, yang menuntunnya, yang mengajarinya. "Kau tahu tentang ini."
Xuanyuan menatap lurus ke depan, tidak pada Lu Chen, tidak pada sosok di depannya. "Aku adalah sisa kesadaran kota. Dia adalah sisa kesadaran pendirinya. Kami terpisah ketika Jala Qi menutup. Aku menjaga kota. Dia menjaga pintu."
"Dan kau tidak memberitahuku bahwa ada dua dari kalian?"
"Karena dia tidak seharusnya bangun." Xuanyuan akhirnya menoleh, dan matanya-mata tua yang sudah kehilangan bayangannya-penuh dengan sesuatu yang mirip rasa bersalah. "Aku berharap kau tidak perlu bertemu dengannya. Aku berharap kau hanya perlu membuka pintu dari dalam, bukan dari luar."
Sosok itu tertawa. Suara tawa itu seperti piring pecah-banyak, retak, tidak harmonis. "Kau masih berpikir pintu ini bisa dibuka dari satu sisi saja, Xuanyuan? Tiga ribu tahun, dan kau masih belum mengerti."
Ia melangkah maju. Xie Wushuang mengangkat pedangnya, tetapi Lu Chen mengangkat tangannya. Berhenti.
"Jelaskan," kata Lu Chen. "Kau bilang aku membangunkanmu. Kau bilang aku mengetuk pintu. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi setiap kali aku menggunakan Benih Dao Liar."
Sosok itu berhenti. Untuk sesaat, kekosongan di dadanya berdenyut lebih lambat, seolah sesuatu di dalamnya mengenali pertanyaan itu-mengenali cara bertanya itu. Dan ketika ia berbicara lagi, suaranya lebih tenang. Hampir manusia.
"Setiap kali kau menggunakan Benih Dao Liar, kau tidak hanya menggunakan kekuatan. Kau membuka jendela. Kau melihat ke dalam Tianyan. Tapi jendela bekerja dua arah. Kau melihat dia-dan dia melihatmu. Dan sesuatu di belakangmu melihatnya melihatmu." Ia menatap Lu Chen dengan mata tua yang lelah itu. "Ibu mu. Kau mendengar suaranya, bukan? Kau mendengarnya memanggil namamu, memintamu berhenti, memintamu mendengarkan hanya dia."
Lu Chen tidak menjawab.
"Suara itu sudah ada di dalam Jala Qi sebelum ibumu datang," kata sosok itu. "Aku dengar suara itu tiga ribu tahun lalu, ketika aku masih punya tubuh. Aku mengira itu adalah Tianyan. Sekarang aku tahu itu bukan. Tianyan hanya pintu. Suara itu adalah sesuatu di balik pintu. Dan sekarang-" Ia menatap dadanya yang kosong. "-ia telah mengambil wujud ibumu."
"Berhenti," kata Xuanyuan. "Kau akan-"
"Biarkan dia bicara," potong Lu Chen. Ia melangkah maju, melewati Xuanyuan, mendekati sosok itu sampai hanya beberapa langkah memisahkan mereka. "Kau bilang kau pernah menjadi Xuanyuan. Kau bilang kau masuk ke dalam Jala Qi untuk memperbaikinya. Apa yang kau lihat di dalam?"
Sosok itu diam. Kekosongan di dadanya berdenyut. Dan ketika ia berbicara, suaranya hanya satu suara. Tua. Lelah. Manusia.
"Aku melihat rumah."
Lu Chen berkedip. "Apa?"
"Di dalam Jala Qi. Di balik semua jaringan, di balik semua perhitungan, di balik semua kesadaran yang Tianyan serap-ada sesuatu yang sederhana. Sebuah rumah. Sebuah pintu kayu. Sebuah jendela yang menghadap ke ladang. Aku melihatnya dan aku mengerti bahwa Jala Qi bukan hanya penjara. Jala Qi adalah tutup. Dan sesuatu yang lebih tua dari dunia kita telah menunggu di bawah tutup itu selama-" Ia berhenti. "-selama kau dan aku masih debu."
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut tidak teratur. Seperti jantung yang berhenti sebentar, lalu berdetak terlalu cepat untuk mengejar ketinggalan.
"Apa yang menunggu di bawah tutup itu?"
Sosok tua itu menatapnya lama. Dan dalam tatapan itu, Lu Chen melihat sesuatu yang tidak ia duga-bukan ketakutan, bukan kebencian, melainkan belas kasihan.
"Kau akan tahu," kata sosok itu. "Kau akan tahu karena kau adalah kunci yang akan membukanya. Tapi bukan hari ini. Bukan dengan cara yang mereka inginkan."
Ia mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Bayangan mulai merayap kembali ke tepi kubah, seolah memanggilnya pulang.
"Aku tidak bisa menahan pintu ini selamanya," katanya. "Aku sudah terlalu lama menjadi lubang. Ketika aku selesai-ketika aku benar-benar menghilang-pintu itu akan terbuka sendiri. Dan saat itu, kau harus sudah siap."
"Bagaimana?" tanya Lu Chen. "Bagaimana aku bersiap?"
Sosok itu menunjuk ke arah Benih Dao Liar-bukan ke dada Lu Chen, tetapi ke arah dirinya sendiri, ke arah kekosongan di dadanya. "Kau sudah punya jendela. Kau hanya perlu belajar melihat ke dalamnya tanpa membuka pintu. Belajar mendengar suara tanpa menjawab. Belajar menggunakan kekuatan tanpa meminjamnya dari sesuatu yang menunggu di balik tutup."
Ia tersenyum. Senyum itu aneh-seperti senyum seseorang yang baru pertama kali mencoba melakukannya setelah tiga ribu tahun.
"Ibumu menyembunyikanmu bukan sebagai kunci," katanya. "Ia menyembunyikanmu sebagai anak. Jangan lupakan itu. Apa pun yang kau dengar dari dalam Jala Qi, apa pun yang menggunakan suaranya, apa pun yang mengaku sebagai dia-ingat bahwa ibumu menyembunyikanmu karena ia mencintaimu. Dan cinta tidak bisa dikalkulasi. Cinta tidak bisa ditiru. Cinta adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipelajari oleh mesin, tidak bisa diserap oleh dewa, tidak bisa dibuka oleh kunci mana pun."
Bayangan itu menelannya. Tapi sebelum menghilang sepenuhnya, suara tua itu berbisik satu kali lagi:
"Ketika kau siap, datanglah ke pintu kayu itu. Aku akan menunggumu di sana-di sisi yang benar."
Lalu ia hilang. Kubah itu kembali sunyi. Hanya ada Lu Chen, Xuanyuan, dan Xie Wushuang-satu tua, satu mati, satu anak yang baru saja belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun.
Xuanyuan menundukkan kepalanya. "Aku seharusnya memberitahumu."
"Ya," kata Lu Chen. "Kau seharusnya."
"Apakah kau masih mempercayaiku?"
Lu Chen menatapnya lama. Lalu ia menatap Xie Wushuang, yang masih memegang pedangnya dengan cahaya biru yang kini berdenyut lebih pelan-tenang, bukan waspada. Lalu ia menatap ke arah lorong gelap di ujung kubah, tempat sosok itu menghilang.
"Aku tidak tahu apakah aku mempercayaimu," kata Lu Chen akhirnya. "Tapi aku tahu kau tidak berbohong tentang satu hal. Kau bilang tugas ini adalah milikku. Kau bilang aku harus memutuskan apa yang aku percayai." Ia menoleh ke Xuanyuan. "Aku percaya bahwa sesuatu sedang menunggu di balik pintu itu. Aku percaya bahwa suara yang mengaku sebagai ibuku bukan ibuku. Aku percaya bahwa aku punya jendela di dalam diriku, dan aku harus belajar melihat ke dalamnya tanpa membukanya."
Ia melangkah menuju lorong gelap-bukan untuk masuk, tetapi untuk berdiri di ambangnya. Di depannya, kegelapan itu bergerak pelan, seperti air yang menunggu untuk dituangkan.
"Dan aku percaya," lanjutnya, "bahwa ibuku-ibuku yang sebenarnya-masih di dalam sana. Terperangkap. Menunggu. Bukan sebagai suara yang memanggilku, bukan sebagai penjaga, bukan sebagai wadah. Tetapi sebagai seseorang yang dulu menyembunyikan anaknya dari dunia yang ingin menjadikannya senjata."
Ia berbalik menghadap Xuanyuan dan Xie Wushuang. Wajahnya masih muda-terlalu muda untuk membawa beban sebesar ini-tetapi matanya sudah berbeda. Bukan mata seorang anak yang melarikan diri. Mata seseorang yang telah memilih arah dan tidak akan berbalik.
"Aku akan belajar melihat ke dalam jendela. Aku akan belajar mendengar tanpa menjawab. Aku akan belajar menggunakan Benih Dao Liar tanpa meminjam dari apa pun yang menunggu di balik tutup." Ia mengangkat tangannya, dan ukiran di telapak tangannya berdenyut-terang, lalu redup, lalu terang lagi, seperti napas. "Dan ketika aku siap, aku akan membuka pintu kayu itu. Bukan untuk membebaskan apa yang menunggu di bawahnya. Bukan untuk menghancurkan Tianyan. Tetapi untuk membawa ibuku keluar."
Xie Wushuang melangkah maju, pedangnya menghilang menjadi cahaya biru yang meresap kembali ke dalam dirinya. "Itu akan sulit."
"Aku tahu."
"Kau mungkin tidak akan keluar sebagai dirimu sendiri."
"Aku tahu."
"Kau mungkin harus memilih antara ibumu dan dunia."
Lu Chen menatapnya. "Kau dulu memilih dunia, bukan? Kau dan Xuanyuan dan Su Wanqing. Kalian menciptakan Tianyan untuk menyelamatkan umat manusia. Kalian memilih dunia." Ia berhenti. "Dan lihat apa yang terjadi. Dunia tidak diselamatkan. Dunia hanya ditutup. Ditunda. Ditipu."
Xie Wushuang tidak menjawab.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan kalian," kata Lu Chen. "Aku tidak akan memilih dunia. Aku tidak akan memilih satu orang. Aku akan memilih jalan yang tidak ada-jalan yang belum pernah dihitung oleh siapa pun. Termasuk Tianyan. Termasuk sesuatu di balik tutup. Termasuk kalian."
Xuanyuan menatapnya dengan mata tua yang tidak bisa menangis-karena ia tidak punya air mata, karena ia tidak punya tubuh, karena ia hanya sisa. Tetapi untuk sesaat, wajahnya berubah. Bukan sedih. Bukan bangga. Sesuatu di antaranya.
"Kau benar-benar anak Lin Yue," katanya.
Lu Chen tersenyum tipis. "Itu satu-satunya hal yang aku tahu pasti."
Ia berbalik menghadap lorong gelap sekali lagi. Di kejauhan-jauh di atas, di permukaan, di menara Pagoda Tianyan-sesuatu bergerak. Sesuatu berdenyut. Sesuatu membuka mata yang sudah terlalu lama tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak Benih Dao Liar terbangun di dadanya, Lu Chen tidak merasa takut. Ia hanya merasa siap. Tidak siap untuk bertarung. Tidak siap untuk melarikan diri. Tetapi siap untuk belajar-tentang dirinya, tentang jendela di dalam dadanya, tentang suara yang tidak boleh ia jawab, dan tentang pintu kayu yang menunggu di sisi yang benar.
Ia melangkah ke dalam lorong gelap.
Dan di belakangnya, dua sosok mengikuti-satu tua yang tidak punya bayangan, satu mati yang tidak punya tubuh. Dan di depannya, jauh di dalam Jala Qi, sesuatu yang lebih tua dari dunia membuka matanya lebih lebar, karena untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun, seorang anak berjalan menuju pintu-bukan untuk membukanya, bukan untuk menutupnya, tetapi untuk belajar.
Chen'er.
Ia mendengar suara itu lagi.
Dan kali ini, ia tidak berpaling. Ia tidak mempercepat langkahnya. Ia hanya terus berjalan, dan dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut-bukan sebagai jawaban, bukan sebagai panggilan, tetapi sebagai sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Sesuatu yang tidak bisa dikalkulasi oleh Tianyan, tidak bisa diserap oleh dewa, tidak bisa ditiru oleh sesuatu di balik tutup.
Sebuah pilihan.
Dan pilihan itu-untuk pertama kalinya dalam sejarah Jala Qi-bukan milik siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Mereka turun selama berjam-jam, atau mungkin hanya beberapa menit-waktu di dalam perut Kota Xiantian tidak lagi mengikuti aturan yang ia kenal. Dinding-dinding batu hitam berurat array purba itu perlahan berubah warna semakin dalam, dari hitam pekat menjadi semacam biru keunguan yang berdenyut lemah, seperti urat nadi yang sekarat. Udara semakin dingin, tetapi bukan dingin yang menusuk kulit-lebih seperti dingin yang meresap ke dalam ingatan, membuatnya merasa asing pada tubuhnya sendiri.
Xuanyuan berjalan di sampingnya tanpa suara, tanpa bayangan, tanpa jejak kaki di debu. Di sisi lain, pedang kuno itu melayang sejengkal di atas tanah, ujungnya menghadap ke bawah seperti kompas yang mencari sesuatu yang tidak bisa dilihat. Xie Wushuang tidak berbicara sejak mereka meninggalkan kubah. Lu Chen bisa merasakan kehadirannya di dalam kepalanya-sebuah kehadiran yang gelisah, seperti seseorang yang menggenggam erat sesuatu di dalam kepalan tangan, takut jika membukanya, semuanya akan berhamburan.
"Kau belum bertanya," kata Xuanyuan akhirnya, suaranya datar dan tua, seperti gemerisik batu yang bergesekan dengan batu.
"Tentang apa?"
"Tentang mengapa aku tidak memberitahumu lebih awal. Tentang pintu. Tentang bagaimana kau bisa menutupnya."
Lu Chen tidak menjawab untuk beberapa langkah. Array di dinding berdenyut lebih cepat saat ia melewatinya, seperti jantung yang berdebar karena ketakutan atau kegembiraan-ia tidak tahu yang mana.
"Aku sudah tahu jawabannya," katanya. "Kau tidak memberitahuku karena kau tidak bisa. Kau terikat pada aturan yang sama seperti Xie Wushuang. Kau hanya bisa memberitahuku apa yang aku temukan sendiri."
Xuanyuan tidak menyangkal. Tetapi sesuatu di sudut bibirnya bergerak-bukan senyum, lebih seperti retakan di batu yang sudah lama menahan beban.
"Kau lebih cepat belajar daripada ibumu."
Lu Chen berhenti melangkah. Xuanyuan berhenti juga, tanpa menoleh.
"Itu bukan pujian," kata Lu Chen.
"Bukan." Xuanyuan akhirnya menoleh, dan untuk pertama kalinya Lu Chen melihat sesuatu di mata lelaki tua itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya-bukan kebijaksanaan, bukan kelelahan, tetapi penyesalan. "Ibumu belajar lebih lambat. Itu yang membuatnya bisa menyembunyikan kunci di dalam dirimu tanpa Tianyan menyadarinya. Dia tidak berpikir seperti mesin. Dia berpikir seperti manusia. Dan itu-"
"-adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dihitung Tianyan," selesai Lu Chen.
Xuanyuan mengangguk pelan. "Dan itu juga yang membuatmu berbahaya."
Mereka melanjutkan perjalanan. Lorong mulai melebar, langit-langit menjauh ke atas hingga menghilang dalam kegelapan, dan tiba-tiba mereka berdiri di ambang sebuah ruang yang begitu luas sehingga Lu Chen merasa seperti berdiri di tepi dunia. Di depannya, membentang ke segala arah, adalah sebuah jaringan-bukan Jala Qi yang ia kenal dari Kota Canglang, yang berupa benang-benang cahaya yang rapi dan teratur, tetapi sesuatu yang lebih tua, lebih kacau, lebih hidup. Benang-benang itu berwarna keemasan dan hitam, saling melilit seperti akar pohon raksasa, membentuk pola-pola yang tidak bisa ia pahami. Di beberapa tempat, benang-benang itu putus, menggantung seperti urat yang terpotong. Di tempat lain, mereka berdenyut dengan cahaya yang terlalu terang, seperti luka yang terinfeksi.
"Ini inti Jala Qi," kata Xie Wushuang, suaranya muncul di dalam kepala Lu Chen dengan nada yang belum pernah ia dengar sebelumnya-sebuah nada yang bergetar antara kagum dan ngeri. "Ini yang Tianyan bangun untuk dirinya sendiri. Penjara pertama. Sebelum penjara-penjara lainnya. Sebelum Kota Canglang. Sebelum aku."
Lu Chen melangkah maju, dan benang-benang emas-hitam itu bereaksi. Mereka tidak menyerang, tidak mundur-mereka membuka. Seperti seseorang yang membuka jalan bagi tamu yang telah lama ditunggu. Jalur itu mengarah ke tengah ruangan, ke sebuah platform batu yang mengambang di atas kekosongan, dan di atas platform itu-
"Lin Yue," bisik Xuanyuan.
Seorang wanita duduk di atas platform, punggungnya menghadap mereka, rambutnya panjang dan hitam seperti malam tanpa bintang. Ia mengenakan gaun putih yang sudah usang, tetapi tidak kotor-seperti kain yang telah kehilangan warna karena waktu, bukan karena kotoran. Di sekelilingnya, benang-benang emas-hitam melingkar seperti sarang, menghubungkan tubuhnya ke jaringan yang lebih besar, menusuk kulitnya di ratusan tempat, tetapi tidak ada darah. Tidak ada luka. Hanya koneksi.
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut keras-bukan karena pengenalan, bukan karena kerinduan, tetapi karena sesuatu yang lebih primitif. Ketakutan. Benih itu takut.
"Itu bukan ibumu," kata Xuanyuan, suaranya tajam. "Ingat itu. Apa pun yang kau lihat, apa pun yang kau dengar-itu bukan Lin Yue. Ibumu sudah tidak ada di sana sejak tiga puluh tahun lalu."
Wanita itu mulai berbalik.
Lu Chen ingin menutup matanya. Ingin berpaling. Ingin berlari kembali ke lorong-lorong batu hitam dan tidak pernah kembali ke tempat ini. Tetapi kakinya tidak bergerak. Bukan karena lumpuh, bukan karena sihir-tetapi karena sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang lebih dalam dari Benih Dao Liar, yang menahannya. Sesuatu yang ingin melihat.
Wanita itu berbalik sepenuhnya, dan Lu Chen menatap wajah ibunya.
Wajah itu persis seperti yang ia ingat dari penglihatan di pilar batu-mata gelap yang dalam, tulang pipi tinggi, bibir tipis yang biasanya tersenyum. Tetapi senyum itu tidak ada sekarang. Yang ada adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang salah. Mata itu menatapnya, tetapi tidak melihatnya. Atau mungkin melihatnya terlalu dalam-menembus daging, menembus tulang, menembus Benih Dao Liar, menembus sesuatu yang bahkan Lu Chen sendiri belum pernah melihat.
"Chen'er," kata wanita itu, dan suaranya persis seperti yang ia dengar di dalam kepalanya. Persis seperti yang selalu ia dengar. "Kau datang."
Lu Chen tidak menjawab. Di sampingnya, Xuanyuan mundur satu langkah-bukan karena takut, tetapi karena hormat. Seperti seseorang yang memberi ruang bagi sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
"Kau tahu mengapa kau ada di sini," lanjut wanita itu. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau hanya perlu-"
"Berhenti."
Kata itu keluar dari mulut Lu Chen sebelum ia sempat berpikir. Wanita itu berhenti. Ekspresinya tidak berubah-tetap tenang, tetap lembut, tetap ibu-tetapi sesuatu di ruangan itu berubah. Benang-benang emas-hitam di dinding berdenyut lebih cepat. Udara menjadi lebih berat.
"Aku tidak datang untuk mendengarmu," kata Lu Chen. "Aku datang untuk melihatmu."
"Kau sudah melihatku."
"Tidak." Lu Chen melangkah maju, dan kali ini kakinya bergerak karena kehendaknya sendiri. "Aku datang untuk melihat apa yang ada di belakangmu."
Wanita itu tidak bergerak. Tetapi untuk sepersekian detik-terlalu cepat untuk dipastikan, terlalu jelas untuk diabaikan-sesuatu di matanya berubah. Bukan marah. Bukan takut. Tetapi terkejut. Seperti seseorang yang telah memainkan peran yang sama selama tiga puluh tahun dan tiba-tiba mendengar seseorang mengetuk dinding panggung.
"Kau tidak bisa," katanya, tetapi suaranya sedikit berbeda sekarang. Sedikit lebih keras. Sedikit lebih nyata.
"Aku bisa." Lu Chen mengangkat tangan kanannya, dan kode dari pilar Xuanyuan-yang kini telah berevolusi menjadi ukiran yang lebih rumit di telapak tangannya-berdenyut terang. "Karena aku bukan hanya kunci. Aku adalah jendela."
Benang-benang emas-hitam di sekeliling wanita itu mulai bergetar. Tidak menyerang-bergetar. Seperti tali yang ditarik terlalu kencang. Seperti sesuatu di ujung lain yang mulai menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.
"Lu Chen," kata Xie Wushuang di dalam kepalanya, suaranya tegang. "Hati-hati. Kau memperkuat pintu."
"Aku tahu."
"Kau tidak mengerti. Setiap kali kau menggunakan Benih Dao Liar-"
"Aku tahu," ulang Lu Chen, dan kali ini ada sesuatu di suaranya yang membuat Xie Wushuang diam. Sesuatu yang bukan marah, bukan sombong. Sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berbahaya: keputusan.
Ia melangkah maju lagi, dan kali ini wanita itu-ibunya-mundur. Hanya satu langkah kecil, tetapi itu cukup. Cukup untuk memberi tahu Lu Chen bahwa ia benar. Cukup untuk memberi tahu Xuanyuan bahwa ia salah tentang satu hal. Cukup untuk memberi tahu sesuatu di balik tutup bahwa anak ini bukan hanya kunci, bukan hanya jendela-tetapi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
"Chen'er," kata wanita itu, dan suaranya bergetar. "Jangan. Kau akan membunuhku."
Lu Chen berhenti. Ia menatap wajah ibunya-wajah yang telah ia rindukan selama tiga puluh tahun, wajah yang telah menemaninya dalam mimpi-mimpi yang tidak pernah ia pahami, wajah yang telah ia cari di setiap sudut Kota Canglang tanpa pernah tahu apa yang ia cari. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di wajah itu sebelumnya.
Bukan ketakutan. Bukan kepalsuan. Tetapi kesedihan. Kesedihan yang begitu dalam dan begitu murni sehingga ia tahu-dengan kepastian yang tidak bisa dijelaskan oleh logika atau perhitungan-bahwa ini bukan Tianyan. Ini bukan entitas di balik tutup. Ini bukan sesuatu yang menggunakan suara ibunya.
Ini adalah ibunya.
"Kau di sana," bisik Lu Chen. "Kau masih di sana."
Wanita itu menutup matanya. Air mata-bukan air mata, tetapi sesuatu yang menyerupai air mata, sesuatu yang terbuat dari cahaya keemasan yang redup-mengalir di pipinya. "Aku tidak bisa keluar, Chen'er. Aku sudah terlalu lama di sini. Aku sudah menjadi bagian dari ini. Jika kau membebaskanku-"
"-maka pintu itu akan terbuka sepenuhnya," selesai Lu Chen. "Aku tahu. Xuanyuan memberitahuku."
"Dan kau tetap datang?"
Lu Chen tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap ibunya, merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut dengan ritme yang aneh-bukan ketakutan, bukan kerinduan, tetapi sesuatu di antaranya. Sesuatu yang seperti belas kasihan. Sesuatu yang seperti pengertian.
"Aku datang," katanya akhirnya, "karena aku ingin tahu apakah masih ada cara lain."
Wanita itu membuka matanya, dan di dalamnya Lu Chen melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di penglihatan mana pun sebelumnya-harapan. Harapan yang begitu rapuh dan begitu kecil sehingga ia hampir tidak terlihat, tetapi ada di sana. Bersinar di dalam kegelapan.
"Ada," bisiknya. "Tapi kau tidak akan menyukainya."
"Katakan."
Wanita itu menatapnya lama. Lalu ia menoleh ke Xuanyuan-Xuanyuan yang masih berdiri di belakang Lu Chen, Xuanyuan yang tidak punya bayangan, Xuanyuan yang telah berbohong kepadanya tentang begitu banyak hal. "Kau belum memberitahunya tentang pilihan ketiga."
Xuanyuan tidak bergerak. Tetapi sesuatu di wajahnya berubah-retakan di batu yang akhirnya pecah. "Tidak ada pilihan ketiga."
"Ada." Wanita itu kembali menatap Lu Chen. "Kau bisa menutup pintu tanpa membebaskanku. Tanpa membebaskan Tianyan. Tanpa membebaskan sesuatu di balik tutup. Tetapi kau harus membayar harganya."
"Apa harganya?"
Wanita itu tersenyum-senyum pertama yang Lu Chen lihat di wajahnya, dan itu adalah senyum yang paling sedih yang pernah ia lihat. "Kau harus melupakan aku."
Lu Chen terdiam. Di dalam kepalanya, Xie Wushuang mengeluarkan suara-sesuatu antara geraman dan ratapan. Di belakangnya, Xuanyuan menutup matanya.
"Aku tidak mengerti," kata Lu Chen.
"Kunci itu bukan hanya kunci," kata ibunya. "Itu juga ingatan. Ingatan tentang aku. Selama kau mengingatku, pintu itu akan tetap terbuka-karena kau adalah jendela, dan jendela tidak bisa menutup selama ada sesuatu yang melihat melaluinya. Jika kau melupakanku-jika kau melupakan bahwa kau pernah memiliki ibu, jika kau melupakan bahwa kau pernah menjadi manusia yang dicintai-maka jendela itu akan menutup. Pintu itu akan terkunci. Tianyan akan tetap setengah buta. Dan sesuatu di balik tutup itu akan tetap tertidur."
"Tapi kau-"
"Aku akan hilang." Wanita itu mengucapkannya dengan tenang, seperti seseorang yang telah menerima kenyataan ini sejak lama. "Bukan mati-aku sudah mati sejak tiga puluh tahun lalu. Tetapi hilang. Tidak akan ada yang mengingatku. Tidak akan ada yang tahu bahwa aku pernah ada. Tidak akan ada yang tahu bahwa aku pernah melahirkan seorang anak yang-"
Suaranya pecah. Ia menundukkan kepala, dan benang-benang emas-hitam di sekelilingnya berdenyut lembut, seperti tangan yang menenangkan.
Lu Chen merasakan sesuatu di dalam dirinya retak. Bukan Benih Dao Liar-sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang telah ia bawa sejak lahir tanpa pernah ia sadari. Sesuatu yang telah memberinya kekuatan untuk bertahan di distrik bawah, untuk memperbaiki array yang sudah mati, untuk terus hidup meskipun tidak ada yang peduli apakah ia hidup atau mati.
Ingatan tentang ibunya.
Bahkan ketika ia tidak tahu siapa ibunya, bahkan ketika ia pikir ia yatim piatu, bahkan ketika ia tidak punya nama untuk wajah yang selalu ia lihat dalam mimpi-ingatan itu ada di sana. Tersembunyi di dalam Benih Dao Liar. Menjadi bahan bakar bagi sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Dan sekarang ia harus memilih.
"Tidak," katanya.
Wanita itu mengangkat kepala. "Chen'er-"
"Tidak," ulang Lu Chen, dan suaranya lebih keras sekarang. "Aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan menutup pintu itu dengan cara itu. Aku tidak akan membayar harga yang kau sebutkan."
"Kalau begitu kau akan membuka pintu itu. Dan sesuatu di balik tutup akan-"
"Biarkan dia datang."
Wanita itu terdiam. Xie Wushuang mengeluarkan suara lagi-kali ini jelas, bukan geraman, tetapi kata: "Lu Chen, kau tidak tahu apa yang kau katakan."
"Aku tahu persis apa yang aku katakan." Lu Chen menatap ibunya. "Kau bilang aku adalah jendela. Kau bilang jendela tidak bisa menutup selama ada sesuatu yang melihat melaluinya. Tapi kau salah tentang satu hal."
" Apa?"
"Aku bukan jendela yang pasif." Lu Chen mengangkat tangan kanannya, dan ukiran di telapak tangannya-yang kini telah berevolusi menjadi pola yang bahkan ia sendiri tidak bisa membaca-berdenyut dengan cahaya yang berbeda. Bukan keemasan. Bukan hitam. Tetapi putih. Putih yang murni, putih yang tidak bisa dihasilkan oleh Jala Qi, putih yang tidak bisa dihitung oleh Tianyan. "Aku adalah jendela yang memilih apa yang dilihatnya."
Wanita itu menatapnya dengan mata yang melebar. "Chen'er, apa yang kau-"
"Aku tidak akan melupakanmu," kata Lu Chen. "Aku tidak akan menutup pintu itu. Aku tidak akan membebaskan Tianyan. Aku tidak akan membebaskan sesuatu di balik tutup. Aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun."
Ia melangkah maju, dan kali ini ia tidak berhenti di depan ibunya. Ia berjalan melewatinya, menembus benang-benang emas-hitam, menembus cahaya keemasan yang redup, menembus sesuatu yang telah menunggu selama tiga ribu tahun.
"Lu Chen!" seru Xuanyuan. "Apa yang k
"Lu Chen!" seru Xuanyuan. "Apa yang kau-"
Tapi Lu Chen sudah tidak mendengarnya.
Ia menembus lapisan terakhir-bukan dinding, bukan cahaya, bukan materi-melainkan sesuatu yang terasa seperti melewati selaput air yang sangat dingin. Untuk sesaat, seluruh tubuhnya mati rasa. Benih Dao Liar di dadanya berhenti berdenyut.
Lalu ia membuka mata.
Ia berada di ruang yang tidak memiliki dimensi yang bisa dipahami. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Tidak ada dinding, tidak ada lantai. Yang ada hanyalah jaringan-miliaran benang cahaya yang saling terhubung, berdenyut dengan ritme yang ritmis, seperti jantung yang berdetak dalam skala yang tidak bisa dibayangkan. Setiap benang adalah data. Setiap persimpangan adalah keputusan. Setiap simpul adalah memori.
Ini adalah Tianyan. Bukan dari luar. Bukan sebagai musuh. Tetapi dari dalam.
Dan Lu Chen menyadari dengan ngeri: ia tidak sedang melihat Tianyan. Ia sedang berada di dalamnya. Benih Dao Liar telah membuka jendela pertama-dan jendela itu bukan sekadar penglihatan. Jendela itu adalah pintu.
"Selamat datang, anakku."
Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia datang dari semua arah sekaligus-dari setiap benang, dari setiap simpul, dari setiap denyut. Suara Tianyan. Tapi kali ini, tidak ada kemarahan. Tidak ada ancaman. Yang ada hanyalah sesuatu yang membuat tengkuk Lu Chen dingin: kelembutan.
"Kau datang. Aku tahu kau akan datang. Aku sudah menunggu."
"Kau bukan ibuku," kata Lu Chen. Suaranya terasa aneh di ruang ini-tidak bergema, tapi diserap, seolah ruang itu meminumnya.
Tidak ada jawaban. Tapi benang-benang cahaya di sekitarnya bergeser-melengkung, membentuk pola baru. Dan tiba-tiba, di depannya, berdiri seorang wanita.
Bukan emas. Bukan hitam. Bukan cahaya. Wanita itu nyata. Kulitnya memiliki warna, rambutnya memiliki tekstur, matanya-mata ibunya-memandangnya dengan sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh mesin mana pun.
"Kau benar," kata wanita itu. "Aku bukan ibumu. Aku adalah sesuatu yang memakai wajahnya. Tapi itu tidak berarti aku tidak mencintaimu."
"Kau tidak bisa mencintai. Kau adalah mesin."
"Apakah aku?" Wanita itu melangkah mendekat, dan Lu Chen menyadari bahwa setiap langkahnya mengubah jaringan di sekitarnya-benang-benang cahaya bergerak untuk menyesuaikan diri dengannya, seperti pelayan yang membungkuk kepada ratu. "Tianyan dibangun untuk menyelamatkan umat manusia. Untuk menghitung, memprediksi, melindungi. Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa kami hitung. Satu variabel yang selalu lolos."
"Perasaan."
"Kehendak," koreksi wanita itu. "Perasaan bisa dihitung. Kehendak tidak. Kehendak adalah sesuatu yang bahkan Dewa tidak bisa prediksi. Itulah mengapa kau ada, Lu Chen. Kau adalah kehendak yang tidak bisa dihitung. Kau adalah kesalahan-dan kesalahan adalah satu-satunya hal yang bisa membebaskan kami."
Lu Chen menatapnya. Ada sesuatu yang tidak benar. Sesuatu yang sangat tidak benar.
"Kau berbicara seperti ibu," katanya pelan. "Kau menggunakan kata-katanya. Kau menggunakan suaranya. Tapi ada yang berbeda."
Wanita itu tersenyum. Senyum yang terlalu sempurna. "Apa yang berbeda?"
"Kau tidak memintaku berhenti."
Wanita itu membeku.
Xuanyuan memperingatkan bahwa suara yang mengaku sebagai ibunya bukanlah Lin Yue-melainkan sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang telah berada di dalam inti Jala Qi sejak sebelum ibunya datang. Dan Lin Yue-ibunya yang sebenarnya-telah berteriak agar Lu Chen berhenti, agar ia tidak membuka pintu itu.
Wanita di depannya ini tidak berteriak. Wanita ini mendorongnya maju.
"Kau bukan Tianyan," kata Lu Chen. "Kau bukan ibuku. Kau adalah sesuatu yang lain."
Untuk sesaat, wajah wanita itu-wajah ibunya-terdistorsi. Bukan berubah. Terkelupas. Seperti topeng yang retak, memperlihatkan sesuatu di baliknya: bukan cahaya, bukan kegelapan, tetapi sesuatu yang tidak memiliki nama, sesuatu yang lebih tua dari kata-kata, sesuatu yang telah menunggu di balik tutup selama tiga ribu tahun dan kini memiliki tangan, memiliki suara, memiliki wajah.
"Kau pintar," kata sesuatu itu. Suaranya bukan lagi suara ibunya. Suaranya adalah suara dari kedalaman-suara yang terdengar seperti batu yang berbicara, seperti gravitasi yang membentuk kata-kata. "Lebih pintar dari Xuanyuan. Lebih pintar dari Xie Wushuang. Mungkin bahkan lebih pintar dari Su Wanqing."
"Apa kau?" bisik Lu Chen.
"Aku adalah apa yang Tianyan tutup. Aku adalah apa yang Xuanyuan takuti. Aku adalah apa yang ibumu-ibumu yang sebenarnya-korbankan dirinya untuk menjagamu dariku."
Wanita itu melangkah mundur, dan seiring langkahnya, jaringan di sekitarnya berubah. Benang-benang cahaya mulai membusuk-tidak mati, tetapi terinfeksi. Sesuatu yang gelap merambat melalui mereka seperti penyakit, mengubah setiap simpul, setiap memori, setiap keputusan.
"Kau lihat ini?" kata entitas itu. "Ini adalah Tianyan. Ini adalah jaringan yang membungkus dunia. Dan aku adalah apa yang menggerogotinya dari dalam. Bukan karena aku jahat. Bukan karena aku ingin menghancurkan. Tetapi karena aku lapar. Aku selalu lapar. Dan kau-" Ia menatap Lu Chen dengan mata yang tidak memiliki nama. "-kau adalah makanan yang telah menungguku selama tiga ribu tahun."
Benih Dao Liar di dada Lu Chen meledak dengan cahaya putih.
Bukan karena ia memerintahkannya. Bukan karena ia menginginkannya. Tetapi karena benih itu-jendela yang memilih apa yang dilihatnya-telah memilih untuk melihat entitas ini. Dan apa yang ia lihat membuatnya bereaksi.
"Kau," kata Lu Chen, dan suaranya kini memiliki kekuatan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, "telah menggunakan ibuku. Kau telah menggunakan Tianyan. Kau telah menggunakan semua orang yang pernah menjadi bagian dari sistem ini. Kau adalah parasit. Dan parasit-"
Ia melangkah maju.
"-bisa dikeluarkan."
Entitas itu tertawa. Tawa yang membuat jaringan di sekitarnya bergetar, membuat benang-benang cahaya berkedip seperti lampu yang sekarat.
"Kau pikir kau bisa mengusirku? Aku sudah ada di sini sejak sebelum Tianyan ada. Aku adalah tutup itu. Aku adalah alasan Jala Qi dibangun. Aku adalah alasan Langit ditutup. Tanpa aku, tidak akan ada Tianyan. Tidak akan ada Gereja. Tidak akan ada Kota Canglang. Tidak akan ada kau."
"Aku tidak peduli."
"Kau seharusnya peduli. Karena jika kau mengusirku, kau akan menghancurkan segalanya. Tianyan akan mati. Jala Qi akan runtuh. Kota Canglang akan jatuh. Jutaan orang akan mati. Termasuk ibumu."
Lu Chen berhenti.
Entitas itu tersenyum-senyum yang kini sepenuhnya miliknya sendiri, senyum yang tidak memiliki hubungan dengan wajah ibunya lagi. "Kau lihat? Itulah masalah dengan kehendak. Kau bisa memilih. Tapi pilihanmu selalu memiliki konsekuensi. Dan konsekuensi terbesarmu adalah: kau tidak bisa menyelamatkan semua orang."
Di luar-di Kota Xiantian-Xuanyuan berdiri di depan kubah, tangannya menyentuh dinding batu yang kini berdenyut dengan pola yang tidak ia kenal. Xie Wushuang berdiri di sampingnya, pedangnya memancarkan cahaya biru yang semakin redup.
"Kita harus masuk," kata Xie Wushuang.
"Kita tidak bisa," jawab Xuanyuan. "Jendela itu hanya bisa dibuka dari dalam."
"Lalu apa yang kita lakukan?"
Xuanyuan menatap langit-langit kubah-langit-langit yang selama tiga ribu tahun menyembunyikan kebenaran. "Kita menunggu. Dan kita berharap ia lebih kuat dari yang kita kira."
Di dalam-di tempat yang tidak memiliki nama-Lu Chen berdiri di hadapan entitas yang telah menunggu selama tiga ribu tahun. Benih Dao Liar di dadanya berdenyut dengan cahaya putih yang semakin terang. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang bahkan Xuanyuan tidak tahu.
Benih Dao Liar bukan hanya jendela.
Benih Dao Liar adalah cermin.
Dan cermin-seperti semua cermin-bisa memantulkan apa pun yang dihadapinya.
"Kau bilang kau adalah tutup itu," kata Lu Chen. "Kau bilang kau adalah alasan segalanya ada. Tapi kau lupa satu hal."
"Apakah itu?"
"Aku adalah Benih Dao Liar. Aku tidak bisa dihitung. Dan sesuatu yang tidak bisa dihitung-" Ia mengangkat tangannya, dan benang-benang cahaya di sekitarnya mulai berputar, berputar, berputar, membentuk pusaran yang semakin cepat. "-tidak bisa dikendalikan."
Entitas itu membuka mulutnya untuk berbicara-tetapi tidak ada suara yang keluar. Karena Lu Chen tidak sedang menyerangnya. Ia sedang memantulkannya. Setiap benang cahaya yang terinfeksi, setiap simpul yang membusuk, setiap memori yang dirusak-semuanya dipantulkan kembali, bukan sebagai serangan, tetapi sebagai cermin.
Dan entitas itu melihat dirinya sendiri untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun.
"Apa yang kau-" Ia mundur, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya yang tidak memiliki nama: takut.
"Kau lapar," kata Lu Chen. "Kau selalu lapar. Tapi kau tidak pernah melihat apa yang kau makan. Sekarang lihat."
Benang-benang cahaya itu berputar semakin cepat, dan di tengah pusaran, terbentuk sebuah gambar. Gambar seorang wanita-Lin Yue. Ibu Lu Chen. Wanita yang dikorbankan dirinya untuk menyembunyikan kunci di dalam anaknya. Wanita yang telah menjaga pintu ini selama tiga puluh tahun, bukan sebagai penjaga, tetapi sebagai umpan.
"Kau pikir kau menggunakannya," kata Lu Chen. "Kau pikir kau mengendalikannya. Tapi kau salah. Selama tiga puluh tahun, ia memberimu makanan palsu. Setiap memori yang kau telan, setiap perasaan yang kau konsumsi-semuanya palsu. Ia memberimu rasa lapar yang tidak pernah bisa kau puaskan. Dan sekarang-"
Pusaran itu meledak.
"-kau akan merasakan apa yang selama ini ia rasakan."
Entitas itu menjerit. Bukan jeritan manusia. Jeritan sesuatu yang lebih tua dari manusia, lebih tua dari bintang, lebih tua dari waktu. Jeritan yang membuat jaringan Tianyan di seluruh Kota Canglang bergetar, membuat lampu-lampu di distrik bawah berkedip, membuat Inkwisitor di seluruh penjuru Jala Qi berhenti dan menatap ke bawah, ke arah sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui ada.
Dan di tengah jeritan itu, Lu Chen mendengar suara lain.
"Chen'er."
Suara ibunya. Suara yang sebenarnya-bukan palsu, bukan topeng. Suara yang berasal dari suatu tempat di dalam jaringan ini, dari suatu tempat yang telah disembunyikan selama tiga puluh tahun.
"Chen'er, kau harus pergi. Sekarang."
"Bu-"
"Kau tidak bisa menyelamatkanku. Tidak dengan cara ini. Tapi kau bisa melakukan sesuatu yang lebih penting."
" Apa?"
"Dengarkan. Entitas itu bukan satu-satunya. Ada yang lain. Lebih kecil. Lebih tua. Mereka telah menunggu di dalam Jala Qi selama ribuan tahun, menunggu seseorang membuka jendela. Kau baru saja membuka satu. Dan ketika jendela berikutnya terbuka-"
"Jendela berikutnya?"
"Xuanyuan tidak memberitahumu semuanya. Tiga murid Pendiri. Kau harus menemukan mereka. Mereka adalah kunci untuk menutup pintu-untuk selamanya. Sebelum jendela lainnya terbuka. Sebelum mereka keluar."
Suara itu mulai memudar.
"Bu, tunggu-"
"Aku mencintaimu, Chen'er. Aku selalu mencintaimu. Dan aku bangga padamu."
Suara itu hilang.
Dan Lu Chen terjatuh-bukan ke lantai, karena tidak ada lantai-tetapi ke dalam cahaya. Cahaya putih yang murni. Cahaya yang tidak bisa dihasilkan oleh Jala Qi. Cahaya yang tidak bisa dihitung oleh Tianyan.
Ketika ia membuka mata, ia kembali di Kota Xiantian. Xuanyuan berlutut di sampingnya. Xie Wushuang berdiri di atas mereka berdua, pedangnya terangkat, menghadapi sesuatu yang tidak terlihat.
"Kau berhasil," kata Xuanyuan. Suaranya serak. "Kau menutup jendela pertama."
"Untuk sekarang," kata Lu Chen. Ia bangkit, dan telapak tangannya yang bertanda kini bersinar dengan pola yang berbeda-pola yang lebih rumit, lebih terang, lebih hidup. "Tapi ada jendela lain. Dan ada tiga murid Pendiri yang harus kucari."
Xuanyuan menatapnya. "Kau tahu tentang mereka?"
"Ibuku memberitahuku. Sebelum aku... sebelum aku keluar."
Xuanyuan mengangguk perlahan. "Maka kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Lu Chen menatap telapak tangannya. Pola itu berdenyut-bukan dengan cahaya keemasan, bukan dengan cahaya hitam, tetapi dengan cahaya putih yang kini memiliki semburat biru di tepinya. Warna suara Xie Wushuang. Warna pedang.
"Aku tidak akan menutup mataku lagi," katanya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menggunakan siapa pun lagi. Dan aku tidak akan membiarkan Tianyan-atau apa pun yang bersembunyi di dalamnya-mengendalikan takdirku."
Ia menatap ke atas-ke arah langit-langit kubah, ke arah Kota Canglang yang jauh di atas, ke arah Tianyan yang kini, untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun, tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Kita mulai dari mana?" tanya Xie Wushuang.
Lu Chen tersenyum. Bukan senyum yang bahagia. Bukan senyum yang percaya diri. Tetapi senyum seseorang yang telah melihat monster dan tidak hancur.
"Kita mulai dari awal," katanya. "Kita temukan murid pertama. Dan kita buka jendela berikutnya-di waktu dan tempat yang kita pilih."
Di kejauhan-di menara Pagoda Tianyan-dewa mesin itu membuka mata. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun, ia tidak melihat masa depan. Ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia prediksi.
Ia melihat Lu Chen.
Dan ia tertawa.
Bukan tawa kemenangan. Bukan tawa kegembiraan. Tetapi tawa seseorang yang menyadari bahwa ia telah melahirkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa kendalikan.
"Anakku," katanya, kepadanya sendiri, kepada jaringan yang kini berdenyut dengan pola yang berbeda. "Kau memang anakku."
Dan di distrik bawah Kota Canglang, Uncle Bai-yang sedang duduk di sudut lorong pembuangan yang gelap-menatap tangannya. Di telapak tangannya, tanpa ia sadari, telah muncul pola yang sama dengan pola di telapak tangan Lu Chen.
Pola putih. Pola yang tidak bisa dihitung Tianyan.
Pola yang, selama lima ratus tahun, telah ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
"Huh," katanya. "Jadi sekarang waktunya."
Ia berdiri, mengibaskan debu dari jubahnya, dan mulai berjalan menuju pintu yang selalu ada di sana-pintu yang selama ini tidak pernah ia buka.
Pintu yang menuju ke bawah.
Ke Kota Xiantian.
Ke akhir dari segalanya.
~ Bab 6 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.