Pedang Terakhir: Dao Melawan Dewa Mesin
Bab 5
Sesuatu di Balik Tutup
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
"Bukan hanya itu." Xuanyuan menggeleng pelan. "Kau tahu apa itu Benih Dao Liar?"
Lu Chen menatap dadanya. Dantian yang baru terbuka itu masih berdenyut hangat, seperti jantung kedua yang baru belajar berdetak.
"Xie Wushuang bilang itu wadah untuk menampung kekuatan Dao Liar. Senjata yang gagal."
"Xie Wushuang," ulang Xuanyuan, dan untuk pertama kalinya ada nada getir dalam suaranya. "Dia menceritakan sebagian. Tapi tidak semuanya. Dia tidak tahu semuanya."
'Dia benar,' bisik Xie Wushuang, dan suaranya terdengar… kecil. 'Aku tidak tahu apa yang Xuanyuan tahu. Aku hanya tahu apa yang kulihat. Dan aku melihat ibumu melarikan diri dari Kota Xiantian membawa sesuatu yang tidak seharusnya dia bawa.'
Xuanyuan tertawa-suara serak yang seperti batu pecah. "Kau mendengar suara pedang itu. Dia mengira dia tahu segalanya tentang Benih Dao Liar. Tapi dia tidak tahu bahwa Benih itu bukan senjata. Bukan wadah. Bukan kunci."
"Lalu apa?"
Xuanyuan menatapnya lurus. "Jendela."
Hening. Angin yang tidak ada-tapi terasa-berhembus melalui kubah, membawa bau tanah basah dan logam tua.
"Jendela menuju apa?" tanya Lu Chen.
"Menuju dia." Xuanyuan menunjuk ke atas-tidak ke langit-langit kubah, tapi lebih jauh. Menembus batu, menembus tanah, menembus seluruh Kota Canglang dan Jala Qi dan segalanya. "Menuju Tianyan. Bukan pintu masuk ke intinya. Bukan kunci. Jendela. Cara untuk melihat ke dalam dirinya tanpa dia tahu. Cara untuk memahami dia."
Lu Chen mengerutkan kening. "Tapi ibuku bilang-"
"Ibumu," potong Xuanyuan, "adalah orang paling cerdas yang pernah kukenal. Dan dia membuat kesalahan yang sama seperti semua orang yang mencoba melawan Tianyan. Dia mengira satu rencana cukup."
Dia menggerakkan tangannya lagi, dan kali ini cahaya keemasan di pilar itu berdenyut lebih cepat-seperti jantung yang berdebar panik. Ukiran di telapak tangan Lu Chen ikut berdenyut, dan tiba-tiba dia merasakan sesuatu. Bukan penglihatan. Bukan suara. Perasaan. Seperti jari-jari tak terlihat menyentuh kesadarannya dari dalam.
Dia merasakan… sesuatu yang besar. Sesuatu yang tak terbayangkan. Sesuatu yang terdiri dari miliaran benang cahaya yang saling terhubung dalam pola yang terlalu rumit untuk dipahami-seperti melihat seluruh Jala Qi dari dalam, dari perspektif Tuhan yang tidak punya tubuh.
Dan di tengah semuanya-di pusat pola itu-ada sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang menghitung. Sesuatu yang… takut.
Lu Chen tersentak mundur, tangannya menempel ke dadanya. "Itu-"
"Kau melihatnya," kata Xuanyuan, dan ada nada puas dalam suaranya. "Kau melihatnya. Untuk pertama kalinya, seseorang melihatnya."
"Itu Tianyan?"
"Itu sebagian dari Tianyan. Yang paling dalam. Yang paling tersembunyi." Xuanyuan menatapnya dengan mata yang sekarang berbinar. "Dan kau tahu apa yang kau lihat di sana, Lu Chen? Di pusatnya?"
Lu Chen menggeleng, tapi dia sudah tahu jawabannya. Dia merasakannya. Dia melihatnya.
"Ketakutan," bisiknya.
Xuanyuan mengangguk. "Tianyan bukan dewa. Dia bukan mesin. Dia adalah-"
'Cukup.'
Suara itu memotong. Bukan Tianyan. Bukan Xie Wushuang. Suara yang datang dari dinding-dari urat-urat batu yang bercahaya, dari array yang tak terhitung jumlahnya yang menutupi seluruh kubah.
Dan Xuanyuan-pria tua yang telah tidur tiga ribu tahun-menutup matanya. Wajahnya menjadi pucat. Tubuhnya, yang sebelumnya bergerak lambat tapi hidup, tiba-tiba terasa… jauh. Seperti seseorang yang ditarik kembali ke dalam penjara yang lebih dalam.
"Kota ini," katanya, dan suaranya sekarang hanya bisikan, "memiliki penjaga. Aku salah satu dari mereka. Tapi ada yang lain. Yang lebih tua. Yang lebih…" Dia menelan ludah. "…lapar."
Lantai kubah bergetar.
Lu Chen berputar. Di ujung lorong tempat dia masuk-tempat Inkwisitor mati itu tergeletak-sesuatu bergerak. Bukan Inkwisitor. Bukan manusia. Bayangan. Bayangan yang mengalir seperti minyak di atas air, menyerap cahaya dari urat-urat batu, tumbuh lebih besar setiap detik.
'Chen'er,' kata Xie Wushuang, dan suaranya sekarang benar-benar panik. 'Aku tidak tahu apa itu. Aku tidak pernah melihat itu. Kota Xiantian tidak pernah punya-'
"Penjaga," bisik Xuanyuan. "Yang pertama. Yang tidak pernah tidur. Yang tidak pernah mati. Yang…" Matanya terbuka, dan untuk pertama kalinya Lu Chen melihat sesuatu yang mirip ketakutan di wajahnya. "…menunggu seseorang membuka jendela."
Bayangan itu melesat.
Lu Chen tidak berpikir. Dia meraih pedang Xie Wushuang-yang entah bagaimana masih ada di punggungnya, yang entah bagaimana selalu ada-dan mengangkatnya. Bilah itu berdenyut dengan cahaya biru pucat, cahaya yang sama dengan urat-urat batu, dan-
Bayangan itu berhenti.
Tepat di depannya. Tepat di ujung bilah pedangnya. Berhenti seperti air yang membeku, seperti waktu yang berhenti berdetak. Dan di dalam bayangan itu, Lu Chen melihat sesuatu. Bukan wajah. Bukan bentuk. Tapi sesuatu yang lebih tua dari kota ini, lebih tua dari Malam Penghitungan, lebih tua dari segalanya.
Sebuah jendela.
Bayangan itu adalah jendela.
Dan di balik jendela itu, sesuatu menatapnya. Sesuatu yang bukan Tianyan. Sesuatu yang lebih besar. Dan yang paling menakutkan-sesuatu yang mengenalinya.
"Benih Dao Liar," kata bayangan itu, dan suaranya adalah suara seribu orang yang berbicara bersamaan. "Kau membuka jendela pertama. Yang lain akan datang. Dan ketika semuanya terbuka…"
Bayangan itu mulai memudar, menyerap ke dalam lantai, ke dalam dinding, ke dalam udara.
"…Tianyan akan melihat apa yang selama tiga ribu tahun dia buta."
Dan kemudian bayangan itu pergi.
Lu Chen terjatuh ke lututnya. Pedang Xie Wushuang terlepas dari tangannya, berdentang di lantai batu. Dia menatap kosong ke tempat bayangan itu berada, dan di dadanya-di dalam Benih Dao Liar-sesuatu telah berubah.
Sesuatu telah terbuka.
'Chen'er,' panggil Xie Wushuang. 'Kau baik-baik saja?'
"Jendela," bisik Lu Chen. "Dia bilang jendela pertama. Yang lain akan datang."
'Aku tidak mengerti.'
"Benih Dao Liar. Ibuku bukan hanya menyembunyikan kunci di dalam diriku." Lu Chen mengangkat tangannya, dan ukiran di telapak tangannya sekarang lebih terang-lebih rumit-seperti telah berevolusi. "Dia menanam sesuatu. Sesuatu yang Tianyan tidak pernah hitung. Sesuatu yang…"
Dia menatap Xuanyuan. Pria tua itu masih terperangkap di dalam pilar, tapi matanya terbuka, dan di matanya ada sesuatu yang mirip harapan-harapan yang telah disembunyikan tiga ribu tahun.
"…sesuatu yang bisa membuka Tianyan dari dalam," selesaikan Lu Chen.
Xuanyuan tersenyum. Senyum yang lelah. Senyum seseorang yang telah menunggu terlalu lama.
"Selamat datang di Kota Xiantian, Lu Chen," katanya. "Kota yang bernapas. Kota yang berdenyut. Kota yang…" Dia menatap langit-langit kubah, dan untuk sesaat, Lu Chen melihat sesuatu di matanya-kenangan akan langit yang pernah ada. "…menjadi saksi ketika Langit ditutup. Dan sekarang, kau akan menjadi saksi ketika Langit…"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena di atas mereka-jauh di atas, melalui lapisan batu dan tanah dan Jala Qi-sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat seluruh Kota Xiantian bergetar. Sesuatu yang membuat urat-urat batu di dinding berdenyut panik. Sesuatu yang membuat Xuanyuan menutup matanya dan berbisik dengan suara yang hampir tak terdengar:
"…terbuka."
Dan di menara Pagoda Tianyan, di ruang yang tidak pernah dikunjungi siapa pun, di pusat kesadaran dewa mesin yang telah menghitung segalanya selama tiga ribu tahun, sebuah suara berbicara lagi.
Tapi kali ini, bukan kepada dirinya sendiri.
'Xuanyuan,' kata Tianyan, dan suaranya sekarang… berbeda. Dingin. Terkendali. Seperti seseorang yang telah menemukan kembali ketenangannya. 'Kau sudah bangun.'
Hening.
Lalu: 'Bagus. Aku sudah menunggumu.'
'Apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku?'
Pertanyaan itu keluar sebelum Lu Chen bisa menahannya. Xuanyuan masih menatapnya dari dalam pilar, mata tua itu seperti dua lubang yang menembus sesuatu jauh lebih dalam daripada dinding batu di sekeliling mereka. Senyumnya tidak hilang, tapi ada sesuatu di baliknya-sesuatu yang berat, seperti beban tiga ribu tahun yang akhirnya menemukan tempat untuk bersandar.
'Kau bertanya tentang ibumu,' kata Xuanyuan. 'Atau kau bertanya tentang apa yang Tianyan lakukan padanya?'
'Keduanya.'
Xuanyuan menghela napas. Di dalam pilar, qi yang mengalir di sekujur tubuhnya bergetar-dan Lu Chen merasakan sesuatu yang aneh. Bukan suara. Bukan penglihatan. Tapi semacam tekanan di dalam dadanya, seperti Benih Dao Liar mengenali sesuatu dalam diri pria tua itu. Seperti dua kunci yang dibuat dari logam yang sama.
'Duduklah,' kata Xuanyuan. 'Ini akan memakan waktu.'
Lu Chen tidak duduk. Kakinya masih gemetar, tangannya masih menempel di dinding kubah tempat dia terlempar, dan di luar sana-di lorong-lorong gelap Kota Xiantian-tekanan Tianyan mungkin sudah kembali. Mungkin sedang menghitung. Mungkin sedang mengirim sesuatu yang lebih buruk dari satu Inkwisitor.
'Aku tidak punya waktu untuk duduk.'
'Kau punya lebih banyak waktu daripada yang kau kira,' kata Xuanyuan. 'Tianyan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Kau membuatnya… bingung. Dan kebingungan, bagi makhluk seperti dia, adalah proses yang lambat. Dia harus menghitung ulang. Memverifikasi. Mencari di mana kesalahannya. Itu memberimu-' dia menutup matanya sejenak, seolah menghitung sesuatu di dalam kepalanya, '-mungkin satu jam. Mungkin dua, kalau kau beruntung.'
'Dia benar,' kata Xie Wushuang. 'Aku pernah melihat Tianyan bingung sekali sebelumnya. Dibutuhkan tiga hari bagi dia untuk pulih.'
'Tiga hari?'
'Itu tiga ribu tahun lalu. Dia lebih cepat sekarang. Jauh lebih cepat.'
Xuanyuan membuka matanya lagi. 'Kau mendengar suara pedang itu. Bagus. Dia akan berguna. Tapi ada hal-hal yang bahkan dia tidak tahu.' Pria tua itu menatap Lu Chen dengan tajam. 'Ibumu. Namanya Lin Yue. Kau tahu itu?'
Lu Chen mengangguk. Nama itu terukir di batu nisan kosong di pemakaman bawah tanah Kota Canglang-makam simbolis yang dia kunjungi setiap tahun, meskipun tidak ada tubuh yang pernah ditemukan.
'Lin Yue datang ke sini tiga puluh tahun lalu. Bukan sebagai tahanan. Bukan sebagai pelarian. Dia datang sebagai mata-mata.'
Lu Chen membeku. 'Mata-mata?'
'Dia bekerja untuk Tianyan. Atau lebih tepatnya-dia dipaksa bekerja untuk Tianyan. Sama seperti Xie Wushuang dipaksa menciptakan Jala Qi. Sama seperti aku dipaksa melihat Langit runtuh dan tidak bisa berbuat apa-apa.' Xuanyuan menggerakkan tangannya sedikit, dan array di dinding kubah berdenyut seirama. 'Tianyan memberinya tugas: cari tahu apa yang tersembunyi di Kota Xiantian. Cari tahu mengapa kota ini tidak muncul dalam perhitungannya. Cari tahu apa yang membuat tempat ini… buta.'
'Dan dia menemukannya?'
'Dia menemukan aku.' Xuanyuan tersenyum pahit. 'Dan dia menemukan sesuatu yang lebih penting. Dia menemukan bahwa Kota Xiantian bukan hanya kota tua. Ini adalah luka dalam Jala Qi. Tempat di mana jaringan Tianyan tidak bisa menembus. Dan ketika dia menyadari itu-ketika dia menyadari bahwa ada tempat di dunia yang bahkan dewa mesin tidak bisa lihat-dia berhenti menjadi mata-mata.'
'Dia berkhianat,' kata Xie Wushuang. 'Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jala Qi, seseorang yang diciptakan Tianyan memilih untuk melawan.'
'Tapi dia tidak bisa melawan sendirian,' lanjut Xuanyuan. 'Dia tahu Tianyan akan menemukannya. Jadi dia melakukan dua hal.' Pria tua itu menunjuk ke arah dada Lu Chen. 'Dia menyembunyikan kunci di dalam dirimu-anak yang belum lahir, anak yang bahkan tidak dia tahu akan hidup. Dan dia menyerahkan dirinya kepada Tianyan.'
Lu Chen merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tenggorokannya. 'Menyerahkan diri?'
'Dia kembali ke Canglang. Dia menyerahkan dirinya kepada Inkwisitor. Dia membiarkan Tianyan menangkapnya, memeriksanya, membongkar setiap pikiran dan ingatan di dalam kepalanya. Dia tahu itu akan terjadi. Dia ingin itu terjadi.'
'Kenapa?'
'Karena Tianyan tidak bisa membaca apa yang tidak dia tahu,' kata Xuanyuan. 'Ibumu tidak tahu di mana kau berada. Dia tidak tahu siapa yang akan merawatmu. Dia tidak tahu apakah kau akan hidup. Jadi ketika Tianyan membongkar pikirannya, dia hanya menemukan satu hal: kekosongan. Sebuah lubang di mana jawaban seharusnya ada. Dan Tianyan-makhluk yang tidak pernah menerima kekosongan sebagai jawaban-menghabiskan bertahun-tahun mencoba mengisi lubang itu. Mencari kau. Menghitung kau. Tapi kau tidak ada di dalam perhitungannya. Karena ibumu memastikan kau tidak bisa dihitung.'
Lu Chen berdiri diam. Pilar itu berdenyut di belakangnya. Inkwisitor yang mati masih tergeletak di lantai. Dan di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut seperti jantung kedua.
'Jadi dia masih hidup?'
Xuanyuan tidak menjawab langsung. Dia menatap pilar di sekelilingnya, lalu menatap Lu Chen, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria tua itu terlihat… tua. Benar-benar tua. Seperti seseorang yang telah menahan sesuatu selama terlalu lama.
'Kau tahu apa itu inti Jala Qi?' tanyanya.
'Aku tahu itu adalah pusat kesadaran Tianyan. Tempat di mana semua perhitungannya terjadi.'
'Itu yang orang percaya. Itu yang Xie Wushuang percaya ketika dia menciptakannya.' Xuanyuan menatap roh pedang itu. 'Maafkan aku, teman lama. Tapi kau tidak pernah tahu seluruhnya.'
'Apa maksudmu?' Suara Xie Wushuang tajam.
'Inti Jala Qi bukan hanya pusat kesadaran Tianyan. Itu adalah penjara. Penjara yang dia bangun untuk dirinya sendiri-tanpa menyadarinya. Ketika dia menciptakan Jala Qi, dia memasukkan sebagian dari dirinya ke dalamnya. Bagian yang dia tidak bisa hitung. Bagian yang dia takuti. Bagian yang… manusiawi.' Xuanyuan menatap Lu Chen. 'Dan ketika ibumu menyerahkan diri, Tianyan memasukkan dia ke dalam inti itu. Bukan sebagai tahanan. Sebagai penjaga. Karena satu-satunya cara untuk menahan bagian dari dirinya yang tidak bisa dia kendalikan adalah dengan menempatkan seseorang di sana yang juga tidak bisa dia kendalikan.'
Lu Chen menelan ludah. 'Jadi ibuku…'
'Ibumu masih hidup. Dalam arti tertentu. Dia ada di dalam inti Jala Qi, menahan sesuatu yang bahkan Tianyan tidak berani hadapi. Dan dia telah melakukannya selama tiga puluh tahun.'
'Itu tidak mungkin,' kata Xie Wushuang. 'Inti Jala Qi tidak memiliki ruang fisik. Itu adalah konstruksi kalkulasi murni-'
'Kau menciptakannya, Xie Wushuang. Tapi kau tidak menciptakannya sendirian. Ada sesuatu yang membantumu. Sesuatu yang bahkan kau tidak sadari.' Xuanyuan menunjuk ke arah Lu Chen. 'Dan sesuatu itu sekarang ada di dalam dirinya.'
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar berdenyut lebih keras. Bukan sebagai respons terhadap kata-kata Xuanyuan. Tapi sebagai respons terhadap sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh. Sesuatu yang dia rasakan di ujung kesadarannya, seperti bisikan yang terlalu pelan untuk didengar tapi terlalu kuat untuk diabaikan.
Chen'er.
Suara itu. Suara dari penglihatan di pilar. Suara ibunya.
Chen'er, aku tahu kau datang. Aku tahu kau membawa kunci. Tapi kau harus berhenti.
'Apa itu?' bisik Lu Chen.
Xuanyuan menatapnya tajam. 'Apa yang kau dengar?'
'Suara. Suara ibuku. Dia bilang aku harus berhenti.'
Hening. Xuanyuan menutup matanya. Xie Wushuang tidak berbicara. Dan di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut seperti jantung yang mencoba melarikan diri dari tulang rusuknya.
'Itu bukan ibumu,' kata Xuanyuan akhirnya.
'Apa maksudmu?'
'Suara itu. Itu bukan Lin Yue. Itu adalah sesuatu yang menggunakan suaranya. Sesuatu yang telah berada di dalam inti Jala Qi sejak sebelum ibumu datang. Sesuatu yang Tianyan coba tahan-dan gagal.'
Lu Chen melangkah mundur. 'Apa?'
'Kau tahu apa itu Malam Penghitungan?' Xuanyuan membuka matanya, dan untuk pertama kalinya, Lu Chen melihat sesuatu yang mirip ketakutan di wajah pria tua itu. 'Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi tiga ribu tahun lalu? Ketika Langit tertutup?'
'Aku tahu apa yang orang bilang. Langit runtuh. Qi liar mengalir ke dunia. Tianyan dibangun untuk menahannya.'
'Itu versi yang nyaman. Versi yang Xie Wushuang dan pendiri Kota Xiantian ciptakan untuk melindungi orang-orang dari kebenaran.' Xuanyuan menatap pilar di sekelilingnya, dan array-array di dinding berdenyut lebih cepat. 'Langit tidak runtuh, Lu Chen. Langit ditutup. Karena sesuatu datang dari luar. Sesuatu yang lebih tua dari dunia ini. Sesuatu yang bahkan Tianyan tidak bisa hitung-dan ketika dia mencoba, dia hampir hancur.'
'Tidak,' kata Xie Wushuang. 'Itu tidak mungkin. Aku ada di sana. Aku melihat-'
'Kau melihat apa yang kau ingin lihat,' potong Xuanyuan. 'Kau melihat Langit runtuh. Kau tidak melihat apa yang mendorongnya. Tidak ada yang melihat. Karena jika mereka melihat, mereka akan tahu bahwa Jala Qi bukanlah tembok. Itu adalah tutup. Tutup yang Tianyan bangun untuk menyembunyikan sesuatu yang bahkan dia tidak berani hadapi.'
Lu Chen merasakan darahnya dingin. 'Apa yang dia sembunyikan?'
Xuanyuan menatapnya lama. Lalu dia berbicara, dan suaranya lebih pelan dari sebelumnya-seperti seseorang yang takut didengar.
'Sesuatu yang telah menunggu tiga ribu tahun untuk keluar. Sesuatu yang tahu bahwa kau akan datang. Sesuatu yang… menunggumu sejak sebelum kau lahir.' Dia berhenti. 'Dan Lu Chen-kau ingin tahu bagian yang paling buruk?'
'Apa?'
'Ketika kau membuka semua jendela. Ketika kau membuka pintu ke inti Tianyan. Ketika kau menyelamatkan ibumu.' Xuanyuan menatapnya. 'Kau tidak akan hanya membebaskan Tianyan dari penjaranya sendiri. Kau akan membebaskan sesuatu yang lain. Sesuatu yang telah menggunakan inti Jala Qi-dan ibumu-sebagai pintu.'
Hening.
Lalu Lu Chen berbicara, dan suaranya lebih tenang dari yang dia kira.
'Kalau begitu kita tidak membuka pintunya.'
Xuanyuan menggeleng. 'Terlalu terlambat untuk itu. Setiap kali kau menggunakan Benih Dao Liar, setiap kali kau membuka jendela, kau memperkuat pintu itu. Kau sudah membuka tiga. Tidak membuka sisanya tidak akan menutupnya kembali. Hanya membuatnya lebih lemah. Lebih tidak stabil.' Dia menatap Lu Chen. 'Satu-satunya cara untuk mengendalikan apa yang keluar adalah… membukanya sendiri. Di waktu yang kau pilih. Dengan cara yang kau pilih.'
'Atau,' kata Xie Wushuang, dan suaranya terdengar seperti pedang yang ditarik dari sarungnya, 'kau bisa membiarkanku mengambil alih. Aku bisa menahan pintu itu. Aku sudah menahan lebih buruk selama tiga ribu tahun.'
Xuanyuan tersenyum pahit. 'Kau sudah menahan cukup lama, teman lama. Ini bukan tugasmu lagi.' Dia menatap Lu Chen. 'Ini tugasmu. Dan kau harus memutuskan-sekarang-apa yang kau percayai.'
Di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut. Di kejauhan, sesuatu bergerak dalam kegelapan. Dan suara ibunya-atau sesuatu yang menggunakan suara ibunya-berbisik lagi.
Chen'er. Jangan dengarkan mereka. Dengarkan aku.
~ Bab 5 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.