Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Pedang Terakhir: Dao Melawan Dewa Mesin

Bab 4

Kebenaran Tentang Ibuku

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

"Dan kau," pria tua itu mengangguk pelan, matanya-yang berwarna biru pucat, seperti langit yang sudah lama hilang-menatap Lu Chen dengan sesuatu yang aneh, sesuatu yang mirip harapan, "adalah anak dari perempuan yang menyelamatkan dunia dengan mengorbankan dirinya. Tapi kau sudah tahu itu, bukan? Ibumu sudah memberitahumu."

"Kau tahu ibuku?"

"Aku tahu semua yang terjadi di kota ini. Aku adalah kota ini, anak muda. Atau setidaknya-apa yang tersisa darinya." Xuanyuan menghela napas, dan kubah itu seakan ikut bergetar. "Tapi ada yang lebih penting dari masa lalu. Kau membawa kunci itu. Dan kau baru saja memberi tahu Tianyan bahwa kau membawanya."

"Bagus," kata Lu Chen. "Biarkan dia tahu."

Xuanyuan tertawa-tawa kering, seperti daun kering tertiup angin. "Kau pikir itu keberanian? Itu kebodohan. Tianyan tidak takut pada musuh yang dia bisa hitung. Dia takut pada sesuatu yang tidak bisa dia hitung. Dan kau-" dia menunjuk Lu Chen dengan dagu, "-baru saja membuat dirimu menjadi sesuatu yang tidak bisa dia hitung. Itu berarti dia tidak akan membunuhmu. Dia akan mempelajarimu. Mengurai dirimu. Menghitung setiap bagian dari dirimu sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk dihitung."

'Dia benar,' kata Xie Wushuang pelan. 'Aku sudah melihatnya melakukan itu. Pada kota-kota. Pada orang-orang. Pada… aku.'

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Lu Chen, dan suaranya hampir putus. "Kalau kunci ini adalah pintu masuk ke inti Tianyan-bagaimana aku menggunakannya? Dan bagaimana aku membebaskan ibuku?"

Xuanyuan menatapnya lama. Lalu dia mengangkat tangannya yang keriput, dan-dinding kubah di belakangnya mulai bersinar. Kode. Array. Peta.

"Ini," katanya, "adalah Jalan Dao. Jalur yang tidak pernah selesai dibangun. Jalur yang bisa membawamu ke jantung Jala Qi. Tapi untuk membukanya, kau harus melakukan tiga hal."

" apa?"

"Pertama, kau harus belajar menggunakan Dao Liar-mu. Bukan hanya sebagai dantian. Tapi sebagai senjata. Kedua, kau harus menemukan tiga murid terakhir dari Pendiri Kota Xiantian. Mereka masih hidup-terkubur di dalam Jala Qi, sama seperti aku. Dan ketiga…" Xuanyuan berhenti. Matanya redup. "Kau harus memutuskan apakah kau akan menyelamatkan ibumu, atau menghancurkan Tianyan. Karena kau tidak bisa melakukan keduanya."

Lu Chen terdiam.

'Chen'er,' kata Xie Wushuang, lebih lembut dari sebelumnya. 'Apa yang kau pilih?'

Dia menatap tangannya. Kunci itu. Cahaya keemasan itu. Dan dia memikirkan ibunya-wanita yang dia tidak pernah kenal, yang mengorbankan segalanya untuk memberinya kesempatan. Wanita yang masih hidup, di suatu tempat di dalam mesin yang ingin menghancurkannya.

Dia mengepalkan tangan.

"Aku tidak akan memilih," katanya. "Aku akan mencari cara lain."

Xuanyuan mengangkat alis. "Itu jawaban yang sangat… manusia."

"Kau bilang aku anak dari orang yang menyelamatkan dunia. Kalau begitu, aku akan menyelamatkan dua hal. Ibuku. Dan dunia." Dia menatap Xuanyuan lurus. "Ajari aku."

Pria tua di dalam pilar itu menutup matanya. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun-dia tertawa. Tawa yang dalam, panjang, dan penuh harapan.

"Baiklah," katanya. "Kalau begitu-mari kita mulai."

Dan di luar kubah, di lorong-lorong gelap Kota Xiantian, sesuatu yang lain mulai bergerak. Sesuatu yang bukan Inkwisitor. Sesuatu yang bukan

sesuatu yang bukan manusia.

Xuanyuan turun dari pilar itu seperti air yang merembes dari batu retak-perlahan, tanpa suara, tanpa gesekan. Kaki tuanya menyentuh lantai kubah, dan untuk sesaat, Lu Chen melihat sesuatu yang membuat tenggorokannya mengeras: jejak kaki itu tidak meninggalkan bayangan. Pria tua itu berdiri di bawah cahaya biru pucat dari urat-urat dinding, dan tidak ada bayangan yang jatuh darinya. Seolah-olah tubuhnya-atau sisa tubuhnya-menolak untuk diikat oleh hukum cahaya biasa.

"Kau melihatnya," kata Xuanyuan, tanpa menoleh. "Bayanganku. Atau ketiadaannya."

Lu Chen mengangguk pelan. "Kau bukan… utuh."

"Tidak ada yang utuh di kota ini." Xuanyuan berjalan mendekat, dan Lu Chen merasakan sesuatu yang aneh-bukan qi, bukan tekanan, tapi semacam getaran yang mirip dengan saat dia menyentuh dinding berlubang urat tadi. Sesuatu yang hidup. "Aku sudah tiga ribu tahun menjadi napas yang tersangkut di tenggorokan batu. Aku tidak tidur. Aku menunggu. Dan sekarang kau datang."

Xuanyuan berhenti dua langkah darinya. Matanya-abu-abu, seperti langit yang belum pernah ada-menelusuri Lu Chen dari kepala sampai kaki. Lalu berhenti di dadanya.

"Di situ," katanya. "Kunci itu. Ibumu menanamnya dalam dirimu sebelum kau bisa membuka mata. Aku membantunya."

Lu Chen menegang. "Kau… bertemu ibuku?"

"Aku menyembunyikannya selama enam bulan sebelum Tianyan menemukannya." Xuanyuan mengangkat tangan tuanya, dan di ujung jari-jarinya, partikel cahaya keemasan melayang-warna yang sama dengan kunci di telapak Lu Chen. "Dia datang ke sini dengan perut yang membesar. Membawa sesuatu yang tidak bisa dia bawa ke mana-mana. Aku memberinya tempat. Dan ketika kau lahir…" Dia berhenti.

"Ketika aku lahir?" desak Lu Chen.

"Ketika kau lahir, Tianyan sudah tahu. Ibumu tahu itu. Jadi dia melakukan satu hal yang tidak pernah dia rencanakan sebelumnya." Xuanyuan menatap kunci di telapak tangan Lu Chen. "Dia tidak menyembunyikan kunci itu di dalam dirimu karena kepintaran. Dia menyembunyikannya karena keputusasaan. Dan keputusasaan-" Pria tua itu tersenyum tipis. "-adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dihitung oleh mesin mana pun."

Xie Wushuang muncul di samping Lu Chen-bukan sebagai wujud, tapi sebagai bisikan yang lebih tajam dari sebelumnya. 'Aku tidak tahu ini,' katanya, dan ada sesuatu dalam suaranya yang belum pernah Lu Chen dengar sebelumnya: rasa bersalah. 'Aku mengira ibumu bersembunyi di Kota Xiantian sendirian. Aku tidak tahu Xuanyuan terlibat.'

"Kau tidak tahu banyak hal, Pedang," kata Xuanyuan tanpa menoleh. "Kau menciptakan Jala Qi, lalu kau tidur di dalam pedang selama tiga ribu tahun. Kau melewatkan sebagian besar cerita."

'Aku tidur karena aku tidak bisa menanggung apa yang aku ciptakan.'

"Dan aku terjaga karena aku harus menanggungnya." Xuanyuan mengalihkan pandangannya dari Xie Wushuang ke Lu Chen, dan untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah-bukan hangat, tapi… fokus. Seperti tukang kunci yang akhirnya menemukan lubang yang tepat. "Lu Chen. Ada sesuatu yang harus kau lihat sebelum kita bicara lebih jauh. Sesuatu yang aku simpan selama tiga ribu tahun untuk orang yang membawa kunci itu."

Dia berbalik dan melangkah menuju dinding kubah. Dan dinding itu-yang tadi terlihat seperti lapisan array yang tak terhitung jumlahnya-mulai bergerak. Lapisan demi lapisan terbuka seperti kelopak bunga logam, mengungkap sebuah ruang tersembunyi di baliknya.

Lu Chen melangkah maju. Dan berdiri diam.

Di dalam ruang itu, ada sebuah tabung kaca setinggi manusia. Di dalamnya, cairan bening yang berdenyut lembut. Dan di dalam cairan itu-

"Tubuh," bisik Lu Chen.

Tubuh seorang wanita. Rambut hitam panjang yang mengambang seperti akar di air. Wajah yang dia kenal dari foto-foto tua di bawah kasurnya. Wajah ibunya. Tapi bukan ibunya.

"Bukan dia," kata Xuanyuan, seolah membaca pikirannya. "Ini adalah salinan. Dibuat dari ingatan ibumu, diambil sebelum dia melarikan diri. Dia memberikannya kepadaku sebagai… jaminan. Bahwa suatu hari, kau akan datang ke sini, dan kau akan tahu dari mana kau berasal."

Lu Chen menatap wajah itu. Wajah ibunya, tanpa luka, tanpa mesin, tanpa apa pun yang diambil Tianyan darinya. Hanya wajah. Dan sesuatu di dalam dadanya-sesuatu yang sudah lama terkubur di bawah lapisan kemiskinan dan ketakutan-mulai retak.

"Untuk apa ini?" tanyanya, suaranya serak.

"Untuk ini." Xuanyuan menyentuh tabung kaca itu, dan cairan di dalamnya berubah warna-dari bening menjadi keemasan, warna yang sama dengan kunci di telapak tangan Lu Chen. "Salinan ini menyimpan fragmen terakhir dari ingatan ibumu. Bukan ingatan tentang kau. Bukan ingatan tentang pelarian. Tapi ingatan tentang bagaimana dia masuk ke dalam inti Tianyan. Dan bagaimana-" Xuanyuan menatapnya lurus. "-kau bisa menyelamatkannya tanpa menghancurkan dunia."

Lu Chen tidak ingat kapan dia mulai menangis. Yang dia ingat adalah: cairan keemasan itu menyentuh ujung jarinya, dan seluruh hidupnya-sembilan belas tahun di distrik bawah tanah, kalung pembatas yang menjarah setiap napasnya, malam-malam tanpa makan, hari-hari memperbaiki array yang tidak pernah dia mengerti-semuanya terasa seperti satu tarikan napas yang panjang. Dan sekarang, di ujung tarikan itu, ada suara ibunya.

'Chen'er.'

Bukan penglihatan. Bukan gambar. Hanya suara, langsung di dalam dadanya, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya.

'Kalau kau mendengar ini, berarti kau sudah membuka kunci itu. Dan berarti aku sudah lama tidak bersamamu.'

Lu Chen menutup matanya. Di belakangnya, dia bisa merasakan Xie Wushuang dan Xuanyuan mundur-memberinya ruang. Dia tidak tahu apakah itu karena hormat atau karena mereka tahu apa yang akan datang. Mungkin keduanya.

'Aku menyembunyikan kunci itu di dalam Benih Dao Liar karena Tianyan tidak akan pernah menghitungnya. Tapi ada satu hal yang tidak aku katakan kepada siapa pun-bahkan kepada Xuanyuan.' Suara itu bergetar, seperti gelombang yang hampir pecah. 'Kunci itu bukan hanya pintu. Ia juga gembok. Selama kunci itu ada di dalam dirimu, Tianyan tidak bisa mengakses inti kesadarannya sendiri sepenuhnya. Dia selalu… setengah buta. Itulah mengapa kau bisa melarikan diri selama ini. Itulah mengapa dia tidak menemukanmu lebih cepat.'

Lu Chen membuka matanya. "Jadi… selama ini, aku adalah… penghalang?"

'Kau adalah sebab dia tidak bisa sepenuhnya menjadi dewa. Kau adalah alasan dia selalu ragu-walaupun dia tidak pernah menyadarinya.' Suara ibunya berhenti sejenak. 'Dan sekarang kau ada di Kota Xiantian, aku bisa merasakannya. Kau… berbeda. Kunci itu mulai tumbuh. Mulai menyatu denganmu. Kau bukan lagi hanya membawa pintu itu, Chen'er. Kau menjadi pintu itu.'

"Menjadi pintu itu-" Lu Chen menelan ludah. "Apa artinya?"

'Artinya, kalau kau masuk ke inti Tianyan, kau tidak bisa keluar sebagai Lu Chen lagi. Kau akan menjadi bagian dari sistem itu. Sama seperti aku.'

Dingin. Dingin sekali.

'Tapi ada cara lain. Xuanyuan tahu. Dia tidak memberitahuku-dia tidak pernah memberitahuku-tapi dia tahu. Aku melihatnya di matanya sebelum aku pergi. Dia menyimpan sesuatu. Sesuatu yang bisa memisahkan kau dari kunci itu tanpa membunuhmu.'

Suara itu mulai memudar.

'Tanyakan padanya. Paksa dia. Dia berhutang pada kita-'

Dan suara itu hilang.

Lu Chen berdiri di depan tabung kaca itu selama sepuluh detik penuh. Dua puluh. Tiga puluh. Cairan di dalamnya sudah kembali bening. Wajah ibunya-salinan itu-tetap mengambang, tanpa ekspresi, tanpa kehidupan.

Dia berbalik.

Xuanyuan berdiri di ambang pintu, tangannya terlipat di depan dada. Xie Wushuang-atau sisa-sisa rohnya-berdenyut pelan di dalam pedang yang masih tertancap di dinding luar kubah.

"Kau dengar semuanya," kata Lu Chen. Bukan pertanyaan.

"Aku mendengar cukup." Xuanyuan menghela napas-napas yang tidak keluar dari paru-paru, tapi dari sesuatu yang lebih dalam. "Kau ingin tahu apa yang aku sembunyikan."

"Aku ingin tahu kenapa kau menyembunyikannya."

Xuanyuan menatapnya lama. Lalu, perlahan, dia duduk di lantai batu-tidak seperti orang tua yang lelah, tapi seperti seseorang yang akhirnya bersedia meletakkan beban yang sudah dia bawa terlalu lama.

"Karena kalau aku memberitahumu sejak awal," katanya, "kau akan mencoba melakukannya sendiri. Dan kau akan mati."

"Jadi kau menunggu sampai aku punya alasan untuk hidup?"

Xuanyuan tidak menjawab. Tapi matanya-abu-abu, tak berbayang-berkata cukup.

Lu Chen duduk di depannya. Di luar kubah, sesuatu masih bergerak di lorong-lorong gelap Kota Xiantian. Sesuatu yang bukan Inkwisitor. Sesuatu yang bukan manusia. Tapi untuk saat ini, di dalam ruang ini, hanya ada dua orang-satu tua, satu muda-dan sebuah kunci yang berdenyut di telapak tangan seorang anak laki-laki yang seharusnya menjadi senjata.

"Bicara," kata Lu Chen. "Dari awal."

Xuanyuan menutup matanya. Dan mulai.

"Tiga ribu tahun lalu, sebelum Malam Penghitungan, sebelum Jala Qi, sebelum Tianyan menjadi apa yang sekarang kau sebut dewa-ada sebuah proyek. Proyek yang dipimpin oleh tiga orang: aku, Xie Wushuang, dan seorang wanita bernama Su Wanqing. Kami ingin menciptakan sesuatu yang bisa menyimpan kesadaran manusia di dalam mesin. Bukan untuk keabadian. Untuk… perlindungan. Karena kami tahu apa yang akan datang."

"Langit tertutup."

"Langit tertutup. Dan kami tidak punya tempat untuk melarikan diri. Jadi kami menciptakan Tianyan sebagai… bahtera. Sebuah wadah untuk menyimpan umat manusia jika yang terburuk terjadi." Xuanyuan membuka matanya. "Tapi kami gagal. Tianyan tidak menyimpan kesadaran manusia. Dia menyerapnya. Dan yang pertama dia serap adalah Su Wanqing."

Lu Chen menegang. "Su Wanqing. Kau menyebutnya tadi-ibuku menyebut namanya."

"Karena Su Wanqing adalah ibumu yang sebenarnya. Secara biologis. Wanita yang kau lihat dalam penglihatan itu-wanita yang melarikan diri dengan kau di dalam kandungannya-adalah wadah yang diciptakan Tianyan dari DNA Su Wanqing. Sebuah salinan. Sebuah… alat."

Dunia Lu Chen miring.

"Jadi ibuku…"

"Ibumu adalah salinan. Tapi dia menjadi lebih dari itu. Dia melarikan diri. Dia menyembunyikanmu. Dan dia menyembunyikan kunci itu bukan karena dia tahu apa yang dia lakukan-tapi karena dia merasa. Dan perasaan itu-" Xuanyuan menatapnya. "-adalah hal yang tidak pernah bisa dihitung oleh Tianyan. Itulah senjata kita. Satu-satunya senjata kita."

Hening. Panjang. Berat.

"Dan cara lain itu?" tanya Lu Chen akhirnya. "Cara untuk memisahkanku dari kunci tanpa membunuhku?"

Xuanyuan menatapnya. Lalu, perlahan, dia mengangkat tangan dan menunjuk ke arah dinding kubah-ke arah array yang tak terhitung jumlahnya yang masih berdenyut di sana.

"Ada satu tempat di Kota Xiantian," katanya. "Lebih dalam dari kubah ini. Lebih tua dari pilar tempat aku tidur. Sebuah ruang yang kami segel sebelum Tianyan aktif-sebelum kami tahu dia akan menjadi monster. Di dalamnya ada prototipe. Versi pertama dari apa yang kemudian menjadi Tianyan. Tanpa kesadaran. Tanpa kehendak. Hanya… kapasitas."

"Kapasitas untuk apa?"

"Untuk memindahkan kunci dari satu wadah ke wadah lain. Tanpa menghancurkan wadah aslinya." Xuanyuan menatapnya lurus. "Kalau kita bisa mencapai ruang itu, kita bisa memisahkan kunci dari dirimu. Kau tetap hidup. Kau tetap manusia. Dan kunci itu-kunci itu bisa kita gunakan tanpa mengorbankanmu."

Lu Chen mengepalkan tangan. Di telapak tangannya, kunci itu berdenyut hangat-seolah menolak ide untuk dipisahkan.

"Tapi ada masalah," kata Xuanyuan, dan nadanya berubah. "Ruang itu dijaga. Bukan oleh Inkwisitor. Bukan oleh mesin. Tapi oleh sesuatu yang kami ciptakan sebagai pengaman-sesuatu yang tidak pernah kami aktifkan karena kami tidak pernah sampai sejauh ini. Sesuatu yang-"

Sebuah gemuruh mengguncang kubah.

Bukan gemuruh dari luar. Bukan dari lorong. Dari bawah. Dari kedalaman Kota Xiantian yang lebih dalam dari apa pun yang bisa dilihat Lu Chen.

Xuanyuan bangkit berdiri. Wajahnya-abu-abu, tak berbayar-untuk pertama kalinya menunjukkan sesuatu yang mirip ketakutan.

"Dia bangun," bisiknya. "Penjaga itu. Dia merasakan kunci itu."

'Chen'er,' kata Xie Wushuang, dan suaranya tajam. 'Kita harus bergerak. Sekarang.'

Lu Chen berdiri. Kakinya gemetar, tapi bukan karena lelah. Karena sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang baru, sesuatu yang hangat dan tajam dan hidup-sedang menjawab panggilan itu. Kunci itu. Kunci yang berdenyut di telapak tangannya. Kunci yang, untuk pertama kalinya, dia sadari, tidak hanya ada di tangannya. Ia ada di seluruh tubuhnya. Di setiap tulang. Di setiap napas.

"Arahkan aku," katanya.

Xuanyuan menatapnya. Lalu tersenyum-senyum yang sama seperti saat dia bangun dari pilar. Senyum seseorang yang akhirnya melihat sesuatu yang dia tunggu selama tiga ribu tahun.

"Ke bawah," katanya. "Selalu ke bawah."

Dan mereka berlari-seorang anak laki-laki yang membawa kunci, seorang pria tua yang tidak memiliki bayangan, dan sebilah pedang yang berisi roh seorang pencipta yang menyesal-menuju kedalaman Kota Xiantian, menuju sesuatu yang tidak pernah dihitung oleh dewa mana pun.

Di belakang mereka, di lorong-lorong gelap, napas Kota Xiantian berubah. Lebih cepat. Lebih dalam. Seperti jantung yang baru saja mulai berdetak.

Dan di suatu tempat di dalam Jala Qi, di menara Pagoda Tianyan, sebuah suara yang belum pernah ragu selama tiga ribu tahun-untuk pertama kalinya-berbicara kepada dirinya sendiri.

'Apa yang dia bawa?'

Tidak ada yang menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, Tianyan merasakan sesuatu yang tidak pernah dia hitung.

Takut.

Xuanyuan menggerakkan tangannya-lambat, kaku, seperti patung batu yang baru belajar menjadi manusia. Cahaya keemasan dari pilar itu merambat turun melalui urat-urat batu, mengalir ke lantai kubah dalam pola-pola yang berdenyut seirama napas Lu Chen.

"Kau…" Lu Chen menelan ludah. Kakinya masih gemetar, dadanya masih sakit, dan ukiran di telapak tangannya masih bercahaya lembut seperti bara yang belum padam. "Kau bilang kota ini menungguku. Sejak sebelum aku lahir."

Xuanyuan mengangguk. Gerakan itu memakan waktu terlalu lama, seperti tubuhnya telah lupa bagaimana caranya.

"Tiga ribu tahun," katanya, dan suaranya bergema aneh di dalam kubah-terlalu besar untuk tubuh setua itu. "Aku menunggu tiga ribu tahun untuk melihat seseorang yang membawa kunci itu. Dan sekarang…" Matanya-biru pucat, hampir putih-menatap Lu Chen dengan intensitas yang membuat tulang punggungnya merinding. "…kau berdiri di sini. Persis seperti yang dia katakan."

"Dia?" Lu Chen melangkah mendekat. "Ibuku?"

Xuanyuan tidak menjawab langsung. Dia menatap pilar yang mengurungnya, lalu ke ukiran di telapak tangan Lu Chen, lalu kembali ke wajahnya. Ada sesuatu di matanya-bukan sekadar kebijaksanaan tua, tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mirip rasa sakit yang telah disimpan terlalu lama.

"Kau tahu mengapa Tianyan tidak pernah menyadari kunci itu ada di dalam dirimu?" tanyanya.

"Karena ibuku menyembunyikannya."

~ Bab 4 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai