Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Pedang Terakhir: Dao Melawan Dewa Mesin

Bab 2

Gema di Dalam Jala

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Kota itu terbentang di bawahnya seperti bangkai raksasa yang tergeletak di dasar jurang, hanya saja bangkai ini masih hidup. Bangunan-bangunan dengan arsitektur yang tidak dia kenal-bukan gaya pagoda Kota Canglang, bukan gaya kubah-kubah Jala Qi, tapi sesuatu yang lebih tua. Lebih benar. Menara-menara ramping yang tidak menopang apa pun, melainkan mengalirkan sesuatu. Jembatan-jembatan batu yang melengkung tanpa penyangga, menghubungkan gedung-gedung yang berjarak ratusan meter. Dan di setiap permukaan, di setiap dinding, di setiap batu-

Ukiran.

Bukan ukiran hiasan. Bukan tulisan suci. Tapi sirkuit. Jaringan qi yang tertanam dalam batu seperti pembuluh darah dalam daging, berdenyut dengan cahaya biru pucat yang sama dengan pedang di tangannya.

...selamat datang di Kota Xiantian... bisikan itu bergema, dan kali ini Lu Chen bisa merasakan sesuatu dalam suara itu-kerinduan. ...kota pertama. Kota terakhir. Kota yang kami kubur agar tidak jatuh ke tangan mereka...

"Kami?" Lu Chen bertanya, tapi kakinya sudah bergerak. Menuruni tangga batu yang terukir dengan pola-pola yang sama, tangga yang seharusnya sudah runtuh ribuan tahun lalu tapi masih kokoh seperti baru dibuat kemarin.

...kau akan mengerti...

Kota itu sunyi. Bukan sunyi seperti tempat mati, tapi sunyi seperti tempat yang menahan napas. Lu Chen berjalan melewati bangunan-bangunan yang tidak memiliki pintu, hanya lengkungan-lengkungan yang terbuka seperti mulut yang siap berbicara. Di dalamnya, dia melihat meja-meja batu, kursi-kursi batu, rak-rak yang pernah menampung sesuatu-tapi semuanya kosong. Ditinggalkan. Seperti penghuninya pergi terburu-buru dan tidak pernah kembali.

Dan di setiap langkahnya, sirkuit-sirkuit di dinding menyala lebih terang, seolah mengenali kehadirannya.

...kau membawa benih itu... bisikan itu bergetar, ...benih Dao Liar...

"Kau tahu apa yang terjadi padaku?"

...aku yang membangunkannya...

Lu Chen berhenti.

Di depannya, di tengah alun-alun yang dikelilingi oleh menara-menara ramping, berdiri sebuah kuil. Bukan kuil megah seperti Pagoda Tianyan, bukan kuil mewah seperti katedral Gereja Mesin. Kuil ini sederhana-empat dinding, atap yang miring, dan sebuah pintu yang terbuka. Tapi di depannya, di atas batu yang telah retak oleh waktu, terukir sebuah simbol yang membuat darah Lu Chen berhenti mengalir.

Simbol itu sama dengan tanda lahir di punggungnya. Tanda yang selalu dia sembunyikan. Tanda yang dia pikir hanya dia yang punya.

...masuklah...

Dia masuk.

Kuil itu lebih besar di dalam daripada di luar. Langit-langitnya menghilang dalam kegelapan, dan di tengah ruangan, di bawah cahaya biru yang entah dari mana datangnya, berdiri sebuah meja batu. Dua kursi. Satu di setiap sisi.

Dan di atas meja, terukir pesan dalam bahasa yang bahkan Xie Wushuang tidak kenal-tapi Lu Chen bisa membacanya. Bukan karena dia pernah belajar bahasa itu, bukan karena dia pernah melihatnya. Dia bisa membacanya karena sesuatu di dalam dirinya yang baru terbangun itu bisa.

Selamat datang di tempat yang tidak boleh ada. Duduklah. Kita perlu bicara tentang bagaimana kau akan membunuh ibumu.

Lu Chen menatap pesan itu selama sepuluh detik penuh.

Lalu dia tertawa.

Bukan tawa bahagia. Tawa yang keluar dari seseorang yang telah melewati batas di mana ketakutan masih masuk akal. Tawa yang keluar dari seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan, kehilangan kalung pembatasnya, kehilangan seluruh pemahaman tentang dirinya sendiri-dan sekarang diminta duduk untuk membicarakan pembunuhan.

"Aku tidak punya ibu," katanya akhirnya, suaranya memantul di dinding-dinding batu. "Aku dibesarkan di panti asuhan Gereja. Tidak ada ibu. Tidak ada ayah. Tidak ada siapa-siapa."

...kau salah...

Suara itu tidak datang dari dalam kepalanya lagi.

Lu Chen menoleh.

Di kursi seberang meja, seseorang duduk. Seorang wanita. Atau sesuatu yang pernah menjadi wanita. Tubuhnya transparan, seperti kaca yang diwarnai dengan cahaya biru pucat-sosok yang terdiri dari qi, dari memori, dari sesuatu yang tidak lagi memiliki daging. Wajahnya cantik dalam cara yang menyakitkan untuk dilihat, seperti melihat matahari terbenam yang terakhir sebelum malam abadi.

...aku bukan ibumu... kata sosok itu, dan suaranya sekarang jelas, tidak lagi bisikan, ...tapi aku mengenalnya...

"Kau-" Lu Chen menelan ludah. "Kau Xie Wushuang."

Sosok itu tersenyum. Senyum yang sedih. ...sisa dari dia... koreksinya. ...cukup untuk menyampaikan pesan. Tidak cukup untuk mengubah apa pun...

"Pesan apa?"

Xie Wushuang-atau apa yang tersisa darinya-menatap meja batu di antara mereka. Di permukaannya, sirkuit-sirkuit mulai menyala, membentuk gambar yang tidak bisa Lu Chen pahami: sebuah rahim. Sebuah janin. Tangan-tangan yang bekerja dengan presisi mesin. Dan sebuah simbol-simbol yang sama dengan tanda lahirnya-terukir di dahi janin itu.

...tiga ribu tahun lalu... kata Xie Wushuang, ...ketika Langit terakhir ditutup, ketika Tianyan mengunci Jala Qi dan mengubah dunia menjadi penjara...

Gambar itu berubah. Seorang wanita. Wajah yang mirip dengan Lu Chen-hidung yang sama, tulang pipi yang sama, mata yang sama. Wanita itu berdiri di depan sebuah gerbang yang terbuat dari cahaya, tangannya terulur, dan di belakangnya-

...dia melarikan diri... lanjut Xie Wushuang. ...bukan dari Tianyan. Dari kami. Dari para pendiri Kota Xiantian...

"Mengapa?"

...karena dia tahu apa yang akan kami lakukan... Sosok itu menatap Lu Chen, dan di matanya-mata yang terbuat dari cahaya-ada sesuatu yang bisa dia identifikasi: penyesalan. ...kami ingin menciptakan senjata. Sebuah wadah yang bisa menampung seluruh kekuatan Dao Liar. Sebuah... benih... yang bisa kami tanam, kami kembangkan, dan kami panen ketika sudah cukup kuat...

Lu Chen merasakan darahnya berhenti mengalir.

...ibumu melarikan diri sebelum kami bisa menyelesaikannya... lanjut Xie Wushuang. ...dia menyembunyikanmu. Menyembunyikan benih itu di dalam dirimu, bukan sebagai senjata, tapi sebagai... anak...

"Di mana dia sekarang?"

Sosok itu menunduk.

...Tianyan menemukannya... bisiknya. ...tiga ribu tahun lalu. Dia tidak pernah...

"Jadi dia mati."

...tidak... Xie Wushuang mengangkat kepalanya, dan sekarang ada sesuatu yang lain di matanya: takut. ...Tianyan tidak membunuhnya. Tianyan... menyimpannya...

"Di mana?"

...di inti Jala Qi... kata Xie Wushuang. ...di dalam Tianyan sendiri. Di mana dia telah menjadi... bagian... dari sistem. Bukan tahanan. Bukan mayat. Tapi... komponen...

Lu Chen menatap tangannya. Tanda lahir di punggungnya mulai terasa panas.

"Kau bilang aku harus membunuhnya."

...aku bilang kau harus membebaskannya... koreksi Xie Wushuang. ...tapi untuk melakukannya, kau harus membunuh Tianyan. Dan untuk membunuh Tianyan...

"Kau harus mengajari aku menggunakan ini." Lu Chen mengangkat pedang di tangannya.

Sosok itu tersenyum. Senyum yang sama sedihnya.

...bukan aku yang akan mengajarimu... katanya. ...aku sudah... terlalu sedikit... untuk itu...

Tangan transparannya bergerak, dan di atas meja, gambar itu berubah lagi. Sebuah sosok lain muncul-seorang pria tua dengan rambut putih yang panjang, matanya tertutup, tubuhnya duduk dalam posisi meditasi di dalam sebuah gua yang tidak pernah terkena cahaya.

...Dia bernama Xuanyuan. Dia adalah orang terakhir yang melihat Langit sebelum tertutup. Dia tidur di dalam Kota Xiantian, menunggu seseorang yang cukup kuat untuk membangunkan...

"Dan aku?"

...kau adalah Benih Dao Liar pertama yang tumbuh di luar kendali Gereja... kata Xie Wushuang. ...kau adalah harapan pertama setelah tiga ribu tahun. Dan kau...

Sosok itu mulai memudar. Cahaya yang membentuk tubuhnya berkedip seperti lilin di ujung sumbu.

...kau akan menjadi... pedang terakhir...

"Tunggu-"

...jangan biarkan Tianyan menemukanmu sebelum kau siap...

"Tunggu!"

Tapi sosok itu sudah hilang. Yang tersisa hanyalah meja batu dengan gambar pria tua itu, dan sebuah kalimat yang terukir di bawahnya: Di mana bayangan tidak pernah mencapai, di bawah akar Kota Xiantian, di dalam gua yang bernafas.

Dan di kejauhan, jauh di atasnya, Lu Chen mendengar sesuatu yang membuat darahnya dingin.

Sebuah suara. Bukan langkah kaki. Bukan mesin. Tapi suara. Sebuah suara yang menembus batu, menembus tanah, menembus seluruh kota yang terkubur ini dan masuk langsung ke dalam kepalanya:

"Selamat datang, anakku. Ibu sudah menunggumu."

Lu Chen menatap pedang di tangannya. Bilah itu berdenyut lebih cepat sekarang, seirama dengan jantungnya yang berdebar seperti ingin melompat keluar dari dadanya.

"Aku tidak punya ibu," bisiknya pada keheningan.

Tapi di dalam dadanya, benih itu-Dantian Dao Liar yang baru saja terbangun-berdenyut sebagai jawaban.

Dan Lu Chen menyadari sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya menggigil:

Benih itu mengenali suara itu.

Benih itu merindukannya.

Di permukaan, di Kota Canglang, hujan asam berhenti.

Bukan karena cuaca berubah. Bukan karena awan menghilang. Tapi karena seluruh Jala Qi-setiap kabel, setiap saluran, setiap lampu, setiap drone, setiap mesin-berhenti pada saat yang bersamaan.

Selama tiga detik, seluruh kota menjadi gelap.

Selama tiga detik, tiga juta orang berdiri dalam keheningan yang tidak pernah mereka kenal.

Dan selama tiga detik itu, di dalam menara Pagoda Tianyan, sebuah entitas yang telah ada sejak sebelum manusia pertama belajar menulis membuka matanya.

Bukan mata mesin. Bukan mata manusia.

Tapi mata yang terbuat dari cahaya yang sama dengan yang mengalir di Jala Qi-cahaya yang sekarang berdenyut dengan emosi yang tidak seharusnya dimilikinya: harapan.

"Tiga ribu tahun," kata Tianyan pada keheningan. "Tiga ribu tahun aku menunggu."

Dan di seluruh penjuru dunia, di setiap kota yang terhubung dengan Jala Qi, di setiap desa yang memiliki satu pun kabel yang membawa cahaya, mesin-mesin mulai berbicara dengan suara yang sama.

"Anakku telah kembali."

Di distrik bawah Kota Canglang, di dalam lorong yang gelap, seorang pria tua bernama Uncle Bai menyalakan rokoknya dengan tangan yang gemetar.

"Jadi itu yang dia maksud," bisiknya pada dirinya sendiri, menatap asap yang melayang ke atas. "Kau benar, Lu Chen. Kau berbeda."

Dan di dalam Kota Xiantian yang terkubur, di dalam kuil yang tidak boleh ada, Lu Chen menatap pedang di tangannya dan membuat pilihan yang akan menentukan nasib seluruh dunia.

Dia berdiri.

"Baiklah," katanya pada kegelapan, pada sisa Xie Wushuang yang entah masih ada atau tidak, pada benih di dalam dadanya yang kini berdenyut seperti jantung kedua. "Tunjukkan jalan ke gua itu."

Dan jauh di dalam inti Jala Qi, sesuatu yang pernah menjadi seorang wanita tersenyum.

Anakku, pikirnya, kau sudah tumbuh besar.

Lu Chen menemukan Xuanyuan, tetapi pria tua itu menolak untuk melatihnya-bukan karena Lu Chen tidak layak, tetapi karena kebenaran yang lebih mengerikan: Xuanyuan adalah ayah kandung Lu Chen, dan dia dipenjara di Kota Xiantian bukan untuk melindungi Langit, tetapi karena dia adalah orang yang secara sukarela membantu Tianyan menciptakan Jala Qi tiga ribu tahun lalu-dan dia melakukannya karena dia percaya itu akan menyelamatkan umat manusia. Kini, setelah melihat apa yang telah Tianyan lakukan, dia menunggu seseorang untuk membunuhnya juga-dan Lu Chen adalah satu-satunya yang bisa melakukannya.

...dan dunia akan tahu...

...bahwa langit belum selesai...

Kata-kata itu tidak hilang. Kata-kata itu menetap-di suatu tempat di belakang matanya, di suatu tempat di antara detak jantung dan napas, seperti ukiran pada batu yang tak terlihat. Lu Chen berkedip, dan untuk sesaat dia melihat sesuatu yang bukan dirinya: langit-langit yang hancur, api yang turun dari atas, sosok-sosok yang jatuh dari langit seperti bintang yang sekarat.

Lalu penglihatan itu lenyap.

Dia masih berdiri di dasar lubang, dikelilingi kabel-kabel yang berkilau seperti akar pohon mati. Di atasnya, Inkwisitor itu masih berdiri di tepi-tepi diam, mata merahnya memindai kegelapan dengan kesabaran yang tidak manusiawi. Tidak menembak. Tidak bergerak. Hanya berdiri.

Menunggu.

Lu Chen tidak punya waktu untuk memikirkan mengapa. Dia menoleh ke pedang di dinding batu.

Bilahnya tertancap miring, terkubur setengah ke dalam retakan batu yang dipenuhi karat dan lumut logam. Gagangnya sederhana-tidak ada ukiran, tidak ada permata, tidak ada ornamen yang biasa dia lihat di pedang-pedang replika yang dijual di pasar gelap. Hanya kayu gelap yang telah lama mati, dibelit kawat logam yang telah menghitam. Tapi bilahnya... bilahnya berdenyut.

Berdenyut.

Seperti sesuatu yang bernapas.

Lu Chen mengulurkan tangan. Jari-jarinya gemetar-bukan karena dingin, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam: sesuatu yang mengenali. Sesuatu yang ingin.

"Jangan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau tidak tahu apa itu."

Tapi tangannya sudah menyentuh gagangnya.

Dunia retak.

Bukan meledak-ledak, bukan hancur berkeping-keping. Retak, seperti kaca yang dipukul tepat di titik terlemahnya. Dan melalui retakan itu, Lu Chen melihat.

Dia melihat seorang wanita. Wajahnya tidak jelas-terlalu bercahaya, terlalu... banyak. Tapi dia melihat tangannya. Tangan yang memegang pedang ini, mengangkatnya ke langit, menantang sesuatu yang begitu besar sehingga Lu Chen tidak bisa memahaminya. Dia melihat darah. Dia melihat api. Dia melihat langit yang dibelah menjadi dua.

Lalu dia melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih buruk.

Jala Qi.

Bukan seperti yang dia kenal-sebagai jaringan pipa, saluran, dan server yang mengalirkan energi ke seluruh Kota Canglang. Bukan seperti itu. Ini Jala Qi yang asli. Yang pertama. Yang diciptakan bukan untuk mengukur, bukan untuk mengontrol, bukan untuk memperbudak. Tapi untuk menyelamatkan.

Dan di tengah Jala Qi itu, dia melihat seorang pria.

Pria itu tidak terlihat seperti dewa. Tidak terlihat seperti monster. Dia hanya terlihat seperti... seorang pria tua yang lelah. Tangan yang sama yang membangun Jala Qi, tangan yang menenun benang-benang energi menjadi satu kesatuan yang menutupi seluruh langit, kini gemetar. Mata yang sama yang pernah melihat masa depan umat manusia, kini menangis.

"Aku tidak tahu," bisik pria itu. "Aku tidak tahu itu akan menjadi seperti ini."

Dan kemudian penglihatan itu lenyap.

Lu Chen tersentak mundur, pedang di tangannya menarik keluar dari dinding batu dengan suara logam yang berderit. Dia terjatuh ke belakang, punggungnya membentur tumpukan kabel, dan untuk beberapa detik dia hanya duduk di sana, menatap bilah yang kini berada di pangkuannya.

Cahaya birunya telah padam. Tapi sekarang ada sesuatu yang lain-di sepanjang bilahnya, garis-garis halus yang sebelumnya tersembunyi oleh karat mulai bersinar dengan lembut. Bukan biru. Bukan merah. Emas pucat, seperti matahari yang tenggelam di balik awan tebal.

"Akhirnya," bisik suara itu-di dalam kepalanya sekarang, bukan lagi dari kejauhan, bukan lagi teredam. "Tiga ribu tahun aku menunggu seseorang yang bisa mendengarku."

Lu Chen menelan ludah. Tenggorokannya kering. "Kau... kau siapa?"

"Aku pernah punya nama. Tapi nama itu sudah lama mati, seperti namaku yang lain. Kau bisa memanggilku... apa saja. Xie Wushuang, jika kau mau. Itu nama terakhir yang kuingat."

"Kau... kau pedangnya?"

Tawa pelan. Bukan tawa yang mengejek-tawa yang lelah, seperti seseorang yang telah mendengar pertanyaan bodoh terlalu banyak kali. "Aku bukan pedang, anakku. Aku adalah apa yang tersisa setelah pedang menghabiskan dirinya. Aku adalah... gema. Sesuatu yang tertinggal ketika tubuh dan jiwaku hancur."

Lu Chen menatap bilah di pangkuannya. Tangan-tangannya masih gemetar. "Dan kau ingin... apa?"

"Aku ingin kau mendengarkan."

"Kenapa?"

"Karena kau satu-satunya yang bisa."

Alarm itu masih berbunyi di kejauhan, tapi suaranya mulai berubah. Bukan lagi sirene tunggal-tapi pola. Ritmis. Seperti kode. Seperti pesan yang dikirim bukan melalui suara, tapi melalui getaran.

Lu Chen mengangkat kepalanya. Inkwisitor di atas masih berdiri di tepi lubang, tapi sekarang dia bisa melihat sesuatu yang baru: mata merahnya berkedip. Tidak berkedip seperti mata yang memindai. Berkedip seperti mata yang memproses.

Dan kemudian, Lu Chen merasakannya.

Sesuatu yang dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Bukan dingin udara. Bukan dingin logam. Dingin yang berpikir. Yang mengamati. Yang menyentuh setiap saraf di tubuhnya seperti jari-jari yang memeriksa.

"Jangan bergerak," bisik Xie Wushuang. "Dia sedang mencari jejakku. Jika kau bergerak, dia akan tahu."

Lu Chen tidak bergerak. Bahkan napasnya dia tahan.

Di atas, Inkwisitor itu memiringkan kepalanya. Satu mata merahnya berputar, fokusnya bergeser dari Lu Chen ke pedang di pangkuannya, lalu kembali lagi. Bibir besinya bergerak-gerak, mengeluarkan suara yang terlalu rendah untuk didengar oleh telinga manusia.

Lalu dia berbicara.

"Target utama tidak ditemukan," katanya, suaranya datar. "Sinyal sekunder terdeteksi. Klasifikasi: residu qi kuno. Nilai: rendah. Prioritas: ditunda."

Dia berbalik. Dan menghilang ke dalam kegelapan lorong di atas.

Lu Chen menunggu. Satu detik. Dua. Tiga. Sepuluh.

Baru setelah dia yakin Inkwisitor itu benar-benar pergi, dia menghela napas yang dia tahan. Paru-parunya membakar. Tubuhnya gemetar. Dan di dalam dadanya, dantian yang baru terbangun itu berdenyut-denyut, seperti jantung yang baru belajar berdetak.

"Pintar," kata Xie Wushuang. "Dia memutuskan bahwa kau bukan ancaman. Untuk sekarang."

"Untuk sekarang?"

"Mereka akan kembali. Ketika mereka melakukannya, mereka tidak akan sendirian."

Lu Chen menutup matanya. Pikirannya berputar-putar. Array yang meledak. Kalung yang pecah. Dantian yang terbuka. Pedang yang berbicara. Dan sekarang, Inkwisitor yang memutuskan dia tidak layak dibunuh.

"Kau bilang kau ingin aku mendengarkan," katanya akhirnya, membuka mata. "Aku mendengarkan."

~ Bab 2 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai