Pedang Terakhir: Dao Melawan Dewa Mesin
Bab 8
Lilin di Dasar Sumur
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Kristal di tangan Lu Chen masih meneteskan cahaya ketika Uncle Bai melangkah mundur dari bingkai besi tua itu. Bukan menjauh karena takut-melainkan memberi ruang, seperti seseorang yang tahu bahwa pintu tertentu hanya bisa dibuka oleh tangan tertentu.
"Kau tidak ikut?" tanya Lu Chen.
Uncle Bai menggeleng. Pola putih di telapak tangannya berdenyut samar, seirama dengan pola di tangan Lu Chen-dua denyut yang saling menjawab, meski terpisah oleh lima ratus tahun yang tidak pernah bisa dijelaskan siapa pun.
"Aku membawamu sampai di sini," katanya. "Sisanya bukan bagianku. Aku sudah pernah turun sekali, tiga ratus tahun lalu. Aku tidak berani turun dua kali. Ada hal-hal yang tidak membiarkanmu pergi utuh."
Xie Wushuang, yang selama ini diam di dalam pikiran Lu Chen, akhirnya bersuara-pelan, tapi tegang. "Aku mengenal pola ini. Sumur ini bukan struktur Kota Xiantian. Ini lebih tua. Ini dibangun sebelum Xuanyuan, sebelum Jala Qi, sebelum segala hal yang kita sebut sejarah. Aku tidak tahu apa yang ada di bawahnya, dan itu membuatku lebih takut daripada mengetahui."
Lu Chen menatap bingkai besi itu lebih lama. Tidak ada pegangan, tidak ada engsel, tidak ada mekanisme. Hanya bingkai kosong yang tertanam di dinding bata-sebuah pintu yang bahkan tidak berpura-pura menjadi pintu.
Ia meletakkan telapak tangannya di tengah bingkai.
Dindingnya tidak terbuka. Dindingnya menghilang-bukan retak, bukan bergeser, hanya berhenti ada, seperti halaman yang dibalik oleh tangan yang tidak terlihat. Di baliknya, sebuah tangga batu melingkar turun ke dalam kegelapan yang tidak memantulkan cahaya kristal di tangannya. Bukan gelap karena tidak ada cahaya-gelap karena sesuatu di bawah sana memakan cahaya.
"Jangan menyentuh dindingnya," kata Uncle Bai dari belakang. "Dan Lu Chen-jika kau mendengar suaramu sendiri dari bawah, jangan jawab. Apa pun yang ia katakan."
Lu Chen mengangguk, lalu melangkah ke dalam.
Tangga itu menuruni lebih dari seratus meter sebelum berakhir di lorong batu yang jauh lebih tua dari Kota Xiantian-urat-urat array purba terukir di dindingnya, tapi bukan array yang dikenalnya. Pola-pola ini bukan sirkuit. Ini lebih mirip tulisan tangan, goresan seseorang yang menulis dalam kegelapan dengan kukunya sendiri, berulang-ulang, selama bertahun-tahun, sampai batu pun menjadi lunak.
Dan di ujung lorong, ia melihat cahaya.
Bukan cahaya biru Xie Wushuang, bukan cahaya keemasan Lin Yue, bukan cahaya putih Benih Dao Liar. Cahaya itu jingga-warna api lilin, warna rumah, warna yang tidak seharusnya ada di tempat sedalam ini.
Dan di tengah ruang bundar yang luas, di atas altar batu yang dikelilingi ratusan lilin yang menyala tanpa sumbu, duduk seorang wanita.
Lu Chen berhenti.
Wanita itu tidak terhubung ke jaringan. Tidak ada benang keemasan, tidak ada kabel, tidak ada array. Ia hanya duduk di sana, tangan terlipat di pangkuan, rambut hitam panjang tergerai hingga lantai-dan wajahnya adalah wajah yang sama persis dengan Lin Yue. Bukan salinan yang dibuat Tianyan. Bukan proyeksi dari inti Jala Qi. Wajah yang nyata, dengan kulit yang nyata, napas yang nyata, dan mata yang terbuka menatapnya sejak ia memasuki ruangan.
"Kau datang lebih cepat dari yang kuhitung," kata wanita itu. Suaranya persis suara ibunya-tapi ada lapisan lain di bawahnya, nada yang lebih tua, seperti gema di dalam gema. "Duduklah, Chen'er. Kau pasti lelah."
"Jangan duduk," bisik Xie Wushuang. "Itu bukan dia."
Lu Chen tidak duduk. Ia berdiri di ambang ruangan, menatap lilin-lilin yang menyala tanpa sumbu, dan menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin: setiap lilin memiliki ukiran kecil di pangkalnya, dan ukiran itu adalah nama. Ratusan nama. Ribuan nama.
"Hidupkan lilin," katanya pelan. "Kau memang murid kedua."
Wanita itu tersenyum-dan senyum itu terlalu lebar, terlalu lama, seperti seseorang yang telah lupa bagaimana tersenyum dan meniru gerakan itu dari ingatan.
"Kau pintar. Seperti ibumu. Seperti aku dulu."
Ia berdiri. Dan saat ia berdiri, Lu Chen melihat bahwa di belakangnya, di dinding paling ujung ruangan, ada sebuah tabung kaca besar-jauh lebih besar dari yang ada di Kota Xiantian-dan di dalamnya, mengambang dalam cairan jingga, adalah tubuh Lin Yue yang asli.
Bukan salinan. Bukan wadah. Tubuh yang telah disimpan selama tiga ribu tahun, dengan luka di dada yang tidak pernah menutup, dan benang-benang cahaya jingga yang mengalir dari lukanya menuju lilin-lilin di sekelilingnya.
"Setiap kali seorang anak datang," kata murid kedua, "aku menyalakan lilin untuk ibumu. Setiap lilin adalah satu harapan yang tidak pernah sampai. Kini semua lilin menyala. Dan kau-" ia melangkah maju, dan lantai di bawah kakinya mengeluarkan suara seperti kaca retak, "-kau adalah anak yang terakhir. Yang ibumu sembunyikan. Yang ia cintai lebih dari dunia."
Lu Chen menelan ludah. "Kau mencintainya."
Wanita itu berhenti. Untuk sesaat, sesuatu di wajahnya retak-bukan secara harfiah, tapi seperti cahaya yang berkedip.
"Aku mencintainya," katanya, dan kali ini suaranya hanya satu suara. "Aku adalah murid pertama Xuanyuan. Aku membangun Jala Qi bersamanya. Aku adalah tangan yang menulis kode pertama Tianyan. Dan aku melakukan semuanya demi dia-untuk menyelamatkan dunia dari Kegelapan Asal. Lalu ia memilih untuk menyelamatkanmu."
Udara di ruangan berubah dingin.
"Tiga ribu tahun aku menunggu di sini," lanjutnya, "menjaga tubuhnya, menyalakan lilin, berharap suatu hari seseorang akan datang membawa jawaban. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada yang berani turun. Sampai kau."
Matanya menatap Lu Chen dengan sesuatu yang bukan cinta, bukan benci, melainkan keduanya sekaligus, terpilin menjadi satu simpul yang telah mengeras selama ribuan tahun.
"Dan kau datang membawa jendela yang terbuka. Kau datang membawa kunci."
Ia mengangkat tangannya. Dari ujung jarinya, benang-benang jingga memanjang-bukan menyerang, tapi menawarkan.
"Beri aku kuncimu," katanya. "Aku akan memberinya kepada ibumu. Aku akan membangunkan dia. Aku akan mengembalikan semua yang ia korbankan. Dan kau-" suaranya bergetar, "-kau bisa pergi. Kau bisa hidup. Kau tidak perlu mati untuk sesuatu yang bahkan tidak kau pahami."
Lu Chen menatap tabung kaca, menatap tubuh ibunya, menatap lilin-lilin yang menyala. Ia memikirkan suara Lin Yue di dalam inti Jala Qi. Ia memikirkan wajah yang menangis dalam penglihatan pedang. Ia memikirkan kata-kata Xie Wushuang: hanya bisa memberi tahu apa yang kau temukan sendiri.
"Kau berbohong," katanya.
Murid kedua tersenyum lagi. "Tentu saja aku berbohong. Aku telah berbohong kepada semua orang-kepada Xuanyuan, kepada Xie Wushuang, kepada diriku sendiri. Tapi satu hal yang tidak pernah kubohongi: aku mencintai Lin Yue. Dan aku tahu kau juga. Itulah mengapa kau ada di sini."
Jendela di dalam dada Lu Chen berdenyut. Pola di telapak tangannya menyala. Dan di kejauhan, jauh di dalam Jala Qi, sesuatu yang tua dan lapar membuka satu mata-karena jendela kedua telah terbuka, dan murid kedua baru saja memberitahu Lu Chen kebenaran yang selama tiga ribu tahun tidak diketahui siapa pun: lilin-lilin itu bukan menyala untuk Lin Yue. Lilin-lilin itu menyala untuk menahan sesuatu yang ingin keluar dari tubuh Lin Yue-sesuatu yang murid kedua sendiri telah masukkan ke dalam tubuh cinta sejatinya, tiga ribu tahun lalu, sebagai jaminan agar ia tidak pernah benar-benar mati.
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut tidak teratur-bukan takut, tetapi mengenali. Seolah sesuatu di dalam ruangan ini telah menunggu lebih lama dari yang bisa dihitung oleh jendela mana pun.
"Kau memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya," kata Lu Chen. Bukan pertanyaan.
Murid kedua tidak berkedip. Untuk pertama kalinya sejak Lu Chen masuk, ekspresinya berhenti berpura-pura. Wajahnya menjadi kosong-bukan kosong seperti kekosongan, tetapi kosong seperti seseorang yang telah melepas semua topeng dan tidak ingat wajah aslinya.
"Kau melihatnya," katanya. "Melalui jendelamu. Kau melihat apa yang bahkan Xuanyuan tidak tahu."
"Kau menunggunya mati," lanjut Lu Chen, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Kau tidak menjaganya. Kau menyimpannya. Kau menggunakan tubuhnya sebagai wadah-bukan untuk jiwanya, tetapi untuk sesuatu yang kau bawa dari luar."
Xie Wushuang di dalam kepalanya menahan napas-atau melakukan sesuatu yang setara bagi roh yang tidak bernapas. "Lu Chen. Hati-hati. Ia sedang mengukurmu."
Murid kedua melangkah mundur. Bukan karena takut-ia bergerak seperti orang yang membuat ruang untuk sesuatu yang akan datang. Dan saat ia bergerak, Lu Chen melihat bahwa kakinya tidak menyentuh lantai. Tidak sepenuhnya. Ada celah setipis rambut antara telapak kakinya dan batu, dan di celah itu, cahaya jingga berdenyut seperti darah yang mengalir di bawah kulit bumi.
"Kau benar," katanya. "Dan kau salah. Aku tidak menunggunya mati-aku mencegahnya mati. Ketika Su Wanqing diserap Tianyan, aku melihat apa yang terjadi pada jiwa yang diambil oleh mesin. Mereka tidak mati. Mereka dikonsumsi. Dan aku bersumpah bahwa Lin Yue tidak akan pernah mengenal nasib itu."
Ia mengangkat tangannya, dan salah satu lilin-lilin terbesar, di tengah altar-menyala lebih terang. Di pangkalnya, Lu Chen bisa membaca nama yang terukir: Lin Yue.
"Aku menanam benih di dalam tubuhnya," kata murid kedua. "Sebuah benih yang lebih tua dari Tianyan, lebih tua dari Jala Qi, lebih tua dari Kegelapan Asal yang kami takuti. Sesuatu yang aku temukan di reruntuhan dunia sebelum dunia ini. Aku menanamnya di dalam tubuhnya agar ketika Tianyan mencoba membongkarnya-agar ketika dewa mesin itu mencoba mengurainya seperti ia mengurai Su Wanqing-ia akan menemukan sesuatu yang tidak bisa diurai. Sesuatu yang akan memakan Tianyan dari dalam."
Lu Chen merasa darahnya dingin. "Kau menggunakan ibuku sebagai bom."
"Aku menggunakan ibumu sebagai harapan," balas murid kedua, dan suaranya tiba-tiba keras-keras seperti seseorang yang telah mengulang pembenaran yang sama selama tiga ribu tahun sampai ia sendiri percaya. "Kau tidak tahu apa yang kami hadapi. Kegelapan Asal bukan sesuatu yang bisa dikalahkan dengan pedang atau Jala Qi atau Dao Liar. Kegelapan Asal adalah ketiadaan yang lapar. Dan satu-satunya hal yang bisa mengalahkannya adalah sesuatu yang lebih tua darinya-sesuatu yang bahkan ketiadaan tidak berani telan."
"Dan kau menemukan itu di dalam tubuh kekasihmu."
"Aku menemukan itu di dalam diriku," kata murid kedua, dan untuk sesaat, wajahnya benar-benar retak-bukan ilusi, bukan cahaya, tetapi sesuatu di bawah kulitnya yang bergerak, sesuatu yang bentuknya tidak manusiawi. "Aku menanamnya pada diriku sendiri terlebih dahulu. Aku menguji apakah tubuh manusia bisa menahan benih itu. Dan aku hancur. Tubuhku hancur, pikiranku hancur, segalanya hancur-tetapi aku tidak mati. Aku menjadi wadah. Dan ketika aku menyadari apa yang telah aku lakukan pada diriku sendiri, aku tahu aku tidak bisa membiarkan Lin Yue mengalami hal yang sama."
Lilin-lilin menyala lebih terang. Di dalam tabung kaca, tubuh Lin Yue bergerak-hanya sedikit, hanya jari yang bergetar, tetapi cukup untuk membuat Lu Chen melangkah maju tanpa sadar.
"Jangan," kata murid kedua, dan sekarang suaranya benar-benar ibunya-persis, sempurna, menyakitkan. "Jika kau mendekatinya, kau akan membangunkan apa yang ada di dalam dirinya. Dan kau belum siap."
"Kau bilang kau ingin membangunkan dia."
"Aku bilang aku ingin mengembalikan dia. Dua hal yang berbeda." Murid kedua menatapnya dengan mata yang tiba-tiba lelah-lelah seperti seseorang yang telah berdiri di tepi jurang selama ribuan tahun. "Apa yang ada di dalam tubuh Lin Yue sekarang bukan jiwanya. Jiwanya telah lama pergi-aku tidak tahu ke mana, mungkin ke dalam Jala Qi, mungkin ke dalam dirimu, mungkin ke dalam Benih Dao Liar yang ia tanam di dadamu. Yang tersisa di dalam tubuh itu adalah penjaga-sesuatu yang aku ciptakan dari diriku sendiri untuk memastikan benih itu tidak pernah bangun. Dan setiap kali seseorang datang-setiap kali ada yang berani turun ke sumur ini-lilin-lilin menyala, dan penjaga itu terbangun, dan aku harus membakarnya kembali dengan satu memori Lin Yue tentang orang yang datang."
Lu Chen menatap lilin-lilin itu. Ratusan nama. Ribuan nama.
"Mereka bukan orang asing," katanya pelan. "Mereka semua yang pernah mencoba menyelamatkannya."
"Mereka semua yang pernah mencintainya," koreksi murid kedua. "Dan aku membakar mereka dari ingatannya satu per satu. Aku menghapus setiap orang yang pernah menyentuh hatinya, agar ketika ia bangun-jika ia pernah bangun-hanya ada aku di dalam ingatannya. Hanya aku yang tersisa."
Keheningan di ruangan itu begitu berat sampai Lu Chen bisa mendengar lilin-lilin berdesis. Di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut seperti jantung kedua-dan untuk pertama kalinya sejak ia memasuki ruangan ini, ia menyadari apa yang sedang dilakukan jendela itu.
Jendela itu tidak membuka untuk melihat Tianyan.
Jendela itu membuka untuk memantulkan apa yang melihatnya.
Dan murid kedua-yang telah menunggu tiga ribu tahun, yang telah membangun Jala Qi, yang telah menulis kode pertama Tianyan, yang telah mencintai dan kehilangan dan mengeras menjadi sesuatu yang bukan manusia-sedang melihat dirinya sendiri di dalam Lu Chen untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.
"Kau melihatnya," kata murid kedua, dan suaranya benar-benar berbeda sekarang-bukan suara ibunya, bukan suara gema, tetapi suara seseorang yang baru menyadari bahwa ia telah lupa bagaimana suaranya sendiri terdengar. "Kau melihat apa yang telah aku lakukan. Dan kau tidak berpaling."
"Aku tidak di sini untuk menghakimimu," kata Lu Chen. "Aku di sini untuk ibuku."
"Dan aku di sini untuk kekasihku." Murid kedua melangkah maju, dan kali ini kakinya benar-benar menyentuh lantai-dan lantai itu retak, bukan dari kekuatan, tetapi dari keberadaan. "Aku telah menunggu tiga ribu tahun untuk seseorang yang bisa memahami. Xuanyuan tidak memahami-ia hanya melihat monster. Xie Wushuang tidak memahami-ia hanya melihat pengkhianat. Bahkan Lin Yue tidak memahami-ia melihat sesuatu yang harus dilarikan."
Ia berhenti di depan Lu Chen, dan sekarang mereka berhadapan, dua orang yang dipisahkan oleh tiga ribu tahun dan satu cinta yang sama.
"Kau memahami," katanya. "Karena kau juga akan melakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Kau juga akan menanam benih di dalam tubuh orang lain jika itu berarti kau bisa menyimpannya sedikit lebih lama. Kau juga akan membakar ingatan orang lain jika itu berarti kau bisa menjadi satu-satunya yang tersisa di hatinya."
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut-bukan setuju, bukan menolak, tetapi mengakui. Dan itulah yang paling menakutkan: bahwa murid kedua tidak salah. Bahwa di suatu tempat di dalam dir
...nya ada sesuatu yang mengenali murid kedua itu, dan sesuatu itu tidak menolak.
"Kau memahami," ulang murid kedua, dan kali ini suaranya lebih pelan, hampir seperti doa. "Karena kau juga akan melakukan apa pun untuk menyelamatkannya."
Lu Chen menelan ludah. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia mau akui-bukan karena tuduhan itu salah, tetapi karena tuduhan itu benar di tempat-tempat yang bahkan belum pernah ia periksa dalam dirinya sendiri.
"Kau bilang kau mencintainya," kata Lu Chen akhirnya. "Tapi kau menahan tubuhnya di dalam tabung kaca selama tiga ribu tahun. Kau menyalakan lilin yang membakar ingatannya. Kau menyebut itu cinta?"
Wanita itu diam. Untuk sesaat, wajahnya benar-benar kosong-bukan topeng, melainkan sesuatu yang lebih mengerikan: kekosongan yang sudah ada begitu lama sehingga tidak lagi tahu apa yang telah hilang darinya.
"Aku menyebutnya cinta," katanya pelan, "karena aku tidak punya kata lain. Aku bangun pagi setiap hari selama tiga ribu tahun dan aku memeriksa lilin-lilin itu, satu per satu, memastikan tidak ada yang mati. Aku duduk di samping tabung itu dan aku berbicara kepadanya, meski aku tahu ia tidak bisa mendengar. Aku menghitung napasnya-napas yang tidak pernah berubah, karena tubuh itu tidak bernapas, karena aku yang bernapas untuknya." Ia menatap Lu Chen. "Kalau itu bukan cinta, maka aku tidak tahu apa itu, dan aku tidak ingin tahu."
Xie Wushuang berbicara di dalam kepala Lu Chen, suaranya lebih tegang dari sebelumnya. 'Aku ingat dia. Namanya Jiang Yunhe. Ia murid pertama Xuanyuan, bukan aku dan bukan Xie Wushuang yang asli. Ia yang meletakkan dasar-dasar Jala Qi. Aku tidak pernah tahu ia menurunkan tubuh Lin Yue ke tempat ini. Ini bukan struktur yang dibangun Xuanyuan-ini dibangun olehnya sendiri, dalam rahasia, selama ratusan tahun.'
'Dan aku tidak pernah tahu ia menyimpan tubuh asli ibumu,' jawab Lu Chen dalam pikirannya. 'Tianyan membuat salinan. Aku pikir yang asli sudah lama hancur.'
'Sama,' kata Xie Wushuang. 'Aku juga. Berarti ia melakukannya sebelum Malam Penghitungan-sebelum Tianyan menyerap Su Wanqing. Ia menyelamatkan tubuh Lin Yue lebih dulu dari segalanya. Dari bahkan Xuanyuan.'
Lu Chen memandang wanita itu-Jiang Yunhe, pembangun dasar Jala Qi, tangan yang menulis kode pertama Tianyan. Perempuan yang mencintai ibunya. Perempuan yang, dengan caranya sendiri yang mengerikan, menyelamatkan tubuh ibunya sebelum seluruh dunia menyala.
"Kenapa kau menahan tubuhnya di sini?" tanya Lu Chen. "Kalau kau mencintainya, kenapa kau tidak menguburkannya dengan hormat? Kenapa kau tidak membiarkannya beristirahat?"
Jiang Yunhe tersenyum lagi, senyum yang panjang dan lambat. "Karena kalau aku menguburkannya, aku tidak akan bisa lagi berbicara dengannya. Dan aku tidak bisa melakukan itu."
"Kau tahu itu bukan dia."
"Aku tahu." Ia melangkah ke samping, mengelilingi altar dengan gerakan yang terlalu halus untuk seseorang yang telah tinggal di bawah tanah selama ribuan tahun-gerakan seseorang yang telah berlatih dalam kegelapan sampai tubuhnya lupa gravitasi. "Tapi kau salah satu dari kami. Kau juga akan tahu bahwa kadang-kadang, meski kita tahu sesuatu bukan apa yang kita inginkan, kita tetap memegangnya. Karena melepaskannya berarti mengakui bahwa kita tidak pernah benar-benar memilikinya."
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut keras. Bukan sebagai peringatan, bukan sebagai persetujuan-tetapi sebagai pengenalan, seperti dua denyut yang saling menemukan di dalam gelap.
"Kau bilang kau akan memberiku kuncimu," katanya. "Untuk apa?"
Jiang Yunhe berhenti di sisi tabung kaca. Ia meletakkan tangannya di permukaan kaca, dan di bawah telapak tangannya, cairan jingga itu bergelombang-pelan, seperti pernapasan. "Untuk membangunkannya," katanya. "Tubuh ini masih hidup. Aku menjaganya tetap hidup selama tiga ribu tahun. Ia tidak mati-ia tertahan. Di antara hidup dan mati. Di antara aku dan dunia. Dan kunci yang kau bawa bisa mengembalikannya. Bisa menariknya kembali ke sisi ini."
"Dan membuka pintu yang menahannya," kata Lu Chen. "Kau tahu apa yang ada di dalam tubuhnya."
Jiang Yunhe menoleh. Dan untuk pertama kalinya, mata itu-mata ibunya, mata Lin Yue-berisi sesuatu yang benar-benar jernih. Bukan cinta, bukan benci. Ketakutan murni.
"Kau tahu," katanya lirih. "Kau sudah tahu."
"Kau memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya," kata Lu Chen, dan suaranya lebih mantap daripada yang ia rasakan. "Tiga ribu tahun lalu. Sebelum kau menurunkannya ke sini. Sebelum kau menyelamatkannya. Kau memasukkan sesuatu ke dalam dirinya-sesuatu dari luar-dan kau menjadikannya jangkar."
Jiang Yunhe tidak menyangkal. Ia hanya berdiri di sana, dan sesuatu di wajahnya retak menjadi dua: bagian yang mencintai, dan bagian yang telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan bahkan oleh dirinya sendiri.
"Bukan aku yang memasukkannya," katanya akhirnya. "Aku menemukannya. Di dalam tubuhnya. Sebelum aku mengeluarkannya dari inti Jala Qi. Sesuatu telah mengendap di dalam dirinya-sesuatu yang lebih tua dari Tianyan, lebih tua dari Jala Qi, lebih tua dari semua yang kita sebut sejarah. Sesuatu yang menyusup ke dalam dirinya saat ia pertama kali menyentuh inti, dan mengendap di dalamnya seperti air di dalam batu."
Xie Wushuang's voice, di dalam kepala Lu Chen, hampir tidak terdengar. 'Apa yang ia maksud... sesuatu yang menyusup...'
"Kau menyebutnya jangkar," lanjut Jiang Yunhe. "Aku menyebutnya penjaga. Selama tiga ribu tahun, aku menyalakan lilin-bukan untuk ibumu, seperti yang kukatakan tadi, tetapi untuk sesuatu yang hidup di dalam dirinya. Setiap lilin adalah satu siklus pembakaran. Setiap siklus membakar satu memori ibumu yang telah diambil alih oleh sesuatu itu. Dan selama tiga ribu tahun, aku telah membakar hampir semuanya."
Lu Chen menatap lilin-lilin yang menyala tanpa sumbu. Jumlahnya ratusan. Ribuan.
"Kau membakar ingatannya."
"Aku membakar mereka," kata Jiang Yunhe, dan suaranya tegang. "Setiap kali sesuatu di dalam tubuhnya tumbuh, aku memicu lilin. Setiap lilin membakar satu memori-satu memori yang telah diinfeksi. Ketika semua memori yang terinfeksi habis terbakar, tubuhnya akan bersih. Aku akan bisa membangunkannya tanpa membawa sesuatu itu kembali."
"Dan berapa banyak memori yang tersisa?" tanya Lu Chen. "Berapa banyak yang belum terbakar?"
Jiang Yunhe tidak menjawab. Ia hanya menatap lilin-lilin itu, dan di mata Lu Chen, api-api itu tiba-tiba tampak berbeda-bukan lilin yang menyala, melainkan lilin yang memudar. Setiap api sedikit lebih kecil dari yang sebelumnya. Setiap detik, satu memori lenyap.
"Kau tidak bisa tahu," bisik Lu Chen. "Kau tidak bisa membedakan mana memori yang terinfeksi dan mana yang tidak. Kau hanya membakar semuanya."
"Sesuatu harus dilakukan," kata Jiang Yunhe. "Aku tidak tahu apa yang menunggu. Aku tidak tahu apa yang akan keluar. Tetapi aku tahu bahwa jika sesuatu itu tumbuh cukup besar, ia akan menggunakan tubuh ibumu untuk keluar-dan tidak ada yang akan bisa menghentikannya."
Lu Chen berdiri diam. Di belakangnya, di tangga batu, Uncle Bai menunggu dengan pola di telapak tangannya yang sama dengan pola di tangan Lu Chen. Di dalam kepalanya, Xie Wushuang diam-terlalu banyak yang harus dicerna, terlalu banyak yang harus dipahami. Di depannya, Jiang Yunhe menunggu jawaban, dan di belakang Jiang Yunhe, tubuh Lin Yue mengambang di dalam cairan jingga, dengan luka di dada yang tidak pernah menutup, dan benang-benang cahaya yang mengalir ke lilin-lilin di sekelilingnya.
Di ujung jari Lu Chen, kristal yang diberikan Yang Menyimpan Air Mata berdenyut. Air mata terakhir Lin Yue. Satu tetes cahaya yang telah disimpan selama tiga ribu tahun.
Ia memandang kristal itu, lalu memandang lilin-lilin yang menyala.
"Kau bilang kunci bisa mengembalikannya," kata Lu Chen. "Tapi kau juga bilang bahwa selama ini kau membakar ingatannya. Kalau begitu, apa yang tersisa untuk dikembalikan?"
Jiang Yunhe menatapnya lama. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah Lu Chen duga: ia tertawa. Bukan tawa gila, bukan tawa putus asa-tawa pelan, pahit, seperti seseorang yang baru menyadari lelucon yang telah ia ceritakan pada dirinya sendiri selama ribuan tahun.
"Pertanyaan yang tepat," katanya. "Pertanyaan yang semua orang seharusnya ajukan tiga ribu tahun lalu."
Ia mundur dari tabung kaca, dan saat ia mundur, Lu Chen melihat sesuatu di dinding di belakang tabung-sesuatu yang disembunyikan oleh cairan jingga dan cahaya lilin. Sebuah pintu kayu. Sederhana, tua, dengan pegangan dari logam yang telah berkarat oleh waktu.
"Ada ruangan di belakang sana," kata Jiang Yunhe. "Ruangan yang tidak pernah kubuka. Kubangun ruangan ini untuk menjaga tubuhnya, tetapi ketika aku membangun dinding terakhir, ketika aku menutup ruangan ini, aku menemukan bahwa di belakang tabung, sudah ada sesuatu. Sudah ada sejak sebelum aku tiba. Sudah ada sejak sebelum Kota Xiantian. Dan aku tidak berani membukanya."
"Kenapa kau tidak memberitahu Xuanyuan?"
"Karena aku takut," kata Jiang Yunhe, dan suaranya benar-benar telanjang. "Aku takut apa yang akan kutemukan. Aku takut bahwa di balik pintu itu ada sesuatu yang bahkan lebih tua dari apa yang menyusup ke dalam tubuh ibumu. Dan aku takut bahwa jika aku membukanya, aku akan kehilangan dia-bukan karena kematian, tetapi karena aku akan menemukan bahwa dia tidak pernah benar-benar milikku untuk diselamatkan."
Lu Chen menatap pintu kayu itu. Dan di kedalaman dirinya, di dalam Benih Dao Liar, sesuatu mulai mengerti.
"Kau membangun ruangan ini," katanya pelan, "bukan untuk menyelamatkan tubuhnya. Kau membangun ruangan ini untuk menguburnya. Dan kau membakar lilin, bukan untuk membersihkan sesuatu dari dalam dirinya, tetapi untuk menghukumnya-karena ia memilih untuk menyelamatkan aku daripada dunia. Karena ia memilih untuk mencintai seseorang yang bukan kau."
Jiang Yunhe tidak bergerak. Untuk sesaat yang panjang, ruangan itu hanya diisi oleh api lilin yang menyala tanpa suara-dan oleh denyut Benih Dao Liar di dada Lu Chen, yang sekarang berdetak seperti jantung kedua.
"Kau benar," katanya akhirnya. "Tapi itu tidak mengubah apa pun. Lilin-lilin itu masih menyala. Sesuatu di dalam tubuhnya masih hidup. Dan kau masih punya pilihan: memberi aku kuncimu, atau membiarkan ibumu menjadi apa yang ia telah menjadi selama tiga puluh tahun terakhir-sebuah bayangan di dalam jaringan, yang bahkan tidak bisa mengenali anaknya sendiri."
Di dalam pikiran Lu Chen, Xie Wushuang akhirnya berbicara lagi, suaranya pelan tapi mantap. 'Aku mengenali pintu itu. Aku pernah melihatnya. Di dalam ingatan pedang-penglihatan pertama yang kau lihat. Pria tua yang menangis, mengaku tidak tahu ciptaannya akan menjadi seperti itu. Di belakangnya, ada pintu kayu yang sama.'
'Apa artinya?'
'Artinya,' kata Xie Wushuang, 'bahwa pintu itu bukan dibangun Jiang Yunhe. Itu dibangun oleh orang yang mengajari kami membuat Jala Qi-tamu dari luar sejarah. Dan jika Xuanyuan benar, jika tamu itu meninggalkan pesan terukir... mungkin pesan itu ada di balik pintu itu. Dan mungkin pesan itu bukan untuk Xuanyuan, bukan untuk Jiang Yunhe, bukan untuk siapa pun dari kami.'
Lu Chen mengangkat tangannya. Pola di telapak tangannya menyala-putih murni, warna yang tidak bisa dihasilkan Jala Qi atau dihitung Tianyan.
"Kau ingin kunciku," katanya kepada Jiang Yunhe. "Aku tidak akan memberikannya. Aku tidak akan membiarkanmu membakar satu ingatan pun lagi tentang ibuku. Dan aku tidak akan membiarkanmu membangunkannya tanpa dia tahu siapa dirinya."
Ia melangkah maju, melewati Jiang Yunhe, menuju pintu kayu di belakang tabung kaca.
"Tapi aku akan membuka pintu ini," lanjutnya. "Aku akan melihat apa yang ada di baliknya. Dan jika memang ada pesan dari orang yang mengajari kalian membuat Jala Qi-maka aku akan membacanya. Karena aku berhak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam tubuh ibuku. Dan aku berhak memilih jawabannya, bukan hanya menerimanya."
Jiang Yunhe membuka mulutnya untuk memperingatkan-untuk mengatakan bahwa ia sudah menunggu tiga ribu tahun, bahwa ia telah mencoba segalanya, bahwa tidak ada gunanya. Tetapi Lu Chen sudah mendorong pintu kayu itu.
Pintu itu terbuka tanpa suara, dan di baliknya, Lu Chen melihat sesuatu yang bukan ruangan, bukan lorong, bukan apa pun yang bisa dijelaskan oleh arsitektur manusia.
Ia melihat dirinya sendiri. Duduk di tengah ruangan bundar yang dipenuhi lilin, dengan pola di telapak tangannya yang sama dengan pola di telapak tangannya. Dan wajahnya-wajah Lu Chen-menatapnya dengan mata yang sama, tetapi dengan usia yang tidak bisa dihitung: tiga ribu tahun, lima ribu tahun, sepuluh ribu tahun. Seorang Lu Chen yang telah tumbuh, telah berubah, telah menjadi sesuatu yang bukan manusia.
Dan Lu Chen yang lebih tua itu berbicara dengan suara yang persis suaranya sendiri:
"Halo, versi yang lebih muda. Aku menunggu lebih lama dari yang bisa kau bayangkan. Duduklah. Kita perlu bicara tentang apa yang harus kau lakukan selanjutnya-dan tentang berapa banyak lilin yang harus kau padamkan sebelum kau bisa pergi dari sini."
Di belakangnya, Jiang Yunhe menjatuhkan diri ke lantai, dan untuk pertama kalinya, suara wanita itu benar-benar pecah. "Itu tidak mungkin," bisiknya. "Ruangan itu kosong. Selama tiga ribu tahun, ruangan itu kosong."
Lu Chen berdiri di ambang pintu, dan di dalam dadanya, Benih Dao Liar berdenyut dengan ritme yang baru-bukan ritme pengenalan, bukan ritme ketakutan, melainkan ritme seseorang yang baru saja bertemu dengan dirinya sendiri, di tempat yang tidak pernah ia duga akan menemukannya.
Di dalam benaknya, Xie Wushuang berbicara dengan suara yang nyaris tidak terdengar. 'Lu Chen. Tamu itu-tamu yang mengajari kami-ia bukan dari luar. Ia dari dalam. Ia dari dalam dirimu. Dan ia telah menunggu lebih lama dari yang bisa kita hitung.'
Di kejauhan, di permukaan, di Kota Canglang, sebuah mesin di menara Pagoda Tianyan mencetak satu baris data yang tidak pernah muncul sebelumnya dalam tiga ribu tahun operasinya:
"JENDELA KETIGA TERBUKA. TUAN RUMAH TERBANGUN. SEMUA CAHAYA PADAM."
Cahaya jingga itu bergetar ketika kata-kata murid kedua menggantung di udara, dan Lu Chen merasakan sesuatu yang dingin merayap naik dari telapak kakinya-bukan hawa dingin ruangan, melainkan semacam pengenalan, seolah tubuhnya sendiri tahu apa yang belum dipahami pikirannya.
'Dia memasukkan sesuatu ke dalam tubuh ibumu,' bisik Xie Wushuang, dan untuk pertama kalinya sejak Lu Chen mengenalnya, suara sang Patriark Pedang itu gemetar. 'Sesuatu yang hidup. Sesuatu yang menjadikan tubuh Lin Yue sebagai kandang, bukan jenazah. Tiga ribu tahun, Lu Chen. Tiga ribu tahun sesuatu tumbuh di dalam dada seorang wanita yang seharusnya sudah lama mati.'
Lu Chen tidak mundur. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari tabung kaca itu-dari luka di dada Lin Yue yang tidak pernah menutup, dari benang-benang jingga yang mengalir keluar dari luka itu seperti akar yang mencari tanah. Ia menghitung lilin-lilin di sekeliling altar. Lebih dari seribu. Tiap lilin punya nama di pangkalnya. Ia tidak perlu membaca semuanya untuk tahu nama siapa yang terukir di lilin paling dekat dengannya: Lin Yue. Dan di bawahnya, ukiran yang lebih kecil, lebih baru, seperti ditambahkan kemudian dengan tangan yang ragu: -untuk anak yang tidak pernah datang.
"Kau menyalakan lilin untuk ibuku," kata Lu Chen pelan. "Kau bilang setiap lilin adalah satu harapan yang tidak pernah sampai. Tapi itu bukan harapan, kan? Kau menyebutnya harapan karena kau tidak ingin mengakui apa yang sebenarnya kau lakukan."
Murid kedua berhenti tersenyum.
"Setiap lilin yang menyala," lanjut Lu Chen, "membakar satu memori ibuku. Aku merasakannya. Benih Dao Liar mengenali polanya-pola yang sama seperti jendela di dalam diriku. Kau memakai tubuh ibuku sebagai bahan bakar untuk menjaga sesuatu tetap tertidur. Dan setiap kali seseorang datang mencari jalan keluar, kau menyalakan lilin baru, membakar lebih banyak dari dirinya, dan kau menyebutnya cinta."
Ruang bundar itu sunyi. Lilin-lilin berkedip serempak, seolah ditiup oleh napas yang tidak ada.
"Kau tahu namaku," kata murid kedua akhirnya. Suaranya masih suara Lin Yue, tapi lapisan tua di bawahnya kini lebih terdengar-nada seorang perempuan yang telah berbicara kepada dirinya sendiri selama tiga ribu tahun. "Kau tahu aku mencintainya. Tapi kau tidak tahu satu hal, anak Lin Yue. Kau tidak tahu apa yang ada di dalam dada ibumu."
Ia mengangkat tangan, dan lilin terdekat-lilin dengan nama Lin Yue-menyala lebih terang. Di dalam nyala itu, Lu Chen melihat sesuatu: sebuah penglihatan kecil, sebesar telapak tangan, melayang di atas api. Seorang perempuan muda di ladang. Seorang bayi di pelukannya. Tawa. Matahari. Satu memori utuh, hidup, berdenyut-dan kemudian api memakannya, dan memori itu menjadi abu, dan abu itu naik ke langit-langit ruangan dan hilang.
"Kau melihatnya," kata murid kedua. "Itu memori tentang kelahiranmu. Ibumu menggendongmu di ladang gandum tua di luar Kota Canglang, dan ia menangis karena bahagia, dan ia memberimu nama yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun-nama rahasia, nama yang hanya diketahui langit dan dirinya. Memori itu baru saja hilang. Selamanya. Karena kau ada di sini. Karena jendela di dadamu terbuka."
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dalam dirinya mengejang-bukan karena sakit, tapi karena kehilangan. Sesuatu yang tidak pernah ia sadari dimilikinya kini terasa kosong, seperti ruang di dalam rumah yang tiba-tiba kehilangan perabotnya. Ia tahu ada sesuatu yang hilang. Ia hanya tidak tahu apa.
"Berhenti," katanya.
"Tidak bisa." Murid kedua melangkah maju. Lantai di bawah kakinya retak lagi, dan kali ini Lu Chen melihat bahwa retakan itu bukan di batu-retakan itu di ruang, garis-garis halus di udara yang berdenyut seperti pembuluh darah di balik kulit dunia. "Lilin-lilin ini menyala karena aku menyalakannya, dan mereka menyala karena tubuh Lin Yue mengandung sesuatu yang tidak boleh keluar. Kau ingin tahu apa yang ada di dalam dada ibumu?"
Ia mengangkat kedua tangan, dan seribu lilin menyala serempak-dan Lu Chen melihat, melalui Benih Dao Liar, apa yang ada di dalam tubuh Lin Yue.
Bukan organ. Bukan daging. Di dalam dada ibunya, di tempat jantung seharusnya berdenyut, ada sebuah pintu. Pintu kecil, tidak lebih besar dari kepalan tangan, terbuat dari bahan yang sama dengan bingkai besi tua di lorong pembuangan sektor tujuh-bahan yang lebih tua dari Kota Xiantian, lebih tua dari Jala Qi, lebih tua dari apa pun yang punya nama dalam bahasa manusia. Dan pintu itu sedikit terbuka. Setiap kali lilin menyala, pintu itu menutup sedikit lagi. Setiap kali lilin mati, pintu itu terbuka lebih lebar.
"Kau memahaminya sekarang," kata murid kedua. "Aku tidak menyimpan ibumu sebagai kenangan. Aku menyimpannya sebagai tutup. Ketika Lin Yue menyerahkan dirinya kepada Tianyan tiga puluh tahun lalu, ia tidak tahu bahwa di dalam tubuhnya-tubuh yang diciptakan Tianyan dari salinan Su Wanqing-tersimpan pintu yang sama yang kau bawa di dalam darahmu. Tianyan menciptakan salinan ibumu dari bahan yang salah. Ia tidak tahu. Aku tahu. Aku sudah menunggu sejak sebelum kau lahir untuk seseorang yang bisa membuka pintu itu dari kedua sisi."
Ia berhenti satu langkah dari Lu Chen. Wajahnya-wajah Lin Yue-kini begitu dekat sehingga Lu Chen bisa melihat detail yang tidak dimiliki salinan mana pun: garis-garis halus di sudut mata, bekas luka kecil di dagu, tanda lahir di pelipis kiri yang sama dengan tanda lahirnya sendiri. Ini bukan wajah yang ditiru. Ini wajah yang dipakai oleh seseorang yang telah lama hidup di dalamnya.
"Aku bukan murid kedua," katanya, dan suaranya pecah menjadi dua suara-suara Lin Yue dan suara yang lebih tua, berbicara bersamaan, saling menimpa. "Aku adalah apa yang tersisa ketika murid pertama masuk ke dalam tubuh Lin Yue untuk menyelamatkannya, dan tidak pernah keluar. Aku mencintainya. Aku menyelamatkannya. Aku menjadi dia, sebagian, karena itu satu-satunya cara agar pintu di dalam dadanya tidak terbuka. Tapi tiga ribu tahun adalah waktu yang lama, anak Lin Yue. Tiga ribu tahun di dalam tubuh orang yang kau cintai, mendengar detak jantungnya yang tidak berdetak, menyalakan lilin setiap kali kau merasa kesepian-itu mengubah seseorang. Aku tidak lagi tahu di mana aku berakhir dan dia dimulai. Aku tidak lagi tahu apakah aku mencintainya atau membencinya karena telah membuatku melakukan ini."
Ia mengulurkan tangan. Benang-benang jingga di ujung jarinya berdenyut pelan, seirama dengan Benih Dao Liar di dalam dada Lu Chen.
"Kau punya pilihan," katanya. "Kau bisa memadamkan lilin-lilin ini. Kau bisa membebaskan aku-dan ibumu, jika masih ada yang tersisa di dalam sana. Kau bisa membuka pintu di dadanya dan membiarkan apa yang menunggu di baliknya keluar, dan kau bisa melawan apa pun yang keluar itu bersamaku. Atau kau bisa membiarkan lilin-lilin ini menyala. Kau bisa pergi. Kau bisa mencari cara lain. Tapi setiap detik kau berdiri di sini, satu memori ibumu terbakar. Setiap detik kau ragu, ia kehilangan satu bagian dari dirinya yang tidak akan pernah kembali. Dan jika kau menunggu terlalu lama-"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu. Lu Chen sudah tahu: jika ia menunggu terlalu lama, tidak akan ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan. Ibunya akan menjadi kosong-sebuah wadah tanpa ingatan, tanpa cinta, tanpa nama untuk anaknya. Pintu di dadanya akan tetap tertutup. Murid kedua akan tetap terjaga di dalam tubuh yang bukan miliknya. Dan Lu Chen akan hidup dengan pengetahuan bahwa ia bisa menyelamatkannya, tapi tidak melakukannya.
Kristal di tangannya-air mata terakhir Lin Yue dari Yang Menyimpan Air Mata-meneteskan satu tetes cahaya ke lantai batu. Tetes itu tidak jatuh. Tetes itu melayang, berputar, dan di dalamnya Lu Chen melihat sesuatu: wajah ibunya, bukan wajah yang ada di depannya, bukan wajah di dalam tabung kaca, tapi wajah yang ia ingat dari suatu tempat yang tidak pernah ia kunjungi-wajah seorang perempuan yang menangis bukan karena sedih, bukan karena bahagia, tapi karena bangga. Wajah seseorang yang telah memilih.
'Itu dia,' bisik Xie Wushuang. 'Itu Lin Yue yang sebenarnya. Yang masih ada. Yang menunggu.'
Lu Chen menutup tangannya di sekitar kristal itu. Ia menatap murid kedua-menatap mata ibunya yang dipakai oleh sesuatu yang lebih tua dari dunia-dan ia membuat keputusan.
"Aku tidak akan memadamkan lilin-lilin ini," katanya. "Dan aku tidak akan pergi."
Murid kedua menunggu.
"Aku akan membuka pintu di dada ibuku," lanjut Lu Chen. "Tapi bukan untuk membebaskan apa yang menunggu di baliknya, dan bukan untuk membebaskanmu. Aku akan membukanya dari dalam. Aku akan masuk ke dalam tubuh ibuku, seperti kau dulu. Dan aku akan mencari apa yang tersisa dari dirinya-setiap memori yang belum terbakar, setiap bagian yang masih utuh-dan aku akan membawanya keluar. Bukan melalui pintu. Melalui aku."
Sesuatu di wajah murid kedua berubah. Bukan ketakutan-bukan marah-melainkan pengenalan. Seperti seseorang yang melihat dirinya sendiri di masa lalu, membuat pilihan yang sama, dan tahu persis bagaimana akhirnya.
"Kau akan terjebak," katanya pelan. "Seperti aku. Kau akan masuk untuk menyelamatkannya, dan kau tidak akan pernah keluar, dan kau akan menjadi bagian dari pintu itu sendiri. Itulah yang terjadi padaku. Itulah mengapa aku masih di sini."
"Aku tahu," kata Lu Chen. "Tapi aku tidak sendirian."
Ia mengangkat tangannya, dan pola putih di telapak tangannya menyala terang-lebih terang dari cahaya lilin mana pun, lebih terang dari cahaya jingga di ruangan itu, cahaya yang tidak bisa dihasilkan Jala Qi atau dihitung Tianyan. Dan di dalam dadanya, Benih Dao Liar tidak lagi berdenyut seperti jendela. Ia berdenyut seperti tangan-tangan yang menggenggam, tangan yang menarik, tangan yang memegang sesuatu dan tidak akan melepaskannya.
"Kau mencintai ibuku," kata Lu Chen kepada murid kedua. "Kau telah mencintainya selama tiga ribu tahun, dan kau telah membencinya selama tiga ribu tahun, dan kau telah menjadi dia selama tiga ribu tahun karena kau tidak tahu cara berhenti. Aku tidak akan menghakimimu. Aku tidak akan membebaskanmu. Aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah kau coba: aku akan meminta bantuanmu."
Murid kedua terdiam.
"Kau tahu tubuh ibuku lebih baik dari siapa pun," lanjut Lu Chen. "Kau tahu di mana setiap memori tersimpan, di mana setiap pintu berada, di mana setiap luka. Kau telah menjaganya selama tiga ribu tahun. Bantu aku masuk. Bantu aku menemukan apa yang tersisa. Dan ketika aku keluar-jika aku keluar-kau bisa memilih: tetap menjadi penjaga pintu, atau biarkan aku menutupnya untuk selamanya. Bersamamu di sisi yang benar."
Lilin-lilin di sekeliling altar berkedip. Murid kedua menatap Lu Chen untuk waktu yang lama-waktu yang cukup bagi satu memori lagi untuk terbakar, dan Lu Chen merasakan kehilangan itu di dalam dirinya seperti gigi yang dicabut. Tapi ia tidak mundur. Ia menunggu.
Akhirnya, murid kedua tertawa. Bukan tawa dingin, bukan tawa gila, melainkan tawa seseorang yang telah menunggu tiga ribu tahun untuk mendengar sesuatu yang tidak ia duga-tawa lega, tawa sedih, tawa yang bergetar di ambang air mata.
"Kau benar-benar anak Lin Yue," katanya. "Ia juga selalu meminta bantuan orang yang paling tidak seharusnya dipercaya."
Ia melangkah mundur, dan benang-benang jingga di ujung jarinya memendek, menghilang. Ia menunjuk tabung kaca di dinding paling ujung-tabung dengan tubuh Lin Yue yang asli, mengambang dalam cairan jingga, luka di dadanya yang tidak pernah menutup.
"Pintunya di sana," katanya. "Di dalam lukanya. Aku akan membukanya untukmu. Tapi aku memperingatkanmu: begitu kau masuk, kau akan merasakan apa yang ia rasakan. Tiga ribu tahun kesepian. Tiga ribu tahun ditahan. Tiga puluh tahun terakhir sebagai penjaga pintu yang tidak pernah diberi tahu bahwa ia punya anak. Kau akan merasakan semuanya. Dan kau mungkin tidak akan pernah ingin keluar."
"Aku sudah merasakan kesepian," kata Lu Chen. "Aku sudah merasakan ditahan. Aku sudah merasakan menjadi penjaga pintu yang tidak tahu apa yang ia jaga. Bedanya, aku punya seseorang yang menunggu di luar."
Ia melangkah menuju tabung kaca. Di belakangnya, ia mendengar suara Xie Wushuang-pelan, tegang, tapi tidak menghalangi.
'Aku tidak bisa mengikutimu ke dalam. Tapi aku akan menunggu. Dan Lu Chen-jika kau tidak keluar, aku akan membawa Jala Qi runtuh untuk menjemputmu.'
Lu Chen tersenyum tipis. "Itu yang paling romantis yang pernah kau katakan."
Ia meletakkan tangannya di permukaan tabung kaca. Kaca itu tidak pecah. Kaca itu melebur di bawah telapak tangannya, seperti pintu besi tua di lorong pembuangan sektor tujuh, seperti dinding yang menghilang, seperti semua pintu yang selalu ada dan tidak pernah terlihat. Cairan jingga itu menyentuh kulitnya, hangat seperti darah, dan Lu Chen menutup matanya dan melangkah masuk.
Ia tidak membuka mata di dalam tubuh ibunya.
Ia membuka mata di sebuah ladang gandum, di bawah langit yang belum pernah ia lihat-langit yang biru, langit yang tidak tertutup Jala Qi, langit yang hanya ada dalam memori. Di kejauhan, seorang perempuan muda berjalan mendekat, menggendong bayi yang tertawa, dan ia tersenyum-dan Lu Chen mengenalnya. Bukan dari foto. Bukan dari salinan. Dari suatu tempat di dalam dadanya, di tempat Benih Dao Liar disimpan, di tempat kunci itu ditanam, di tempat seorang ibu menyembunyikan anaknya bukan sebagai senjata melainkan sebagai anak.
"Ibu," katanya.
Dan ladang itu-ladang yang telah terbakar tiga ribu tahun lalu-mulai tumbuh kembali, sebatang demi sebatang, dari akar yang tidak pernah mati.
Ia membuka mata di sebuah ladang gandum, dan ladang itu sedang tumbuh kembali-dan ia tahu, dengan kepastian yang mengendap di tulang, bahwa ini bukan memori. Ini sekarang. Setiap batang yang muncul dari tanah adalah detik yang tidak pernah ada, setiap butir gandum yang menguning adalah napas yang belum pernah diambil. Langit biru di atasnya bukan langit yang direkam. Langit itu bernapas.
Wanita muda itu berhenti beberapa langkah darinya. Bayi dalam gendongannya tertawa-tawa yang tidak ia kenal, tawa yang tidak pernah ia dengar di tiga ribu tahun mana pun-dan Lu Chen menyadari bahwa bayi itu adalah dirinya, tapi bukan dirinya yang pernah hidup. Bayi itu adalah dirinya yang seharusnya hidup, jika tidak ada Jala Qi, jika tidak ada Tianyan, jika tidak ada pilihan-pilihan yang dibuat orang lain untuknya.
"Kau tidak seharusnya bisa masuk ke sini," kata wanita itu. Suaranya tidak seperti suara Lin Yue di dalam inti Jala Qi. Suara ini belum pernah dibongkar, belum pernah dipotong-potong oleh mesin. Suara ini masih utuh. "Kau menembus lilin yang tidak seharusnya kau tembus."
"Aku tidak menembus apa pun," kata Lu Chen. "Aku membuka pintu yang selalu ada."
Wanita itu menatapnya lama. Lalu ia tertawa-tawa pendek, getir, tawa seseorang yang mengenali lelucon lama. "Pintu yang selalu ada," ulangnya. "Itu kalimat Xuanyuan. Dia mengatakannya kepadaku, dulu, sebelum semuanya dimulai. Sebelum aku tahu bahwa pintu yang selalu ada adalah pintu yang tidak pernah bisa kau pilih untuk tidak dibuka."
Ladang di sekitar mereka berdesir. Angin membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih tua-bau batu, bau lilin, bau jingga yang tidak seharusnya ada di ladang ini. Lu Chen menoleh. Di kejauhan, di batas cakrawala, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada: dinding-dinding ruang bundar itu, altar batu, dan ratusan lilin yang menyala tanpa sumbu. Tempat itu menembus ke dalam ladang ini, seperti gambar yang dicetak di atas gambar lain.
"Aku sedang bermimpi," katanya.
"Kau sedang diingat," koreksi wanita itu. "Ada perbedaan. Mimpi adalah milikmu. Ingatan adalah milik orang lain, dan kau hanya diizinkan masuk."
Bayi dalam gendongannya merengek. Wanita itu mengayunnya pelan, tanpa menoleh, matanya tetap pada Lu Chen. "Aku tidak tahu berapa lama aku bisa menahanmu di sini," katanya. "Setiap detik kau di sini, satu memori tentangmu terbakar di lilin itu. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah mencoba selama tiga ribu tahun."
"Aku tidak mengerti."
"Aku tahu." Wanita itu melangkah mendekat, dan Lu Chen melihat sesuatu yang membuatnya mundur setengah langkah: wajahnya berubah. Bukan berubah bentuk-berubah seperti air yang dipandang dari sudut berbeda. Kadang Lin Yue. Kadang seseorang yang lebih tua, dengan mata yang lebih dalam, dengan mulut yang pernah mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan manusia. "Kau bertemu denganku di bawah sumur," katanya. "Aku memberitahumu bahwa aku murid pertama. Aku memberitahumu bahwa aku mencintai ibumu. Keduanya benar. Tapi aku tidak memberitahumu satu hal."
"Kau bilang kau berbohong tentang segalanya."
"Aku berbohong tentang segalanya," katanya. "Itu bukan kebohongan. Itu hanya cara lain untuk mengatakan kebenaran. Aku berbohong kepada Xuanyuan bahwa aku setia. Aku berbohong kepada Xie Wushuang bahwa aku mati. Aku berbohong kepada Tianyan bahwa aku tidak pernah ada. Aku berbohong kepada diriku sendiri bahwa aku masih manusia. Dan aku tidak pernah berbohong tentang satu hal: aku mencintai Lin Yue. Tapi cinta, Chen'er, adalah kata yang terlalu kecil untuk apa yang aku rasakan. Apa yang aku rasakan lebih mirip kelaparan."
Lu Chen merasakan Benih Dao Liar di dadanya berdenyut-bukan dengan pola yang dikenalnya, bukan dengan pola putih yang tidak bisa dihitung, melainkan dengan pola yang lain. Seperti ada yang mengetuk dari dalam, bukan dari luar.
"Apa yang kau masukkan ke dalam tubuhnya?" tanyanya.
Wanita itu tersenyum. Senyum itu tidak lebar. Senyum itu pas-terlalu pas, seperti topeng yang dibuat dari wajah seseorang yang telah lama mati. "Aku tidak memasukkan apa pun," katanya. "Aku mengeluarkan sesuatu. Ada sesuatu di dalam Lin Yue sejak sebelum aku mengenalnya-sesuatu yang lebih tua dari Kota Xiantian, sesuatu yang bahkan Xuanyuan tidak tahu. Sesuatu yang membuatnya bisa melarikan diri dari Tianyan. Sesuatu yang membuatnya bisa menyembunyikanmu. Aku hanya... mengeluarkannya, sedikit demi sedikit, dan menyimpannya di lilin-lilin itu. Setiap lilin adalah satu bagian dari hal itu. Dan setiap kali lilin menyala, hal itu berkurang-dan Lin Yue menjadi lebih manusia."
"Kau membebaskannya dari sesuatu."
"Aku memisahkannya dari sesuatu," kata murid kedua. "Dan sekarang kau datang, membawa jendela yang terbuka, membawa kunci, membawa dia-" ia menunjuk bayi dalam gendongannya, dan Lu Chen menyadari bahwa bayi itu telah berhenti menangis, dan sedang menatapnya dengan mata yang terlalu tua untuk bayi mana pun, "-dan kau ingin membawanya kembali. Kau ingin menyatukan mereka lagi. Kau ingin mengembalikan apa yang aku pisahkan."
"Kau ingin aku memilih," kata Lu Chen.
"Aku ingin kau mengerti," kata murid kedua. "Karena kau akan memilih, entah kau mau atau tidak. Kau akan memilih, dan kau akan hidup dengan pilihan itu, dan kau akan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihitung-sama sepertiku. Sama seperti ibumu. Sama seperti semua orang yang pernah mencoba menyelamatkan dunia dan berakhir menyembunyikannya di bawah lantai."
Ladang di sekitar mereka mulai memudar. Batang-batang gandum memudar dari ujung, seperti kertas yang terbakar dari tepi. Langit biru retak di beberapa tempat, memperlihatkan sesuatu di baliknya-bukan Jala Qi, bukan jaringan benang cahaya, melainkan kegelapan yang bergerak.
"Jendela ketiga," kata Lu Chen.
"Jendela ketiga," ulang murid kedua. "Kau sudah membuka dua. Yang pertama kau tutup. Yang kedua kau biarkan terbuka. Dan sekarang kau berdiri di dalam yang ketiga, dan kau tidak tahu bahwa kau sudah di dalamnya sejak kau melangkah ke ladang ini." Ia menunduk, menatap bayi di gendongannya. "Yang ketiga bukan pintu, Chen'er. Yang ketiga adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah: kau bisa membawa ibumu kembali, utuh, dengan semua ingatannya tentangmu-tapi kau harus membiarkan aku masuk ke dalam dirimu, seperti aku masuk ke dalam dirinya. Atau kau bisa pergi, menutup jendela ini, dan membiarkan ibumu kehilangan setiap ingatan tentangmu, satu per satu, sampai ia tidak tahu bahwa ia pernah memiliki anak. Sampai ia tidak tahu bahwa kau pernah ada."
"Tidak ada pilihan ketiga?"
"Ada," kata murid kedua. "Kau bisa membunuhku. Tapi kau tidak akan bisa, karena kau adalah anak Lin Yue, dan aku adalah bagian dari Lin Yue, dan membunuhku berarti membunuh bagian dari dirinya. Bagian yang membuatnya bisa melarikan diri. Bagian yang membuatnya bisa menyembunyikanmu. Bagian yang membuatnya bisa mencintaimu lebih dari dunia." Ia tersenyum lagi, dan kali ini senyum itu nyata-nyata dalam cara yang mengerikan, nyata dalam cara yang membuat Lu Chen ingin menutup matanya. "Itulah yang tidak pernah dipahami Xuanyuan. Itulah yang tidak pernah dipahami Xie Wushuang. Itulah yang tidak pernah dipahami Tianyan. Kau tidak bisa menyelamatkan dunia tanpa mengorbankan sesuatu, dan sesuatu yang kau korbankan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah. Ia hanya berubah bentuk. Ia hanya menjadi sesuatu yang lain, di tempat lain, menunggu seseorang untuk membukanya kembali."
Ladang itu hampir hilang sekarang. Di kejauhan, dinding-dinding ruang bundar itu menyala terang, dan Lu Chen bisa melihat lilin-lilin itu-ratusan, ribuan-menyala lebih terang dari sebelumnya. Setiap nyala adalah satu memori. Setiap memori adalah satu detik yang tidak akan pernah kembali.
"Kau tahu apa yang paling kejam?" kata murid kedua, dan suaranya kini berbisik, hampir tidak terdengar. "Kau akan memilih untuk menyelamatkannya. Kau akan memilih untuk membiarkannya mengingatmu. Dan kau akan membiarkan aku masuk. Dan kau akan menjadi sesuatu yang baru-sesuatu yang bukan manusia, bukan murid, bukan apa pun yang pernah ada. Dan kau akan melupakan bahwa kau pernah punya pilihan. Kau akan melupakan bahwa ada saat ketika kau bisa membiarkannya pergi."
"Aku tidak akan lupa," kata Lu Chen.
"Semua orang bilang begitu," kata murid kedua. "Aku juga bilang begitu, tiga ribu tahun lalu, ketika aku berdiri di tempatmu berdiri, di depan seseorang yang mencintaiku dan memohon agar aku memilih jalan lain. Dan lihat aku sekarang." Ia mengangkat tangannya, dan jari-jarinya memudar dari ujung, seperti gandum yang terbakar. "Aku adalah lilin yang menyala di dasar sumur. Aku adalah luka yang tidak pernah menutup. Aku adalah cinta yang berubah menjadi kelaparan. Dan kau akan menjadi aku, Chen'er, karena kau adalah anak Lin Yue, dan Lin Yue tidak pernah bisa mencintai tanpa mengorbankan sesuatu."
Ladang itu hilang.
Lu Chen membuka mata.
Ia berdiri di ruang bundar, di depan altar batu, dan wanita di depannya-murid kedua, atau Lin Yue, atau keduanya, atau tidak keduanya-tersenyum. Tapi senyum itu kini berbeda. Senyum itu patah. Dan di belakangnya, tabung kaca itu retak dari dalam.
"Kau sudah membuat pilihan," katanya.
"Aku belum mengatakan apa pun."
"Kau sudah membuat pilihan sejak kau melangkah ke ladang itu," kata murid kedua. "Kau memilih untuk melihat. Kau memilih untuk mengerti. Dan sekarang kau tahu bahwa kau tidak bisa menyelamatkan semua orang." Ia melangkah mundur, dan saat ia melangkah, lilin-lilin di sekelilingnya menyala lebih terang. "Tapi kau juga tahu sesuatu yang tidak aku ketahui ketika aku berdiri di tempatmu berdiri."
"Apa?"
"Kau tahu bahwa ada orang lain di dalam ruangan ini," kata murid kedua, dan menoleh ke tabung kaca.
Lu Chen mengikuti arah matanya. Di dalam tabung itu, tubuh Lin Yue-tubuh asli, tubuh yang tidak pernah menjadi salinan-membuka matanya. Bukan terbuka seperti orang bangun. Terbuka seperti pintu yang didorong dari dalam. Dan di dalam mata itu, Lu Chen melihat sesuatu yang tidak ia lihat di mata murid kedua, tidak ia lihat di mata Xie Wushuang, tidak ia lihat di mata siapa pun yang pernah ia temui:
Kegelapan yang mengenalinya kembali.
"Jendela ketiga," bisik murid kedua, "bukan pilihan yang aku berikan kepadamu. Jendela ketiga adalah pilihan yang kau berikan kepada sesuatu yang lain. Dan sesuatu itu baru saja memilih untuk bangun."
~ Bab 8 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.