Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 5

Tahta di Antara Dua Kehampaan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Langkah Joni menggoreskan jejak samar di atas debu reruntuhan, seolah-olah setiap tapak kakinya adalah ukiran yang tak akan pernah terhapuskan. Mahkota hitam di kepalanya-bukan sekadar aksesori kekuasaan, melainkan jendela ke dalam pusaran kesadaran yang jauh lebih besar dari sekadar egonya sendiri-terus berdenyut lembut, seperti jantung kedua yang berdetak seirama dengan frekuensi kosmik yang tak terdengar. Di sekelilingnya, para Prajurit Abadi masih berlutut dalam formasi yang sempurna, helm-helm mereka tertunduk, tubuh mereka yang tak pernah tidur gemetar oleh kehadiran yang-tanpa mereka sadari-jauh melampaui hierarki yang selama ini mereka puja.

Angin yang bertiup tidak lagi malam biasa. Ia berbau logam terbakar, dupa busuk, dan sesuatu yang samar seperti aroma perpustakaan kuno setelah ribuan tahun tidak dibuka. Langit di atas reruntuhan telah berubah menjadi lautan tinta pekat tanpa satu pun bintang; hanya di beberapa tempat, retakan-retakan gelap seperti urat nadi yang menyala redup mengingatkan bahwa realitas di sini tidak lagi utuh. Joni mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat, ia melihat-atau mungkin hanya merasa-bahwa di balik kegelapan itu ada dua mata raksasa yang menyipit, mengamati. Tapi ketika ia mencoba untuk fokus, penglihatan itu menghilang, meninggalkan hanya dengungan di belakang telinganya seperti suara lautan yang terperangkap dalam cangkang kerang.

"Bangunlah," bisiknya, bukan perintah melainkan desahan. Para prajurit itu bangkit serempak, gerakan mereka begitu sinkron sehingga terdengar satu suara: desisan logam yang bergesekan dengan udara. Mereka menanti, seperti patung-patung yang menunggu nyawa ditiupkan ke dalam dada mereka. Namun Joni tidak memberi perintah lebih lanjut. Ia hanya berjalan melewati mereka, menuju kegelapan di luar lingkaran reruntuhan, dan tanpa komando, mereka mengikutinya dari belakang-bukan sebagai pengawal, melainkan sebagai bayang-bayang yang terpaut secara permanen pada kaki tuannya.

Setiap langkah terasa seperti menyeret rantai yang tak terlihat. Bukan rantai fisik, melainkan rantai kenangan. Joni bisa merasakan fragmen-fragmen kehidupan yang bukan miliknya mengalir masuk melalui mahkota itu: seorang ibu yang menangis di atas bukit, seorang anak lelaki yang berlari mengejar kupu-kupu emas, seorang tua yang memegang tongkat di puncak gunung-semua potongan puzzle dari para Dewa yang pernah ia kendalikan. Tapi di antara potongan-potongan itu, ada satu yang paling jelas, paling menyakitkan: citra seorang wanita dengan mata seperti bara api, yang memandang Joni dengan tatapan penuh pengertian dan sekaligus peringatan. Ia tidak tahu siapa dia, tapi ia yakin wanita itu adalah kunci dari sesuatu yang hilang dari ingatannya sendiri.

"Apa kau akan terus berjalan seperti ini?" suara itu datang dari dalam pikirannya sendiri, namun terasa asing. Bukan suara hatinya, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih dingin. Mahkota itu berbicara. Atau mungkin sistem itu sendiri. Atau mungkin-dan ini yang paling menakutkan-jiwa dari pemilik sebelumnya yang belum sepenuhnya mati. Joni berhenti, menutup matanya, dan mencoba memisahkan suara-suara itu. Tapi semakin ia berusaha, semakin bising mereka. Seperti jutaan bisikan yang memenuhi setiap celah ruang di tengkoraknya.

Di kejauhan, di antara puing-puing yang remuk, ia melihat kilauan air. Sebuah kolam kecil, mungkin sisa-sisa dari mata air suci yang dulu mengalir di bawah kuil ini. Airnya hitam pekat, tidak memantulkan apapun-seperti cermin yang telah kehilangan kemampuannya untuk bercermin. Joni berlutut di pinggirnya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti keabadian, ia menatap bayangannya sendiri. Yang ia lihat bukanlah wajah seorang gelandangan berusia delapan belas tahun. Bukan juga wajah seorang penguasa. Yang ia lihat adalah sesuatu yang lebih abstrak: dua titik cahaya merah di dalam kegelapan, ibarat mata ular yang mengintip dari dalam sumur tak berdasar. Wajahnya sendiri hanya samar, seperti gambar yang tergores di atas kabut.

"Aku... siapa?" pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti embusan napas terakhir seorang yang tenggelam. Dan untuk sesaat, ia merasa kolam itu bergerak. Riak-riak halus mulai menyebar dari pusat genangan, meskipun tidak ada angin dan tidak ada setitik pun benda yang jatuh ke permukaannya. Dari dalam riak-riak itu, muncul suara-bukan kata, melainkan nada. Sebuah melodi yang begitu sederhana namun menusuk, seperti nyanyian pengantar tidur yang dinyanyikan oleh seorang ibu kepada anaknya di ujung dunia. Joni merasakan air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak tahu mengapa, tapi melodi itu terasa seperti pulang ke rumah yang sudah lama ia lupakan.

Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, kolam itu mendidih. Air hitamnya menyembur ke atas, membentuk tiang cairan yang berputar cepat, dan dari dalam pusaran itu, terlihat bayangan-bukan sosok yang utuh, melainkan siluet dari sesuatu yang sangat besar, sangat tua, dan sangat marah. Joni melompat mundur, kedua tangannya terangkat secara naluriah. Mahkota hitam itu menyala terang, mengeluarkan denyutan yang membuat para Prajurit Abadi meringis-atau jika mereka memiliki wajah, pasti mereka akan meringis. Tapi sosok di dalam kolam itu justru tertawa. Tertawa yang bergema seperti petir di dalam gua, dipantulkan berkali-kali hingga menjadi hiruk-pikuk yang memekakkan.

"Pemilik baru?" suara itu bergemuruh, berlapis-lapis, seolah-olah seribu makhluk berbicara dalam satu waktu. "Kau hanyalah boneka berikutnya, anakku. SSSSS bukan kekuatan. Ia adalah kutukan yang dikemas dalam kemewahan ilusi. Setiap Dewa yang kau kendalikan akan menggerogoti jiwamu sedikit demi sedikit, dan suatu hari..." sosok itu mendekat, dan untuk sesaat, Joni bisa melihat garis-garis wajahnya: rahang yang kokoh, mata yang menyala biru gelap, dan mahkota serupa-tapi retak di sana-sini-di atas kepalanya. "Kau akan menjadi seperti aku. Terperangkap di antara dua kenyataan, tidak mati namun tidak hidup. Hanya menjadi penjaga gerbang yang tidak bisa melewati ambang pintu."

Joni ingin berteriak, ingin bertanya siapa makhluk itu. Tapi sebelum ia sempat, tiang air itu runtuh kembali ke kolam, menyisakan permukaan yang tenang seperti cermin. Tidak ada riak. Tidak ada jejak. Hanya bayangannya sendiri yang kembali samar. Namun di dasar kolam, ia melihat sesuatu yang baru: sebuah ukiran di batu di bawah air, yang sebelumnya tidak ada. Huruf-huruf yang tidak ia kenali, namun entah bagaimana ia bisa membacanya. Mereka berbunyi: "Yang pertama telah jatuh. Yang kedua telah terkubur. Dan yang ketiga-dari kegelapan yang paling gelap-akan bangkit."

Joni mundur, napasnya tersengal. Para Prajurit Abadi masih berdiri diam di belakangnya, menunggu perintah. Tapi ia tidak punya perintah. Ia hanya punya pertanyaan yang semakin bertambah banyak, sementara jawaban yang ia miliki terasa semakin pudar, seperti air yang meresap ke dalam pasir. Di atas, langit hitam itu tampak berdenyut, hampir seperti sedang bernapas. Dan di tengah denyutan itu, Joni merasa ada sesuatu yang tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum seorang pemburu yang telah menunggu lama, dan kini mangsanya akhirnya datang ke dalam jebakan.

Mahkota hitam itu berbisik lagi, kali ini lebih lembut, lebih meyakinkan: "Jangan khawatir, pemilikku. Aku akan menjagamu. Hanya percayalah padaku." Tapi di balik bisikan itu, Joni bisa merasakan sesuatu yang dingin merayapi punggungnya-seperti ular yang melilit, erat, namun dengan kehangatan yang palsu. Ia menggenggam tangannya sendiri, merasakan kuku-kukunya yang masih penuh tanah dan darah, dan untuk pertama kalinya ia menyadari satu hal yang mengerikan: sejauh ini, ia belum pernah bertemu dengan satu pun makhluk-baik manusia, Dewa, atau bahkan sistem itu sendiri-yang benar-benar bisa ia percaya. Dan di dunia di mana ia kini berada, kepercayaan adalah mata uang yang lebih mahal dari nyawa.

Dari kejauhan, di luar batas reruntuhan, terdengar lolongan panjang. Bukan lolongan serigala biasa, melainkan suara trompet dari logam yang retak, diikuti oleh gemuruh yang membuat tanah bergetar. Sembilan Dewa SSS-atau setidaknya antek-antek mereka-sedang mendekat. Joni tahu itu tanpa harus melihat. Mahkota itu memberitahunya, melalui denyutan yang membuat urat-urat di pelipisnya berdenyut seirama. Ia menutup matanya, menarik napas panjang, dan merasakan beban tahta yang tak terlihat di pundaknya semakin berat. Namun di dalam dadanya, ada api kecil yang menolak padam. Bukan api ambisi, bukan api keinginan untuk berkuasa. Melainkan api yang lebih sederhana: api untuk bertahan hidup. Api yang membuat seorang gelandangan di lorong gelap Kota Bawah tidak pernah menyerah, bahkan ketika perutnya kosong dan punggungnya penuh luka.

"Baiklah," bisik Joni pada dirinya sendiri, matanya terbuka dan kini berkilau merah samar di tengah kegelapan. "Jika mereka ingin perang, mereka akan mendapatkannya. Tapi bukan dengan aturan mereka. Dengan aturanku sendiri." Ia berbalik, menghadap para Prajurit Abadi, dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan reruntuhan, ia tersenyum. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum getir seseorang yang telah melihat ke dalam jurang dan memutuskan untuk melompat dengan mata terbuka. "Kita bergerak. Tapi tidak ke arah mereka. Kita pergi ke tempat yang tidak akan pernah mereka duga."

Para prajurit itu menunggu. Joni melangkah maju, melewati mereka, menuju kegelapan yang lebih dalam di luar reruntuhan. Di belakangnya, kolam hitam itu tiba-tiba mengeluarkan gelembung-satu, dua, tiga-sebelum akhirnya diam total. Dan di dalam keheningan itu, ukiran di dasarnya tampak berubah. Huruf-huruf itu bergerak, membentuk kalimat baru: "Yang ketiga telah memilih jalannya. Dan dunia akan terbakar oleh langkah kakinya."

Namun Joni tidak melihat itu. Ia terlalu sibuk menatap bayang-bayang di depannya, yang terus memanjang dan membelok ke arah yang tidak pernah ia kenali. Ia tidak tahu apa yang menantinya di ujung jalan ini. Mungkin kematian. Mungkin pencerahan. Atau mungkin hanya siklus lain dari kutukan yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ia tidak akan menunduk lagi. Mahkota di kepalanya mungkin berat, tapi ia telah memilih untuk memakainya. Dan pilihan, seburuk apa pun konsekuensinya, adalah satu-satunya hal yang membuat seorang gelandangan menjadi lebih dari sekadar abu yang tertiup angin. Ia adalah Joni-tanpa nama keluarga, tanpa masa lalu, dan kini, tanpa jalan mundur. Dan di dunia di mana para Dewa mengatur segalanya, seorang anak manusia dengan Rank di luar nalar mungkin adalah ancaman paling nyata yang pernah ada.

Di atas, di balik lapisan-lapisan realitas yang tidak terlihat, dua mata besar itu kembali menyipit. Mereka mengikuti Joni dari kejauhan, penasaran dan haus, seperti kucing yang menonton tikus yang tidak menyadari bahwa permainan baru saja dimulai. Dan di suatu tempat di antara kehampaan yang tak bernama, sebuah bisikan terdengar, bergema melalui koridor-koridor yang tidak terbuat dari batu melainkan dari waktu itu sendiri: "Akhirnya... pintu sudah terbuka. Dan penjaga baru telah mengambil tempatnya di ambang pintu. Biarkan pertunjukan dimulai."

~ Bab 5 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai