SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 4
Gerbang yang Terukir dari Malam yang Tak Bernama
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Langit di atas Reruntuhan Kuil Purba tidak seperti langit yang pernah Joni kenal. Bukan biru pucat yang menyinari Kota Bawah di siang hari, bukan pula kelabu pekat yang menaungi lorong-lorong kumuh saat senja. Langit di sini adalah kanvas gelap yang berdenyut dengan semburat merah kecubung, seolah-olah waktu sendiri telah terluka dan mengeluarkan darah kosmik ke atas bumi. Aroma anyir tanah basah bercampur dengan sesuatu yang lebih purba-bau ozon dan logam panas, seperti setelah petir menyambar tempat yang sangat tua.
Joni berdiri di tepi area yang dulunya mungkin merupakan halaman utama kuil. Kini hanya tersisa puing-puing batu hitam yang tersusun tidak beraturan, beberapa di antaranya masih menjulang seperti jari-jari raksasa yang menunjuk ke arah takdir. Ia menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang asing di dadanya: bukan sekadar lapar atau takut, melainkan getaran halus yang merambat dari inti tulangnya. Getaran itu datang dari panel hitam yang melayang di pinggir penglihatannya, sebuah pengingat diam-diam bahwa ia kini memiliki Rank SSSSS-Sovereign Beyond Divinity. Namun panel itu tidak menunjukkan statistik atau kekuatan; hanya satu baris kalimat yang berdenyut pelan: [Gerbang Terkunci: Diperlukan saksi dari masa lalu yang telah dilupakan.]
Ia tidak mengerti apa maksudnya. Gerbang apa? Saksi siapa? Namun nalurinya-naluri yang selama delapan belas tahun hanya berfungsi untuk mencari sisa makanan dan tempat berteduh-kini berbisik dengan suara yang berbeda. Bukan suara rasa takut, melainkan suara keyakinan buta bahwa di sinilah segalanya dimulai. Atau berakhir. Joni melangkahkan kaki pertamanya ke atas batu hitam yang retak, dan seketika itu pula batu-batu di sekelilingnya bergetar, menimbulkan suara gemerisik seperti bisikan seribu makhluk halus. Dari celah-celah retakan, cahaya merah samar mulai merembes, membentuk pola-pola lingkar yang berputar lambat.
Ia terus berjalan, melewati apa yang dulunya mungkin adalah altar utama. Di tengah ruangan terbuka yang kini atapnya runtuh, sebuah monumen besar berdiri: patung seorang lelaki dengan sayap patah, tangannya terentang ke atas seolah memohon atau memerintah. Wajah patung itu kabur, terkikis oleh ribuan tahun hujan dan angin, namun di bagian dadanya terukir sebuah simbol yang membuat Joni berhenti: lingkaran dengan segitiga terbalik di dalamnya, sama persis dengan yang muncul di panel hitamnya. Ia mendekat, dan saat ujung jarinya menyentuh ukiran itu, seluruh dunia berputar.
Penglihatan Joni kabur, lalu terbelah menjadi dua realitas. Di satu sisi, ia masih berdiri di reruntuhan, tubuh fisiknya gemetar. Di sisi lain, ia melayang di ruang kosong yang dipenuhi pecahan kaca raksasa, masing-masing memantulkan gambaran dirinya sendiri dari masa lalu: Joni bayi yang ditinggalkan di ambang pintu panti asuhan, Joni kecil yang menangis di lorong gelap saat hujan, Joni remaja yang merobek-robek kantong sampah mencari tulang ayam yang masih berlemak. Dan di antara semua pecahan itu, satu pecahan yang paling besar menampilkan sesosok bayangan-tinggi, dengan mata merah menyala, dan suara yang bergema seperti guntur dari dasar bumi.
"Kau datang kembali," kata bayangan itu. Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang sarat dengan kepastian yang menyakitkan. "Aku sudah menunggumu selama tujuh ribu tahun."
Joni ingin menjawab, tapi suaranya hilang. Ia hanya mampu menatap bayangan itu dengan campuran ngeri dan penasaran. Bayangan itu tertawa, dan tawanya berdentum seperti lonceng pemakaman. "Kau tidak ingat, bukan? Tidak ada satu pun yang ingat. Itulah kutukan pemilik Rank SSSSS-kau melupakan segalanya, bahkan dirimu sendiri, setiap kali kau terlahir kembali. Tapi sistem ini tidak pernah salah. Dan sekarang kau di sini, di ambang Gerbang Terkunci, dan aku adalah satu-satunya saksi yang tersisa dari kehidupanmu yang pertama."
Seketika, penglihatan itu runtuh. Joni tersentak kembali ke reruntuhan, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Panel hitam di pinggir matanya kini berubah: [Gerbang Terkunci: Saksi ditemukan. Memasuki fase sinkronisasi memori-peringatan: proses ini akan menyatu dengan trauma pemilik sebelumnya.]
Ia tidak punya waktu untuk bersiap. Dari patung dengan simbol itu, cahaya merah menyambar seperti ular listrik, melilit lengan kirinya, menjalar ke bahu, hingga ke leher. Rasa sakit yang luar biasa merobek kesadarannya, namun di balik rasa sakit itu ada sesuatu yang lebih mengerikan: kenangan yang bukan miliknya mulai mengalir masuk. Ia melihat peradaban yang hancur, para dewa yang berlutut, dan seorang sosok yang duduk di singgasana dari puing-puing bintang. Sosok itu adalah dirinya, namun dengan tatapan yang berbeda-tatapan yang telah melihat keabadian dan kekosongan, dan memutuskan untuk membakar semuanya.
"Jangan serap semuanya!" suara bayangan itu berteriak di dalam pikirannya. "Kau akan gila! Pilih saja satu-satu kenangan yang paling penting, dan biarkan sisanya terkubur."
Namun Joni tidak bisa memilih. Kenangan itu terlalu deras, terlalu kuat. Ia merasakan perasaan mahkota yang berat di kepalanya, perasaan pengkhianatan dari yang ia percaya, perasaan kehampaan setelah menghancurkan sepertiga alam semesta. Dan di tengah semua itu, ia melihat satu gambar yang jelas: seorang perempuan dengan rambut panjang perak, tersenyum padanya di taman yang penuh dengan bunga biru bercahaya. Perempuan itu berkata, "Kau harus ingat, suatu hari nanti, untuk apa takhta ini benar-benar ada. Bukan untuk memerintah, tapi untuk melindungi apa yang tersisa."
Lalu gelap.
Joni terbaring di lantai batu, mulutnya terasa pahit, tubuhnya lemas. Panel hitam kini diam-tidak menampilkan apa pun. Namun di depannya, tepat di bawah patung, tanah mulai merekah membentuk lubang melingkar, dan dari lubang itu muncul sebuah peti mati batu kuno, tutupnya terukir simbol yang sama. Dengan sisa tenaga, Joni merangkak mendekat, mendorong tutupnya dengan kedua tangan yang gemetar. Di dalam peti itu tidak ada mayat, melainkan sebuah mahkota hitam dengan duri-duri tajam, dan sebuah gulungan lusuh.
Ia mengambil gulungan itu, membukanya. Huruf-huruf merah menyala terbaca dalam bahasa yang aneh, namun secara ajaib ia memahaminya: [Kepada jiwa yang kembali: Takhta ini telah menunggumu. Namun ketahuilah, setiap takhta memiliki pengorbanan. Milikmu adalah kenangan. Setiap jiwa yang kau kendalikan akan merenggut sebagian dari siapa dirimu. Dan suatu hari, jika kau mengendalikan terlalu banyak, tidak akan ada yang tersisa kecuali nama dan Rank. - Pesan terakhir dari raja yang tidak pernah ingin memerintah.]
Joni duduk bersandar pada peti mati, memegang mahkota itu di tangannya. Beratnya tidak seperti besi atau batu; lebih seperti kehampaan yang padat. Di kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki-banyak kaki-dan suara dentang senjata. Mungkin para dewa atau pengawal kuil yang merasakan gangguan. Atau mungkin hanya binatang buas yang penasaran. Namun Joni tidak peduli. Ia menatap mahkota itu, dan untuk pertama kalinya sejak panel hitam muncul, ia tersenyum-senyum seorang pria yang telah kehilangan segalanya dan tak punya apa-apa lagi untuk ditakuti.
Ia mengenakan mahkota itu. Dan saat duri-duri tajam menusuk kulit kepalanya, mengalirkan darah yang menyala merah, sebuah jendela baru muncul: [Rank SSSSS - Sovereign Beyond Divinity - Telah diaktifkan sepenuhnya. Mengenakan Takhta Pengorbanan. Semua entitas dalam radius 10 kilometer akan merasakan tekanan kehadiran Anda. Peringatan: Sembilan Dewa Rank SSS telah mendeteksi anomali ini. Mereka akan segera bergerak.]
Namun di dalam hatinya, yang terngiang bukanlah peringatan itu, melainkan kata-kata perempuan perak di taman: Melindungi apa yang tersisa. Mungkin, pikir Joni, takhta ini memang bukan untuk memerintah. Mungkin takhta ini adalah penjara terakhir bagi jiwa yang terlalu kuat untuk mati. Dan ia, Joni, gelandangan yang tidak pernah memiliki apa pun, kini menjadi penjaga kehampaan.
Langkah kaki semakin dekat. Dari balik puing-puing, serombongan makhluk dengan armor hitam dan mata bercahaya putih muncul-Para Prajurit Abadi, ciptaan para Dewa untuk menjaga reruntuhan. Mereka mengangkat senjata, siap menyerang. Joni berdiri perlahan, panel hitam di matanya menyala, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat tangan kanannya.
Di luar reruntuhan, di puncak menara Kota Atas yang menjulang di atas awan, sesosok Dewa Rank SSS bernama Valdris, Penguasa Pengetahuan, tersentak dari meditasinya. Cawan ramalannya pecah, dan air di dalamnya mendidih. Dari bayangan di sudut ruangan, sebuah suara berbisik: "Dia telah kembali."
Valdris tidak perlu bertanya siapa 'dia'. Selama tujuh ribu tahun, ia telah menunggu hari ini-hari ketakutan dan harapan yang sama besarnya. Namun saat ia membuka mulut untuk menjawab, getaran dahsyat mengguncang fondasi menara, dan semua panel sistem di seluruh Arcadia, dari Kota Bawah hingga Istana Dewa, berkedip serempak dan menampilkan satu kalimat yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun:
[Seorang Sovereign telah memasuki panggung. Semua Rank di bawah SSSSS: Tunduk, atau binasa.]
Joni, di tengah reruntuhan dengan mahkota hitam di kepalanya, melihat para Prajurit Abadi itu berlutut satu per satu, senjata mereka jatuh berderak. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa lelah-lelah yang begitu dalam sehingga seluruh beban takhta dan kenangan terasa ringan dibandingkan. Namun ia tahu, ini baru awal. Sembilan Dewa SSS sedang bergerak, dan di balik mereka, mungkin ada sesuatu yang bahkan lebih tua dari sistem itu sendiri.
Malam di atas reruntuhan berubah warna, dari merah kecubung menjadi hitam pekat tanpa bintang. Dan Joni, Sang Penguasa Di Atas Para Dewa, melangkah keluar dari gerbang kuno itu-bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai raja, melainkan sebagai teka-teki hidup yang tidak akan pernah terpecahkan sepenuhnya.
~ Bab 4 Selesai ~