Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 3

Takhta yang Terukir dari Puing-puing Kesunyian

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu tidak menjadi lebih terang setelah panel merah itu memudar dari pandangan. Joni tetap berdiri di tengah lorong sempit Kota Bawah Vareneth, dengan jubah hitam yang compang-camping berkibar lemah ditiup angin yang membawa bau sampah dan tanah basah. Figur jubah hitam itu telah pergi, lenyap seperti kabut yang ditelan fajar, tetapi jejaknya masih terasa di udara - sebuah getaran dingin yang merayap di bawah kulit, seperti bisikan dari sesuatu yang lebih tua dari waktu.

Ia mengepalkan tangannya. Bukan karena marah, melainkan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain itu. Selama delapan belas tahun hidupnya, Joni tidak pernah memiliki kendali atas apa pun. Makanannya ditentukan oleh sisa-sisa yang dibuang orang lain. Tempat tidurnya ditentukan oleh seberapa jauh ia bisa bersembunyi dari preman dan monster Rank E yang kadang turun ke kota bawah untuk memangsa Blank seperti dirinya. Hidupnya adalah serangkaian reaksi terhadap pukulan takdir yang tak henti-hentinya. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia adalah orang yang membuat orang lain mundur.

Dan itu menakutkan.

Bukan karena kekuatan itu sendiri - ia belum sepenuhnya memahami apa artinya memiliki Rank SSSSS, atau apa itu Divine Dominion. Tapi karena di dalam ketakutannya terhadap figur jubah hitam itu, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Selama ini ia adalah mangsa, dan sekarang ia memiliki gigi. Tetapi gigi itu tidak terbuat dari tulang atau logam; gigi itu terbuat dari sesuatu yang jauh lebih tua - mungkin dari mimpi buruk para dewa yang tidak pernah tidur.

Joni berjalan perlahan menyusuri lorong yang gelap, kakinya menginjak genangan air kotor yang memantulkan cahaya remang dari lampu minyak di kejauhan. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah-olah gravitasi kota bawah ini tiba-tiba berlipat ganda, menekan pundaknya dengan beban yang tak terlihat. Ia melewati tumpukan peti kayu lapuk yang telah menjadi rumah bagi tikus-tikus gemuk, melewati seorang pemabuk yang tergeletak di sudut dengan botol kosong di tangannya - seorang manusia tua yang Status Panelnya, jika bisa dilihat, pasti bertuliskan Rank G atau bahkan F, jika ia cukup beruntung untuk terdaftar. Joni tidak pernah ingin menjadi seperti mereka. Tapi ia juga tidak pernah ingin menjadi apa yang ia lihat di mata figur jubah hitam itu: sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, panel sistem itu muncul lagi. Bukan di depannya, melainkan di dalam benaknya - sebuah sensasi yang sulit dijelaskan, seperti seseorang menulis dengan api di atas beludru hitam pikirannya. Teks merah darah itu berkedip.

[NOTIFIKASI SISTEM: Koneksi dengan Divine Registry terdeteksi. Gelombang pemindaian dari Entitas Tidak Dikenal Rank A+ telah tercatat. Lokasi pemindaian: Radius 3 kilometer dari posisi Anda saat ini.]

Joni berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke belakang, ke arah lorong yang baru saja ia lewati, tetapi tidak ada apa pun di sana kecuali bayangan yang menari-nari karena lampu minyak yang goyah.

"Mereka mencari aku," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Sistem itu tidak menjawab. Tidak perlu. Fakta bahwa notifikasi itu muncul berarti bahwa Divine Registry - jaringan kosmik yang mencatat setiap makhluk hidup di Arcadia - telah mendeteksi keberadaan anomali. Entah bagaimana, panel hitamnya mungkin tidak cukup untuk menyembunyikannya sepenuhnya. Atau mungkin, figur jubah hitam itu telah melaporkan sesuatu kepada atasannya sebelum ia melarikan diri.

Joni duduk di ambang pintu sebuah toko yang telah lama tutup, kayunya lapuk dan penuh lumut. Ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya, mencoba mengatur napas yang mulai terengah-engah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia tidak bisa lagi bersembunyi. Lorong-lorong gelap Kota Bawah Vareneth yang selama ini menjadi rumahnya kini terasa seperti sangkar - bukan sangkar yang melindungi, melainkan sangkar yang mempertontonkannya kepada para pemburu.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada keheningan.

Dan keheningan itu menjawab dengan caranya sendiri: dalam bentuk ingatan yang melintas tanpa diundang. Ia teringat pada kata-kata figur jubah hitam itu sebelum pergi - bukan ancaman, melainkan sesuatu yang lebih seperti peringatan: "Kau tidak tahu apa yang telah kau bangunkan."

Sekarang, duduk di antara sampah dan kegelapan, Joni mulai mengerti. Kekuatan SSSSS bukanlah anugerah. Itu adalah sebuah luka - luka yang terbuka di atas jaringan kosmik, dan setiap dewa, setiap makhluk dengan Rank SS ke bawah pasti akan merasakan keberadaannya seperti ikan hiu merasakan setetes darah di lautan yang luas. Ia bukan lagi Blank yang tak terlihat. Ia adalah titik api di tengah padang gurun yang kering.

Lalu sistem itu berbicara lagi, suaranya terasa lebih dalam, lebih berat, seolah-olah ia sedang membaca sesuatu yang bahkan sistem itu sendiri enggan untuk mengatakannya dengan lantang.

[KUESTO UTAMA TERBUKA: WARISAN SOVEREIGN] [Deskripsi: Pemilik Rank SSSSS sebelumnya dikenal sebagai 'Yang Terlupakan'. Namanya telah dihapus dari sejarah, tetapi jejaknya masih tertinggal di dalam inti Divine Registry. Temukan artefak peninggalannya sebelum para dewa menyadari bahwa takhta kosong itu telah diduduki kembali.] [Hadiah: ???] [Kegagalan: Kepunahan total keberadaan Anda.]

Joni menatap teks itu dengan mata yang membelalak. Kepunahan total. Bukan sekadar kematian - kepunahan, dihapus dari realitas, sehingga bahkan ingatan tentangnya tidak akan pernah ada. Ia teringat pada cerita-cerita yang pernah didengarnya di lorong-lorong, tentang para pahlawan yang melawan dewa dan lenyap begitu saja, meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapa pun. Dan sekarang ia adalah penerus dari sesuatu yang bahkan lebih berbahaya dari pahlawan mana pun.

Ia berdiri, meskipun lututnya gemetar. Angin malam bertiup lebih kencang, menerbangkan debu dan sampah ke udara. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara lonceng kuil - mungkin kuil Dewa Bumi atau Dewa Laut, ia tidak tahu pasti. Yang ia tahu adalah bahwa setiap dentang lonceng itu adalah pengingat bahwa ia hidup di dunia di mana dewa-dewa itu nyata, di mana sistem itu adalah hukum, dan di mana seorang Blank yang tiba-tiba memiliki Rank SSSSS adalah sebuah kesalahan yang harus diperbaiki - entah dengan cara dimasukkan ke dalam tatanan, atau dihapuskan.

Tapi Joni tidak ingin dihapuskan. Ia tidak ingin menjadi korban lagi. Untuk pertama kalinya, ia memiliki pilihan: bersembunyi dan berharap tidak ditemukan, atau maju dan mencari tahu apa arti sebenarnya dari takhta yang terukir dari puing-puing kesunyian ini.

Ia mengambil napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan keberanian - bukan keberanian yang lahir dari kebodohan, melainkan dari kesadaran bahwa ia sudah kehilangan segalanya, dan bahwa bahkan kepunahan pun tidak bisa mengambil apa pun yang sudah tidak dimilikinya.

"Baiklah," katanya pada angin, pada malam, pada sistem yang diam di dalam benaknya. "Aku akan pergi. Tunjukkan di mana artefak itu berada."

Panel sistem itu bergetar, lalu perlahan-lahan menampilkan peta - bukan peta biasa, melainkan peta yang terbuat dari garis-garis cahaya merah yang melayang di udara di depannya. Sebuah titik berdenyut di suatu tempat di luar Kota Bawah, di arah timur laut, di mana pegunungan hitam menjulang seperti tulang-belulang raksasa yang membatu.

[Nama Lokasi: Reruntuhan Kuil Purba - Zona Terlarang Rank S.] [Disarankan untuk mempersiapkan perlengkapan dasar sebelum berangkat.]

Joni tersenyum pahit. Perlengkapan dasar? Ia tidak punya apa-apa. Hanya pakaian compang-camping di tubuhnya, tangan kosong, dan kekuatan yang bahkan belum ia pahami. Tapi mungkin itu sudah cukup. Mungkin, menjadi Blank yang tidak punya apa-apa justru adalah keuntungan terbesarnya - karena ia tidak punya apa pun untuk dirampas, dan tidak punya apa pun untuk ditakuti selain dirinya sendiri.

Ia melangkah maju, meninggalkan lorong itu dan semua kenangan kelaparan dan ketidakberdayaan yang melekat padanya. Di belakangnya, bayang-bayang kota bawah seolah-olah menari, menyanyikan lagu perpisahan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang pernah menjadi Blank. Dan di depannya, kegelapan yang lebih dalam menanti - bukan kegelapan lorong kumuh, melainkan kegelapan takdir yang belum terukir.

Joni tidak tahu apa yang akan ditemukannya di Reruntuhan Kuil Purba itu. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan kembali sebagai orang yang sama. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah satu-satunya hal yang pernah ia inginkan sejak ia lahir - menjadi sesuatu yang nyata, meskipun kenyataan itu berarti takhta yang terbuat dari darah dan kehampaan para dewa yang terlupakan.

~ Bab 3 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai