Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 20

Retakan Yang Tak Tertulis

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Langit Arcadia pecah seperti kaca patri yang dihantam palu gaib. Retakan-retakan hitam menjalar dari ufuk timur hingga barat, melukiskan peta bencana yang tak seorang pun mampu membaca artinya. Joni berdiri di tengah lapangan pertempuran yang tiba-tiba terasa asing, kakinya terhujam di tanah berbatu yang berdenyut-denyut seolah memiliki nadi sendiri. Angin yang bertiup bukan lagi angin - ia adalah desahan panjang dari sesuatu yang sudah lama terkubur, sesuatu yang kini menggeliat bangun di bawah permukaan realitas.

Pria berjubah hitam itu masih tersenyum. Senyum yang sama - penuh teka-teki, penuh pengetahuan yang tak sepantasnya dimiliki oleh makhluk fana. Namun kini senyum itu terpantul di setiap pecahan langit yang jatuh perlahan, berkilau seperti sisa-sisa mimpi buruk yang menolak sirna. "Kau dengar dia, kan?" suara pria itu tiba-tiba terdengar begitu dekat, padahal ia masih berdiri puluhan meter dari Joni. Suara itu tidak keluar dari mulutnya - ia merambat langsung ke dalam benak, seperti ular yang menyusup ke celah-celah kesadaran.

Joni tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap retakan-retakan itu dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Di balik setiap celah hitam, ia bisa melihat sekilas sesuatu - samar-samar, seperti bayangan di balik jendela berembun. Ada bentuk-bentuk yang bergerak. Ada cahaya yang tidak seperti cahaya. Ada kehampaan yang justru terasa lebih berat dari seluruh gunung di Arcadia. Dan di tengah semua itu, suara itu berbisik lagi: ‘Joni... kau pikir kau sudah menguasai kekuatan? Tidak. Kekuatanlah yang menguasaimu.’

Ia menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Untuk pertama kalinya setelah menerima Rank SSSS, ia merasakan sesuatu yang asing namun begitu akrab: ketakutan. Bukan ketakutan akan kematian atau kekalahan, melainkan ketakutan akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sejak panel hitam itu muncul di hadapannya, ia mengira bahwa Divine Dominion adalah alat untuk menaklukkan dunia. Namun sekarang, dengan langit yang retak dan bisikan yang terus menghantui, ia mulai curiga bahwa alat itu sebenarnya adalah rantai yang mengikatnya pada sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Siapa Yang Pertama?" tanyanya akhirnya. Suaranya serak, seperti orang yang baru saja tenggelam lalu tersadar di permukaan. Pria berjubah hitam itu tidak langsung menjawab. Ia malah mengangkat tangannya ke arah retakan terbesar di atas kepala mereka. Dari ujung jemarinya, semburan api hijau melesat - api yang sama yang digunakan dalam pertempuran tadi, namun kini ia tidak meluncur sebagai serangan. Ia menjalin dirinya sendiri, membentuk semacam jembatan tipis antara tanah dan langit yang retak.

"Yang Pertama adalah namanya," ucap pria itu perlahan, seolah setiap kata adalah batu yang ia timbang dengan saksama. "Namun ia bukan sekedar nama. Ia adalah entitas pertama yang memiliki Rank di atas para Dewa. Ribuan tahun sebelum Arcadia berdiri, sebelum Divine Registry diciptakan, ia ada. Dan ia jatuh. Bukan karena dikalahkan, melainkan karena ia memilih untuk jatuh. Untuk apa? Tidak ada yang tahu. Yang tersisa hanyalah pecahan-pecahan dirinya yang tersebar di seluruh alam semesta - dan kau, Joni, adalah salah satu pecahan itu."

Joni merasa dadanya sesak. Udara di sekelilingnya berubah menjadi timbal. Ia ingin berlari, ingin menghilang, namun kakinya terpaku di tempat. "Aku bukan pecahan siapa-siapa. Aku Joni. Gelandangan dari Kota Bawah. Aku tidak punya nama keluarga, tidak punya masa lalu."

"Tepat," pria itu tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya lebih pahit. "Kau tidak punya masa lalu karena masa lalumu bukan milikmu. Masa lalumu adalah milik Yang Pertama. Setiap kali kau menggunakan Divine Dominion, setiap kali kau menaklukkan entitas dengan rank lebih rendah, kau sebenarnya sedang memanggil kembali potongan-potongan dirinya yang tersebar. Retakan di langit ini? Itu bukan karena seranganku. Itu karena kau baru saja menundukkan seorang Dewa Rank S pertama kalinya. Dan setiap penundukan memperkuat sambunganmu dengan sumber asal."

Joni mengepalkan tinjunya. Kuku jarinya menusuk telapak tangan hingga darah menetes. Darah itu - hitam pekat, bukan merah - menyerap ke dalam tanah dan membuat rumput di sekitarnya layu seketika. Ia melihat itu dan merinding. Tubuhnya sendiri mulai berubah tanpa sepengetahuannya. "Kalau begitu, bagaimana caranya menghentikan ini?"

Pria berjubah hitam itu menurunkan tangannya. Api hijau itu padam, meninggalkan aroma belerang yang menyengat. Ia berjalan mendekati Joni dengan langkah yang tidak menimbulkan suara - seolah ia melayang di atas tanah. "Tidak ada yang bisa menghentikan. Kau sudah memilih untuk membuka pintu itu saat kau menerima panel hitam. Sekarang, pintu itu terus terbuka, dan apa pun yang ada di baliknya akan keluar. Namun..." ia berhenti beberapa langkah di depan Joni, menatap matanya langsung, "mungkin kau bisa memilih untuk tidak membiarkan seluruh bagian Yang Pertama bersatu. Mungkin kau bisa tetap menjadi Joni - gelandangan yang tak terdaftar - sambil mengendalikan kekuatan ini. Tapi itu butuh pengorbanan."

"Pengorbanan apa?"

Pria itu tidak menjawab. Ia malah menunjuk ke langit. Retakan-retakan itu mulai melebar, dan dari celah-celahnya, turunlah sesuatu yang berbentuk seperti hujan - butiran-butiran kecil berwarna perak yang berkilauan. Saat butiran itu menyentuh tanah, mereka berubah menjadi sosok-sosok bayangan. Ribuan bayangan. Mereka tidak punya wajah, hanya siluet manusia yang bergerak dengan ritme aneh, seolah menari mengikuti irama yang hanya mereka dengar.

"Ini adalah pecahan jiwa-jiwa yang terperangkap dalam kehancuran Yang Pertama ribuan tahun lalu," kata pria itu. "Mereka bukan hidup, bukan mati. Mereka adalah saksi bisu dari malapetaka yang hampir memusnahkan segalanya. Sekarang, mereka muncul karena panggilan darahmu. Mereka ingin kembali - bukan untuk hidup, tapi untuk menyelesaikan apa yang dulu tertinggal."

Salah satu bayangan melangkah maju. Ia mendekati Joni dengan gerakan tersendat-sendat, seolah tubuhnya terbuat dari asap yang berusaha memadat. Joni merasa hawa dingin menyelimuti saat bayangan itu berhenti tepat di depannya. Ia bisa merasakan sesuatu - sebuah ingatan yang bukan miliknya, namun menyeruak masuk seperti banjir. Ia melihat sekilas kehancuran: planet-planet pecah, dewa-dewa berguguran, dan di tengahnya, sesosok makhluk dengan mahkota hitam menatap kosong ke arah kehampaan.

"Jangan!" teriak Joni sambil memejamkan mata. Namun bayangan itu tidak mundur. Malah ia mengulurkan tangan - tangan yang terbuat dari kabut perak - dan menyentuh dahi Joni. Seketika, seluruh tubuh Joni bergetar. Api hijau kembali menyala di sekelilingnya, tapi kali ini bukan dari lawan - dari dirinya sendiri. Api itu menjilat bayangan itu hingga lenyap, namun meninggalkan jejak kata-kata yang terukir di udara: ‘Kau adalah aku. Aku adalah kau. Tidak ada jalan kembali.’

Joni terjatuh. Lututnya menghantam tanah dengan keras. Ia membuka mata dan melihat tangannya - terbakar api hijau yang tidak melukainya, namun terasa seperti jutaan jarum menusuk dari dalam. Pria berjubah hitam itu menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan - apakah itu iba, atau justru kemenangan?

"Sekarang kau mengerti," bisik pria itu. "Setiap kali kau menyentuh kekuatan itu, kau mendekatkan diri pada Yang Pertama. Dan jika kau terus maju... kau tidak akan lagi bernama Joni. Kau akan menjadi wadah bagi sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri."

Joni menunduk. Air matanya - hitam pekat - mengalir membasahi pipi. Ia ingat lorong-lorong gelap Kota Bawah, ingat kelaparan, ingat bagaimana ia bertahan hidup dengan mengais sampah. Semua itu adalah miliknya. Masa lalunya, meski kelam, adalah bukti bahwa ia ada. Namun sekarang, masa lalu itu mulai terkikis, digantikan oleh gema entitas yang bahkan tidak bisa ia bayangkan bentuk aslinya.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya lirih, hampir seperti doa.

Pria berjubah hitam itu menghela napas. "Ada satu cara. Mungkin. Tapi itu akan menghilangkan semua yang kau dapatkan. Rank-mu. Kekuatanmu. Divine Dominion. Semuanya harus dilepaskan. Dan kau harus kembali menjadi Blank - gelandangan tanpa Status Panel. Bahkan ingatan tentang pertemuan ini harus kau lupakan."

Joni mendongak. Matanya - yang kini bersinar merah samar - menatap pria itu dengan penuh pertanyaan. "Dan jika aku tidak mau?"

"Maka retakan ini akan terus melebar. Dan pada akhirnya, Yang Pertama akan bangkit kembali. Bukan sebagai dirinya yang dulu, tapi sebagai dirimu - Joni, gelandangan yang tak sengaja menjadi dewa di atas dewa."

Diam. Hanya suara butiran perak yang terus berjatuhan, dan langit yang semakin pecah. Joni merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya - sebuah denyut yang selaras dengan detak jantungnya, namun lebih tua, lebih dalam. Ia menutup mata dan mencoba merasakan setiap bagian dirinya: ketakutan, amarah, keraguan, dan secercah harapan yang hampir padam.

Saat ia membuka mata kembali, ia melihat pria berjubah hitam itu sudah berdiri di tepi retakan terbesar, siap melangkah ke dalamnya. "Kau punya tiga hari," kata pria itu tanpa menoleh. "Tiga hari sebelum retakan ini benar-benar terbuka dan Yang Pertama sepenuhnya menyatu denganmu. Gunakan waktu itu untuk memutuskan. Atau..." ia berhenti, lalu berbalik dengan senyum misterius yang sama, "kau bisa mencariku di tempat yang tidak tercatat di peta mana pun. Tapi ingat: setiap pertemuan dengan diriku semakin memperdalam sambunganmu dengan Yang Pertama. Pilihan ada padamu, Joni. Atau apa pun namamu nanti."

Pria itu melangkah ke dalam retakan dan lenyap. Langit di atas perlahan-lahan mulai menutup, meninggalkan bekas luka berupa garis-garis hitam tipis yang melintang dari timur ke barat. Bayangan-bayangan perak itu juga sirna satu per satu, kembali ke asal mereka. Joni tetap berlutut di tengah lapangan yang sunyi. Angin berembus, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang terbakar.

Ia menatap telapak tangannya. Api hijau sudah padam, namun ia tahu itu hanya bersembunyi. Di dalam sana, di inti jiwanya, Yang Pertama sedang tertidur - menunggu saat yang tepat untuk membuka mata. Joni menarik napas panjang, lalu berdiri dengan kaki yang gemetar. Ia harus memutuskan. Namun semakin ia berpikir, semakin ia sadar: mungkin pilihan itu sebenarnya sudah diambil sejak malam badai di kuil kuno itu, saat panel hitam pertama kali muncul.

Malam itu, ia tidak hanya menerima kekuatan. Ia menerima sebuah takdir yang tidak pernah ia minta. Dan kini, dengan tiga hari di tangannya, ia harus mencari cara untuk menulis ulang akhir cerita itu - atau membiarkan dirinya menjadi awal dari kehancuran baru.

Di kejauhan, di balik horizon yang masih tercoreng retakan hitam, sesosok bayangan tipis bergerak. Bukan bayangan perak, bukan pula pria berjubah hitam. Sosok itu lebih kecil, lebih rapuh - seperti seorang gadis dengan rambut putih panjang yang tertiup angin. Ia berdiri di atas bukit kecil, menatap Joni dengan mata yang bersinar biru pucat. Dan saat Joni menoleh ke arahnya, gadis itu tersenyum - senyum yang tidak hangat, tidak dingin, namun penuh arti.

Joni belum pernah melihatnya sebelumnya. Namun entah kenapa, ia merasa mengenalnya. Dan itu adalah perasaan yang paling menakutkan dari semuanya.

~ Bab 20 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai