SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 19
Api Hijau yang Tak Terpadamkan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam itu, Arcadia bernapas dalam hening yang menusuk tulang. Di atas bukit tandus tempat bayangan pria berjubah hitam itu lenyap, angin berbisik seperti ratapan ribuan jiwa yang tak pernah menemukan istirahat. Joni berdiri tegak, meskipun kakinya gemetar menahan beban ingatan yang baru saja ia lalui. Lorong-lorong masa lalu masih berdenyut di pelipisnya, membawa potongan-potongan wajah yang tak ia kenal namun terasa begitu akrab-seperti mimpi yang terus berulang tanpa pernah bisa diartikan.
Elara, yang sejak tadi diam membatu di sampingnya, akhirnya membuka suara. ‘Kakak, kita tidak bisa terus berlari. Bayangan itu... aku bisa merasakannya. Ia bukan sekadar ilusi.’ Suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena semacam kesadaran yang terlalu dini untuk seusianya. Joni menoleh, menatap adik angkatnya dengan sorot mata yang mencoba terlihat tenang. Namun di dalam dadanya, sesuatu yang gelap mulai menggeliat-seperti binatang purba yang terbangun dari tidur panjang.
‘Dia ingin kita mengikutinya,’ kata Joni akhirnya. ‘Atau setidaknya, ia ingin aku mengikutinya.’
‘Lalu?’
‘Lalu kita akan lihat seberapa dalam lubang kelinci ini.’
Mereka berjalan menyusuri lereng bukit yang dipenuhi ilalang kering. Di kejauhan, cahaya kota Bawah Vareneth berkelip-kelip seperti kunang-kunang yang sakit. Namun Joni tidak menoleh ke belakang. Ia sudah terlalu sering melihat kota itu dari sudut pandang seorang gelandangan-kini ia harus melihat dunia dari perspektif yang berbeda, meskipun itu berarti harus menyusuri kegelapan yang tak berujung.
Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka tiba di sebuah lembah yang dikelilingi pepohonan mati. Batang-batangnya hitam legam, seperti terbakar oleh api yang tak kasat mata. Di tengah lembah, tepat di bawah sinar rembulan yang pucat, berdiri sesosok pria dengan jubah hitam yang sama. Pedang di tangannya menyala api hijau, dan cahayanya menari-nari seperti setan kecil yang mengejek.
‘Joni dari Lorong Kegelapan,’ suara pria itu bergema, bukan dari mulutnya, melainkan langsung di dalam kepala Joni. ‘Atau lebih tepatnya, Pemilik Rank yang Tak Tercatat. Aku sudah menunggumu.’
Joni merasakan dingin menjalar dari punggung hingga ke ujung jari. Divine Dominion di dalam dirinya bereaksi-bukan dengan kekuatan, melainkan dengan semacam kehati-hatian. Sistem itu tidak memberikan peringatan, tidak menampilkan status musuh. Seolah-olah pria ini berada di luar jangkauan logika sistem.
‘Siapa kau?’ tanya Joni, suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia rasakan.
Pria itu tersenyum-atau setidaknya, sudut bibirnya bergerak. ‘Namaku bukanlah sesuatu yang perlu kau ketahui sekarang. Yang perlu kau tahu adalah: kau telah memilih jalan yang salah. Atau mungkin benar. Tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya.’
‘Aku tidak mengerti.’
‘Tentu kau tidak mengerti. Karena kau masih berpikir seperti manusia. Kau pikir dengan menolak menjadi Raja Kegelapan, kau telah menyelamatkan dunia. Tapi tahukah kau, Joni? Terkadang, kegelapan bukanlah musuh. Terkadang, kegelapan adalah satu-satunya yang bisa melindungi cahaya.’
Api hijau di pedang itu tiba-tiba membesar, menyelimuti tubuh pria itu dalam pusaran cahaya yang menyilaukan. Ketika api itu mereda, pria itu telah berubah wujud-bukan manusia lagi, melainkan sesuatu yang lebih. Wajahnya seperti topeng yang terbuat dari obsidian, dengan dua celah kecil tempat mata biru menyala seperti bintang neutron. Dari punggungnya, sayap-sayap hitam yang compang-camping membentang, setiap bulunya tampak seperti terbuat dari asap yang membeku.
Elara mundur selangkah, tangannya meraih lengan Joni. ‘Kaka...’ bisiknya, nyaris tak terdengar.
Namun Joni tetap diam. Ia merasakan sesuatu yang aneh-kenangan yang bukan miliknya mulai mengalir masuk ke dalam kesadarannya. Sebuah masa ketika alam semesta masih muda, ketika para Dewa belum lahir, dan ketika satu entitas tunggal memerintah dalam keheningan absolut. Entitas itu tidak memiliki nama. Ia hanya dikenal sebagai ‘Yang Pertama’. Dan Yang Pertama telah menciptakan sistem Divine Registry sebagai alat untuk mengatur keseimbangan kosmos.
Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Yang Pertama menghilang. Sistem itu tetap berjalan tanpa penciptanya, dan para Dewa muncul untuk mengisi kekosongan kekuasaan. Namun di sudut-sudut gelap, sisa-sisa kekuatan Yang Pertama masih ada-menunggu untuk diaktifkan kembali oleh Pemilik Rank SSSSS.
‘Kau melihatnya, bukan?’ suara pria itu terdengar lagi, kali ini lebih lembut, hampir seperti bisikan. ‘Aku adalah salah satu dari sisa-sisa itu. Aku diciptakan untuk menjadi penjaga. Dan tugasku adalah menguji setiap pemilik Rank SSSSS yang muncul. Untuk memastikan apakah mereka layak atau tidak.’
‘Layak untuk apa?’
‘Layak untuk menjadi penerus Yang Pertama. Atau layak untuk dihancurkan sebelum mereka mengulangi kesalahan yang sama.’
Joni merasakan dunianya berputar. Selama ini ia mengira bahwa Rank SSSSS adalah puncak kekuasaan, tapi kenyataannya ia hanyalah bagian dari sebuah siklus yang sudah berlangsung selama ribuan tahun. Siklus yang penuh dengan kegagalan dan tragedi.
‘Pemilik sebelumnya...’ Joni memulai, ‘apa yang terjadi pada mereka?’
Pria itu diam sejenak. Api hijaunya berkedip-kedip, seolah ikut merasakan beban kenangan. ‘Ada tiga sebelumnya. Yang pertama berhasil mencapai puncak, tapi ia menjadi gila karena tidak mampu menanggung beban kenangan para Dewa yang ia kendalikan. Ia menghancurkan seratus sistem bintang sebelum akhirnya dikurung oleh para Dewa gabungan. Yang kedua lebih bijaksana, tapi ia jatuh cinta pada seorang manusia, dan cinta itu menjadi kelemahannya. Ia dikhianati dan dibunuh oleh Dewa yang paling ia percayai. Yang ketiga...’ suaranya tercekat, ‘yang ketiga adalah yang paling dekat dengan kesempurnaan. Ia hampir berhasil membawa perdamaian abadi. Tapi pada akhirnya, ia memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri demi menyegel sebuah kegelapan yang lebih tua dari alam semesta.’
‘Dan sekarang?’ tanya Elara dengan suara berani. ‘Apa yang kau inginkan dari Kaka?’
Pria itu menoleh ke arah Elara, dan matanya yang biru menyala sejenak meredup. ‘Aku ingin melihat apakah ia akan menjadi pemilik keempat yang gagal, atau apakah ia akan menjadi yang pertama yang berhasil. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada jalan tengah.’
Tanpa peringatan, pedang api hijau itu terangkat tinggi, dan lembah itu tiba-tiba berubah menjadi arena pertempuran. Tanah bergetar, langit berubah menjadi merah darah, dan dari celah-celah bumi, makhluk-makhluk bayangan mulai merangkak keluar-ribuan pasang mata merah yang lapar.
‘Ini adalah ujian pertamamu, Joni,’ kata pria itu, suaranya kini bergema seperti guruh. ‘Hadapi bayangan-bayangan masa lalu. Atau biarkan mereka menelammu.’
Joni menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan Divine Dominion berdenyut di dadanya, siap untuk dilepaskan. Namun di dalam hatinya, ia masih ragu. Kekuatan ini bisa menghancurkan atau membangun. Dan ia tidak tahu mana yang lebih berat.
‘Elara,’ katanya tanpa menoleh, ‘berdiri di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan bergerak.’
‘Tapi Kaka-’
‘Percayalah padaku.’
Untuk sesaat, Elara terdiam. Lalu ia menggenggam tangan Joni erat-erat. ‘Aku percaya. Sampai akhir.’
Bayangan-bayangan itu mulai menyerbu. Joni mengangkat tangannya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melepaskan Divine Dominion tanpa rasa takut. Bukan untuk membunuh, tapi untuk mengikat-untuk mengendalikan-karena ia tahu bahwa kekuatan sejati bukanlah pada kehancuran, melainkan pada kemampuan untuk memilih kapan harus menghancurkan dan kapan harus membangun.
Namun di tengah pertempuran, saat ia berhasil membalikkan serangan pertama, sebuah suara aneh terdengar di dalam pikirannya-bukan suara pria berjubah hitam, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, seperti bisikan dari lubang hitam yang tak berdasar.
‘Joni... kau pikir ini ujian? Ini baru permulaan. Dan Yang Pertama... ia tidak pernah benar-benar pergi.’
Joni berhenti. Tubuhnya membeku. Di kejauhan, pria berjubah hitam itu tersenyum-bukan senyum kemenangan, melainkan senyum penuh teka-teki, seolah ia tahu sesuatu yang Joni belum siap mengetahuinya.
Dan langit di atas Arcadia mulai retak, seperti cermin yang pecah oleh pukulan tak terlihat.
~ Bab 19 Selesai ~