Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 18

Gema dari Kehampaan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Pintu kayu hitam itu berderak ketika Joni mendorongnya, suara gesekan kering yang mengingatkannya pada tulang-tulang yang remuk. Udara yang menyembur dari celah-celah pintu terasa lebih tua dari segala yang pernah ia hirup-berat, pekat, dan sarat denganmuara ingatan yang membara. Ia melangkah maju, dan di luar ambang, cahaya tidak datang dari lampu atau bara, melainkan dari partikel-partikel emas yang melayang-layang seperti debu bintang yang hidup. Ruangan di depannya bukanlah ruangan biasa; ia adalah sebuah lorong tak terbatas yang membentang ke segala arah, dinding-dindingnya terbuat dari kabut yang berputar-putar, dan di dalam kabut itu terpantul adegan-adegan perang.

Joni melihat sosok-sosok raksasa dengan sayap api saling beradu pedang, kilatan cahaya yang memecah langit, dan dentuman yang membuat tulang-tulang di tubuhnya bergema. Ia menyaksikan seorang dewi dengan rambut emas panjang berteriak dalam bahasa yang tidak ia pahami, tangannya yang berlumuran darah mencengkeram pecahan mahkota. Di kejauhan, seorang pria bertubuh ringkih duduk di singgasana yang terbuat dari mayat dewa-dewa, matanya kosong, dan di atas kepalanya berputar sebuah mahkota hitam dengan tujuh bara merah. ‘Pemilik Rank SSSS sebelumnya,’ bisik Asih di sudut pikirannya, suaranya bergetar seperti daun tertiup angin malam. ‘Dia adalah Raja Kegelapan yang menghancurkan sepertiga alam semesta. Dan kau, Kaka, memiliki jejak yang sama.’

Joni merasakan dadanya sesak. Setiap langkah yang ia ambil di lorong ini membuat adegan-adegan itu bergerak mendekat, seolah-olah ia bukan sekadar penonton, melainkan bagian dari tarian berdarah itu. Ia bisa merasakan sakit di tubuh sang raja, kebencian yang membara, dan kehampaan yang melampaui keputusasaan. ‘Kenapa aku diperlihatkan ini?’ tanyanya dalam hati. Asih tidak menjawab, tetapi di belakang lehernya, angin dingin menyapu, membawa bisikan dari banyak suara yang tumpang tindih: ‘Kau adalah kelanjutan. Atau akhir.’

Sebuah pintu lain muncul di ujung lorong, tidak lagi dari kayu hitam, melainkan dari kristal bening yang di dalamnya mengalir darah. Joni menghampirinya, dan saat jari-jarinya menyentuh permukaan kristal, seluruh lorong bergetar. Dalam sekelip mata, adegan perang lenyap, dan ia berdiri di sebuah ruangan persegi yang kosong. Hanya ada satu meja batu di tengahnya, dan di atas meja itu terbaring sebuah buku dengan sampul kulit manusia yang masih membekas tato kuno. Buku itu terbuka pada halaman tengah, dan tinta hitam yang digunakan untuk menulis seolah masih basah, menetes perlahan ke permukaan meja.

Joni membaca baris pertama: ‘Jiwa yang lahir dari kegelapan harus kembali ke kegelapan. Namun jika ia memilih terang, alam semesta akan runtuh.’ Ia merasa dadanya seperti ditinju. Pikirannya berputar: apakah ini kutukan? Atau ramalan? Tangannya gemetar saat ia membalik halaman berikutnya. Di sana tertulis nama-nama dewa yang telah ia kendalikan-Ellara, Mordekai, bahkan Asih-dan di samping setiap nama ada tanggal kematian yang belum terjadi. ‘Kau tidak bisa menyelamatkan mereka semua,’ suara serak bergema dari balik meja. Joni menoleh, dan di sudut ruangan, bayangan dengan dua mata merah mengawasinya. ‘Kau hanya bisa memilih satu jalan. Jalan kehancuran, atau jalan menuju takhta yang lebih tinggi.’

Asih muncul di samping Joni, wujudnya samar seperti kabut. ‘Kaka, jangan percaya padanya. Itu adalah sisa-sisa dari Raja Kegelapan. Ia mencoba menarikmu ke dalam perangkap.’ Namun Joni merasa ada kebenaran dalam kata-kata bayangan itu. Ia meletakkan tangannya di atas buku, dan tiba-tiba buku itu menyala dalam kobaran api ungu. Api tidak membakar tangannya, melainkan merambat ke lengan, ke bahu, hingga ke dalam dadanya. Ia merasakan serpihan-serpihan kenangan dari ribuan tahun yang lalu: pertempuran para dewa, pengkhianatan, dan seorang gadis kecil yang menangis di atas tumpukan mayat. Gadis itu adalah pemilik asli Rank SSSS sebelum Raja Kegelapan-ia dikhianati oleh para dewa yang takut padanya. ‘Kau... kau adalah aku,’ bisik gadis itu dalam ingatan, matanya yang biru pucat menatap lurus ke arah Joni. ‘Dan aku gagal. Jangan ulangi kesalahan yang sama.’

Api ungu padam, dan buku itu menjadi debu. Joni jatuh berlutut, keringat dingin membasahi wajahnya. Bayangan dengan dua mata merah perlahan menghilang, meninggalkan tawa yang bergema di ruangan itu. ‘Kehampaan menunggumu, Penguasa Palsu. Kau akan melihat bahwa bahkan Rank SSSS pun tidak bisa melawan takdir.’ Joni menggertakkan gigi. Ia mengepalkan tangan, dan di dasar hatinya, ia berteriak dalam diam: ‘Aku bukan dia. Aku bukan Raja Kegelapan. Aku adalah Joni, si gelandangan yang tidak punya apa-apa. Dan aku akan membuktikan bahwa takdir bisa diubah.’

Namun di sudut ruangan, di mana bayangan itu telah pergi, sebuah retakan mulai muncul di dinding. Dari retakan itu, suara-suara perang dan jeritan kembali terdengar, lebih keras, lebih nyata. Joni bangkit, dan saat ia menatap retakan itu, ia melihat sekilas medan perang yang baru: langit yang dihiasi dua bulan darah, dan di tengahnya berdiri seorang dewi dengan mahkota dari duri. Dewi itu menoleh, dan untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Bibir dewi itu bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara: ‘Ayo, Joni. Atau semua akan berakhir.’

Ia tidak tahu apakah itu ancaman atau undangan. Asih meraih tangannya, jari-jarinya dingin tetapi penuh kekuatan. ‘Kaka, kita harus keluar dari sini. Lorong ini mulai runtuh.’ Joni mengangguk, tetapi sebelum ia melangkah, ia mengarahkan pandangan terakhir pada retakan itu. Di belakang dewi berduri, ia melihat samar-samar sosok yang ia kenali-seorang pemuda dengan seragam usang, tubuh kurus, dan mata yang penuh dendam. Sosok itu adalah bayangan dari dirinya sendiri, atau mungkin versi dirinya yang telah menyerah pada kegelapan. ‘Jangan biarkan aku menjadi dirimu,’ bisik Joni pada bayangan itu. ‘Aku akan menemukan jalan lain.’

Ia berbalik, dan bersama Asih, ia berlari menuju pintu kristal yang kini terbuka lebar di ujung lorong. Di luar, ia bisa melihat secercah cahaya langit senja-dunia nyata. Namun saat ia hampir mencapai pintu, sebuah tangan dari bayangan meraih pergelangan kakinya, menariknya ke belakang. Joni terjatuh, wajahnya membentur lantai dingin. Asih berteriak, dan dari dalam tubuh Joni, energi hitam meledak, menghancurkan tangan bayangan itu menjadi serpihan. ‘Kau tidak bisa lari selamanya!’ teriak suara dari lorong. ‘Darahmu adalah kunci. Dan pintu-pintu lain masih menunggumu!’

Joni bangkit, napasnya terengah-engah. Ia melompat melewati ambang pintu, dan saat ia mendarat di rerumputan kering, pintu kristal itu menghilang menjadi kabut. Langit di atasnya adalah senja yang tenang, dengan awan-awan merah muda yang damai. Namun di dalam dadanya, gejolak tidak kunjung reda. Asih duduk di sampingnya, kepalanya bersandar di bahu Joni. ‘Kaka, apa yang kau lihat di retakan itu?’ tanyanya lembut. Joni menatap telapak tangannya sendiri, yang kini dipenuhi garis-garis hitam tipis seperti urat. ‘Seseorang menungguku di medan perang lain. Dan aku merasa… itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang dewa.’

Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan Divine Dominion berdenyut di bawah kulitnya. Namun di balik kekuatan itu, ia juga merasakan beban yang semakin berat-tangisan gadis kecil dalam ingatan, tawa bayangan merah, dan tatapan dewi berduri. ‘Aku harus tahu lebih banyak,’ gumamnya. ‘Tentang pemilik sebelumnya, tentang takdir ini, dan tentang jalan di antara kehancuran dan takhta.’ Asih hanya menggeleng pelan, tetapi di matanya ada keyakinan yang tidak bisa digoyahkan. ‘Apa pun yang terjadi, Kaka, aku di sini. Sampai akhir.’

Dan di kejauhan, di atas bukit yang mulai gelap, sesosok bayangan kembali muncul, kali ini lebih jelas: seorang pria berjubah hitam dengan pedang yang menyala api hijau. Ia tidak bergerak, hanya menatap ke arah Joni, lalu perlahan menghilang di antara pepohonan. Joni tahu itu adalah undangan lain. Atau peringatan. Dan ia juga tahu bahwa perjalanannya di lorong ingatan hanyalah awal dari serangkaian ujian yang akan mengguncang fondasi alam semesta. Namun ia telah memilih untuk tidak menjadi Raja Kegelapan. Dan di dalam pilihannya itu, tersembunyi harapan yang rapuh-atau mungkin justru kehancuran yang lebih dahsyat. Hanya waktu yang bisa menjawab, dan waktu, di dunia Arcadia, tidak pernah berpihak pada yang ragu.

~ Bab 18 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai