SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 17
Pelukan yang Tak Terlihat
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Cahaya itu bukanlah cahaya yang dikenal oleh mata manusia. Ia tidak hangat seperti mentari pagi, tidak dingin seperti pendar bintang, tidak pula menyilaukan seperti sambaran petir. Ia adalah sesuatu di antaranya-sebuah substansi yang terasa hidup, yang mengalir di sekitar Joni seperti sungai yang terbuat dari sutra cair. Setiap partikelnya berdenyut seirama dengan detak jantungnya, menciptakan simfoni getaran yang merambat dari ujung rambut hingga ke tulang sumsumnya. Joni menutup matanya, bukan karena silau, melainkan karena ia merasa bahwa melihat terlalu lama akan membuatnya kehilangan diri sendiri dalam keindahan yang begitu asing.
Ketika ia membuka matanya kembali, dunia telah berubah. Ia berdiri di tengah sebuah ruangan yang tak berdinding, tak beratap, tak berlantai-sebuah kekosongan yang justru terasa penuh. Udara di sekitarnya berkilauan seperti debu berlian yang melayang tanpa gravitasi, dan di kejauhan, samar-samar, ia melihat garis-garis tipis yang membentuk pola rumit, seperti jaring laba-laba raksasa yang terbuat dari cahaya merah dan emas. Ia menyadari bahwa garis-garis itu bukan sekadar hiasan: mereka adalah tulisan, simbol-simbol kuno yang berdenyut dengan makna yang tak dapat ia baca, namun ia pahami secara naluriah-seperti seorang bayi yang mengerti arti senyuman ibunya tanpa perlu kata-kata.
Lalu, dari tengah kekosongan itu, sebuah suara bergema. Bukan suara yang didengar telinga, melainkan suara yang langsung terpatri di dalam pikirannya. Suara itu familiar dan asing dalam waktu yang bersamaan: seperti bisikan Asih, namun lebih dalam, lebih tua, lebih berat. "Kau telah melangkah melewati batas yang tak pernah dilanggar oleh siapa pun selama ribuan tahun, Joni. Selamat datang di Ruang Antara-tempat di mana sistem kehilangan kuasanya, di mana para Dewa hanya menjadi bayangan, dan di mana kau, seorang Blank, kini menjadi satu-satunya entitas yang berdiri di atas segala hierarki."
Joni merasakan dadanya sesak. Ia ingin berlari, ingin berteriak, ingin kembali ke lorong gelap Kota Bawah yang ia benci namun ia kenali. Tapi kakinya terpaku, dan pikirannya-meskipun kacau-tetap jernih dalam satu hal: ia tidak akan pernah bisa kembali. "Kau... siapa?" tanyanya, suaranya serak namun mantap. "Asih? Atau sesuatu yang lain?"
Dari pusaran cahaya di depannya, sebuah wujud mulai terbentuk. Awalnya hanya sekumpulan titik-titik bercahaya yang berputar perlahan, lalu perlahan-lahan merapat, membentuk siluet seorang gadis muda. Rambut panjangnya tergerai seperti air terjun hitam yang berkilauan, matanya bersinar merah delima, dan di dahinya terukir sebuah simbol-lingkaran dengan tiga garis melengkung yang saling bertautan-yang persis sama dengan simbol yang muncul di panel sistem hitam di malam ia menerima Rank SSSSS. Gadis itu tersenyum, namun senyumannya mengandung kesedihan yang tak terperi. "Aku adalah apa yang tersisa dari Asih yang kau kenal. Juga apa yang tersisa dari mereka yang telah mendahuluimu-pemilik Rank SSSSS sebelumnya."
Joni tersentak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam. "Pemilik sebelumnya?" ulangnya, suaranya bergetar. "Kau bilang... ada yang lain?"
Gadis itu-atau entitas yang menyerupai Asih-mengangguk pelan. "Bukan hanya satu, melainkan tujuh orang. Tujuh jiwa yang terpilih, tujuh penguasa yang berdiri di atas para Dewa, tujuh makhluk yang akhirnya hancur oleh beban yang mereka pikul. Masing-masing dari mereka meninggalkan jejak di dalam sistem, di dalam dimensi ini, dan di dalam jiwaku. Aku adalah kumpulan ingatan mereka, duka mereka, dan juga kutukan mereka. Dan sekarang, kau, Joni, adalah yang kedelapan."
Joni merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Ia ingin bertanya lebih banyak, namun entitas itu mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk diam. "Belum saatnya. Ada sesuatu yang harus kau lihat terlebih dahulu. Sesuatu yang akan menjelaskan mengapa kau dipilih, dan mengapa sistem ini-sistem yang bahkan para Dewa tidak ketahui-ada di dalam dirimu."
Dengan lambaian tangan gadis itu, ruang di sekitar mereka berubah. Kekosongan itu larut menjadi serangkaian gambar yang bergerak cepat, seperti film yang diputar dengan kecepatan tinggi. Joni melihat peradaban-peradaban yang runtuh, langit yang terbakar, lautan yang mendidih, dan di tengah-tengahnya, sesosok makhluk raksasa yang duduk di singgasana yang terbuat dari tulang-belulang bintang. Makhluk itu memegang sebuah tongkat hitam yang memancarkan aura kegelapan yang mencekik. Dan di kakinya, berlutut ribuan Dewa dengan wajah ketakutan dan penghormatan yang abadi.
"Itu dia," bisik entitas itu, suaranya bergetar. "Pemilik pertama. Yang menciptakan sistem ini bukan dari keinginan untuk berkuasa, melainkan dari keputusasaan. Ia adalah manusia biasa seperti dirimu, Joni. Tapi ia dikhianati oleh Dewa-Dewa yang seharusnya melindunginya. Keluarganya dibantai, dunianya dihancurkan, dan ia dilemparkan ke dalam kekosongan tanpa harapan. Namun di dalam kekosongan itu, ia menemukan sesuatu-sesuatu yang bahkan lebih tua dari sistem kosmik itu sendiri. Sebuah kekuatan yang tidak terdaftar, tidak terkendali, dan abadi. Rank SSSSS."
Gambar berganti. Kini Joni melihat pemilik pertama itu berdiri di atas reruntuhan sebuah istana surgawi, dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia tidak tampak sebagai penakluk yang kejam, melainkan sebagai anak kecil yang kehilangan segalanya. "Ia menggunakan kekuatan ini untuk membalaskan dendamnya," lanjut entitas itu. "Namun setiap tindakan menuntut harga. Setiap Dewa yang ia tundukkan meninggalkan luka di jiwanya. Setiap kenangan yang ia serap memperberat pundaknya. Pada akhirnya, ia tidak tahan lagi. Ia menghancurkan dirinya sendiri, membawa sepertiga alam semesta ke dalam kehancuran bersamanya. Dan sistem itu-sistem yang ia ciptakan dari kesedihan dan kemarahan-terkubur bersama ingatan tentangnya."
Joni menelan ludah. Mulutnya terasa kering. "Dan sekarang... aku mendapatkannya."
"Kau mendapatkannya, karena sistem itu memilihmu. Bukan karena kau kuat, bukan karena kau pantas, melainkan karena kau adalah satu-satunya yang masih memiliki secercah harapan di tengah keputusasaan yang total. Saat kau hampir mati di kuil itu, sistem merasakan kesamaan antara dirimu dan pemilik pertama. Nasib yang sama: tergantung di antara hidup dan mati, diabaikan oleh dunia, dan memiliki alasan untuk membenci para Dewa. Tapi ada perbedaan besar."
Entitas itu melangkah mendekat, wajahnya yang bercahaya kini hanya beberapa inci dari wajah Joni. Ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata merah delima itu-pantulan seorang pemuda yang compang-camping, dengan mata yang lelah namun masih menyimpan api kecil. "Pemilik pertama membiarkan kebencian menguasainya. Ia tidak pernah mencari makna di luar dendam. Tapi kau, Joni, di dalam kegelapanmu, kau masih peduli. Kau memberi makanan pada anak-anak jalanan meskipun kau sendiri kelaparan. Kau menolong orang tua yang jatuh meskipun tak ada yang menolongmu. Itulah mengapa sistem memanggilmu bukan sebagai ‘penguasa’ dalam arti sebenarnya, melainkan sebagai ‘penjaga’. Kau adalah penjaga dari apa yang ditinggalkan oleh pemilik pertama-sebuah warisan yang harus diperbaiki, bukan diteruskan."
Joni merasakan beban yang luar biasa di pundaknya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku hanya seorang gelandangan. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa..."
"Kau bisa, karena kau sudah melangkah sejauh ini. Dan kau tidak akan melangkah sendirian." Entitas itu meraih tangan Joni. Telapak tangannya dingin namun memberikan rasa tenang yang aneh. "Aku akan menemanimu, setidaknya sampai kau cukup kuat untuk berdiri sendiri. Ingatlah, Joni: Rank SSSSS bukanlah anugerah. Ia adalah tanggung jawab. Dan tanggung jawab pertama yang harus kau pikul adalah menjaga agar dirimu sendiri tidak hancur. Karena jika kau hancur, kehancuran yang kau bawa tidak akan kalah dahsyat dengan pemilik pertama."
Lalu, entitas itu melepaskan tangannya. Di telapak tangan Joni, sebuah simbol mulai terbakar-lingkaran dengan tiga garis melengkung yang sama. Rasa sakit yang menusuk menjalari lengannya, namun di saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang baru: sebuah kekuatan yang mengalir dari dalam dirinya, seperti lahar yang siap meletus. Panel sistem hitam muncul di depan matanya, dan kali ini, kata-kata baru terukir di atasnya:
[WARISAN TERBUKA: GARDIAN PROTOCOL] [AKSES TERBUKA: ARSIP INGATAN PEMILIK PERTAMA - TERBATAS] [PERINGATAN: Setiap ingatan yang diakses akan meninggalkan jejak permanen. Disarankan hanya mengakses saat dalam pengawasan entitas penjaga.]
Joni menatap panel itu dengan perasaan campur aduk. Takut, penasaran, marah, dan-yang paling mengejutkan-harapan. Ia menoleh ke entitas yang masih berdiri di sisinya, yang sekarang mulai memudar seperti kabut pagi. "Kau akan pergi?" tanyanya.
"Aku tidak pergi. Aku hanya menjadi bagian dari dirimu, seperti aku menjadi bagian dari mereka sebelumnya. Suaraku akan selalu ada di dalam kepalamu, Joni. Dengarkan ketika kau ragu. Dan jangan pernah lupa: kau bukanlah pemilik pertama. Kau adalah sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih baik."
Saat entitas itu menghilang sepenuhnya, Joni mendapati dirinya kembali di ruang kosong yang sunyi. Namun kini, di sekelilingnya, pintu-pintu mulai muncul-puluhan pintu dengan ukiran yang berbeda-beda, masing-masing memancarkan aura yang unik. Beberapa terasa hangat dan mengundang, beberapa terasa dingin dan menakutkan. Joni berjalan ke arah pintu yang paling dekat, yang terbuat dari kayu hitam dengan ukiran naga yang melingkar. Dari balik pintu itu, ia mendengar suara samar: suara perang, jeritan, dan nyanyian kemenangan.
Ia meletakkan tangannya di permukaan kayu itu, dan merasakan getaran yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. Sebuah pertanyaan muncul di pikirannya, bukan dari panel sistem, melainkan dari nalurinya sendiri: ‘Apakah aku siap untuk mengetahui apa yang terjadi di balik pintu-pintu ini?’
Joni menarik napas panjang. Udara di dalam ruang ini terasa tipis, namun ia bisa merasakan oksigen yang cukup untuk bertahan. Ia menutup matanya sejenak, mendengarkan suara Asih yang kini berbisik di sudut pikirannya: ‘Kaka, aku di sini. Selalu.’
Lalu, dengan dorongan yang lahir dari tekad yang goyah namun tak terbantahkan, Joni membuka pintu itu.
~ Bab 17 Selesai ~