SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 16
Ruang Hening yang Berteriak
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Lonceng perak itu masih bergetar di punggungnya, sebuah dengung halus yang merambat hingga ke sumsum tulang, seolah setiap frekuensinya adalah benang yang mengikat Joni pada kenyataan yang mulai terurai. Ia melangkah melewati ambang pintu, dan kegelapan di depannya bukanlah sekadar ketiadaan cahaya-ia adalah entitas yang bernapas, sebuah kekosongan yang berdenyut dengan ritme jantung yang tak pernah ia kenal. Bau tanah basah bercampur dengan aroma logam tua dan sesuatu yang manis seperti gula terbakar, menyesakkan paru-parunya sejak tarikan napas pertama. Dinding-dinding di sekelilingnya tidak terbuat dari batu atau beton, melainkan dari kabut yang membeku, padat namun transparan, memungkinkan Joni melihat siluet-siluet samar yang bergerak di dalamnya-bayangan dari masa lalu, mungkin, atau mungkin jiwa-jiwa yang terperangkap di antara lapisan realitas.
Setiap langkahnya menciptakan gema yang aneh, bukan kembali ke telinganya, melainkan merambat ke atas, ke bawah, ke segala arah, seolah lantai di bawah kakinya adalah membran raksasa yang mentransmisikan getaran ke seluruh struktur menara. Joni merasakan beban di dadanya, bukan hanya dari noda di tangannya yang semakin gelap-kini berdenyut dengan warna ungu kehitaman seperti memar yang membusuk-tetapi juga dari bisikan-bisikan yang mulai berkecambah di sudut kesadarannya. Suara-suara itu bukanlah kata-kata yang jelas, melainkan desahan panjang, campuran ratapan dan gumaman, seperti samudra yang berbicara dalam bahasa yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang telah tenggelam terlalu dalam. 'Kau membawa api,' bisik salah satu suara, lebih jelas dari yang lain, membuat Joni berhenti. 'Api yang membakar dari dalam, bukan dari luar. Kau tahu itu, bukan? Kau telah membakarmu sendiri sejak kau menerima mahkota itu.'
Joni menoleh, mencari sumber suara, tetapi hanya ada dinding kabut yang berputar perlahan, membentuk pusaran-pusaran kecil yang menari mengikuti irama napasnya sendiri. Ia sadar bahwa menara ini hidup, dan ia adalah tamu yang tidak diundang-atau mungkin lebih tepatnya, ia adalah bagian dari mekanisme yang telah lama menunggu kedatangannya. Di lantai, ia melihat jejak kaki-bukan jejaknya sendiri, melainkan jejak yang lebih kecil, lebih ringan, seolah dibuat oleh anak-anak yang berlari tanpa beban. Jejak itu menuju ke arah tangga spiral di ujung ruangan, tangga yang terbuat dari tulang-belulang yang tersusun rapi, setiap anak tangga adalah ruas tulang paha yang dipoles hingga mengkilat. Cahaya merah samar memancar dari celah-celah di antara tulang, memberikan ilusi bahwa tangga itu bernapas, mengembang dan mengempis seiring dengan aliran energi yang tidak terlihat.
'Asih,' gumam Joni, dan nama itu terasa seperti duri di tenggorokannya. Gadis kecil yang telah menjadi debu di tangannya, yang senyumnya masih terpatri di retina matanya, yang terakhir kali ia lihat saat ia menghilang bersama angin. 'Apa kau di sini? Apa kau bagian dari ini semua?' Tidak ada jawaban, hanya desahan yang semakin keras, berubah menjadi paduan suara yang hiruk-pikuk, memenuhi ruangan dengan gelombang suara yang membuat Joni menekan telapak tangan ke telinganya. Namun, suara-suara itu tidak datang dari luar-ia berasal dari dalam, dari kedalaman pikirannya sendiri, dari setiap dewa yang pernah ia kendalikan, dari setiap kutukan yang ia serap ke dalam jiwanya. Ia melihat kilasan-kilasan: seorang dewi dengan sayap patah yang menangis di atas lautan api, seorang raja yang duduk di singgasana dari tengkorak, seorang anak yang memegang hati yang masih berdetak di tangannya yang mungil. Semua itu adalah fragmen dari kehidupan yang bukan miliknya, tetapi kini menjadi bagian dari esensinya, mengalir dalam darahnya seperti racun yang manis.
Joni mengambil langkah pertama menuju tangga tulang. Saat kakinya menyentuh anak tangga paling bawah, rasa dingin yang menusuk menjalar dari ujung jari kakinya hingga ke pangkal pahanya, seolah tulang itu mengisap panas tubuhnya dan menggantinya dengan sesuatu yang cair, sesuatu yang mengalir lambat seperti merkuri. Ia merasakan tarikan gravitasi yang aneh, bukan ke bawah, melainkan ke samping, seolah ruang di sekelilingnya melengkung, membengkokkan perspektif sehingga tangga di depannya tampak tak berujung dan juga tak berawal. Setiap anak tangga yang ia injak mengeluarkan suara derit yang dalam, bukan dari tulang yang retak, melainkan dari udara yang bergetar, menciptakan not-not musik yang membentuk melodi sendu. Lagu itu tidak asing-ia adalah lagu yang dinyanyikan oleh angin di lorong-lorong Kota Bawah Vareneth, lagu yang hanya didengar oleh mereka yang tidur di bawah langit yang retak, lagu tentang harapan yang terkoyak dan mimpi yang digantung di tali jemuran.
Di tengah perjalanan menaiki tangga, Joni berhenti. Di depannya, di anak tangga yang lebih tinggi, duduk seorang wanita dengan gaun putih yang berlumuran noda merah. Wajahnya pucat seperti pualam, rambutnya hitam panjang tergerai menutupi separuh wajah, dan matanya-matanya kosong, tanpa pupil, hanya putih susu yang menatap lurus ke arah Joni. Wanita itu tidak bergerak, tidak bernapas, tetapi bibirnya bergerak, membentuk kata-kata yang tidak terdengar. Joni merasakan hawa dingin yang lebih menusuk dari sebelumnya, dan di dadanya, noda di tangannya memanas, berdenyut seperti jantung kedua. 'Siapa kau?' tanya Joni, suaranya bergema di ruang yang hening. Wanita itu tersenyum-senyum yang getir, penuh luka, seolah ia telah menunggu pertanyaan itu selama ribuan tahun.
'Aku adalah apa yang kau cari,' jawab wanita itu, suaranya bukan dari mulutnya, melainkan dari dalam kepala Joni, getaran yang merambat di saraf optiknya, menciptakan gambar-gambar yang tumpang tindih dengan kenyataan. 'Aku adalah jawaban dari setiap tangga yang kau injak, dari setiap bisikan yang kau dengar. Namun, kau belum siap. Kau masih membawa beban yang terlalu berat, beban yang tidak seharusnya kau pikul sendiri.' Wanita itu mengangkat tangannya yang berlumuran noda merah, noda yang sama dengan yang ada di tangan Joni, dan menunjuk ke arah jantungnya sendiri. 'Kau pikir kau mengendalikan para dewa? Tidak, Joni. Mereka mengendalikanmu. Setiap kali kau mengikat mereka, kau mengikat dirimu sendiri. Setiap kali kau memerintah, kau diperintah. Mahkota yang kau kenakan adalah mahkota duri, dan setiap duri menusuk lebih dalam setiap kali kau melangkah.'
Joni merasakan amarah yang mendidih di dadanya, bukan amarah terhadap wanita itu, melainkan terhadap dirinya sendiri, terhadap kebenaran yang ia coba hindari. 'Aku tidak punya pilihan,' katanya, suaranya bergetar. 'Aku tidak punya pilihan sejak lahir sebagai Blank, sejak aku diterlantarkan di lorong-lorong itu, sejak sistem ini memilihku. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk bertahan, untuk melindungi apa yang tersisa.' Wanita itu tertawa-tawa yang kering, tanpa humor, seperti ranting patah di musim kemarau. 'Bertahan? Melindungi? Kau telah membunuh lebih banyak daripada yang kau selamatkan, Joni. Setiap dewa yang kau kendalikan adalah kehidupan yang kau rampas, takdir yang kau bengkokkan. Dan kau pikir itu semua demi kebaikan? Tidak. Itu demi dirimu sendiri. Demi rasa lapar yang tak pernah terpuaskan, demi keinginan untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar gelandangan.'
Kata-kata itu menusuk, lebih tajam dari pedang mana pun. Joni membayangkan wajah Asih, gadis kecil yang tersenyum padanya di kuil itu, yang percaya padanya, yang berubah menjadi debu karena ia gagal melindunginya. Apakah wanita ini benar? Apakah ia hanya menggunakan alasan mulia untuk menutupi egoismenya sendiri? Ia menunduk, menatap noda di tangannya yang semakin melebar, merayap naik ke pergelangan tangannya, membentuk pola-pola seperti ular yang melilit. Di dalam noda itu, ia melihat pantulan wajahnya sendiri-wajah yang lelah, dengan mata yang sayu, dan di balik matanya, ia melihat lautan dewa-dewa yang meronta, berteriak dalam kebisuan, terperangkap dalam jiwanya. 'Lalu apa yang harus kulakukan?' bisik Joni, hampir putus asa. 'Apa kau punya jawaban, atau kau hanya di sini untuk menghakimiku?'
Wanita itu berdiri perlahan, gaunnya mengalir seperti air, dan ia melangkah turun dua anak tangga, kini hanya berjarak beberapa langkah dari Joni. Ia mengulurkan tangannya, dan Joni melihat bahwa di telapak tangannya, ada sebuah mata yang terbuka-mata yang berwarna emas, dengan iris yang berputar lambat, memancarkan cahaya yang hangat namun menusuk. 'Jawabannya bukan milikku untuk diberikan,' kata wanita itu. 'Tetapi ada satu hal yang harus kau ketahui sebelum kau melangkah lebih jauh. Menara ini bukanlah tempat ujian, Joni. Ini adalah tempat pengakuan. Di dalam setiap dinding, di setiap bisikan, tersembunyi potongan-potongan dari dirimu sendiri yang telah kau kubur. Kau harus menghadapinya, satu per satu, hingga kau tidak memiliki apa pun yang tersisa untuk disembunyikan. Hanya dengan begitu kau dapat mencapai puncak, dan hanya dengan begitu kau dapat memahami apa artinya menjadi Penguasa di Atas Para Dewa.'
Mata di telapak tangan wanita itu berkedip, dan Joni merasakan sensasi aneh, seolah ada yang menarik kesadarannya ke dalam pusaran. Ruangan di sekelilingnya mulai memudar, kabut dinding berubah menjadi pusaran cahaya, dan suara-suara yang tadinya hiruk-pikuk menjadi satu nada panjang, satu frekuensi yang meresonansi dengan setiap sel di tubuhnya. Ia merasa dirinya jatuh, meskipun kakinya masih berdiri di anak tangga, jatuh ke dalam dirinya sendiri, ke dalam labirin ingatan yang telah lama ia kunci. Ia melihat kilasan masa kecilnya: lorong-lorong gelap, hujan yang tak kunjung reda, tangan-tangan yang mengulurkan makanan basi, suara-suara yang mengejek 'Blank'. Ia melihat saat pertama kali sistem muncul-panel hitam dengan tepi merah darah, tulisan yang berkilauan seperti api, dan rasa kekuatan yang memabukkan yang membanjiri dirinya seperti gelombang. Dan di balik semua itu, ia melihat Asih, tersenyum, lalu berubah menjadi debu yang beterbangan di angin.
Joni berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Ia terperangkap dalam momen itu, dalam pusaran antara yang nyata dan yang tidak, antara apa yang telah terjadi dan apa yang mungkin terjadi. Wanita dalam gaun putih masih di depannya, kini tersenyum penuh teka-teki, dan dari belakangnya, Joni melihat sembulan cahaya-cahaya putih yang bersih, menyilaukan, seperti pintu menuju sesuatu yang baru. 'Waktu hampir habis, Joni,' kata wanita itu, suaranya kini lembut, hampir seperti ibunya yang tidak pernah ia miliki. 'Empat puluh tiga jam. Kau harus memilih: terus naik, menghadapi apa pun yang menantimu, atau turun kembali, meninggalkan Asih, meninggalkan semua yang telah kau perjuangkan. Pilihan ada di tanganmu.'
Joni menatap tangga di depannya, yang kini berakhir di ambang pintu bercahaya. Di belakangnya, tangga yang telah ia lalui kini menghilang, digantikan oleh jurang gelap yang tidak berdasar. Ia tidak punya jalan kembali. Ia tidak pernah punya jalan kembali sejak malam itu di kuil, sejak sistem memilihnya, sejak ia menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia. Dengan napas yang dalam, dengan hati yang dipenuhi keraguan dan tekad yang goyah, Joni melangkah maju, meninggalkan wanita itu, meninggalkan bisikan-bisikan, meninggalkan segala yang telah ia ketahui. Kaki kanannya menyentuh anak tangga terakhir, lalu ia melangkah ke dalam cahaya, merasakan sensasi hangat yang menyelimuti tubuhnya, seperti pelukan dari sesuatu yang telah lama menunggu.
Dan saat cahaya itu mengelilinginya, Joni mendengar suara Asih, jelas dan nyata, berbisik di telinganya: 'Aku menunggumu, Kaka.'
~ Bab 16 Selesai ~