Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 15

Tangga Menuju Kesedihan

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Senja merah darah itu seolah-olah merupakan kanvas yang dilukis oleh tangan seorang pelukis gila-guratan-guratan merah dan jingga yang tidak karuan, tercoreng di atas latar abu-abu kelabu yang mencekam. Joni berdiri di tepi danau, memandang ke arah timur, di mana puncak Menara Kesedihan menjulang seperti sebuah tiang raksasa yang menembus perut langit. Menara itu tidak hanya tinggi; ia terasa hidup, seolah-olah dinding-dindingnya yang hitam legam itu bernapas dalam irama yang lambat dan berat. Dari celah-celah batunya, semburat cahaya merah samar keluar-bukan cahaya api, melainkan sesuatu yang lebih purba, lebih dingin, seperti pancaran dari mata yang telah lama buta namun masih mampu merasakan kehadiran.

Empat puluh enam jam. Angka itu berputar di benak Joni seperti roda gila yang tak pernah berhenti. Setiap detik yang berlalu adalah satu langkah lebih dekat menuju jurang entah apa. Dan ia melangkah, meninggalkan danau yang diam-diam mulai menguap dalam kabut tipis, meninggalkan jejak kakinya di atas tanah berbatu yang kering dan retak-retak seperti kulit ular purba. Angin bertiup dari arah barat, membawa bau anyir yang samar-bukan darah, melainkan bau besi yang membara, seperti pedang yang baru saja ditempa. Joni menarik napas dalam-dalam, dan paru-parunya terisi oleh udara yang terasa lebih berat daripada timah.

Di hadapannya, sebuah jalan setapak yang tidak rata membentang menuju kaki Menara. Jalan itu dikelilingi oleh hutan pohon-pohon mati-batang-batang yang patah dan mencakar ke arah langit seperti jari-jari kerangka yang memohon ampun. Tidak ada daun, tidak ada lumut, hanya kulit kayu yang terkelupas dan mengeluarkan suara berderak setiap kali angin menyentuhnya. Joni berjalan perlahan, matanya awas mengamati setiap bayangan. Di dunia Arcadia, ia telah belajar bahwa tidak ada yang lebih berbahaya daripada tempat yang tampak sunyi. Kesunyian sering kali merupakan topeng bagi sesuatu yang lapar.

Dan ia tidak salah. Dari balik batang pohon yang paling besar, sesosok makhluk melangkah keluar. Ia berbentuk humanoid, tetapi tingginya mencapai tiga meter, dengan kulit yang transparan seperti kaca buram, dan di dalam tubuhnya mengalir cairan keperakan yang berkilauan layaknya air raksa. Matanya tidak ada, hanya dua lubang hitam yang mengeluarkan asap tipis. Makhluk itu tidak berbicara, tetapi Joni dapat merasakan kehadirannya di dalam pikirannya-sebuah getaran frekuensi rendah yang menggetarkan tulang-tulangnya.

[ENTITAS TERDETEKSI: WAJA KACA - RANK B] [PERINGATAN: Entitas ini dikirim oleh Dewa Angkasa untuk menghalangi perjalanan Anda]

Joni tidak bergeming. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menggunakan kekuatan Divine Dominion kecuali benar-benar diperlukan. Namun di sini, di jalan setapak menuju Menara Kesedihan, setiap detik sangat berharga. Ia membuka telapak tangannya, dan api hitam yang berkilauan dengan urat merah menyala di sekeliling jari-jarinya. Waja Kaca itu mendesis, seolah-olah merasakan ancaman, dan melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal-cakar-cakarnya yang terbentuk dari pecahan kaca tajam menebas ke arah leher Joni.

Joni tidak menghindar. Ia berdiri tegak, dan dengan suara yang dalam serta berwibawa-sebuah suara yang terasa bukan miliknya-ia berkata, "Berhenti."

Dan makhluk itu berhenti. Tubuhnya yang kaku membeku di udara, satu cakar hanya beberapa sentimeter dari tenggorokan Joni. Di dalam tubuh transparannya, cairan keperakan berhenti mengalir, membeku menjadi padat seperti logam. Waja Kaca itu bergetar, seolah-olah berusaha melawan perintah, tetapi ikatan Divine Dominion lebih kuat. Joni merasakan sebuah sambaran dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya-sebuah sensasi yang sudah tidak asing lagi. Trauma makhluk itu mulai mengalir ke dalam jiwanya: kenangan tentang seorang anak yang ditinggalkan di padang pasir, tentang dahaga yang tak terpadamkan, tentang amarah yang membatu selama berabad-abad. Joni mengerutkan dahinya, menahan rasa sakit yang menusuk di ulu hati.

"Pergilah," katanya, dan Waja Kaca itu meluncur mundur, jatuh ke tanah dengan suara gemeretak kaca pecah, lalu larut menjadi debu yang beterbangan ditiup angin. Joni menghela napas, mengusap dadanya yang terasa sesak. Trauma demi trauma mulai menumpuk di dalam dirinya, membentuk lapisan-lapisan kegelapan yang perlahan-lahan mengubah warna jiwanya. Ia berjalan terus, meninggalkan debu makhluk itu di belakang.

Semakin dekat ia ke Menara, semakin terasa bahwa udara itu sendiri berubah. Tekanan atmosfer meningkat, seolah-olah ia sedang berjalan di dasar lautan yang dalam. Telinganya berdenging, dan di sudut matanya ia melihat bayangan-bayangan yang bergerak-siluet-siluet tanpa bentuk yang mungkin hanyalah ilusi yang disebabkan oleh kelelahan. Namun Joni tahu lebih baik dari itu. Di dunia ini, ilusi sering kali merupakan kenyataan yang menunggu untuk mengoyak kesadaran.

Di sepanjang jalan, ia menemukan tiang-tiang batu yang dipenuhi ukiran. Ukiran-ukiran itu menggambarkan kisah-kisah zaman kuno: pertempuran antara dewa-dewa yang tak bernama, runtuhnya kerajaan yang melanggar batas, dan satu figur yang selalu muncul di setiap panel-seorang pemuda dengan mahkota duri di kepalanya, berdiri di atas tumpukan mayat dewa-dewa. Joni berhenti di depan salah satu tiang, dan jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang kasar. Pada saat itu, sebuah penglihatan menerjang pikirannya seperti petir.

Ia melihat langit yang terbelah, lautan yang mendidih, dan suara tangisan yang begitu dahsyat hingga gendang telinganya terasa pecah. Di tengah kehancuran itu, berdiri seorang pemuda yang sama dengan ukiran itu-wajahnya persis seperti Joni, hanya lebih tua dengan sorot mata yang kosong. Pemuda itu mengangkat tangannya, dan dari telapak tangannya menyembur energi hitam yang merobek-robek tatanan kosmos. "Kau tidak bisa menghentikanku," kata pemuda itu dalam bahasa yang tidak dikenal, tetapi Joni memahami setiap katanya. "Aku adalah hukuman. Aku adalah akhir."

Penglihatan itu berakhir secepat ia datang. Joni terhuyung, lututnya gemetar. Ia menekankan kepalanya ke tiang batu itu, bernapas dengan dangkal. Pertanyaan yang menggelora di pikirannya sejak ia meninggalkan ruangan bawah tanah kini menjadi semakin keras: apakah ia sedang mengulangi sejarah? Apakah kekuatan yang Ia miliki adalah sebuah kutukan yang dirancang untuk menghancurkan segala sesuatu yang ia coba lindungi?

"Tidak," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku bukan dia. Aku punya pilihan."

Namun keraguan tetap menggerogoti. Di tangannya, noda hitam dari trauma-trauma para dewa yang telah ia kendalikan mulai tampak-garis-garis halus seperti urat, menjalar dari pergelangan tangannya hingga ke sela-sela jari. Noda itu tidak sakit, tetapi ia dapat merasakannya sebagai suatu kehadiran asing di dalam tubuhnya, seperti tamu yang tidak diundang yang mulai menata ulang perabot rumah.

Joni meneruskan perjalanan dengan langkah yang lebih berat. Kaki Menara kini sudah tampak jelas di depannya: sebuah struktur raksasa yang terbuat dari batu obsidian yang dipoles, dengan permukaan yang mengkilap seperti cermin gelap. Di sekelilingnya, tidak ada rumput, tidak ada tanah-hanya lantai batu yang licin dan luas, seperti alun-alun yang dirancang untuk sebuah upacara pemakaman. Dan di tengah alun-alun itu, di kaki menara, duduk seorang wanita.

Wanita itu berpakaian jubah putih yang lusuh, rambutnya panjang dan kusut seperti akar pohon beringin. Kepalanya tertunduk, dan di tangannya ia memegang sebuah buku yang terbuka-buku yang sama dengan yang ada di ruangan bawah tanah, atau mungkin salinannya. Ketika Joni mendekat, wanita itu mengangkat wajahnya. Matanya putih sepenuhnya, tanpa iris, tanpa pupil, seperti dua bola susu yang menatap kosong ke arahnya.

"Joni," kata wanita itu, dengan suara yang berbisik namun terdengar jelas di antara gemuruh angin. "Sudah lama aku menunggumu."

Joni mengerutkan kening. "Siapa kamu?"

"Aku adalah penjaga tangga," jawab wanita itu. "Atau mungkin aku adalah tangga itu sendiri. Aku sudah lupa. Yang aku ingat hanyalah bahwa aku harus memberikanmu pilihan ini."

Wanita itu menunjuk ke sebuah tiang di sebelahnya. Di atas tiang itu, tergantung sebuah lonceng perak yang tembus pandang. "Engkau bisa membunyikan lonceng ini, dan menara akan terbuka. Atau engkau bisa pergi, dan melupakan semua ini. Kembali ke kehidupan gelandanganmu yang sunyi. Kembali ke ketiadaan yang aman."

Joni menatap lonceng itu, lalu menatap wanita itu. "Jika aku membunyikannya, apa yang akan terjadi?"

"Kau akan menaiki tangga. Dan di puncak, kau akan menemukan apa yang kau cari-atau apa yang mencari kau. Aku tidak tahu. Aku hanya penjaga. Pemilik sejati menara ini sudah lama pergi, dan ia meninggalkan jejak-jejak yang hanya bisa diikuti oleh mereka yang berani menjadi lebih dari sekadar manusia."

Joni berdiri diam. Di dalam dadanya, jantungnya berdetak seperti genderang perang. Ia menoleh ke belakang, melihat jalan yang telah ia tempuh-hutan pohon mati, danau yang menguap, dan di kejauhan, puing-puing kuil tempat ia mendapatkan kekuatan ini. Semua itu tampak kecil, seperti lanskap dalam lukisan yang mulai luntur.

Ia meraih tali lonceng. Tangannya gemetar. Di pelipisnya, bayangan pemuda mahkota duri itu muncul lagi, berbisik, "Kau akan menyesal." Namun bisikan lain, yang lebih lembut, lebih dalam, bergema dari dalam jiwanya sendiri: "Tapi kau harus tahu."

Joni menarik tali itu. Lonceng perak berbunyi-sebuah dentingan yang begitu murni, begitu jernih, hingga udara di sekelilingnya bergetar. Bunyi itu menyebar, melintasi hutan, melintasi danau, hingga ke pelosok-pelosok terpencil Arcadia. Di istana-istana dewa, para penguasa Rank SS mengangkat kepala mereka, merasakan getaran asing yang tidak dikenal. Di Kota Bawah Vareneth, para gelandangan dan pengemis yang dahulu menjadi teman Joni terbangun dari tidur mereka, dengan air mata mengalir tanpa sebab.

Dan di puncak Menara Kesedihan, sebuah pintu raksasa yang terbuat dari batu hitam mulai terbuka, perlahan-lahan, dengan suara derit yang seperti erangan dari dunia lain. Dari celah pintu itu, cahaya merah yang keluar semakin terang, menyinari wajah Joni yang dipenuhi oleh bayang-bayang. Wanita penjaga itu tersenyum-senyuman yang aneh, hampir penuh kasih sayang-lalu ia menghilang menjadi debu yang terbang bersama angin.

Joni melangkah maju, memasuki kegelapan di balik pintu. Di belakangnya, lonceng perak itu masih bergetar, mengirimkan gelombang suara yang terus menggema hingga ke ujung-ujung realitas. Dan di dalam hati Joni, pertanyaan yang sama berputar seperti pusaran: apakah ia sedang menuju ke arah takdir, atau ke arah kehancuran? Jawabannya ada di depan, di setiap anak tangga yang akan ia injak, di setiap bisikan yang akan ia dengar dari dinding-dinding yang berusia ribuan tahun.

Empat puluh lima jam. Sekarang tersisa empat puluh lima. Dan Joni, Penguasa di Atas Para Dewa, melangkah ke dalam perut Menara Kesedihan, dengan noda di tangannya yang semakin gelap, dan dengan asa yang begitu rapuh seperti kaca tipis di tengah badai.

~ Bab 15 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai