SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 14
Noda di Tangan Takdir
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Fajar abu-abu itu tidak pernah benar-benar terbit-ia hanya merembes, seperti darah yang meresap ke dalam kain kotor, mengotori cakrawala dengan warna yang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi pagi. Joni berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok di antara puing-puing kuil kuno, tempat ia pertama kali menemukan sistem hitam itu. Setiap langkahnya menimbulkan gemerisik di atas pecahan batu dan debu berusia ribuan tahun, seolah-olah bumi ini sendiri sedang berbisik, mengingatkannya pada sesuatu yang telah lama terkubur. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi-hanya tahu bahwa ia harus bergerak. Angka 47 jam masih berdetak di dalam kepalanya, lebih keras dari detak jantungnya sendiri, seperti lonceng kematian yang dipukul perlahan di dalam ruangan hampa.
Di sudut matanya, ia melihat bayang-bayang yang tidak seharusnya ada. Bayang-bayang itu bergerak sendiri, tanpa sumber cahaya yang jelas. Joni mengerjapkan mata, dan bayang-bayang itu menghilang-tetapi ia merasa mereka masih di sana, menunggu di luar jangkauan penglihatannya, seperti wartawan yang mengintip dari balik tirai.
"Siapa kau?" bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya angin yang berhembus, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih tua-bau ozon setelah petir, bau perang yang telah lama usai namun tidak pernah benar-benar berakhir.
Joni menghentikan langkahnya di depan sebuah altar yang telah hancur. Altar itu terbuat dari batu obsidian hitam, dengan ukiran-ukiran yang tidak dapat ia baca, meskipun sistem di dalam benaknya secara otomatis menerjemahkannya menjadi: "Dia yang duduk di atas singgasana yang tak terlihat, memegang kendali atas mereka yang mengendalikan segalanya."
Kalimat itu membuat dadanya sesak. Ia menekan telapak tangannya ke batu altar, dan sensasi dingin yang tajam merambat ke lengan, ke bahu, hingga ke tengkoraknya. Dan di dalam kesunyian itu, ia mendengar suara-bukan suara yang datang dari luar, melainkan dari dalam dirinya, dari tempat yang lebih dalam daripada pikirannya sendiri.
"Kau telah membangunkanku."
Joni tersentak, menarik tangannya seolah terbakar. Ia menatap altar itu, tetapi tidak ada apa-apa di sana selain batu dan retakan. Namun suara itu masih bergema di dalam kepalanya, seperti gema di dalam gua yang tak berujung.
"Siapa kau?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras, mencoba menantang apa pun yang bersembunyi di balik ilusi itu.
"Aku adalah apa yang tersisa dari pemilik sebelumnya," jawab suara itu, tenang, tanpa emosi, seperti bacaan dari buku yang sudah usang. "Aku adalah noda yang kau warisi. Aku adalah harga yang harus kau bayar."
Joni merasakan dadanya bergetar. Ia telah menduga bahwa kekuatan ini tidak datang secara cuma-cuma. Sistem hitam itu telah memberinya peringatan-setiap dewa yang ia kendalikan akan membawa trauma dan kutukan mereka ke dalam jiwanya. Tetapi suara ini berbeda. Suara ini bukan dari dewa. Suara ini dari sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, lebih dekat dengan esensi Rank SSSSS itu sendiri.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Joni, sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin kencang.
"Aku tidak menginginkan apa pun. Aku adalah harga yang sudah kau bayar di muka. Sekarang, kau hanya perlu menerima konsekuensinya. Setiap kali kau menggunakan kekuatan ini, sebagian dari dirimu akan terkikis. Dan pada akhirnya, tidak akan ada yang tersisa selain aku."
Joni menggeleng, seolah-olah ia bisa melawan kata-kata itu dengan gerakan fisik. "Aku tidak akan menjadi seperti itu. Aku akan mengendalikan kekuatan ini. Bukan sebaliknya."
Suara itu tertawa-tawa yang terdengar seperti kaca pecah di dalam kepalanya. "Kendali? Tidak ada yang benar-benar mengendalikan api. Mereka hanya bisa mengarahkannya, sementara api itu sendiri tetap membakar. Kau pikir kau adalah penguasa di atas para dewa? Kau hanyalah wadah yang dipilih untuk menahan sesuatu yang tidak bisa ditahan oleh siapa pun. Dan pada akhirnya, wadah itu akan hancur."
Joni ingin membalas, tetapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang belakangnya, seperti jari-jari setan yang meraba-raba. Dan di dalam benaknya, sistem kembali berkedip dengan peringatan baru:
[PERINGATAN: Kontaminasi Kesadaran Terdeteksi. Entitas Misterius berusaha mengakses inti kesadaran Anda. Saran: Tingkatkan Konsentrasi Mental. Atau Hapus Entitas secara permanen dengan Divine Dominion?]
Joni tercengang. Sistem itu menawarkan untuk menghapus suara itu? Suara yang mengaku sebagai bagian dari kekuatannya sendiri? Ia ragu. Mungkin ini adalah jebakan. Atau mungkin ini adalah satu-satunya jalan untuk melindungi dirinya.
"Hapus," bisiknya, setengah ragu.
[HAPUS ENTITAS DIMULAI...]
Seluruh altar bergetar. Retakan-retakan di batu melebar, dan dari celah-celah itu keluar cahaya merah yang redup, seperti darah yang bercahaya. Joni merasakan kepalanya seperti akan pecah. Suara itu menjerit-bukan dalam kemarahan, melainkan dalam kesedihan yang tak terperikan.
"Kau tidak akan bisa melarikan diri dariku! Kami adalah satu! Aku adalah bayanganmu sendiri! Kau tidak bisa menghapus bayangan!"
Jeritan itu memudar, dan keheningan kembali. Joni jatuh berlutut, keringat dingin membasahi keningnya. Ia bernapas dengan berat, seolah-olah ia baru saja berlari sejauh ribuan kilometer. Sistem menampilkan pemberitahuan:
[ENTITAS BERHASIL DIHAPUS. Sisa energi kontaminasi telah dinetralkan. Namun, peringatan: esensi entitas tidak dapat dimusnahkan sepenuhnya. Sebagian telah menyatu dengan jiwa pemilik. Risiko kemunculan kembali: Sedang.]
Joni mengerang. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kekuatan sebesar ini akan datang dengan harga yang begitu rumit. Setiap langkah maju adalah langkah menuju kehancuran dirinya sendiri. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. Di luar sana, ada para dewa yang menunggu untuk ditaklukkan atau dihancurkan. Ada pertempuran yang harus dimenangkan. Dan ada misteri tentang Rank SSSSS yang harus dipecahkan.
Ia berdiri, lututnya sedikit gemetar, tetapi matanya teguh. Ia menatap ke arah timur, di mana fajar abu-abu itu mulai memudar, digantikan oleh langit yang semakin gelap-seolah-olah siang hari enggan datang.
"47 jam," gumamnya. "Aku harus mencari tempat yang aman. Atau setidaknya tempat di mana aku bisa berpikir."
Ia teringat pada peta yang diberikan oleh seorang pedagang buta di pasar bawah tanah beberapa hari lalu. Peta itu menunjukkan lokasi sebuah perpustakaan kuno yang tersembunyi di bawah Danau Obsidian-danau yang konon tidak memiliki dasar, tempat para dewa membuang rahasia-rahasia yang tidak ingin mereka ingat.
"Perpustakaan itu mungkin memiliki jawaban," pikirnya. "Atau setidaknya, petunjuk tentang bagaimana cara menggunakan kekuatan ini tanpa kehilangan diriku sendiri."
Ia mulai berjalan lagi, meninggalkan altar hitam itu di belakangnya. Namun ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang mengikutinya-bukan dalam bentuk fisik, melainkan sebagai kehadiran yang mengawasi dari dalam pikirannya sendiri. Ia mencoba untuk fokus pada langkahnya, pada tanah di bawah kaki, pada angin yang menerpa wajahnya. Tetapi setiap napas yang ia embuskan terasa seperti menghembuskan sebagian jiwanya.
Di sepanjang jalan menuju Danau Obsidian, ia melewati desa-desa yang telah ditinggalkan. Rumah-rumah dari kayu dan batu bata yang lapuk, dengan pintu-pintu yang terbuka lebar, seolah-olah penghuninya pergi begitu saja tanpa menutupnya. Di satu desa, ia melihat sebuah patung dewa yang telah tumbang, tergeletak di tengah jalan, dengan wajah yang terukir dalam ekspresi ketakutan.
Joni berhenti di depan patung itu. Ia menunduk, membaca tulisan di alasnya: "Dedicated to Zephyron, the Keeper of Winds."
Zephyron. Salah satu dewa Rank SS yang pernah ia dengar dalam cerita-cerita tua. Konon, Zephyron adalah dewa yang bertanggung jawab atas angin musim semi dan musim gugur, yang membawa kehidupan dan kematian dalam hembusannya. Tetapi di sini, patungnya tergeletak seperti sampah, dilupakan oleh waktu.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Joni pada dirinya sendiri.
Sebuah suara kecil di dalam benaknya-bukan suara asing, melainkan instingnya sendiri-berbisik: "Perang antar dewa. Perang yang tidak pernah tercatat dalam sejarah. Perang yang mereka semua coba lupakan."
Joni mengerutkan kening. Ia belum pernah mendengar tentang perang antar dewa. Dalam semua cerita yang ia dengar sebagai gelandangan, para dewa selalu digambarkan sebagai makhluk yang harmonis, yang memerintah dunia dengan kebijaksanaan. Tetapi sekarang, setelah mendapatkan kekuatan ini, ia mulai melihat retakan di permukaan yang halus itu.
Ia melanjutkan perjalanan, meninggalkan desa mati di belakangnya. Langit semakin gelap, dan angin mulai bertiup lebih kencang, membawa serta debu dan dedaunan kering. Joni menutup matanya, mencoba merasakan aliran Divine Dominion di dalam dirinya. Ia bisa merasakan titik-titik kecil-kehadiran para dewa di berbagai penjuru dunia-seperti lampu-lampu di malam hari. Beberapa di antaranya sangat redup, yang lainnya terang benderang. Dan satu titik di kejauhan, di arah yang sama dengan Danau Obsidian, bersinar dengan warna ungu yang aneh.
"Itu pasti Zephyron, atau setidaknya, sisa kekuatannya," pikir Joni. "Atau mungkin itu jebakan."
Ia memutuskan untuk tetap berjalan ke arah itu. Tidak ada waktu untuk ragu-ragu. 47 jam semakin menipis. Dan di balik semua misteri ini, ia merasa bahwa jawaban untuk pertanyaan yang paling mendasar-siapa dirinya sebenarnya, dan mengapa ia dipilih-mungkin menunggunya di dasar danau yang tidak berdasar itu.
Di tepi Danau Obsidian, Joni berhenti. Airnya hitam pekat, seperti minyak yang tidak pernah bergerak. Tidak ada riak, tidak ada pantulan cahaya. Hanya kegelapan yang dalam dan diam.
Ia mencari jalan ke bawah, dan menemukan sebuah lubang besar di tepi danau, ditutupi oleh rerumputan liar. Dengan hati-hati, ia turun, merasakan dingin yang semakin menekan setiap meter ia masuk. Tangga yang terukir di batu itu berlumut dan licin, seolah-olah tidak ada yang menggunakannya selama berabad-abad.
Di dasar, ia menemukan pintu besar dari perunggu, dengan ukiran yang sama seperti di altar hitam. "Dia yang duduk di atas singgasana yang tak terlihat..."
Joni mendorong pintu itu. Perunggu itu berderit, tetapi akhirnya terbuka, memperlihatkan lorong panjang yang gelap, dengan dinding-dinding yang dihiasi dengan lukisan-lukisan yang bergerak sendiri. Lukisan-lukisan itu menggambarkan pertempuran-makhluk-makhluk raksasa dengan sayap api, sosok-sosok bayangan yang memegang tongkat cahaya, dan di tengah-tengahnya, sebuah singgasana kosong.
Di ujung lorong, ia melihat cahaya. Cahaya itu berdenyut seperti jantung, memanggilnya. Joni melangkah maju, setiap langkahnya terasa seperti menginjak pusar dunia.
Dan ketika ia mencapai ujung lorong, ia melihatnya: sebuah ruangan bundar yang besar, dengan dinding yang terbuat dari kristal hitam, memantulkan bayang-bayang tak terhitung jumlahnya. Di tengah ruangan itu, tergantung di udara, sebuah buku besar yang terbuka, halaman-halamannya berkilauan dengan teks yang terus berubah.
"Selamat datang, Pemilik SSSSS," kata buku itu, dengan suara yang sama seperti yang ia dengar di altar-tetapi kali ini, suara itu tidak terdengar mengancam. Hanya datar, seperti mesin yang menjalankan tugasnya. "Aku adalah Arsip Rahasia. Di dalam diriku tersimpan semua pengetahuan tentang Rank di atas para dewa. Dan tentang harga yang harus dibayar untuk memegangnya."
Joni mendekati buku itu, jantungnya berdebar kencang. Ia mengulurkan tangan, menyentuh salah satu halaman, dan dalam sekejap, seluruh pengetahuannya tentang dunia Arcadia runtuh dan tersusun kembali dalam bentuk yang baru.
Ia melihat masa lalu-ribuan tahun yang lalu, pemilik SSSSS sebelumnya, seorang manusia yang bernama Kael, yang menggunakan kekuatan ini untuk menghancurkan para dewa yang korup, tetapi pada akhirnya, kehilangan kendali dan menghancurkan sepertiga alam semesta. Ia melihat bagaimana Kael perlahan-lahan berubah menjadi monster, bagaimana setiap dewa yang ia taklukkan meninggalkan luka di jiwanya, hingga akhirnya, ia tidak lagi ingat siapa dirinya.
"Lalu bagaimana aku bisa menghindari nasib yang sama?" tanya Joni, suaranya bergetar.
Buku itu menjawab, "Tidak ada cara untuk menghindarinya. Hanya ada cara untuk menundanya. Atau untuk menerimanya."
Joni merasakan keputusasaan menjalari dadanya. Ia tidak ingin menjadi monster. Ia tidak ingin menghancurkan dunia yang ia coba lindungi. Tetapi di saat yang sama, ia tidak bisa melepaskan kekuatan ini. Tanpa itu, ia hanyalah gelandangan tanpa nama. Dengan itu, ia adalah ancaman terbesar bagi alam semesta.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya, hampir memohon.
Buku itu diam sejenak, lalu halaman-halamannya berputar dengan cepat, berhenti di sebuah halaman yang kosong-benar-benar kosong, tanpa satu huruf pun.
"Jawabannya tidak ditulis di sini. Karena jawabannya harus kauciptakan sendiri. Kau memiliki 47 jam sebelum gerbang menuju pertempuran terakhir terbuka. Pergilah ke puncak Menara Kesedihan, di mana para dewa yang tersisa akan berkumpul. Di sana, kau harus memilih-apakah kau akan menjadi penguasa yang adil, atau tiran yang kejam. Pilihan itu hanya milikmu, dan tidak ada buku yang bisa membantumu."
Menara Kesedihan. Joni pernah mendengar nama itu dalam mimpi. Mimpi di mana ia berdiri di puncak menara yang menjulang ke langit hitam, dengan bayang-bayang para dewa yang berlutut di kakinya. Mimpi yang membuatnya terbangun dengan keringat dingin, dan sekarang ia harus menghadapinya dalam kenyataan.
Buku itu menutup dengan sendirinya, dan cahaya di ruangan itu mulai meredup, mendorong Joni untuk pergi. Dengan langkah yang berat, ia meninggalkan ruangan itu, kembali ke permukaan. Dan ketika ia tiba di tepi danau, ia melihat bahwa langit telah berubah-fajar abu-abu telah berganti dengan senja yang merah darah, seperti luka di cakrawala.
47 jam. Sekarang tersisa 46.
Dan Joni melangkah maju, sendirian, dengan satu pertanyaan yang menggelora di dalam pikirannya: apakah ia akan menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia, atau badai yang menghancurkannya?
Jawabannya, seperti buku itu katakan, tidak ada di mana pun kecuali di dalam dirinya sendiri. Dan dalam perjalanan menuju Menara Kesedihan, ia harus menemukannya, sebelum waktu benar-benar habis, dan sebelum noda di tangan takdir itu menodai jiwanya untuk selamanya.
~ Bab 14 Selesai ~