SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 2
Empat Menit Tujuh Belas Detik untuk Memilih Menjadi Nyata
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Empat menit tujuh belas detik.
Angka itu berdenyut di ujung kesadaran Joni seperti luka yang baru saja berhenti mengalir - masih terasa, masih panas, tapi belum cukup mematikan untuk membuatnya berhenti berpikir. Panel hitam itu masih melayang di hadapanya, tiga jengkal dari wajahnya yang basah oleh hujan dan keringat dingin, tepi-tepinya yang merah membara dengan cahaya yang tidak berasal dari mana pun yang bisa ia tunjuk. Bukan api. Bukan sihir biasa. Sesuatu yang lebih tua dari kata-kata untuk menyebutnya.
Ia tidak bergerak.
Di luar reruntuhan kuil ini, hujan masih turun dengan amarah yang belum reda - deras dan tidak peduli, seperti semua hal di Kota Bawah Vareneth yang tidak pernah peduli apakah seseorang hidup atau mati di bawahnya. Air merembes dari retakan langit-langit yang sudah runtuh sebagian, jatuh dalam benang-benang tipis yang memantulkan cahaya panel dengan kilap keperakan yang aneh. Lumut dinding batu mengelap. Aroma tanah basah dan kayu lapuk dan sesuatu yang lebih tua - bauesi berkarat, bau abu dingin - memenuhi paru-parunya dengan setiap tarikan napas yang ia paksa keluar dan masuk secara teratur, karena kalau ia tidak memaksanya, ia tidak yakin ia akan terus bernapas.
Empat menit sebelas detik.
Mereka datang dari arah utara - begitu yang tertulis di panelitu, dalam aksara yang ia tidak tahu bagaimana bisa ia baca padahal ia hanya pernah mengecap setengah tahun belajar huruf dasar dari seorang pengemis tua yang tidak ingat namanya sendiri. Tujuh entitas. Rank C sampai A. Bukan Dewa - tapi juga bukan manusia biasa yang bisa ia tinju ke wajahnya dan lari. Mereka adalah kelas perantara yang paling berbahaya justru karena mereka masih cukup manusiawi untuk memiliki ambisi, dan cukup kuat untuk memenuhinya.
Dan sistem ini - panel hitam ini yang mengklaim ia adalah sesuatu yang tidak pernah ada dalam catan kosmik mana pun - berkata bahwa ia bisa mengendalikan mereka.
DIVINE DOMINION.
Kata-kata itu terasa seperti bercanda. Seperti seseorang yang menulis prasti megah di atas batu nisan orang yang mati kelaparan.
Joni mengangkat tanganya - tangan kananya, yang kukunya patah di tiga jari dan telapaknya masih menanggung bekas luka panjang dari kawat berduri dua tahun silam - dan ia menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa disebut percaya diri. Tulang-tulangnya kelihatan. Bukan karena ia kurus artistik seperti yang digambarkan dalam lukisan-lukisan pahlawan muda; kurus karena benar-benar tidak cukup makan selama dua mingu terakhir. Urat-uratnya menonjol di buku-buku jari seperti akar pohon yang mendorong lewat tanah yang terlalu keras.
Tangan ini mau mengendalikan entitas Rank A?
Tangan ini bahkan tidak bisa mengenggam pegangan pintu terlalu lama kemarin tanpa gemetar.
Empat menit genap.
Sesuatu bergeser di dalam dada Joni. Bukan dalam pengertian metaforis yang indah - ia merasakannya secara fisik, seperti ada sebuah mekanisme tua yang selama delapan belas tahun terkunci dan berkarat tiba-tiba ada yang memasukan kunci yang tepat dan memutar. Bukan nyaman. Bukan seperti pembebasan yang digambarkan para bard jalanan ketika mereka menyanyikan kisah para Pahlawan yang pertama kali mendapatkan Rank mereka dengan air mata kebahagiaan dan cahaya yang turun dari langit.
Ini lebih seperti seseorang mematahkan tulang rusuk yang salah sembuh agar bisa sembuh dengan benar.
Ia menggigit sisi dalam pinya sampai terasa rasa besi di lidahnya, dan berpikir.
Mereka datang karena panel ini. Harus begitu. Tidak ada alasan lain bagi tujuh entitas berbeda untuk konvergen menuju reruntuhan ini di malam badai seperti ini - tidak ada harta, tidak ada portal, tidak ada yang berharga. Yang ada hanya Joni. Yang ada hanya sinyal yang rupanya dipancarkan oleh sebuah kemunculan Rank yang tidak seharusnya ada.
Ia mencoba mengingat apa yang dikatakan orang-orang tua di lorong-lorong Vareneth tentang Blank - tentang mereka yang tidak terdaftar dalam sistem. Kebanyakan mati muda, bukan karena dibunuh, tapi karena dunia yang dikalibrasi untuk mengakui keberadaan seseorang melalui Rank mereka secara perlahan-lahan berhenti mengakui Blank sebagai nyata. Pekerjaan yang tidak mau membayar. Toko yang tidak mau melayani. Rumah sakit yang menyuruh mereka pergi karena tidak ada cara untuk mendaftarkan perawatan tanpa nomor Status Panel. Kematian yang datang bukan sekaligus tapi dalam cicilan kecil yang tidak menyakitkan secara individual - hanya akumulasinya yang membunuh.
Joni sudah hidup di dalam cicilan-cicilan itu selama delapan belas tahun.
Dan sekarang sesuatu mengklaim ia tidak sekadar terdaftar - ia terdaftar di atas puncak dari semua yang pernah terdaftar.
Tiga menit empat puluh detik.
Ia berdiri. Lut-lututnya memprotesnya dengan sakit yang sangat spesifik dan sangat membosankan - sakit orang yang tidur di lantai batu basah terlalu sering. Ia meluruskan punggungnya, dan bahkan gerakan itu terasa seperti negosiasi antara otaknya dan tubuhnya yang sudah terlalu lelah untuk mematuhi semua perintah. Langit-langit reruntuhan ini - yang dulunya pasti sebuah kuil untuk sesuatu yang sekarang sudah tidak ada yang ingat namanya - menjulang tiga meter diatasnya, sebagian runtuh sehingga melalui celahnya ia bisa melihat langit malam yang tidak pernah benar-benar hitam di Vareneth karena kota diatas sana mengucurkan cahayanya ke bawah seperti rembesan dari pesta yang tidak mengundang siapa pun dari sini.
Panel hitam mengikuti pandanganya. Seperti terikat pada fokus matanya, bukan pada posisi tubuhnya.
Ia mencoba sesuatu. Ia menatap panel itu dan berpikir: tunjukan mereka.
Panel itu merespons dengan imediasi yang hampir membuat ia mundur satu langkah.
Tujuh titik cahaya muncul - bukan di panel, tapi seolah dicetak langsung di atas pandangannya, seperti transparansi yang diletakkan di depan matanya. Setiap titik diberi warna yang berbeda berdasarkan Rank mereka: oranye untuk C, merah untuk B, dan satu titik ungu untuk yang paling ujung - satu-satunya Rank A di antara mereka, yang bergerak lebih lambat tapi dengan lintasan yang lebih pasti, seperti seseorang yang tidak perlu terburu-buru karena ia tahu korbanya tidak akan ke mana-mana.
Titik ungu itu menggelisahkan Joni lebih dari enam yang lain digabungkan.
DIVINE DOMINION - AKTIFKAN?
Pertanyaan itu muncul di panel tanpa ia minta, dan Joni menyadari bahwa sistem ini tidak menunggu ia paham sepenuhnya sebelum menawarkan pilihan. Tidak ada tutorial. Tidak ada ruang latihan. Tidak ada mentor berjubah putih yang akan datang menjelaskan dengan sabar sambil minum teh. Ada hanya malam ini, tujuh titik yang semakin dekat, dan sebuah kemampuan yang namanya terdengar seperti sesuatu yang hanya layak ada di mulut para Dewa yang duduk di singgasana di atas awan yang tidak bisa dijangkau bahkan oleh mata orang di Kota Atas sekalipun.
Tiga menit dua puluh detik.
Dalam tiga menit dua puluh detik itu, Joni melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa ia jelaskan dengan baik kepada siapa pun sesudahnya - ia berpikir tentang ibunya. Bukan dengan cara yang sentimental, bukan dengan cara air mata dan kenangan manis, karena ia tidak cukup ingat ibunya untuk menangisinya. Ia berpikir tentang satu hal yang ia ingat: suara. Suara ibunya yang mengatakan, dengan kepayahan yang tertanam dalam setiap suku katanya seperti paku di kayu tua, bahwa nama Joni bukan nama hina. Bahwa ia diberi satu nama saja karena satu nama sudah cukup untuk seseorang yang suatu hari akan membuat namaitu cukup dengan sendirinya.
Ibunya mati ketika ia berumur tiga tahun. Mati karena cicilan-cicilan kecil yang sama.
Joni menghembuskan napas. Asap napasnya terlihat samar di udara yang tiba-tiba ia sadari sangat dingin.
Ya.
Bukan heroik. Bukan penuh tekad membara yang terasa seperti pidato. Hanya sebuah yang kecil dan keras kepala, lahir dari tempat yang sama dengan sesuatu yang menolak membusuk di got tadi.
DIVINE DOMINION - DIAKTIFKAN.
Dan dunia menjadi hening.
Bukan hening secara fisik - hujan masih turun, angin masih menderu, di kejauhan suara kota atas masih mendengung seperti mesin yang tidak pernah tidur. Tapi di dalam tubuh Joni, dalam ruang antara tulang rusuknya dan di balik matanya, tiba-tiba ada sebuah sunyi yang terasa seperti ruangan yang sangat besar dan sangat kosong yang baru saja ia sadari selalu ada di sana, hanya sekarang pintunya terbuka.
Dan dari kedalaman sunyi itu, ia merasakan mereka.
Semua tujuh.
Bukan dengan mata. Bukan dengan telinga. Tapi seperti ia tiba-tiba memiliki benang-benang yang terikat dari ujung jari-jarinya ke sesuatu di luar sana, dan melalui benang-benang itu ia bisa merasakan beratnya, kehadiran mereka, bahkan - dan ini yang membuat perutnya berbalik - ketakutan mereka.
Mereka merasakan sesuatu juga.
Titik ungu itu berhenti bergerak.
Joni memandang ke arah pintu reruntuhan yang separuh sudah ambrol menjadi gundukan batu berlumut, dan di sana, berdiri dalam hujan dengan jubah hitam yang basah kuyup hinga berat, adalah sesosok figur yang bahkan dari jarak ini memancarkan tekanan udara seperti orang yang terbiasa membuat ruangan ciut hanya dengan masuk ke dalamnya. Rank A. Mata mereka - Joni tidak bisa melihat wajahnya jelas dalam gelap, tapi ia bisa merasakan - mata mereka sedang mencari.
Dan kemudian mereka menemukan Joni.
Dan berhenti.
Dalam keheningan basah di antara mereka berdua - gelandangan tanpa alas kaki dan entitas Rank A yang terbungkus kekuatan cukup untuk meratakan setengah distrik - Joni merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam delapan belas tahun hidupnya yang dihabiskan untuk tidak terlihat, untuk tidak ada, untuk menjadi Blank yang bahkan sistem tidak mau mencatatnya.
Ia merasakan sesuatu menguinya.
Bukan sebagai ancaman. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai sesuatu yang lain - sesuatu yang figur jubah hitam itu jelas tidak punya kata-kata untuk menyebutnya, karena ekspresi yang kemudian muncul di wajahnya, saat Joni akhirnya bisa melihatnya dalam kilatan cahaya panel yang merah, adalah ekspresi yang tidak pernah seharusnya ada di wajah seseorang dengan Rank A.
Ketakutan.
Dan Joni, yang seluruh hidupnya adalah satu panjang ketakutan yang tidak pernah berhenti, menatap ketakutan itu di wajah orang lain untuk pertama kalinya - dan tidakahu apakah yang ia rasakan adalah kemenangan, atau awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya dari yang bisa ia bayangkan malam ini.
~ Bab 2 Selesai ~