SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 13
Gema dari Kehampaan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam itu, hujan turun seperti tangisan para dewa yang terlupakan. Joni melangkah keluar dari losmen dengan langkah yang tidak tergesa, seolah waktu bukanlah sesuatu yang perlu dikejar. Namun di dalam dadanya, detak jantungnya berdegup semakin kencang-bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih purba: panggilan dari darah yang baru saja ia warisi. 47 jam. Angka itu berputar di kepalanya seperti mantra, mengikat setiap langkahnya dengan benang-benang takdir yang tak kasat mata.
Kota Vareneth di malam hari adalah kanvas raksasa yang dilukis dengan kuas kegelapan dan lampu minyak yang berkedip-kedip. Lorong-lorong sempit berliku seperti urat nadi raksasa yang sekarat, dipenuhi oleh bayang-bayang manusia yang juga sekarat-namun tidak sepenuhnya mati. Joni menyusuri jalan setapak yang ia kenal sejak kecil, melewati tumpukan sampah yang menggunung di sudut-sudut gang, melewati anak-anak jalanan yang tidur berdesakan di bawah tenda plastik bocor. Matanya yang kini sesekali bersinar merah samar menangkap setiap detail: bekas luka di lengan seorang pengemis, getaran tangan seorang pedagang kaki lima yang menghitung koin receh, dan aroma anyir darah dari ruang belakang sebuah kedai yang tutup setengah hati.
Dunia ini busuk, pikir Joni. Tapi aku bukan lagi bagian dari kebusukan itu. Aku adalah api yang akan membakarnya hingga menjadi abu.
Ia tiba di sebuah persimpangan yang sepi, di mana hanya ada satu lampu jalan yang masih menyala-lampu itu berkedip-kedip, seolah ikut gemetar oleh dinginnya malam. Di bawah lampu itu, berdiri seorang lelaki tua dengan jubah lusuh yang menutupi setengah wajahnya. Lelaki itu tidak bergerak, seperti patung yang dipahat dari kerutan dan kesunyian. Joni menghentikan langkahnya. Keduanya saling memandang dalam hening yang pekat, seolah alam semesta menahan napas.
"Kau tidak seharusnya datang ke sini, Anak Muda," suara lelaki itu serak, seperti batu yang digesekkan satu sama lain. "Ini adalah wilayah yang tidak tercatat dalam peta mana pun."
Joni tidak menjawab. Ia hanya menatap lelaki itu dengan tatapan kosong yang tidak bisa diartikan. Dalam benaknya, Sistem berbisik-bukan dengan kata-kata, melainkan dengan getaran yang merambat di sumsum tulangnya: [ENTITAS TERDETEKSI: RANK D - PENJAGA AMBANG BATAS]. Rank D. Manusia dengan kekuatan di atas rata-rata, mungkin seorang petarung ulung, atau mungkin seorang pembunuh bayaran yang sudah puluhan tahun mengabdi pada kegelapan. Namun bagi Joni, Rank D hanyalah angka. Angka yang bisa ia tekuk.
"Aku hanya lewat," kata Joni akhirnya, suaranya datar seperti permukaan danau yang membeku. "Tidak perlu ada yang terluka."
Lelaki tua itu terkekeh, suara tawanya terdengar seperti rantai berkarat yang digerakkan angin. "Lewat? Menuju ke mana? Di ujung lorong ini hanya ada reruntuhan Kuil Chronos-tempat yang sudah seribu tahun ditinggalkan, bahkan para dewa pun enggan melangkah masuk. Apa yang kau cari di sana, Anak Muda? Kematian?"
Joni tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, melewati lelaki itu tanpa mengalihkan pandangan. Dan saat bahu mereka hampir bersentuhan, lelaki itu tiba-tiba mengulurkan tangan, menyentuh lengan Joni dengan cengkeraman yang kuat-terlalu kuat untuk seorang manusia biasa. Cengkeraman itu panas, seperti menyentuh besi yang baru ditempa.
"Aku tidak bermaksud kasar," lelaki itu berbisik, tiba-tiba suaranya berubah menjadi lebih dalam, lebih berwibawa. "Tapi kau membawa aura yang tidak biasa. Aku bisa merasakannya. Sesuatu di dalam dirimu... berdenyut seperti jantung yang tidak seharusnya ada."
Joni menoleh perlahan. Matanya kini bersinar merah terang, seperti bara api di tengah malam. "Lepaskan."
Hanya satu kata. Namun kata itu cukup untuk membuat lelaki tua itu tersentak mundur, seolah tersengat listrik. Tangan yang tadi mencengkeram kini gemetaran, dan di telapak tangannya muncul luka bakar berbentuk lingkaran-seperti stempel yang ditandai oleh kekuatan yang tidak dikenal. Lelaki itu membelalakkan matanya, napasnya tersengal-sengal. "Kau... kau bukan Blank. Kau... kau adalah..."
"Kau tidak perlu tahu," potong Joni dingin. "Pergilah. Lupakan pertemuan ini. Atau kau akan menyesal."
Lelaki itu menatap Joni dengan campuran takjub dan ngeri. Ia membuka mulut hendak berkata sesuatu, namun suara gemuruh dari kejauhan memotongnya-bukan petir, melainkan gemuruh yang lebih dalam, seperti langkah kaki raksasa yang mendekat dari bawah tanah. Tanah di bawah mereka bergetar. Lelaki itu beringsut mundur, lalu berbalik dan berlari menghilang di kegelapan, meninggalkan Joni sendirian di bawah lampu yang terus berkedip.
Joni menghela napas panjang. Udara malam terasa berat, penuh dengan partikel-partikel misteri yang menempel di paru-parunya. Ia meraba kertas yang diselipkan di ikat pinggangnya-kertas dari Lyra, yang berisi nama dan lokasi target pertama. Seorang kurir yang bekerja untuk organisasi bayangan, yang konon menyimpan informasi tentang asal-usul Rank SSSSS. Kurir itu, menurut catatan, akan melintasi jembatan batu di distrik timur tepat saat tengah malam. Masih ada dua jam lagi.
"Dua jam yang panjang," gumam Joni sambil mulai berjalan lagi. "Atau mungkin tidak."
Ia mengambil jalan memutar, melewati pasar malam yang mulai tutup. Para pedagang sedang membereskan dagangan mereka, sebagian besar adalah sayuran layu dan potongan daging yang sudah tidak segar. Beberapa dari mereka menatap Joni dengan curiga-seorang pemuda kurus dengan pakaian compang-camping berjalan sendirian di malam buta. Namun tidak ada yang berani menghalanginya. Ada sesuatu di postur tubuh Joni yang membuat mereka enggan mendekat; sesuatu yang tidak terlihat namun terasa, seperti bayangan yang mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Di tepi pasar, seorang gadis kecil duduk di atas kardus, menggambar sesuatu dengan kapur di trotoar. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kotor, namun matanya memiliki kecemerlangan yang langka di tempat seperti ini. Gadis itu menatap Joni saat ia lewat, lalu berkata dengan suara lirih, "Kakak... kakak punya koin? Aku lapar."
Joni berhenti. Ia menunduk menatap gadis itu-dan untuk sesaat, ia melihat bayangan dirinya sendiri sepuluh tahun lalu. Lapar. Sendiri. Tidak punya apa-apa kecuali harapan yang perlahan mati. Ia mengeluarkan koin perak dari saku celananya-satu-satunya koin yang ia miliki-dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.
"Beli roti," katanya singkat. "Jangan beri siapa pun."
Gadis itu membelalak, lalu tersenyum lebar-senyuman yang bahkan di tengah kegelapan terdengar seperti cahaya. "Terima kasih, Kak!"
Joni tidak menjawab. Ia segera berbalik dan melanjutkan perjalanannya. Namun dalam hatinya, ada sesuatu yang bergetar-bukan kehangatan, melainkan kesadaran dingin bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak akan mengubah takdir. Mungkin gadis itu akan mati besok, atau lusa. Mungkin ia akan tumbuh menjadi perempuan yang kejam seperti Lyra. Atau mungkin ia akan menjadi seperti Joni-sebuah blank yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Tidak ada yang pasti. Tidak ada yang bisa dijamin.
Kecuali satu hal: kekuatan.
Joni tiba di jembatan batu distrik timur tepat saat lonceng kuil berbunyi dua belas kali-tanda tengah malam telah tiba. Jembatan itu tua, terbuat dari batu andesit yang sudah menghitam oleh usia, dengan pagar besi yang berkarat dan berlumut. Di bawahnya, sungai bawah tanah mengalir lambat, airnya hitam pekat seperti tinta. Tidak ada seorang pun di jembatan itu-tidak ada kurir, tidak ada bayangan, hanya angin malam yang menderu-deru.
Joni berdiri di tengah jembatan, menunggu. Matanya memindai setiap sudut, setiap celah, setiap bayangan yang bergerak. Namun tidak ada apa pun. Apakah Lyra berbohong? Atau apakah kurir itu sudah lebih dulu tiba dan pergi? Atau... apakah ini jebakan?
Lalu ia mendengarnya-suara langkah kaki yang sangat pelan, hampir seperti desahan. Langkah itu datang dari bawah jembatan. Joni menoleh ke tepi pagar, menunduk ke arah sungai. Di sana, di atas batu cadas yang menjorok, berdiri sesosok tubuh dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri diam, dengan kedua tangan di samping tubuh.
"Kau tepat waktu," kata Joni, suaranya bergema di antara dinding batu.
Sosok itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba, jubah hitamnya terangkat oleh angin, memperlihatkan wajah yang tidak memiliki fitur-hanya permukaan halus seperti kaca, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Dan di permukaan itu, mulai muncul tulisan-tulisan aneh yang bersinar ungu, seperti mantra yang merayap keluar dari dimensi lain.
Joni merasakan Sistem di dalam dirinya berdenyut keras. Peringatan muncul di tepi pandangannya: [ENTITAS TERDETEKSI: RANK A - UTUSAN KEHAMPAAN]. Rank A. Hanya satu tingkat di bawah para Dewa. Entitas ini bukan manusia-ia adalah sesuatu yang dikirim oleh kekuatan yang lebih tua dari sistem itu sendiri. Joni menyadari bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan. Lyra mungkin telah mengirimnya ke sini, tapi yang menunggunya di sini adalah sesuatu yang sama sekali tidak terduga.
"Aku tidak tahu siapa yang mengutusmu," kata Joni, nada suaranya kini lebih rendah, lebih hati-hati. "Tapi aku datang untuk informasi. Berikan apa yang aku butuhkan, dan kau boleh pergi hidup-hidup."
Utusan itu-jika bisa disebut demikian-tidak bergerak. Namun suara mulai terdengar, bukan dari mulut karena ia tidak punya mulut, melainkan dari dalam kepala Joni sendiri. Suara itu dingin, seperti embun beku yang merayap ke sumsum tulang: "Kau membawa tanda yang telah lama hilang. Yang Terakhir. Yang Pertama. Yang Awal dan Akhir. Tuan kami ingin bertemu denganmu."
Joni mengerutkan kening. "Tuanmu?"
"Dia yang namanya tidak boleh disebut. Dia yang duduk di singgasana di ujung waktu. Dia yang menciptakan sistem yang kau kendalikan sekarang, dan juga yang menghancurkannya."
Darah Joni terasa mendidih. Setiap kata dari suara itu menusuk seperti pisau, menusuk jauh ke dalam memori yang tidak ia miliki, ke dalam mimpi yang tidak pernah ia ingat. Namun ada satu hal yang ia mengerti dengan pasti: ia tidak akan menjadi boneka siapa pun. Bukan Lyra, bukan entitas misterius ini, bukan siapapun.
"Aku tidak tertarik bertemu dengan tuannya," kata Joni, dan ia melangkah maju ke tepi pagar. "Aku datang untuk sebuah nama, sebuah alamat, dan sebuah alasan. Berikan itu, atau aku akan mengambilnya secara paksa."
Utusan itu diam sejenak. Lalu tiba-tiba, permukaan wajahnya yang seperti kaca retak-ratusan retakan halus menjalar seperti sarang laba-laba, dan dari celah-celah itu keluar cahaya ungu yang menyilaukan. Joni mengangkat tangan untuk melindungi matanya, namun terlambat. Cahaya itu menyelimutinya, dan dunia di sekitarnya lenyap, digantikan oleh kegelapan total. Ia bisa merasakan tubuhnya jatuh-atau mungkin melayang-dan suara itu kembali, kini lebih lantang, lebih berwibawa:
"Kau tidak punya pilihan, Anak Muda. Pertemuan telah diatur sejak sebelum alam semesta ini lahir. Kau adalah kunci. Dan kunci tidak bisa memilih pintu mana yang akan ia buka."
Joni mencoba melawan, mengaktifkan Divine Dominion untuk mengendalikan entitas itu, namun sesuatu menghalangi-seperti dinding tak terlihat yang memantulkan kekuatannya kembali ke dirinya sendiri. Ia tersentak, merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, seolah jantungnya diremas oleh tangan raksasa. Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan Sistem itu, Joni merasa takut. Bukan takut mati, tapi takut kehilangan kendali.
Dan saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di jembatan batu. Ia berada di sebuah ruangan bundar yang sangat luas, dengan lantai yang terbuat dari kristal hitam mengkilap, memantulkan bayangan yang terdistorsi. Di tengah ruangan, ada sebuah singgasana yang terbuat dari tulang-tulang-tulang manusia, tulang binatang, dan tulang makhluk yang tidak bisa ia identifikasi-di atasnya duduk sesosok tubuh yang diselimuti kabut pekat. Hanya dua mata merah yang terlihat, seperti dua bara api yang membakar di tengah kegelapan.
"Selamat datang, Joni," suara itu bergema, mengguncang seluruh ruangan. "Atau lebih tepatnya, selamat datang kembali. Aku sudah lama menunggumu. Sangat lama."
Joni menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kecil. Sangat kecil. Namun di dalam hatinya, api itu masih menyala-api yang memberinya kekuatan untuk berdiri, untuk melawan, dan untuk tidak pernah menyerah. Ia menggenggam tangannya, merasakan kekuatan SSSSS mengalir di dalam nadinya, lalu ia berkata dengan suara yang tidak gemetar:
"Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan dariku?"
Sosok di singgasana itu tertawa-tawa yang panjang, dalam, dan penuh dengan kegilaan. Tawa itu terdengar seperti ribuan jiwa yang menjerit bersamaan. Lalu kabut di sekitarnya mulai menghilang, memperlihatkan wajah yang... dikenali Joni. Wajah yang sama persis dengan wajahnya sendiri. Namun lebih tua, lebih keriput, dengan bekas luka yang membentang dari dahi hingga dagu, dan mata yang tidak lagi merah-tetapi hitam pekat, seperti lubang hitam yang siap menelan segalanya.
"Kau bertanya siapa aku?" kata sosok itu, bibirnya melengkung menjadi senyuman yang mengerikan. "Aku adalah dirimu. Hanya saja... aku selamat. Tapi kau, Joni, belum selamat. Dan jika kau tidak berhati-hati, kau akan mengalami apa yang aku alami-kehilangan segalanya, termasuk dirimu sendiri."
Dan sebelum Joni bisa bereaksi, ruangan itu mulai runtuh, dan ia tersadar di jembatan batu dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tidak ada siapa pun di sana. Utusan itu telah pergi. Namun di tangannya, ada selembar kertas baru yang bertuliskan satu nama dan satu lokasi-sama seperti yang diberikan Lyra sebelumnya, namun dengan tambahan satu kalimat di bagian bawah:
"Dialah yang Pertama. Kau harus membunuhnya, atau kau akan menjadi dia."
Joni menatap kertas itu, lalu lipatan di sudut-sudut yang tidak rata. Di kejauhan, fajar mulai merekah-namun bukan warna jingga atau merah muda yang terbit, melainkan abu-abu, seperti langit yang berduka. 47 jam masih terus berdetak di dalam benaknya. Namun kini, angka itu terasa berbeda. Bukan hanya hitungan mundur menuju pertempuran, melainkan hitungan mundur menuju pertanyaan yang lebih dalam-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah ia dapatkan jawabannya, kecuali ia bersedia kehilangan segalanya.
Dan dengan langkah yang berat, namun penuh tekad, Joni mulai berjalan menuju fajar abu-abu itu, menyongsong takdir yang menunggunya di ujung lorong waktu-seorang diri, dengan segudang kekuatan yang bisa menghancurkan alam semesta, dan segudang keraguan yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.
~ Bab 13 Selesai ~