Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 12

Dia yang Pertama

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Kegelapan itu bukan sekadar ketiadaan cahaya. Ia adalah lapisan-lapisan kehampaan yang berdenyut, setiap denyutan membawa serta bisikan-bisikan dari masa lalu yang terkubur, kenangan yang bukan miliknya, dan ratapan yang merobek batas antara mimpi dan kenyataan. Joni merasa dirinya melayang, tanpa tubuh, tanpa gravitasi, hanya kesadaran yang tersisa dan terombang-ambing di pusaran kehampaan. Ia mencoba berteriak, tetapi suaranya menyebar seperti asap, lenyap sebelum mencapai rongga telinganya sendiri. Sistem di dalam benaknya berderak-derak, menampilkan rentetan kode eror yang saling bertumpuk, sebuah simfoni kekacauan yang memekakkan rasio. Layar panelnya berkedip-kedip, terus-menerus berganti antara hitam dan merah, seolah sistem itu sendiri sedang berjuang untuk memproses apa yang terjadi.

"Kau pikir kau bisa melawannya?" suara itu kembali, sekarang lebih jelas, lebih dalam, menggema dari segala arah sekaligus. Ia bukan suara manusia, bukan juga suara dewa; ia adalah suara kehampaan itu sendiri, bergetar dengan nada-nada yang membuat tulang-belulang mental Joni gemetar. "Aku sudah menunggumu, Joni. Atau lebih tepatnya, aku sudah menunggu kesempatan ini-sejak mereka mengurungku di sini, di antara lipatan realitas yang terlupakan."

Joni tidak bisa menjawab. Ia tidak punya mulut, tidak punya lidah, tidak punya apa pun kecuali kehendak yang terus-menerus dikoyak oleh kepanikan. Namun suara itu seolah mendengar pikirannya. "Kau bingung? Wajar. Setiap pemilik baru SSSS pasti mengalami ini. Pertama, kehilangan orientasi. Kedua, kehilangan identitas. Ketiga-kau akan kehilangan segalanya, persis seperti yang aku alami."

Kegelapan di sekitarnya mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang memadat menjadi titik-titik cahaya redup. Joni melihat sekilas bayangan-bayangan: peradaban yang hancur, dewa-dewa yang berlutut, dan seorang pria dengan mahkota dari api hitam berdiri di atas puncak gunung yang terbuat dari tengkorak. Pria itu menatap langsung ke arahnya-wajahnya kabur, tetapi matanya bersinar merah, penuh dengan kebijaksanaan yang getir dan dendam yang tak terpadamkan.

"Namaku Arkanis," kata pria dalam bayangan itu, meskipun suaranya tidak berasal dari bibirnya, melainkan dari getaran ruang. "Aku adalah pemilik pertama Rank SSSS. Aku adalah awal dari segalanya, dan juga akhir dari segalanya yang pernah kau ketahui. Mereka memanggilku 'Dia yang Pertama' sebelum mereka memutuskan untuk menghapus namaku dari sejarah."

Pusaran itu semakin cepat, dan Joni merasa kesadarannya terseret ke dalamnya. Tiba-tiba ia berdiri di atas tanah yang retak-retak, terbakar oleh api ungu. Di hadapannya, sosok Arkanis duduk di atas singgasana dari kristal hitam yang hancur. Tubuhnya tembus pandang, seperti hantu yang terperangkap di antara eksistensi dan ketiadaan. Namun tatapannya tetap tajam, menusuk hingga ke inti jiwa Joni yang masih hancur.

"Kau punya 47 jam sebelum kehancuran total," lanjut Arkanis, suaranya sekarang lebih tenang, hampir seperti seorang guru yang memberi pelajaran terakhir. "Aku tahu itu karena aku pernah mengalami hal yang sama. Setiap kali SSSS diaktifkan, sistem kosmik akan mulai menghitung mundur. Mereka-para Dewa yang mengatur Divine Registry-tidak akan membiarkan ancaman sepertiku atau kau hidup. Mereka akan mengerahkan segalanya untuk menghancurkanmu, termasuk menggunakan para Dewa yang kau kendalikan sebagai senjata."

Joni akhirnya menemukan suaranya, meskipun terdengar serak dan patah-patah. "Apa yang harus aku lakukan?" Ia berusaha berdiri, tetapi kakinya terasa seperti timah. Di sekitarnya, suasana medan perang kuno berganti menjadi lorong-lorong Kota Bawah Vareneth yang kotor, lalu berubah menjadi puncak kuil yang megah, semua memudar silih berganti seperti kaleidoskop realitas.

"Aku bisa membantumu," kata Arkanis dengan senyum yang tidak bisa diartikan-apakah itu senyum kemenangan atau kesedihan yang mendalam. "Tapi ada harga yang harus kau bayar. Setiap dewa yang kau kendalikan meninggalkan trauma dalam jiwamu. Semakin kuat dewa itu, semakin dalam luka yang kau terima. Aku sendiri telah kehilangan separuh dari kemanusiaanku setelah mengendalikan panteon para dewa. Dan sekarang... separuh sisanya terperangkap di sini, bersama sisa-sisa kekuatanku yang telah dipotong-potong oleh para dewa yang takut."

Joni mengepalkan tangannya, merasakan panas yang aneh mengalir di dadanya. "Aku tidak punya pilihan lain, kan?"

"Tidak. Tapi kau punya satu kelebihan yang tidak aku miliki: kau adalah seorang Blank. Mereka tidak bisa melacakmu melalui Status Panel. Selama kau tidak menggunakan kekuatanmu secara terang-terangan, kau bisa bergerak di bawah radar mereka. Gunakan itu. Temukan sepuluh fragmen mahkota yang tersebar di tujuh benua. Fragmen-fragmen itu adalah bagian dari mahkotaku yang dihancurkan oleh para dewa setelah aku dikalahkan. Jika kau mengumpulkannya, kau bisa menciptakan kembali mahkota Arkanis, dan dengan itu, kau bisa melampaui batasan sistem itu sendiri-bahkan melampaui para Dewa yang mengatur semuanya."

Joni merasakan beban yang tak tertahankan menekan pikirannya. 47 jam bukanlah waktu yang lama. Dan ia tidak tahu harus mulai dari mana. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Arkanis mengangkat tangannya, dan sebuah peta cahaya muncul di udara-sebuah peta yang diperlihatkan dari sudut pandang yang tak biasa, dengan penanda-penanda bercahaya merah yang menyala seperti jantung yang berdetak.

"Fragmen pertama berada di Kuil Arkana, di bawah pengawalan dewa ular kuno, Valthar. Ia adalah seekor ular raksasa yang telah hidup selama sepuluh ribu tahun, dan ia sangat setia kepada para Dewa yang mengurungku. Ia adalah ujian pertamamu. Jika kau berhasil mengalahkannya, kau akan mendapatkan fragmen pertama, dan juga satu petunjuk untuk fragmen berikutnya. Tapi ingat, Joni: setiap langkah yang kau ambil akan membuat para Dewa semakin waspada. Mereka akan mengirim pemburu, mereka akan mengirim kutukan, mereka akan mengirim segalanya untuk menghentikanmu."

Bayangan Arkanis mulai memudar, kristal hitam di bawahnya retak dan hancur menjadi debu. "Aku tidak bisa berbicara lama. Energiku telah terkuras selama ribuan tahun untuk menunggumu. Tapi aku meninggalkan satu pesan terakhir: jangan percaya kepada siapa pun-bahkan pada Elara yang telah mati itu. Ia adalah bagian dari rencana yang lebih besar, sebuah rencana yang dimulai sebelum sistem ini diciptakan. Kau bukanlah pilihan pertama mereka, Joni. Kau adalah pilihan terakhir. Dan jika kau gagal, alam semesta ini akan dimulai kembali dari nol, tanpa ingatan tentang apa pun yang pernah terjadi."

Kegelapan kembali, lebih pekat dari sebelumnya. Joni merasa tubuhnya tersedot ke dalam pusaran lagi, namun kali ia tidak melawan. Ia membiarkan dirinya diterbangkan, menyadari bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari mimpi buruk ini adalah dengan menghadapinya secara langsung. Ketika ia membuka matanya lagi, ia sudah kembali ke dunia nyata-duduk di kamar kecil, kotor, dan berbau di sebuah losmen murah di tepi Kota Bawah Vareneth. Keringat dingin membasahi dahinya. Di tangannya, terdapat selembar kertas usang yang bertuliskan peta kasar menuju Kuil Arkana, lengkap dengan catatan tentang Valthar yang ditulis dalam bahasa kuno yang entah bagaimana bisa ia pahami sekarang.

Sistem di kepalanya berbunyi sekali lagi, menghentikan keheningan:

[PEMBARUAN MISI: KUMPULKAN 10 FRAGMEN MAHKOTA ARKANIS. WAKTU TERSISA: 47 JAM 47 MENIT. BONUS: PEMBUKAAN AKSES KE DIVINE DOMINION TINGKAT KEDUA. PERINGATAN: MEMBUNUH VALTHAR AKAN MEMICU PERNYATAAN PERANG DENGAN PANTEON SERPENTIS.]

Joni menatap kertas itu, hatinya berdebar kencang. Ia masih remuk, masih lapar, masih tidak punya apa-apa selain sepatu usang dan pakaian compang-camping. Namun di dalam dadanya, sesuatu telah berubah. Bukan hanya kepanikan atau ketakutan-ada juga kemarahan yang mulai membara. Kemarahan terhadap sistem yang telah mengabaikannya, terhadap para Dewa yang menganggapnya sebagai ancaman, dan terhadap dunia yang tidak pernah memberinya kesempatan. Kini ia memiliki kekuatan yang bahkan para Dewa tidak berani akui. Dan ia akan menggunakannya-untuk membalikkan hierarki kosmik, atau untuk mati dalam api yang sama yang telah melahap pendahulunya.

Dia melipat kertas itu dengan hati-hati, lalu menyelipkannya di balik ikat pinggang yang sudah lapuk. Di luar, hujan mulai turun, mengguyur kota dengan lembut, seolah-olah dunia masih belum sadar bahwa di sudut gelap losmen ini, seorang Blank dengan takdir yang belum ditentukan telah memulai perjalanannya menuju kehancuran-atau kebangkitan. Langkah Joni bergema di papan kayu yang reyot saat ia melangkah ke pintu, melewati manajer losmen yang tertidur di meja depan, dan keluar menuju malam yang basah dan dingin. Di cakrawala, kilat menyambar tanpa suara, menerangi puncak-puncak menara kuil di kejauhan. Joni menatap ke arah itu, matanya yang kosong berubah menjadi merah samar selama sepersekian detik, lalu ia berbisik pada dirinya sendiri, "47 jam. Biarlah dimulai."

~ Bab 12 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai