SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa
Bab 11
Gema dalam Kehampaan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Obsidian Hall yang megah kini tak lebih dari puing-puing hitam yang berkilauan di bawah cahaya remang bola energi yang tersisa. Debu kosmik melayang di udara, bercampur dengan aroma ozon dan sesuatu yang lebih purba-bau darah yang bukan dari makhluk hidup. Joni berdiri di tengah reruntuhan, napasnya memburu namun dadanya terasa lapang, seolah seluruh tekanan dunia telah sirna digantikan oleh kekosongan yang aneh. Ia menatap telapak tangannya sendiri, kulitnya yang kotor bercampur luka masih mengeluarkan semburat merah samar dari kekuatan yang baru saja ia lepaskan. Di dalam dirinya, sistem berdengung dengan ritme yang berbeda-bukan lagi sekadar notifikasi, melainkan nyanyian rendah yang berasal dari kedalaman jiwa.
“Kau menikmatinya,” bisik seseorang dari balik bayangan. Suara itu lembut, hampir seperti desir angin di antara batu nisan. Joni menoleh cepat, matanya yang kini berkilat merah menangkap sesosok siluet ramping yang berjalan keluar dari kegelapan. Ia mengenali wujud itu-Elara, salah satu penyihir Rank A dari Akademi Vareneth yang tiba-tiba muncul di tengah pertempuran. Namun kini wajahnya pucat pasi, jubah sutranya robek di sana-sini, dan di dadanya terdapat luka menganga yang tidak kunjung sembuh. “Para dewa tidak akan pernah mengampuni apa yang kau lakukan,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Kau telah membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci.”
Joni tidak menjawab. Ia hanya mengamati wanita itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sejak panel sistem hitam itu muncul, ia merasa ada sekat tipis antara dirinya dan dunia-ia bisa merasakan getaran emosi orang lain seperti riak air, namun tak cukup dekat untuk tersentuh. “Aku tidak butuh ampunan mereka,” katanya akhirnya, suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Mereka yang membiarkanku lapar di lorong-lorong Vareneth, yang membiarkanku mati kedinginan di bawah kuil itu. Sekarang mereka harus belajar menghormati.”
Elara tersenyum getir, lalu batuk kecil yang mengeluarkan percikan cahaya biru dari luka di dadanya. “Menghormati? Kau menghancurkan Obsidian Hall, pusat komunikasi antar dimensi. Para Dewa Agung sudah pasti merasakan gangguan ini. Mereka akan datang, Joni. Bukan utusan Level S, bukan pula Herald Rank SS. Mereka sendiri-entitas-entitas yang lebih tua dari bintang-bintang. Dan saat mereka menemukanmu, mereka tidak akan menawar. Mereka akan menghapusmu dari eksistensi, seperti mereka menghapus yang sebelumnya.”
Jantung Joni berdegup lebih kencang meskipun wajahnya tetap tenang. “Yang sebelumnya? Maksudmu… ada yang memiliki Rank seperti aku sebelumnya?”
Elara menggeleng lemah. “Aku tidak tahu detailnya. Hanya legenda bisu yang diajarkan di kalangan atas Akademi-tentang seorang pengembara dari kehampaan yang mampu menundukkan langit. Tentang kehancuran yang hampir memusnahkan Arcadia. Mereka menyebutnya dengan nama yang tidak boleh diucapkan: ‘Nihil.’ Setelah dia lenyap, para dewa sepakat untuk menghapus semua catatan, menciptakan Divine Registry sebagai alat kontrol, dan memastikan tak ada lagi yang bisa naik melampaui batas. Tapi kau… kau adalah anomali. Sistem itu sendiri seharusnya tidak mengenali Rank di atas SSS. Namun ia telah memilihmu. Dan itu berarti kau adalah ancaman bagi tatanan mereka.”
Joni merasakan dingin menjalar di punggungnya. Angin malam yang bertiup dari celah-celah Obsidian Hall membawa bisikan yang hanya ia bisa dengar-suara-suara dari dimensi lain, gemerisik sayap-sayap yang tak kasatmata. Sistem di dalam kepalanya bergetar, menampilkan peringatan merah: [PERINGATAN: DETEKSI ENTITAS RANK SS+ DIMENSI LAIN. ETA: 72 JAM BUMI.] [SARAN: TINGGALKAN DIMENSI ARCADIA SEGERA ATAU AKTIFKAN DOMAIN ISOLASI.]
Joni mengerjap. “72 jam? Itu… tidak mungkin. Aku bahkan belum menguasai setengah dari kemampuanku.”
Elara jatuh berlutut, cahaya di matanya mulai meredup. “Tidak ada yang bisa menguasai Rank itu sepenuhnya, Joni. Setiap langkah yang kau ambil, semakin dekat batas antara dirimu dan kegilaan. Aku bisa merasakannya-kekuatanmu bukanlah milikmu sepenuhnya. Ia adalah pinjaman dari sesuatu yang lebih gelap. Dan saat kau terus menggunakannya, ia akan menggerogoti jiwamu. Tapi… mungkin kau punya waktu untuk belajar. Di ujung utara Vareneth, ada gerbang kuno yang dijaga oleh para petapa buta. Mereka tahu cara menyembunyikan seseorang dari tatapan para dewa. Pergilah ke sana, jika kau ingin hidup.”
Sebelum Joni sempat bertanya lebih lanjut, tubuh Elara mulai berkilauan, berubah menjadi partikel-partikel kecil yang melayang naik ke langit malam. Jiwa penyihir itu telah benar-benar lepas, meninggalkan hanya bau kemenyan yang samar. Joni berdiri sendiri di tengah kehampaan Obsidian Hall yang sunyi. Rasa dingin kembali menyergap-bukan dingin fisik, melainkan dingin kesadaran bahwa ia kini menjadi buruan para dewa, dan bahwa di dalam dirinya mengalir sesuatu yang bahkan tidak bisa ia pahami.
Ia berjalan perlahan ke tepi puing-puing, memandang ke arah utara di mana kabut tebal menyelimuti Pegunungan Verath. Di sana, di puncak paling tinggi, ia bisa samar-samar melihat siluet menara bengkok yang konon merupakan tempat tinggal para petapa buta. Namun perjalanan ke sana bukanlah perkara mudah-ia harus melewati Hutan Bayangan yang dipenuhi monster Rank B hingga A, serta jembatan yang dijaga oleh Guardian of Echoes, entitas Rank S yang setia pada dewa-dewa. Joni menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan takut yang murni-bukan takut mati, melainkan takut kehilangan dirinya sendiri di tengah kekuatan yang tak terkendali.
Tiba-tiba, dari arah barat, langit berubah menjadi ungu. Guntur menggelegar, namun bukan guntur biasa-suaranya seperti deru jutaan makhluk yang berteriak dalam bahasa yang tidak dikenal. Joni menoleh dan melihat retakan besar di angkasa, seperti kaca yang pecah, dan dari celah itu mulai meneteskan cairan hitam pekat yang menguap begitu menyentuh tanah. Ia bisa merasakan kehadiran yang sangat kuat, sangat tua, sangat marah-mata galaksi hitam dengan iris merah yang berputar perlahan-lahan mulai muncul di balik retakan, menatap langsung ke arahnya.
[ENTITAS TAK DIKENAL TERDETEKSI: RANK ??? - KEMUNGKINAN KORELASI DENGAN PEMILIK RANK SSSS SEBELUMNYA] [PERINGATAN KRITIS: ENTITAS INI TIDAK TERIKAT PADA DIVINE REGISTRY. KEMAMPUAN DOMINION TIDAK BERFUNGSI.]
Joni merasa seluruh tubuhnya kaku, seolah gravitasi telah berlipat ganda menekannya ke tanah. Ia ingin berlari, namun kakinya enggan bergerak. Retakan itu membesar, dan dari dalamnya keluar sebuah tangan-bukan tangan manusia, melainkan kumpulan energi hitam yang membentuk jemari panjang tak beraturan. Tangan itu meraih ke arahnya, dan Joni bisa mendengar suara rendah yang bergema langsung di dalam pikirannya:
“Anakku… akhirnya kau datang juga. Aku telah menunggumu selama seribu milenia. Jangan lari. Takdir kita sudah bersatu sejak awal. Kau adalah lanjutan dari apa yang aku mulai. Kau adalah kunci untuk membuka kembali pintu yang mereka kunci. Dan aku akan membimbingmu, meskipun kau harus kehilangan segalanya.”
Joni menjerit dalam diam, merasa kesadarannya mulai tercabut dari tubuhnya. Sistem di dalam kepalanya berbunyi nyaring, menampilkan kode error dan peringatan bertumpuk. Di ujung pandangannya yang kabur, ia melihat Elara yang telah meninggal tersenyum-senyum penuh teka-teki, seolah ia tahu semua ini akan terjadi. Dan kemudian kegelapan total menyelimuti, hanya menyisakan satu kalimat terakhir di layar sistem sebelum layar itu hancur menjadi pecahan cahaya:
[PERISTIWA TERPICU: PEMBANGKITAN ARKANIS - SISA KEHADIRAN PEMILIK RANK SSSS PERTAMA. MULAI KALKULASI… 0.01% KOMPATIBILITAS. WAKTU SEBELUM KEHANCURAN TOTAL: 47 JAM 59 MENIT.]
~ Bab 11 Selesai ~