Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 10

Pertemuan dengan Hierarki

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Pintu Obsidian Hall terhempas terbuka, dan Joni melangkah keluar dengan langkah yang tidak lagi berat seperti sebelumnya. Kini setiap jejak kakinya meninggalkan bekas berkilauan di lantai marmer hitam, seperti api pijar yang membakar jejak masa lalunya. Lorong di hadapannya dipenuhi oleh makhluk-makhluk bercahaya-para pemburu Rank S dan SS yang datang dari berbagai penjuru Arcadia. Mereka berdiri dalam formasi melingkar, senjata terhunus, aura mereka berdesir seperti badai yang siap meletus. Namun, saat mata mereka bertemu dengan mata Joni yang kini merah darah, sesuatu yang tak terduga terjadi: mereka mundur. Bukan satu langkah, tetapi setengah langkah, seperti ombak yang surut sebelum tsunami.

Joni tersenyum, senyum yang tidak sepenuhnya miliknya. Di sudut pikirannya, ia masih ingat bagaimana ia dulu gemetar hanya karena melihat seorang Ksatria Rank A lewat. Kini, ia berdiri di hadapan para Dewa yang kekuatannya bisa menghancurkan kota, dan mereka gemetar. Namun, kegembiraan itu bercampur dengan sesuatu yang gelap-seperti noda tinta di atas kertas putih. Sistem berbisik di dalam kepalanya, menawarkan data demi data: [Divine Dominion: 12 entitas terdeteksi. Rank S: 8, Rank SS: 4. Apakah Anda ingin mengikat?] Joni menekan keinginan itu. Tidak, bukan sekarang. Ia ingin merasakan ketakutan mereka lebih dulu.

Seorang wanita dengan sayap elang emas melangkah maju. Ia adalah salah satu dari empat Rank SS, dan namanya dikenal sebagai Valeriana, Sang Penjaga Langit. Matanya biru seperti es kutub, dan suaranya bergetar saat ia berkata, "Anak manusia... apa yang telah kau lakukan pada Obsidian Hall? Aura di dalamnya berubah. Kami merasakan kehancuran." Joni menatapnya, dan untuk sesaat, ia melihat bayangan masa lalu Valeriana-ia pernah menjadi manusia, naik pangkat demi pangkat, mengorbankan segalanya untuk mencapai Rank SS. Dan kini, ia takut kehilangan segalanya. Joni merasakan simpati yang aneh, tetapi segera digantikan oleh amarah. "Apa yang kulakukan?" gumamnya, suaranya bergema di lorong. "Aku mengambil apa yang menjadi hakku. Takhta yang kalian sembunyikan selama ribuan tahun."

Para pemburu saling pandang. Seorang pria bertubuh raksasa dengan kulit batu, seorang Rank S yang dikenal sebagai Gromm, mencengkeram kapaknya erat-erat. "Bohong! Takhta itu hanya legenda. Tidak ada yang bisa mendudukinya selain-" Ia berhenti, karena Joni mengangkat tangan. Dari ujung jari Joni, kegelapan merayap keluar, membentuk rantai-rantai tipis yang melayang di udara. Rantai itu tidak menyentuh siapa pun, tetapi kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat Gromm tersedak. "Selain apa?" Joni menantang. "Selain entitas yang lebih tinggi dari kalian? Karena itulah aku sekarang."

Valeriana mencoba tenang. Ia mengatur napas, dan aura emasnya meluas-usaha untuk menunjukkan dominasi. Namun, saat auranya menyentuh Joni, ia merasakan sesuatu yang aneh: seolah-olah auranya diserap, diubah, dan dikembalikan sebagai tekanan yang seratus kali lebih besar. Ia jatuh berlutut, dan para pemburu lainnya mundur lagi. Joni berjalan mendekatinya, dan setiap langkahnya membuat lantai marmer retak. "Kau tahu, Valeriana?" katanya, suaranya lembut namun menusuk. "Aku pernah melihatmu dari bawah. Saat kau terbang di atas Kota Bawah Vareneth, sayapmu menyilaukan, dan semua orang bersujud. Aku adalah salah satu dari mereka yang bersujud-dengan perut kosong, dengan harapan yang mati. Kini, aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan."

Valeriana menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam: pengakuan. Ia melihat di mata Joni bukan sekadar kebencian, tetapi juga kesepian yang akrab. "Kau... kau tidak akan pernah bahagia dengan cara ini," bisiknya. "Kekuatan tanpa kemanusiaan hanya akan membuatmu menjadi monster." Joni tertawa, tawa yang pahit. "Kemanusiaan? Kalian para Dewa telah menginjak-injak kemanusiaanku setiap hari selama delapan belas tahun. Kini giliranku."

Namun, di dalam hatinya, kata-kata Valeriana menusuk. Sistem kembali berbisik: [Peringatan: Emosi negatif memperkuat Divine Dominion tetapi mengikis stabilitas mental. Disarankan untuk mengikat entitas dan mengisolasi diri.] Joni menggeleng, menolak saran itu. Ia tidak ingin menjadi mesin tanpa jiwa. Ia ingin menjadi sesuatu yang lebih-sesuatu yang bisa mengubah tatanan dunia tanpa harus kehilangan dirinya sendiri. Tapi bisakah?

Dari kegelapan yang mengikutinya, bisik-bisik mulai terdengar. Bisik-bisik yang tidak berasal dari sistem, tetapi dari sesuatu yang lebih tua. "Jangan dengarkan mereka, Tuan. Mereka hanya boneka. Ambil takhta yang lebih tinggi. Ambil semuanya." Joni menoleh, dan ia melihat bayangan di dinding bergerak sendiri-membentuk sosok-sosok tanpa wajah. "Siapa kalian?" tanyanya dalam hati. Tidak ada jawaban, hanya tawa yang mengerikan.

Para pemburu mulai kehilangan kesabaran. Seorang lelaki tua berjubah putih-Valdus, Rank SS lainnya-mengangkat tongkatnya, dan petir biru menyambar ke arah Joni. Serangan itu cukup untuk menghancurkan gunung, tetapi Joni hanya mengangkat tangan kirinya. Petir itu berhenti di telapak tangannya, berputar menjadi bola energi, lalu ia hancurkan. "Coba lagi," katanya dingin. Valdus gemetar, tapi tidak menyerah. Ia mengeluarkan mantra tingkat tinggi-[Pembatasan Cosmos]-yang bisa memenjarakan target dalam ruang hampa. Namun, saat mantra itu mulai terbentuk, Joni merasakan Divine Dominion-nya bereaksi. Secara otomatis, rantai kegelapan melesat dan membelit Valdus, menyerap mantra itu sebelum sempat selesai.

"Maaf," kata Joni, tidak jelas apakah ia meminta maaf pada Valdus atau pada dirinya sendiri. "Tapi aku tidak bisa membiarkan kalian menghalangi jalanku." Valdus berjuang, tetapi rantai itu semakin erat. Tak lama, ia pingsan. Para pemburu lainnya panik. Gromm hendak menyerang, tetapi Valeriana menghentikannya. "Tunggu," katanya. "Dia... dia bisa mengendalikan kita semua. Jika dia mau, kita sudah mati. Tapi dia belum melakukannya. Ada alasan."

Joni menatap Valeriana, dan untuk pertama kalinya, ia merasa dihargai bukan karena kekuatannya, tetapi karena pilihannya. "Aku tidak ingin menjadi tiran," katanya pelan. "Tapi aku juga tidak ingin menjadi budak. Kalian para Dewa harus mengerti: aku hanya ingin hidup dengan harga diriku. Jika kalian menghalangi, aku akan melawan. Jika kalian membantuku... mungkin kita bisa menemukan jalan tengah."

Valeriana terdiam. Di belakangnya, para pemburu mulai menurunkan senjata mereka. Namun, sebelum situasi mereda, dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki baru. Langkah kaki yang berat, seperti besi yang dihantamkan ke lantai. Seorang sosok muncul-tinggi, dengan baju besi hitam pekat dan helm tanpa celah. Di dadanya, sebuah simbol berkilau: SSS. Seorang Dewa Rank SSS sejati. Sosok itu berbicara dengan suara yang membuat udara bergetar: "Anak manusia. Aku adalah Azrael, Panglima Ketiga dari Divine Council. Aku diperintahkan untuk membawamu hidup atau mati. Pilihlah."

Joni merasakan Divine Dominion-nya berdesir, mencoba mengidentifikasi Azrael. Sistem memberikan informasi: [Azrael: Rank SSS. Spesialisasi: Penghancuran Dimensi. Level: ???]. Ini adalah pertama kalinya sistem tidak bisa membaca level lawan. Joni menyadari bahwa ia mungkin telah menemui batas kemampuannya. Tapi ia tidak bisa mundur. Tidak sekarang. "Aku memilih untuk tidak memilih," jawab Joni, matanya merah menyala. "Katakan pada Divine Council bahwa Takhta Abyss telah bangkit. Dan jika mereka ingin bertemu pemiliknya, mereka harus datang sendiri."

Azrael diam sejenak. Lalu, ia tertawa-tawa yang dingin, tanpa humor. "Kau berani. Sayang sekali, keberanian tidak akan menyelamatkanmu." Ia mengangkat tangannya, dan ruang di sekitarnya mulai terlipat. Joni bersiap, tetapi di saat yang sama, bisik-bisik dari kegelapan kembali terdengar, kali ini lebih jelas: "Biarkan kami membantumu, Tuan. Bukalah pintu. Biarkan kami keluar." Joni ragu. Apakah ini langkah yang benar? Atau justru akan menjerumuskannya ke dalam kegelapan yang lebih dalam? Ia menatap Valeriana, yang kini berdiri di sampingnya, dan berkata, "Apa yang harus kulakukan?"

Valeriana menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi apa pun yang kau pilih, jangan biarkan mereka mengendalikanmu. Kau adalah manusia, Joni. Ingat itu." Kata-katanya seperti jangkar di tengah badai. Joni mengambil napas dalam-dalam. Ia menutup matanya, merasakan sistem yang terus berdenyut, merasakan bisikan yang terus menggoda, dan merasakan hatinya yang masih berdetak-masih manusia. Ketika ia membuka mata, ia telah memutuskan.

"Aku tidak akan membuka pintu," katanya pada kegelapan. "Bukan sekarang. Aku akan bertarung dengan caraku sendiri." Bisik-bisik itu mereda, berganti dengan keheningan yang tidak setuju. Namun, Joni tidak peduli. Ia menghadapi Azrael, dan dalam dadanya, api tekad membakar lebih terang dari sebelumnya. "Ayo, Panglima. Perlihatkan padaku apa yang bisa dilakukan Rank SSS sejati. Tapi ingat: aku tidak akan jatuh. Karena aku bukan lagi manusia biasa. Aku adalah pemilik Takhta Abyss. Dan aku baru mulai."

Azrael tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menghilang dan muncul kembali tepat di depan Joni, tinjunya yang bertenaga dimensi meluncur ke arah wajah Joni. Joni mengelak, tetapi dampak dari serangan itu menciptakan gelombang kehancuran yang membuat lorong Obsidian Hall runtuh di beberapa tempat. Pertarungan pun dimulai, dan di dalam pusaran kekuatan kosmik, Joni merasakan sesuatu yang aneh: ia menikmati ini. Ia menikmati rasa bahaya, rasa kuasa. Dan itulah yang paling menakutkan dari dirinya.

Di kejauhan, di luar lorong, di luar Obsidian Hall, di luar Vareneth, sesuatu yang lebih tua dari sistem itu sendiri terbangun. Di dimensi yang tidak dikenal oleh siapa pun, sebuah mata raksasa terbuka-hitam pekat, dengan iris merah yang berputar seperti galaksi. "Dia telah memilih," gumam suara yang bisa menghancurkan planet. "Cepat atau lambat, ia akan membuka pintu itu. Dan saat itu terjadi... semua yang telah kami rencanakan selama eon akan terwujud."

Mata itu menutup kembali, dan kegelapan tersenyum.

~ Bab 10 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai