Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 9

Mahkota dari Abyss

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Joni duduk. Dan dunia pun runtuh.

Bukan runtuh dalam arti harfiah-meski gemuruh menggelegar mengguncang fondasi Obsidian Hall, membuat retakan-retakan hitam merambat di lantai kaca yang memantulkan bayangan tak berujung. Namun runtuh di sini adalah sensasi yang lebih dalam, lebih primordial: seolah seluruh kerangka realitas yang selama ini ia kenal-hierarki Rank, hukum alam, batas antara yang hidup dan yang mati-terlipat seperti kertas basah, dan ia jatuh ke dalam lipatan itu. Singgasana di bawah tubuhnya terasa dingin menusuk, bukan dingin suhu rendah, melainkan dingin kekosongan yang mengisap panas jiwa. Setiap pori-pori di kulitnya seperti terbuka, dan dari sana sesuatu yang bukan udara, bukan materi, merembes masuk: cairan keabadian yang pekat dan berbisik.

Panel hitam di depan matanya mekar seperti bunga yang mekar di tanah kuburan. Tepian merah darahnya berdenyut seirama dengan detak jantungnya-tapi detak jantungnya kini terasa aneh, seolah bukan ia yang memompa, melainkan kegelapan di sekelilingnya yang memaksa darahnya bersirkulasi. Tulisan-tulisan kuno berkelebat. Bukan bahasa yang ia kenal, tapi ia memahaminya seperti ia memahami rasa lapar atau sakit. Sebuah kalimat muncul perlahan, setiap huruf seakan diukir dengan paku dari neraka:

[OBSIDIAN THRONE TERAKTIFKAN. IKATAN DIMULAI. HOST TERDETEKSI: JONI, RANK SSSSS. PERINGATAN: PROSES INI AKAN MENGHUBUNGKAN JIWA HOST DENGAN INTI KEGELAPAN PRIMORDIAL. SEMUA DEWA YANG PERNAH DUDUK DI SINI TELAH HILANG. TIDAK ADA YANG KEMBALI. LANJUTKAN? YA / TIDAK]

Joni ingin tertawa. Pilihan. Manusia selalu punya ilusi pilihan, pikirnya getir. Sejak lahir ia tak pernah punya pilihan-dibuang di selokan, tumbuh di antara tikus dan sampah, dipukuli oleh preman yang Rank E-nya sudah cukup untuk membuatnya hampir mati. Dan kini, ketika ia sudah duduk di singgasana yang katanya bisa mengendalikan para Dewa, sistem munafik ini masih menawarkan pilihan. Seolah ada jalan mundur. Seolah di belakangnya, di luar pintu Obsidian Hall, para pemburu dari Divine Inquisition tidak sedang menunggu dengan senjata yang diberkati oleh Dewa-dewa Rank SS. Seolah ia bisa kembali menjadi gelandangan tanpa nama yang menyusuri lorong gelap Kota Bawah.

"Ya," bisiknya. Suaranya bergema aneh, seolah ruangan ini memiliki seribu gema yang tidak sinkron. "Aku sudah mati sejak pertama kali aku menyeret tubuhku ke kuil ini. Setidaknya, biarkan aku mati sambil menggenggam sesuatu yang membuat para Dewa menggigil."

Panel itu berkedip sekali, lalu menghilang. Namun seketika itu juga, sesuatu yang jauh lebih dahsyat dari sekadar tampilan sistem mengguncang dirinya. Tubuhnya terangkat dari singgasana-tidak, tubuhnya tetap duduk, tapi kesadarannya terlempar keluar seperti gabus yang dilepaskan di dasar laut. Ia melihat Obsidian Hall dari atas, melihat dirinya sendiri duduk dengan kepala tertunduk, melihat bayangan-bayangan yang meliuk di dinding. Lalu penglihatan itu melesat keluar, menembus batu kuil, menembus tanah, menembus lapisan-lapisan realitas yang tak kasat mata. Ia terbang melintasi benang-benang yang menghubungkan segala sesuatu: bintang-bintang yang mati, lautan yang mengering, peradaban yang lenyap.

Dan di ujung penglihatan itu, ia melihat sesuatu yang membuat bahkan Rank SSSSS-nya terasa kecil.

Sebuah pusaran gelap raksasa, berdenyut seperti jantung alam semesta. Di sekelilingnya, berjuta-juta rantai bercahaya-ada yang putih, emas, perak, bahkan hitam-terikat pada pusaran itu, dan setiap rantai menuju ke suatu entitas. Joni menyadari bahwa rantai-rantai itu adalah ikatan kekuasaan: setiap Dewa, setiap Pahlawan, setiap makhluk yang memiliki Rank, semuanya terhubung ke pusaran ini. Termasuk dirinya. Rantai miliknya berwarna merah darah, paling tebal, menjulur langsung ke inti pusaran. Dan dari pusaran itu, sebuah suara bergema-bukan suara yang didengar telinga, melainkan suara yang dipahami jiwa. Suara itu tua, lapuk, penuh dengan kebijaksanaan yang getir dan kesepian yang tak terperi.

"Akhirnya kau datang, Pemilik Mahkota Abyss."

Joni ingin bertanya siapa, apa, mengapa. Namun sebelum ia sempat membentuk kata, gelombang memori menerjangnya-bukan memorinya sendiri, melainkan akumulasi dari semua yang pernah duduk di singgasana ini. Ia melihat seorang kaisar dengan mahkota berlumuran darah, yang mati karena dikhianati oleh putranya sendiri. Seorang penyihir yang menguasai bintang-bintang, yang berakhir dengan jiwanya terkoyak oleh sihir yang ia ciptakan. Seorang wanita bangsawan yang berubah menjadi monster karena cintanya ditolak oleh dewa yang kejam. Dan di antara mereka, sosok-sosok yang lebih tua, lebih purba: makhluk-makhluk dari masa sebelum sistem Divine Registry diciptakan, ketika kekuasaan masih liar dan tidak terklasifikasi. Mereka semua telah duduk di sini, dan mereka semua telah hilang. Bukan mati-hilang, seolah dicabut dari eksistensi, menyisakan hanya gema yang kini bersarang di kepala Joni.

"Mereka tidak bisa menanggung beban," bisik suara dari pusaran itu. "Mereka terlalu lemah. Terlalu manusiawi. Atau terlalu dewa. Hanya yang berada di antara-yang bukan manusia sepenuhnya, bukan dewa sepenuhnya-yang bisa bertahan. Dan kau, Joni, kau adalah yang paling di antara. Kau tidak punya apa-apa. Tidak ada ikatan, tidak ada ambisi yang mengakar, tidak ada ketakutan yang bisa dieksploitasi. Kau adalah kanvas kosong, dan Abyss bisa melukis dirinya sendiri di atasmu."

Joni merasa dirinya ditarik kembali ke tubuhnya dengan hentakan yang menyakitkan. Ia membuka mata-matanya yang fisik, bukan mata jiwanya-dan mendapati ia masih duduk di singgasana. Tapi sesuatu telah berubah. Obsidian Hall tidak lagi tampak seperti ruangan gelap yang dingin; kini ia bisa melihat benang-benang energi yang merambat di dinding, di lantai, di langit-langit. Benang-benang yang sama yang ia lihat dalam penglihatan. Lebih dari itu, ia bisa merasakan kehadiran di luar ruangan: para pemburu dari Divine Inquisition yang mengepung kuil, tiga Dewa Rank SS yang mengawasi dari kejauhan, bahkan makhluk-makhluk Rank A yang bersembunyi di bawah tanah. Mereka semua seperti titik-titik api dalam kegelapan, dan Joni-untuk pertama kalinya dalam hidupnya-bisa melihat seluruh papan catur.

Dia mengangkat tangannya. Di telapak tangan kirinya, tinta hitam mulai merambat membentuk pola-pola rumit: lingkaran-lingkaran konsentris dengan rune yang berdenyut. Ini bukan tattoo, bukan luka. Ini adalah cap dari Obsidian Throne, tanda bahwa ia kini adalah pemiliknya. Dengan cap ini, ia bisa memerintahkan rantai-rantai yang mengikat para Dewa. Ia bisa menarik mereka, mengendalikan mereka, atau-jika perlu-menghancurkan mereka dari dalam.

Tapi ada harga yang harus dibayar. Dari dalam kepalanya, gema para pendahulu mulai bernyanyi, sebuah paduan suara ratapan dan sumpah serapah yang tak akan pernah diam. Dan di pusat pusaran yang ia lihat, sesuatu yang lebih tua dari alam semesta mulai menggerakkan diri, seolah bangun dari tidur panjang. Suara itu berkata sekali lagi, lebih pelan, lebih intim:

"Kau telah menerima mahkota, Joni. Tapi ingat: Abyss tidak pernah memberi secara cuma-cuma. Setiap kuasa yang kau gunakan akan menggerogoti kemanusiaanmu. Setiap perintah yang kau berikan pada Dewa akan meninggalkan luka di jiwamu. Dan ketika waktunya tiba-ketika kau harus memilih antara menjadi monster atau menjadi apa pun yang lebih buruk-aku akan datang untuk menagih."

Joni tersenyum. Air mata mengalir di pipinya, tapi senyumnya bukan senyum putus asa. Ini senyum seorang yang telah melewati batas terakhir, yang tidak lagi takut pada apa pun. Ia bangkit dari singgasana, merasakan berat mahkota tak terlihat di kepalanya, dan berjalan menuju pintu Obsidian Hall. Di luar, langkah kaki para pemburu mulai berhenti. Mereka merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuat bahkan Dewa-dewa Rank SS mundur selangkah.

Joni membuka pintu. Cahaya merah dari matanya-matanya yang kini bukan lagi cokelat khas manusia-menyinari lorong, dan ia berkata dengan suara yang bukan hanya miliknya:

"Kalian datang untukku?" Ia menyeringai. "Sayang sekali. Aku baru saja menjadi sesuatu yang bahkan kalian tidak bisa bayangkan. Dan aku belum selesai bermain."

Di belakangnya, di dalam Obsidian Hall, singgasana itu bergetar. Dan dari celah-celah lantai, bisik-bisik kegelapan mulai merayap keluar, mengekorinya seperti jubah yang terbuat dari bayangan yang haus.

~ Bab 9 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai