Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 8

Gema dari Obsidian

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Lorong bawah tanah pasar gelap itu berkelok seperti usus raksasa yang membusuk. Dinding-dindingnya berlumut hitam, mengeluarkan bau tanah basah bercampur logam tua-aroma kematian yang sudah terlalu akrab bagi hidung Joni. Langkah kakinya bergema di antara reruntuhan kios kayu yang hancur, menciptakan irama tidak beraturan seperti detak jantung seseorang yang ketakutan. Panel hitam di benaknya terus berdenyut dengan peringatan yang tidak bisa ia abaikan, sebuah alarm kosmik yang hanya ia bisa dengar.

[MUSUH TERDEKAT: RANK S - PELAYAN KEKACAUAN. JARAK: 650 METER. ANCAMAN: KRITIS.]

Joni menekan tubuhnya ke dinding, mencoba mengatur napas yang memburu di dadanya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, bercampur debu dan darah dari luka di bahunya-goresan pecahan batu saat ia memaksa diri melewati celah sempit beberapa menit lalu. Obsidian Eye di saku celananya terasa hangat, seperti bara api yang baru padam. Benda itu bukan sekadar kaca; ia adalah kunci, atau mungkin kutukan, yang kini melekat pada jiwanya.

“Kau pikir kau bisa lari?” suara itu datang dari segala arah sekaligus, beresonansi di lorong seperti gema yang dipantulkan seribu cermin. “Rank SSSSS… sungguh ironi. Yang terlemah di antara yang kuat, namun ternoda dengan kekuatan yang bahkan para dewa tak berani sentuh.”

Joni tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan rahang, merasakan gigi gerahamnya bergesekan hampir patah. Kata-kata itu bukan sekadar ejekan; ia adalah kebenaran yang telanjang. Kekuatan Divine Dominion miliknya memang mampu mengendalikan dewa, tapi ia sendiri-seonggok daging dan tulang yang kelaparan-tidak lebih dari seorang anak yang main petak umpet dengan maut. Setiap detik yang ia habiskan untuk bernapas adalah pinjaman yang akan ditagih dengan bunga darah.

[MUSUH TERDEKAT: RANK S - PELAYAN KEKACAUAN. JARAK: 580 METER. ANCAMAN: KRITIS.]

Pelayan Kekacauan. Rank S. Entitas yang dalam hierarki Divine Registry berada setingkat di bawah dewa minor, namun masih jauh di atas manusia biasa. Makhluk seperti itu bukan sekadar prajurit; mereka adalah manifestasi kehendak dari sesuatu yang lebih gelap-mungkin salah satu dewa Rank SS yang ingin menjaga status quo, atau mungkin entitas yang bahkan lebih tua dari sistem itu sendiri. Yang pasti, mereka tidak akan berhenti sampai darah Joni mengering di ujung pedang mereka.

“Obsidian Eye yang kau genggam itu… itu milik kami,” suara itu kembali, kali ini lebih dekat, lebih nyata. “Kembalikan, dan mungkin kumohon kematianmu tidak akan terlalu menyakitkan.”

Joni tersenyum getir. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri. “Kau pikir aku takut mati?” bisiknya pada lorong yang sunyi. “Aku sudah mati sejak lahir. Hidup sebagai Blank, sebagai sampah, sebagai sesuatu yang bahkan sistem lupa catat… itu lebih buruk dari kematian.”

Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan Obsidian Eye dari sakunya. Di bawah cahaya remang-remang dari kristal langit-langit yang hampir padam, benda itu bersinar seperti mata kucing hitam dengan iris merah gelap. Saat jari-jarinya menyentuh permukaannya, panel hitam di benaknya bergetar, seolah menyambut. Dan kemudian ia melihat.

Bukan dengan mata fisiknya, tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam-indra keenam yang terbuka setelah ia menjadi pemilik Rank terlarang itu. Melalui Obsidian Eye, lorong gelap di depannya berubah menjadi peta hidup yang dipenuhi garis-garis energi. Di ujung lorong, sekitar lima ratus meter dari posisinya, ada satu titik cahaya merah menyala-Pelayan Kekacauan. Tapi ada yang aneh. Di sekitar titik itu, ada jejak-jejak bayangan yang bergerak perlahan, seperti tentakel tak kasatmata yang menjangkau ke segala arah.

Joni mengerutkan kening. “Jebakan.”

Tidak mungkin ia bisa melewati lorong lurus itu tanpa terdeteksi. Dan jika ia mundur, ke mana? Lorong lain di belakangnya hanya mengarah pada jalan buntu-guci-guci tua berisi tulang belulang korban pasar gelap yang sudah lama mati. Ia terjebak. Sepenuhnya, sempurna, seperti tikus yang menari di depan ular kobra.

[MUSUH TERDEKAT: RANK S - PELAYAN KEKACAUAN. JARAK: 500 METER. ANCAMAN: KRITIS - REKOMENDASI: GUNAKAN DIVINE DOMINION SEGERA]

Divine Dominion. Kemampuan itu seperti godaan yang selalu berbisik di telinganya. ‘Gunakan aku, dan kau bisa menaklukkan apa pun. Para dewa akan berlutut. Dunia akan menjadi taman bermainmu.’ Tapi Joni tahu, setiap penggunaan kekuatan itu meninggalkan bekas luka di jiwanya. Bukan luka fisik, tetapi semacam lubang hitam yang menggerogoti ingatan dan emosinya. Ia sudah merasakannya sekali saat tanpa sengaja mengendalikan seekor tikus yang hampir mati-dalam sekejap, ia merasakan ketakutan dan kesakitan sang tikus seolah itu miliknya sendiri. Kekuatan itu membutuhkan korban. Selalu.

“Tapi aku belum punya pilihan lain, kan?” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.

Ia menutup mata, dan membiarkan panel hitam itu mengambil alih. Di dalam benaknya, ia merasakan aliran energi aneh yang mengalir dari inti dadanya, menyebar ke seluruh tubuh, lalu keluar melalui Obsidian Eye. Benda itu memanas, kemudian dingin, lalu berubah menjadi denyut yang seirama dengan detak jantungnya.

[TARGET: PELAYAN KEKACAUAN - RANK S. STATUS: BELUM TERDETEKSI. KEMUNGKINAN DOMINASI: 0.3% - PERINGATAN: JIWA TARGET TERLALU KUAT UNTUK DIAKUI]

Joni hampir tersedak udara. 0.3 persen. Hanya tiga perseribu kemungkinan ia bisa mengendalikan makhluk itu. Itu bukan sekadar mustahil, itu bunuh diri. Jika ia memaksakan Divine Dominion pada target yang terlalu kuat, sistem akan membalikkan energinya, dan ia akan hancur dari dalam-jiwanya terkoyak oleh kekuatan yang tidak sanggup ia kendalikan.

“Tapi… bagaimana jika aku tidak perlu mengendalikannya sepenuhnya?” pikirnya, sebuah ide gila lahir di sudut pikirannya. “Bagaimana jika aku hanya perlu mengalihkannya? Menggunakan Obsidian Eye untuk membuat ilusi, mengirimkan sinyal palsu ke panel target, membuatnya melihat sesuatu yang tidak nyata?”

Ide itu berbahaya. Obsidian Eye memang bisa memanipulasi persepsi, tetapi hanya pada target yang lebih lemah-atau setidaknya setara. Melawan Rank S, ia seperti anak kecil yang melempar batu ke raksasa. Namun lebih baik mati mencoba daripada mati sebagai mangsa yang pasrah.

Joni membuka mata. Di hadapannya, lorong mulai berubah. Bukan secara fisik, tetapi dalam persepsi yang ia ciptakan melalui Obsidian Eye. Ia memproyeksikan bayangan dirinya sendiri-sebuah hologram yang bergerak cepat-ke arah utara, seolah ia mencoba melarikan diri ke arah yang berbeda. Sementara tubuh aslinya tetap diam, bersembunyi di balik tumpukan kayu bekas.

[JUMPAAN ILLUSI TERKIRIM. TARGET TERPENGARUH: 50% - DURASI: 10 DETIK]

Sepuluh detik. Itu waktu yang ia miliki. Sepuluh detik untuk berlari, bersembunyi, atau mati.

Dan pada detik pertama, ia mendengar suara langkah berat yang mendekat, disertai dengan tawa parau yang menggema. Pelayan Kekacauan telah menggigit umpan. Namun detik kedua, sesuatu yang tidak terduga terjadi: tanah di bawah kakinya berguncang, dan dari celah-celah lantai, muncul asap hitam yang membentuk wajah-wajah tanpa mata. Wajah-wajah itu menjerit dalam frekuensi yang hanya bisa ia dengar di dalam pikirannya, sebuah paduan suara penderitaan dari jiwa-jiwa yang pernah menjadi korban kekuasaan.

Joni terhuyung, merasakan sakit kepala yang luar biasa. Obsidian Eye di tangannya berkilau merah gelap, dan ia sadar-benda itu tidak hanya memberinya kekuatan, tetapi juga membuka gerbang menuju alam lain. Asap hitam itu bukan sekadar ilusi; ia adalah jejak dari sesuatu yang lebih tua, mungkin jejak dari pemilik Rank SSSSS sebelumnya.

“Kau… merasakannya?” suara itu datang dari dalam pikirannya sendiri, bukan dari luar. “Kau merasakan penderitaan mereka? Mereka yang kau kendalikan… mereka yang akan kau kendalikan?”

Joni tidak tahu apakah itu suara Pelayan Kekacauan, atau suara lain yang lebih mengerikan. Yang ia tahu, ia harus bertahan. Sepuluh detik telah menjadi tujuh detik. Enam. Lima.

Ia melompat, meninggalkan tempat persembunyiannya, dan berlari ke arah lain-bukan ke lorong lurus yang dijaga, tetapi ke celah sempit di dinding yang sebelumnya tidak ia lihat. Mungkin itu jalan keluar, mungkin juga jebakan lain. Tapi dalam dunia di mana segalanya adalah ancaman, satu-satunya pilihan adalah terus bergerak.

Di belakangnya, ia mendengar suara amarah. Pelayan Kekacauan menyadari telah ditipu. Dan kemudian, suara itu bergema dengan nada yang lebih dalam, seperti getaran bumi:

“Obsidian Eye tidak akan menyelamatkanmu, bocah. Karena pemilik sebenarnya… sedang menunggumu.”

Joni tidak berhenti. Ia terus berlari, menembus celah sempit yang memaksa tubuhnya merayap merangkak. Di ujung lorong, cahaya redup mulai tampak. Namun sebelum ia mencapai ujung, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti-sebuah ruangan kecil yang dipenuhi patung-patung dewa dari marmer hitam. Di tengah ruangan, sebuah singgasana kosong dari obsidian murni, dengan ukiran simbol yang sama dengan panel di benaknya.

Di atas singgasana itu, tertulis dalam bahasa kuno yang entah kenapa bisa ia baca:

“Bagi pemilik rank tertinggi, takhta ini menanti. Namun ingatlah: setiap dewa yang duduk di sini telah menjadi bagian dari kegelapan yang kekal.”

Joni menelan ludah. Di belakangnya, suara langkah semakin dekat. Dan di dalam benaknya, panel hitam berkata dengan tenang:

[OBSIDIAN THRONE DETEKSI. AKSES DIBUKA. PERINGATAN: TEMPAT INI ADALAH KUBURAN KEKUASAAN. SIAPA PUN YANG DUDUK AKAN DIHUBUNGKAN DENGAN INTI KEGELAPAN ALAM SEMESTA.]

Joni tersenyum pahit. Ia hanya bocah gelandangan yang tidak punya apa-apa. Tapi mungkin, jika ia harus mati, lebih baik mati sebagai raja dari sesuatu yang jahat, daripada sebagai korban yang merangkak di lumpur. Dan dengan langkah berat, ia berjalan menuju singgasana itu, merasa dunia di sekelilingnya mulai berputar lebih lambat, seolah waktu sendiri menahan napas untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

~ Bab 8 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai