Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 7

Kontrak di Bawah Cahaya Redup

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Lorong-lorong Kota Bawah Vareneth tidak pernah tidur. Mereka hanya berganti kulit-dari hiruk-pikuk para pedagang siang yang menjual barang-barang ilegal, menjadi kegelapan yang lebih pekat di malam hari, dihuni oleh tikus, bayangan, dan mereka yang tidak punya tempat lain untuk pergi. Joni melangkah dengan telapak kaki telanjang yang sudah terbiasa dengan dinginnya ubin retak dan genangan air kotor. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi celetak basah yang bergema di antara dinding-dinding penuh lumut, seolah kota itu sendiri sedang mengunyah keberadaannya.

Perutnya keroncongan dengan suara yang nyaring, mengingatkannya bahwa ia belum makan sejak dua hari lalu. Namun rasa lapar itu kini terasa asing-bukan lagi sekadar panggilan biologis yang memuakkan, melainkan semacam gema dari lubang di dadanya yang tidak bisa diisi oleh makanan biasa. Sejak panel hitam dengan tepi merah darah itu muncul di hadapannya, ada semacam dawai halus yang terentang di antara jiwa dan sistem. Ia bisa merasakan denyut sesuatu di belakang matanya, seperti ada benang-benang tak kasat mata yang menjulur dari pusat dadanya ke segala arah, menjangkau entitas-entitas di sekitarnya. Benang itu bergetar lemah ketika ia melintas di dekat seorang pedagang tua yang menjual jimat palsu-getaran yang memberinya informasi samar: entitas dengan Rank F, tidak terikat sistem, tidak berbahaya. Namun di kejauhan, di ujung pasar gelap yang lebih dalam, ada getaran yang berbeda-lebih berat, lebih dingin, seperti pijakan kaki raksasa di atas kuburan.

Pasar gelap itu sendiri adalah monster yang bernafas. Lampu-lampu minyak gantung di atas kios-kios darurat menciptakan lingkaran cahaya kekuningan yang berkelap-kelip, membentuk pola-pola bayangan yang menari-nari seperti siluet setan. Di bawah cahaya itu, segala sesuatu tampak lebih buruk dari aslinya: wajah-wajah para pembeli yang sembunyi di balik tudung, tangan-tangan kasar yang saling bertukar koin tembaga dan barang haram, aroma campuran daging busuk, rempah palsu, dan keringat manusia yang sudah basi. Ini adalah paru-paru kota bawah-kotor, penuh lendir, tapi tetap berfungsi. Dan Joni adalah salah satu sel darah putih yang berenang di dalamnya, tanpa tujuan, hanya mengikuti arus.

Ia berhenti di depan sebuah kios yang agak terpisah dari yang lain. Kios itu tidak menjual apa pun yang biasa dijual di pasar gelap-tidak ada senjata ilegal, tidak ada ramuan terlarang, tidak ada jimat kekuatan semu. Yang terpajang hanyalah sebuah papan kayu usang dengan tulisan yang hampir terhapus: "Informasi. Harga sesuai nilai. Jangan tanya nama saya." Di balik papan itu, duduk seorang wanita paruh baya dengan rambut putih bergaris abu-abu yang diikat longgar. Wajahnya penuh keriput, namun matanya memiliki kilau yang tidak biasa-seperti dua butir batu akik hitam yang dipoles ribuan tahun hingga tidak memantulkan cahaya, hanya menyerapnya.

Wanita itu menatap Joni langsung ke dalam mata, dan Joni merasakan sesuatu yang aneh-benang halus di dadanya bergetar lebih kencang, seolah menabrak tembok tipis yang elastis. Ia tidak bisa merasakan Rank wanita itu. Sistem diam seribu bahasa, seolah menolak untuk mengakui keberadaan makhluk ini. Joni mengerutkan kening, merasa tidak nyaman.

"Kau lapar, bocah," kata wanita itu. Suaranya tidak tinggi tidak rendah, datar seperti air kolam yang tidak pernah terkena angin. "Tapi bukan makanan yang kau cari di sini, bukan?"

Joni diam. Ianya tidak pernah pandai bicara. Kata-kata tidak datang mudah padanya-selama delapan belas tahun ia lebih sering mendengar daripada mengucap, menyerap daripada menolak, menunggu daripada meminta. Namun sesuatu dalam diri wanita itu membuatnya merasa bahwa ia tidak perlu berbohong. Mungkin karena wanita itu bukan ancaman-atau mungkin karena ia adalah ancaman yang lebih besar dari apa pun yang pernah ditemui Joni, sehingga kebohongan terdengar konyol.

"Aku mencari sesuatu," Joni berkata akhirnya. "Sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku."

Wanita itu tersenyum-namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Matanya tetap hitam, tetap menyerap. "Apa yang terjadi padamu, bocah, sudah terjadi pada segelintir orang di sejarah alam semesta ini. Namun mereka yang selamat lebih sedikit dari jumlah jariku. Dan mereka yang berhasil paham apa yang mereka miliki... lebih sedikit lagi."

Joni merasakan dadanya berdetak lebih kencang. Panel hitam di dalam benaknya berkedip sejenak, menampilkan satu baris teks yang segera menghilang seperti kabut kena sinar: [WARNING: RANK TIDAK TERDETEKSI. KEMUNGKINAN ENTITAS DI LUAR HIERARKI.]

"Kau tahu sesuatu," Joni mendesak. "Apa itu Divine Dominion? Kenapa aku bisa memilikinya?"

Wanita itu menghela nafas panjang, dan untuk sesaat Joni melihat kelelahan yang tidak wajar di wajahnya-bukan kelelahan fisik, melainkan beban yang diwariskan dari ribuan tahun penantian. "Divine Dominion bukanlah kekuatan, bocah. Bukan juga kutukan, meski terlihat seperti itu. Divine Dominion adalah hak mutlak-sesuatu yang tidak diberikan, tidak diturunkan, tidak diwariskan. Ia muncul hanya pada mereka yang dilahirkan untuk menjadi poros realitas. Di dunia ini, para Dewa dengan Rank SSS mengira mereka adalah puncak. Namun mereka hanyalah puncak dari gunung es yang tampak. Di bawah lautan, ada struktur yang lebih besar-dan di dasarnya, ada satu titik yang menopang seluruh segalanya. Titik itu adalah tempatmu sekarang."

Joni menelan ludah. Kata-kata wanita itu terlalu besar untuk dipahami oleh otaknya yang lapar dan lelah. Namun benang di dadanya bergetar seolah setuju, menari-nari dengan irama yang sama dengan suara wanita itu.

"Lalu kenapa aku? Kenapa aku yang dipilih? Aku hanya gelandangan, aku tidak punya keluarga, tidak punya masa lalu-"

"Kau justru sempurna karena itu," potong wanita itu. Kali ini matanya berubah-dari hitam pekat menjadi abu-abu gelap seperti badai yang akan datang. "Mereka yang tidak terikat oleh apa pun, tidak dimiliki oleh sistem, tidak memiliki ikatan yang bisa dimanfaatkan oleh para Dewa. Kau adalah titik nol. Kanvas kosong. Namun kanvas kosong juga bisa menjadi kanvas yang paling mudah dihapus oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Para Dewa sudah mulai curiga. Aku bisa merasakan pergerakan di lapisan atas-mereka mengirim utusan untuk menyelidiki anomali yang baru muncul. Waktumu terbatas."

Joni merasakan hawa dingin merayap naik dari punggung hingga ke tengkuk. "Berapa lama?"

"Malam ini juga. Seorang pelayan Rank SSS-pangkat di bawah Dewa, tapi masih sangat berbahaya-sudah turun ke kota bawah. Ia mencari jejakmu. Jika ia menemukanmu sebelum kau cukup kuat, kau akan dihancurkan, dan sistem akan menyegel Divine Dominion ini ke dalam stasis selamanya. Kau bukan ancaman jika kau mati."

Joni mengepalkan tinjunya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tidak punya senjata, tidak punya pelatihan tempur, tidak punya apa pun selain kekuatan yang belum ia pahami dan perut kosong. Namun di balik rasa takut, ada sesuatu yang lain-sebuah api kecil yang membara di ulu hati. Api kemarahan. Delapan belas tahun ia menjadi sampah masyarakat, diinjak, diludahi, dilupakan. Dan kini ketika ia akhirnya memiliki sesuatu yang benar-benar miliknya, sesuatu yang bahkan para Dewa tidak miliki, ia harus lari? Bersembunyi? Menyerah?

"Tidak," katanya lirih, namun tegas. "Aku tidak akan lari."

Wanita itu mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. "Lalu kau harus belajar cepat. Aku bisa memberimu informasi-lokasi persembunyian, kelemahan musuhmu, cara memanfaatkan Divine Dominion tanpa membakar jiwamu sendiri. Namun setiap informasi memiliki harga."

Joni menatap wanita itu. "Aku tidak punya uang."

"Aku tidak butuh uang. Yang aku butuhkan adalah sesuatu yang lebih berharga dari logam dan batu permata. Aku butuh janjimu."

Janji. Kata itu terasa berat. Joni sudah banyak melanggar janji sepanjang hidupnya-janji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, janji pada ibunya yang sudah mati untuk menjadi kuat, janji pada dunia untuk tidak menjadi terlalu berharap. Namun janji pada wanita misterius ini terasa berbeda. Wanita ini tidak memintanya untuk menjadi baik, tidak memintanya untuk menyelamatkan dunia. Ia meminta sesuatu yang mungkin lebih kejam: komitmen.

"Janji apa?" tanya Joni.

"Janji bahwa ketika waktunya tiba, ketika kau sudah memegang kendali penuh atas Divine Dominion dan berdiri di singgasana di atas para Dewa, kau tidak akan melupakan lorong-lorong gelap Vareneth. Bahwa kau akan ingat dari mana kau berasal, dan bahwa kau tidak akan menjadi tiran yang sama seperti yang mereka sembah saat ini."

Joni terdiam. Dadanya terasa penuh-bukan oleh makanan, melainkan oleh sesuatu yang hangat dan berat. Janji itu sederhana, namun implikasinya mengguncang jiwanya. Ia tidak tahu apakah ia bisa menjadi baik ketika memiliki kekuatan absolut. Kekuasaan memiliki reputasi buruk untuk merusak pemiliknya. Namun setidaknya, ia bisa berjanji untuk mencoba.

"Baiklah. Aku berjanji."

Wanita itu tersenyum-kali ini senyum yang tulus, meskipun di baliknya masih ada bayangan kesedihan kuno. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil: sebuah pecahan kaca bundar seukuran mata, dengan warna abu-abu berputar seperti kabut hidup. "Ini adalah Obsidian Eye. Gunakan untuk melihat jejak energi sistem. Di dalamnya juga ada peta lorong bawah tanah yang tidak diketahui oleh Dewa. Dan satu lagi-" Wanita itu menatap Joni dengan tajam, "-ketika kau berada dalam bahaya, hancurkan kaca ini. Aku akan datang. Itu adalah bagian dari kontrak."

Joni menerima kaca itu dengan hati-hati. Permukaannya terasa dingin, seperti menyentuh ujung dari keabadian. Ia tidak tahu apakah ia bisa percaya pada wanita ini. Namun ia tidak punya pilihan lain. Ia perlu informasi, perlu keunggulan, perlu waktu. Dan waktu sedang bergerak melawannya.

Saat ia memasukkan Obsidian Eye ke dalam saku celananya yang robek, benang di dadanya kembali bergetar-kali ini lebih kuat, seperti lonceng peringatan. Ada kehadiran yang mendekat. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang dingin seperti lautan mati. Wanita itu segera mengangkat tangannya, dan lampu minyak di kiosnya padam satu per satu, meninggalkan mereka dalam kegelapan total.

"Dia sudah datang lebih cepat dari perkiraanku," bisik wanita itu. "Joni, kau harus pergi sekarang. Lorong di belakang kios ini akan membawamu ke liang persembunyian para pembuat kontrak. Ingat janjimu. Dan jangan mati sebelum saatnya tiba."

Joni membuka mulut untuk bertanya lebih banyak, namun wanita itu sudah mendorongnya dengan kekuatan yang sangat besar-jauh melampaui fisik manusia biasa. Joni terseret ke dalam lorong sempit di balik kios, gelap gulita, hanya dihiasi aroma lembap dan jejak kaki yang tidak jelas. Di belakangnya, ia mendengar suara langkah kaki yang berat, diikuti oleh suara yang terdengar seperti gumaman doa dalam bahasa yang tidak ia kenal-doa yang tidak menenangkan, melainkan mencekik.

Joni berlari. Ia tidak tahu ke mana, tidak tahu berapa lama. Satu-satunya petunjuk adalah getaran dadanya, yang kini terasa seperti kompas hidup yang menariknya ke dalam lorong-lorong yang lebih sempit, lebih gelap, lebih dalam. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih primitif: naluri bertahan hidup. Ia tidak akan mati di sini. Tidak setelah ia mendapatkan kekuatan yang mengubah segalanya. Tidak setelah ia berjanji pada seorang wanita aneh yang mungkin adalah satu-satunya sekutunya di dunia yang penuh musuh.

Dari kejauhan, ia mendengar jeritan panjang yang tidak manusiawi-jeritan yang membuat dinding lorong bergetar. Jeritan itu diikuti oleh suara runtuhan batu, seolah ada sesuatu yang besar merobek pasar gelap dari atas ke bawah. Joni tidak menoleh. Ia terus berlari, dengan kaca Obsidian Eye yang menghangat di sakunya, dan di dalam benaknya, panel hitam dengan tepi merah terus berkata dengan bahasa yang tidak bisa ia abaikan:

[MUSUH TERDEKAT: RANK S - PELAYAN KEKACAUAN. JARAK: 700 METER. ANCAMAN: KRITIS.]

Joni mengertakkan gigi. Ia belum siap. Namun kesiapan adalah barang mewah yang tidak dimiliki oleh pemilik Rank SSSSS. Ia hanya bisa terus melangkah, menuju ujung lorong yang tidak ia tahu, dengan satu harapan tipis: bahwa dunia ini belum selesai dengannya. Dan bahwa janji yang ia buat di bawah cahaya redup pasar gelap akan menjadi fondasi bagi sesuatu yang lebih besar dari sekadar dendam seorang gelandangan.

~ Bab 7 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai