Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SSSS: Sang Penguasa Di Atas Para Dewa

Bab 6

Panggung Pertama Darah

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu tidak pernah benar-benar hitam bagi Joni. Sejak panel hitam itu muncul di hadapannya, dunia yang tadinya hanya abu-abu dan bau busuk lorong-lorong Kota Bawah Vareneth kini berdenyut dengan warna-warna yang tak kasat mata. Ia duduk bersila di atas lantai kuil yang remuk, jari-jarinya masih gemetar menyentuh udara kosong di depan dada. Di sana, meskipun tak tampak oleh mata biasa, ia bisa merasakan kehadiran sesuatu-seperti benang-benang tipis tak berwarna yang menjulur dari dadanya menuju ke segala arah, menghubungkannya dengan setiap makhluk hidup di sekitarnya. Divine Dominion. Kata-kata itu bergema di dalam tengkoraknya seperti mantra yang tidak bisa ia lupakan.

Joni menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, ia menyadari bahwa napas itu bukan sekadar udara. Ia bisa merasakan partikel-partikel kecil yang disebut ‘mana’ berputar di dalam paru-parunya, berdesir seperti sayap ngengat di tengah malam. Sistem itu-apapun itu-telah membuka indra yang sebelumnya buta. Sekarang ia bisa mendengar detak jantung semut yang merayap di celah batu tiga meter di sebelah kirinya, bisa mencium bau besi dari darah yang mengering di ujung pedang seorang penjaga tiga blok dari sini. Informasi mengalir deras seperti air bah, dan Joni harus menekan telapak tangan ke pelipis untuk mencegah pikirannya pecah.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak dan asing. “Kau sudah terbiasa dengan rasa sakit. Ini hanya rasa sakit yang berbeda.”

Namun rasa sakit itu bukanlah luka fisik. Ia lebih dalam-seperti seseorang mengorek-ngorek fondasi jiwanya dengan sendok berkarat. Setiap kali ia mencoba memahami panel hitam itu, ia merasakan bayangan-bayangan entitas yang pernah dikendalikan oleh pemilik Rank SSSS sebelumnya. Ada raungan kesedihan dewa laut yang tenggelam dalam kesepian, ada tawa getir dewa perang yang lelah membantai, dan yang paling mengerikan-keheningan dari sesuatu yang begitu purba sehingga bahkan sistem pun tidak berani menamainya. Joni menggigit bibir bawahnya sampai darah mengalir, mencoba mengusir bayangan itu dengan rasa sakit yang nyata.

Di luar kuil, angin malam bertiup membawa aroma sampah dan asap dapur murah. Kota Bawah Vareneth tidak pernah tidur. Di jalanan becek, para pencopet dan pelacur murahan masih menjalankan dagangan mereka di bawah cahaya lentera minyak yang berkedip-kedip. Namun bagi Joni, pemandangan itu kini tampak seperti panggung teater yang kotor-dan di atas panggung itu, ia adalah aktor utama yang tidak tahu naskahnya.

Ia berdiri. Lututnya berbunyi kertak, dan debu kuil menempel di celana compang-campingnya. Tubuhnya kurus, hampir seperti kerangka berjalan, namun di dalam dadanya ada sesuatu yang berdetak tidak lagi seperti jantung manusia biasa. Ia melangkah keluar dari reruntuhan, melewati gapura patah yang diukir dengan simbol-simbol kuno yang tidak bisa ia baca tapi entah mengapa ia mengerti. Kata-kata itu-bahasa yang lebih tua dari bahasa manusia-berbisik di tepi alam sadarnya: “Yang terikat oleh takhta… yang terikat oleh darah… yang terikat oleh sumpah yang tak terucap…”

Joni menggeleng, mengusir bisikan itu. Ia harus fokus pada hal-hal kecil. Perutnya keroncongan. Ia belum makan selama dua hari, dan kekuatan baru tidak mengisi perut kosong. Dengan langkah gontai, ia menyusuri gang sempit menuju pasar gelap tempat ia biasa memungut sisa-sisa sayur busuk. Namun di tengah jalan, ia berhenti.

Di ujung gang, tiga sosok berdiri menghadang. Mereka bukan manusia biasa. Wajah mereka pucat pasi, dengan urat-urat hitam menonjol di pelipis-tanda bahwa mereka telah memakan sesuatu yang tidak seharusnya dimakan. Para pemakan bangkai. Pemabuk Rank G yang kecanduan daging mayat berkemampuan khusus, sehingga tubuh mereka berubah menjadi monster setengah hidup. Joni pernah melihat mereka sebelumnya, dan ia selalu berhasil kabur. Namun kali ini, kakinya tidak bergerak.

“Lihat, lihat,” sergah salah satu dari mereka, suaranya seperti kerikil digerus. “Si Kosong muncul juga. Lama tidak kelihatan. Kau kira kau bisa sembunyi selamanya di kuil sialan itu?”

Joni tidak menjawab. Matanya menyipit, mencoba mengingat naluri lama: lari. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang mendidih. Divine Dominion berdenyut, dan benang-benang tak terlihat itu mulai bergetar. Ia bisa merasakan Rank ketiga makhluk di depannya: G, G, dan G-plus-hanya sedikit lebih kuat dari manusia biasa. Di hadapan Rank SSSSS, mereka seperti semut yang menantang gunung. Namun Joni belum mengerti cara menggunakan kekuatan itu. Ia hanya seorang gelandangan yang lelah.

“Aku tidak ingin masalah,” katanya lirih. “Biar aku lewat.”

Mereka tertawa. Suara tawa itu bergema di gang sempit, bercampur bau amis dari mulut mereka. Yang paling besar melangkah maju, mengayunkan pentungan besi yang berkarat. “Kau pikir kau bisa bicara seperti itu? Dengar, bocah. Dunia ini hanya untuk mereka yang punya Rank. Dan kau… kau bahkan tidak punya apa-apa. Kau adalah sampah. Dan sampah harus dibuang.”

Joni menunduk. Dadanya sesak. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang selama ini ia pendam mulai merembes keluar seperti nanah dari luka yang menganga. Ia ingat setiap hinaan, setiap tendangan, setiap kali ia diusir dari antrean makanan. Dan kini, ketika kekuatan tak terbayangkan berada dalam genggamannya, ia masih diperlakukan seperti sampah. Mungkin inilah yang dimaksud dengan ironi takdir.

“Katakan itu sekali lagi,” ucap Joni, suaranya tiba-tiba berubah. Ada gema di dalamnya-seperti suara dua orang berbicara bersamaan. Satu suara adalah dirinya yang lemah, satu lagi adalah sesuatu yang lebih tua, lebih dingin, lebih haus.

Para pemakan bangkai itu terdiam. Mereka saling pandang, ragu. Untuk sesaat, mereka merasakan sesuatu yang tidak biasa-tekanan di udara yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Namun keserakahan dan kecanduan mereka lebih kuat dari naluri bertahan hidup. Yang paling besar menggeram, lalu mengayunkan pentungan ke arah kepala Joni.

Waktu melambat.

Joni tidak berpikir. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya, telapak terbuka, dan berbisik satu kata yang tidak ia rencanakan: “Tunduk.”

Benang tak terlihat itu melesat. Bukan dari dadanya, tetapi dari pusat keberadaannya-sebuah inti hitam yang berdenyut di bawah tulang rusuknya. Benang itu menembus dahi pemakan bangkai pertama, dan makhluk itu berhenti bergerak seketika. Matanya memutih. Tubuhnya kaku. Lalu, perlahan, ia berlutut. Pentungan besi jatuh dari genggamannya dengan bunyi dentang yang nyaring di malam hari.

Dua temannya berteriak ngeri. Mereka mundur, tetapi sudah terlambat. Joni mengalihkan pandangannya, dan benang kedua menjangkau yang kedua. Lutut makhluk itu patah saat ia dipaksa bersujud. Yang ketiga mencoba lari, tetapi benang ketiga melilit lehernya dari belakang, menariknya ke tanah seperti boneka tali.

Ketiganya kini berlutut di hadapan Joni, dahi menyentuh aspal kotor. Mereka gemetar, air mata dan air liur bercampur di wajah mereka. Joni menatap mereka dengan hati yang hampa. Ia tidak merasakan kemenangan. Ia hanya merasakan sesuatu yang mengalir melalui benang-benang itu-emosi mereka: ketakutan, penyesalan, dan rasa sakit yang membara. Divine Dominion tidak hanya memerintah raga; ia menghubungkan jiwa. Dan setiap ikatan adalah pisau bermata dua.

“Ampuni kami…” rintih yang pertama, suaranya pecah. “Kami tidak tahu… kami tidak tahu kau adalah…”

“Kalian tidak tahu apa-apa,” potong Joni dingin. Namun di dalam hatinya, ada pertanyaan yang menggema: Apa aku tahu? Aku bahkan tidak tahu apa yang baru saja aku lakukan.

Ia menarik napas, dan benang-benang itu mengendur. Para pemakan bangkai itu jatuh lunglai, pingsan karena tekanan mental. Joni berbalik, meninggalkan mereka di gang-tidak membunuh, karena entah mengapa ia tidak ingin menambah bobot dosa di pundaknya yang sudah rapuh. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan mereka mengingat. Dengan konsentrasi penuh-yang membuat denyut di pelipisnya nyaris pecah-ia menghapus fragmen ingatan mereka tentang dirinya, menyisakan hanya kegelapan dan kebingungan.

Saat ia melangkah pergi, angin malam bertiup lebih kencang, membawa bisikan dari langit-langit yang tak terlihat. Joni mendongak, meski ia tahu ia tidak akan melihat apa pun selain awan kotor dan asap pabrik. Namun di suatu tempat di antara dimensi, dua mata besar itu kembali menyipit, kali ini dengan senyum tipis yang tidak bisa disembunyikan.

“Bagus,” bisik suara itu-dalam, berlapis-lapis, seperti lautan yang berbicara. “Dia belajar cepat. Tapi pertunjukan baru saja dimulai, dan panggung pertama ini… hanya darah pembuka.”

Joni bergidik, meskipun suhu udara tidak berubah. Ia mengeratkan tangannya menjadi kepalan, lalu melanjutkan langkah menuju pasar gelap. Perutnya masih kosong, dan dunia masih kejam. Namun sekarang, di balik dadanya, ada detak jam yang tidak pernah ia miliki sebelumnya-dan jarum jam itu bergerak menuju sesuatu yang belum ia pahami. Mungkin menuju takdir. Atau mungkin menuju kehancuran yang lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan oleh para dewa sekalipun.

~ Bab 6 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai