Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Sistem Musuh: Jalan Kebangkitan di Era Modern

Bab 1

Senja di Atas Reruntuhan Mimpi

Pena: @aikasaja Written by Human

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Langit kota metropolitan itu membentang seperti kanvas kelabu yang dicoret-coret asap dan cahaya neon. Di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, di mana jaringan kabel listrik berpadu dengan formasi spiritual yang berkilauan samar, hiduplah Xia Ji di sebuah apartemen sempit di lantai tiga puluh tujuh. Jendela kamarnya yang berdebu menghadap ke distrik pusat, tempat menara-menara perusahaan kultivasi berdiri megah, memancarkan aura energi yang bahkan bisa dirasakan oleh orang awam sekalipun. Namun, Xia Ji bukan lagi bagian dari dunia itu. Ia telah terjatuh dari singgasana mimpi, dari posisi sebagai pemuda yang disebut-sebut akan menjadi bintang kultivasi berikutnya, menjadi seorang pecundang yang hanya bisa menyaksikan kerlap-kerlip cahaya kejayaan dari balik kaca jendela yang kusam.

Dua bulan sudah sejak Shen Yue, istrinya, meninggalkannya tanpa sepatah kata pun yang berarti selain surat pendek yang tergeletak di atas meja dapur. Surat itu masih ada di sana, di antara tumpukan tagihan dan kaleng makanan instan, seolah-olah Xia Ji tidak punya kekuatan untuk membuangnya. Kata-kata di atas kertas mahal itu tertulis rapi, tetapi hampa: 'Aku tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang. Maafkan aku, Xia Ji. Ini adalah pilihan terbaik untukku-dan untukmu.' Ia membaca ulang kalimat itu setiap malam, dan setiap kali, rasa pahit di tenggorokannya semakin dalam. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah berjanji setia di hadapan altar keluarga dan langit bisa pergi hanya demi 'pilihan terbaik'? Bagaimana mungkin ikatan sistem yang mereka bangun bersama selama tiga tahun bisa lenyap begitu saja seiring dengan mundurnya langkah Shen Yue meninggalkan rumah?

Xia Ji menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang sudah lama tidak merasakan hangatnya energi spiritual. Sistem Pasangan yang dulu selalu berdenyut di benaknya, yang setiap kali memberi notifikasi kemajuan Shen Yue dalam ranah kultivasi dan secara otomatis membangkitkan kekuatannya satu tingkat di atasnya, kini sunyi senyap. Ketika Shen Yue mencapai ranah Pembentukan Fondasi tahap ketujuh, Xia Ji berada di tahap kedelapan. Ketika Shen Yue menembus ranah Inti Emas, Xia Ji berada selangkah lebih maju. Mereka adalah pasangan sempurna, ditakdirkan untuk saling mengisi. Tetapi ketika Shen Yue bertemu dengan Penatua Sekte Bulan Berdarah dan melihat peluang untuk melompat ke ranah Jiwa Terbelah dalam waktu singkat, semua janji itu runtuh seperti kastil pasir di bawah ombak ambisi. Dan dengan kepergiannya, sistem itu mati. Tidak ada notifikasi. Tidak ada bunyi 'Ding' yang selama ini menjadi pengingat bahwa ia memiliki masa depan.

Sekarang, ia hanya seorang pria dengan energi spiritual yang terperangkap di ranah Pembentukan Fondasi tahap ketiga-level yang bahkan dianggap remeh oleh para murid baru di akademi kultivasi kota. Di era kebangkitan energi ini, di mana anak-anak berusia lima belas tahun sudah bisa mencapai ranah yang sama dengan mudah, Xia Ji adalah sebuah anomali yang menyedihkan. Tetangga di lantai bawah, seorang pedagang ramuan berusia lima puluh tahun, memiliki ranah Inti Emas tahap pertama dan selalu menatapnya dengan tatapan iba bercampur jijik setiap kali berpapasan di lorong. Mantan rekan kerjanya di Perusahaan Teknologi Spiritual Bintang Fajar, tempat ia bekerja sebagai analis formasi sebelum semuanya hancur, kini menghindarinya seperti wabah.

Hari itu, seperti biasa, Xia Ji memutuskan untuk keluar rumah. Bukan karena ia ingin bertemu orang, tetapi karena kebutuhan dasar: makanan. Lemari esnya kosong, dompetnya hampir tipis, dan ia tidak punya pilihan selain menapaki jalanan kota yang dingin. Ia mengenakan jaket tua lusuh yang dulu pernah ia kenakan saat masih mahasiswa, sebelum sistem, sebelum Shen Yue, sebelum semua kejayaan yang ternyata hanya fatamorgana. Di saku jaket itu, ia merasakan sisa-sisa kertas yang lusuh-kuitansi pembelian ramuan untuk Shen Yue, yang dulu ia kumpulkan dengan susah payah dari pekerjaan sampingan. Ironi memang tak pernah absen menemani langkahnya.

Jalanan di distrik bawah kota modern ini selalu ramai, bahkan di jam ini. Para kultivator berjalan dengan langkah ringan, tubuh mereka diselimuti aura tipis yang membuat mereka tampak berkilau di bawah sinar matahari sore. Beberapa dari mereka mengenakan pakaian ala tradisional yang dimodifikasi dengan aksen neon dan perangkat teknologi terpasang di pergelangan tangan. Seorang gadis muda dengan rambut biru keperakan melesat di atas papan terbang berbasis formasi angin, tertawa riang bersama teman-temannya. Xia Ji menundukkan kepala, berusaha menyusut di antara keramaian, tetapi dunia seolah memiliki cara untuk terus mengingatkannya pada kejatuhannya. Sebuah plakat iklan raksasa di dinding gedung menampilkan wajah Shen Yue yang anggun, dengan tulisan: 'Putri Emas Keluarga Shen Bergabung dengan Sekte Bulan Berdarah-Kejayaan Baru bagi Kota Spiritual Timur.'

Xia Ji berhenti. Kakinya terpaku di tengah trotoar, matanya menatap plakat itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada amarah yang membara, tetapi juga kesedihan yang begitu dalam hingga hampir membekukan jantungnya. Wajah Shen Yue dalam plakat itu tampak sempurna, auranya berkilauan, matanya memancarkan tekad yang dingin. Ia tidak lagi mengenali wanita itu sebagai istrinya yang dulu pernah memeluknya di malam hari, yang pernah menangis di pelukannya saat gagal menembus ranah baru, yang pernah berbisik bahwa ia akan selalu berada di sisinya. Wanita di plakat itu adalah makhluk asing-seorang kultivator yang telah memilih jalan kekuasaan, dan dalam prosesnya, telah menginjak-injak segala sesuatu yang mereka bangun bersama.

'Jalan kebangkitan,' gumam Xia Ji dengan suara serak. 'Kau memilih jalan itu, Shen Yue. Tapi kau meninggalkanku di kegelapan.' Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangan hingga meninggalkan bekas merah. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan langkah, suara mengejek dari belakang membuat bulu kuduknya berdiri.

'Lihat siapa ini. Xia Ji, bintang jatuh yang tersesat di antara sampah.'

Xia Ji berbalik perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan rambut disisir rapi, mengenakan jas hitam bermerek mahal yang dipadukan dengan jubah kultivasi berbahan sutra berkilauan. Wang Lin. Nama itu muncul di benak Xia Ji seperti duri yang menusuk. Wang Lin adalah jenius dari keluarga Wang, salah satu keluarga kultivator paling disegani di distrik ini. Mereka pernah bersaing di akademi, dan Wang Lin selalu kalah. Saat itu, Xia Ji memiliki sistem pasangan yang membuatnya selalu selangkah di atas Shen Yue, dan karena Shen Yue jauh lebih berbakat daripada Wang Lin, Xia Ji pun secara otomatis melampaui Wang Lin di setiap kesempatan. Namun, sekarang, dengan Xia Ji yang berada di ranah Pembentukan Fondasi tahap ketiga dan Wang Lin yang telah mencapai ranah Inti Emas tahap kelima, dinamika kekuasaan telah berubah secara drastis.

'Wang Lin,' ucap Xia Ji datar, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. 'Ada apa? Kau ingin merayakan kemenanganmu? Sudah kubilang, aku tidak peduli dengan semua itu.'

Wang Lin tertawa, tawanya terdengar tajam seperti pecahan kaca. 'Merayakan? Tidak, Xia Ji, aku di sini bukan untuk merayakan. Aku di sini untuk mengingatkanmu akan tempatmu. Kau dulu begitu sombong, selalu berada di depanku, selalu membuatku terlihat bodoh di depan para penatua. Sekarang, lihat dirimu. Debu di bawah kakiku. Dan kabar baiknya? Aku hanya permulaan. Keluarga Shen, keluarga besar lainnya, bahkan sekte-sekte yang kau impikan... mereka semua akan memastikan kau tidak pernah bangkit lagi. Kau sudah selesai, Xia Ji. Terimalah.'

Setiap kata Wang Lin terasa seperti pukulan fisik. Xia Ji bisa merasakan aura Wang Lin yang menekan, membuat napasnya terasa berat, lututnya bergetar ingin menyerah. Ini adalah rasa malu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan ia alami. Namun, di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang lain-gnawing, kemarahan yang ia pendam sejak Shen Yue pergi, sejak sistemnya mati, sejak dunia menganggapnya sampah. Ia mendongak, menatap Wang Lin dengan mata yang tidak lagi redup, tetapi mulai berkobar dengan api yang redup namun berbahaya.

'Kau pikir aku akan menyerah?' Suara Xia Ji lebih rendah dari biasanya, tetapi ada nada tajam di dalamnya. 'Kau pikir dengan merendahkanku, kau akan merasa lebih besar? Kau salah, Wang Lin. Aku mungkin jatuh, tetapi aku masih hidup. Dan kehidupan... tidak pernah sejalan dengan keinginanmu.'

Wang Lin mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan reaksi Xia Ji. Ia mengharapkan ratapan atau ketakutan, bukan perlawanan verbal seperti ini. 'Kau bicara besar untuk seorang pecundang,' katanya sambil melangkah maju, aura ranah Inti Emasnya semakin menekan. 'Mungkin aku harus mengajarimu pelajaran tentang rasa hormat.'

Xia Ji merasakan tekanan itu semakin kuat, lututnya hampir menyentuh tanah. Setiap sel dalam tubuhnya berteriak kesakitan, tetapi pikirannya justru menjadi jernih. Dalam detik-detik itu, di tengah rasa terhina dan sakit fisik yang mendera, sesuatu yang aneh terjadi di dalam dadanya. Seperti sebuah kunci yang diputar, seperti sebuah mesin kuno yang mulai berdetak kembali setelah berabad-abad mati suri. Sebuah suara, dingin dan mekanis, melintas di kepalanya-bukan dengan nada lembut seperti Sistem Pasangan dulu, tetapi dengan otoritas yang menggetarkan jiwa.

'Ding! Mendeteksi niat permusuhan yang kuat dari target. Kualifikasi Musuh terpenuhi. Sistem Musuh berhasil diaktifkan.'

Xia Ji terkejut, matanya membelalak. Detak jantungnya berhenti sejenak, kemudian berdetak kencang dengan irama baru. Ia tidak tahu apa itu, tetapi ia merasakan aliran energi asing mengalir melalui nadinya, sesuatu yang kasar dan primitif, seperti sungai bawah tanah yang menerobos sumbatan batu. Wang Lin yang melihat perubahan ekspresi Xia Ji hanya menganggapnya sebagai ketakutan dan semakin mendekat, tangannya terangkat, siap untuk menampar atau melepaskan serangan aura ringan yang cukup untuk membuat Xia Ji terkapar di trotoar.

Namun, sebelum sentuhan itu sampai, Xia Ji mengangkat tangannya sendiri-bukan untuk menyerang, tetapi untuk menahan. Dan yang mengejutkan, tekanan Wang Lin yang begitu besar tiba-tiba berkurang, seperti ombak yang pecah sebelum mencapai pantai. Kedua pria itu saling bertatapan, dan untuk pertama kalinya, Wang Lin melihat sesuatu di mata Xia Ji yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: sebuah kilatan gelap yang dalam, seperti jurang yang tak berdasar.

'Apa yang kau lakukan?' desis Wang Lin, mundur selangkah tanpa sadar. 'Apa-apa yang kau lakukan, Xia Ji?'

Xia Ji tidak menjawab. Ia masih merasakan suara di kepalanya, yang kini berbicara lagi. 'Misi pertama diaktifkan: Buktikan ketangguhanmu melawan penghinaan. Kalahkan atau setidaknya bertahan dari serangan Wang Lin. Hadiah: Penyalinan kemampuan garis keturunan Wang Lin (tingkat perak). Evolusi: garis keturunan langit-bumi.'

Pikiran Xia Ji berputar kencang. Sistem Musuh? Penyalinan kemampuan? Ia tidak mengerti sepenuhnya, tetapi satu hal yang ia pahami: ini adalah kesempatan. Ini adalah permulaan dari sesuatu yang baru, dari jalan kebangkitan yang tidak pernah ia bayangkan. Tapi ia harus berhati-hati, ia tidak cukup kuat untuk benar-benar melawan Wang Lin secara langsung. Yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan, menunjukkan bahwa ia tidak akan menjadi korban yang pasif.

'Aku tidak melakukan apa pun, Wang Lin,' kata Xia Ji akhirnya, suaranya datar tetapi ada nada dingin yang menyelinap di antara kata-kata. 'Aku hanya berdiri di sini. Jika kau ingin menghajarku, lakukanlah. Tetapi ingat, setiap tindakan memiliki konsekuensi. Bahkan seekor cacing yang terinjak suatu hari bisa berubah menjadi naga yang menghancurkan langit.'

Wang Lin terdiam, terperangkap antara kemarahan dan kebingungan. Sesuatu dalam diri Xia Ji telah berubah, meskipun ia tidak bisa memastikannya. Namun, pemuda dari keluarga Wang itu bukanlah tipe yang mudah gentar. Ia menggeram, kemudian melepaskan serangan energi spiritual berbentuk telapak tangan raksasa yang melesat ke arah Xia Ji. Serangan itu cukup kuat untuk melukai kultivator ranah Pembentukan Fondasi tahap lima, jadi untuk Xia Ji yang berada di tahap tiga, itu adalah pukulan yang bisa membuatnya pingsan selama berhari-hari.

Tetapi Xia Ji, dengan naluri yang tiba-tiba muncul entah dari mana, mengangkat lengan kanannya untuk melindungi dada. Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya, tetapi ia merasakan aliran energi dari sistem baru itu mengalir deras ke lengannya, membentuk perisai tipis yang tidak terlihat. Saat serangan Wang Lin menghantam, Xia Ji terhuyung mundur beberapa langkah, tetapi ia tidak jatuh. Serangan itu terasa seperti pukulan tinju yang keras, tetapi tidak mematikan. Dan di dalam kepalanya, suara itu berbicara lagi.

'Ding! Bertahan dari serangan musuh. Target telah terbukti memiliki kemauan yang layak. Penyalinan kemampuan garis keturunan Wang Lin dimulai... 10%... 50%... 100%! Evolusi: garis keturunan perak Wang Lin telah dimurnikan menjadi garis keturunan giok langit-bumi (tingkat langit!). Kemampuan baru diperoleh: Pemulihan Spiritual Langit-Bumi (memungkinkan regenerasi energi spiritual secara terus-menerus, meski tanpa sumber daya eksternal).'

Xia Ji merasakan kehangatan menyebar di dadanya, sebuah energi segar yang memenuhi dantiannya yang kosong. Ia tidak menjadi lebih kuat secara instan dalam hal ranah, tetapi ia merasa lebih... hidup. Seperti baterai yang diisi ulang. Wang Lin, di sisi lain, menatap Xia Ji dengan ekspresi tidak percaya. Serangannya seharusnya membuat pemuda itu jatuh, tetapi Xia Ji masih berdiri, meskipun dengan ekspresi pucat.

'Kau... kau beruntung,' kata Wang Lin, tetapi suaranya sedikit bergetar. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi naluri seorang kultivator mengatakan bahwa sesuatu yang aneh sedang terjadi, dan ia tidak mau mengambil risiko lebih jauh di tempat umum. 'Lain kali, kau tidak akan seberuntung ini.'

Wang Lin berbalik dengan gerakan marah, jasnya berkibar, dan ia berjalan pergi dengan cepat, meninggalkan Xia Ji di tengah keramaian yang mulai memperhatikan mereka. Beberapa orang bergumam, beberapa tertawa kecil, tetapi Xia Ji tidak peduli. Ia masih berdiri di sana, merasakan aliran energi di tubuhnya, memproses semua yang baru saja terjadi. Sistem Musuh. Penyalinan kemampuan. Garis keturunan giok langit-bumi. Semua kata-kata itu berputar di kepalanya seperti badai.

Ia melihat ke langit, di mana senja mulai memerah, menyelimuti gedung-gedung pencakar langit. Di kejauhan, plakat iklan Shen Yue masih terpampang, tetapi kali ini, Xia Ji tidak merasakan sakit yang menusuk. Ada yang lain, sebuah tekad yang mulai mengakar. Dia ingat kata-kata yang mungkin saja ia ucapkan di masa depan: 'Kalian menciptakan musuh untuk menghancurkanku. Tetapi kalian tidak sadar... setiap musuh adalah langkahku menuju puncak.'

Xia Ji tersenyum kecil, senyuman pertama yang tulus sejak kepergian Shen Yue. Senyuman itu bukan untuk orang lain, tetapi untuk dirinya sendiri, untuk secercah harapan yang baru saja muncul di antara abu kehidupannya. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan baru yang asing namun nyata. Hari ini, ia hanya bertahan dari serangan seorang jenius yang meremehkannya. Besok, ia akan belajar untuk membalas. Dan suatu hari nanti, ia akan menuntut jawaban dari semua orang yang telah mengkhianatinya-dimulai dari Shen Yue.

Saat ia akhirnya melangkahkan kaki untuk pulang, bayangan senja yang panjang mengikutinya seperti penghubung antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang tidak pasti. Xia Ji tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, bahwa dunia kultivasi modern ini penuh dengan bahaya dan konspirasi. Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, ia memiliki alat untuk bertahan, dan mungkin, untuk menang. Di sakunya, ia merasakan secarik kertas kuitansi lama yang ia ambil secara refleks-kenangan akan masa lalu yang kelabu. Namun, kali ini, ia tidak membuangnya. Ia melipatnya dengan hati-hati dan menyimpannya sebagai pengingat: bahwa ia pernah jatuh, dan mulai hari ini, ia akan bangkit.

Angin malam mulai berhembus, membawa aroma logam dan energi spiritual dari kota yang tak pernah tidur. Di kejauhan, cahaya-neon formasi mulai berkedip-kedip, menghidupkan malam kota modern yang penuh misteri. Xia Ji berjalan melewati gang-gang, melewati pasar ramuan yang mulai sepi, melewati pintu masuk klub-klub eksklusif tempat para kultivator kaya berbagi sumber daya. Dunia terus berputar tanpa peduli padanya, tetapi kali itu, Xia Ji tidak lagi merasa seperti penonton yang tak berdaya. Ia mulai merasakan bahwa ia adalah bagian dari cerita ini, dan ia akan menulis ulang takdirnya dengan tangannya sendiri.

Ketika ia tiba di depan apartemennya yang kumuh, ia berhenti sejenak. Lantai tiga puluh tujuh, pandangan ke arah menara-menara kejayaan. Besok, ia akan memulai latihan baru, memanfaatkan kemampuan Pemulihan Spiritual Langit-Bumi, dan mencari lebih banyak informasi tentang Sistem Musuh. Ia harus menemui Master Wei, tetua yang menjaga toko artefak di sudut jalan kota-satu-satunya orang yang mungkin mengerti apa yang terjadi padanya. Dan dalam perjalanan itu, ia akan menghadapi lebih banyak rintangan, lebih banyak musuh, dan mungkin, pada akhirnya, akan menemukan jawaban yang selama ini ia cari.

Xia Ji menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang-bintang redup yang tertutup polusi cahaya. Namun di matanya, ada kilatan yang tidak lagi redup. Ia berbisik pada dirinya sendiri, sebagai sumpah yang akan menjadi panduan di jalan yang panjang dan berliku:

'Aku akan bangkit. Bukan untuk balas dendam semata, tetapi untuk membuktikan bahwa setiap orang yang meremehkanku, setiap orang yang mengkhianatiku, telah salah. Dan pada saat itu, ketika aku berdiri di puncak, mereka akan tahu bahwa kegelapan yang mereka ciptakan untukku hanyalah awal dari terangku.'

Dengan itu, Xia Ji membuka pintu apartemennya dan masuk ke dalam, menyongsong malam yang sunyi, menyongsong hari esok yang penuh dengan kemungkinan. Di dalam kepalanya, Sistem Musuh masih diam, tetapi ia merasakan kehadirannya seperti denyut nadi kedua-sebuah pengingat bahwa ia tidak lagi sendirian. Dunia mungkin telah meninggalkannya, tetapi sekarang, ia memiliki alat untuk menaklukkan dunia itu kembali, satu musuh pada satu waktu.

~ Bab 1 Selesai ~

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai