SSS Turnamen: Takhta Legenda
Bab 2
Sang Pemanggil Takdir
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam itu, hujan turun dengan derasnya di kota kecil pinggiran yang tak pernah punya nama berarti di peta mana pun. Kael duduk di sudut kamar kosnya yang sempit, hanya ditemani layar monitor tua yang berkedip-kedip. Jari-jarinya masih menari di atas keyboard game battle royale terbaru, sementara pikirannya melayang pada kegagalannya hari ini-nilai ujian akhir yang tidak memuaskan, tagihan listrik yang menumpuk, dan sunyi yang tiba-tiba terasa lebih berat dari biasanya. Usianya dua puluh tahun, dan ia sudah terbiasa dengan rasa biasa saja. Sejak kecil, ia tak pernah menjadi yang terbaik dalam hal apa pun. Ia hanya Kael: seorang gamer kelas menengah yang bermimpi menjadi pro player, namun sadar bahwa bakatnya tidak cukup untuk menembus papan atas.
Tepat saat karakter virtualnya mati di layar, sesuatu yang aneh terjadi. Monitor itu tiba-tiba mati total-bukan karena listrik padam atau kabel lepas. Layar menjadi hitam pekat, lalu sebuah tulisan muncul dalam aksara yang bersinar biru elektrik, seolah-olah menembus kaca monitornya: "SISTEM GAME MULTIVERSE - TAUTAN DIMENSI TERBUKA. SELAMAT DATANG, PESERTA TERPILIH."
Kael tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengecek kabel, mencoba menghidupkan ulang komputernya, tapi tidak ada yang berhasil. Tulisan itu tidak hilang. Sebaliknya, ia semakin terang, memancarkan cahaya yang memenuhi seluruh kamar. Dinding-dinding mulai beriak seperti air, dan lantai terasa lunak di bawah kakinya. Sebelum ia sempat berteriak atau lari, dunia di sekelilingnya berputar dalam spiral cahaya yang menyilaukan.
Ia jatuh. Tidak, bukan jatuh-ia dipindahkan. Tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan dingin. Kael membuka mata, dan yang ia lihat bukan lagi kamar kosnya. Ia berada di tengah padang rumput yang luas, diterangi oleh dua rembulan yang bersinar dengan warna ungu dan biru. Angin berbisik di telinganya, membawa aroma tanah basah dan bunga asing. Di kejauhan, struktur kristal raksasa menjulang setinggi gunung, memantulkan cahaya rembulan menjadi ribuan kilauan warna-warni. Ini bukan Bumi. Ini bukan mimpi.
“Turnamen dimulai dalam sepuluh menit,” suara tanpa tubuh bergema, menggelegar di seluruh penjuru. “Semua peserta akan menerima item awal dan skill dasar. Bertahan hidup, bertarung, atau mati. Takhta menanti yang terkuat.”
Kael meraba-raba tubuhnya. Ia masih mengenakan pakaian tidur: ka oblong longgar dan celana pendek. Tapi di pergelangan tangannya, kini terpasang gelang logam tipis dengan layar holografik yang menampilkan data. Level 0. Skill: 0. Item: kosong. Sebuah jendela sistem terbuka di depan matanya:
[STATUS PEMAIN] Nama: Kael Asal Dimensi: Bumi-1447 Level: 0 Peringkat: Nol (Peserta Baru) Skill Khusus: - Item: -
Ia membaca lagi. Level nol. Ia bahkan tidak memiliki satu skill pun. Bagaimana ia bisa bertahan hidup di dunia yang penuh dengan monster dan pembunuh dari dimensi lain? Rasa panik mulai merayapi dadanya. Tapi di balik panik itu, ada sesuatu yang lain-sebuah firasat aneh, seolah-olah ia pernah berada di sini sebelumnya. Deja vu yang kuat menekan pikirannya. Ia melihat sekeliling. Di kejauhan, puluhan titik cahaya bergerak-peserta lain mulai muncul di arena.
“Kau yang baru?” suara seorang wanita memecah keheningan. Kael menoleh. Seorang gadis dengan rambut perak panjang, mata biru es, dan jubah hitam berkilau berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya cantik, tapi dingin seperti patung marmer. Dari aura yang terpancar, ia jelas bukan pemain level rendah. “Namaku Lyra Voss,” katanya tanpa basa-basi. “Peringkat S. Aku tidak punya waktu untuk mengajari anak baru. Tapi karena kau terlihat paling lemah di sini, aku akan memberimu satu nasihat: jangan mati terlalu cepat. Turnamen ini adalah siklus pembantaian, dan daging segar seperti kau hanya akan menjadi umpan.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melesat pergi dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kael hanya terpaku. Peringkat S? Ia baru mendengar istilah itu dari narasi sistem saat perpindahan. Ada peringkat dari F hingga SSS, dan S adalah salah satu yang tertinggi. Dan ia, dengan level nol, harus berkompetisi melawan monster seperti itu?
Ia menunduk, menekan gelang di pergelangan tangannya. Layar menampilkan peta arena, yang terus berubah bentuk seperti makhluk hidup. Tertera tulisan merah: “Mode Pertarungan: Semua Peserta Bebas Menyerang. Tidak Ada Zona Aman.”
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari belakang. Kael berputar cepat. Seorang pria bertubuh raksasa dengan kulit keabu-abuan dan tanduk kecil di kepalanya mendekat. Manusia? Atau makhluk dimensi lain? Yang jelas, tatapannya penuh niat membunuh.
“Peserta level nol? Sempurna,” geramnya. “Kau bisa menjadi trofi pertamaku.”
Ia mengayunkan kapak besar yang tiba-tiba muncul di tangannya. Kael melompat mundur secara naluriah, kakinya tersandung batu. Ia jatuh. Kapak itu menghujani, dan waktu terasa melambat. Kael melihat kilatan cahaya di ujung matanya-sebuah skill atau sihir-tapi ia tidak punya waktu untuk menganalisis. Refleks murni membuatnya berguling ke samping. Kapak itu menancap di tanah, tepat di tempat ia baru saja berada.
“Beruntung,” gumam monster itu. “Tapi tidak akan beruntung dua kali.”
Kael merasakan adrenalin membanjiri tubuhnya. Ia tidak punya senjata, tidak punya skill. Satu-satunya yang ia miliki adalah akal dan insting bertahan hidup. Ia melihat sekeliling. Di dekat kakinya ada sepotong batu tajam. Ia meraihnya, tapi benda itu tidak akan cukup untuk melawan kapak raksasa. Saat monster itu bersiap menyerang lagi, Kael berpikir cepat. Di game battle royale yang biasa ia mainkan, ia sering menggunakan lingkungan untuk keuntungan. Mungkin di sini pun berlaku hal yang sama.
Ia melompat ke arah kiri, melewati semak-semak rendah. Monster itu mengikuti, mengayunkan kapaknya sembarangan. Kael berjongkok, merasakan embusan angin dari ayunan itu. Kapak itu mengenai batang pohon kristal di dekatnya, membuatnya pecah dan mengeluarkan serpihan tajam. Kael meraih serpihan itu, menggunakannya sebagai pisau darurat. Tapi ini hanya perpanjangan waktu.
“Akhiri saja permainan ini!” teriak monster itu, mengangkat kapak untuk serangan terakhir.
Saat itulah sistem mengeluarkan notifikasi yang mengubah segalanya:
[PERINGATAN! Event Tak Terduga: Resonansi Kerusakan Dimensi Terdeteksi. Beberapa Statistik Pemain Akan Direset Secara Acak.]
Sebuah gelombang energi menyapu seluruh arena. Kael merasakan tubuhnya bergetar. Gelang di pergelangan tangannya memanas. Layar menampilkan angka-angka yang berubah liar. Level 0 berkedip, lalu melonjak-menjadi 99.999. Lalu berhenti di angka itu. Tapi di sampingnya muncul tulisan merah: [TIDAK STABIL - SISA WAKTU HIDUP: 3 JAM].
Monster itu juga terkena dampak reset. Ia terhuyung, kapaknya jatuh. Levelnya yang tadinya mungkin 50 turun drastis menjadi 5. Ia meraung frustrasi.
“Apa yang kau lakukan?!”
Kael tidak menjawab. Ia sibuk membaca notifikasi berikutnya yang muncul di depannya:
[Selamat! Anda terpilih sebagai penerima ‘Legacy Cipher’. Level Anda melampaui batas standar. Namun, stabilitas sistem dipertaruhkan. Anda harus memenangkan babak ini dalam waktu yang ditentukan, atau data Anda akan terhapus secara permanen.]
Belum sempat ia mencerna, bayangan seseorang melintas di antara pepohonan. Sosok itu berjalan dengan tenang, dan ketika mendekat, Kael tercengang. Wajah itu-wajah yang sama persis dengan ayahnya yang sudah meninggal lima tahun lalu. Keringat dingin mengucur. Mulutnya bergerak untuk berteriak, tapi suara ayahnya justru keluar dari sosok itu dengan nada dingin dan menusuk:
“Kau pikir kau dipilih secara acak? Aku yang mengatur undianmu. Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Nak. Atau lebih tepatnya... selamat datang di rumah yang dulu kau hancurkan.”
Kael merasa dunianya runtuh. Siapa-atau apa-yang ada di hadapannya? Ini bukan ayahnya. Tapi kemiripan itu terlalu sempurna. Ingatan masa kecil: senyum hangat, nasihat tentang kejujuran, dan kematian tragis ayahnya dalam kecelakaan mobil yang tak pernah terungkap jelas. Kini, di balik topeng rupa ayah, ada sesuatu yang gelap, penuh kebencian.
“Jangan bingung,” lanjut sosok itu. “Aku hanyalah utusan, yang meminjam bentuk orang yang kau cintai agar kau mendengar. Pertanyaan sesungguhnya: apakah kau siap menerima warisan yang ditinggalkan Pemain Bayangan? Atau kau akan terus menjadi pemuda malang yang tidak tahu siapa dirinya?”
Kael mundur selangkah. Gelang itu terus berdetak-waktu tersisa 2 jam 59 menit. Ia harus bergerak. Tapi kakinya lumpuh oleh kehadiran sosok itu. Monster tadi masih tergeletak, pingsan karena efek reset. Arena di sekitar mereka terus berubah, tanah bergelombang, pepohonan kristal bermunculan dan lenyap secara acak.
“Kau pasti salah,” kata Kael akhirnya, suaranya bergetar. “Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya gamer biasa yang hidupnya kacau.”
“Tidak,” sahut sosok itu. “Kau adalah kunci yang membuka pintu tempat takhta berdiri. Dan aku datang untuk memastikan kau tidak lupa. Ingatlah-setiap pilihan yang kau buat di turnamen ini akan menentukan nasib semua dimensi. Bukan hanya nasibmu.”
Setelah itu, sosok itu menghilang dalam kabut perak, meninggalkan Kael dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Ia sendirian, dengan level stabil di angka maksimal namun hidupnya terbatas, dengan identitas yang tiba-tiba menjadi misteri paling gelap di jagat raya, dan dengan kenangan palsu tentang ayah yang kini berubah menjadi kutukan.
Dari kejauhan, LED raksasa di langit mulai menghitung mundur: [TURNEMEN DIMULAI - 5... 4... 3... 2... 1...]
Kael mengepalkan tangan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti: untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bukan lagi orang biasa. Ia adalah pemain level tertinggi-meskipun stabil atau tidak-dan ia harus menemukan jawaban sebelum waktunya habis. Atau ia akan menjadi bagian dari sejarah turnamen yang terlupakan, seperti ribuan peserta sebelumnya.
Dengan langkah goyah, ia mulai berjalan ke arah pusat arena, di mana cahaya takhta legenda bersinar redup, seperti nyala api yang siap membakar seluruh takdirnya.
~ Bab 2 Selesai ~