SSS Turnamen: Takhta Legenda
Bab 1
Arena Pertama: Sambutan dari Sang Sistem
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Udara dingin menusuk pori-pori kulit Kael saat ia berdiri di ruang persiapan yang remang-remang. Dinding di sekelilingnya berdenyut lembut seperti makhluk hidup, memancarkan kilauan biru kehijauan dari partikel-partikel data yang melayang di udara. Di depan matanya, sebuah jendela transparan melayang dengan tulisan berkilauan: "Turnamen SSS - Babak Kualifikasi. Peserta: Kael (Level 0, Bumi). Waktu tersisa: 00:00:30."
Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena ketidakpercayaan. Baru sepuluh menit yang lalu ia sedang duduk di kamar kosnya yang sempit, memainkan game RPG lawas di laptop usang. Tiba-tiba layar monitor menyala putih, dan suara tanpa dimensi bergema di kepalanya: "Kamu terpilih. Bersiaplah." Lalu, entah bagaimana, ia terlempar ke sini - sebuah lorong antar dimensi yang dipenuhi simbol-simbol aneh.
Kael mengatur napas, mencoba mengingat semua yang ia baca di forum-forum game. Turnamen SSS bukanlah sekadar legenda. Banyak pemain dari dimensi lain yang pernah menyebutkannya - sebuah ajang brutal yang hanya diadakan setiap seratus tahun sekali. Hanya yang terkuat yang bisa bertahan. Dan ia, seorang mahasiswa drop-out dengan kemampuan bertarung nol, sekarang menjadi salah satu peserta.
"Sistem, buka status," bisiknya, mengikuti naluri yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Sebuah jendela baru muncul:
- Nama: Kael - Level: 0 - Kelas: Tidak terkategori - HP: 100/100 - MP: 50/50 - Skill: [Pengamatan] (Lv.1), [Lari Cepat] (Lv.1) - Item: Tidak ada
Tidak ada senjata. Tidak ada baju besi. Hanya dua skill rendahan yang bahkan tidak berguna untuk melawan tikus. Kael menghela napas dalam-dalam. Di kejauhan, ia mendengar suara gemuruh yang aneh - seperti ribuan orang berteriak di dalam stadion raksasa.
"Pemain Kael, bersiaplah untuk teleportasi ke arena," suara sistem bergema lagi, dingin dan tanpa emosi. "Lawanmu telah ditentukan. Semoga kekuatan menyertaimu."
Cahaya putih menyelimuti tubuh Kael. Ia merasakan sensasi aneh seperti direntangkan ke segala arah, lalu dalam sekejap, pijakan kakinya berubah. Kini ia berdiri di tengah padang pasir yang tak berujung. Pasir keemasan membentang hingga cakrawala, dan langit di atasnya berwarna ungu gelap dengan dua matahari yang bersinar redup. Di kejauhan, tampak struktur koloseum kuno yang runtuh sebagian, seolah bekas pertempuran dahsyat.
"Selamat datang di Arena Nexus - Medan Pasir Abadi," sistem mengumumkan. "Aturan: pertarungan berakhir jika salah satu pemain menyerah atau HP mencapai nol. Tidak ada intervensi dari luar. Pertarungan dimulai dalam 10 detik."
Kael menegang. Ia melihat ke sekeliling, mencari bayangan lawan. Namun, yang muncul bukanlah prajurit bertubuh kekar atau monster buas. Dari balik bukit pasir, seorang anak kecil berjalan perlahan. Anak laki-laki dengan rambut putih panjang, mengenakan jubah putih bersih yang kontras dengan lingkungan kotor. Wajahnya polos, matanya hitam pekat tanpa putih mata, dan di bibirnya tersungging senyum misterius.
"H-halo?" Kael ragu. "Kamu... lawanku?"
Anak itu tidak menjawab. Ia terus berjalan mendekat, langkah kakinya ringan tanpa meninggalkan jejak di pasir. Ketika jarak mereka tinggal sepuluh meter, anak itu berhenti. Lalu, dengan suara yang dalam dan bergetar - sama sekali tidak cocok dengan penampilannya - ia berkata, "Sudah lama, Kael. Atau lebih tepatnya, selamat datang kembali."
Kael terbelalak. "Apa? Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Siapa kamu?"
Anak itu tertawa kecil, suaranya bagai kaca pecah. "Aku adalah bagian dari semua ini. Akulah yang mengatur panggung. Akulah yang menentukan siapa yang layak bertahan." Ia mengangkat tangan kanannya, dan tiba-tiba pasir di sekeliling mereka berputar membentuk pusaran kecil. "Tapi kau... kau selalu istimewa. Bahkan setelah sekian lama, aroma bayangan masih melekat padamu."
"Bayangan?" Kael mengulangi kata itu, dan tanpa ia sadari, dadanya berdenyut sakit. Seperti ada sesuatu yang mencoba bangkit dari dalam. "Aku tidak mengerti. Jelaskan!"
Anak itu tersenyum lebih lebar. "Kau pikir kau hanya seorang gamer biasa? Tidak. Kamu adalah reinkarnasi dari Pemain Bayangan yang pernah hampir menghancurkan Turnamen ini, seratus tahun yang lalu. Ingatanmu terkunci, tapi tubuhmu mengingat setiap gerakan. Lihat."
Ia menunjuk ke arah Kael, dan seketika, sebuah bayangan hitam keluar dari tubuh Kael - bayangan yang bergerak sendiri, membentuk sosok seperti manusia. Sosok itu melayang di belakang Kael, dan Kael merasakan kekuatan aneh menjalari nadinya.
"Apa-apaan ini?!" Kael mundur, kaget. Bayangan itu tidak terasa asing. Justru, ia merasa familiar, seperti bagian dari dirinya yang hilang.
"Jangan khawatir, itu milikmu. Sebenarnya, kau lebih kuat dari yang kau kira," kata anak itu. "Tapi sayang sekali, aku tidak bisa membiarkanmu hidup dengan mudah. Lagipula, ini adalah turnamen. Aku harus menguji seberapa besar potensimu."
Anak itu melambaikan tangan, dan tiba-tiba puluhan anak panah es terbentuk di udara, mengarah tepat ke Kael. Tanpa berpikir, Kael melompat ke samping, dan bayangan hitam di belakangnya bergerak refleks, membentuk perisai tipis yang menahan beberapa panah. Namun satu panah mengenai bahu kirinya, dan rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh tubuh.
"Aarrgh!" Kael meringis, darah membasahi lengan bajunya. Ia menatap lawannya dengan penuh amarah. "Kau serius mau membunuhku? Kau hanya anak kecil!"
Anak itu kembali tertawa, nada suaranya kini terdengar lebih dewasa dan sinis. "Anak kecil? Lihat lagi, Kael. Aku bukan manusia. Aku adalah Sistem dengan bentuk yang kau lihat. Aku bisa menjadi apa pun yang kuinginkan. Tapi aku memilih wujud ini untuk membuatmu lengah. Dan kau benar-benar lengah, hahaha."
Dengan sentakan tangannya, sepuluh pedang api muncul dari tanah, menyala dengan intensitas tinggi. Udara di sekitar mereka memanas, dan pasir mulai meleleh menjadi kaca. Kael sadar ia tidak akan bertahan lama. Ia harus mencari celah.
"Mengapa kau memanggilku 'Bayangan'?" tanya Kael, berusaha mengulur waktu. "Apa hubunganku dengan masa lalu?"
Senyum anak itu sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi serius. "Kau adalah satu-satunya yang pernah menolak takhta. Kau melihat kebenaran di balik turnamen ini - bahwa setiap kemenangan adalah pengorbanan jiwa. Kau memberontak, hampir menghancurkan The Core. Tapi mereka mengalahkanmu, mengunci ingatanmu, dan mengirimmu bereinkarnasi di Bumi."
Semua kata-kata itu bergema di kepala Kael. Ia merasakan sedikit percikan ingatan - gambar koloseum besar, teriakan, dan darah. Tapi semuanya kabur.
"Tapi kenapa aku dipilih lagi? Kenapa aku dikembalikan ke turnamen ini?" Kael bertanya, suaranya bergetar.
"Karena The Core tidak pernah belajar dari kesalahan," jawab anak itu. "Mereka mengira kau sudah mati total. Tapi aku - ya, aku yang mengatur ulang sistem pilihan - diam-diam mengundangmu lagi. Aku ingin melihat apakah kau masih memiliki semangat itu. Kau adalah satu-satunya harapan untuk mengakhiri siklus ini."
Anak itu menghela napas panjang, lalu pedang-pedang api itu melayang ke samping, meredup. "Tapi sebelum itu, kau harus membuktikan dirimu layak. Aku tidak akan memberi hadiah gratis. Bertahanlah, Kael. Tunjukkan insting Bayanganmu."
Dengan cepat, anak itu mengangkat kedua tangannya, dan seluruh arena berubah menjadi badai pasir yang mengamuk. Kael menutup matanya, merasakan angin yang memotong kulitnya. Namun di kegelapan, ia mendengar bisikan halus, "Ayo, bangkit. Ingat dirimu yang dulu."
Kael merasakan bayangan di punggungnya berdenyut lebih kuat, seperti jantung kedua. Ia membuka matanya, dan di tengah badai, ia melihat bayangan itu melebur dengan tubuhnya, memberinya kecepatan dan kekuatan. Tanpa ragu, ia berlari, menghindari pusaran pasir, dan melompat ke arah anak itu dengan tinju terkepal.
Tapi anak itu hanya tersenyum, dan tepat sebelum tinju Kael mengenai, sosoknya menghilang dalam kilatan cahaya. Badai reda seketika, dan pasir kembali tenang. Kael berdiri sendiri di tengah arena, dada naik turun, luka di bahu masih berdarah.
"Pertarungan selesai. Pemenang: Kael (karena lawan mengundurkan diri)," suara sistem mengumumkan. "Kamu mendapatkan 100 XP, 10 koin Sistem, dan skill baru: [Manipulasi Bayangan (Lv.1)]."
Namun Kael tidak peduli dengan hadiah itu. Ia masih terpaku pada kata-kata terakhir anak itu. Dan kemudian, di udara di depannya, sebuah pesan muncul dalam huruf emas:
"Selamat datang kembali, Bayangan."
Kael menggenggam tangannya erat. Sesuatu yang besar baru saja dimulai. Dan ia tidak yakin apakah itu berkah atau kutukan.
~ Bab 1 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.