Cinta Sejati di Atas Segala Takdir
Bab 1
Bab 1: Pertemuan di Puncak Kegelapan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Angin malam berdesir di antara puncak Gunung Langit Tak Terbatas, membawa aroma melati liar yang bercampur dengan embun dingin. Ling Xiao berdiri di tepi tebing, jubah putihnya berkibar seperti sayap burung bangau yang terluka. Di sampingnya, Yue Ying duduk di atas batu giok berwarna perak, rambutnya tergerai disinari cahaya rembulan yang seolah hanya miliknya. Keheningan mereka adalah bahasa yang lebih dalam dari seribu kata.
"Yue Ying," kata Ling Xiao akhirnya, suaranya hampir teredam oleh desau angin. "Setiap kali aku memandangmu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, seperti kepingan mimpi yang terus mengelak saat akan kutangkap."
Yue Ying menoleh padanya, mata bulan sabitnya berkilauan dengan kesedihan yang tak terucapkan. "Kau mungkin merasakan itu karena kita telah bertemu dalam banyak kehidupan sebelumnya, Ling Xiao. Namun setiap kali, kutukan ini memaksaku untuk melupakanmu, dan kau harus memulai lagi dari awal."
Ia mengulurkan tangan, dan di telapak tangannya muncul seberkas cahaya perak yang berdenyut seirama dengan detak jantung. "Kekuatanku mengalir dari rembulan, tetapi setiap kali aku menggunakannya, aku kehilangan sehelai ingatan. Aku sudah kehilangan tiga ribu tahun sejarahku sendiri. Dan jika terus begini, aku akan lupa siapa aku sebenarnya."
Ling Xiao merasakan dadanya sesak. Ia ingin meraih tangan itu, tetapi sebelum ia sempat bergerak, langit di atas mereka tiba-tiba terbelah. Awan hitam menyembur dari celah dimensi, berputar seperti pusaran raksasa. Cahaya merah darah memancar dari pusat pusaran itu, dan di tengahnya, sesosok makhluk raksasa mulai terbentuk.
Tubuhnya setinggi tiga puluh kaki, dilapisi sisik hitam legam yang memantulkan api kegelapan. Tanduk emas melingkar di kepalanya seperti mahkota duri. Matanya bagaikan dua bara api yang membara. Ia mendarat di puncak gunung dengan suara gemuruh yang mengguncang dasar batu.
"Ling Xiao," suara Kaisar Kegelapan menggema seperti petir yang tertahan di dalam gua. "Aku sudah lama menunggumu di sini. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Jangan kira dirimu hanya pendekar kecil dari sekte terpencil di Alam Manusia."
Ling Xiao segera berdiri di depan Yue Ying, tangannya sudah menggenggam gagang pedang petir. "Kaisar Kegelapan! Apa maumu? Jika kau ingin menyakiti Yue Ying, kau harus melewati mayatku terlebih dahulu."
Namun Kaisar Kegelapan justru tertawa. Tawanya pahit dan penuh luka. "Kau masih sama. Selalu berani, selalu siap berkorban. Tapi kau tidak tahu sesuatu yang lebih penting dari nyawaku sendiri?"
Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. "Di kehidupan lampau, kau bukan Ling Xiao. Kau adalah Kaisar Surga, penguasa tertinggi dari enam alam. Dan aku... aku adalah adik kandungmu, Zhao Ming. Aku adalah putra kedua dari Kaisar Naga Abadi, pewaris takhta yang kau korbankan demi cinta terlarangmu pada seorang dewi."
Udara di sekitar mereka terasa membeku. Yue Ying menatap Kaisar Kegelapan dengan tatapan tajam. "Itu tidak mungkin. Kaisar Surga telah mati sepuluh ribu tahun yang lalu, dan tidak pernah ada kabar tentang seorang adik."
"Karena para dewa senior menghapus semua catatan tentangku," jawab Kaisar Kegelapan, nadanya bergetar seperti tali kecapi yang putus. "Aku dianggap aib karena mendukung kakakku yang memilih cinta di atas kekuasaan. Aku diasingkan ke Alam Iblis, dan di sana aku berubah menjadi monster seperti sekarang. Dan kau, Ling Xiao, adalah kakak yang kuhormati namun juga kubenci."
Ling Xiao merasakan kepalanya berputar. Kenangan masa lalu menerobos kesadarannya seperti banjir bandang. Potongan-potongan gambar: istana di atas mega, saudara yang selalu mengikutinya, dan seorang wanita berjubah perak yang ia cintai melebihi segalanya. Ia terjatuh ke lututnya, napasnya tersengal.
"Aku... aku ingat," bisiknya. "Aku ingat wajahmu, Zhao Ming. Wajah seorang anak laki-laki yang selalu tersenyum padaku. Tapi mengapa sekarang kau menjadi seperti ini?"
Kaisar Kegelapan mendekat, dan ia menunduk sehingga wajahnya sejajar dengan Ling Xiao. "Karena setelah kau gugur, para dewa menyalahkanku karena tidak bisa menghentikanmu. Mereka merantai jiwaku ke dalam jurang kegelapan selama seribu tahun. Dan ketika aku keluar, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menjadi iblis. Aku tidak punya pilihan, kakakku."
"Tapi mengapa kau mengincar kekuatan Dewi Bulan?" tanya Yue Ying dengan suara dingin namun mengandung rasa ingin tahu.
Kaisar Kegelapan menatapnya. "Bukan untuk menghancurkanmu, Dewi. Aku tahu tentang kutukan yang mengikatmu. Aku tahu bahwa satu-satunya cara untuk mematahkannya adalah dengan menggabungkan kekuatan tiga entitas: Darah Kaisar Surga, Jiwa Dewi Bulan, dan Api Neraka tempatku terlahir kembali. Aku datang bukan untuk bermusuhan, melainkan untuk menawarkan aliansi."
"Aliansi?" Ling Xiao terkejut. "Kau, musuh bebuyutan kami, menawarkan aliansi?"
"Aku adalah musuhmu karena para dewa memaksaku menjadi musuh. Tapi aku masih ingat saat kau mengajarkanku cara memegang pedang. Aku masih ingat saat kau menyelamatkanku dari serangan ular berkepala sembilan. Darah kita sama, Ling Xiao. Kita bersaudara. Dan aku ingin membantumu kali ini, bukan untuk kebaikan alam semesta, tetapi untuk menebus kesalahanku karena dulu tidak bisa melindungimu."
Yue Ying mengerutkan kening. "Jika kau benar-benar ingin membantu, mengapa kau menculik para pendekar dari Alam Manusia? Mengapa kau mengirim tentara kegelapan ke desa-desa?"
"Itu semua tipu muslihat para dewa senior," Kaisar Kegelapan menjawab dengan nada getir. "Mereka ingin membuatku tampak jahat di matamu, sehingga kau tidak akan pernah percaya padaku. Mereka tahu bahwa jika kita bersatu, kutukan itu bisa dipatahkan. Dan mereka takut pada cinta yang mampu melampaui takdir."
Ia mengulurkan tangan besarnya yang hitam, dan di telapaknya muncul sebuah bola api hitam yang berdenyut. "Ini adalah Api Neraka yang telah menyatu dengan jiwaku. Jika kau setuju, aku akan memberikan separuh apiku untuk ritual pematahan kutukan. Tapi kau harus percaya padaku, Ling Xiao. Dan kau harus siap menghadapi kenyataan bahwa setelah kutukan itu patah, ada harga yang harus dibayar."
Ling Xiao menatap Yue Ying, dan wanita itu hanya menggeleng perlahan, matanya berkata bahwa ia tidak tahu harus mempercayai siapa. Namun hati Ling Xiao sudah dipenuhi oleh rasa sakit ingatan masa lalu yang mulai kembali. Ia melihat bayangan adiknya yang dulu polos, lalu melihat wujud sekarang yang penuh luka dan kehancuran.
"Zhao Ming," panggil Ling Xiao dengan suara serak. "Jika kau benar-benar adikku, buktikan. Katakan satu hal yang hanya kita berdua yang tahu."
Kaisar Kegelapan terdiam sesaat. Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak sesuai dengan wajah iblisnya. "Kau ingat saat kita menyembunyikan diri di taman istana, dan kau membuat mahkota dari ranting pohon sakura untukku? Kau berkata, 'Zhao Ming, suatu hari nanti kau akan menjadi raja yang lebih hebat dariku.' Aku menangis karena aku tidak mau menjadi raja; aku hanya ingin menjadi adikmu selamanya."
Air mata mulai mengalir di pipi Ling Xiao. Ia tidak bisa menyangkalnya lagi. Kenangan itu begitu jelas, begitu nyata. Ia melangkah maju dan meraih tangan besar adiknya. "Aku tidak percaya kau sudah berubah sejauh ini, Zhao Ming. Tapi jika kau benar-benar ingin membantu, aku akan menerima tawaranmu. Demi Yue Ying, demi cinta yang telah mengikat kita selama sepuluh siklus, aku akan mempertaruhkan segalanya."
Kaisar Kegelapan menarik napas panjang. "Ada konsekuensinya. Ritual ini akan menguras kekuatanmu hingga hampir mati, dan aku harus mengorbankan separuh keabadianku. Namun jika berhasil, Yue Ying akan bebas dari kutukan, dan ingatanmu akan kembali utuh."
Yue Ying tiba-tiba berdiri, jubah peraknya berkibar. "Tidak, Ling Xiao. Aku tidak mau kau mengorbankan dirimu lagi. Aku sudah kehilanganmu berkali-kali. Aku tidak sanggup melihatmu hancur sekali lagi."
"Tapi ini satu-satunya cara, Yue Ying," kata Ling Xiao sambil memegang pundaknya. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri di setiap kehidupan. Aku akan mematahkan kutukan ini, apa pun yang terjadi. Dan sekarang, dengan bantuan adikku, mungkin kita benar-benar memiliki kesempatan."
Kaisar Kegelapan mengeluarkan sebuah gulungan kuno dari balik jubahnya. "Ini adalah peta ritual yang kucuri dari Perpustakaan Dewa. Tempat yang tepat untuk melakukannya adalah di Istana Bulan Abadi, di tingkat tertinggi Alam Dewa. Namun perjalanan ke sana penuh dengan jebakan. Para dewa sudah mengetahui rencana kita. Mereka akan mengirim empat penjaga gerbang."
"Empat penjaga?" tanya Ling Xiao. "Siapa mereka?"
"Naga Api, Harimau Putih, Kura-kura Hitam, dan Phoenix Ungu. Masing-masing adalah dewa penjaga arah mata angin. Kekuatan mereka setara dengan dewa kelas menengah. Kita harus mengalahkan mereka dalam waktu yang bersamaan, atau gerbang tidak akan terbuka."
Ling Xiao mengepalkan tangannya. "Aku tidak takut. Aku sudah menghadapi iblis dan dewa selama perjalananku. Ini tidak akan berbeda."
"Kau terlalu sombong, kakakku," kata Kaisar Kegelapan perlahan. "Tapi itulah yang dulu membuatmu menjadi Kaisar Surga yang hebat. Namun ada satu hal yang harus kau ketahui. Setelah ritual dimulai, waktu akan berhenti di seluruh alam. Hanya kita yang dapat bergerak. Dan jika gagal, tidak akan ada kesempatan kedua. Jiwa kalian akan terperangkap di antara dimensi selama-lamanya."
Yue Ying memegang tangan Ling Xiao, dan napasnya terdengar lebih cepat. "Apa pun yang terjadi, aku akan bersamamu, Ling Xiao. Aku lebih suka terjebak keabadian bersamamu daripada bebas tanpa dirimu."
Kaisar Kegelapan melihat mereka berdua, dan di matanya yang api membara, ada kilatan kelembutan yang hampir tak terlihat. "Baiklah. Kita berangkat sekarang. Ikuti aku, dan jangan bertanya sampai kita tiba di gerbang pertama."
Ia mengangkat tangannya, dan pusaran kegelapan kembali terbuka di langit. Namun sebelum mereka melangkah, Ling Xiao menahan lengan adiknya. "Zhao Ming, mengapa kau melakukan ini? Setelah semua yang kualami, aku tidak bisa percaya begitu saja."
Kaisar Kegelapan berhenti, dan untuk sesaat ia terlihat seperti anak kecil yang tersesat. "Karena aku lelah menjadi musuh, kakakku. Aku lelah membenci bayanganmu. Dan karena... aku masih ingat senyumanmu saat kau memberiku mahkota ranting sakura itu. Aku ingin melihat senyuman itu sekali lagi, meskipun harus membayar dengan nyawaku."
Udara malam terasa semakin dingin saat mereka melangkah ke dalam pusaran. Dan di balik mereka, di puncak Gunung Langit Tak Terbatas, sebuah suara bisikan samar terdengar dari langit: "Mereka telah jatuh ke dalam perangkap. Biarkan ritual itu berjalan. Dan ketika mereka mencapai puncak, kita akan menghancurkan mereka."
~ Bab 1 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.