Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Luminous Vanguard: Perang Cahaya Terakhir

Bab 4

Suara dari Dasar Lautan Racun

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Aula komando perlahan kosong, namun desiran rendah dari generator gravitasi tetap menggetarkan lantai obsidian seperti detak jantung yang tak pernah tenang. Ren Kazuki berdiri diam di tempatnya, merasakan Eos mendingin di sekujur tubuhnya-bukan karena dinginnya udara artifisial Skyhold Primus, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa kata-kata Laksamana Orin Vex tadi bukan sekadar retorika perang.

Cahaya yang paling terang adalah yang paling dicari oleh kegelapan.

Kalimat itu menggantung di benaknya seperti gema di ruang hampa.

Langkah kaki berderit di belakangnya. Ren tidak perlu berbalik untuk mengenali irama itu-terlalu ringan untuk Kairo, terlalu terukur untuk Selene.

"Kau masih di sini," suara Selene Veyra terdengar tenang, hampir seperti bisikan. "Aku mengira kau akan langsung mencari tempat istirahat. Kazuki baru-biasanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian ini."

Ren berbalik. Komandan itu berdiri beberapa langkah darinya, zirah Abyssal-nya sudah dilepas dan digantikan seragam gelap tanpa lambang. Wajahnya yang tajam tampak lebih lelah dari sebelumnya, lingkaran samar di bawah matanya seperti peta jalan dari bertahun-tahun tidak tidur nyenyak.

"Aku tidak bisa tidur," jawab Ren jujur. "Setiap kali kupejamkan mata, aku mendengar sesuatu."

Selene mengangkat alis tipisnya. "Mendengar apa?"

Ren ragu sejenak. Eos berdenyut hangat di dadanya, seolah memberi izin-atau mungkin peringatan. "Seperti... tarikan. Dari bawah. Dari Celah Akhir." Ia menatap tangannya sendiri, yang tanpa sadar menggenggam. "Eos bereaksi terhadapnya. Tidak seperti ancaman, tapi seperti... panggilan."

Keheningan menyusup di antara mereka. Selene menatapnya lama, dan untuk sesaat, topeng komandan itu retak-memperlihatkan sesuatu yang lebih tua, lebih letih, lebih manusia.

"Kau tahu," katanya pelan, "ayahmu mengatakan hal yang persis sama. Malam sebelum ekspedisi terakhirnya."

Ren menegang. "Apa yang terjadi padanya? Kau bilang kau akan menjelaskan."

Selene menghela napas, lalu melangkah menuju jendela obsidian raksasa. Di luar, awan Permukaan-Mati bergulung dalam pusaran abu-abu kehijauan yang tak pernah berhenti. "Ayahmu, Daigo Kazuki, adalah pilot terbaik yang pernah dimiliki Vanguard Alliance. Bukan karena keterampilannya-banyak yang setara dengannya. Tapi karena dia bisa... mendengar Eos. Seperti kau sekarang."

"Aku tidak mengerti."

"Eos bukan sekadar zirah," kata Selene, suaranya turun menjadi bisikan yang hampir tenggelam dalam gemuruh generator. "Ia adalah fragmen dari sesuatu yang jauh lebih tua. Sesuatu yang terkubur di dasar Celah Akhir-sebelum Skyhold Primus dibangun, sebelum Permukaan-Mati menelan dunia lama. Daigo menemukannya dalam ekspedisi arkeologi kedua belas. Dan sejak saat itu, ia berubah."

Ren menelan ludah. "Berubah bagaimana?"

"ia mulai bermimpi tentang suara-suara. Ia mengatakan padaku-hanya padaku-bahwa sesuatu di bawah sana sedang menunggu. Bukan menunggu untuk dibangunkan, tapi menunggu untuk kembali." Selene berbalik, matanya tajam menembus kegelapan ruangan. "Kau membawa Eos. Eos membawamu. Dan sekarang, kau merasakan tarikan itu juga."

"Kau pikir aku harus turun ke sana."

"Aku pikir," kata Selene pelan, "kau tidak punya pilihan. Tidak lagi."

Di koridor yang menghubungkan aula komando dengan barak Vanguard, Ren menemukan Kairo Zhen bersandar pada dinding logam, tangannya menyilang di dada. Ekspresinya sulit dibaca-campuran antara permusuhan lama dan sesuatu yang menyerupai rasa ingin tahu yang enggan diakui.

"Mendengar percakapan kalian," kata Kairo tanpa basa-basi. "Dinding di sini tipis."

Ren tidak membalas. Ia mencoba melewatinya, tapi tangan Kairo terulur, menghalangi jalannya-bukan dengan kekerasan, hanya sebagai penanda kehadiran.

"Aku tidak akan pernah percaya pada seorang Kazuki," kata Kairo, suaranya rendah dan tajam. "Tapi aku juga tidak bodoh. Kalau apa yang Selene katakan benar, dan sesuatu di bawah sana benar-benar bangun..." Ia berhenti, rahangnya mengeras. "Aku ikut."

Ren menatapnya, mencari jejak kebohongan atau jebakan. Tidak ada. Hanya ada seorang prajurit yang, seperti dia, tidak punya tempat lain untuk berpaling.

"Kau membenciku," kata Ren akhirnya.

"Ya," jawab Kairo tanpa ragu. "Tapi aku membenci apa yang ada di bawah sana lebih besar. Dan kebetulan, aku punya skor yang harus dilunasi dengan langit itu."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sesuatu yang mirip senyum tipis-getir, pahit, tapi nyata-muncul di sudut bibir Kairo. "Jangan terbiasa dengan ini, Kazuki. Aku masih berharap kau mati di sana."

"Aku akan menganggapnya sebagai dukungan moral," balas Ren.

Kairo mendengus, lalu melangkah pergi. Namun sebelum ia menghilang di tikungan koridor, ia berhenti sejenak. "Pukul 0400. Hangar Bravo. Kalau kau terlambat, aku tidak akan menunggumu."

Ren menatap punggungnya yang menghilang, lalu menoleh ke jendela kecil di dinding koridor. Di luar, Celah Akhir membentang seperti luka raksasa di wajah dunia-kedalaman yang tidak pernah benar-benar dipetakan, tempat di mana cahaya matahari tidak pernah mencapai, dan di mana, menurut cerita-cerita yang dibisikkan di barak, sesuatu yang kuno masih bernapas.

Eos berdenyut hangat di dadanya.

Panggilan itu semakin kuat.

Ren mengangkat tangannya, menempelkan telapak pada kaca dingin jendela. "Ayah," bisiknya, suaranya tenggelam dalam gemuruh mesin. "Aku datang."

Di kejauhan, jauh di bawah lapisan awan racun dan reruntuhan peradaban lama, sesuatu yang telah tidur selama ribuan tahun membuka matanya untuk yang kedua kalinya-dan kali ini, ia tidak akan membiarkan dirinya dilupakan.

Bersambung ke Bab 5: "Hangar Bravo"

0400. Hangar Bravo.

Langit-langit setinggi tiga puluh meter itu bergema oleh deru mesin. Ren Kazuki berdiri di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam. Udara di dalam hangar berbeda dari koridor-koridor Skyhold yang sempit dan pengap. Di sini, udara bergerak-berputar oleh turbulensi yang diciptakan oleh sederet kapal pengangkut taktis yang sedang dipersiapkan untuk peluncuran. Bau bahan bakar gravitasional, campuran logam panas dan ozon, memenuhi setiap inci ruang, tajam di hidung namun anehnya membangkitkan semangat.

Ren melangkah masuk. Sepatunya yang usang-satu-satunya yang ia miliki, sepasang bot tempur bekas yang ia temukan di barter Sector 7 bertahun-tahun lalu-berdecit di lantai pelat logam yang licin oleh lapisan pelumas. Di sekelilingnya, puluhan teknisi bergerak cepat seperti semut yang kebingungan, membawa tabung-tabung energi, tablet diagnostik, dan peralatan yang Ren bahkan tidak tahu namanya. Di atas, derek-derek gravitasional mengangkat modul-modul zirah ke arah kapal-kapal pengangkut, memantulkan cahaya biru dingin dari lampu-lampu industri.

"Kau tepat waktu."

Suara itu datang dari arah kiri. Ren menoleh.

Komandan Selene Veyra berdiri di samping sebuah kapal pengangkut kelas Vanguard-lebih besar dari dua kapal lainnya, dengan lambung yang lebih tebal dan sirip stabilizer yang lebih lebar. Ia tidak lagi mengenakan zirah Abyssal-nya; sebagai gantinya, ia memakai seragam taktis hitam dengan garis-garis biru yang menandakan pangkatnya, dan jubah panjang yang tersampir di bahu kirinya. Rambutnya yang perak diikat rapi ke belakang, dan matanya-dua lensa biru yang tajam seperti kristal-menatap Ren dengan intensitas yang membuatnya ingin menunduk.

Tapi Ren tidak menunduk.

"Selalu tepat waktu, Komandan," katanya. Suaranya lebih mantap dari yang ia rasakan. Eos berdenyut hangat di bawah jaketnya, seolah memberi dukungan.

Selene mengangguk pelan. "Bagus. Karena aku tidak akan mengulang instruksi." Ia berbalik dan melangkah ke arah ramp kapal yang terbuka. "Ikuti aku."

Ren mengejar langkahnya. Di dalam kapal, lorong-lorongnya sempit namun efisien-setiap sentimeter dirancang untuk fungsi, bukan kenyamanan. Mereka melewati kompartemen mesin, tempat dua teknisi sedang berjongkok di samping reaktor gravitasional yang berdenyut seperti jantung logam. Mereka melewati ruang penyimpanan zirah, di mana Eos akan ditempatkan selama perjalanan-sebuah berth yang dilapisi bantalan energi untuk meredam getaran. Ren menoleh sekilas ke arah berth itu. Kosong. Belum waktunya.

Terakhir, Selene membawanya ke sebuah ruang briefing kecil di buritan kapal. Ruangan itu hanya berisi meja bundar yang permukaannya memancarkan cahaya holografik redup, empat kursi, dan layar besar di dinding yang saat ini menampilkan peta tiga dimensi dari Celah Akhir-sebuah formasi geologis raksasa yang membentang dari permukaan Skyhold hingga ke kedalaman yang belum pernah dipetakan.

"Lihat ini," kata Selene, menyentuh meja. Peta itu berputar, memperbesar bagian tengah Celah Akhir. "Kedalaman yang kami ketahui berhenti di sini." Ia menunjuk sebuah garis merah yang melintang di kedalaman dua ribu meter di bawah permukaan. "Di bawah titik ini, tidak ada data. Tidak ada sinyal. Tidak ada yang kembali."

Ren menatap peta itu. Celah Akhir-luka raksasa di wajah dunia, seperti yang selalu dikatakan orang. Dari atas, bentuknya seperti retakan tak berujung yang membelah benua, dengan dinding-dinding vertikal yang curam dan dasar yang tidak pernah terlihat. "Ayahku pergi ke bawah sana," katanya pelan.

Selene tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi dan duduk, lalu memberi isyarat agar Ren melakukan hal yang sama. "Ekspedisi pertama," katanya, suaranya lebih pelan sekarang, kehilangan ketajaman komando yang biasa. "Dua belas tahun lalu. Tujuh belas orang. Dipimpin oleh Kapten Ryou Kazuki-ayahmu. Misi mereka sederhana: memetakan kedalaman Celah Akhir dan mencari sumber energi yang terdeteksi oleh sensor jarak jauh. Energi yang, menurut analisis kami, mirip dengan yang dipancarkan oleh zirah Eos."

Ren menegakkan punggungnya. "Mirip?"

"Frekuensi yang sama," kata Selene. "Pola osilasi yang sama. Seolah-olah Eos-dan zirah kuno lainnya-berasal dari tempat yang sama di kedalaman itu."

Eos berdenyut. Denyut yang lebih kuat dari sebelumnya, seperti respons terhadap kata-kata Selene. Ren menekan dadanya, tapi tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

Selene memperhatikan. "Kau merasakannya, bukan? Panggilan itu."

Ren mengangguk, tidak bisa berbohong. "Semakin dekat ke Celah Akhir, semakin kuat. Seperti... seperti ada sesuatu yang menungguku."

"Kami mendeteksi aktivitas seismik yang tidak wajar di kedalaman Celah Akhir tiga minggu lalu," kata Selene. "Frekuensi rendah, tapi pola yang konsisten. Seperti detak jantung. Dan sejak saat itu, sensor kami menangkap gelombang energi yang sama dengan yang dipancarkan Eos. Gelombang yang semakin kuat setiap hari."

"Kau pikir itu ayahku?"

Selene menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya-sesuatu yang sulit dibaca. "Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Tapi aku tahu satu hal: jika ada yang selamat dari ekspedisi itu, atau jika ada sesuatu di bawah sana yang terhubung dengan Eos, kita harus menemukannya sebelum orang lain melakukannya."

"Orang lain?"

Selene menyentuh meja lagi. Peta Celah Akhir tergantikan oleh citra satelit yang buram-sebuah formasi armada yang bergerak di perbatasan teritori Skyhold. "Faksi Meridian," katanya. "Mereka juga mendeteksi sinyal itu. Dan mereka mengirim armada untuk menyelidiki Celah Akhir. Kalau mereka sampai ke sumber energi itu lebih dulu..."

"Perang," kata Ren.

"Lebih buruk dari perang," kata Selene. "Kepunahan."

Ruang briefing itu sunyi selama beberapa detik. Hanya dengung reaktor gravitasional yang terdengar samar dari balik dinding.

Lalu pintu terbuka.

"Maaf terlambat, Komandan."

Ren menoleh. Kairo Zhen berdiri di ambang pintu, mengenakan seragam taktis yang sama dengan Selene, dengan rambut gelapnya yang basah-baru selesai mandi, atau mungkin baru selesai berlatih. Di belakangnya, seorang gadis muda dengan rambut merah menyala dan mata hijau tajam melangkah masuk. Usianya mungkin sebaya dengan Ren, tapi ada sesuatu di cara ia berdiri-tegap, waspada, seperti prajurit yang sudah bertempur lebih lama dari yang seharusnya.

"Kairo, kau sudah kenal Ren," kata Selene. Lalu menoleh ke gadis itu. "Dan ini Letnan Mira Solvane. Pilot zirah kelas Phantom. Dia akan melengkapi tim kita."

Mira menatap Ren. Matanya menyapu dari atas ke bawah-menilai. Ren bisa merasakan tatapan itu seperti jarum di kulitnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk singkat.

Mira mengangguk balik. "Jadi ini anak Kazuki," katanya. Suaranya datar, tapi ada nada yang tidak bisa Ren identifikasi. "Kupikir kau lebih tinggi."

"Kupikir kau lebih ramah," balas Ren tanpa berpikir.

Kairo mendengus. Mira mengangkat alis-tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Bukan senyum, tapi sesuatu yang mendekati.

"Cukup," kata Selene, tapi nadanya tidak keras. Ia berdiri. "Kita berangkat dalam tiga puluh menit. Kau punya waktu untuk mempersiapkan diri." Ia menatap Ren. "Eos akan dipasang di berth. Kau bisa mengaksesnya setelah kita lepas landas."

Ren mengangguk dan berbalik. Tapi sebelum ia melangkah keluar, Selene memanggilnya.

"Ren."

Ia berhenti.

"Di bawah sana," kata Selene, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Kau mungkin akan menemukan hal-hal yang kau tidak siap untuk hadapi. Tentang ayahmu. Tentang Eos. Tentang dirimu sendiri." Ia berhenti. "Kalau kau ingin mundur, ini kesempatan terakhirmu."

Ren menatapnya. Eos berdenyut di dadanya-hangat, yakin, seperti tangan yang menggenggam tangannya.

"Aku sudah menunggu dua belas tahun," katanya. "Aku tidak akan mundur sekarang."

Ia melangkah keluar dari ruang briefing, menyusuri lorong sempit menuju kompartemen zirah. Di belakangnya, ia bisa mendengar Mira berkata pelan kepada Kairo, "Dia keras kepala."

"Keluarga Kazuki memang begitu," jawab Kairo. "Itu yang membuat mereka berbahaya."

Ren tidak menoleh. Ia terus berjalan, melewati berth-berth kosong, hingga ia mencapai ujung lorong-sebuah jendela kecil berbentuk oval yang menghadap ke luar. Di luar, Celah Akhir membentang di kejauhan, lubang hitam raksasa yang menelan cahaya. Di sekelilingnya, awan racun berputar seperti naga yang mengelilingi mangsa.

Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca dingin. Eos berdenyut-lebih kuat sekarang, lebih cepat. Seperti detak jantung yang berusaha menyamai detaknya sendiri.

"Ayah," bisiknya. "Aku datang."

Di kejauhan, di kedalaman Celah Akhir, sesuatu yang kuno dan lapar merasakan kehadirannya. Dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, ia tersenyum.

Bersambung ke Bab 6: "Ke Dalam Mulut Kegelapan"

Kegelapan itu bernapas.

Bukan metafora. Bukan ilusi optik yang diciptakan oleh kelelahan atau tekanan udara tipis di ketinggian. Ren merasakannya melalui Eos-sebuah getaran yang merayap dari ujung jari kakinya, naik melalui tulang belakang, hingga ke dasar tengkoraknya. Seperti berdiri di atas dada makhluk hidup yang sedang tidur. Seperti mendengar detak jantung sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.

Ia menarik tangannya dari kaca. Jejak kabut hangat dari telapak tangannya memudar perlahan, meninggalkan bekas yang samar.

"Kau merasakannya juga," kata Selene Veyra dari ambang lorong.

Ren tidak menoleh. "Sudah sejak kita meninggalkan atmosfer Skyhold. Tapi sekarang..." Ia berhenti. Menelan. "Sekarang ia sedang menunggu."

Selene melangkah masuk. Langkahnya teredam oleh panel logam yang telah kehilangan kilapnya-korosi halus yang menjalar seperti urat di kulit orang tua. Di baliknya, Mira dan Kairo berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk lebih jauh. Seperti ada garis tak terlihat di lantai yang memisahkan mereka dari sesuatu yang tidak seharusnya disentuh.

"Kau tahu apa yang ada di dalam Celah Akhir?" tanya Selene.

"Ayahku tahu."

"Ayahmu mencari sesuatu yang bahkan Dewan tidak berani menyebut namanya."

Ren akhirnya menoleh. Mata Selene-kelabu, tajam, lelah-menatapnya tanpa berkedip. Di wajahnya, Ren melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada perempuan itu sebelumnya. Ketakutan. Bukan ketakutan seorang komandan yang menghadapi musuh. Ketakutan seseorang yang pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat, dan tidak pernah benar-benar pulih darinya.

"Apa yang kau lihat di dalam sana?" tanya Ren pelan. "Dua belas tahun lalu. Ekspedisi pertama. Kau ada di sana."

Selene tidak menjawab. Ia hanya menatap Celah Akhir di luar jendela-lubang hitam yang menelan cahaya, berputar perlahan seperti pusaran air di dasar laut yang tak berdasar.

"Kau tidak akan menemukan apa yang kau cari," katanya akhirnya. "Kau akan menemukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang telah menunggu jauh lebih lama dari usia manusia. Sesuatu yang-" Ia berhenti. Menutup matanya. "Ayahmu adalah orang yang baik, Ren. Tapi kebaikan tidak berarti apa-apa di tempat itu."

"Aku tidak peduli."

"Aku tahu." Selene membuka matanya. Ada sesuatu di sana-bukan kelembutan, bukan pula kekerasan. Sesuatu di antaranya. "Itu yang membuatmu sama seperti dia. Dan itu yang membuatku takut."

Kapal pengangkut taktis itu menukik ke dalam Celah Akhir pada pukul 03:47 waktu standar Skyhold.

Gravitasi mulai berperilaku aneh pada ketinggian tiga ribu meter di bawah permukaan awan racun. Ren merasakan lambung kapal bergetar-bukan getaran mesin, bukan turbulensi. Getaran organik. Seperti kapal itu sendiri sedang mencoba memuntahkan mereka keluar.

Di kokpit, alarm mulai berbunyi. Bukan alarm peringatan standar. Nada rendah yang berdenyut, seperti detak jantung yang diperlambat. Eos merespons. Pendar hangat di dada Ren berubah menjadi panas yang merambat melalui tulang rusuknya.

"Tekanan gravitasi meningkat," lapor Kairo dari kursi navigasi. Suaranya tegang. "Tiga g. Empat. Ini tidak masuk akal-kita belum turun cukup dalam untuk-"

"Matikan sensor gravitasi," perintah Selene. "Kau akan merusak sistem navigasi."

Kairo menoleh. "Komandan, dengan segala hormat, ini bukan gravitasi normal. Ini seperti-"

"Seperti ruang di sekitar kita sedang mencoba mengingat sesuatu yang pernah ada di sini." Selene menyelesaikan kalimatnya. "Aku tahu. Matikan sensornya."

Kairo menatapnya selama satu detik penuh, lalu menurut. Angka-angka di layar berkedip dan mati. Getaran organik itu tidak berhenti.

Ren berdiri di belakang mereka, satu tangan menempel pada panel dinding yang dingin. Di luar jendela pandang kapal, kegelapan sudah berubah. Bukan lagi hitam pekat. Ada sesuatu di dalamnya-urat-urat samar berwarna ungu tua yang berdenyut perlahan, seperti pembuluh darah raksasa yang membentang sepanjang kilometer.

"Apa itu?" bisik Mira. Ia sudah mendekat tanpa disadari, matanya terpaku pada pemandangan di luar.

"Jaringan saraf," jawab Ren tanpa berpikir. Kata-kata itu keluar dari mulutnya sebelum ia sempat memproses asalnya. Eos memberinya jawaban-bukan dalam kata, tapi dalam perasaan. Dalam memori yang bukan miliknya. "Celah Akhir bukan lubang. Ia adalah-"

"Luka," potong Selene. "Ia adalah luka."

Ren menoleh. "Luka siapa?"

Selene menatapnya. Di cahaya redup kokpit, bayangan matanya tampak seperti dua sumur tanpa dasar. "Kau akan tahu. Kau akan tahu sebelum kita keluar dari sini."

Sesuatu menghantam lambung kapal.

Bukan tabrakan. Bukan serangan. Hantaman yang datang dari dalam-seperti tangan tak terlihat yang menekan dinding kapal dari luar, mencoba merasakan bentuk mereka. Logam mengerang. Lampu di seluruh kapal berkedip.

Ren terhuyung. Tangannya mencari pegangan, menemukan rangka kursi, menggenggamnya erat. Eos berdenyut keras-sakit, hampir. Seperti zirah itu sedang berteriak.

Kazuki.

Nama itu muncul di dalam kepalanya. Bukan suara. Bukan bisikan. Getaran. Sebuah frekuensi yang meresonansi dengan sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang telah tertidur sejak lahir, sesuatu yang diberi nama Kazuki.

Kazuki. Kau kembali.

"Ayah?" Ren tersentak. Matanya membelalak. "Ayah, di mana-"

"Ren?" Mira mengguncang bahunya. "Ren, tidak ada siapa-siapa di sini. Kau bicara dengan siapa?"

Ia tidak menjawab. Telinganya masih terisi oleh gema suara itu-bukan suara, getaran, resonansi, seperti garpu tala yang dipukul di ruang kosong. Eos semakin panas. Terlalu panas.

"Komandan," kata Ren, suaranya serak. "Kau bilang kau mengenali frekuensi Eos di Skyhold. Kau bilang itu adalah garis keturunan Kazuki. Apa artinya?"

Selene tidak langsung menjawab. Ia sedang menatap panel kontrol yang mati-layar-layar yang menampilkan kegelapan, tapi di dalam kegelapan itu, sesuatu bergerak. Sesuatu yang menyerupai pola. Sesuatu yang menyerupai tulisan.

"Artinya," katanya pelan, "bahwa kau bukan orang pertama yang membawa Eos ke tempat ini. Dan kau bukan orang pertama yang mendengar panggilan itu."

Kairo berdiri dari kursinya. "Komandan, kita harus berbalik. Ini bukan-"

"Terlalu terlambat." Selene menunjuk ke luar jendela.

Di luar, kegelapan telah membuka. Bukan terbelah-terbuka. Seperti kelopak mata yang baru saja bangun dari tidur panjang. Di dalamnya, Ren bisa melihat cahaya-tapi bukan cahaya seperti yang ia kenal. Cahaya yang keluar dari sesuatu yang tidak seharusnya memancarkan cahaya. Cahaya yang sakit. Cahaya yang memanggil.

Kapal pengangkut itu melayang ke dalam tanpa kendali. Mesinnya masih hidup, tapi tidak lagi merespons. Mereka bukan sedang terbang. Mereka sedang ditelan.

Ren menatap ke dalam cahaya itu. Eos berdenyut-bukan lagi seperti detak jantung. Seperti tangisan. Seperti tawa. Seperti napas terakhir seseorang yang telah menunggu terlalu lama untuk mengucapkan selamat tinggal.

"Ayah," bisiknya lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak dua belas tahun, ada yang menjawab.

Ren.

Suara itu-bukan getaran kali ini, tapi suara. Suara yang ia kenal. Suara yang telah memudar dari ingatannya selama bertahun-tahun, tapi yang tidak pernah benar-benar hilang. Suara yang membacakan cerita pengantar tidur tentang bintang-bintang yang tidak pernah ia lihat. Suara yang tertawa ketika Ren kecil jatuh dari sepeda dan menangis. Suara yang menghilang suatu pagi, tanpa penjelasan, tanpa perpisahan.

Ren, kau sudah besar.

Eos menyala. Seluruh kokpit terendam cahaya keemasan-terlalu terang, terlalu panas, terlalu banyak. Mira berteriak. Kairo mengutuk. Selene hanya berdiri diam, matanya terpaku pada Ren, dan di wajahnya ada sesuatu yang tidak bisa Ren pahami.

Ren mengangkat tangannya. Cahaya itu keluar dari dadanya-dari Eos-dan membentuk sesuatu di udara. Bukan proyeksi. Bukan hologram. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang hadir.

Seorang pria.

Tinggi. Kurus. Rambut hitam yang sama dengan rambut Ren, tapi lebih panjang, lebih kusut, seperti tidak pernah disisir selama bertahun-tahun. Wajah yang sama-hidung yang sama, tulang pipi yang sama, mata yang sama-tapi lelah. Terlalu lelah. Mata yang pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia.

"Ayah," kata Ren. Suaranya pecah.

Pria itu-Kenji Kazuki-menatap putranya. Ada air mata di matanya. Ada sesuatu yang lain juga. Sesuatu yang lebih tua dari kesedihan. Sesuatu yang lebih dalam dari penyesalan.

Ren, katanya lagi. Suaranya bergema di dalam kepala Ren, bukan di udara. Kau tidak seharusnya datang ke sini.

"Aku mencarimu. Dua belas tahun. Dua belas tahun, Ayah, aku-"

Aku tahu. Kenji mengangkat tangannya-tangan yang tembus pandang, tangan yang tidak sepenuhnya ada. Aku selalu tahu. Aku melihatmu setiap hari. Melalui Eos. Melalui ikatan itu. Kau tidak pernah sendirian, Ren. Tidak pernah.

Ren melangkah maju. "Kau masih hidup? Kau-"

Tidak. Kata itu sederhana. Hanya satu kata. Tapi kata itu menghantam Ren seperti palu. Tidak lagi, Nak. Tapi aku tidak bisa pergi. Bukan sampai aku menyelesaikan apa yang aku mulai.

"Ekspedisi pertama," kata Selene dari belakang. Suaranya tegang. "Kau menemukan sesuatu di sini, Kenji. Sesuatu yang membuatmu mengorbankan seluruh timmu. Enam belas orang. Enam belas orang mati, dan kau-"

Kenji menoleh. Menatap Selene. Di matanya, ada pengakuan. Aku tahu. Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku tahu harga yang harus dibayar. Dan aku tahu bahwa kau membenciku karena itu. Kau berhak.

"Apa yang kau temukan?" tanya Ren. "Apa yang begitu penting sehingga kau meninggalkan aku? Meninggalkan Ibu? Meninggalkan-"

Kebenaran.

Kenji melayang lebih dekat. Cahaya di sekelilingnya berdenyut lemah-seperti lilin yang hampir habis. Ren, dengar. Aku tidak punya banyak waktu. Celah Akhir bukan lubang. Bukan gerbang. Ia adalah penjara. Penjara untuk sesuatu yang telah ada sejak sebelum manusia pertama membuka mata mereka ke langit. Sesuatu yang-

Getaran itu kembali. Lebih kuat. Lebih keras. Seluruh kapal bergetar. Lampu-lampu padam sepenuhnya, dan cahaya satu-satunya adalah pendar Eos-dan pendar Kenji yang semakin lemah.

Ia bangun, kata Kenji. Karena kau datang. Karena Eos kembali. Aku mencoba menghentikannya. Dua belas tahun, aku menahan pintunya. Tapi aku tidak cukup kuat. Dan sekarang-

"Ayah, aku tidak mengerti. Apa yang kau tahan? Apa yang-"

Kau akan tahu. Kau akan melihatnya. Dan kau harus lari, Ren. Kau harus lari secepat mungkin. Jangan pedulikan aku. Jangan pedulikan kebenaran. Jangan pedulikan apa pun. Lari.

Cahaya Kenji mulai memudar. Ren mengulurkan tangan-tapi tangannya melewati sosok ayahnya seperti melewati kabut.

Ayah, jangan-jangan pergi lagi-

Dengar. Suara Kenji semakin lemah, semakin jauh. Ibumu. Kau harus mencari ibumu. Ia tidak-

"Ayah!"

Ia tidak mati, Ren. Ia tidak mati. Ia-

Dan Kenji Kazuki menghilang.

Cahaya Eos meredup. Kegelapan kembali. Tapi kali ini, kegelapan itu berbeda. Kegelapan itu hidup. Kegelapan itu sadar. Dan kegelapan itu sedang menatap mereka.

Seluruh kapal miring. Mira teriak. Kairo memegang kemudi, mencoba menstabilkan kapal yang tidak lagi mau distabilkan. Di luar, sesuatu bergerak-sesuatu yang terlalu besar untuk dilihat seluruhnya, sesuatu yang hanya bisa ditangkap dalam fragmen-fragmen yang tidak masuk akal.

Ren berdiri di tengah kokpit. Eos berdenyut lemah di dadanya. Tangannya masih terulur ke tempat di mana ayahnya baru saja ada.

"Komandan," katanya pelan. "Apa yang ayahku maksud? Ibuku tidak-"

Selene menatapnya. Di wajahnya, ada sesuatu yang akhirnya terurai-sesuatu yang telah ia tahan selama bertahun-tahun.

"Ibumu," katanya. "Aiko Kazuki. Ia adalah alasan mengapa ekspedisi pertama dikirim ke sini. Ia adalah alasan mengapa Kenji tidak pernah kembali. Dan ia adalah alasan mengapa Celah Akhir-" Ia berhenti. Menelan. "Ia adalah alasan mengapa Celah Akhir ada."

Ren menatapnya. Dunia di sekelilingnya-kapal yang jatuh, kegelapan yang hidup, makhluk yang bangun-semuanya menghilang dari pandangannya.

"Apa maksudmu?"

Selene membuka mulutnya untuk menjawab. Tapi sebelum kata-kata keluar, sesuatu menghantam kapal-kali ini dari luar. Hantaman nyata. Logam mengerang. Dinding kiri kapal retak.

Dan dari dalam kegelapan, sesuatu mengulurkan tangan. Terlalu besar. Terlalu banyak sendi. Terlalu banyak jari. Tangan itu meraih ke dalam kokpit, dan Ren merasakan udara dingin yang tidak berasal dari ketinggian menusuk paru-parunya.

"Bergerak!" teriak Kairo.

Tapi Ren tidak bergerak. Ia menatap tangan itu-dan di dalam kegelapan di baliknya, ia melihat sesuatu. Sesuatu yang dikenalnya. Sesuatu yang telah ia cari selama dua belas tahun.

Sepasang mata.

Mata yang sama dengan matanya sendiri.

"Ren!" Mira menarik lengan bajunya. "Ren, kita harus pergi!"

Tapi Ren masih menatap. Mata itu-matanya-menatapnya kembali dari dalam kegelapan. Dan di dalam tatapan itu, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Pengenalan.

"Bersambung ke Bab 7: "Yang Menatap dari Kegelapan"

Mata itu tidak berkedip.

Ren merasakan sesuatu yang lebih dalam dari rasa takut-sebuah pengenalan yang mengakar, seperti ingatan yang terkubur di sumsum tulangnya, terbangun oleh tatapan yang tidak seharusnya ada di sini. Di kedalaman Celah Akhir, di antara reruntuhan yang bahkan peta Skyhold tidak berani menandai, sepasang mata yang identik dengan miliknya menatap dari balik kegelapan yang lebih tua dari peradaban.

"Ren!" Suara Kairo memecah kekakuan itu. Logam menghantam logam di luar-Tempest menyalakan bilah plasma dan menebas salah satu jari raksasa yang meraih ke arah kokpit. Percikan energi biru menyala, menerangi siluet makhluk itu untuk sepersekian detik: sesuatu yang tinggi menjulang, tubuhnya terdiri dari pelat-pelat yang menyerupai zirah-tapi bukan zirah. Hidup. Bernapas. Berdenyut dengan cahaya yang sama dengan yang memancar dari dada Eos.

"Kairo, jangan-!" Mira berteriak, tapi terlambat. Tempest menembakkan gelombang gravitasi ke arah makhluk itu, dan hantaman baliknya melempar kapal pengangkut ke samping. Ren terlempar dari kursinya, kepalanya membentur panel kontrol. Darah hangat menetes di pelipisnya.

"Aku bilang bergerak!" Kairo muncul di ambang pintu kokpit, wajahnya berlumuran oli dan keringat. "Kita tidak bisa melawan itu. Itu-"

"Itu ayahku."

Kata-kata itu keluar dari mulut Ren sebelum ia sempat memikirkannya. Tapi begitu terucap, ia tahu itu benar. Bukan karena logika. Bukan karena bukti. Tapi karena cara mata itu menatapnya-bukan seperti predator menatap mangsa, tapi seperti seseorang yang telah menunggu terlalu lama untuk pulang.

Kairo membeku. "Apa?"

"Kau dengar aku." Ren berdiri, menyeka darah dari pelipisnya. Eos memancarkan pendar hangat yang merambat di sepanjang tulang punggungnya, merespons sesuatu di luar-sesuatu yang memanggilnya. "Dua belas tahun. Dua belas tahun aku mencari. Dan dia ada di sini. Di dalam itu."

"Itu bukan manusia lagi, Ren." Suara Kairo tajam, tapi ada retakan di ujungnya-keraguan. "Aku melihat apa yang dilakukan ekspedisi pertama. Aku melihat apa yang terjadi pada mereka yang masuk terlalu dalam. Kau tidak bisa-"

"Kau tidak tahu apa yang kau lihat."

"Dan kau tahu?" Kairo melangkah maju, menyerahkan kendali Tempest pada sistem otomatis. "Kau bahkan tidak ingat wajahnya. Kau hanya punya foto yang sudah pudar. Dan sekarang kau mau percaya bahwa itu-" ia menunjuk ke arah luar, di mana makhluk raksasa itu masih berdiri, tangan-tangannya yang terlalu banyak bergerak perlahan seperti gelombang laut yang tidak tenang, "-adalah ayahmu?"

Ren tidak menjawab. Ia berjalan melewati Kairo, melewati Mira yang menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran, menuju pintu keluar darurat di buritan kapal. Setiap langkah terasa berat, seperti berjalan di bawah air. Eos berdenyut, dan di dalam benaknya, ia mendengar sesuatu-bukan suara, tapi getaran. Sebuah frekuensi yang dikenalnya dari mimpi-mimpi yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Ren.

Namanya. Bukan diucapkan. Tapi dirasakan. Seperti resonansi yang bergema di rongga dada.

"Ren, tunggu!" Mira menyusulnya, menangkap lengan bajunya. "Kita tidak tahu apa yang ada di luar sana. Kita tidak tahu apakah itu benar-benar-"

"Aku tahu." Ren menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak Eos bangkit, ada sesuatu yang lain di matanya-bukan ketakutan, bukan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang telah menunggu. "Mira, sepanjang hidupku, aku merasa ada yang hilang. Seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di suatu tempat, dan aku tidak pernah bisa menemukannya. Setiap kali aku menatap langit, aku merasa seseorang menatap balik. Setiap kali aku mendengar gema di reruntuhan, aku merasa seseorang memanggil namaku."

Ia menelan ludah. "Dan sekarang aku tahu. Itu bukan imajinasi. Itu bukan trauma. Itu dia."

Mira membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada kata yang keluar. Karena di mata Ren, ada sesuatu yang tidak bisa dibantah-sebuah kepastian yang lahir bukan dari keyakinan buta, tapi dari pengenalan yang terlalu dalam untuk dijelaskan.

Pintu darurat mendesis terbuka. Udara Celah Akhir menyerbu masuk-dingin, kering, berbau logam dan sesuatu yang lebih tua dari logam. Sesuatu seperti batu yang telah bernapas selama ribuan tahun.

Ren melangkah keluar.

Makhluk itu berdiri di ambang kegelapan, setinggi tiga kali tinggi manusia, tubuhnya terdiri dari pelat-pelat yang menyerupai zirah kuno-Eos, tapi bukan Eos. Versi yang lebih tua. Versi yang telah tumbuh liar, telah menjadi sesuatu yang lain. Di dadanya, ada inti yang berdenyut dengan cahaya yang sama dengan yang memancar dari Eos Ren.

Dan mata itu-matanya-terus menatapnya.

"Kau..." Suara Ren pecah. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dua belas tahun. Dua belas tahun pertanyaan tanpa jawaban, dua belas tahun mimpi yang tidak pernah lengkap, dua belas tahun perasaan bahwa ia hanya setengah dari dirinya sendiri-dan sekarang, di depan matanya, berdiri jawaban itu. "Kau ayahku?"

Makhluk itu tidak bergerak. Tapi di dalam kegelapan di balik pelat-pelatnya, sesuatu bergeser. Cahaya di dadanya berdenyut lebih cepat-bukan ancaman, tapi... pengenalan. Sebuah respons.

Dan kemudian, dari dalam tubuh kolosal itu, keluar suara. Bukan suara yang diucapkan. Bukan kata-kata. Tapi getaran yang membentuk kata-kata di dalam benak Ren, seperti resonansi yang menggetarkan tulang-tulangnya dari dalam.

Ren.

Kali ini, bukan hanya namanya. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam. Sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan-kehangatan yang aneh, seperti pelukan yang hilang, seperti rumah yang telah lama ditinggalkan.

Kau tumbuh.

Ren merasakan air mata mengalir di pipinya. Bukan karena sedih. Bukan karena bahagia. Tapi karena sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang telah menunggu selama dua belas tahun-akhirnya bisa bernapas.

"Kenapa?" Suaranya pecah. "Kenapa kau tinggalkan aku? Kenapa kau tidak kembali? Kenapa-"

Tidak ada waktu.

Getaran itu berubah. Menjadi lebih tajam. Lebih mendesak. Dan di dalam benak Ren, ia melihat sesuatu-bukan gambar, tapi sensasi. Sebuah peringatan. Sesuatu yang bergerak di kedalaman Celah Akhir. Sesuatu yang lebih tua dari makhluk ayahnya. Sesuatu yang sedang bangun.

Mereka datang.

"Apa maksudmu? Siapa yang datang?"

Tapi sebelum jawaban datang, langit di atas Celah Akhir terbelah.

Sebuah cahaya putih menyala di kegelapan-terlalu terang, terlalu bersih. Ren mengangkat tangannya untuk melindungi matanya, dan di sampingnya, ia mendengar Kairo mengumpat. "Itu bukan kami."

Kapal-bukan satu, tapi tiga. Siluet mereka tajam dan dingin di bawah cahaya bulan yang retak. Lambang di lambung mereka: lingkaran dengan garis-garis yang saling memotong. Simbol yang tidak dikenali Ren, tapi dikenali oleh sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang berasal dari Eos.

"Ayah, siapa mereka?"

Makhluk itu tidak menjawab. Tapi tubuhnya bergeser-pelat-pelat zirahnya bergerak seperti gelombang, membentuk sesuatu yang menyerupai tameng raksasa. Melindungi Ren. Melindungi mereka.

Dan di dalam benak Ren, suara itu kembali-kali ini lebih lemah. Lebih jauh. Seperti seseorang yang berbicara dari balik dinding tebal.

Lari.

"Tidak. Aku tidak akan-"

LARI.

Dan kemudian makhluk itu bergerak.

Bukan menyerang. Bukan melarikan diri. Tapi melompat-ke atas, ke arah kapal-kapal yang baru datang. Tubuhnya yang kolosal terangkat dari tanah dengan kekuatan yang tidak mungkin, pelat-pelatnya menyala dengan cahaya yang sama dengan Eos, dan untuk sesaat, Celah Akhir diterangi oleh ledakan energi yang membuat batu-batu di sekitarnya hancur menjadi debu.

"Ren, kita harus pergi!" Kairo menariknya mundur, kembali ke kapal. "Sekarang!"

Ren tidak melawan. Ia membiarkan dirinya ditarik, matanya masih tertuju pada sosok ayahnya yang melayang di antara kapal-kapal musuh-sebuah siluet yang menari di antara ledakan dan cahaya, seperti dewa yang telah bangun dari tidur panjang.

"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kau tidak kembali?"

Dan di dalam benaknya, di antara kekacauan dan ledakan, suara itu menjawab-terakhir kali, sebelum terputus oleh jarak dan cahaya.

Karena aku tidak bisa. Dan kau harus hidup.

Pintu darurat menutup. Kapal pengangkut mengangkat dirinya dari tanah, mesin gravitasinya meraung. Di luar jendela, Ren melihat ayahnya-makhluk yang pernah menjadi manusia, yang pernah menjadi ayahnya-menghancurkan salah satu kapal musuh dengan satu hantaman. Ledakan itu menerangi Celah Akhir seperti matahari terbit.

Dan kemudian, mereka naik. Meninggalkan kegelapan. Meninggalkan jawaban yang belum lengkap. Meninggalkan sesuatu yang baru saja ia temukan, dan mungkin tidak akan pernah ia temukan lagi.

"Ren." Mira duduk di sampingnya, tangannya meraih tangannya. "Kau baik-baik saja?"

Ren menatap tangannya. Darah masih mengalir dari pelipisnya. Eos masih berdenyut di dadanya-tapi sekarang, denyutnya terasa berbeda. Seperti jantung yang berdetak untuk dua orang.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Aku baru saja menemukan ayahku. Dan aku baru saja kehilangannya lagi."

Mira tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangannya lebih erat.

Di kursi pilot, Kairo menatap ke depan, wajahnya keras. Tapi ada sesuatu di matanya-sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Mungkin penyesalan. Mungkin pengertian. Mungkin ketakutan.

"Aku minta maaf," kata Kairo akhirnya, suaranya pelan. "Tentang ayahmu. Aku... aku tidak tahu."

Ren tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, ke arah Celah Akhir yang perlahan menghilang di balik awan racun. Di dalam benaknya, ia masih merasakan getaran suara ayahnya. Masih merasakan tatapan itu. Masih merasakan kehangatan yang aneh-seperti pelukan yang hilang.

Dan di dalam dada, Eos berdenyut.

Ren.

Suara itu. Bukan lagi dari luar. Dari dalam. Dari Eos. Dari dirinya sendiri.

Kau tidak sendiri.

Ren menutup matanya. Dua belas tahun. Dua belas tahun mencari. Dua belas tahun pertanyaan tanpa jawaban. Dan sekarang, ia tahu. Ayahnya masih hidup-entah dalam bentuk apa, entah berapa lama lagi-tapi ia masih di sana. Menunggu. Melindungi.

Dan mungkin, suatu hari, ia akan kembali.

Kapal pengangkut menembus lapisan awan racun, dan langit Skyhold Primus terbuka di depan mereka-retak, pucat, tapi masih ada. Masih bernapas. Masih hidup.

Ren membuka matanya.

"Kita harus kembali," katanya. "Ayahku melindungi kita dari sesuatu. Sesuatu yang lebih tua dari Celah Akhir. Dan aku perlu tahu apa itu."

Kairo menoleh. "Kau yakin?"

"Tidak." Ren menatap langit yang retak. "Tapi aku tidak punya pilihan lain."

Dan di dalam dadanya, Eos berdenyut-hangat, hidup, dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Ren merasa bahwa ia bukan lagi setengah dari dirinya sendiri.

Ia merasa utuh.

Bersambung ke Bab 8: "Langit yang Retak"

~ Bab 4 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai