Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Luminous Vanguard: Perang Cahaya Terakhir

Bab 3

Di Balik Takhta Awan

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Mesin jet gravitasional kapal pengangkut taktis melengking tinggi, membelah kabut racun yang menyelimuti Reruntuhan Sector 7. Di dalam kompartemen penumpang yang remang, udara terasa begitu pekat oleh presipitasi ozon dan ketegangan yang tak terucapkan. Ren Kazuki menyandarkan punggungnya pada dinding logam dingin, merasakan nanoteknologi Eos perlahan menyurut kembali ke dalam Artefak Cahaya di dadanya-meninggalkan bekas denyut hangat yang kini berdetak seirama dengan jantungnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, bayangan kumuh tempat ia tumbuh besar tampak begitu kerdil di bawah sana, perlahan tenggelam dalam lautan awan hitam.

'Jangan terlalu membanggakan dirimu, Pemulung,' suara Kairo Zhen memecah keheningan dengan nada dingin yang tajam. Zirah Tempest mewahnya masih memancarkan pendar keemasan redup saat pemuda bangsawan itu bersedekap, menatap Ren dengan keangkuhan yang tak ditutup-tutupi. 'Mendapatkan zirah tipe Cosmos karena keberuntungan tidak membuatmu sejajar dengan kami. Ayahmu membawa satu armada menuju kehancuran, dan aku tidak akan membiarkan anak seorang pengkhianat mengacaukan barisan Vanguard Alliance.'

Ren tidak menjawab. Jemarinya mengepal rapat di atas pangkuan, menahan kebas emosi yang membakar dadanya. Bayangan ayahnya yang hilang dua belas tahun lalu kembali membayang, bertabrakan dengan tuduhan sengit Kairo. Namun, sebelum percekcokan itu memanas, zirah Abyssal biru es di tubuh Selene Veyra terurai secara otomatis, memperlihatkan wajah sang Komandan yang tegas dengan mata sebiru lautan beku.

'Tahan lidahmu, Kairo,' potong Selene tanpa menoleh, matanya terpaku pada proyeksi holografis rute penerbangan menuju pusat komando Skyhold Primus. 'Masa lalu bukanlah bahan perdebatan di dalam kompartemen persenjataan saya. Ren adalah aset yang telah divalidasi langsung oleh sistem Eos-apa pun dogma yang melekat pada nama keluarganya.'

Meskipun kata-katanya terdengar membela, Ren menangkap sesuatu yang asing pada nada suara sang mentor. Melalui benang-benang persepsi halus yang tersisa di dalam kesadarannya, Ren melihat seutas riak gelombang tak kasat mata yang terpancar dari inti zirah Selene menuju kegelapan di luar jendela kapal-sebuah frekuensi getaran asing yang terasa kelam dan begitu mirip dengan aura Hollow Spawn.

Saat kapal pengangkut menerobos lapisan awan teratas dan disambut oleh kemegahan menara-menara kristal Skyhold Primus, alarm intuisi di dalam dada Ren mendadak bergetar hebat. Inti Cahaya Eos mendesis panas, memberi peringatan samar bahwa bahaya terbesar justru tidak sedang menunggu di bawah sana, melainkan sedang bersembunyi di balik kemilau benteng terakhir kemanusiaan ini.

Getaran landasan udara menghentak lambung kapal saat mekanisme pengunci elektromagnetik mencengkeram dek pendaratan Markas Besar Vanguard Alliance. Udara murni yang tersaring ketat segera menyembur masuk ketika pintu palka meluncur terbuka, membawa aroma ozon yang dingin dan wangi sintetis yang asing bagi paru-paru Ren-sangat bertolak belakang dengan bau jelaga dan besi berkarat yang selama ini menjejali napasnya di Sector 7.

Di hadapannya, Skyhold Primus membentang bukan sekadar sebagai kota, melainkan monumen keangkuhan manusia. Menara-menara kristal menjulang membelah awan, memancarkan pendar putih keemasan dari teknologi Sains Kristal yang menyerap sisa-sisa cahaya matahari. Ratusan teknisi berseragam perak dan personel medis mengerumuni area pendaratan, mata mereka tertuju pada sosok Ren dengan campuran rasa ingin tahu, kecurigaan, dan ketakutan yang tersirat.

"Jangan mengira pendaratan ini membuatmu menjadi pahlawan, Kazuki," bisik Kairo tajam saat melangkah melewatinya. Baju zirah Tempest miliknya telah terurai kembali menjadi kubus-kubus nano yang merapat di punggungnya, meninggalkan pemuda bangsawan itu dalam balutan seragam militer bersulam benang emas. "Di tempat ini, setiap jiwa ditimbang berdasarkan kegunaannya. Dan nama keluargamu adalah beban terberat yang harus kau tanggung di atas panggung ini."

Ren tidak membalas provokasi itu. Matanya tetap tertuju pada punggung Komandan Selene Veyra yang melangkah anggun namun penuh ketegasan di depan mereka. Melalui celah-celah persepsi Eos yang perlahan menenang, Ren masih bisa merasakan sisa getaran aneh yang tadi melintas dari zirah Abyssal milik sang komandan. Mengapa seorang pelindung kemanusiaan tingkat tertinggi menyimpan riak frekuensi yang begitu mirip dengan aura kegelapan Void? Pertanyaan itu membakar benaknya, terasa jauh lebih menakutkan daripada ancaman Hollow Spawn di daratan mati.

"Ikut aku, Ren," suara Selene memecah lamunannya tanpa berpaling. "Laksamana Orin Vex dan tim teknis utama sudah menunggumu di Ruang Resonansi Pusat. Mereka ingin melihat sendiri apakah zirah tipe Cosmos putih ini benar-benar jawaban atas doa-doa kita... atau awal dari bencana yang pernah diciptakan oleh ayahmu."

Langkah kaki Ren terasa berat di atas lantai marmer yang mengilap, memantulkan bayangan tubuhnya yang lusuh di antara kemewahan para perwira tinggi. Di dalam relung dadanya, Inti Cahaya Eos berdenyut perlahan-seolah memberi peringatan bisu bahwa langkah pertama di tempat megah ini adalah awal dari jebakan yang jauh lebih mematikan.

Pintu pneumatik berukuran raksasa terbelah dua tanpa suara, menyingkapkan Ruang Resonansi Pusat-sebuah katedral teknologi yang didominasi oleh cincin-cincin kristal raksasa yang melayang dan berputar pelan di udara. Bau ozon yang tajam bercampur dengan harum minyak pelumas berkualitas tinggi menyergap indra penciuman Ren. Di tengah ruangan, dikelilingi oleh ribuan layar pendar bercahaya kebiruan, berdiri sosok pria tua berambut perak dengan jubah kebesaran Vanguard Alliance. Laksamana Orin Vex. Bahkan tanpa mengenakan zirah tipe Terra miliknya, aura keteguhan sang veteran agung itu terasa menghimpit udara di sekitarnya.

Di samping sang Laksamana, seorang gadis muda dengan kacamata analisis mikroskopis sedang mengetik cepat pada papan ketik holografik. Mira Solace tidak berpaling sedikit pun saat rombongan masuk; jemarinya bergerak bak tarian mekanis, membedah grafik frekuensi yang baru saja dipancarkan oleh Eos.

"Frekuensi ini... tidak masuk akal, Laksamana," bisik Mira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Suaranya datar, tetapi ada getaran kekaguman yang samar di balik nada dinginnya. "Suhu intinya stabil di angka nol absolut, namun memancarkan kilatan energi foton selevel reaktor bintang. Ini bukan rekayasa nano-mecha modern kita. Ini adalah sisa arsitektur kuno... reinkarnasi dari Archon Pioneer."

Ren menghentikan langkahnya beberapa meter di depan podium utama. Tepat saat itu, Orin Vex membalikkan badan. Mata sang Laksamana yang keruh oleh usia menatap lurus ke arah dada Ren-ke titik di mana Inti Cahaya Eos tertanam. Ada kelelahan yang luar biasa dalam tatapan itu, namun di baliknya, Ren juga menangkap seberkas rasa bersalah yang teramat dalam.

"Dua belas tahun aku menunggu momen ini, Nak," ujar Orin Vex dengan suara serak yang bergema di sepanjang dinding baja. "Wajahmu... sangat mirip dengan ayahmu. Tapi warna cahaya Eos yang kau bawa... membuktikan bahwa takdir tidak pernah bermain-main dengan janji-janjinya."

Kairo, yang berjalan di samping Ren, mengepalkan tangan berlapis pelindung emasnya hingga terdengar derit logam. "Laksamana, apakah kita benar-benar akan mempercayai pemulung dari Sector 7 ini hanya karena zirahnya berwarna putih? Ayahnya adalah orang yang membawa Ekspedisi Pertama menuju kehancuran!"

"Tahan lidahmu, Kairo," potong Orin Vex. Suaranya tidak keras, namun mengandung bobot gravitasi yang membuat udara di aula mendadak bergetar seolah dipatok oleh fondasi bumi. Laksamana tua itu melangkah mendekati Ren, tongkat komando berukir kristal Terra di tangannya mengetuk lantai baja dengan dentang tunggal yang memecahkan ketegangan. "Dosa masa lalu tidak mengalir dalam darah seorang putra. Lagipula, tidak ada di antara kita-termasuk aku-yang benar-benar paham apa yang terjadi di balik Gerbang Kegelapan dua belas tahun lalu."

Mata Orin yang dilapisi selaput abu-abu menatap Ren, memancarkan simpati sekaligus peringatan tersirat yang amat berat. Di balik bayang-bayang pilar, Selene Veyra berdiri diam. Tatapan mata biru es sang Komandan terkunci rapat pada reaksi Ren. Tidak ada pembelaan yang keluar dari bibir dinginnya; ia hanya mengamati seperti seorang arsitek yang sedang menyaksikan ketahanan pondasi buatannya diuji.

Ren menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa dingin dari pendingin udara Skyhold yang menusuk paru-parunya. Rasa panas mendidih di dadanya-bukan hanya akibat cemoohan Kairo, melainkan dari denyut Eos yang mendadak menajam. Di mata batin Ren, benang-benang cahaya perak bergetar, menjalar dari Inti Cahaya di dadanya menuju tubuh Orin Vex, memperlihatkan gema ikatan tua yang ternoda oleh rahasia dan penyesalan purba.

"Saya tidak butuh kepercayaan Anda, Zhen," bisik Ren, suaranya tenang namun sarat ketegasan yang mengejutkan dirinya sendiri. Ia menatap Kairo lurus-lurus tanpa sedikit pun gentar. "Saya datang bukan untuk membersihkan nama ayah saya. Saya di sini karena Eos memilih saya untuk menghentikan apa pun yang merayap naik dari lautan racun itu."

Kairo hendak membalas, tetapi keheningan kembali menguasai saat Orin Vex mengangkat tangannya. Sang Laksamana memandang ke arah jendela obsidian raksasa di ujung ruang komando, tempat awan beracun Permukaan-Mati bergulung kusam ribuan meter di bawah mereka.

"Hari ini, Vanguard Alliance mendapat harapan baru," tegas Orin Vex, membalikkan badan menghadapi seluruh perwira di aula. "Tetapi ingatlah, Cahaya yang paling terang adalah yang paling dicari oleh kegelapan. Pertempuran kita yang sebenarnya baru saja dimulai."

Ren mengepalkan tangannya saat Eos memancarkan pendar hangat yang menolak hawa dingin tempat itu. Di luar sana, jauh di kedalaman Celah Akhir, sesuatu yang kuno dan lapar baru saja terbangun dari tidurnya.

~ Bab 3 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai