Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Luminous Vanguard: Perang Cahaya Terakhir

Bab 2

Gema Pertama Eos

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Sensasi dingin yang semula merayap di kulit Ren mendadak sirna, tergantikan oleh denyut hangat yang menjalar cepat ke seluruh persendiannya. Di dalam kokpit hidup Armor Genesis tipe Cosmos tersebut, garis-garis neon keperakan mulai teranyam di dinding internal visor, memetakan setiap embusan napas Ren hingga ke tingkat seluler. Ren terengah, jemarinya yang terbungkus lapisan logam fleksibel Eos gemetar ketika ia mencoba menggenggam udara. Ini bukan sekadar mesin; Eos memiliki denyut nadi, ritme napas, dan kesadaran purba yang seolah menyatu sempurna dengan detak jantungnya sendiri.

Melalui pandangan visor, lanskap Pabrik Reruntuhan yang semula kelam dan membusuk oleh uap beracun kini bertransformasi secara drastis. Ren dapat melihat jalinan benang-benang cahaya tembus pandang membentang di udara-aliran energi spasial yang mengalir di antara pilar-pilar beton yang lapuk. Eos memperlihatkan jalinan jiwa serta retakan dimensi mikroskopis yang menyelimuti wilayah bawah Sector 7, jejak-jejak kehancuran yang ditinggalkan oleh Gerbang Kegelapan seratus tahun lalu.

Namun, keheningan puitis itu tidak bertahan lama. Ledakan energi murni saat Eos terbangun telah menembus lapisan awan beracun Permukaan-Mati, memancar bagaikan suar raksasa di tengah kegelapan malam. Dinding-dinding pabrik yang tua mulai bergetar hebat. Debu dan serpihan kaca berguguran dari atap seng yang berkarat. Dari kedalaman lorong-lorong gelap yang mengular di balik reruntuhan tungku peleburan, terdengar jeritan melengking yang menusuk telinga-suara gesekan logam busuk bercampur lolongan dahagakan darah.

Hollow Spawn. Anomali monster dari Gerbang Kegelapan telah tergiur oleh aroma 'Inti Cahaya' murni yang baru saja bangkit. Pada saat yang bersamaan, pilar radiasi energi Eos memicu alarm darurat di pusat komando Vanguard Alliance di Skyhold Primus, menerobos pertahanan sistem pemantau yang langsung menangkap gelombang kosmis tak dikenal.

Ren melangkah mundur, merasakan gravitasi di sekitar kakinya mendadak melonggar saat Eos merespons rasa paniknya. Cahaya keperakan di dada armor berdenyut kian kencang, membiaskan bayangan puluhan monster bertangan bilah hitam yang mulai merayap keluar dari balik kegelapan lorong, mengepungnya tanpa celah.

Darah di dalam nadi Ren serasa membeku saat monster-monster itu melompat secara bersamaan. Namun, tepat sebelum bilah-bilah hitam bergerigi itu merobek kulitnya, pandangan Ren terdistorsi. Udara di sekitarnya mengendap lambat, seolah waktu dipaksa menekuk oleh kehendak gaib. Di mata Ren, dunia tidak lagi hanya terdiri dari beton retak dan bayangan kelabu-benang-benang bening berkilau keperakan tiba-tiba terhampar di udara, menghubungkan Inti Cahaya di dadanya dengan titik-titik rawan pada tubuh Hollow Spawn. Eos tidak sekadar membungkus tubuhnya dengan zirah nano-mecha murni; armor Cosmos itu menganyam persepsi ruang dan waktu di dalam kesadarannya.

"Gunakan kehendakmu, Pemuda," sebuah bisikan halus-bukan suara manusia, melainkan resonansi frekuensi murni yang bergema langsung di dalam jiwanya-menghentak kesadaran Ren. Tanpa sempat berpikir rasional, Ren menghentakkan kakinya ke lantai pabrik. Gelombang gravitasi lokal memancar keluar, menciptakan riak transparan yang menghempas tiga Hollow Spawn terdepan hingga hancur berkeping-keping menghantam tiang penyangga besi. Bau ozon bercampur kebasnya energi komet memenuhi rongga dadanya. Setiap kali ia bernapas, zirah keperakan di tubuhnya menyesuaikan bentuk, merapat sempurna menyatu dengan anatomi fisiknya bagai kulit kedua.

Sementara itu, puluhan kilometer di atas lautan awan beracun, ruang komando benteng mengambang Skyhold Primus diliputi kepanikan. Layar holografis raksasa memancarkan warna merah menyala, merekam lonjakan fluks energi kelas Archon dari wilayah kumuh Sector 7. Komandan Selene Veyra berdiri tegak di depan konsol utama, mata biru esnya menatap lekat angka-angka kalkulasi frekuensi yang tertera. "Resonansi Tipe Cosmos... berkekuatan murni tanpa jejak korupsi Void?" gumamnya dingin, mengepalkan tangan hingga sarung tangan taktisnya berdecit. Selene mengenali pola gelombang itu. Itu adalah tanda kehidupan dari lini keturunan yang seharusnya telah lenyap dua belas tahun lalu di Gerbang Kegelapan.

Di balik kegelapan lorong Pabrik Reruntuhan, Ren terengah-engah di tengah tumpukan bangkai monster yang perlahan menguap menjadi abu hitam. Tangan berselimut pelat logam putihnya gemetar hebat. Di hadapannya, benang-benang cahaya masih berpendar tipis, menunjuk jauh menembus lantai beton-menuju kegelapan Jauh-Dalam tempat sesuatu yang jauh lebih besar dan pekat tengah terbangun.

Napas Ren berembus berat, memunculkan kabut tipis yang seketika lenyap diserap oleh pelindung leher Eos. Rasa panas yang tadi membakar dadanya kini telah reda, berganti menjadi sensasi dingin yang ganjil namun menenangkan-seolah-olah seluruh sistem saraf di tubuhnya telah menyatu sempurna dengan serat-serat nano zirah keperakan ini. Di balik visor melengkung, penglihatannya kini terbagi dua: ia tak hanya melihat lantai beton retak dan sisa jelaga Hollow Spawn yang menghitam, tetapi juga benang-benang cahaya tak kasat mata yang terjalin menembus celah-celah realitas.

"Eos..." bisik Ren, suaranya terdengar bergema secara internal di dalam benaknya sendiri. Inti Cahaya di dadanya berdenyut pelan, bergetar seirama dengan detak jantungnya yang masih berpacu keras.

Namun, ketenangan singkat itu mendadak pecah ketika raungan mesin jet membelah udara malam Sector 7. Cahaya sorot keemasan memotong kegelapan Pabrik Reruntuhan dari atas atap seng yang bolong-bolong. Dari balik gumpalan awan beracun Skyhold Primus, sebuah kapal pendarat taktis Vanguard Alliance meluncur deras, disusul oleh kilatan petir menyambar yang memanifestasikan siluet zirah tegap berwarna emas berkilau.

Itu adalah Armor Genesis tipe Tempest.

"Tetap di tempatmu, Pemulung!" sebuah suara angkuh yang sarat dengan otoritas berdentang melalui pengeras suara eksternal mecha keemasan itu. Zirah Tempest mendarat keras di atas tumpukan puing, menciptakan gelombang kejut yang menyapu debu ke segala arah. Kairo Zhen-pilot muda berbakat dari Skyhold Arkana-mengangkat tombak energinya yang berkilat petir, mengarahkannya tepat ke inti dada Ren. "Atas perintah komando Vanguard Strike Force, serahkan dirimu dan lepaskan armor terlarang itu!"

Ren melangkah mundur secara refleks, namun Eos memancarkan aura pendar yang secara otomatis mengokohkan pijakannya. Melalui penglihatan khususnya, Ren dapat melihat benang jiwa Kairo berpancar tajam-berwarna emas membara, sarat akan ketegangan, kecurigaan, dan kebanggaan yang terusik. Ren bisa merasakan keheranan yang tersembunyi di balik sikap arogan rivalnya itu; Kairo terkejut menemukan keberadaan armor Tipe Cosmos yang selama ini dianggap hanya sebatas dongeng kuno.

Sebelum Ren sempat membela diri bahwa ia tak mengerti apa yang sedang terjadi, transmisi frekuensi tinggi berprioritas puncak terhubung paksa ke dalam saluran helm mereka berdua. Suara dingin, datar, namun penuh daya tekan dari Komandan Selene Veyra bergema jernih di dalam visor.

"Kairo, tahan senjatamu," perintah Selene dari markas besar, nadanya seketika membekukan ketegangan di udara. "Bawa dia hidup-hidup ke Laboratorium Primus. Pemuda itu... adalah putra dari Kazuki."

Kairo tertegun. Halilintar emas yang menari di sekitar tombak Tempest-nya mendadak meredup, menyisakan desis kelistrikan yang perlahan padam di udara tipis. Matanya-terhalang oleh visor keemasan-menatap Ren dengan paduan antara ketidakpercayaan dan kebencian yang samar. "Putra Kazuki?" gumam Kairo melalui saluran privat, suaranya dipenuhi ketegangan yang tertahan. "Pria yang membawa armada ekspedisi pertama menuju kehancuran itu?"

Ren mengepalkan tangannya di dalam zirah Eos; pendar putih keperakan di pergelangan tangannya berdenyut kencang, merespons amarah batinnya. Ayahnya bukan pengkhianat-paling tidak, itulah yang selalu diyakini Ren di tengah kerasnya hidup di Pabrik Reruntuhan. "Tarik kembali ucapanmu, Kairo," ancam Ren, suaranya bergetar tetapi tegas. Melalui penglihatan khususnya, benang jiwa emas Kairo bergetar hebat, menandakan pergolakan emosi yang tak kalah sengit. Namun, sebelum perkelahian benar-benar pecah, gema sirine darurat berfrekuensi rendah menyapu pelataran logam Skyhold Primus, menelan kepulan asap sisa pertempuran.

"Cukup, kalian berdua," pangkas suara Selene kembali di dalam komunikasi helm, kali ini disertai getaran gravitasi dari pesawat pengangkut taktis berat yang mulai mendarat beberapa puluh meter dari mereka. Pintu kompartemen pengangkut terbuka, memperlihatkan figur tinggi berselimut zirah Abyssal biru es yang memancarkan hawa dingin mencekat. Komandan Selene Veyra melangkah turun, matanya yang tajam bak belati menembus visor Ren. "Ren Kazuki, hari-harimu sebagai pemulung komponen telah usai. Eos telah memilihmu, dan kebenaran tentang ayahmu menunggumu di balik pintu Vanguard Alliance."

Ren menatap telapak tangannya sendiri yang kini terbungkus logam nanoteknologi putih keperakan. Inti Cahaya di dalam dadanya berbisik halus, menyalurkan kehangatan asing yang seolah menjanjikan jawaban atas semua misteri masa kecilnya. Saat ia melangkah mengikuti Selene dan Kairo memasuki lambung kapal pengangkut, Ren menoleh sebentar ke arah Gerbang Kegelapan yang menganga jauh di horizon langit. Ia tahu, langkah ini adalah awal dari badai besar yang siap menelan seluruh peradaban-dan ia tak lagi bisa kembali.

~ Bab 2 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai