Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

Luminous Vanguard: Perang Cahaya Terakhir

Bab 1

Di Bawah Langit yang Retak

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Ren Kazuki sudah terbiasa dengan bau gosong yang merayap di antara celah-celah Skyhold Primus-aroma logam terbakar bercampur sisa metabolisme tubuh manusia yang hidup terlalu lama di ketinggian, di mana udara tipis dan hanya menyisakan kepahitan di lidah. Sector 7, distrik termiskin di salah satu dari tujuh benteng mengambang yang masih bertahan, adalah tempat di mana umat manusia membuang orang-orang yang tak lagi dianggap berguna. Ia lahir di sini, di antara pipa-pipa berkarat dan dinding yang selalu mendengung rendah seperti napas monster yang sedang tidur.

Pagi ini sama dinginnya dengan pagi-pagi yang lain. Ia menarik sarung tangan kulit sintetis yang sudah bolong di tiga jari, lalu menatap ke bawah-ke arah Permukaan-Mati yang membentang tak berujung di balik lapisan awan hijau kehitaman beracun. Di kejauhan, samar-samar, kilatan merah seperti mata yang sedang membuka dan menutup bergerak di antara kabut. Hollow Spawn, mungkin. Atau Patroli Black Mecha yang entah mengapa turun begitu dekat dengan Skyhold. Ren menelan ludah, lalu menoleh pada para pemulung yang sudah lebih dulu bekerja.

"Hei, bocah Kazuki! Jangan bermimpi di atas tebing lagi!" suara Kaspar, tetua komunitas pemulung, menyambar dari belakang. "Atau kau ingin menjadi sarapan mereka malam ini?"

Ren hanya mendengus. Mimpi. Kata itu sudah lama kehilangan maknanya. Sejak ayahnya menghilang dalam Ekspedisi Gerbang Kegelapan dua belas tahun lalu-tepat di hari ulang tahun Ren yang ketujuh-ia belajar bahwa mimpi adalah kemewahan yang hanya dimiliki orang-orang yang tidak perlu menghitung setiap keping logam untuk bertahan hidup esok hari. Ibunya menyusul dua tahun kemudian, dimakan penyakit pernapasan yang umum menyerang penduduk Sector 7. Sejak saat itu, Ren tidak pernah lagi memandang langit yang retak di atasnya dengan harapan.

Pabrik Reruntuhan menunggunya seperti altar kuno yang sudah kehilangan tuhan. Di sinilah puing-puing Skyhold yang jatuh dari langit menumpuk-sisa-sisa Skyhold yang sudah musnah, bangkai armor purba, dan fragmen-fragmen mesin yang kadang masih berdenyut dengan sisa Sains Kristal. Ren menyelip di antara tumpukan logam, jari-jarinya yang sudah mahir menemukan sambungan-sambungan bernilai, matanya memindai setiap retakan yang bisa menjadi celah masuk.

Dan di sinilah, di antara debu waktu yang seharusnya telah membuat segalanya menjadi abu, sesuatu memanggilnya.

Bukan suara. Bukan pula getaran mekanis yang biasa ia rasakan di antara tumpukan puing. Ini lebih seperti tarikan-benang tipis yang tidak terlihat, namun entah bagaimana mengait di antara tulang rusuknya, menariknya semakin dalam ke jantung Pabrik Reruntuhan. Ren berhenti. Jari-jarinya yang sudah setengah menggenggam sebuah servo motor tua dari generasi Skyhold keempat membeku di udara. Matanya menyipit, pupil gelapnya memindai kegelapan yang semakin pekat di antara rak-rak besi berkarat.

Instingnya berteriak untuk berbalik pergi. Di Sector 7, insting seperti itu adalah perbedaan antara hidup dan menjadi santapan Hollow Spawn yang kadang merayap turun dari langit saat badai racun mereda. Namun kakinya tetap melangkah, seolah-olah tanah di bawahnya telah menjadi air yang mengalir dan ia hanya sebutir daun yang terbawa arus.

Ia menemukan benda itu di kedalaman tumpukan paling bawah-terjebak di antara tulang dada sebuah mecha purba yang sudah kehilangan seluruh lapisan luaknya. Sepotong kristal sepanjang telapak tangan, berwarna putih keperakan yang nyaris tidak memantulkan cahaya, namun entah bagaimana membuat seluruh kegelapan di sekitarnya terasa... malu. Ren berlutut. Debu-debu kuno naik seperti napas hantu dari permukaan kristal itu, dan ia merasakan bulu kuduknya meremang.

'Tidak seharusnya benda ini ada di sini,' bisik logikanya. Artefak Cahaya yang pernah ia dengar dari cerita-cerita pemulung tua-benda-benda peninggalan Archon Pioneer-selalu dijaga ketat di menara-menara Vault Skyhold Primus. Mustahil salah satunya jatuh ke Sector 7.

Namun kristal itu berdenyut. Pelan, seperti detak jantung yang tertidur selama ribuan tahun dan kini perlahan terbangun. Ren merasakan resonansi aneh merambat dari telapak tangannya yang terulur, naik ke lengan, menyusup ke dalam dadanya seperti akar cahaya yang mencari tanah. Ia tahu ia seharusnya menarik tangan. Ia tahu bahwa di dunia yang keras ini, rasa ingin tahu adalah kemewahan yang sama berbahayanya dengan tidur terlalu lama di tempat terbuka.

Tapi ada sesuatu dalam denyut itu yang mengingatkannya pada ayahnya. Pada suara pria itu malam-malam sebelum pergi-bahwa di balik langit yang retak, masih ada sesuatu yang layak disebut harapan.

Jari-jarinya menyentuh permukaan kristal.

Dan langit yang retak di atas Sector 7, untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, terdiam.

Keheningan itu bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah sesuatu yang utuh, padat, seperti selimut wol yang jatuh dari langit dan membungkus seluruh Sector 7 dalam satu tarikan napas kolektif. Burung-burung kasa yang biasa berputar di atas cerobong asap Pabrik Reruntuhan berhenti di tengah sayapnya. Angin yang membawa butiran awan beracun dari Permukaan-Mati tiba-tiba kehilangan arah, seolah tersesat di antara dua tebing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Bahkan dengung tua dari reaktor kristal di kaki menara pendingin, suara yang telah mengiringi tidur Ren sejak kecil, mendadak terdengar janggal di telinganya-terlalu pelan, terlalu jinak, seperti kucing yang terlalu lama tidak melihat bulan.

Lalu cahaya itu datang.

Bukan dari kristal yang disentuhnya-yang masih kecil, masih redup, masih berdenyut di telapak tangannya seperti jantung anak-anak yang baru belajar berdetak di luar rahim ibunya. Cahaya itu datang dari dalam dirinya sendiri. Dari suatu ruang di balik tulang rusuknya yang selama ini ia kira kosong, yang selama sembilan belas tahun hanya berisi gema tawa ayahnya di malam terakhir, serta bisikan ibunya yang sudah sangat lama sehingga ia tidak yakin lagi apakah itu benar-benar suara atau hanya racun memori yang dibungkus oleh kesepian.

Retakan-retakan tipis keperakan mulai muncul di kulit lengan bawahnya, menjalar perlahan seperti akar pohon yang mencari air. Bukan luka. Bukan juga tato. Ia bisa merasakan setiap garis itu hidup, berdenyut, memiliki denyutnya sendiri yang berbeda dari detak jantungnya sendiri. Ren ingin berteriak, ingin menarik tangannya dari kristal, ingin berlari kembali ke bilik tidurnya di antara tumpukan komponen daur ulang dan berpura-pura bahwa ini semua hanya mimpi buruk yang disebabkan oleh air yang diminumnya kemarin. Tapi kakinya tidak bergerak. Tubuhnya tidak lagi menjadi miliknya-ia hanya menjadi rumah bagi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih lelah, dan jauh lebih putus asa daripada dirinya.

"Apa..." bisik Ren pada udara yang tidak lagi mendengarnya. Suaranya terdengar asing, seperti kata-kata yang dilemparkan ke dasar sumur yang tidak berdasar.

Kristal di tangannya retak. Bukan pecah-retak dengan cara yang anggun, seperti telur yang menetas. Dari dalam retakan itu, sesuatu merangkak keluar. Cahaya putih keperakan yang terlalu bersih untuk dunia ini, terlalu murni untuk langit yang telah terbiasa menangis racun. Cahaya itu membubung, membentuk siluet yang familiar meski Ren belum pernah melihatnya sebelumnya: bahu yang lebar, dada yang membusur, sebuah wajah tanpa fitur yang seolah sedang menatapnya dari balik cermin waktu.

Dan di kejauhan, di menara pengawas Skyhold Primus yang jaraknya tidak bisa dibayangkan dengan mata telanjang, sebuah alarm kristal berwarna perak yang sudah mati selama puluhan tahun tiba-tiba bergetar pelan-pertama kali sejak tujuh Archon Pioneer lenyap ke dalam Gerbang Kegelapan.

Di menara pengawas Skyhold Primus, alarm kristal perak itu bergetar dalam frekuensi yang sudah lama dilupakan oleh sistem arsip Vanguard Alliance. Vibrasinya menjalar seperti denyut nadi kedua-bukan dari daging, melainkan dari memori logam dan kristal yang telah tertidur selama puluhan tahun. Di laboratorium bawah tanah Primus-7, seorang gadis berambut pendek yang semula membungkuk di atas meja kerja penuh komponen nano-mecha mendongkalkan kepalanya. Mata kelabunya-yang lebih terbiasa membaca diagram sirkuit daripada wajah manusia-melebar tipis ketika sensor-sensor di dinding mulai berkedip dalam formasi yang tidak pernah tercatat dalam buku panduan mana pun.

"Tipe... Cosmos?" bisik Mira Solace pada dirinya sendiri, jari-jarinya yang berminyak gemetar saat menyentuh panel data. Ia tahu betul apa arti frekuensi itu. Cosmos adalah tipe yang seharusnya tidak ada lagi-tipe yang lenyap bersama Archon Pioneer. Tipe yang bahkan tidak berani ia sebut dalam laporan resmi karena takut dianggap gila. Di sudut laboratorium, kalung berisi pecahan kristal hitam yang ia sembunyikan di balik dasinya-fragmen Void yang diam-diam ia teliti selama tiga tahun-tiba-tiba beresonansi. Rasa sakit menusuk dadanya, familiar sekaligus mengerikan. Resonansi Void-nya bereaksi terhadap sinyal yang baru muncul, seolah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar armor baru saja menarik napas pertama di dunia yang sudah lama ia kira akan binasa.

Jauh di ruang perang utama Skyhold Primus, Selene Veyra berdiri membeku di depan jendela panorama. Armor Abyssal biru esnya yang tergantung di rak persenjataan bergetar pelan, permukaan metaliknya mengeluarkan dengung rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka yang pernah terikat padanya. Wanita itu tahu betul apa yang sedang terjadi. Ia pernah merasakannya sekali, dua puluh tahun lalu, ketika sahabatnya-ayah Ren-mengaktifkan armor pertamanya. Bibirnya berkedut, membentuk garis tipis yang bukan senyum maupun duka.

"Kau akhirnya menemukan anak itu, Kael," bisiknya pada kaca yang memantulkan wajahnya sendiri-wajah yang sama cantiknya dengan wajah ibunda Ren, sahabatnya yang juga telah lama tiada. "Atau... mungkin dia yang menemukanmu."

Di Pabrik Reruntuhan, Ren tidak lagi merasakan takut. Armor putih keperakan yang kini melingkupi tubuhnya-Eos-mengirimkan gelombang kehangatan yang aneh melalui tautan jiwa yang baru terbentuk, seolah mecha itu telah menunggunya sejak lama. Dan ketika Ren menoleh ke cermin air genangan di dekat kakinya, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti: di dalam permukaan visor armornya, dua pasang mata menatap balik-matanya sendiri yang kecokelatan, dan mata lain yang lebih dalam, lebih lelah, namun dipenuhi cahaya yang sama persis dengan cahaya yang ia ingat dari foto ayahnya yang sudah pudar. Eos bukan hanya armor. Eos adalah penantian. Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Ren merasa bahwa ayahnya tidak benar-benar telah hilang-hanya menunggu untuk ditemukan, di suatu tempat di balik gerbang yang sama yang telah menelan segalanya.

~ Bab 1 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai