Bola Langit: Legenda Kaki Kiri
Bab 2
Gerbang Kenangan
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Cahaya itu tidak menyilaukan.
Itu hal pertama yang Raka sadari ketika ia melangkah melewati gerbang. Ia mengharapkan sesuatu yang menyakitkan-cahaya putih menyengat seperti dalam cerita-cerita tentang gerbang kuno, atau rasa terbakar seperti yang ia rasakan di balai desa saat kristal itu menyentuh dahinya. Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya. Cahaya itu hangat. Lembut. Seperti air sungai di pagi hari, seperti tangan seseorang yang sudah lama tidak ia sentuh tapi tidak pernah ia lupakan.
Lalu cahaya itu memudar, dan Raka membuka mata.
Ia berdiri di lapangan.
Bukan lapangan desanya. Lapangan ini jauh lebih luas-lapangan sepak bola sungguhan, dengan garis-garis putih yang tajam dan gawang yang berdiri tegak di kedua ujung. Rumputnya hijau sempurna, tidak seperti rumput liar di desanya yang selalu basah dan penuh lumpur. Dan di atasnya-
Di atasnya ada bintang-bintang.
Langitnya hitam, hitam yang dalam, dan bintang-bintang menggantung rendah seperti bisa ia sentuh jika ia melompat. Tapi yang paling aneh: bintang-bintang itu juga ada di rumput. Titik-titik cahaya kecil bertebaran di antara helai-helai rumput, berkedip pelan, seolah langit dan bumi saling bercermin.
"Ini mimpiku," bisik Raka.
Bukan mimpimu. Ini kenangan.
Suara itu-suara bola itu-datang dari mana-mana dan dari mana-mana sekaligus. Raka berputar, mencari sumbernya, tapi tidak ada siapa pun di lapangan itu. Hanya dia. Hanya bintang-bintang. Hanya gawang yang berdiri sunyi.
"Kau," katanya. "Kau yang bicara di mimpiku."
Dan di setiap mimpi sebelum itu. Tapi kau tidak pernah mendengarkan. Kau selalu bangun terlalu cepat.
Raka menggenggam tangannya. "Aku tidak bangun. Aku selalu... aku selalu merasa terjatuh."
Karena kau belum siap. Sekarang kau sudah.
Di tengah lapangan, sesuatu mulai terbentuk. Bukan muncul dari tanah atau turun dari langit-ia hanya ada, tiba-tiba, seperti kenangan yang dipaksa kembali ke wujud fisik. Sebuah bola. Bola tua, kulitnya kusam dan penuh goresan, jahitannya longgar di satu sisi. Jauh berbeda dari bola-bola bercahaya yang ia lihat di siaran Liga Galaxy. Bola ini... sederhana. Duniawi. Seperti bola yang mungkin dimiliki anak-anak di desa sebelum Berkah Orbital menemukan mereka.
Tapi ketika Raka menatapnya, ia merasakan sesuatu yang aneh di kaki kirinya. Panas. Bukan panas yang menyakitkan-panas yang mengenali. Seolah kaki kirinya tahu bola itu bahkan sebelum matanya.
"Kau..." Raka melangkah maju. "Kau bola pertama, ya? Bola dari orang pertama."
Ya.
"Namaku Raka."
Aku tahu siapa kau, Raka Ardiansyah. Aku sudah menunggumu selama lima puluh tahun.
Raka berhenti. "Lima puluh tahun?"
Bola itu tidak menjawab langsung. Sebaliknya, lapangan di sekitar mereka mulai berubah. Bintang-bintang di rumput meredup satu per satu, dan dari kegelapan di tepi lapangan, sesuatu mulai terbentuk. Sosok. Bayangan.
Seorang anak laki-laki.
Ia seusia Raka-mungkin lebih muda sedikit, sebelas atau dua belas tahun. Ia berdiri di ujung lapangan dengan bola di kakinya, dan ia menatap gawang di seberang dengan tatapan yang Raka kenali. Tatapan yang sama yang ia lihat di cermin setiap pagi. Tatapan seseorang yang tahu ia berbeda tapi tidak tahu kenapa.
Anak itu menendang.
Bola itu melesat-bukan tendangan biasa, bukan tendangan yang Raka lihat di Liga Galaxy. Bola itu hidup. Ia berputar di udara seperti bintang yang jatuh, melengkung dengan cara yang tidak mungkin, dan ketika menyentuh gawang-
Cahaya meledak.
Bukan cahaya jingga seperti di balai desa. Cahaya yang lebih dalam. Cahaya yang lebih tua. Cahaya yang membuat Raka merasa seperti sedang menatap sesuatu yang seharusnya tidak pernah manusia lihat.
Dan di dalam cahaya itu, Raka melihat sesuatu yang lain. Sesuatu di balik cahaya. Sesuatu yang menatap balik.
Ia terjatuh. Lututnya menyentuh rumput, dan bintang-bintang di bawahnya berkedip kaget.
"Apa itu?" bisiknya.
Itu adalah tendangan pertama, kata bola itu. Tendangan yang membuka sesuatu yang tidak seharusnya dibuka. Dan tendangan yang membuat mereka menciptakan penjara.
"Penjara..." Raka mengangkat kepalanya. "Orbital Prime."
Ya.
"Dan kau-"
Bukan. Aku bukan penjara itu. Aku adalah apa yang mereka coba kunci di dalamnya.
Raka menatap bola itu. "Kau yang dikurung?"
Bukan aku. Bola itu berputar pelan, seperti sedang berpikir. Aku hanya bagian dari dirinya. Bagian yang bisa mereka pisahkan. Bagian yang bisa mereka kubur di lapangan ini, di kenangan ini, selama lima puluh tahun.
"Bagian dari... Pemain Pertama?"
Bagian dari dia. Bagian dari yang pertama kali mendengar bola itu. Bagian dari yang pertama kali tahu bahwa bola bukan benda mati.
Raka bangkit. Kakinya masih panas-kaki kirinya, selalu kaki kirinya-dan ia menatap bola itu dengan mata yang mulai terisi sesuatu yang baru. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih tua dari ketakutan.
"Aku juga bisa mendengar kau," katanya pelan. "Sejak dulu. Sebelum Berkah Orbital. Sebelum apa pun."
Ya.
"Kenapa?"
Karena kau adalah dia.
Raka membeku. "Apa maksudmu?"
Bukan dia yang sama. Tapi kau adalah dia yang kembali. Kau adalah generasi yang mereka cetak-anak yang lahir dari eksperimen mereka, anak yang seharusnya tidak pernah ada. Tapi kau bukan hanya itu. Kau adalah jawaban dari pertanyaan yang mereka takutkan: apa yang terjadi jika Pemain Pertama tidak bisa dikurung selamanya?
Cahaya di sekitar mereka mulai meredup. Kenangan itu-lapangan, bintang, anak laki-laki yang menendang-mulai memudar seperti kabut yang tersapu angin pagi.
Kau harus pergi sekarang, kata bola itu. Dia sudah datang.
"Siapa?"
Zephyr. Kau harus keluar dari gerbang ini. Sekarang.
"Tapi aku belum-"
Kau sudah tahu cukup. Kau tahu kau bukan anak biasa. Kau tahu kau bukan kutukan. Kau tahu kau adalah kunci. Dan kau tahu-
Bola itu berhenti berputar.
Kau tahu bahwa kau tidak boleh percaya bahwa aku benda mati.
Raka membuka mulutnya untuk bertanya, tapi cahaya itu menghilang. Lapangan itu menghilang. Bintang-bintang itu menghilang. Dan ia terjatuh-
-ke rumput basah di dalam hutan, di luar gerbang, di bawah langit yang gelap dan sunyi.
Kakek Sarno berdiri di sampingnya, menatap ke arah pepohonan. Wajahnya tegang.
"Kakek," kata Raka, bangkit dengan lutut gemetar. "Aku melihat-"
"Aku tahu kau melihat apa." Kakek Sarno tidak menoleh. "Dan sekarang kau tahu kenapa mereka takut padamu."
"Kakek, bola itu bilang aku adalah-"
"Anak Kaki Kiri." Kakek Sarno akhirnya menoleh, dan matanya-mata tua itu, mata yang sudah melihat terlalu banyak-berkilat. "Aku tahu. Aku selalu tahu. Sejak kau lahir, aku tahu."
"Kau tahu?"
"Kau pikir kenapa aku tinggal di desa pinggiran ini? Kenapa aku menonton bola bersamamu? Kenapa aku memberitahumu tentang Berkah Orbital?" Ia menggeleng. "Aku tidak kebetulan ada di sana, Raka. Aku sedang menunggumu."
Raka menelan ludah. "Menungguku?"
"Cahaya itu." Kakek Sarno menunjuk ke langit di atas pepohonan. Tiga berkas cahaya-tiga kapal-menggantung rendah, seperti mata yang menatap dari atas. "Mereka sudah masuk ke hutan. Zephyr, dua anggota timnya, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bukan manusia."
"Apa?"
Kakek Sarno tidak menjawab. Sebaliknya, ia menggenggam tangan Raka dan menariknya menjauh dari gerbang, ke arah pepohonan keperakan yang lebih dalam.
"Kakek-"
"Dengar." Kakek Sarno berhenti, menatap Raka dengan mata yang tidak bisa ditolak. "Zephyr datang untuk mengunci penjara. Kau tahu itu. Hantu Orbital memberitahumu. Tapi ada satu hal yang tidak ia katakan."
"Apa?"
"Zephyr tidak datang untuk mengunci penjara karena ia ingin. Ia datang karena ia takut."
Raka mengerutkan dahi. "Zephyr? Takut?"
"Striker Dewa. Pahlawan Aero-Prime. Pria yang mengalahkan Sunyi Galactic dalam satu tendangan." Kakek Sarno tersenyum tipis-senyum yang sama seperti malam pertama. "Kau pikir kenapa ia datang sendiri? Kenapa ia tidak mengirim pasukan? Kenapa ia turun ke planet pinggiran ini, ke desa yang tidak ada di peta, untuk menemui anak dua belas tahun?"
"Karena... karena aku kunci?"
"Karena kau adalah satu-satunya hal di galaxy ini yang bisa mengalahkannya."
Raka terdiam.
"Zephyr adalah pemain terbaik yang pernah ada," lanjut Kakek Sarno. "Ia memiliki Berkah Orbital-berkah sejati, bukan kutukan seperti yang kau pikir. Ia bisa berlari lebih cepat dari angin, menendang lebih keras dari badai. Ia adalah legenda. Tapi ia mencapai semua itu karena ia menerima batas. Ia menerima kutukan. Dan kau... kau tidak."
"Aku tidak menerima apa pun."
"Ya." Kakek Sarno menepuk bahu Raka, dan untuk sesaat, ia terlihat tua. Sangat tua. "Dan itu yang membuatmu berbahaya. Bukan karena kau kuat-kau belum kuat. Tapi karena kau adalah bukti hidup bahwa batas itu tidak nyata. Dan jika kau bisa membuktikan itu-jika kau bisa menunjukkan kepada galaxy bahwa Berkah Orbital bukan anugerah-"
"Maka penjara itu bisa dibuka."
"Dan Zephyr kehilangan segalanya."
Dari kejauhan, di antara pepohonan, terdengar suara. Bukan suara binatang. Suara langkah kaki. Berat. Teratur. Mendekat.
Kakek Sarno menoleh. "Dia sudah dekat."
"Kakek, aku belum siap."
"Tidak ada yang pernah siap." Kakek Sarno melepaskan tangan Raka dan melangkah mundur, ke arah pepohonan. "Tapi kau tidak perlu siap. Kau hanya perlu ingat."
"Ingat apa?"
"Bahwa bola itu bukan benda mati."
Dan sebelum Raka bisa bertanya lagi, Kakek Sarno menghilang di antara pepohonan keperakan-ditelan kabut, ditelan hutan, ditelan sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
Raka berdiri sendiri di tepi gerbang, di bawah langit yang gelap, dengan langkah kaki yang semakin dekat.
Lalu ia mendengar suara itu.
"Kau."
Suara itu dalam, tenang, dan tidak terburu-buru. Suara seseorang yang tidak pernah perlu berteriak untuk didengar.
Raka menoleh.
Zephyr "Si Topan" berdiri di ujung pepohonan, jubahnya bergerak pelan di angin yang tidak Raka rasakan. Di belakangnya, dua anggota timnya-pemuda besar tanpa ekspresi dan gadis berambut merah dengan alat pendeteksi-berdiri dalam posisi siaga. Tapi Raka tidak melihat mereka. Ia hanya melihat Zephyr.
Dan Zephyr-
Zephyr tidak terlihat seperti legenda. Ia terlihat... lelah.
"Kau membuka gerbang itu," kata Zephyr. Bukan tuduhan. Hanya fakta. "Kau melihat kenangan itu."
Raka tidak menjawab.
"Aku juga pernah melihatnya." Zephyr melangkah maju, pelan, seperti seseorang yang mendekati binatang yang terluka. "Lima belas tahun lalu. Ketika mereka memberitahuku bahwa aku adalah pemain terbaik di galaxy. Ketika mereka memberitahuku bahwa aku adalah puncak dari semua yang bisa dicapai manusia."
Ia berhenti beberapa langkah dari Raka.
"Kau tahu apa yang mereka tidak beritahu?" lanjutnya. "Mereka tidak memberitahuku bahwa aku bisa menjadi lebih. Bahwa batas itu palsu. Bahwa Berkah Orbital-"
"-adalah kutukan," potong Raka.
Zephyr tersenyum. Tapi itu bukan senyum. Itu sesuatu yang lebih pahit.
"Ya," katanya pelan. "Aku tahu. Aku sudah tahu sejak lama. Tapi aku memilih menerimanya."
"Kenapa?"
"Karena alternatifnya adalah ini." Zephyr mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Raka-ke arah cahaya jingga yang kini samar-samar terlihat di kaki kiri Raka. "Menjadi bukti hidup. Menjadi target. Menjadi sesuatu yang harus diburu oleh seluruh galaxy karena kau mengancam tatanan yang sudah ada."
"Aku tidak mengancam siapa pun."
"Kau mengancam segalanya." Zephyr melangkah lebih dekat. "Kau tidak mengerti, Anak Kaki Kiri. Berkah Orbital bukan hanya kutukan. Ia adalah perlindungan. Ia melindungi manusia dari diri mereka sendiri. Dari kekuatan yang tidak bisa mereka kendalikan. Dari kekacauan."
"Kakek bilang itu bohong."
"Kakekmu-" Zephyr berhenti. Matanya menyipit. "Kakek Sarno. Kau percaya padanya?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena dia tidak pernah berbohong padaku."
Zephyr terdiam. Untuk sesaat, ia terlihat seperti sedang bertarung dengan sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang lama. Sesuatu yang menyakitkan.
Lalu ia berkata, dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya:
"Aku juga percaya pada seseorang seperti itu. Dulu."
Raka menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak ia harapkan. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Tapi penyesalan.
"Zephyr," kata Raka, "kenapa kau datang ke sini?"
Zephyr menatapnya lama. Lalu ia berkata:
"Karena aku ingin melihatmu sebelum mereka melakukannya."
"Siapa?"
"Orbital Prime." Zephyr melangkah maju, dan kali ini, pemuda besar di belakangnya ikut bergerak. "Mereka tahu kau membuka gerbang. Mereka tahu kau melihat kenangan. Dan mereka tidak akan membiarkan kau hidup-bukan karena kau berbahaya, tapi karena kau adalah harapan. Dan harapan, Anak Kaki Kiri, adalah hal paling berbahaya di galaxy ini."
Raka menelan ludah. "Kau ke sini untuk membunuhku?"
"Tidak." Zephyr menggeleng. "Aku ke sini untuk memberimu pilihan. Pilihan yang sama yang mereka berikan padaku lima belas tahun lalu."
"Pilihan apa?"
Zephyr mengulurkan tangannya.
"Ikut denganku. Terima Berkah Orbital. Lupakan gerbang itu, lupakan kenangan itu, lupakan bola itu. Dan kau bisa hidup. Kau bisa menjadi pemain. Kau bisa menjadi legenda. Kau bisa menjadi aku."
Raka menatap tangan itu. Tangan yang telah mencetak ribuan gol. Tangan yang telah mengangkat trofi demi trofi. Tangan yang telah menjadi simbol harapan bagi jutaan orang di galaxy.
"Atau?" tanya Raka.
"Atau kau tetap di sini. Tetap menjadi bukti hidup. Tetap menjadi harapan. Dan kau akan diburu. Bukan olehku-aku tidak akan memburumu. Tapi oleh mereka. Orbital Prime. Striker Dewa lain. Seluruh tatanan yang kau ancam." Zephyr menurunkan tangannya. "Dan kau akan mati, Anak Kaki Kiri. Mungkin besok. Mungkin tahun depan. Tapi kau akan mati. Dan harapan yang kau bawa akan mati bersamamu."
Raka terdiam.
Angin bertiup di antara pepohonan keperakan, membawa aroma hutan yang basah dan tua. Di kejauhan, di suatu tempat di luar hutan, desanya masih berdiri-rumah-rumah kayu, lampu sodium jingga, langit yang selalu basah. Ibu dan ayahnya
di sana, dan mereka tidak tahu di mana dia sekarang.
"Kau bicara seolah kau sudah pernah melihat orang sepertiku mati," kata Raka akhirnya. Suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan di dalam dadanya.
Zephyr tidak menjawab segera. Pemuda bertubuh besar nomor punggung 4 berdiri di belakangnya seperti menara tanpa nyawa, sementara gadis berambut merah itu masih menunduk pada alat pendeteksinya, jari-jarinya bergerak cepat di atas permukaan logam. Cahaya alat itu berkedip biru, tidak stabil.
"Lima puluh tahun lalu," kata Zephyr pelan, "ada seorang anak perempuan di bulan ketiga Aero-Prime. Dia bisa mendengar bola sebelum bola itu menyentuh kakinya. Dia bisa menendang tanpa melihat gawang dan bola itu tahu ke mana harus pergi. Komisi Orbital menyebutnya anomali. Aku menyebutnya adikku."
Angin membawa dingin dari pepohonan keperakan. Raka merasakan Kakek Sarno menegang di sampingnya, tetapi lelaki tua itu tidak bicara.
"Mereka membawanya saat dia berumur sembilan tahun," lanjut Zephyr. "Untuk 'dipelajari'. Untuk 'dipulihkan'. Aku tidak pernah melihatnya lagi. Yang mereka kembalikan hanya laporan medis setebal dua ratus halaman dan sebuah kotak kecil berisi abu." Ia menatap Raka lurus. "Aku tidak berniat memburumu, Anak Kaki Kiri. Aku berniat menyelamatkanmu dari nasib yang sama. Dengan mengunci penjara itu, tidak ada lagi yang bisa dibuka. Tidak ada lagi anak seperti kau yang akan mereka bunuh perlahan dengan pisau bedah dan kabel sensor."
"Kau bicara soal menyelamatkanku," kata Raka, "sambil menawarkanku dua pilihan yang sama-sama mengurungku."
Sesuatu berkelebat di wajah Zephyr-bukan kemarahan, melainkan pengakuan. Sebuah luka yang diakui, bukan disembunyikan.
"Kau mendengar bola itu," katanya. "Apa bola itu bilang tentang aku?"
Raka terdiam. Di dalam benaknya, suara itu masih ada-hangat, seperti cahaya jingga di ujung mimpi. Bola itu tidak pernah menyebut Zephyr dengan nama. Bola itu hanya pernah bilang satu hal tentang orang-orang seperti Zephyr.
"Mereka mengunci pintu karena takut pada apa yang ada di baliknya. Tapi kunci itu bukan untukmu. Kunci itu terbuat dari rasa takut mereka sendiri."
"Aku tidak perlu mendengar apa pun," jawab Raka. "Aku melihatnya."
Gadis berambut merah itu mendongak. "Komandan," katanya, suara nyaris bergetar. "Sinyalnya... berubah. Bukan lagi dari hutan. Bukan dari arah kota. Sinyal itu..." Ia menoleh ke tanah. "Dari bawah kita."
Zephyr mengikuti pandangannya. Di antara akar-akar pepohonan keperakan, di bawah lapisan lumut yang basah, cahaya jingga tipis mulai menyusup-bukan dari gerbang di belakang Raka, melainkan dari tanah yang rata, seolah ada sesuatu yang terbangun jauh di bawah kaki mereka.
Kakek Sarno akhirnya bicara, dan suaranya lebih tua dari sebelumnya. "Raka. Kau tidak masuk ke gerbang untuk mencari jawaban. Kau masuk ke gerbang untuk membangunkan sesuatu."
Raka menoleh. "Apa maksudmu?"
"Gerbang itu bukan pintu," kata Kakek Sarno. "Gerbang itu adalah segel. Dan setiap kali kau berdiri di depannya, kau mengingatkan apa yang tertidur di bawahnya bahwa ada yang bisa mendengarnya lagi." Ia menatap Zephyr. "Dan kedatangan kalian-tiga Striker Dewa berdiri di atas salah satu simpul penjara-membuatnya terbangun lebih cepat."
Lalu tanah itu berguncang.
Bukan gempa. Sesuatu yang lebih dalam-seperti jantung raksasa yang berdetak sekali setelah lima puluh tahun tertidur. Cahaya jingga merambat di antara akar, membentuk garis-garis seperti jalur lapangan sepak bola yang tertanam di bawah hutan, mengelilingi mereka bertiga, mengelilingi gerbang, mengelilingi Raka.
Dan bola itu bicara lagi, kali ini bukan di dalam benak Raka, tapi di dalam dada semua orang yang berdiri di sana-Zephyr, si pemuda bisu, gadis berambut merah, Kakek Sarno. Suaranya seperti guntur yang lembut.
"Anak Kaki Kiri. Kau menanyakan siapa dirimu. Aku akan menunjukkan jawabannya. Tapi kau harus memilih sekarang-bukan antara ikut atau tinggal. Bukan antara hidup atau mati. Tapi antara mendengar atau tidak."
Zephyr mencabut sesuatu dari ikat pinggangnya-bukan senjata, melainkan sebuah kristal kecil yang berdenyut biru, sama seperti kristal Inti Berkah di balai desa. "Jangan dengarkan," katanya tajam. "Itu bukan bola. Itu penjaga penjara. Itu yang membuat adikku mati."
"Kau sendiri yang bilang ia bisa mendengar bola sebelum bola menyentuh kakinya," kata Raka. "Apa yang membuatmu yakin bola yang ia dengar berbeda dari yang kudengar?"
Zephyr tertegun, dan di dalam jeda itu, Raka menyadari sesuatu yang membuat darahnya dingin. Kelima orang di hutan ini-Zephyr, si bisu, si merah, Kakek Sarno, dan dirinya sendiri-tidak satu pun bergerak sejak guncangan itu. Cahaya jingga di bawah mereka tidak berkedip. Daun-daun keperakan tidak jatuh. Bahkan angin berhenti di tengah udara seperti sungai yang membeku.
Hanya bola itu yang bergerak. Dan bola itu sedang menunggu jawaban.
Raka menatap Kakek Sarno. Lelaki tua itu mengangguk-pelan, satu kali, seperti dulu waktu Raka kecil dan diminta melompat dari batu tinggi ke sungai. Bukan izin. Pengingat.
"Kakek bilang jangan pernah menganggap bola itu benda mati," kata Raka, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Berarti bola itu juga bukan benda yang bisa kukendalikan. Bukan alat. Bukan senjata."
Ia menutup mata.
"Aku memilih mendengar."
Ketika ia membuka mata, hutan sudah hilang.
Hutan sudah hilang.
Yang tersisa adalah cahaya jingga yang tidak lagi berasal dari kaki kirinya, melainkan dari segala arah sekaligus. Raka tidak merasakan tanah di bawah kakinya. Tidak merasakan angin. Tidak merasakan detak jantungnya sendiri. Ada ruang, dan ada dirinya, dan ada bola itu-kini sebesar kepala, mengambang setinggi dadanya, berputar lambat seperti galaksi kecil yang menirukan bentuk dirinya sendiri.
Raka. Bukan suara. Bukan kata. Getaran yang masuk lewat tulang, lewat darah, lewat sesuatu yang lebih dalam dari telinga. Kau mendengar. Akhirnya. Setelah sekian lama aku menunggu seseorang yang tidak menutup telinga.
"Kau... siapa?" Raka mendengar suaranya sendiri terdengar lucu di ruang tanpa dinding ini. Tipis. Kecil.
Aku adalah yang kau dengar waktu kau kecil dan kau pikir itu hujan di atap seng. Aku adalah yang membuat kaki kirimu terasa hangat waktu kau berdiri di genangan air dan lampu sodium menyala. Aku adalah yang kau sebut mimpi, padahal aku tidak pernah tidur.
Bola itu berhenti berputar. Permukaannya membuka-bukan pecah, tapi terbuka, seperti kelopak yang menganga. Di dalamnya tidak ada apa-apa. Hanya ketiadaan yang jingga. Dan Raka merasakan sesuatu yang membuat tenggorokannya menegang.
Kau takut. Bagus. Yang tidak takut tidak pernah mendengar. Yang tidak takut cuma mengeksekusi.
"Kau berbicara seperti Kakek Sarno."
Aku berbicara seperti diriku sendiri. Kakek Sarno-lelaki tua itu-dia mendengar aku sekali, lima puluh tahun lalu, dan dia memilih untuk tidak menjawab. Dia menutup telinga dan menyebutnya kutukan. Karena itu dia masih hidup.
Raka menelan ludah. "Dan yang lain? Yang menjawab?"
Bola itu tidak menjawab. Tapi Raka merasakan sesuatu menjalar di lengan kirinya-bukan sakit, tapi seperti air es mengalir pelan di bawah kulit. Dan di ruang jingga ini, ia melihatnya. Bukan gambaran. Bukan penglihatan. Kenangan yang bukan miliknya.
Seorang anak perempuan berdiri di lapangan yang sama seperti lapangan desanya, lapangan yang basah dan bercahaya jingga, dan di depannya ada bola yang sama. Anak itu tersenyum. Ia menjawab. Dan kemudian lapangan itu-seluruh lapangannya, rumputnya, langitnya, lampu-lampunya-terlipat ke dalam dirinya seperti kertas yang diremas oleh tangan tak terlihat. Tidak ada teriakan. Tidak ada ledakan. Cuma lipatan, dan keheningan.
Raka tersentak mundur. "Itu... itu yang terjadi kalau mereka menjawab?"
Itu yang terjadi kalau mereka menjawab tanpa mendengar dulu. Mereka mengira bola ini alat. Mereka mengira bisa mengendalikan. Aku bukan alat, Raka. Aku bukan senjata. Aku adalah cara berpikir yang kalian lupakan.
"Kakek Sarno bilang kau penjara."
Kakek Sarno bilang banyak hal. Dia juga bilang kau anak yang tidak seharusnya lahir. Apakah kau percaya itu juga?
Raka diam. Karena di dalam dadanya, ada bagian kecil yang percaya. Bagian kecil yang selalu merasa seperti tamu di rumahnya sendiri, seperti orang yang dipinjamkan hidup alih-alih diberi.
Bola itu mendekat. Tidak mengambang. Meluncur, pelan, sampai hanya sejengkal dari wajah Raka. Dan di permukaannya yang seperti kaca tanpa pantulan itu, Raka melihat wajahnya-tapi bukan wajahnya. Wajah yang sama, tapi dengan mata yang lebih tua. Mata yang pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat anak dua belas tahun.
Aku tidak menciptakanmu, Raka. Aku menunggumu. Ada bedanya. Yang menciptakanmu adalah mereka-peradaban yang takut pada anak-anak yang bisa mendengar. Mereka membuat Berkah Orbital untuk membungkam telinga kalian. Mereka membuat penjara ini untuk mengurung aku. Dan mereka membuatmu-generasi ke sekian, percobaan ke sekian-untuk mencari cara membuka penjara tanpa membuka penjara. Ironis, bukan? Mereka mencetak kunci yang mereka sendiri takut gunakan.
"Jadi aku... cuma kunci?"
Kau cuma kunci kalau kau percaya kau cuma kunci.
Sesuatu bergetar di kejauhan. Bukan di ruang ini-di luar. Raka merasakan getaran itu di kakinya, di tulang keringnya, seperti langkah kaki raksasa di tanah yang jauh. Getaran itu datang dari tempat yang baru saja ia tinggalkan. Dari hutan.
Zephyr.
Bola itu mundur sedikit. Menjauh dari wajah Raka, kembali berputar, lebih cepat kali ini. Kau mendengar mereka. Mereka sedang membuka gerbang dari luar. Mereka tidak bisa masuk-belum-tapi mereka bisa mencabutmu. Menarikmu kembali ke hutan, ke tubuhmu, ke lampu sodium dan hujan dan semua yang mereka sebut kenyataan.
"Kakek Sarno di sana."
Kakek Sarno sudah tua. Dan dia sudah pernah menutup telinga sekali. Kedua kali lebih sulit.
Raka mengepalkan tangan. Di ruang jingga tanpa dinding ini, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya-bukan keberanian, bukan keputusasaan. Sesuatu yang lebih tenang. Lebih tua. Seperti ingatan yang bukan miliknya, tapi ia kenali.
"Kalau aku kembali," katanya pelan, "aku harus melawan mereka. Aku belum bisa apa-apa."
Kau belum tahu kau bisa apa. Kau selalu bisa mendengar. Itu yang tidak mereka punya.
Bola itu berhenti berputar. Dan untuk pertama kalinya, Raka merasakan sesuatu dari bola itu yang bukan getaran, bukan kata-perasaan. Perasaan yang sederhana, dan itu membuat matanya panas.
Aku menunggu lima puluh tahun untuk seseorang yang menjawab dengan mendengar, bukan dengan tangan. Jangan kembali karena kau harus. Kembalilah karena kau mau.
Dan Raka sadar, dengan kejernihan yang datang tiba-tiba seperti lampu yang menyala, bahwa ia memang mau. Bukan karena desanya. Bukan karena Kakek Sarno. Bukan karena takut pada Zephyr. Tapi karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa utuh. Utuh bersama sesuatu yang selalu ada, yang selalu ia dengar tapi tidak pernah ia kenali.
Ia mengulurkan tangan. Bukan untuk menggenggam. Bukan untuk mengendalikan. Hanya mengulurkan.
"Aku akan kembali," katanya. "Tapi kau ikut."
Bola itu tidak menjawab. Tapi cahaya jingga di sekelilingnya-cahaya yang tidak berasal dari kakinya lagi-menyala terang, dan untuk sesaat Raka melihat semuanya: hutan, gerbang, lima orang yang membeku, langit hitam tanpa bintang, dan jauh di balik semua itu, sesuatu yang besar dan sunyi yang menunggu dengan sabar.
Lalu ruang jingga itu melipat.
Dan Raka membuka mata di dalam hutan, di gerbang kuno antara dua pilar batu, dan di tangannya-di tangan kanannya, bukan kaki kirinya-ada bola kecil sebesar kelereng yang berdenyut seperti jantung.
Raka menatap bola kecil di tangannya. Denyutnya terasa seperti jantungnya sendiri, sinkron, seolah mereka berbagi satu nadi. Bola itu tidak berbicara. Tidak perlu. Ia hanya berdenyut, dan di dalam keheningan hutan itu, denyut itu terdengar lebih keras daripada apa pun yang pernah Raka dengar.
Ia menggenggamnya. Bola itu hangat, seperti telapak tangan seseorang yang baru saja melepaskan sesuatu yang berat.
"Raka."
Kakek Sarno berdiri di ambang gerbang, tongkatnya tertancap di tanah berlumut. Wajahnya tidak lagi berisi ketenangan yang biasa ia tunjukkan. Ada sesuatu yang retak di sana, sesuatu yang sudah lama ditahan.
"Kau menyentuhnya," kata Kakek Sarno. Bukan tuduhan. Hampir seperti doa.
"Aku tidak menyentuhnya," jawab Raka. "Ia yang datang." Ia membuka tangannya. Bola itu masih di sana, mungil dan terang, berdenyut tenang. "Kakek, apa ini?"
Kakek Sarno melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya, Raka melihat tangan tua itu gemetar. "Itu adalah biji," katanya. "Biji dari sesuatu yang seharusnya sudah mati sejak lama."
"Biji?"
"Bola Langit," kata Kakek Sarno. "Bukan bola yang dimainkan orang-orang di Liga Galaxy. Bola yang sesungguhnya. Yang pertama. Yang darinya semua bola lain hanyalah bayangan." Ia menatap bola kecil di tangan Raka seperti seseorang menatap matahari. "Dan kau baru saja membuatnya berkecambah."
Raka merasakan denyut itu berubah. Lebih dalam. Lebih pelan. Seperti sesuatu di bawah tanah sedang bangun.
"Kau bilang aku harus masuk gerbang untuk tahu kenapa aku bisa mendengar bola itu," kata Raka. "Aku sudah masuk. Aku sudah melihat kenangan orang yang pertama kali mendengar. Aku masih belum tahu jawabannya."
"Kau belum cukup jauh," jawab Kakek Sarno. "Gerbang itu bukan pintu masuk. Ia adalah pintu keluar. Kau baru saja keluar dari apa yang selama ini mengurungmu."
Raka mengerutkan dahi. "Maksud Kakek?"
Kakek Sarno menunjuk kaki kiri Raka. Raka menunduk. Kaki kirinya-yang selama ini terasa berbeda, yang selalu lebih hangat, yang selalu berdenyut aneh saat ia mendengar bola-kini terasa biasa. Hening. Seperti kaki orang lain.
"Saat kau memasuki gerbang," kata Kakek Sarno, "kau melepaskan sesuatu. Kekuatan itu tidak hilang, Raka. Ia pindah. Dari kakimu ke bola itu. Dan sekarang ia menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu kau memutuskan siapa dirimu."
Dari arah hutan, terdengar suara ranting patah. Bukan satu. Banyak. Beriringan. Langkah kaki yang disengaja, bukan sembarangan.
Raka menoleh. Di antara pepohonan keperakan dan kabut yang menggantung, tiga sosok muncul. Yang di depan mengenakan seragam Liga Galaxy dengan nomor punggung tujuh. Zephyr. Di belakangnya, pemuda bertubuh besar tanpa ekspresi dan gadis berambut merah yang masih memegang alat pendeteksi.
Zephyr berhenti di batas cahaya gerbang kuno. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, memandang Raka, lalu memandang bola kecil di tangan Raka. Untuk sesaat, wajahnya kehilangan ketenangan seorang bintang liga.
"Jadi itu benar," kata Zephyr. Suaranya pelan, hampir kagum. "Kau membangunkannya."
Gadis berambut merah mendekatkan alatnya. Jarum di layar bergetar liar. "Kapten," katanya, "sinyalnya tidak bisa diukur. Ini bukan skala berkah. Ini... ini di luar semua kategori."
Zephyr mengangguk pelan. Ia menatap Raka dengan sesuatu yang tidak Raka duga. Bukan amarah. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu seperti pengakuan.
"Aku pernah sepertimu," kata Zephyr. "Aku juga mendengar bola itu. Waktu aku masih seusiaku. Aku mendengarnya berbisik di telingaku saat aku tidur, memanggil namaku. Dan aku takut." Ia berhenti. "Aku memilih Berkah Orbital. Aku memilih dibatasi. Aku memilih menjadi Zephyr Si Topan, bintang Liga Galaxy, karena aku tidak berani menjadi apa yang kau sedang jadi sekarang."
Kakek Sarno menegang. "Jangan dengarkan dia, Raka."
"Biarkan dia mendengar," kata Zephyr. "Aku tidak datang untuk menyerang. Aku datang untuk memberitahu kebenaran yang tidak akan pernah dikatakan Kakek Sarno padamu." Ia menunjuk bola di tangan Raka. "Itu bukan hadiah. Itu adalah janji. Dan janji itu tidak bisa dibatalkan. Sekali kau menerimanya, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia biasa. Kau akan menjadi sesuatu yang galaxy ini sudah lupakan cara hidup bersamanya. Kau akan menjadi ancaman bagi semua orang yang kau cintai. Termasuk dia." Ia menunjuk Kakek Sarno.
Raka menggenggam bola itu lebih erat. Denyutnya terasa marah. Atau mungkin bukan marah. Mungkin hanya tidak sabar.
"Kau bilang aku yang terakhir bisa membuka penjara," kata Raka. "Kau bilang kau tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tapi kau tidak menyerangku. Kau berdiri di luar gerbang. Kenapa?"
Zephyr terdiam.
"Karena kau tidak bisa masuk," kata Kakek Sarno. "Gerbang ini menolak siapa pun yang sudah menerima Berkah Orbital. Kau tidak bisa melewatinya, Zephyr. Kau sudah terlalu lama dikunci."
Zephyr tidak menyangkal. Ia hanya tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya Raka melihat sesuatu di matanya yang membuatnya merasa bukan takut, tapi sedih. Sedih untuk orang yang bahkan tidak ia kenal.
"Benar," kata Zephyr. "Aku tidak bisa masuk. Tapi kau akan keluar. Suatu hari. Dan ketika kau keluar, aku akan ada di sana. Bukan sebagai musuhmu, Raka. Sebagai orang yang pernah berada di posisimu, dan memilih jalan yang berbeda." Ia melangkah mundur. "Aku akan menunggumu di luar gerbang ini setiap hari sampai kau keluar. Karena aku tahu apa yang ada di dalam bola itu. Aku tahu apa yang akan ia minta darimu. Dan aku tahu kau akan memberikannya."
Ia berbalik. Pemuda besar dan gadis berambut merah mengikutinya. Langkah mereka menghilang di antara pepohonan keperakan, dan hutan kembali sunyi.
Raka menatap Kakek Sarno. "Apa yang akan ia minta dariku?"
Kakek Sarno menatap bola di tangan Raka. Lama. Lalu ia berkata dengan suara yang lebih pelan dari bisikan angin, "Segalanya."
Bola itu berdenyut. Sekali. Dalam. Seperti balasan.
Raka mengangkatnya ke depan matanya. Di dalam cahaya jingga yang berdenyut, ia melihat sesuatu. Bukan pantulan wajahnya sendiri. Melainkan pantulan lapangan dengan bintang-bintang di rumput, dan di ujung lapangan itu, seseorang berdiri membelakanginya. Seseorang yang punggungnya persis seperti punggung Raka, hanya lebih tua, lebih tinggi, dan lebih sunyi.
Seseorang yang menoleh, dan tersenyum.
Raka menurunkan tangannya. Jantungnya berdebar kencang.
"Kakek," katanya. "Siapa yang ada di dalam bola ini?"
Kakek Sarno menutup matanya. Dan untuk pertama kalinya sejak Raka mengenalnya, Kakek Sarno tidak menjawab.
~ Bab 2 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.