Bola Langit: Legenda Kaki Kiri
Bab 1
Bola Langit: Legenda Kaki Kiri
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Malam di Terra-Kita selalu berwarna jingga.
Bukan karena matahari-matahari sudah lama mati di planet pinggiran Galaxy Vaelora ini. Jingga itu datang dari lampu-lampu sodium tua yang berkedip di sepanjang jalanan berbatu, menerangi rumah-rumah kayu yang miring, dan memantul di genangan air hujan yang tak pernah benar-benar kering.
Di ujung jalan paling selatan, di sebuah rumah yang atapnya bocor di tiga tempat, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun duduk di lantai kayu dengan kaki telanjang. Matanya menatap layar proyeksi tua yang bergetar-siaran Liga Galaxy, kualitas gambar buruk, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar.
Di layar, seorang pemain melesat melewati tiga bek seperti angin melewati celah batu. Bola menempel di kakinya seolah diikat takdir. Stadion berteriak. Komentator berteriak. Seluruh galaxy berteriak.
"Zephyr 'Si Topan' kembali menunjukkan mengapa ia disebut Striker Dewa!" suara komentator pecah. "Kecepatan Orbital-nya mencapai level yang belum pernah kita lihat sejak era Tim Kuno! Planet Aero-Prime tidak salah menjadikannya kapten!"
Anak itu menggenggam lututnya. Kukunya menancap di kulit.
"Raka."
Suara itu pelan, serak, seperti kayu tua yang bergesek. Raka menoleh. Di ambang pintu, seorang lelaki tua berdiri dengan tongkat kayu dan senyum yang lebih tua dari galaxy itu sendiri.
Kakek Sarno-tetangganya, satu-satunya orang di desa yang tidak pernah mengusirnya ketika ia menendang bola ke jendela mereka.
"Kau masih bangun," kata Kakek Sarno. "Sudah lewat tengah malam."
"Aku sedang belajar, Kek." Raka menunjuk layar. "Lihat caranya bergerak. Bola itu seperti... seperti dia tahu ke mana Zephyr akan pergi sebelum Zephyr sendiri tahu."
Kakek Sarno masuk dan duduk di kursi goyang yang berderit. Ia menatap layar, dan untuk sesaat-hanya sesaat-matanya berubah. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang gelap dan dalam, seperti lorong yang tak pernah selesai.
"Kau melihat itu, ya?" gumam Kakek Sarno.
"Semua orang melihatnya, Kek. Dia Striker Dewa."
"Bukan." Kakek Sarno menggeleng. "Aku bukan bertanya apakah kau melihat Zephyr. Aku bertanya apakah kau melihat bolanya."
Raka terdiam.
Di layar, siaran berganti ke sorotan pertandingan lain. Tapi Raka tidak lagi menonton. Ia menatap Kakek Sarno dengan alis berkerut.
"Aku... aku tidak mengerti."
Kakek Sarno tersenyum. Senyum yang aneh-seperti seseorang yang tahu jawaban dari teka-teki yang bahkan belum selesai ditulis.
"Besok," kata lelaki tua itu sambil berdiri, "kau akan menerima Berkah Orbitalmu. Semua anak di galaxy ini menerimanya pada usia dua belas. Itu tradisi. Itu hukum. Itu..."
Ia berhenti, dan suaranya turun menjadi bisikan.
"...yang mereka ingin kau percaya."
"Yang mereka ingin aku percaya?"
Kakek Sarno menepuk bahu Raka. Tangannya keras dan hangat, penuh kapalan yang tidak berasal dari pekerjaan kebun.
"Tidurlah, Anak Kaki Kiri."
"Kakek, namaku Raka."
"Aku tahu." Kakek Sarno berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Tapi kau akan menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah lama tidak dilihat galaxy ini. Dan ketika saatnya tiba..."
Ia menoleh, dan matanya berkilat di bawah lampu jingga.
"...jangan pernah percaya bahwa bola itu benda mati."
Pintu berderit tertutup.
Raka duduk sendirian dalam gelap, jantungnya berdebar aneh. Di luar, hujan mulai turun lagi-gerimis halus yang mengetuk atap bocor seperti jari-jari tak terlihat.
Ia menatap tangannya. Kaki kirinya-kaki yang selalu ia gunakan untuk menendang, kaki yang membuat anak-anak desa menjauhinya karena tendangannya 'terlalu aneh', 'terlalu keras', 'terlalu... hidup.'
Bola itu benda mati.
Ia selalu percaya itu. Semua orang percaya itu.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Raka merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Sesuatu yang bukan detak jantung. Sesuatu yang bukan napas.
Sesuatu yang menunggu.
Pagi di Terra-Kita datang seperti tamu yang tidak diundang-mendadak, berisik, dan membawa bau tanah basah serta suara ayam yang berkelahi.
Raka sudah bangun sebelum matahari. Ia selalu begitu. Bukan karena disiplin-ia tidak punya itu-tapi karena tubuhnya tidak pernah bisa diam ketika ada sesuatu yang penting.
Hari ini penting.
Hari ini ia akan menerima Berkah Orbital.
Ia berdiri di depan cermin retak di kamar mandi sempit, menatap pantulan dirinya: anak kurus dengan rambut hitam acak-acakan, mata cokelat yang terlalu besar untuk wajahnya, dan kaki kiri yang selalu terasa lebih berat dari kaki kanan.
Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang membuatnya terlihat seperti calon legenda.
Tapi malam tadi, ia bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah lapangan yang luasnya tak terbatas. Bintang-bintang bukan di langit-mereka ada di rumput, bersinar di antara helai-helai hijau. Dan di tengah lapangan itu, sebuah bola menunggu.
Bola itu tidak biasa. Warnanya bukan putih-hitam. Warnanya... berubah. Seperti minyak di permukaan air. Seperti galaxy yang dipadatkan menjadi bentuk bulat.
Dan bola itu berbicara.
Bukan dengan suara. Tapi dengan perasaan. Dengan getaran yang merambat dari kaki kirinya ke tulang belakang, ke tengkuk, ke otak.
'Akhirnya,' kata bola itu. 'Kau datang.'
Raka terbangun dengan keringat dingin dan jantung yang berlari kencang.
Sekarang, di depan cermin, ia menatap kakinya. Kaki kiri. Yang selalu terasa berbeda.
"Hari ini," bisiknya pada dirinya sendiri. "Hari ini aku akan tahu."
Upacara Berkah Orbital diadakan di balai desa-sebuah bangunan kayu besar yang atapnya hampir runtuh dan dindingnya penuh ukiran nama-nama anak yang pernah menerima berkah di sini.
Raka berdiri di barisan bersama tujuh anak lain. Mereka semua gugup. Mereka semua berbisik tentang berkah apa yang akan mereka dapat.
"Aku berharap bisa berlari secepat meteor," kata Tono, anak tukang roti.
"Aku berharap bisa membengkokkan lintasan bola seperti cahaya melewati gravitasi," kata Mira, anak penjahit.
Raka diam. Ia tidak berharap apa-apa.
Ia hanya... mendengarkan.
Dan di dalam dirinya, sesuatu menjawab.
'Kau tidak perlu berharap,' bisik suara itu-bukan dari telinganya, tapi dari tulangnya. 'Kau hanya perlu mengingat.'
Pendeta Orbital-seorang lelaki tua dengan jubah biru yang lusuh-berdiri di depan mereka. Di tangannya, sebuah kristal yang berdenyut dengan cahaya lemah. Kristal itu disebut Inti Berkah, pecahan dari sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, jauh lebih misterius.
"Anak-anak Terra-Kita," kata pendeta itu dengan suara bergetar. "Hari ini, kalian akan menerima anugerah dari Galaxy Vaelora. Berkah Orbital akan mengikat jiwa kalian pada kemampuan yang telah ditulis dalam bintang-bintang. Kemampuan ini akan menentukan jalan kalian-planet mana yang akan merekrut kalian, tim mana yang akan membayar kalian, dan seberapa jauh nama kalian akan bergema di antara bintang-bintang."
Ia mengangkat kristal itu.
"Cobalah untuk tenang. Berkah tidak bisa dipaksa. Ia datang ketika jiwa kalian siap."
Satu per satu, anak-anak maju. Kristal itu disentuhkan ke dahi mereka, dan cahaya berpindah-merah, biru, hijau, ungu-masing-masing berbeda, masing-masing unik.
Tono mendapat berkah kecepatan. Kakinya bergetar, dan tiba-tiba ia sudah berada di ujung ruangan, terengah-engah, matanya terbelalak.
Mira mendapat berkah lengkungan. Bola kecil yang dilempar pendeta membelok di udara, menari, lalu jatuh tepat di tangannya.
Lalu giliran Raka.
Ia melangkah maju. Kakinya terasa berat-bukan karena gugup, tapi karena... sesuatu. Sesuatu yang menunggu.
Pendeta itu menempelkan kristal ke dahinya.
Dan dunia meledak.
Raka tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
Yang ia ingat: cahaya. Bukan cahaya dari kristal. Cahaya dari dalam dirinya. Cahaya yang keluar dari kaki kirinya, membakar, meraung, seperti bintang yang lahir dari tulang.
Dan suara. Suara yang bukan suara. Getaran yang bukan getaran.
'Akhirnya,' kata bola itu-bola yang tidak ada di ruangan itu, bola yang hanya ada dalam benaknya. 'Akhirnya kau mengingat.'
Raka terjatuh. Lututnya menghantam lantai kayu. Darah menetes dari hidungnya.
Anak-anak lain mundur, ketakutan. Pendeta itu menjatuhkan kristal, dan kristal itu pecah di lantai, pecahannya berserakan seperti bintang yang mati.
"Tidak mungkin," bisik pendeta itu. Wajahnya pucat. "Tidak mungkin... Berkah itu... Berkah itu sudah hilang..."
Raka menatap tangannya. Cahaya masih berpendar di kulitnya-jingga, seperti lampu-lampu jalanan di desanya. Jingga, seperti matahari yang sudah lama mati.
"Kakek..." bisiknya.
Di ambang pintu balai desa, Kakek Sarno berdiri. Wajahnya tidak terkejut.
Wajahnya... sedih.
"Bangun, Anak Kaki Kiri," kata lelaki tua itu pelan. "Kau sudah menarik perhatian yang salah."
Di luar, langit Terra-Kita berubah warna.
Bukan jingga. Bukan biru.
Hitam.
Dan di antara awan-awan yang berputar seperti pusaran, sebuah cahaya turun-bukan cahaya bintang, bukan cahaya lampu. Cahaya yang tajam, terarah, seperti mata yang menatap dari atas.
Raka keluar dari balai desa, kakinya masih gemetar, hidungnya masih berdarah. Ia menatap langit, dan langit menatapnya kembali.
"Kakek," katanya, suaranya serak. "Apa itu?"
Kakek Sarno berdiri di sampingnya. Ia tidak menatap langit. Ia menatap Raka.
"Itu," kata lelaki tua itu, "adalah Perhatian. Dan kau baru saja mengirim sinyal ke seluruh galaxy bahwa kau... berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Kakek Sarno tersenyum-senyum yang sama seperti malam sebelumnya. Senyum yang tahu terlalu banyak.
"Kau tidak menerima Berkah Orbital, Raka." Ia menepuk bahu anak itu. "Kau mengingatnya. Dan itu... itu jauh lebih berbahaya."
Di kejauhan, di antara bintang-bintang, sesuatu bergerak.
Sesuatu yang besar. Sesuatu yang sudah lama menunggu.
Dan di Planet Aero-Prime, di sebuah menara kaca yang menjulang ke langit, seorang pemuda dengan mata sebiru badai berhenti dari latihannya.
Zephyr 'Si Topan' menatap layar di depannya. Layar itu menampilkan data-data yang tidak seharusnya ada. Data tentang seorang anak dari planet pinggiran. Anak yang baru saja mengirim sinyal energi yang tidak pernah terdeteksi selama lima puluh tahun.
"Menarik," bisik Zephyr. Senyumnya tipis dan dingin. "Sangat menarik."
Ia menoleh ke pelatihnya.
"Siapkan kapal," katanya. "Aku ingin melihat anak ini sendiri."
Malam itu, Raka bermimpi lagi.
Ia berdiri di lapangan yang sama-lapangan dengan bintang-bintang di rumput. Bola itu ada di depannya, berputar pelan, warnanya berubah-ubah seperti galaxy yang dipadatkan.
'Kau datang lagi,' kata bola itu.
'Apa aku ini?' tanya Raka.
Bola itu berhenti berputar.
'Kau,' kata bola itu, 'adalah alasan aku ada.'
'Aku tidak mengerti.'
'Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya perlu menendang.'
Raka menatap bola itu. Menatap lapangan itu. Menatap bintang-bintang yang bersinar di rumput.
'Kalau aku menendang,' katanya pelan, 'apa yang akan terjadi?'
Bola itu tertawa-tawa yang bukan suara, tapi getaran yang merambat di tulang.
'Segala sesuatu,' kata bola itu. 'Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.'
Di bab berikutnya, saat Raka mencoba memahami kekuatannya, sebuah kapal tak dikenal mendarat di Terra-Kita-dan sosok yang turun darinya bukanlah seseorang yang ia harapkan. Sementara itu, Kakek Sarno mengungkap satu kebenaran yang menghancurkan: bahwa Berkah Orbital bukanlah anugerah, melainkan kutukan yang ditanamkan oleh peradaban kuno untuk mengendalikan bakat alami manusia-dan Raka adalah bukti hidup bahwa kutukan itu bisa dipatahkan.
Pagi itu, Terra-Kita terbangun dengan rasa takut yang belum pernah ada sebelumnya.
Bukan karena hujan-hujan sudah menjadi teman lama. Bukan karena lampu sodium yang mati satu per satu semalaman-itu biasa. Tapi karena langit.
Langit berwarna salah.
Di atas desa, awan-awan berputar pelan seperti air yang diaduk dari bawah. Mereka tidak berwarna kelabu atau hitam seperti malam sebelumnya. Mereka berwarna ungu pucat-warna yang tidak seharusnya ada di langit planet pinggiran mana pun. Dan di tengah pusaran itu, sebuah titik cahaya menggantung, tidak bergerak, tidak berkedip. Menunggu.
Raka berdiri di halaman rumahnya, kaki telanjang menapak tanah basah, dan menatap titik itu. Ia belum tidur sejak malam. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat lapangan dengan bintang-bintang di rumput. Setiap kali ia membuka mata, kakinya terasa hangat-tidak panas, hanya hangat, seperti seseorang memegangnya dari dalam.
"Kau sudah bangun sejak subuh," kata suara dari belakang.
Raka tidak menoleh. Ia tahu siapa itu.
"Kakek," katanya. "Itu kapal, kan?"
Kakek Sarno berdiri di sampingnya, tongkatnya menancap di tanah. Lelaki tua itu menyipitkan mata ke arah langit. Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab.
"Ya," akhirnya katanya. "Itu kapal."
"Dari mana?"
"Pertanyaan yang lebih baik," kata Kakek Sarno pelan, "adalah untuk siapa."
Raka menoleh. "Maksud Kakek?"
Kakek Sarno tidak menatapnya. Matanya tetap di langit, dan ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah Raka lihat sebelumnya. Bukan takut. Bukan marah. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya-sesuatu seperti penyesalan yang sudah menunggu puluhan tahun untuk datang.
"Raka," katanya. "Aku perlu kau mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Bukan seperti biasanya."
"Kakek, aku selalu-"
"Duduk."
Raka duduk. Tanah basah merembes ke celananya, tapi ia tidak peduli. Kakek Sarno jarang berbicara dengan suara seperti itu-suara yang tidak punya ruang untuk bercanda.
Lelaki tua itu duduk di sampingnya, susah payah, lututnya berbunyi seperti kayu tua. Ia menatap kakinya sendiri untuk waktu yang lama. Lalu ia berbicara.
"Kau tahu apa itu Berkah Orbital, Raka?"
"Anugerah dari galaxy," jawab Raka. "Yang menentukan kemampuan kita. Yang menentukan-"
"Bagus." Kakek Sarno mengangguk pelan. "Sekarang lupakan semua itu."
Raka terdiam.
"Apa yang kau rasakan kemarin? Di balai desa. Saat kristal itu menyentuh dahimu."
Raka menelan ludah. Ia mengingat cahaya itu-cahaya yang keluar dari dalam dirinya, dari kaki kirinya, seperti bintang yang lahir dari tulang. Ia mengingat suara itu. Bola itu. 'Akhirnya kau mengingat.'
"Aku... aku merasa seperti sesuatu yang sudah lama tertidur bangun," katanya pelan. "Seperti aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya. Tapi aku tidak tahu kapan."
Kakek Sarno menutup mata. "Ya," bisiknya. "Ya, itu dia."
"Kakek, apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Lelaki tua itu membuka mata, dan untuk pertama kalinya, Raka melihat air mata di sana. Bukan karena sedih-karena amarah yang sudah lama dipendam.
"Berkah Orbital," kata Kakek Sarno, "bukan anugerah."
Raka terdiam.
"Itu kutukan."
Kata itu jatuh di antara mereka seperti batu ke air. Raka menatap Kakek Sarno, matanya membelalak, tapi lelaki tua itu belum selesai.
"Dengar baik-baik. Lima puluh tahun lalu, sebelum kau lahir, sebelum ayahmu lahir, Galaxy Vaelora berbeda. Manusia lahir dengan bakat alami-bakat yang tumbuh sendiri, seperti pohon. Ada yang cepat. Ada yang kuat. Ada yang bisa melihat lintasan bola sebelum bola itu bergerak. Bakat itu liar. Tidak terkendali. Tidak bisa diatur."
Ia mengetuk tanah dengan tongkatnya.
"Dan yang tidak bisa diatur, Raka, adalah yang paling ditakuti oleh mereka yang berkuasa."
"Siapa yang berkuasa?"
"Peradaban Kuno." Kakek Sarno mengucapkannya seperti nama dewa yang sudah mati. "Mereka menemukan cara untuk mengunci bakat alami manusia. Mereka menciptakan sesuatu-sesuatu yang mereka sebut Berkah Orbital-dan menyebarkannya ke seluruh galaxy. Sejak saat itu, setiap anak yang lahir di Vaelora menerima 'berkah' pada usia dua belas. Tapi bukan berkah yang mereka terima. Mereka menerima batasan. Bakat mereka dikunci pada satu kemampuan. Satu. Tidak lebih. Dan kemampuan itu-"
Ia menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
"-dipilih oleh mereka, bukan oleh anak itu sendiri."
Raka merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. Ia mengingat upacara kemarin. Ia mengingat bagaimana anak-anak lain menerima berkah mereka-Tono dengan kecepatannya, Mira dengan lengkungannya. Semua kemampuan itu... dipilih. Bukan oleh mereka.
"Jadi semua ini..." bisik Raka. "Semua ini palsu?"
"Tidak semua." Kakek Sarno menggeleng. "Kemampuan itu nyata. Tapi ia bukan milikmu. Ia dipinjamkan. Dan jika kau tidak memenuhi syarat-jika kau tidak berguna bagi mereka yang mengendalikan sistem-kemampuan itu dicabut. Kau menjadi tidak berguna. Kau menjadi... tidak ada."
Raka menatap tangannya. Cahaya jingga itu masih berpendar samar di kulitnya, bahkan sekarang.
"Tapi aku..." katanya pelan. "Aku tidak menerima berkah."
"Tidak."
"Aku... mengingatnya."
"Ya."
Kakek Sarno berdiri, susah payah, dan menatap langit. Titik cahaya di atas desa mulai bergerak-turun, pelan, seperti mata yang mendekat.
"Dan itu, Raka," katanya pelan, "adalah apa yang membuatmu berbahaya. Kau adalah bukti hidup bahwa kutukan itu bisa dipatahkan. Kau tidak menerima batasan. Kau mengingat bakat alami yang seharusnya kau miliki sejak lahir. Dan jika galaxy tahu bahwa hal seperti itu mungkin..."
Ia menoleh, dan senyumnya tipis, getir.
"...jika galaxy tahu bahwa Berkah Orbital adalah tipuan, maka semua yang mereka percaya akan runtuh."
Suara itu datang seperti guntur yang tidak bersuara.
Bukan ledakan. Bukan gemuruh. Hanya... getaran. Getaran yang merambat dari langit ke tanah, ke tulang Raka, ke kakinya. Ia merasakan langit bergetar sebelum ia melihatnya bergerak.
Dan kapal itu turun.
Bentuknya tidak seperti kapal yang pernah ia lihat di siaran Liga Galaxy. Bukan logam mengilap, bukan mesin yang berdebar. Kapal itu terbuat dari sesuatu yang tampak seperti kaca cair-transparan, berkilau, dengan permukaan yang bergerak seperti air. Di dalamnya, Raka bisa melihat bentuk-bentuk yang tidak jelas, bayangan yang berputar.
Kapal itu mendarat di lapangan desa-lapangan tempat anak-anak biasa bermain bola, tempat Raka biasa menendang sampai jendela pecah.
Dan pintunya terbuka.
Raka menahan napas.
Sosok yang turun dari kapal itu tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan tentara bersenjata. Bukan robot berkilau. Bukan alien bermata banyak.
Sosok itu adalah seorang pemuda. Tinggi, mungkin delapan belas atau sembilan belas tahun. Rambutnya hitam sebahu, tergerai acak. Kulitnya pucat-terlalu pucat, seperti orang yang jarang melihat matahari. Dan matanya... matanya biru.
Biru seperti badai.
Biru seperti langit Terra-Kita sebelum Berkah Orbital datang.
Raka mengenal mata itu. Semua orang di Galaxy Vaelora mengenal mata itu. Mata itu tercetak di poster-poster, di layar-layar siaran, di sampul majalah Liga Galaxy.
Zephyr "Si Topan."
Striker Dewa itu berdiri di tanah desa yang berlumpur, sepatunya yang mahal tenggelam sedikit, dan ia menatap sekeliling dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu matanya menemukan Raka.
Raka berdiri diam. Kakinya gemetar. Bukan karena takut-bukan sepenuhnya.
Zephyr berjalan mendekat. Setiap langkahnya tenang, terukur, seperti seorang yang tidak pernah perlu terburu-buru. Ketika ia berhenti di depan Raka, ia menatap anak itu dari atas ke bawah, seperti seseorang yang menilai sesuatu yang belum ia pahami.
"Jadi kau ini," katanya. Suaranya halus, dingin, seperti air es di siang hari. "Anak yang membuat seluruh galaxy bergetar."
Raka membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Zephyr tersenyum tipis. "Kau tidak perlu bicara. Aku bukan ke sini untuk mendengarkan." Ia melirik Kakek Sarno, dan sesuatu di matanya berubah-tidak kaget, tapi... mengenali. "Oh. Kau masih hidup."
Kakek Sarno tidak menjawab. Ia hanya menatap Zephyr dengan mata yang sama seperti malam sebelumnya-mata yang tahu terlalu banyak.
Zephyr kembali menatap Raka.
"Aku akan memberitahumu sesuatu," katanya. "Aku juga menerima Berkah Orbital. Aku juga menerima batasan. Tapi aku menerimanya dengan mata terbuka. Aku tahu apa yang mereka lakukan. Aku tahu apa yang mereka sembunyikan."
Ia berjongkok, sehingga matanya sejajar dengan Raka.
"Dan aku tidak peduli," katanya pelan. "Karena aku sudah menjadi yang terbaik-dengan atau tanpa kutukan mereka. Sekarang pertanyaannya..." Ia mencondongkan kepala. "...kemanakah kau akan pergi dengan kekuatanmu yang tidak mereka pilih untukmu?"
Di belakang mereka, pintu kapal itu masih terbuka. Di dalamnya, Raka bisa melihat sesuatu yang bergerak-bentuk-bentuk, bayangan-bayangan, seperti penumpang yang menunggu.
"Kau bisa ikut denganku," kata Zephyr. "Aku bisa melindungimu dari mereka yang akan mengejarmu. Aku bisa mengajarimu cara menggunakan kekuatanmu-tanpa batasan, tanpa aturan. Kau akan menjadi sesuatu."
Ia berhenti.
"Atau kau bisa tinggal di sini," katanya, suaranya turun. "Di desa ini. Dengan lampu yang mati dan atap yang bocor. Dan akhirnya, mereka akan datang-bukan aku, tapi yang lain-dan mereka akan mengambilmu. Karena kau adalah bukti yang jika dibiarkan hidup, bisa menghancurkan galaxy."
Raka menatap Zephyr. Ia menatap kapal itu. Ia menatap Kakek Sarno.
Dan di dalam dirinya, sesuatu menjawab.
Sesuatu yang bukan detak jantung. Sesuatu yang bukan napas.
Sesuatu yang menunggu.
'Kau tidak perlu memilih,' bisik suara itu-getaran yang merambat di tulang. 'Kau hanya perlu menendang.'
Raka mengepalkan tangannya.
Dan jauh di atas mereka, di antara bintang-bintang, sesuatu yang besar dan gelap mulai bergerak-sesuatu yang tidak datang untuk Zephyr, tidak datang untuk Raka, tapi untuk sesuatu yang belum pernah terjadi dalam lima puluh tahun.
Sesuatu yang sudah lama menunggu untuk bangun.
CATATAN PENULIS:
> Di bab berikutnya, Raka harus memilih: ikut dengan Zephyr dan belajar mengendalikan kekuatannya di bawah bimbingan sang Striker Dewa-yang menyembunyikan agenda tersendiri-atau tinggal bersama Kakek Sarno dan menggali rahasia kelam Berkah Orbital lebih dalam, dengan risiko membawa ancaman yang lebih besar ke Terra-Kita. Sementara itu, kapal ketiga-tiga-tiba di sistem Vaelora, membawa sosok yang disebut Hantu Orbital- seseorang yang konon telah menghapus dirinya dari sejarah galaxy, dan yang diam-diam telah mengawasi Raka sejak anak itu lahir.
Hantu Orbital tidak turun dari kapal.
Ia muncul-seperti pikiran yang tiba-tiba menyadari keberadaan dirinya sendiri, seperti bayangan yang memutuskan untuk berpisah dari benda yang menciptakannya.
Kapal ketiga itu masih menggantung di langit Terra-Kita, hitam dan sunyi, tidak bergerak, tidak bersuara, tidak memancarkan tanda-tanda kehidupan yang bisa dibaca oleh sensor mana pun. Penduduk desa yang berani keluar rumah-dan jumlahnya sedikit, karena naluri kuno manusia pinggiran selalu mengajarkan untuk bersembunyi ketika langit berubah aneh-melihatnya sebagai bintang mati yang terlalu dekat. Sebuah lubang di kain malam.
Tapi Raka melihat lebih dari itu.
Ia berdiri di halaman rumah Kakek Sarno, kaki telanjang di atas tanah basah, dan ia merasakan kapal itu. Bukan sebagai objek. Sebagai... kehadiran. Seperti seseorang yang menatapnya dari balik jendela yang sangat jauh, tapi tatapan itu tetap terasa di tengkuk.
"Kau merasakannya," kata Kakek Sarno. Bukan pertanyaan.
Lelaki tua itu berdiri di samping Raka, tongkatnya menancap di tanah, dan untuk pertama kalinya sejak Raka mengenalnya, Kakek Sarno terlihat... tua. Bukan tua karena usia. Tua karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang berat.
"Aku merasakannya, Kek," jawab Raka pelan. "Seperti... seperti ada yang memanggil namaku, tapi bukan dengan suara."
Kakek Sarno mengangguk pelan. Ia menatap kapal itu, dan matanya-mata yang biasanya berkilat dengan rahasia dan lelucon-kini kosong. Seperti sumur yang terlalu dalam untuk dilihat dasarnya.
"Aku sudah berharap ini tidak terjadi," gumamnya. "Setidaknya tidak selama aku masih hidup."
"Kakek tahu kapal itu?"
"Bukan kapalnya yang aku kenal, Raka." Kakek Sarno menoleh, dan ada sesuatu di wajahnya-sesuatu yang mirip dengan rasa takut. "Tapi isinya. Aku pernah bertemu dengannya. Dulu. Sebelum kau lahir. Sebelum... banyak hal."
Sebelum Raka sempat bertanya, udara di depan mereka bergetar.
Bukan bergetar seperti gempa. Bergetar seperti permukaan air yang disentuh jari-riak yang menyebar, mengubah bentuk realitas, dan kemudian-
Seorang lelaki berdiri di sana.
Ia tidak muncul dengan cahaya. Tidak muncul dengan suara. Ia hanya... ada. Seperti ia selalu ada di sana, dan dunia baru menyadarinya sekarang.
Lelaki itu tinggi, kurus, dan mengenakan jubah yang warnanya tidak bisa ditentukan-setiap kali Raka mencoba menatapnya, warnanya berubah, seperti minyak di permukaan air. Wajahnya tertutup oleh tudung yang tidak seharusnya bisa menyembunyikan apa pun, tapi tetap menyembunyikan segalanya. Dan matanya-dua titik cahaya yang redup, seperti bintang yang hampir mati-menatap Raka dengan intensitas yang membuat tulang anak itu bergetar.
"Jadi," kata lelaki itu. Suaranya halus. Terlalu halus. Seperti sutra yang ditarik di atas beludru. "Ini dia."
Raka mundur satu langkah. Kakinya-kaki kirinya-berdenyut. Bukan dengan rasa sakit. Dengan pengenalan. Seperti hewan yang mengenali pemiliknya.
"Kau," kata Kakek Sarno. Suaranya dingin. Dingin yang tidak pernah Raka dengar sebelumnya. "Kau masih hidup."
"Selalu," jawab lelaki itu. "Itu bagian dari masalahnya."
Ia melangkah maju, dan Raka merasakan sesuatu yang aneh-bukan ancaman, bukan permusuhan, tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu seperti... pengakuan. Seperti dua cermin yang saling berhadapan.
Lelaki itu berhenti di depan Raka. Ia lebih tinggi dari yang terlihat. Jauh lebih tinggi. Dan ketika ia berbicara lagi, suaranya bukan lagi sutra. Suaranya adalah sesuatu yang lain-sesuatu yang tua, sesuatu yang lelah, sesuatu yang telah menunggu terlalu lama.
"Namaku," katanya, "tidak penting. Tidak ada yang mengingatnya. Tidak ada yang diizinkan mengingatnya. Tapi kau mungkin pernah mendengar julukanku."
Ia menurunkan tudungnya.
Wajah yang muncul di bawahnya... adalah wajah yang tidak mungkin. Terlalu simetris. Terlalu muda. Terlalu salah. Seperti seseorang yang mencoba menggambar manusia dari deskripsi yang tidak lengkap.
"Mereka memanggilku Hantu Orbital," kata lelaki itu. "Dan aku sudah menunggu kau, Raka."
Raka tidak ingat bagaimana ia bisa duduk di kursi goyang Kakek Sarno. Ia tidak ingat bagaimana teh-teh pahit yang selalu dibuat Kakek Sarno untuk dirinya sendiri-bisa ada di tangannya. Yang ia ingat: Hantu Orbital duduk di lantai kayu, bersila seperti anak kecil, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara selama beberapa menit.
Kakek Sarno duduk di kursi lain, tongkatnya di pangkuan, matanya tidak pernah lepas dari Hantu Orbital. Seperti elang yang mengawasi ular.
"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau menemukannya," kata Kakek Sarno akhirnya. "Aku hanya akan bertanya: apa yang kau inginkan?"
Hantu Orbital tersenyum. Senyum itu tidak sampai ke matanya-tidak sampai ke mana pun, sebenarnya, karena matanya bukan mata yang bisa dibaca.
"Aku menginginkan apa yang selalu aku inginkan, Sarno." Ia menoleh ke Raka. "Aku menginginkan anak ini hidup."
Raka menegakkan punggungnya. Jantungnya berdebar. "Apa maksudmu? Apakah aku dalam bahaya?"
"Kau dalam banyak bahaya," jawab Hantu Orbital. "Kau baru saja mengirim sinyal ke seluruh galaxy-sinyal yang tidak pernah terdeteksi selama lima puluh tahun. Kau pikir Zephyr datang ke sini hanya karena penasaran?"
Raka terdiam. Zephyr. Striker Dewa. Pemain yang ia tonton di layar proyeksi tua itu, malam-malam yang panjang, dengan kuku menancap di kulit.
"Zephyr sedang dalam perjalanan ke sini," lanjut Hantu Orbital. "Dan dia bukan satu-satunya. Ada yang lain. Ada yang lebih tua. Ada yang lebih berbahaya. Dan mereka semua datang untuk hal yang sama."
"Hal apa?" tanya Raka.
Hantu Orbital menatap kaki kiri Raka. Kaki yang selalu terasa berbeda. Kaki yang membuat anak-anak desa menjauh.
"Mereka datang untuk Kaki Kiri," kata Hantu Orbital. "Kaki yang kau warisi dari sesuatu yang seharusnya sudah mati. Kaki yang... aku wariskan."
Dunia Raka berhenti berputar.
"Kau..." Suaranya serak. "Kau ayahku?"
Hantu Orbital tertawa. Tawa yang bukan tawa. Getaran yang merambat di tulang.
"Tidak," katanya. "Aku adalah sesuatu yang lebih buruk dari itu. Aku adalah kakekmu. Dan aku adalah alasan mengapa Berkah Orbital diciptakan."
Kakek Sarno berdiri mendadak. Kursinya jatuh ke belakang. "Jangan. Jangan katakan itu padanya. Tidak sekarang."
"Kapan lagi?" Hantu Orbital tidak menoleh. Matanya tetap pada Raka. "Kau pikir menyembunyikannya akan melindunginya? Kau pikir dia tidak akan tahu ketika Zephyr tiba? Ketika kapal-kapal Liga Galaxy datang untuk mengambilnya? Ketika dia menyadari bahwa seluruh hidupnya-setiap tendangan, setiap mimpi, setiap kali dia merasa berbeda-adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya?"
Kakek Sarno terdiam. Wajahnya-wajah yang selalu tahu jawaban dari teka-teki yang belum selesai ditulis-kini hanya wajah lelaki tua yang lelah.
Raka menatap kedua lelaki itu. Jantungnya terlalu kencang. Napasnya terlalu pendek. Dan di dalam dirinya, sesuatu bergerak-sesuatu yang bukan detak jantung, bukan napas, sesuatu yang menunggu.
"Jelaskan," katanya. Suaranya lebih kuat dari yang ia harapkan. "Jelaskan semuanya."
Hantu Orbital mengangguk. Ia mengangkat tangannya, dan di atas telapak tangannya, cahaya muncul-bukan cahaya biasa, tapi proyeksi. Sebuah gambar. Sebuah sejarah.
"Lima puluh tahun yang lalu," katanya, "Galaxy Vaelora menemukan sesuatu. Sesuatu yang terkubur di inti planet yang sudah mati. Sesuatu yang mereka sebut Orbital Prime-sumber dari semua energi yang sekarang mengalir di galaxy ini. Energi yang membuat kapal-kapal bisa melintasi bintang. Energi yang membuat manusia bisa berlari lebih cepat dari meteor, membengkokkan cahaya, mengubah gravitasi dengan tendangan."
Raka menelan ludah. "Berkah Orbital."
"Ya." Hantu Orbital mengepalkan tangannya, dan cahaya itu menghilang. "Tapi apa yang mereka tidak ceritakan padamu-apa yang mereka sembunyikan dari setiap anak yang menerima Berkah di seluruh galaxy-adalah bahwa Orbital Prime bukan sumber energi. Itu adalah penjara."
"Penjara untuk apa?"
Hantu Orbital menatap Raka. Matanya-bintang yang hampir mati itu-berkilat dengan sesuatu yang mirip dengan kesedihan.
"Penjara untuk sesuatu yang mereka panggil Pemain Pertama. Makhluk yang bisa mengendalikan bola bukan sebagai objek, tapi sebagai bagian dari dirinya. Makhluk yang tendangannya bisa mengubah lintasan bintang. Makhluk yang... seharusnya tidak pernah ada."
Hantu Orbital berdiri. Ia melangkah ke jendela, menatap langit yang masih hitam, kapal yang masih menggantung.
"Mereka menemukan Pemain Pertama. Mereka tidak bisa membunuhnya. Mereka tidak bisa mengendalikannya. Jadi mereka mengurungnya di dalam inti planet yang mereka sebut Orbital Prime. Dan dari energi yang mereka hisap dari penjara itu, mereka menciptakan Berkah Orbital-cara untuk meniru kekuatan Pemain Pertama, dalam skala kecil, dalam skala yang bisa dikendalikan."
"Tapi itu tidak cukup," bisik Kakek Sarno. Ia telah duduk kembali, wajahnya pucat. "Mereka ingin lebih."
"Tentu saja," kata Hantu Orbital. "Mereka selalu ingin lebih. Jadi mereka mulai bereksperimen. Mereka mulai... mencetak Pemain Pertama. Anak-anak yang lahir dengan kemampuan untuk mendengar bola, untuk merasakan getarannya, untuk mengendalikannya seperti mengendalikan anggota tubuh sendiri."
Ia menoleh ke Raka.
"Anak-anak seperti kau."
Raka menggenggam lututnya. Kukunya menancap di kulit. Persis seperti malam pertama-malam ketika ia menonton Zephyr di layar proyeksi tua.
"Aku..." Suaranya serak. "Aku ini apa?"
"Kau adalah generasi kesepuluh," kata Hantu Orbital. "Atau keseratus. Aku sudah kehilangan hitungan. Kau adalah hasil dari lima puluh tahun eksperimen yang merekaanggap gagal. Kau adalah anak yang seharusnya tidak pernah lahir. Dan kau adalah..."
Ia berhenti.
"Aku adalah apa?" desak Raka.
Hantu Orbital tersenyum-senyum yang sama seperti Kakek Sarno. Senyum yang tahu terlalu banyak.
"Kau adalah kunci," katanya. "Kunci untuk membuka penjara. Dan Zephyr-Striker Dewa, kapten Aero-Prime, pahlawan seluruh galaxy-tidak datang untuk menyelamatkanmu."
Ia menatap Raka lurus.
"Zephyr datang untuk mengunci penjara itu selamanya. Dengan caranya sendiri. Dengan mengorbankan siapa pun yang diperlukan. Termasuk kau."
Jauh di atas mereka, di antara bintang-bintang, kapal Zephyr melesat melalui ruang gelap. Di dalamnya, pemuda dengan mata sebiru badai itu menatap layar yang menampilkan wajah Raka-citra blur, kualitas rendah, diambil dari satelit mata-mata yang sudah lama tidak berfungsi.
"Menarik," bisiknya lagi. Senyumnya tipis dan dingin.
Pelatihnya-seorang wanita tua dengan rambut putih dan mata yang melihat terlalu banyak-berdiri di belakangnya.
"Kau yakin tentang anak ini?" tanyanya. "Kau meninggalkan latihan untuk planet pinggiran. Untuk anak yang bahkan belum menerima Berkah dengan benar."
Zephyr tidak menoleh. Matanya tetap pada layar.
"Dia tidak menerima Berkah," katanya. "Dia mengingatnya. Dan itu berarti..."
Ia menoleh ke pelatihnya. Senyumnya masih tipis. Tapi ada sesuatu di matanya-sesuatu yang bukan dingin, bukan tipis, bukan senyum.
"...itu berarti dia adalah yang terakhir. Yang terakhir yang bisa membuka penjara itu. Dan kita tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Pelatih itu mengangguk. Ia tidak bertanya lagi.
Di luar, bintang-bintang melintas seperti kenangan yang tidak bisa dipegang. Dan di suatu tempat, di planet pinggiran yang bernama Terra-Kita, seorang anak dengan kaki kiri yang selalu terasa berbeda menatap Hantu Orbital dan Kakek Sarno, dan menyadari bahwa hidupnya-seluruh hidupnya-adalah pertempuran yang telah dimulai jauh sebelum ia lahir.
Dan pertempuran itu baru saja mencapai halamannya.
Malam itu, Raka tidak tidur.
Ia duduk di lantai kamarnya, kaki telanjang menempel pada kayu yang dingin, dan ia menatap kakinya. Kaki kiri. Yang selalu terasa lebih berat dari kaki kanan. Yang selalu terasa... hidup.
Di luar, hujan turun lagi. Gerimis halus yang mengetuk atap bocor seperti jari-jari tak terlihat.
Dan di dalam dirinya, sesuatu bergerak.
Bukan detak jantung. Bukan napas.
Sesuatu yang menunggu.
'Kau masih mendengar aku,' kata bola itu-bukan suara, tapi getaran yang merambat dari kaki kirinya ke tulang belakang, ke tengkuk, ke otak.
Raka menutup matanya.
'Aku mendengarmu,' bisiknya. 'Sejak malam pertama. Sejak Kakek Sarno bertanya apakah aku melihat bolanya.'
Bola itu tertawa-tawa yang bukan suara, tawa yang merambat di tulang.
'Dan sekarang kau tahu,' katanya. 'Sekarang kau tahu apa yang kau hadapi.'
'Zephyr,' kata Raka. 'Hantu Orbital. Liga Galaxy. Semua orang ingin aku...'
'Bukan ingin,' potong bola itu. 'Mereka takut. Mereka takut pada apa yang kau bisa lakukan. Mereka takut pada apa yang kau ingat.'
'Apa yang aku ingat?'
Bola itu berhenti berputar.
'Kau mengingat aku,' katanya. 'Dan itu berarti kau mengingat Pemain Pertama. Kau mengingat apa yang seharusnya dilupakan. Kau mengingat... tendangan yang menciptakan galaxy.'
Raka membuka matanya.
Di depannya, di atas lantai kayu yang dingin, sebuah bola terbentuk dari cahaya-bukan bola fisik, bukan bola proyeksi, tapi bola yang terbuat dari sesuatu yang lebih dalam dari cahaya. Sesuatu yang lebih tua dari bintang.
Bola itu berputar pelan. Warnanya berubah-seperti minyak di permukaan air. Seperti galaxy yang dipadatkan menjadi bentuk bulat.
'Kalau aku menendangmu,' kata Raka pelan, 'apa yang akan terjadi?'
Bola itu berhenti berputar.
'Segala sesuatu,' katanya. 'Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.'
'Termasuk Zephyr?'
'Terutama Zephyr.'
Raka menatap bola itu. Menatap kakinya. Menatap tangannya yang masih menggenggam lutut, kuku yang masih menancap di kulit.
Lalu ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia lahir, ia tidak merasa takut.
Ia merasa... siap.
CATATAN PENULIS:
> *Di bab berikutnya, kapal Zephyr tiba di Terra-Kita. Striker Dewa turun dari langit, dan pertemuan pertama antara dua pemain-yang satu legenda, yang satu misteri-akan mengubah segalanya. Sementara itu, Kakek Sarno membawa Raka ke tempat yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun:
tang.
Bola itu berputar pelan. Warnanya berubah-seperti minyak di permukaan air. Seperti galaxy yang dipadatkan menjadi bentuk bulat.
'Kalau aku menendangmu,' kata Raka pelan, 'apa yang akan terjadi?'
Bola itu berhenti berputar.
'Segala sesuatu,' katanya. 'Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.'
'Termasuk Zephyr?'
'Terutama Zephyr.'
Raka menatap bola itu. Menatap kakinya. Menatap tangannya yang masih menggenggam lutut, kuku yang masih menancap di kulit.
Lalu ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia lahir, ia tidak merasa takut.
Ia merasa... siap.
Kakek Sarno membawa Raka ke tempat itu pagi-pagi buta, sebelum ayam-ayam desa sempat berkelahi.
Mereka melewati jalan berbatu yang sama-jalan yang selalu basah, jalan yang Raka hafal setiap kerikil dan setiap genangan airnya. Tapi kali ini Kakek Sarno tidak berhenti di rumahnya. Tidak berhenti di balai desa. Tidak berhenti di lapangan kosong tempat anak-anak desa biasa bermain.
Ia terus berjalan. Ke selatan. Ke arah hutan yang tidak pernah disentuh siapa pun.
"Kek," kata Raka, "hutan itu... kata orang, ada hantunya."
"Orang-orang itu bodoh," jawab Kakek Sarno tanpa menoleh.
"Kata orang, yang masuk ke sana tidak pernah kembali."
"Yang kembali tidak pernah masuk cukup dalam."
Raka menelan ludah. Kakinya masih terasa aneh-bukan lemas, tapi... berdenyut. Seperti ada detak jantung kedua di tulang keringnya. Sejak upacara kemarin, kakinya tidak pernah benar-benar berhenti bergetar. Getaran kecil. Getaran yang hanya ia yang bisa merasakan.
"Kek, soal cahaya kemarin-"
"Nanti."
"Tapi-"
"Nanti, Raka."
Nada suara Kakek Sarno membuat Raka diam. Lelaki tua itu berjalan dengan tongkatnya, tapi tongkat itu tidak pernah menyentuh tanah. Digenggam saja. Seperti... kebiasaan lama. Seperti sesuatu yang dulu pernah penting.
Mereka masuk ke hutan.
Pepohonan di Terra-Kita aneh-batangnya berwarna keperakan, daunnya mirip logam tipis yang berkilau saat terkena cahaya. Tapi di dalam hutan ini, pohon-pohon itu lebih tua. Lebih besar. Kulitnya retak-retak seperti jaringan urat di tangan orang tua. Dan di antara mereka, kabut menggantung rendah, dingin, seperti napas yang tertahan.
Raka mengikuti Kakek Sarno melewati akar-akar raksasa, melewati batu-batu yang ditumbuhi lumut biru, melewati-Raka berhenti.
"Kek."
Kakek Sarno berhenti. Menoleh.
"Ada yang... memperhatikan kita."
Lelaki tua itu tidak bertanya bagaimana Raka tahu. Ia hanya mengangguk pelan. "Bagus. Kau merasakannya."
"Merasakan apa?"
Kakek Sarno mengangkat tongkatnya-untuk pertama kalinya-dan menunjuk ke arah pepohonan di depan mereka.
"Kau merasakan mereka."
Raka menatap ke arah yang ditunjuk. Di antara pepohonan keperakan, di tengah kabut yang menggantung, ada sesuatu yang bergerak. Bukan satu. Banyak. Kecil-kecil, seperti kunang-kunang, tapi bukan kunang-kunang. Warnanya jingga. Jingga yang sama dengan cahaya yang keluar dari kaki Raka kemarin.
Mereka berputar-putar di udara, mengelilingi sebuah struktur yang Raka baru sadari ada di sana.
Sebuah gerbang.
Bukan gerbang biasa. Tidak ada bangunan di belakangnya. Tidak ada tembok, tidak ada pagar. Hanya dua pilar batu yang menjulang setinggi pohon, ditumbuhi lumut biru dan ukiran-ukiran yang Raka tidak bisa baca. Dan di antara kedua pilar itu-cahaya. Bukan cahaya yang menerangi. Cahaya yang... membuka. Seperti lubang di udara. Seperti luka di dunia.
"Kek," bisik Raka. "Apa itu?"
Kakek Sarno berjalan mendekat. Tongkatnya masih tidak menyentuh tanah.
"Ini," katanya, suaranya berat, "adalah apa yang lima puluh tahun lalu mereka coba kubur."
"Ilmu pengetahuan?" tebak Raka.
Kakek Sarno tertawa-tawa pendek, pahit. "Bukan. Kebenaran."
Ia berhenti tepat di depan gerbang. Cahaya itu menerpa wajahnya, membuat keriputnya terlihat lebih dalam, matanya lebih gelap. Dan untuk sesaat, Raka melihat sesuatu di wajah lelaki tua itu. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Rasa sakit. Rasa sakit yang sudah lama dipendam.
"Mereka mengajarkan kita," kata Kakek Sarno pelan, "bahwa Berkah Orbital adalah anugerah. Bahwa galaxy ini memberikan kemampuan kepada anak-anak yang layak. Bahwa jika kau bekerja keras, jika kau berlatih, jika kau berdoa-kekuatan akan mengalir ke dalammu seperti air ke sungai."
Ia menoleh ke Raka.
"Semua itu bohong."
Raka merasakan sesuatu yang dingin merambat di tulang belakangnya. Bukan dari gerbang. Dari kata-kata lelaki tua itu.
"Berkah Orbital," lanjut Kakek Sarno, "bukan anugerah. Itu kutukan. Kutukan yang ditanamkan oleh peradaban kuno-peradaban yang sudah lama mati, tapi mesin-mesinnya masih bekerja. Mereka menanam kutukan ini ke seluruh galaxy untuk mengendalikan bakat alami manusia. Untuk memastikan tidak ada yang terlalu kuat. Tidak ada yang terlalu cepat. Tidak ada yang terlalu... berbeda."
"Kenapa?" tanya Raka. Suaranya serak.
"Karena mereka takut." Kakek Sarno menatap gerbang itu. "Dulu, sebelum Berkah Orbital ada, manusia lahir dengan bakat masing-masing. Bakat alami. Kaki yang bisa menendang lebih keras dari yang seharusnya. Mata yang bisa melihat lebih jauh dari yang seharusnya. Tangan yang bisa menciptakan lebih banyak dari yang seharusnya. Dan peradaban kuno-mereka takut pada manusia seperti itu. Manusia yang tidak bisa dikendalikan. Manusia yang tidak butuh izin untuk menjadi hebat."
Ia menunjuk gerbang.
"Jadi mereka menciptakan Berkah Orbital. Sistem yang membatasi. Sistem yang mengubah bakat alami menjadi 'kemampuan terukur.' Sistem yang membuat setiap anak di galaxy ini berpikir bahwa kekuatan harus diberikan, bukan ditemukan."
Raka menatap tangannya. Jingga masih berpendar di kulitnya-samar, tapi ada. Selalu ada.
"Tapi aku..." katanya pelan. "Aku tidak menerima Berkah Orbital. Aku... mengingatnya."
Kakek Sarno tersenyum. Senyum yang sama-senyum yang tahu terlalu banyak.
"Itulah kenapa kau berbahaya, Raka. Kau adalah bukti hidup bahwa kutukan itu bisa dipatahkan. Kau mengingat apa yang seharusnya kau lupakan. Kau menemukan apa yang mereka coba sembunyikan."
Ia melangkah mundur dari gerbang. Menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba terlihat sangat lelah.
"Dan itu berarti," katanya, "kau sekarang punya dua pilihan."
"Pilihan?"
"Pertama: kau bisa bersembunyi. Pergi ke planet paling terpencil di Galaxy Vaelora, ubah namamu, lupakan semua ini. Hidup dengan aman sampai kau mati. Tidak ada yang akan mencarimu."
"Kedua?"
Kakek Sarno menunjuk gerbang. Cahaya itu berdenyut-seperti jantung. Seperti bola yang berputar pelan di mimpinya.
"Kedua: kau bisa masuk. Lewati gerbang ini. Dan kau akan tahu kenapa kau bisa mendengar bola itu. Kenapa kaki kirimu selalu terasa berbeda. Kenapa kau adalah alasan bola itu ada."
Raka menatap gerbang. Menatap cahaya yang membuka. Menatap kabut yang menggantung seperti napas yang tertahan.
"Kakek," katanya pelan. "Apa yang ada di dalam sana?"
Kakek Sarno menatapnya lama. Sangat lama. Dan ketika ia akhirnya berbicara, suaranya hampir tidak terdengar.
"Kenangan," katanya. "Kenangan yang bukan milikmu. Kenangan dari orang yang pertama kali mendengar bola itu. Orang yang pertama kali menendangnya. Orang yang... seperti kau, Raka. Sama persis sepertimu."
Raka merasakan kakinya bergetar. Bukan getaran kecil. Getaran yang merambat dari tulang kering, ke lutut, ke pinggul, ke tulang belakang, ke tengkuk, ke otak.
Dan di dalam kepalanya, suara itu kembali.
'Akhirnya,' bisik bola itu-bola yang tidak ada di hutan ini, bola yang hanya ada dalam benaknya. 'Akhirnya kau datang ke tempat yang seharusnya.'
Raka menatap gerbang.
Dan ia melangkah maju.
Di luar hutan, di langit Terra-Kita, awan-awan berputar seperti pusaran. Cahaya yang tajam, terarah-cahaya dari kemarin-kembali muncul. Tapi kali ini bukan satu. Tiga. Tiga cahaya turun dari langit, membelah awan, menghantam tanah di ujung desa dengan ledakan yang membuat rumah-rumah kayu bergoyang.
Dan dari dalam cahaya itu, tiga sosok melangkah keluar.
Yang pertama: seorang pemuda dengan mata sebiru badai, rambut perak yang tertiup angin, dan senyum tipis yang dingin. Seragamnya putih-putih yang terlalu bersih untuk planet seperti Terra-Kita. Di punggungnya, nomor 7.
Zephyr 'Si Topan'. Striker Dewa. Kapten Aero-Prime.
Yang kedua: seorang pemuda dengan tubuh lebih besar, bahu lebar, dan wajah yang seperti batu-tanpa ekspresi. Di punggungnya, nomor 4. Ia tidak berbicara. Tidak melirik ke desa. Ia hanya berdiri di belakang Zephyr seperti bayangan yang setia.
Yang ketiga: seorang gadis dengan rambut merah yang diikat tinggi, mata yang tajam seperti pisau, dan sesuatu di tangannya-bukan bola. Bukan senjata. Sebuah... alat. Sesuatu yang mengeluarkan cahaya biru dan berdenyut seperti detak jantung. Ia menatap layar alat itu, dan alisnya berkerut.
"Zephyr," katanya. Suaranya tegas. "Sinyalnya hilang."
Zephyr menoleh. "Hilang?"
"Bukan hilang. Hanya... berpindah." Gadis itu mengangkat alatnya, memutar ke kiri, ke kanan. "Sinyalnya sekarang datang dari... hutan."
Zephyr menatap ke arah hutan. Pepohonan keperakan. Kabut yang menggantung. Dan di antara pepohonan itu, sesuatu yang berkilau-sesuatu yang tidak seharusnya ada di planet pinggiran seperti Terra-Kita.
"Menarik," bisik Zephyr. "Sangat menarik."
Ia melangkah maju.
"Tunggu," kata gadis itu. "Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana. Protokolnya-"
"Protokol," potong Zephyr tanpa menoleh, "dibuat oleh orang-orang yang takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti."
Ia tersenyum. Senyum yang lebih dingin dari sebelumnya.
"Dan aku," lanjutnya, "tidak takut apa-apa."
Ia berjalan ke arah hutan. Pemuda bertubuh besar itu mengikutinya tanpa suara. Gadis berambut merah itu menghela napas, menggenggam alatnya lebih erat, dan mengikuti.
Di belakang mereka, di desa Terra-Kita, orang-orang keluar dari rumah mereka. Mereka menatap cahaya yang turun dari langit. Mereka menatap sosok-sosok yang berjalan ke arah hutan. Mereka menatap-dan mereka tahu, dengan kepastian yang aneh, bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.
Sesuatu yang sudah lama ditunggu.
Sesuatu yang datang membawa nama.
Sesuatu yang datang membawa badai.
Di dalam hutan, Raka berdiri di depan gerbang. Cahaya itu menerpa wajahnya-jingga, seperti lampu-lampu jalanan di desanya. Jingga, seperti matahari yang sudah lama mati. Jingga, seperti warna yang selalu ia lihat di dalam mimpinya.
"Kakek," katanya pelan, tanpa menoleh. "Ada yang datang."
Kakek Sarno berdiri di belakangnya. Tongkatnya masih tidak menyentuh tanah.
"Aku tahu."
"Mereka... mereka tidak boleh masuk."
"Tidak." Kakek Sarno melangkah maju, berdiri di samping Raka. "Tapi mereka akan masuk. Dan kau harus siap."
Raka menatap gerbang. Menatap cahaya yang membuka. Menatap kenangan yang bukan miliknya.
"Kakek," katanya. "Siapa aku sebenarnya?"
Kakek Sarno menatapnya lama. Lalu ia tersenyum-senyum yang sama seperti malam pertama, senyum yang tahu terlalu banyak.
"Kau," katanya, "adalah Anak Kaki Kiri. Dan kau akan menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah lama tidak dilihat galaxy ini."
Ia menepuk bahu Raka.
"Dan ketika saatnya tiba," lanjutnya, "jangan pernah percaya bahwa bola itu benda mati."
Raka menatap gerbang. Menatap cahaya. Menatap kenangan.
Lalu ia melangkah masuk.
CATATAN PENULIS:
> Di dalam gerbang, Raka akan menemukan apa yang selama ini disembunyikan-dan apa yang ia temukan akan mengubah cara ia memandang segalanya. Sementara itu, Zephyr tiba di hutan, dan pertemuan pertama antara dua pemain-yang satu legenda, yang satu misteri-akhirnya terjadi. Tapi pertemuan itu tidak berjalan seperti yang Zephyr harapkan. Karena di dalam hutan itu, di dalam gerbang itu, di dalam kenangan itu, ada sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang bahkan Striker Dewa tidak siap hadapi.
~ Bab 1 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.