SEBELUM LANGIT MERUNTUH
Bab 5
Yang Menunggu
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Bentuk tanpa wajah itu tidak bergerak.
Ia berdiri di tengah ladang tempat Sumur Yanhe berada-ladang yang sekarang hanya tinggal tanah hangus dan batu nisan sederhana yang Hun Ta dirikan untuk ibunya. Cahaya pagi yang pucat menembus tubuhnya seperti menembus kabut, dan di sekelilingnya rumput-rumput kering bergoyang tanpa angin.
Su Luo tidak menurunkan pedangnya. "Jangan mendekat," katanya, suaranya serendah bisikan. "Ia belum stabil. Kalau kau menyentuhnya sekarang-"
"Aku tidak akan menyentuhnya," kata Hun Ta.
Ia berdiri diam. Fragmen di dadanya masih berdenyut keras, tapi ia memaksanya untuk tenang-menggunakan napas yang diajarkan Su Luo, menarik udara masuk dan membiarkan Fragmen itu berdenyut mengikuti irama jantungnya, bukan sebaliknya. Butuh beberapa detik, tapi akhirnya denyut itu melambat. Tidak hilang. Hanya melambat.
Yang Menunggu mengangkat kepalanya-kepala yang tidak punya wajah, hanya ruang kosong yang menyerupai bentuk tengkorak tanpa tulang. Tidak ada mata, tapi Hun Ta tahu ia sedang dilihat.
"Aku tahu kau bisa mendengarku," kata Hun Ta. "Xiao Ling bilang kau ingin pulang."
Tidak ada jawaban. Tapi udara di sekitar bentuk itu bergetar, dan untuk sesaat, Hun Ta merasakan sesuatu yang aneh-bukan kata-kata, bukan suara, tapi perasaan yang merembes ke dalam dadanya seperti air merembes ke celah batu. Perasaan itu tidak asing.
Kesepian.
Kesepian yang begitu tua sehingga tidak punya nama. Kesepian yang tidak tahu apa yang hilang, hanya tahu bahwa sesuatu hilang.
"Kau tidak punya rumah," kata Hun Ta pelan. "Kau tidak ingat di mana rumahmu. Kau hanya tahu kau pernah punya satu."
Bentuk itu bergetar. Su Luo menegang.
"Jangan memberinya kata-kata," bisik Su Luo. "Ia meminjam bentuk dari ingatan. Kalau kau memberinya terlalu banyak, ia akan meminjam lebih."
Hun Ta mengabaikannya. Ia melangkah maju-satu langkah kecil, sepatu kulitnya berderit di tanah kering.
"Aku juga kehilangan rumahku," kata Hun Ta. "Malam itu. Ketika langit terbelah. Aku kehilangan ibuku. Aku kehilangan tetangga-tetanggaku. Aku kehilangan desaku. Dan aku tahu bagaimana rasanya berdiri di tempat yang seharusnya kau kenal, tapi tidak mengenalinya lagi."
Xiao Ling melepaskan genggaman tangannya. Hun Ta menoleh-adiknya berdiri tegak, mata besarnya menatap bentuk tanpa wajah itu tanpa rasa takut.
"Kak," kata Xiao Ling. "Ia mendengarmu. Tapi ia tidak mengerti."
"Kenapa?"
"Karena ia tidak punya ingatan seperti kita. Ia hanya punya rasa. Ia tahu ia kehilangan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa. Ia tidak bisa membayangkan rumah. Ia hanya bisa merasakan bahwa ada yang salah."
Hun Ta menatap bentuk itu lagi. Bayangan tanpa wajah yang berdiri di ladang hangus, di tempat yang dulu adalah desanya, di tempat yang dulu adalah rumahnya.
"Kau tidak bisa pulang," kata Hun Ta. "Karena kau tidak tahu ke mana harus pulang."
Bentuk itu mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, gerakannya tidak seperti kabut-ia seperti manusia yang tersentuh.
Su Luo menahan napas. "Ia mundur," bisiknya. "Itu belum pernah terjadi."
"Kenapa?" tanya Hun Ta.
"Karena selama seratus tahun aku melihatnya. Ia tidak pernah mundur. Ia hanya mendekat. Selalu mendekat."
Hun Ta menatap bentuk itu. Sesuatu di dalam dirinya-bukan Fragmen, bukan kesadaran ayahnya, tapi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri-berkata bahwa ia harus melakukan sesuatu. Bukan menyerang. Bukan melarikan diri. Tapi mengulurkan tangan.
Ia mengangkat tangannya. Perlahan. Tidak mengancam.
"Namaku Hun Ta," katanya. "Aku tidak tahu siapa kau. Aku tidak tahu apa kau. Tapi aku tahu kau kesepian. Dan aku tahu kau ketakutan. Karena aku juga."
Bentuk tanpa wajah itu berhenti bergetar. Untuk sesaat yang panjang, tidak ada yang bergerak-bukan Su Luo, bukan Xiao Ling, bukan angin, bukan rumput. Bahkan Fragmen di dada Hun Ta berhenti berdenyut.
Lalu bentuk itu melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Su Luo selama seratus tahun.
Ia menundukkan kepalanya.
Bukan gerakan menyerang. Bukan gerakan meminjam bentuk. Gerakan yang sangat manusiawi-gerakan seseorang yang mendengar namanya dipanggil untuk pertama kali setelah sekian lama.
Dan kemudian ia menghilang.
Tidak pergi. Tidak lenyap. Hanya... tidak ada. Seperti kabut yang menguap ketika matahari menyentuhnya. Udara di ladang kembali normal-hangat, kering, berdebu. Rumput-rumput berhenti bergoyang. Dan Fragmen di dada Hun Ta kembali berdenyut dengan irama yang tenang, seperti burung yang akhirnya menemukan tempat bertengger.
Su Luo menurunkan pedangnya. Tangannya gemetar.
"Apa yang kau lakukan?" katanya. Suaranya tidak marah. Hanya... bingung.
"Aku berbicara padanya."
"Kau memberinya nama."
"Aku memberinya namaku."
Su Luo menatapnya lama. "Kau tahu apa artinya itu? Di dunia kultivasi, memberi nama pada sesuatu yang lebih tua dari langit-"
"Aku tidak memberinya nama," potong Hun Ta. "Aku memberitahunya namaku. Itu berbeda."
Xiao Ling berjalan mendekat dan menggenggam tangan kakaknya lagi. "Kak," katanya pelan. "Ia tidak pergi jauh. Ia hanya... berhenti."
"Maksudmu?"
"Ia masih di sana. Di bawah tanah. Di dalam sumur. Tapi ia tidak mendekat lagi. Ia... menunggu."
Hun Ta mengangguk. "Bagus. Biarkan ia menunggu."
Mereka kembali ke reruntuhan desa. Sumur itu masih memancarkan cahaya biru pucat, tapi lebih redup dari sebelumnya-seperti nyala lilin yang hampir habis. Su Luo berdiri di tepinya, menatap ke bawah dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca Hun Ta.
"Kau bilang Liu Yan dikubur di bawah sini," kata Hun Ta.
"Benar."
"Dan kau bilang pintu itu berada di mana pun Fragmen berada. Berarti pintu itu juga ada di bawah sini."
Su Luo tidak menjawab. Ia hanya menatap sumur, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya benar-benar terbuka-bukan topeng dingin, bukan tatapan tajam. Hanya seorang perempuan tua yang menatap tempat di mana orang yang ia cintai dikubur.
"Seratus tahun," katanya pelan. "Aku menguburnya di sini karena aku tahu pintu itu tidak bisa melihat tempat ini. Aku pikir kalau aku menguburnya di tempat yang tidak ada, ia akan aman."
"Dan kau salah."
"Aku selalu salah tentang dia." Su Luo tersenyum pahit. "Liu Yan bilang padaku sekali-sebelum semuanya terjadi-bahwa aku terlalu percaya pada kebenaran. Bahwa aku pikir kalau sesuatu itu benar, maka itu juga baik. Ia bilang aku akan menyakiti banyak orang karena keyakinan itu."
"Apakah kau menyakitinya?"
Su Luo menatapnya. "Aku menyuruh seseorang membunuhnya. Dan orang itu tidak melakukannya. Liu Yan mati di tangan pintu, seperti yang Xiao Ling katakan. Tapi aku tetap yang mengirim pembunuh itu. Aku tetap yang memutuskan bahwa ia harus mati."
"Kenapa?"
"Karena ia ingin membuka pintu itu sepenuhnya." Su Luo menatap sumur lagi. "Aku pikir ia gila. Aku pikir ia sudah dirusak oleh Yang Menunggu. Tapi sekarang..." Ia berhenti.
"Sekarang kau berpikir ia mungkin benar."
"Aku tidak tahu." Su Luo menutup matanya. "Dan itu yang paling menakutkan."
Xiao Ling tiba-tiba menarik lengan Hun Ta. "Kak. Ada yang datang."
Hun Ta menoleh. Di kejauhan, di tepi hutan, sesuatu bergerak-bukan Yang Menunggu, bukan bayangan tanpa wajah. Sesuatu yang nyata. Sesosok manusia berjalan menuju mereka, dan di belakangnya, langit mulai retak lagi.
Tapi kali ini, retakan itu tidak berwarna keperakan. Kali ini, retakan itu berwarna merah.
Su Luo menegang. "Itu bukan retakan dari Alam Atas," katanya. "Itu retakan dari bawah."
"Ada apa di bawah?"
Su Luo menatap sumur. "Pintu Kesembilan," katanya. "Dan kalau retakan itu berwarna merah, berarti sesuatu di dalamnya sudah bangun sepenuhnya."
Sosok di kejauhan semakin dekat. Hun Ta bisa melihatnya sekarang-seorang pria tua dengan jubah abu-abu yang lusuh, rambut putih panjang yang tidak diikat, dan mata yang... kosong. Bukan kosong seperti Yang Menunggu. Kosong seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Ia menatap Hun Ta, lalu Xiao Ling, lalu Su Luo. Ketika matanya menemukan Su Luo, sesuatu di wajahnya berubah-bukan kemarahan, bukan kejutan. Hanya pengenalan.
"Su Luo," katanya. Suaranya serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak berbicara. "Kau masih hidup."
Su Luo menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca Hun Ta. "Kau..."
"Kau tidak mengenaliku?" Pria itu tersenyum-senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak menyalahkanmu. Seratus tahun mengubah banyak hal. Termasuk wajah."
"Kau siapa?" tanya Hun Ta.
Pria itu menoleh padanya. Untuk sesaat, matanya yang kosong itu berfokus pada dada Hun Ta-pada tempat di mana Fragmen berada.
"Kau pasti anak Hun Feng," katanya. "Kau punya matanya. Dan Fragmennya."
"Kau siapa?" ulang Hun Ta.
Pria itu menghela napas. "Namaku Gu Yang," katanya. "Dan aku adalah salah satu dari tiga pewaris yang kau cari."
Sunyi.
Bukan sunyi yang tenang-sunyi yang menekan, seperti udara sebelum badai. Su Luo menatap pria itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, dan Xiao Ling menggenggam lengan kakaknya erat.
"Pewaris?" kata Hun Ta akhirnya. "Maksudmu-"
"Fragmen Langit Kuno," potong Gu Yang. "Ada empat. Kau punya satu. Adikmu punya satu. Aku punya satu." Ia mengangkat tangan kanannya, dan di telapak tangannya, sesuatu berdenyut-cahaya keunguan yang sama dengan Fragmen di dada Hun Ta. "Dan yang keempat," lanjutnya, "ada pada seseorang yang belum kita temukan."
Su Luo akhirnya berbicara. "Kau bilang kau pewaris. Tapi kau bukan dari Alam Atas. Kau bukan dari Alam Bawah. Kau-"
"Aku dari pintu," kata Gu Yang. "Aku keluar dari pintu yang sama yang keluarkan Yang Menunggu. Tapi aku tidak seperti dia. Aku masih punya bentuk. Aku masih punya ingatan. Aku masih punya nama."
"Kenapa kau keluar?"
Gu Yang menatap Hun Ta. "Karena aku merasa sesuatu berubah. Seratus tahun aku menunggu di dalam pintu, tidak bergerak, tidak berpikir-hanya ada. Lalu tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Aku merasakan seseorang berbicara pada Yang Menunggu. Seseorang yang bukan kaisar, bukan dewa, bukan iblis. Hanya... manusia biasa."
Hun Ta menegang. "Kau merasakanku."
"Aku merasakanmu," kata Gu Yang. "Dan aku merasakan adikmu. Dan aku merasakan sesuatu yang lain-sesuatu yang lebih tua dari pintu itu sendiri. Sesuatu yang dibangunkan oleh darah adikmu."
Su Luo melangkah maju. "Apa maksudmu?"
Gu Yang menatap Xiao Ling. "Kau bilang dia kosong," katanya pada Su Luo. "Kau salah. Dia bukan kosong. Dia adalah kunci. Tapi bukan kunci untuk membuka pintu-kunci untuk menutupnya."
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena aku mendengar pintu itu berbicara tentangnya selama seratus tahun." Gu Yang menatap Xiao Ling dengan ekspresi aneh-bukan kasih sayang, bukan kebencian. Hanya rasa ingin tahu yang dalam. "Pintu itu takut padanya. Pintu itu takut pada seorang anak yang bisa mendengar batu. Karena batu-batu itu adalah bagian dari pintu, dan jika seseorang bisa mendengar mereka, seseorang bisa memerintah mereka."
Xiao Ling menatap Gu Yang tanpa rasa takut. "Aku tidak ingin memerintah siapa pun," katanya.
"Aku tahu," kata Gu Yang. "Itu yang membuatmu berbahaya."
Langit di atas mereka retak lagi-retakan merah yang semakin lebar, semakin dalam, seperti luka yang tidak bisa sembuh. Hun Ta merasakan Fragmen di dadanya berdenyut keras, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan hanya denyut, tapi tarikan. Seperti ada magnet di dalam dadanya yang menariknya ke arah retakan itu.
"Kita tidak punya banyak waktu," kata Gu Yang. "Yang Menunggu sudah bangun. Pintu Kesembilan sudah retak. Dan kalau retakan itu sampai menyentuh tanah, semua yang kau kenal akan hilang."
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Hun Ta.
Gu Yang menatapnya lama. "Kau harus masuk ke dalam pintu."
Su Luo langsung menegang. "Tidak."
"Dia satu-satunya yang bisa."
"Aku bilang tidak." Su Luo berdiri di antara Hun Ta dan Gu Yang, pedangnya terhunus. "Kau keluar dari pintu itu. Kau tahu apa yang ada di dalam. Kau tahu apa yang menunggu. Dan kau ingin mengirim anak ini ke sana?"
"Aku ingin mengirim pewarisnya ke sana," kata Gu Yang tenang. "Ada perbedaan."
"Tidak ada perbedaan!"
Gu Yang menatap Su Luo dengan mata kosongnya. "Kau tahu apa yang terjadi kalau pintu itu terbuka sepenuhnya? Kau tahu apa yang keluar? Kau sudah melihat Yang Menunggu. Kau sudah melihat apa yang bisa dilakukan sesuatu yang tidak punya bentuk. Sekarang bayangkan sesuatu yang punya bentuk. Sesuatu yang punya tujuan. Sesuatu yang tidak hanya ingin pulang-sesuatu yang ingin menghancurkan."
Su Luo terdiam.
"Pintu itu tidak bisa ditutup dari luar," lanjut Gu Yang. "Aku sudah mencoba selama seratus tahun. Yang Menunggu sudah mencoba sejak sebelum waktu dimulai. Kita semua gagal. Karena kunci untuk menutupnya ada di dalam-dan hanya pewaris Langit Kuno yang bisa masuk tanpa dihancurkan oleh pintu itu."
Hun Ta melangkah maju, melewati Su Luo. "Aku akan pergi."
"Kak!" Xiao Ling menarik lengannya.
Hun Ta menoleh pada adiknya. Wajah Xiao Ling pucat, matanya besar, dan untuk pertama kalinya sejak malam itu-malam ketika langit terbelah-Hun Ta melihat adiknya benar-benar takut.
"Jangan pergi," bisik Xiao Ling. "Aku bisa mendengar mereka. Batu-batu itu. Mereka bilang kalau kau masuk, kau tidak akan keluar."
"Xiao Ling-"
"Aku tidak mau kehilangan kau juga." Suara Xiao Ling pecah. "Ibu sudah pergi. Ayah sudah pergi. Aku tidak mau kau pergi juga."
Hun Ta berlutut di depan adiknya. Ia menatap mata itu-mata yang sama dengan mata ibunya-dan merasakan sesuatu di dalam dirinya retak. Bukan Fragmen. Bukan kekuatan kuno. Hanya dia. Hanya Hun Ta.
"Aku tidak akan pergi," katanya. "Aku akan masuk, dan aku akan keluar. Dan aku akan membawa kau pulang."
"Kau tidak tahu itu."
"Benar. Aku tidak tahu." Hun Ta tersenyum-senyum yang lelah, senyum yang jujur. "Tapi aku tahu aku tidak akan melarikan diri. Seperti ayahku. Seperti Su Luo. Seperti semua orang yang sudah menyerah sebelum mencoba."
Xiao Ling menatapnya lama. Lalu ia melepaskan lengan kakaknya.
"Kalau kau tidak kembali," katanya pelan, "aku akan mendengar batu-batu itu. Dan aku akan memerintah mereka untuk menghancurkan langit."
Hun Ta tertawa-tawa pendek yang getir. "Itu ancaman yang cukup mengerikan."
"Aku serius."
"Aku tahu."
Hun Ta berdiri. Xiao Ling masih duduk di bawah pohon, punggungnya bersandar pada batang yang kulitnya mengelupas seperti luka lama. Gadis itu tidak menangis lagi. Matanya kering, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang lebih tua dari usia sepuluh tahun-sesuatu yang sudah belajar bahwa menangis tidak mengubah apa pun.
Su Luo berdiri beberapa langkah dari mereka, pedang bersarung hitam di punggungnya, rambut peraknya menangkap cahaya biru pucat yang naik dari sumur. Wajahnya kosong, tetapi Hun Ta sudah belajar membaca retakan halus di sudut matanya. Su Luo tidak sedang menunggu. Su Luo sedang menimbang.
"Kau yakin?" tanya Su Luo. Bukan pertanyaan yang menghalangi. Pertanyaan yang memastikan.
"Tidak," jawab Hun Ta. "Tapi aku akan tetap masuk."
Su Luo mengangguk pelan, sekali. Lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah Hun Ta lihat sebelumnya: ia melepaskan pedangnya dari punggung dan menancapkannya ke tanah di samping Xiao Ling. Bilah hitam itu berdiri tegak seperti penanda kubur.
"Kalau sesuatu keluar dari sumur sebelum dia keluar," kata Su Luo kepada pedang itu, "kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Xiao Ling menatap pedang itu. Lalu menatap Su Luo. "Kau meninggalkan pedangmu untuk menjagaku?"
"Pedang itu menjaga dirinya sendiri," jawab Su Luo. "Aku hanya memberinya izin."
Hun Ta berjalan ke tepi sumur. Batu-batu di bibir sumur itu sudah retak-retakan yang tidak ada sebelumnya. Retakan yang membentuk pola seperti jari-jari tangan yang mencengkeram. Di bawah, kegelapan tidak lagi gelap. Ada cahaya biru pucat yang berdenyut pelan, seperti napas. Seperti jantung.
Fragmen di dadanya berdenyut menjawab. Bukan dengan kehangatan-dengan rasa dingin yang menyebar dari tulang rusuk ke seluruh tubuh. Fragmen itu mengenali sesuatu di bawah. Bukan sebagai musuh. Sebagai sesuatu yang pernah menjadi bagian darinya.
Hun Ta melompat.
Ia jatuh melewati dinding logam berdenyut yang sudah ia kenal-penjara yang mengurung ayahnya. Tetapi kali ini ia tidak berhenti di ruang kaca hitam. Ia jatuh lebih jauh. Melewati ukiran-ukiran yang menyala saat ia lewat. Melewati lapisan batu yang berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Melewati sesuatu yang terasa seperti air tetapi bukan air-dingin, kental, hidup.
Lalu ia mendarat.
Bukan di lantai. Di sesuatu yang lentur. Seperti berdiri di atas kulit makhluk raksasa. Di sekelilingnya, ruang itu bukan ruang. Tidak ada dinding. Tidak ada langit-langit. Hanya kabut biru yang berdenyut pelan dan lantai yang bergerak seperti napas.
Dan di tengahnya, duduk seorang perempuan.
Hun Ta mengenalinya dari mimpi-mimpi. Dari cermin kelima yang belum pernah ia lihat tetapi sudah ia rasakan. Wajah yang sama dengan wajahnya-mata yang sama, bentuk dagu yang sama, bahkan cara kepala sedikit miring ke kanan saat menunggu jawaban. Tetapi ada bekas luka di sudut bibirnya. Dan matanya-mata itu lelah. Lelah seperti seseorang yang sudah menunggu terlalu lama di tempat yang tidak punya waktu.
"Kau datang," kata perempuan itu. Suaranya bukan suara. Suaranya adalah getaran yang merambat melalui lantai dan tulang. "Aku sudah menunggu."
"Siapa kau?" tanya Hun Ta. Fragmen di dadanya menjerit-bukan kesakitan. Pengenalan. Seperti anjing yang menemukan tuannya setelah seratus tahun.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku adalah yang membuat cermin kelima menyala. Aku adalah yang tidak ditolak oleh Fragmen. Aku adalah-" Ia berhenti. Menatap Hun Ta lebih lama. "Aku adalah ibumu."
Dunia Hun Ta berhenti.
Bukan berhenti berputar. Berhenti ada. Untuk satu detik yang terasa seperti seratus tahun, tidak ada sumur, tidak ada kabut, tidak ada Fragmen. Hanya kata itu. Hanya kata yang sudah ia kubur bersama tubuh ibunya di reruntuhan desa. Hanya kata yang sudah ia genggam erat di dadanya saat cahaya penghapus membakar segalanya.
"Ibuku mati," kata Hun Ta. Suaranya datar. Terlalu datar. "Aku melihatnya. Aku melihat cahaya itu menghancurkannya. Aku melihat-"
"Kau melihat apa yang mereka ingin kau lihat."
Perempuan itu berdiri. Gerakannya tidak seperti manusia. Terlalu halus. Terlalu tenang. Seperti air yang mengalir ke atas. Ia melangkah mendekat, dan setiap langkahnya membuat kabut di sekelilingnya mundur.
"Mereka tidak menghancurkanku, Hun Ta. Mereka mengambilku. Ada perbedaan."
"Kenapa?" Suara Hun Ta pecah. Bukan karena marah. Karena sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang sudah ia kunci sejak malam itu-mulai retak. "Kenapa kau tidak kembali? Kenapa kau tidak mencari kami? Kenapa kau-"
"Karena aku tidak bisa." Perempuan itu berhenti satu langkah darinya. Ia mengangkat tangan, dan Hun Ta melihat tangannya-tangan yang sama dengan tangannya, jari yang sama panjangnya, kulit yang sama pucatnya. "Karena Yang Menunggu meminjam bentukku. Karena aku adalah pintu, Hun Ta. Sama seperti adikmu. Sama seperti semua yang pernah menyentuh Fragmen. Kita adalah pintu, dan pintu tidak bisa berjalan pulang."
Hun Ta mundur satu langkah. "Kau berbohong."
"Aku tidak bisa berbohong," kata perempuan itu. "Aku adalah bagian dari pintu. Pintu tidak bisa berbohong. Hanya membuka dan menutup."
"Kalau kau ibuku-"
"Aku ibumu."
"Kalau kau ibuku," ulang Hun Ta, dan suaranya sekarang keras, keras seperti batu yang menghantam batu, "kenapa Yang Menunggu memakai wajahmu? Kenapa ia datang ke desa dan memanggilku dengan suaramu? Kenapa ia-"
"Karena ia mencintaiku."
Hun Ta berhenti.
Perempuan itu menatapnya. Mata yang lelah itu-mata yang sama dengan mata Xiao Ling saat ia berbicara tentang batu-batu-untuk pertama kalinya menunjukkan sesuatu yang lain. Bukan kesedihan. Bukan penyesalan. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah berusia lebih tua dari langit.
"Yang Menunggu adalah yang ketujuh dari tujuh hal yang lebih tua dari langit," kata perempuan itu. "Ia tidak punya bentuk. Ia tidak punya nama. Ia hanya punya keinginan-keinginan untuk pulang. Dan aku-" Ia menyentuh dadanya sendiri. "Aku adalah yang pertama ia temui. Aku adalah yang pertama ia cintai. Aku adalah yang pertama ia pinjam."
"Kau-"
"Aku sudah mati, Hun Ta." Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam air. "Aku sudah mati seratus tahun. Tapi Yang Menunggu tidak bisa melepasku. Karena ia mencintaiku. Karena ia ingin aku hidup. Karena ia adalah pintu, dan pintu tidak bisa menutup sendiri."
Kabut di sekeliling mereka mulai berputar. Pelan. Seperti air yang dipanaskan. Seperti sesuatu yang bangun.
"Dan sekarang," kata perempuan itu-kata ibunya, kata yang ia kenal dari mimpi yang sudah ia lupakan, "ia ingin kau. Karena kau adalah anakku. Dan ia mencintaiku. Dan cinta-" Ia tersenyum, dan senyum itu adalah senyum ibunya, senyum yang ia lihat setiap malam sebelum tidur, senyum yang ia kira sudah hilang selamanya. "Cinta tidak pernah tahu kapan harus berhenti."
Hun Ta merasakan Fragmen di dadanya berdenyut-bukan dingin lagi. Panas. Terlalu panas. Seperti sesuatu yang ingin keluar. Seperti sesuatu yang ingin menjawab.
"Jangan," kata perempuan itu. "Jangan biarkan ia masuk. Kalau ia masuk, kau akan menjadi pintu. Seperti aku. Seperti Xiao Ling. Seperti semua yang pernah menyentuh Fragmen."
"Kau bilang Xiao Ling adalah pintu."
"Ya."
"Dan kau bilang pintu tidak bisa menutup sendiri."
"Ya."
"Kalau begitu-" Hun Ta menatap ibunya. Mata yang sama. Dagu yang sama. Lelah yang sama. "Bagaimana aku menutup pintu?"
Perempuan itu menatapnya lama. Lalu ia melakukan sesuatu yang membuat Hun Ta kehilangan napas. Ia tertawa. Tawa yang getir. Tawa yang sama dengan tawa Xiao Ling saat ia mengancam akan menghancurkan langit.
"Kau bertanya seperti ayahmu," katanya. "Dia juga bertanya seperti itu. Sebelum ia membuka pintu. Sebelum ia mencuri Fragmen. Sebelum ia melarikan diri. Dia pikir dia bisa menutup pintu dari luar." Ia menggeleng pelan. "Dia salah."
"Di mana ayahku?"
"Di atas. Di tubuhnya. Di tempat yang ia pikir aman." Perempuan itu menatap ke atas, ke tempat yang tidak terlihat dari bawah. "Kau harus pergi. Kau harus kembali. Dan kau harus membawa Xiao Ling sejauh mungkin dari sumur ini. Karena kalau tidak-"
Kabut itu berhenti berputar. Lalu mulai bergerak maju. Ke arah mereka. Pelan. Tidak terburu-buru. Seperti sesuatu yang tahu bahwa tidak ada yang bisa melarikan diri.
"Kalau tidak," ulang perempuan itu, dan suaranya mulai menghilang, mulai larut ke dalam kabut, "ia akan menemukan pintu. Dan pintu akan terbuka. Dan langit-"
Kabut itu menyentuh kakinya. Dan perempuan itu menghilang.
Hun Ta berdiri sendirian di ruang yang tidak punya dinding. Kabut itu berdenyut di sekelilingnya. Di dalam dadanya, Fragmen itu menjerit-bukan karena takut. Karena kehilangan.
"Aku tidak akan membiarkan kau masuk," kata Hun Ta kepada kabut. Kepada Yang Menunggu. Kepada sesuatu yang mencintai ibunya dan tidak tahu kapan harus berhenti. "Aku tidak akan membiarkan kau memakai wajahnya lagi."
Kabut itu berdenyut. Pelan. Seperti tawa. Seperti tangis. Seperti sesuatu yang sudah mendengar kata-kata itu seratus tahun lalu-dari ayahnya.
Hun Ta menoleh. Di dinding kabut yang berdenyut, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini. Sebuah pintu. Pintu kayu tua dengan ukiran yang sudah ia kenal-ukiran yang sama dengan yang ada di dada ayahnya. Ukiran yang sama dengan yang ada di belati kayu Xiao Ling.
Pintu itu terbuka sedikit. Dan dari dalamnya, ia mendengar suara. Bukan suara ibunya. Bukan suara Yang Menunggu. Suara yang lebih tua. Suara yang sudah ia dengar di dalam tulangnya sejak lahir.
"Anak Kaisar Langit Ke-9," kata suara itu. "Kau datang untuk menutup pintu. Tetapi pintu tidak bisa ditutup dari luar. Ayahmu sudah mencoba. Sekarang-"
Pintu itu terbuka lebih lebar.
"-cobalah dari dalam."
Hun Ta melangkah maju. Dan di belakangnya, jauh di atas sana, di dunia yang ia tinggalkan, ia mendengar sesuatu yang membuat hatinya berhenti. Suara Xiao Ling. Berteriak.
Hun Ta sudah setengah melangkah ke dalam pintu ketika teriakan itu merobek segalanya.
Bukan teriakan ketakutan. Bukan teriakan minta tolong. Teriakan yang ia dengar malam itu-malam ketika langit pertama kali terbelah, ketika ibunya berlari ke arahnya dan hancur menjadi serpihan cahaya. Teriakan yang sama. Nada yang sama. Keputusasaan yang sama.
Hun Ta berbalik.
Pintu kayu di belakangnya masih terbuka, memancarkan cahaya biru pucat yang tidak menerangi apa pun-hanya mengubah bentuk bayangan di dinding kabut. Suara kuno dari dalamnya terus berbicara, tapi kata-katanya kini tenggelam di bawah detak jantung Hun Ta yang menggila.
"Xiao Ling-"
Ia berlari. Tanpa berpikir. Tanpa menghitung. Kakinya menginjak kabut yang terasa seperti air dingin, dan dunia di sekelilingnya berdesir, mencoba menahannya-tapi Hun Ta sudah belajar satu hal sejak malam itu: dunia bisa menahannya, langit bisa menahannya, bahkan ayahnya sendiri bisa menahannya. Tapi tidak ada yang bisa menahannya ketika Xiao Ling berteriak.
Kabut membuka jalan. Atau mungkin Hun Ta yang menerobosnya.
Ia muncul kembali di tepi sumur. Sinar matahari sore menusuk matanya-ia tidak sadar sudah sedalam apa ia turun, atau berapa lama. Yang ia lihat hanya Xiao Ling. Berdiri di dekat pohon tempat ia tertidur. Tapi tidak sendirian.
Su Luo berdiri di antara Xiao Ling dan sesuatu.
Sesuatu yang berbentuk.
Hun Ta berhenti. Fragmen di dadanya membeku. Karena makhluk di depan Su Luo bukan lagi bayangan tanpa wajah. Bukan lagi udara yang bergoyang. Ia punya bentuk sekarang-bentuk yang salah, bentuk yang terbuat dari ingatan, bukan daging. Wajahnya adalah wajah ibu Hun Ta. Tubuhnya adalah tubuh ibu Hun Ta. Tapi matanya-matanya kosong. Dua lubang hitam yang tidak memantulkan apa pun, seperti pintu yang terbuka ke tempat yang tidak seharusnya ada.
"Ibu," bisik Xiao Ling.
"Jangan lihat," kata Su Luo. Pedangnya sudah terhunus. Bilah hitam itu bergetar-bukan karena takut, tapi karena mengenali sesuatu. "Xiao Ling, tutup matamu. Jangan dengar suaranya."
Tapi Xiao Ling tidak menutup matanya. Ia menatap makhluk itu dengan ekspresi yang aneh-bukan takut, bukan rindu. Seperti seseorang yang mengenali wajah di cermin tapi tahu itu bukan dirinya.
"Itu bukan Ibu," kata Xiao Ling pelan. "Aku bisa dengar pikirannya. Dia tidak punya pikiran. Dia hanya... gema. Ayah bilang gema tidak boleh diberi nama. Kalau diberi nama, dia jadi nyata."
Yang Menunggu tersenyum. Senyum ibunya. Senyum yang Hun Ta ingat ketika ia demam dan ibunya menempelkan kain basah di dahinya. Senyum yang sama.
"Hun Ta," katanya. Suaranya suara ibunya. "Kau pergi begitu lama. Ibu menunggu."
Fragmen di dada Hun Ta menjawab-bukan dengan kehangatan, tapi dengan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tulangnya. Sesuatu di dalam dirinya mengenali makhluk itu. Bukan sebagai ibu. Sebagai pintu.
"Kau bukan ibuku," kata Hun Ta. Suaranya lebih stabil dari yang ia rasakan. "Ibuku tidak akan memanggilku dengan nama itu. Dia selalu memanggilku 'Anak Panah'-karena aku selalu pulang dengan panah yang patah."
Yang Menunggu berhenti tersenyum.
Dan untuk sesaat-hanya sesaat-wajah ibunya retak. Bukan retak seperti kaca. Retak seperti topeng yang tidak pas. Di bawahnya ada sesuatu yang lebih gelap, lebih tua, sesuatu yang tidak punya wajah sama sekali.
"Kau salah," kata makhluk itu. Suaranya berubah. Bukan lagi suara ibunya. Suara yang pernah Hun Ta dengar di dalam tulangnya. Suara yang memanggilnya dari bawah sumur malam itu. "Aku adalah semua yang kau rindukan. Aku adalah pintu yang kau buka. Aku adalah rumah yang kau tinggalkan. Aku tidak butuh nama. Aku butuh kau."
Su Luo melangkah maju. Pedangnya terangkat.
"Jangan dengar," katanya. "Yang Menunggu tidak bisa masuk kecuali kau membukanya. Kau sudah membuka pintu di bawah-sekarang ia bisa meniru bentuk. Tapi ia tidak bisa menyentuh. Belum."
"Lalu kenapa Xiao Ling berteriak?"
Su Luo tidak menjawab.
Xiao Ling yang menjawab. "Aku berteriak karena aku melihatnya," katanya. Suaranya tenang, tapi tangannya menggenggam belati kayu begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Bukan Yang Menunggu. Aku melihat kau, Kak. Di dalam pintu. Kau masuk, dan pintu menutup, dan aku tidak bisa mendengarmu lagi. Aku berteriak karena aku pikir kau tidak akan kembali."
Hun Ta menatap adiknya. Sepuluh tahun. Anak yang malam itu ia sembunyikan di dalam sumur dengan janji agar tidak keluar apa pun yang terjadi. Anak yang darahnya membangunkan kesadaran ayah mereka. Anak yang kini bisa mendengar batu, mendengar pikiran orang, mendengar pintu.
"Kau mendengarku masuk ke pintu?"
Xiao Ling mengangguk. "Aku mendengar semua yang ada di dalam sumur. Aku mendengar ayah. Aku mendengar dia." Ia menunjuk Yang Menunggu tanpa menoleh. "Dan aku mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu yang dia takutkan."
Yang Menunggu mundur satu langkah.
Hun Ta melihatnya. Makhluk yang lebih tua dari langit, yang tidak punya bentuk, yang ketujuh dari tujuh hal yang lebih tua dari langit-dan ia mundur ketika Xiao Ling menyebut sesuatu yang lain.
"Suara apa?" tanya Hun Ta.
Xiao Ling menatap kakaknya. Matanya-mata yang tadi tampak kosong, kosong yang menunggu untuk diisi-kini berisi sesuatu. Sesuatu yang membuat Hun Ta merinding. Bukan karena menakutkan. Karena akrab. Terlalu akrab.
"Suara itu bilang," kata Xiao Ling, "bahwa pintu tidak bisa ditutup dari luar karena pintu itu bukan di bawah sumur. Pintu itu ada di dalam aku."
Hening.
Yang Menunggu memandang Xiao Ling. Dua lubang hitam itu tidak lagi kosong-mereka penuh. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Hun Ta beri nama. Ketakutan? Kelaparan? Harapan?
"Kau," kata Yang Menunggu. Suaranya bukan lagi suara ibunya. Suara yang belum pernah Hun Ta dengar. Suara yang lebih tua dari bahasa. "Kau yang kosong. Kau yang menunggu. Aku mengenalmu."
Xiao Ling mengangkat belati kayunya.
"Kau tidak mengenalku," katanya. "Kau mengenal pintu yang kau buat. Tapi aku bukan pintu itu. Aku pintu yang lain."
Dan Yang Menunggu menjerit.
Bukan jeritan yang bisa didengar telinga. Jeritan yang terasa di tulang, di gigi, di dasar tengkorak. Kabut di sekitar mereka menggeliat, pohon-pohon yang akarnya menghadap ke atas mulai mencabut diri dari tanah, dan langit-langit yang sudah retak dua kali-retak untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan garis keperakan. Kali ini bukan ketukan di pintu. Kali ini retakan itu membuka seperti mata.
Su Luo menyarungkan pedangnya. "Kita harus pergi. Sekarang."
"Apa yang terjadi?" Hun Ta menarik Xiao Ling ke belakangnya. "Apa yang kaulakukan?"
"Aku tidak melakukan apa-apa," kata Xiao Ling. "Aku hanya bilang yang sebenarnya. Dia tidak suka yang sebenarnya."
Yang Menunggu sudah tidak berbentuk lagi. Ia adalah kabut, ia adalah angin, ia adalah suara yang mengisi kepala Hun Ta dengan terlalu banyak hal sekaligus-ingatan yang bukan miliknya, wajah-wajah yang tidak ia kenal, pintu-pintu yang tidak pernah ia buka. Ia melihat seorang perempuan dengan bekas luka di sudut bibir-perempuan dari cermin kelima-berdiri di depan pintu cahaya hitam. Ia melihat ayahnya-Hun Feng-berlutut di depan pintu itu, menangis. Ia melihat Su Luo muda, rambutnya belum putih, menyerahkan sesuatu kepada seseorang yang punggungnya menghadap. Ia melihat Liu Yan.
Kaisar Langit Pertama.
Wajahnya adalah wajah Xiao Ling.
Bukan wajah anak sepuluh tahun. Wajah perempuan dewasa dengan mata yang sama-mata yang lelah, mata yang sudah melihat terlalu banyak, mata yang menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Liu Yan menatap Hun Ta dari dalam ingatan Yang Menunggu. Bibirnya bergerak.
"Kau bukan pewaris," katanya. "Kau pengganti. Dan pengganti selalu datang terlambat."
Hun Ta tersentak kembali ke kenyataan.
Su Luo menggenggam lengannya. Wajahnya pucat. "Apa yang kau lihat?"
"Liu Yan," kata Hun Ta. "Aku melihat Liu Yan. Dan wajahnya-"
Ia menoleh ke Xiao Ling.
Xiao Ling menatapnya. Sepuluh tahun. Adiknya. Anak yang ia ajari memanah. Anak yang ia sembunyikan di sumur. Anak yang darahnya membangunkan ayah mereka.
"Mata Liu Yan," kata Hun Ta pelan, "sama dengan matamu."
Xiao Ling tidak terkejut. Ia sudah tahu. Mungkin sudah tahu sejak malam pertama, sejak darahnya menetes ke celah batu dan sesuatu di bawah sumur terbangun dan mengenalinya. Ia menggenggam belati kayunya dan berkata, "Ayah bilang aku harus belajar mendengarkan. Aku sudah belajar. Sekarang aku tahu kenapa."
"Kenapa?"
"Karena Liu Yan tidak mati," kata Xiao Ling. "Dia menunggu. Seperti Yang Menunggu. Tapi dia menunggu di dalam aku."
Su Luo melepaskan lengan Hun Ta. Mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Wajahnya-wajah yang selalu dingin, selalu terkendali, selalu tahu lebih banyak dari yang ia katakan-kini kosong. Kosong seperti cermin kelima. Kosong seperti pintu yang tidak bisa ditutup.
"Aku menguburnya," kata Su Luo. Suaranya hampir tidak terdengar. "Aku menguburnya di bawah sumur karena itu satu-satunya tempat yang tidak bisa dilihat pintu. Aku memastikan dia tidak bisa kembali. Aku memastikan-"
"Kau memastikan tubuhnya tidak bisa kembali," kata Xiao Ling. "Tapi kau tidak bisa memastikan jiwanya. Liu Yan adalah pintu. Seperti aku. Kau tidak bisa mengubur pintu. Kau hanya bisa menutupnya. Dan kau-" Xiao Ling menatap Su Luo dengan mata yang terlalu tua untuk wajahnya. "-kaulah yang membukanya. Seratus tahun lalu. Ketika kau mengkhianatinya."
Su Luo jatuh ke lututnya. Pedang hitam di pinggangnya bergetar, lalu diam. Seperti pemiliknya.
Hun Ta berdiri di antara adiknya dan gurunya, dan untuk pertama kalinya ia merasa seperti orang biasa lagi. Bukan pewaris. Bukan pembawa fragmen. Bukan anak Kaisar Langit Ke-9. Hanya seorang kakak yang tidak tahu harus berbuat apa.
"Xiao Ling," katanya. "Apakah kau masih dirimu?"
Xiao Ling menatapnya. Dan senyumnya-senyum yang sama dengan senyum ibunya, senyum yang sama dengan senyum Liu Yan dari dalam ingatan Yang Menunggu-adalah senyum Xiao Ling. Senyum anak sepuluh tahun yang bangga karena bisa memanah tepat sasaran. Senyum adiknya.
"Aku masih aku, Kak," katanya. "Tapi aku juga sesuatu yang lain. Dan aku baru tahu kenapa Yang Menunggu takut padaku."
"Kenapa?"
"Karena aku bisa menutup pintu," kata Xiao Ling. "Bukan pintu di bawah sumur. Pintu yang lain. Pintu yang ayah buka. Pintu yang membuat langit retak. Aku bisa menutupnya-tapi hanya dari dalam. Seperti kata suara itu."
Hun Ta menggeleng. "Tidak. Kau tidak akan masuk ke pintu apa pun."
"Kak-"
"Tidak." Hun Ta berlutut di depan adiknya. Ia menggenggam bahu Xiao Ling, dan Fragmen di dadanya-fragmen yang sama yang membuat Yang Menunggu mundur, yang sama yang membuat Su Luo berlutut, yang sama yang membuat langit retak ketiga kali-berdenyut tenang. Seperti detak jantung. Seperti janji. "Ayah bilang orang biasa sebaiknya tidak menyentuh urusan langit. Aku tidak biasa. Aku sudah menyentuh urusan langit. Dan aku akan menyelesaikannya. Tapi bukan dengan mengorbankanmu."
Xiao Ling menatapnya. Matanya-mata Liu Yan, mata yang menunggu seratus tahun-berkaca. "Kau tidak bisa menutup pintu dari luar, Kak. Ayah sudah mencoba. Dia gagal. Dia melarikan diri. Dia-"
"Ayah melarikan diri karena dia mencintai sesuatu lebih dari kebenaran," kata Hun Ta. "Dan dia kehilangan keduanya. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama."
Ia berdiri. Menatap Su Luo yang masih berlutut. Menatap Yang Menunggu yang sudah tidak terlihat-tapi masih ada, di sudut matanya, di dalam kabut, di dalam retakan langit. Menatap dunia yang sudah rusak sejak malam pertama.
"Kita tidak akan menutup pintu," katanya. "Kita akan membukanya. Sepenuhnya. Dan kita akan melihat apa yang ada di baliknya."
Su Luo mengangkat kepala. "Itu bunuh diri."
"Mungkin," kata Hun Ta. "Tapi ayahku membuka pintu dan melarikan diri. Delapan Kaisar Langit menyegelnya dan menunggu. Liu Yan mati di depan pintu. Kau menguburnya dan menunggu seratus tahun. Semua orang menunggu. Semua orang takut. Dan pintu itu-" Ia menunjuk retakan di langit, retakan yang membuka seperti mata. "-semakin lebar setiap kali kita menunggu."
Ia menoleh ke Xiao Ling.
"Kau bilang kau bisa mendengar sesuatu di dalam pintu. Sesuatu yang Yang Menunggu takutkan. Apa itu?"
Xiao Ling menggenggam belati kayunya. "Suara itu bilang," katanya pelan, "bahwa pintu itu tidak pernah dimaksudkan untuk ditutup. Pintu itu dimaksudkan untuk dilewati. Dan orang yang membuat pintu itu-yang pertama kali membuatnya-bukan Kaisar Langit. Bukan dewa. Bukan iblis. Dia manusia. Manusia pertama yang menemukan bahwa langit bisa retak."
Hun Ta menatap langit.
Langit menatapnya kembali.
"Kalau begitu," katanya, "kita cari manusia itu."
Di kejauhan, di bawah sumur, di dalam ruang kaca hitam, tubuh Hun Feng bergerak lagi. Matanya terbuka. Dan untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, ia berbicara.
"Jangan."
Tapi tidak ada yang mendengarnya.
Di Alam Atas, Wei Qianjin duduk di depan sembilan cermin. Cermin kelima menyala. Wajah perempuan itu-wajah Liu Yan, wajah Xiao Ling, wajah yang sama-menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, Liu Yan berbicara dengan bahasa yang bisa dimengerti.
"Kau terlambat," katanya. "Seperti selalu."
Wei Qianjin tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. "Aku tidak terlambat," katanya. "Aku hanya menunggu orang yang tepat."
Ia menoleh ke cermin ketiga. Hun Ta. Pemuda yang menolak jalan kultivasi. Pemuda yang bersumpah akan meruntuhkan langit. Pemuda yang baru saja memutuskan untuk membuka pintu yang selama seratus tahun semua orang berusaha tutup.
"Dan aku pikir," kata Wei Qianjin, "aku baru saja menemukannya."
Di Desa Yanhe, matahari terbenam. Hun Ta, Xiao Ling, dan Su Luo berdiri di tepi sumur. Tidak ada yang berbicara. Yang Menunggu sudah pergi-untuk sekarang. Langit masih retak-tapi tidak melebar. Fragmen di dada Hun Ta berdenyut tenang. Seperti detak jantung. Seperti hitungan mundur.
Hun Ta menoleh ke Xiao Ling. "Kau yakin kau bisa mendengar pintu itu?"
Xiao Ling mengangguk. "Aku bisa mendengarm
"Aku bisa mendengarnya," kata Xiao Ling. "Seperti seseorang yang bernapas di balik dinding. Pelan. Sabar. Seperti menunggu kita lebih dulu."
Hun Ta menatap mulut sumur. Batu-batu di tepinya masih utuh-tidak ada yang berubah sejak terakhir kali ia melompat ke dalamnya. Tapi udara di sekitarnya bergetar berbeda. Lebih dingin. Lebih berat. Seperti ada sesuatu yang menarik napas dari bawah, dan setiap tarikan menarik juga sesuatu dari dalam dirinya.
Su Luo berdiri di belakang mereka, pedang hitamnya masih tersarung, tapi tangannya tidak lepas dari gagang. Matanya-yang selama ini dingin dan tenang-kali ini bergerak cepat, mengamati setiap sudut desa yang runtuh. Seperti seseorang yang kembali ke tempat kejahatan dan mencoba mengingat di mana ia meletakkan sesuatu.
"Kau bilang kau bisa mendengar pintu itu," kata Su Luo pelan, matanya tertuju pada Xiao Ling. "Apa lagi yang kau dengar?"
Xiao Ling memejamkan mata. Angin malam bertiup dari arah gunung, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih tua-seperti batu yang belum pernah terkena cahaya matahari. Gadis kecil itu menggenggam belati kayunya erat-erat.
"Ada tiga suara," katanya. "Yang pertama bilang jangan kembali. Yang kedua bilang kembali, belum selesai. Yang ketiga-" ia berhenti. Membuka mata. Menatap kakaknya. "Yang ketiga tidak bicara. Dia hanya... menunggu kita memutuskan."
Hun Ta merasakan Fragmen di dadanya berdenyut sekali. Keras. Seperti menjawab sesuatu yang tidak ia dengar.
"Yang Menunggu," katanya.
Xiao Ling menggeleng. "Bukan. Yang Menunggu sudah pergi-untuk sekarang. Ini suara yang lain. Lebih dalam. Lebih lama. Seperti seseorang yang sudah ada di sana sebelum sumur ini digali."
Su Luo melangkah maju. Wajahnya pucat-lebih pucat dari biasanya. "Tidak ada yang lebih tua dari sumur ini," katanya, tapi suaranya tidak yakin. "Aku menggali sumur ini bersamamu, Hun Feng. Seratus tahun lalu. Tidak ada apa-apa di bawahnya selain batu dan akar."
"Kau menggali sumur ini?" Hun Ta menoleh.
Su Luo tidak menjawab. Matanya tertuju pada dasar sumur, seolah bisa melihat menembus batu dan tanah dan bertahun-tahun. "Aku menggali makamnya," katanya akhirnya. "Liu Yan. Kami menggali sumur ini untuk menguburnya-karena ia pernah bilang suatu kali, kalau aku mati, kubur aku di tempat yang tidak bisa dilihat langit. Dan sumur adalah satu-satunya tempat di bawah langit yang tidak bisa melihatmu."
Hun Ta terdiam. Ibu yang ia kenal-wanita yang menyembunyikannya di sumur saat langit terbelah-tidak pernah bercerita tentang ini. Tidak pernah bercerita tentang apa pun yang berkaitan dengan ayahnya. Selama ini ia pikir ibunya juga korban, orang biasa yang terjebak dalam sesuatu yang tidak ia pahami.
Tapi jika Su Luo dan Hun Feng menggali sumur ini sebelum Hun Ta lahir-berarti ibunya tahu. Ibunya tahu siapa ayahnya. Ibunya tahu apa yang ada di bawah rumah mereka selama bertahun-tahun.
"Kau tidak perlu tahu semuanya sekarang," kata Su Luo, seolah membaca pikirannya. "Yang penting kau tahu satu hal: apapun yang kau dengar dari bawah sana, jangan percaya. Fragmen mulai matang. Dan sesuatu di bawah sana meminjam bentuk dari ingatan yang paling kau rindukan."
Hun Ta mengepalkan tangan. "Kau bilang itu tadi. Tentang ibuku."
"Aku tidak bilang itu ibumu," jawab Su Luo. "Aku bilang itu meminjam bentuk dari ingatan yang paling kau rindukan. Kau yang memutuskan suara siapa yang kau dengar."
Xiao Ling tiba-tiba berdiri. Belati kayunya bergetar di tangannya-bukan karena gadis itu gemetar, tapi karena kayu itu sendiri yang bergetar. Seperti ada sesuatu di dalamnya yang ingin keluar.
"Kak," katanya. "Ada yang naik."
Mereka tidak melihat apa-apa.
Sumur itu tetap seperti sebelumnya-batu, lumut, cahaya biru pucat yang memancar dari kedalaman yang tidak seharusnya memancarkan cahaya. Tidak ada tangan yang menjulur keluar. Tidak ada wajah yang muncul dari kegelapan. Tidak ada suara yang mengucapkan nama mereka.
Tapi udara berubah. Hun Ta merasakannya di kulitnya-sensasi seperti berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka dari sisi lain. Bukan angin. Bukan dingin. Hanya kehadiran. Sesuatu yang tidak bergerak tapi ada. Sesuatu yang tidak bernapas tapi hidup.
Dan kemudian Hun Ta mendengarnya. Bukan dari sumur. Dari dalam dirinya.
"Kau tidak perlu membuka pintu itu," kata suara itu. Suara laki-laki. Lembut. Lelah. Akrab.
Hun Ta menoleh ke Su Luo. "Kau dengar itu?"
Su Luo menggeleng. Wajahnya tegang. "Dengar apa?"
Hun Ta menutup mata. Suara itu terus berbicara-bukan seperti bisikan, lebih seperti ingatan yang muncul tanpa diundang, seperti bau yang tiba-tiba membawa kembali seluruh masa kecil dalam sekali tarikan napas.
"Aku pernah berdiri di tempatmu sekarang," kata suara itu. "Di depan pintu yang sama. Dan aku juga berpikir aku bisa mengendalikannya."
"Ayah?" kata Hun Ta. Tapi tidak ada jawaban.
Xiao Ling menggenggam lengan kakaknya. "Bukan ayah," katanya. "Aku dengar suara itu juga. Tapi bukan dari bawah. Dari dalam dirimu. Dari dalam Fragmen."
Su Luo menoleh tajam. "Kau bisa mendengar Fragmen kakakmu?"
Xiao Ling mengangguk. "Sejak aku minum air dari sumur. Aku bisa mendengar semua yang bergema. Dan Fragmen itu bergema seperti... genta. Dipukul sekali, lalu bergetar lama setelahnya."
Su Luo berlutut di depan Xiao Ling. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya tidak dingin. Tidak curiga. Hanya-lelah. Lelah yang sama seperti yang ia lihat di mata ibunya sebelum ibu itu lenyap.
"Kau tahu apa artinya itu?" tanya Su Luo.
Xiao Ling menggeleng.
"Fragmen Langit Kuno," kata Su Luo pelan, "diciptakan dari gema. Dari suara pertama yang membelah keheningan sebelum langit ada. Pembawa Fragmen bisa mendengar gema itu-tapi hanya dari dalam. Hanya dari Fragmen mereka sendiri. Tidak ada yang bisa mendengar Fragmen orang lain. Kecuali-"
Ia berhenti.
"Kecuali pembawa separuh Fragmen yang lain," kata Hun Ta, menyelesaikan kalimatnya. "Karena kalian adalah dua bagian dari genta yang sama. Kau memukul satu, yang lain bergetar."
Su Luo menatap Hun Ta lama. Ada sesuatu di matanya-bukan kejutan, tapi pengakuan. Seperti seseorang yang melihat muridnya melakukan sesuatu yang sudah ia duga sejak awal.
"Kau belajar cepat," katanya.
"Aku tidak belajar apa-apa," jawab Hun Ta. "Aku hanya... tahu. Seperti aku selalu tahu kalau Xiao Ling sedang bersembunyi di belakang rumah meskipun aku tidak melihatnya. Seperti aku selalu tahu kalau hujan akan turun sebelum langit gelap. Aku pikir itu naluri petani."
"Itu bukan naluri petani," kata Su Luo. "Itu Fragmen. Selama ini kau mengira kau bisa membaca cuaca. Kau sebenarnya membaca gema dari separuh Fragmen yang lain-yang ada di dalam adikmu. Kalian terhubung bahkan sebelum kalian tahu kalian terhubung."
Xiao Ling menarik napas. "Jadi aku selalu... terhubung dengan Kak Hun Ta? Bahkan sebelum aku minum air sumur?"
Su Luo mengangguk. "Sejak kau lahir. Mungkin sejak sebelum kau lahir. Fragmen di tubuhmu-separuh yang tidak diambil ayahmu-bereaksi terhadap kehadiran kakakmu. Itulah kenapa kau selalu merasa tenang saat ia ada. Kenapa kau selalu tahu kalau ia sedih meskipun ia tidak menunjukkan apa-apa. Kau mendengar gemanya."
Hun Ta merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan Fragmen. Bukan getaran. Hanya-kehangatan. Ia menatap adiknya. Gadis kecil yang selama ini ia lindungi. Yang ia sembunyikan di dalam sumur saat langit terbelah. Yang ia janjikan akan mengajarinya memanah.
Ternyata selama ini gadis itu yang melindunginya. Dengan cara yang tidak ia pahami. Dengan gema yang tidak bisa ia dengar.
"Aku tidak tahu," kata Hun Ta akhirnya. "Aku tidak tahu kalau kau bisa mendengar semua itu."
Xiao Ling tersenyum. Kecil. Seperti seseorang yang sudah lama menyimpan rahasia dan akhirnya bisa meletakkannya. "Aku juga tidak tahu kalau itu namanya mendengar. Aku pikir semua orang bisa."
Malam itu mereka tidak masuk ke dalam sumur.
Su Luo memutuskan mereka harus beristirahat-kata-kata terakhirnya sebelum ia pergi ke tepi desa untuk mengawasi: "Fragmen sedang matang. Dan kau baru saja mendengar suara dari dalamnya. Itu berarti ada sesuatu yang menyentuh Fragmen dari luar, mencoba berkomunikasi. Kita tidak boleh masuk sampai kita tahu siapa yang bicara."
Hun Ta duduk bersandar pada batu nisan ibunya. Sebuah batu sederhana yang ia dirikan dengan tangannya sendiri-tanpa jasad di bawahnya, karena ibunya tidak meninggalkan apa pun selain serpihan cahaya yang ia kumpulkan dan kuburkan di bawah batu itu. Xiao Ling tertidur di sampingnya, kepalanya di pangkuan Hun Ta, belati kayunya masih tergenggam erat.
Hun Ta menatap langit. Retakan itu masih ada-garis-garis keperakan yang dulu memancarkan bisikan kembalilah. Sekarang retakan itu diam. Tidak memancarkan apa-apa. Tapi tidak menutup. Seperti luka yang berhenti berdarah tapi tidak sembuh.
"Kau tidak tidur?"
Su Luo berdiri di kejauhan. Tidak mendekat. Hanya berdiri di sana, seperti seseorang yang sudah lama belajar menjaga jarak.
"Tidak bisa," kata Hun Ta.
Su Luo mengangguk. Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya berdiri di sana, menatap langit yang sama, dan untuk sesaat Hun Ta melihat sesuatu di wajahnya-sesuatu yang mirip dengan apa yang ia rasakan saat menatap nisan ibunya. Kehilangan. Penyesalan. Dan di bawah semuanya, sesuatu yang lebih keras dari keduanya: tekad.
"Su Luo," kata Hun Ta. "Kau bilang kau menggali sumur ini bersamanya. Ayahku. Seratus tahun lalu. Untuk mengubur Liu Yan."
"Ya."
"Kenapa kau masih di sini?"
Su Luo menoleh. "Apa maksudmu?"
"Kau bilang kau mengkhianatinya. Liu Yan. Kau bilang kau menyuruh seseorang membunuhnya tapi tidak melakukannya sendiri. Kau bilang ia mati di tangan pintu, dan kau menguburnya di bawah sumur karena itu satu-satunya tempat yang tidak bisa dilihat pintu." Hun Ta berhenti. "Kenapa kau kembali? Kenapa kau tidak pergi begitu saja dan lupakan semuanya?"
Su Luo terdiam lama. Angin malam bertiup, membawa bau tanah dan akar dan sesuatu yang lebih pahit-sesuatu seperti asap dari api yang sudah lama padam.
"Karena aku tidak bisa melupakan," katanya akhirnya. "Karena setiap kali aku menutup mata, aku melihatnya. Bukan saat ia mati. Saat ia masih hidup. Saat ia berdiri di depan pintu yang sama yang kita bicarakan sekarang, dan bertanya padaku-Su Luo, kalau aku masuk dan tidak kembali, apakah kau akan menyusul?"
Ia berhenti. Menatap tangannya sendiri. Tangan yang menggenggam pedang selama seratus tahun.
"Aku bilang ya," katanya. "Aku bilang ya, aku akan menyusul. Tapi aku tidak menyusul. Aku mengkhianatinya. Aku menyuruh orang lain masuk menggantikanku-karena aku takut. Dan ketika ia mati, aku menguburnya di bawah sumur karena aku tidak berani melihat wajahnya lagi. Bahkan saat mati."
Hun Ta tidak berkata apa-apa.
"Kau ingin tahu kenapa aku masih di sini?" Su Luo menatapnya. "Karena aku ingin tahu apakah aku masih bisa menepati janji. Setelah seratus tahun. Setelah semua yang kulakukan. Apakah masih ada cara untuk menyusul tanpa mengkhianati lagi."
Ia menoleh kembali ke langit.
"Dan kau," katanya. "Kau adalah cara itu. Kau adalah pintu yang ia tinggalkan untukku. Kau adalah alasan aku masih bisa percaya bahwa janji bisa ditepati meskipun sudah terlambat seratus tahun."
Hun Ta menatapnya lama. Pria berjubah putih dengan rambut perak yang semakin memutih setiap hari. Pria yang selama ini ia anggap dingin dan tak bisa disentuh. Pria yang ternyata menyimpan seratus tahun penyesalan di balik matanya.
"Kau tahu," kata Hun Ta pelan, "aku pikir kau datang untuk mencabut Fragmen dari tubuhku karena kau ingin melindungiku. Ternyata kau datang karena kau ingin melindungi dirimu sendiri. Dari rasa bersalahmu."
Su Luo tidak membantah.
"Tapi itu tidak apa-apa," lanjut Hun Ta. "Karena aku juga. Aku tidak membuka pintu itu karena aku ingin menyelamatkan dunia. Aku membukanya karena aku ingin tahu siapa ayahku. Aku ingin tahu kenapa ibuku mati. Aku ingin tahu kenapa desaku hancur. Aku egois. Aku hanya ingin jawaban."
Su Luo menatapnya. Ada sesuatu di matanya-sesuatu yang mirip dengan rasa hormat. Atau mungkin hanya kejutan. Sulit dibedakan.
"Kau jujur," katanya. "Lebih jujur dari yang seharusnya."
"Aku tidak punya alasan untuk berbohong," kata Hun Ta. "Kau sudah tahu siapa aku. Kau sudah tahu apa yang ada di dalam diriku. Kau sudah tahu aku bukan pahlawan. Aku hanya pemuda dari desa kecil yang kehilangan segalanya dan terlalu keras kepala untuk menyerah."
Su Luo tersenyum. Untuk pertama kalinya-senyum yang sungguh-sungguh. Kecil. Lelah. Tapi sungguh-sungguh.
"Kau tahu," katanya, "ayahmu juga begitu. Terlalu keras kepala untuk menyerah. Terlalu jujur untuk berbohong. Dan terlalu bodoh untuk tahu kapan harus berhenti."
Ia menoleh ke arah sumur.
"Dan lihat apa yang terjadi padanya."
Malam semakin dalam. Su Luo kembali ke posnya di tepi desa. Hun Ta tetap duduk di samping nisan ibunya, Xiao Ling tertidur di pangkuannya.
Ia menatap sumur. Cahaya biru pucat itu masih memancar, stabil, seperti napas yang tidak pernah berhenti. Dan untuk sesaat, Hun Ta merasakan sesuatu yang aneh-bukan dari Fragmen, bukan dari sumur, tapi dari dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang seperti ingatan. Ingatan yang bukan miliknya.
Seorang laki-laki berdiri di depan pintu cahaya hitam. Wajahnya mirip dengan Hun Ta-garis rahang yang sama, tatapan yang sama. Tapi matanya lebih tua. Lebih lelah. Seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak dan tidak bisa melupakan apa pun.
"Kau akan sampai di sini," kata laki-laki itu. "Cepat atau lambat. Dan ketika kau sampai, kau akan mengerti kenapa aku melakukannya."
"Kenapa?" tanya Hun Ta dalam mimpinya.
Laki-laki itu menoleh. Ada air mata di matanya-tapi juga senyum.
"Karena aku mencintai sesuatu yang lebih dari kebenaran," katanya. "Dan aku kehilangan keduanya."
Hun Ta terbangun.
Langit di ufuk timur mulai memerah. Xiao Ling masih tertidur di pangkuannya. Belati kayunya tidak lagi bergetar. Su Luo masih berdiri di tepi desa, punggungnya menghadap mereka, pedangnya masih tersarung.
Dan di mulut sumur-di batu paling atas yang selama ini Hun Ta pikir hanya batu biasa-ada ukiran yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Ukiran yang sama dengan yang ada di dada ayahnya. Emas. Berdenyut. Menunggu.
Hun Ta menatap ukiran itu. Lalu menatap adiknya
~ Bab 5 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.