SEBELUM LANGIT MERUNTUH
Bab 4
Wajah di Cermin Kelima
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Cahaya bulan menembus celah-celah dedaunan, jatuh seperti pecahan kaca di atas tanah yang basah oleh embun. Hun Ta tidak bergerak dari posisinya-bersandar pada batang pohon yang kulitnya kasar, dengan Xiao Ling tertidur di pangkuannya, kepala mungil adiknya bersandar di lengan yang pernah terbakar oleh cahaya penghapus itu. Lengan itu kini hanya menyisakan bekas keperakan tipis, seperti sungai kering yang membeku di kulit.
Belati kayu di tangan Xiao Ling masih bergetar. Hun Ta menatapnya lama, lalu menutupinya dengan telapak tangannya sendiri. Getaran itu berhenti-bukan karena diredam, tapi karena sesuatu dalam dirinya menjawab. Fragmen di dadanya berdenyut pelan, seirama dengan napas Xiao Ling yang teratur.
Ia tidak tidur malam itu.
Ketika fajar pertama menyentuh ujung timur, Su Luo sudah berdiri di tepi sungai kecil yang mengalir di antara batu-batu. Jubah putihnya basah oleh embun, tapi ia tidak peduli. Pedang bersarung hitam itu ditancapkan ke tanah di sampingnya, dan ia menatap air yang mengalir seperti sedang membaca sesuatu di dalamnya. Hun Ta memperhatikan bahwa rambut perak Su Luo lebih banyak yang putih dibanding kemarin-atau mungkin itu hanya cahaya pagi yang menipu matanya.
"Kau tidak tidur," kata Su Luo tanpa menoleh.
"Kau juga tidak."
Su Luo akhirnya menoleh. Mata abu-abunya-yang kemarin dingin seperti logam-kini memiliki sesuatu yang Hun Ta tidak bisa baca. Bukan kehangatan, bukan pula permusuhan. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang lelah.
"Ada yang ingin kutanyakan," kata Hun Ta. Ia bangkit perlahan, memastikan Xiao Ling masih tidur nyenyak dengan jaket lusuhnya sebagai bantal. "Kemarin kau bilang ayahku-Hun Feng-membuka pintu terlarang di Pilar Selatan. Kau bilang dia melarikan diri karena takut."
"Ya."
"Tapi kau juga bilang kau adalah muridnya selama tiga puluh tahun."
Su Luo tidak menjawab. Ia menarik pedangnya dari tanah, dan gerakan itu lebih lambat dari yang seharusnya-seperti ada beban tak terlihat di lengan tuanya.
"Aku hanya ingin tahu," lanjut Hun Ta, "selama tiga puluh tahun itu, apakah kau pernah melihatnya takut?"
Su Luo menatapnya tajam. Untuk sesaat, wajah itu kembali dingin-topeng yang biasa ia kenakan. Tapi retakan di topeng itu belum sepenuhnya menutup. Hun Ta bisa melihatnya: keraguan yang sama seperti ketika ia menyebut "Pintu Kesembilan" kemarin.
"Tidak," akhirnya Su Luo berkata. "Hun Feng tidak pernah takut pada apa pun. Itulah masalahnya."
"Lalu kenapa kau begitu yakin dia melarikan diri karena takut?"
Su Luo membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ia menoleh ke sungai, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Hun Ta melihatnya tidak punya jawaban.
"Karena itu yang lebih mudah dipercaya," kata Su Luo pelan. "Lebih mudah membenci pengkhianat daripada mempertanyakan apakah kau telah salah selama seratus tahun."
Hun Ta tidak mendesak lebih jauh. Ia sudah belajar sesuatu yang penting-bukan tentang ayahnya, tapi tentang Su Luo. Pria ini bukan sekadar penjaga yang datang untuk mencabut fragmen. Ia adalah seseorang yang kehilangan gurunya, kehilangan kepercayaannya, dan selama seratus tahun menggantungkan seluruh identitasnya pada satu kebenaran yang mungkin tidak pernah benar.
Mereka melanjutkan perjalanan ke timur setelah Xiao Ling bangun. Su Luo tidak banyak bicara hari itu-hanya sesekali mengoreksi pernapasan Hun Ta, menyesuaikan posisi tubuhnya saat fragmen mulai berdenyut terlalu cepat. Tapi pikirannya jelas di tempat lain. Hun Ta bisa merasakannya dari cara Su Luo menggenggam gagang pedangnya, dari cara matanya terus melirik ke langit yang mulai berwarna pucat.
Menjelang sore, mereka mencapai sebuah lembah yang aneh. Pepohonan di sini tumbuh dengan cara yang salah-akar-akarnya menghadap ke atas, menembus tanah seperti jari-jari yang mencoba meraih langit. Daun-daunnya berwarna perak, dan ketika angin bertiup, mereka tidak bergerak seperti daun biasa. Mereka bergetar, seperti sedang berbisik.
"Kita berhenti di sini," kata Su Luo. "Malam ini kau akan belajar sesuatu yang tidak bisa kutunda lagi."
Hun Ta meletakkan Xiao Ling di bawah pohon besar yang akarnya melengkung membentuk semacam tempat berlindung alami. Adiknya tidak terbangun-tidurnya terlalu lelap, terlalu dalam. Terlalu tenang.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Hun Ta. "Dia tidur seperti-"
"Seperti orang yang mendengar sesuatu yang tidak bisa kau dengar," potong Su Luo. "Kau sudah tahu itu. Darahnya membangunkan ayahmu. Darah itu juga membuatnya terhubung dengan sesuatu yang lebih tua dari yang bisa kupahami."
"Kau bilang kau ingin mengajarku bertahan hidup. Bukan mengajarku tentang Xiao Ling."
"Aku tidak bisa mengajarkan apa yang tidak kupahami." Su Luo duduk di batu yang rata, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, ia terlihat benar-benar tua. "Tapi ada satu hal yang bisa kuajarkan malam ini. Sesuatu yang mungkin membuatmu tidak mati dalam sebulan ke depan."
Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya-sebuah pecahan kristal kecil, tidak lebih besar dari kuku jari, berwarna biru keunguan yang hampir identik dengan fragmen di dada Hun Ta.
"Fragmen Langit Kuno tidak bisa dipisahkan dari pembawanya," kata Su Luo. "Kau sudah tahu itu. Tapi ada satu pengecualian. Jika pembawa fragmen itu belajar memisahkan dirinya sendiri-memisahkan kesadarannya dari fragmen-maka fragmen itu bisa diambil tanpa membunuhnya. Untuk sementara."
"Mengapa kau memberitahuku ini? Bukankah kau ingin mencabut fragmenku?"
"Aku sudah mencoba. Kau melihat sendiri apa yang terjadi." Su Luo menatap pecahan kristal di tangannya. "Fragmen itu mengenali kekuatan Hun Feng dalam diriku. Itu menolakku. Tapi ada orang lain yang tidak akan ditolak fragmen itu."
Hun Ta merasakan darahnya dingin. "Kau tidak sedang bicara tentang dirimu."
"Tidak." Su Luo mengangkat matanya. "Aku sedang bicara tentang orang yang membuat cermin kelima menyala setelah seratus tahun."
Di bawah tanah, jauh di bawah desa yang sudah menjadi reruntuhan, ukiran di dada Hun Feng berdenyut hitam. Bukan merah seperti peringatan, bukan emas seperti restu-hitam, warna yang tidak pernah ada dalam kosmologi Sembilan Kaisar Langit. Hitam adalah warna kekosongan. Warna sebelum penciptaan. Warna yang seharusnya tidak bisa disentuh oleh makhluk hidup.
Tapi ukiran itu terus berdenyut, dan di dalam ruang bawah tanah yang gelap, ada sesuatu yang bergerak.
Tubuh Hun Feng-utuh, tidak membusuk, dengan lubang menganga di dada-mulai bergetar. Perlahan. Seperti seseorang yang mencoba bangun dari tidur yang sangat panjang. Jari-jari tangannya bergerak, menggenggam udara kosong. Kelopak matanya bergetar.
Dan dari dalam lubang di dadanya, tempat fragmen yang pernah bersemayam, keluar sebuah suara. Bukan suara Hun Feng. Bukan suara suara kuno yang pernah memanggil Hun Ta. Suara yang lebih tua dari keduanya. Suara yang terdengar seperti bumi yang mengerang sebelum gempa.
"Kau membangunkan aku," kata suara itu. "Anak yang membawa separuh. Kau tidak seharusnya ada."
Tubuh Hun Feng terangkat dari tempatnya-bukan berdiri, tapi melayang, beberapa inci di atas lantai batu. Matanya membuka, tapi yang menatap bukan mata manusia. Yang menatap adalah cahaya hitam pekat yang berputar seperti pusaran.
"Dia menyembunyikanmu di sini," lanjut suara itu melalui mulut Hun Feng. "Berpikir aku tidak akan menemukanmu. Berpikir penjara ini cukup kuat."
Tangan Hun Feng terangkat, dan dinding logam yang selama ini membentuk penjara di sekitar ruang bawah tanah mulai retak. Bukan hancur-retak. Seperti kaca yang menerima tekanan terlalu lama.
"Sembilan Kaisar Langit menyegelku dengan kekuatan mereka," kata suara itu. "Tapi mereka lupa satu hal. Segel yang dibuat dari kekuatan kaisar hanya bisa bertahan selama kaisar-kaisar itu masih percaya pada kebenaran mereka."
Retakan menyebar. Dinding logam itu berdenyut seperti jantung yang gagal.
"Dan kau-" Suara itu berhenti. Tangan Hun Feng menoleh ke arah tertentu-ke arah atas, ke arah Hun Ta dan Xiao Ling. "-kau membawa anaknya. Anak yang membawa separuh lainnya. Bagus. Aku akan menunggu di sini. Karena ketika kau kembali, kau akan membawanya kepadaku."
Tubuh Hun Feng jatuh kembali ke lantai. Ukiran di dadanya berhenti berdenyut. Tapi retakan di dinding logam itu tetap ada-jejak yang tidak bisa dihapus.
Di Alam Atas, Wei Qianjin berdiri di depan cermin kelima. Wajah perempuan di dalamnya semakin jelas sekarang-mata yang sama seperti Hun Ta, tulang pipi yang sama, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada bekas luka tipis di sudut bibirnya, dan tatapannya tidak seperti tatapan orang yang hidup di Alam Bawah. Tatapan itu seperti tatapan seseorang yang telah melihat terlalu banyak dan memilih untuk tidak melihat lagi.
"Kau sudah lama tidak muncul," kata Wei Qianjin. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya-sesuatu yang tidak tenang. "Seratus tahun. Aku mulai berpikir kau benar-benar hilang."
Perempuan di cermin itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Wei Qianjin dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca-tidak marah, tidak takut, tidak apa-apa.
"Apakah kau akan berbicara?" tanya Wei Qianjin. "Atau kau hanya akan menatapku seperti kau menatap delapan Kaisar Langit lainnya sebelum kau menghilang?"
Akhirnya, perempuan itu bergerak. Ia mengangkat tangannya, dan di dalam cermin, ia menulis sesuatu di udara. Huruf-huruf yang tidak dikenal Wei Qianjin-tapi ia mengenali polanya. Itu adalah bahasa yang digunakan sebelum Sembilan Kaisar Langit ada. Bahasa yang lebih tua dari langit itu sendiri.
Wei Qianjin membaca tulisan itu. Wajahnya-yang selama ini selalu tenang, selalu tersenyum-berubah. Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, Wei Qianjin terlihat... bingung.
"Kau tidak mungkin," bisiknya. "Kau tidak mungkin tahu tentang itu."
Perempuan di cermin itu tersenyum. Senyum tipis yang tidak sampai ke matanya.
Dan cermin kelima padam. Wajah itu hilang, seperti tidak pernah ada.
Wei Qianjin berdiri diam untuk waktu yang lama. Lalu ia menoleh ke cermin ketiga-ke Hun Ta, yang sedang duduk di samping adiknya di lembah aneh itu, dengan Su Luo di dekatnya. Wei Qianjin mengamati mereka untuk beberapa saat, lalu mengangkat tangannya dan menyentuh permukaan cermin.
"Su Luo," panggilnya.
Di dalam cermin, Su Luo tersentak. Ia menoleh ke atas, seperti mendengar sesuatu. Tapi tidak ada yang terlihat. Tidak ada yang bisa ia lihat.
"Aku tahu kau bisa mendengarku," lanjut Wei Qianjin. "Kau selalu bisa mendengarku. Itu sebabnya aku memilihmu."
Su Luo berdiri kaku di lembah. Hun Ta, yang sedang berlatih pernapasan seperti yang diajarkan, membuka matanya dan melihat perubahan pada pria itu.
"Ada apa?" tanya Hun Ta.
Su Luo tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah langit, dan di wajahnya-wajah yang selama ini selalu terkendali-ada sesuatu yang mirip dengan ketakutan.
"Su Luo?"
"Kita harus bergerak," kata Su Luo. Suaranya tegang. "Sekarang. Jangan tanya kenapa."
"Apa? Xiao Ling masih tidur-"
"Bawa dia." Su Luo sudah bergerak, mengemasi barang-barangnya dengan gerakan cepat yang tidak seperti dirinya. "Sekarang, Hun Ta. Jangan tanya. Jangan berdebat. Bawa adikmu dan ikuti aku."
Hun Ta tidak mengerti. Tapi ada sesuatu dalam suara Su Luo-sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Suara seseorang yang benar-benar takut.
Ia membangunkan Xiao Ling, yang mengerjap-ngerjap bingung, dan menggendongnya. Mereka berlari meninggalkan lembah aneh itu, menuju hutan yang lebih gelap, dan di belakang mereka, akar-akar pohon yang menghadap ke atas mulai bergerak-perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat, seperti jari-jari raksasa yang mencoba meraih mereka.
Hun Ta tidak menoleh. Tapi ia merasakan sesuatu di punggungnya-bukan tatapan, bukan niat buruk. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mengenali fragmen di dadanya.
Dan di dalam benaknya, ia mendengar suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Suara perempuan. Lembut. Familiar dalam cara yang tidak bisa ia jelaskan.
"Jangan kembali ke sumur," kata suara itu. "Apapun yang kau dengar. Apapun yang kau lihat. Jangan kembali."
Hun Ta hampir terjatuh. Xiao Ling menatapnya dengan mata yang terbelalak-dan untuk sesaat, Hun Ta melihat sesuatu di mata adiknya. Bukan mata anak berusia sepuluh tahun. Mata seseorang yang lebih tua. Seseorang yang telah menunggu.
"Kakak," kata Xiao Ling pelan. "Siapa yang bicara?"
Hun Ta tidak menjawab. Karena ia tidak tahu apakah ia ingin tahu jawabannya.
Mereka berlari menembus hutan, dan di belakang mereka, lembah itu tenggelam dalam kegelapan-bukan kegelapan malam, tapi kegelapan yang berasal dari sesuatu yang bukan cahaya, bukan bayangan. Kegelapan yang menunggu.
Dan jauh di bawah tanah, di dalam ruang yang penuh retakan, tubuh Hun Feng tersenyum. Bukan senyumnya. Senyum sesuatu yang lain.
"Anakku," bisik suara itu. "Kau akan datang. Kau selalu datang."
Mereka berlari sampai kaki mereka berdarah.
Hun Ta tidak berhenti sampai paru-parunya terbakar dan rasa logam memenuhi tenggorokannya. Xiao Ling berlari di sampingnya-tidak tertinggal, tidak tersandung, kakinya menemukan setiap akar dan batu sebelum matanya melihatnya. Hun Ta tidak punya waktu untuk memikirkan apa artinya itu. Ia hanya bisa memikirkan satu hal: jauh dari sumur, jauh dari lembah, jauh dari suara itu.
Fajar menemukan mereka di tepi sungai kecil yang tidak dikenal. Hun Ta jatuh berlutut di lumpur, tangannya gemetar. Xiao Ling berdiri di sampingnya, tenang, dan itu membuat Hun Ta lebih takut daripada apapun yang terjadi semalam.
"Kakak," kata Xiao Ling. "Kau belum minum sejak kemarin."
Hun Ta menatap adiknya. Xiao Ling menatap balik-dengan mata yang sekarang terlihat biasa, mata seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang kelelahan. Tidak ada yang tua di sana. Tidak ada yang menunggu.
Tapi Hun Ta ingat.
"Aku tidak haus," katanya pelan.
Xiao Ling mengangguk, lalu duduk di sampingnya, menggenggam belati kayu pemberiannya. Ia tidak bertanya lagi tentang suara itu. Tidak bertanya kenapa mereka berlari semalaman. Ia hanya duduk, dan menunggu, seperti seseorang yang tahu bahwa jawaban akan datang pada waktunya.
Hun Ta membasuh wajahnya di sungai. Airnya dingin dan nyata. Ia menatap pantulannya-wajah yang sama, mata yang sama. Tapi di bawah kulit dadanya, sisa fragmen itu berdenyut, seperti kepala yang mengangguk. Ke timur. Itu yang ditunjukkannya sejak pertama kali. Dan sekarang, di tepi sungai ini, denyutnya telah berubah-bukan ke timur lagi.
Ke bawah.
Hun Ta menatap tanah di bawah kakinya. Di bawah lumpur. Di bawah akar. Di bawah batu.
"Kau merasa sesuatu," kata Su Luo.
Hun Ta tidak mendengar langkahnya. Tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri di seberang sungai, jubah putihnya bersih meski hutan ini penuh lumpur-sebuah kemustahilan kecil yang mengingatkan Hun Ta bahwa Su Luo bukan manusia biasa. Pedang hitam masih tersarung di punggungnya. Wajahnya tetap dingin, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Sesuatu yang menunggu.
"Kau merasa sesuatu," ulang Su Luo. "Fragmen itu. Ia berubah."
"Kau mengikutinya," kata Hun Ta.
"Tentu saja." Su Luo melangkah menyeberangi sungai tanpa membuat riak. "Aku bilang aku akan melatihmu. Aku tidak bilang aku akan membiarkanmu pergi ke mana pun sendirian." Ia berhenti beberapa langkah dari mereka, menatap Hun Ta dengan mata yang membaca terlalu banyak. "Dan kau membawa adikmu ke tengah hutan di tengah malam tanpa memberi tahu aku. Kenapa?"
Hun Ta berdiri. Air sungai mengalir dari jubahnya, dari ujung jari-jarinya. Ia menatap Su Luo tepat di mata.
"Kau tidak mendengar suara itu," katanya. "Kau tidak mendengar apa yang ia katakan."
Su Luo diam.
"Jangan kembali ke sumur," kata Hun Ta. "Itu yang ia bilang. Padahal kita sudah pergi sejauh ini. Padahal kita tidak mungkin kembali." Ia menelan ludah. "Suara itu-suara yang keluar dari retakan langit, suara yang keluar dari bawah tanah, suara yang keluar dari dadaku sendiri-ia terus mengulang hal yang sama. Seperti ia ingin aku melakukan sebaliknya."
Su Luo menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat, ia menurunkan tudung jubahnya-dan untuk pertama kalinya Hun Ta melihat wajahnya sepenuhnya tanpa bayangan. Su Luo lebih tua dari yang ia duga. Garis-garis tipis mengukir sudut matanya, dan ada bekas luka lama di pelipis, seperti goresan pedang yang hampir mengenainya. Wajah seseorang yang telah berjalan selama seratus tahun tanpa pernah berhenti.
"Kau benar," kata Su Luo pelan. "Aku tidak mendengar suara itu. Tapi aku pernah mendengar sesuatu seperti itu, seratus tahun lalu, di Pilar Selatan." Ia menatap ke arah barat-ke arah Gunung Sunyi yang jauh di sana, tersembunyi di balik kabut pagi. "Dan aku bertanya-tanya, setiap hari selama seratus tahun, apakah aku salah karena tidak mendengarkannya."
Xiao Ling melihat dari tepi sungai. Ia tidak bergerak. Tapi Su Luo meliriknya-sekilas, cepat-dan Hun Ta melihatnya. Lirikan yang berisi sesuatu. Bukan curiga. Bukan takut. Sesuatu yang lebih rumit. Sesuatu yang menyayat.
"Apa kau tahu apa yang ada di bawah sumur?" tanya Hun Ta. "Bukan yang aku temukan. Yang lebih dalam. Yang tidak aku lihat."
Su Luo mengalihkan pandangannya kembali ke Hun Ta. Untuk sesaat, pria itu terdiam-dan di dalam diam itu, Hun Ta melihat sesuatu yang ia tidak pernah lihat sebelumnya. Keraguan. Keraguan yang nyata, bukan keraguan seorang guru yang tidak yakin pada muridnya, tapi keraguan seseorang yang tidak yakin pada dirinya sendiri.
"Ada pintu," kata Su Luo akhirnya. "Di bawah sumur itu, lebih dalam dari ruang ayahmu, lebih dalam dari apapun yang pernah kau lihat, ada pintu. Pintu yang sama yang kubuka bersama Hun Feng seratus tahun lalu di Pilar Selatan."
Darah Hun Ta berhenti mengalir.
"Pintu itu," lanjut Su Luo, "tidak di Pilar Selatan. Itu yang aku pikir selama ini. Tapi ketika aku menancapkan pedangku ke tanah di lembah itu, semalam, ketika aku mencoba mencabut fragmen dari dadamu-aku merasa pintu itu. Di bawah kita. Di bawah sumur itu. Di bawah seluruh desa itu." Ia menatap Hun Ta. "Pintu itu selalu di sini. Aku yang salah selama seratus tahun. Aku tidak membuka pintu di Pilar Selatan. Aku membuka pintu yang sama, di tempat yang berbeda. Dan pintu itu akan selalu di mana kau berada, Hun Ta. Selalu. Karena pintu itu terikat pada fragmen. Dan fragmen itu terikat pada kau."
Hun Ta merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari dadanya ke seluruh tubuhnya.
"Jadi kalau aku berpindah," katanya pelan, "pintu itu ikut berpindah."
"Ya."
"Dan kalau aku kembali ke sumur-"
"Kau akan membangunkan sesuatu yang tidak seharusnya bangun," potong Su Luo. "Sesuatu yang bahkan delapan Kaisar Langit tidak mampu melawan sendiri. Sesuatu yang ayahmu-" Ia berhenti. Menutup matanya. "Sesuatu yang ayahmu lihat di dalam pintu itu. Sesuatu yang membuatnya melarikan diri bukan karena takut mati, tapi karena apa yang ia lihat membuatnya lebih takut hidup."
Xiao Ling bangkit dari tepi sungai. Ia berjalan menghampiri mereka-pelan, hati-hati, seperti seseorang yang tahu bahwa setiap langkahnya didengarkan oleh lebih dari satu orang. Ia berdiri di samping Hun Ta, dan menggenggam tangannya.
"Kakak," katanya. "Suara itu-suara yang bilang jangan kembali ke sumur. Aku juga mendengarnya. Tapi aku juga mendengar yang lain." Ia menatap Su Luo dengan mata yang jelas, mata yang terlalu jelas. "Suara yang bilang: Kembalilah. Kau belum selesai."
Su Luo menatap anak itu lama. Lalu ia menoleh ke Hun Ta.
"Darahnya," kata Su Luo pelan. "Darahnya yang membangunkan kesadaran ayahmu. Bukan darahmu." Ia berjongkok di depan Xiao Ling, mencari sesuatu di wajahnya-dan Hun Ta melihat bahwa pria itu benar-benar, sepenuhnya bingung. "Siapa kau?"
Xiao Ling tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Hun Ta lebih erat, dan Hun Ta merasakan sesuatu di balik genggaman itu. Bukan hangat. Bukan dingin. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang tidak ia kenal.
"Malam sudah habis," kata Hun Ta, memutus keheningan. "Kita berjalan sepanjang malam. Kita tidak bisa terus lari tanpa tahu ke mana."
Su Luo berdiri. Ia menatap langit di atas sungai-langit yang retak kemarin, yang sekarang kembali biru, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi Hun Ta tahu. Retakan itu tidak hilang. Ia hanya menunggu.
"Ke timur," kata Su Luo akhirnya. "Kita tetap ke timur. Ada seseorang di sana. Seseorang yang mengenal ayahmu lebih baik dari aku." Ia menoleh ke Hun Ta. "Seseorang yang mungkin tahu apa yang ada di dalam pintu itu. Dan seseorang yang-" Ia berhenti, dan untuk pertama kalinya, sesuatu di wajahnya retak. Rasa sakit. Rasa sakit lama yang tidak pernah sembuh. "Seseorang yang mungkin masih mau berbicara denganku setelah seratus tahun."
"Apa dia juga murid ayahku?"
"Tidak." Su Luo mulai berjalan ke timur, menyeberangi sungai tanpa menoleh. "Dulu. Sebelum aku. Sebelum semuanya. Ia-" Ia berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Ketika ia berbicara lagi, suaranya berbeda. Lebih rendah. Lebih tua. "Ia dulu mengajar ayahmu. Dan aku mengkhianatinya dengan mengikutimu."
Hun Ta mengikuti. Xiao Ling mengikuti. Mereka berjalan ke timur, sepanjang sungai yang mengalir ke tempat yang belum mereka kenal.
Malam itu, mereka berhenti di reruntuhan menara tua-sisa dari sesuatu yang mungkin pernah menjadi kuil, mungkin pernah menjadi penjara. Su Luo tidak tidur. Ia duduk di ambang pintu, menatap langit, dan Hun Ta-yang terbaring di lantai batu dengan Xiao Ling tertidur di sisinya-mendengarnya berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku mengkhianatimu," kata Su Luo pada langit. "Dan kau masih hidup. Aku tahu kau masih hidup. Itu yang membuatku bertahan selama ini."
Hun Ta berpura-pura tidur. Ia mendengar Su Luo bangkit, berjalan keliling menara, dan berbisik pada sesuatu di luar. Lalu Ia mendengar suara lain-suara yang bukan milik Su Luo. Suara yang ia kenal.
Suara dari dalam dadanya.
"Kau tidak bisa kembali," bisik suara itu. "Kau tahu itu. Kau sudah melihatnya. Di dalam pintu. Kau melihat apa yang menunggu."
Hun Ta membuka matanya. Di atasnya, langit di lubang reruntuhan menara mulai retak lagi-garis-garis keperakan, tipis, seperti jaring yang meluas. Dan dari dalam retakan itu, untuk pertama kalinya, sesuatu jatuh.
Setetes air.
Hun Ta tidak tahu kenapa. Tidak tahu apa artinya. Tapi ketika tetes itu mengenai pipinya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan. Kehangatan yang ia kenal. Kehangatan yang ia rasakan ketika ibunya memeluknya.
Ia menutup matanya. Dan di dalam kegelapan di balik kelopaknya, ia melihat ibunya berdiri di depan pintu cahaya hitam-pintu yang sama yang dilihat ayahnya-dan ibunya menatapnya dengan mata yang sama seperti Xiao Ling. Mata yang lebih tua. Mata yang menunggu.
"Jangan kembali ke sumur," kata ibunya. "Tapi kau harus kembali ke pintu. Ada perbedaan."
Hun Ta terbangun dengan air mata di wajahnya. Langit di atas menara sudah biru kembali. Su Luo berdiri di ambang pintu, punggung menghadapnya, menatap sesuatu di kejauhan.
"Kau mimpi," kata Su Luo tanpa menoleh.
"Ya."
"Tentang pintu?"
Hun Ta tidak menjawab. Ia menatap Xiao Ling yang masih tertidur-tenang, seperti tidak ada apapun yang terjadi. Lalu ia menatap Su Luo.
"Ada perbedaan," katanya pelan, "antara kembali ke sumur dan kembali ke pintu."
Su Luo menoleh. Wajahnya kosong. Tapi sesuatu di matanya-sesuatu yang sangat kecil-berubah.
"Siapa yang memberitahumu itu?"
Hun Ta berdiri. Ia meraih jubahnya, meraih tongkat kayunya, dan berdiri di samping pria yang telah berbohong dan tidak berbohong selama seratus tahun itu.
"Aku akan memberitahumu," katanya, "kalau kau memberitahuku siapa yang mengajar ayahku. Dan kenapa kau mengkhianatinya."
Su Luo menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat, ia mencabut pedangnya dan menancapkannya ke tanah di antara mereka-sebuah garis pemisah, sebuah sumpah, sebuah pengakuan.
"Namanya Liu Yan," kata Su Luo. "Kaisar Langit Pertama. Dan aku mengkhianatinya karena aku mencintainya, dan aku tidak bisa menerima bahwa ia tidak pernah mencintaiku kembali."
Xiao Ling membuka matanya.
"Kakak," katanya. "Batu-batu itu bicara lagi. Mereka bilang Liu Yan sudah mati. Dan yang menjaga pintu di bawah sumur-" Ia berhenti, menatap Su Luo dengan mata yang tidak berkedip. "-adalah jasadnya."
Su Luo tidak bergerak.
Untuk sesaat yang panjang, satu-satunya suara yang terdengar di tepi hutan itu adalah angin yang menggesekkan daun-daun pinus di atas kepala mereka, dan napas Xiao Ling yang tiba-tiba terdengar terlalu keras dalam keheningan. Hun Ta menatap wajah Su Luo-pria yang selama tiga hari ini hanya menunjukkan sikap dingin, terkadang sinis, kadang seperti orang yang lelah terlalu lama untuk marah. Sekarang wajah itu kosong. Bukan kosong seperti tidak peduli, tapi kosong seperti rumah yang baru saja ditinggalkan penghuninya.
"Ulangi," kata Su Luo.
Xiao Ling tidak mundur. Ia berdiri dari tempatnya duduk di akar pohon, menggenggam belati kayunya, dan mengulangi dengan suara yang lebih pelan tapi lebih jelas. "Batu-batu itu bilang Liu Yan sudah mati. Dan yang menjaga pintu di bawah sumur adalah jasadnya."
Su Luo menoleh ke arah Hun Ta. Bukan ke Xiao Ling-bukan ke anak kecil yang mengucapkan kata-kata itu-tapi ke Hun Ta, seolah mencari jawaban pada laki-laki yang baru berusia dua puluh satu tahun namun sudah kehilangan segalanya dalam satu malam.
"Kau mendengar ini sebelumnya?" tanyanya.
"Tidak," kata Hun Ta. "Tapi aku mendengar suara dari bawah sumur sebelum kau datang. Suara yang lebih tua dari ayahku. Aku pikir itu sisa kesadarannya."
"Kau pikir." Su Luo mengulangi kata itu seperti kata asing. "Kau pikir."
Ia mencabut pedangnya dari tanah. Gerakannya cepat, tajam, tanpa ragu-seperti orang yang sudah seratus tahun tidak pernah membiarkan dirinya bimbang. Tapi setelah pedang itu kembali ke sarungnya, tangannya tetap di gagangnya, erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
"Liu Yan adalah Kaisar Langit Pertama," kata Su Luo. "Ia memimpin delapan lainnya. Ia yang menemukan Pintu Kesembilan di dasar Pilar Selatan. Ia yang menyebut bahwa langit terlalu tua, terlalu berat, terlalu banyak memakan sesuatu yang tidak seharusnya ia makan."
Hun Ta diam. Ia belajar untuk tidak memotong orang yang sedang membuka pintu yang sudah lama terkunci.
"Aku adalah murid keempatnya," lanjut Su Luo. "Yang pertama adalah ayahmu. Yang kedua adalah Wei Qianjin. Yang ketiga adalah seorang perempuan yang namanya sudah tidak disebut lagi. Dan aku-murid keempat-yang disuruh menjaga Pintu Kesembilan ketika mereka semua pergi."
"Kenapa?" tanya Hun Ta.
"Karena aku yang paling lemah," kata Su Luo, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ada sesuatu yang mirip senyum di sudut bibirnya. Bukan senyum bahagia. Lebih seperti luka yang sudah lama mengering dan ia sudah lupa bahwa luka itu masih ada. "Liu Yan bilang aku harus menjaga pintu karena aku satu-satunya yang tidak akan tertarik membukanya. Ia bilang aku terlalu takut kehilangan dia untuk mengkhianatinya. Dan mungkin itu benar. Mungkin aku memang terlalu takut. Tapi aku lupa bahwa orang yang terlalu takut kehilangan juga bisa menghancurkan apa yang ia takut kehilangan."
Xiao Ling melangkah maju. Kecil, kurus, dengan rambut yang masih acak-acakan karena tidur, tapi matanya-tidak seperti anak sepuluh tahun. Mata itu menatap Su Luo seperti seseorang yang mendengar sesuatu yang tidak dikatakan.
"Kau bilang kau mengkhianatinya," kata Xiao Ling. "Tapi batu-batu itu bilang kau tidak membunuhnya."
Su Luo menoleh. Keras.
"Kau menyuruh seseorang untuk membunuhnya," kata Xiao Ling. "Tapi kau tidak melakukannya."
Hun Ta merasakan sesuatu di dadanya berdenyut. Fragmen itu. Bukan panas-bukan dingin-tapi sesuatu yang, untuk pertama kalinya, terasa seperti mengangguk. Seperti sesuatu di dalam dirinya mengenali kata-kata adiknya.
"Kau bicara dengan batu," kata Su Luo, suaranya pelan dan berbahaya. "Kau bicara dengan batu, dan batu itu bicara tentang Liu Yan, dan kau pikir kau tahu apa yang terjadi seratus tahun lalu?"
"Aku tidak tahu," kata Xiao Ling, dan suaranya tidak naik, tidak turun, tidak bergetar. "Aku hanya mendengar. Kau yang tidak mau mendengar."
Hun Ta berdiri di antara mereka. Bukan karena ia pikir Su Luo akan melukai Xiao Ling-bukan, Su Luo tidak seperti itu-tapi karena ia merasakan sesuatu di udara, sesuatu yang mirip dengan getaran yang ia rasakan malam desanya dihancurkan. Sesuatu yang belum terjadi tapi sudah bisa ia cium.
"Su Luo," katanya. "Lihat matanya."
Su Luo menoleh. Xiao Ling berdiri di sana, dengan mata cokelat yang sama seperti mata Hun Ta, mata yang mereka warisi dari ibu mereka-mata yang tidak punya apa-apa selain cahaya pagi yang lewat di antara pepohonan. Tidak ada emas. Tidak ada cahaya bintang. Tidak ada apa-apa yang aneh.
"Coba lagi," kata Hun Ta.
Xiao Ling menoleh ke Su Luo, dan berkata, dengan suara yang tenang seperti orang yang sedang membaca dari buku yang tidak terlihat: "Liu Yan tidak mati di tanganmu. Ia mati di tangan pintu. Dan kau menguburnya di bawah sumur karena itu satu-satunya tempat yang pintu tidak bisa lihat."
Su Luo jatuh ke lututnya.
Bukan perlahan. Bukan dramatis. Ia jatuh seperti orang yang lututnya baru saja diambil dari tubuhnya, seperti orang yang selama seratus tahun berdiri di atas tanah yang ternyata tidak pernah ada. Pedangnya menyentuh tanah di sampingnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kau bohong," katanya, tapi suaranya tidak percaya pada kata-katanya sendiri. "Kau tidak bisa tahu itu. Tidak ada yang tahu itu. Aku menguburnya sendirian. Aku tidak memberitahu siapa pun."
"Batu itu memberitahuku," kata Xiao Ling. "Batu di bawah sumur. Batu yang kau letakkan di dadanya."
Hun Ta merasakan dadanya berdenyut lagi. Fragmen itu. Ia ingat sesuatu-yang pertama kali: saat ia melompat ke dalam sumur di Bab 2, ia mendarat di ruang bawah tanah. Ia menemukan tubuh ayahnya. Utuh. Tidak membusuk. Dengan lubang menganga di dada.
Lubang itu.
"Su Luo," kata Hun Ta. "Siapa yang melubangi dada ayahku?"
Su Luo menurunkan tangannya. Matanya merah, tapi tidak ada air mata-bukan karena ia kuat, tapi karena ia telah kehabisan air mata seratus tahun yang lalu. Ia menatap Hun Ta seperti orang yang baru pertama kali melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Kau benar," katanya kepada Xiao Ling. "Kau benar. Aku tidak membunuh Liu Yan. Kau ingin tahu siapa yang membunuhnya?"
Ia berdiri. Pedangnya tetap di tanah. Ia tidak mengambilnya.
"Pintu yang kau buka bersama ayahmu," katanya kepada Hun Ta. "Pintu yang kalian buka di Pilar Selatan. Itu yang membunuhnya. Bukan karena pintu itu berisi sesuatu yang jahat-bukan. Karena pintu itu berisi sesuatu yang benar, dan Liu Yan tidak tahan melihatnya."
Hun Ta merasakan Fragmen itu berdenyut lagi. Kali ini lebih kuat. Lebih dalam. Seperti sesuatu di dalam dirinya sedang mencoba mengingat sesuatu yang bukan miliknya.
"Apa yang ada di dalam pintu itu?" tanyanya.
Su Luo menatapnya lama. Lalu ia menoleh ke arah hutan, ke arah langit yang mulai terang, ke arah garis-garis keperakan yang masih tipis di cakrawala seperti bekas luka yang belum sembuh.
"Aku tidak tahu," katanya. "Liu Yan tidak pernah memberitahuku. Ia hanya bilang bahwa pintu itu bukan gerbang menuju sesuatu. Pintu itu adalah tempat di mana sesuatu tidak ada. Dan ketika kau membukanya, kau tidak sedang membuka pintu menuju sesuatu-kau sedang membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada."
Hun Ta mengingat mimpi itu. Ayahnya di depan pintu cahaya hitam. "Aku melarikan diri bukan karena takut mati. Aku melarikan diri karena aku mencintai sesuatu yang lebih dari kebenaran, dan aku kehilangan keduanya."
"Kau bilang ayahku menemukan sesuatu di dalam pintu," katanya. "Sesuatu yang membuatnya yakin seluruh alam semesta akan terhapus jika Fragmen Langit Kuno tetap di tangan Sembilan Kaisar Langit."
Ya," kata Su Luo. "Dan sekarang aku mulai percaya."
Ia melangkah maju. Tidak menuju Hun Ta. Menuju Xiao Ling.
"Kau," katanya. "Kau tidak punya fragmen. Wei Shan bilang kau kosong. Tapi batu-batu bicara padamu, dan kau mendengar jasad yang sudah seratus tahun mati. Kau bukan kosong. Kau adalah sesuatu yang lain."
Xiao Ling tidak mundur. "Apa?"
"Kau adalah pintu," kata Su Luo.
Hun Ta melangkah di antara mereka. Bukan karena ia berpikir Su Luo akan menyakiti Xiao Ling-tapi karena ia merasakan sesuatu yang dingin merambat di tulang punggungnya, sesuatu yang lebih tua dari rasa takut, sesuatu yang mirip dengan peringatan yang ia dengar di dalam mimpi.
"Jangan," katanya.
"Aku tidak akan menyakitinya," kata Su Luo. "Aku hanya mengatakan apa yang sudah aku ketahui sejak aku melihatnya di ruang bawah tanah itu. Darahnya membangunkan kesadaran ayahmu. Darahnya membangunkan batu-batu. Darahnya yang membuat jasad Liu Yan bicara. Kau pikir itu kebetulan?"
Hun Ta tidak menjawab.
"Fragmen Langit Kuno terbelah dua," lanjut Su Luo. "Kau bilang separuh ada di tubuhmu, separuh di tubuhnya. Tapi Wei Shan salah. Wei Shan selalu salah tentang banyak hal. Separuh fragmen ada di tubuhmu. Separuh lagi-tidak ada di tubuh Xiao Ling. Separuh lagi ada di dalam pintu. Dan Xiao Ling adalah kunci yang bisa membukanya."
Langit di atas mereka retak lagi.
Bukan retakan besar. Hanya garis tipis yang muncul di antara awan, memancarkan cahaya keperakan yang redup, seperti benang yang menjahit langit dan mulai lepas. Hun Ta menatapnya, dan untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang berbeda dari retakan sebelumnya. Bukan panggilan. Bukan ancaman. Sesuatu yang lebih tenang. Sesuatu yang mirip dengan suara seseorang yang mengetuk pintu.
"Kau dengar itu?" tanya Xiao Ling.
"Ya," kata Hun Ta.
"Aku juga," kata Su Luo.
Ketiganya berdiri diam di tepi hutan, di bawah langit yang retak, dan untuk sesaat tidak ada yang bicara. Lalu Xiao Ling berkata, dengan suara yang tenang seperti orang yang baru saja menyelesaikan teka-teki:
"Suara itu bukan dari langit. Suara itu dari bawah."
Hun Ta menoleh ke arah desa. Ke arah sumur. Ke arah tempat di mana ayahnya berbaring dengan lubang di dada, dan ukiran keemasan yang sudah berubah dari merah menjadi hitam.
"Kita harus kembali," katanya.
Di bawah sumur, jasad Hun Feng berbaring di lantai batu hitam, tidak membusuk, tidak bernapas. Tapi dadanya bergerak. Perlahan. Seperti sesuatu di dalamnya sedang bangun dari tidur yang sangat panjang.
Ukiran di sekitarnya berubah lagi. Dari hitam menjadi ungu. Dan di dalam lubang di dadanya, sesuatu berdenyut. Sesuatu yang bukan jantung. Sesuatu yang bukan fragmen.
Sesuatu yang mirip dengan pintu.
Di Alam Atas, Wei Qianjin duduk di depan sembilan cermin. Cermin ketiga menyala-Hun Ta, berjalan melalui hutan, dengan Su Luo dan Xiao Ling di belakangnya. Cermin keempat menyala-Xiao Ling, dengan mata yang tidak lagi kosong, dengan sesuatu di dalamnya yang mulai terbentuk. Cermin kelima masih gelap.
Wei Qianjin mengetuk permukaan cermin kelima dengan satu jari. Tidak ada reaksi.
"Belum," katanya. "Belum waktunya."
Ia menoleh ke cermin pertama. Di dalamnya, sebuah ruangan batu, sebuah altar, sebuah kursi kosong. Di atas kursi itu, sesuatu yang mirip dengan mahkota. Mahkota yang terbuat dari cahaya yang tidak memancarkan apa-apa.
"Liu Yan," katanya, suaranya pelan dan penuh sesuatu yang tidak bisa disebut rindu atau benci. "Kau bilang langit akan runtuh ketika sembilan menjadi satu. Kau bilang tidak ada langit yang tersisa untuk diruntuhkan. Kau bilang semua ini akan berakhir dengan cara yang tidak bisa kita bayangkan."
Ia tersenyum.
"Kau tidak pernah bilang bahwa kau akan mati lebih dulu."
Di tepi hutan, Hun Ta berhenti. Ia menoleh ke arah langit yang retak. Garis keperakan itu masih ada di sana, tipis dan tenang, seperti bekas luka yang tidak akan pernah sembuh.
"Kakak," kata Xiao Ling. "Batu-batu itu bilang sesuatu lagi."
"Apa?"
"Mereka bilang pintu di bawah sumur sedang terbuka. Dan yang keluar dari dalamnya-" Xiao Ling berhenti. Ia menatap Hun Ta dengan mata yang untuk pertama kalinya terlihat takut.
"Apa?" tanya Hun Ta lagi.
"Yang keluar dari dalamnya adalah seseorang yang kau kenal."
Hun Ta merasakan Fragmen di dadanya berdenyut. Bukan seperti sebelumnya. Bukan panggilan. Bukan peringatan. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mirip dengan suara seseorang yang mengetuk pintu dari dalam, dan pintu itu adalah dirinya sendiri.
"Mama?" tanyanya.
Xiao Ling tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan kakaknya, dan berjalan lebih cepat.
Mereka tiba di desa saat matahari sudah tinggi. Reruntuhan masih sama seperti yang ditinggalkan Hun Ta malam itu: puing-puing rumah, abu yang sudah dingin, batu nisan yang ia dirikan untuk ibunya di tepi desa. Sumur itu masih ada di tengah lapangan, lubang gelap yang tidak menunjukkan apa-apa selain kegelapan.
Tapi kali ini, dari dalam sumur, ada cahaya.
Bukan cahaya keemasan. Bukan cahaya keperakan. Cahaya biru pucat, seperti cahaya bulan yang dipantulkan dari air yang sangat dalam. Hun Ta menatapnya, dan merasakan sesuatu di dalam dadanya bergerak menuju cahaya itu, seperti besi menuju magnet.
"Jangan turun," kata Su Luo. "Belum."
"Apa yang keluar?" tanya Hun Ta.
"Kau dengar apa yang adikmu bilang."
"Aku dengar. Aku tanya apa yang keluar."
Su Luo menatap sumur itu lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang pelan dan datar seperti orang yang membaca laporan cuaca:
"Aku tidak tahu. Tapi aku pernah melihat cahaya seperti itu sebelumnya. Seratus tahun lalu. Di Pilar Selatan. Sebelum pintu itu terbuka. Sebelum Liu Yan mati."
Hun Ta melangkah ke tepi sumur. Xiao Ling masih menggenggam tangannya, dan ia tidak melepaskan. Ia menatap ke dalam lubang gelap itu, ke cahaya biru pucat yang berdenyut seperti jantung, dan ia mendengar sesuatu.
Bukan suara. Bukan kata-kata. Sesuatu yang mirip dengan perasaan. Sesuatu yang mirip dengan tangan yang menyentuh pipinya. Sesuatu yang mirip dengan suara ibunya, yang malam itu berlari menyelamatkannya, dan hancur menjadi serpihan di depan matanya.
"Aku di sini," kata suara itu.
Hun Ta menoleh ke Su Luo. Su Luo menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.
"Itu ibumu?" tanya Su Luo.
Hun Ta tidak menjawab. Ia menatap sumur itu, dan merasakan Fragmen di dadanya berdenyut, dan mendengar suara yang mirip dengan suara ibunya, dan untuk pertama kalinya sejak malam desanya dihancurkan, ia merasakan sesuatu yang mirip dengan harapan.
Tapi ia juga merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin, dan tua, dan tidak sabar. Sesuatu yang bukan dari dirinya. Sesuatu yang dari Fragmen.
Dan Fragmen itu berkata, dengan suara yang tidak bisa ia dengar tapi bisa ia rasakan di tulangnya:
Jangan percaya.
Di dalam sumur, jauh di bawah, di ruang bawah tanah yang bercahaya biru pucat, jasad Hun Feng berbaring di lantai batu hitam. Dadanya bergerak. Perlahan. Ukiran di sekitarnya berdenyut ungu.
Dan di sudut ruangan, sesuatu yang tidak ada sebelumnya mulai terbentuk. Sesosok bayangan. Yang mirip dengan seorang perempuan. Yang mirip dengan ibu Hun Ta.
Bayangan itu memb
Bayangan itu membuka mulutnya, dan yang keluar bukan suara-melainkan sebuah tarikan. Hun Ta merasakan sesuatu di dalam dadanya bergerak menjawab, seolah Fragmen itu mengenali bayangan tersebut, dan untuk sesaat ia nyaris melompat kembali ke dalam sumur tanpa berpikir.
Ia menahan diri. Tangannya menggenggam tepi batu sumur sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kau tidak nyata," katanya pelan, kepada udara, kepada dirinya sendiri, kepada apa pun yang sedang menunggu di bawah sana. "Ibuku hancur di depanku. Aku melihatnya menjadi serpihan cahaya. Tidak ada yang tersisa untuk dikuburkan."
Su Luo berdiri beberapa langkah di belakangnya, pedang hitamnya belum tersarungkan. Ia memandangi punggung Hun Ta, lalu ke dalam sumur, dan matanya menyipit.
"Kau mendengarnya juga," kata Su Luo. Bukan pertanyaan.
"Suara ibuku. Dari bawah."
Su Luo menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya tidak dingin. Yang ada di sana justru sesuatu yang lebih tua-kelelahan seorang pria yang telah melihat terlalu banyak hal yang tidak seharusnya ada.
"Hun Feng menyegel sesuatu di ruang itu sebelum kau lahir," katanya. "Bukan hanya kesadarannya sendiri. Ada hal lain yang ikut terkurung di sana bersamanya. Sesuatu yang tidak punya bentuk. Yang meminjam bentuk dari ingatan yang paling kau rindukan."
Hun Ta menoleh. "Kenapa kau tidak memberitahuku ini sejak awal?"
"Karena aku baru menyadarinya sekarang." Su Luo melangkah ke tepi sumur, menatap ke dalam kegelapan. "Fragmen Langit Kuno tidak bisa memanggil orang mati. Tapi ia bisa membuat yang hidup melihat apa yang paling ingin mereka lihat. Dan jika yang di bawah sana sedang memakai wajah ibumu, itu berarti-"
"Berarti apa?"
Su Luo menatapnya lurus-lurus.
"Berarti Fragmen di dadamu mulai matang. Dan saat ia matang, ia akan mulai menginginkan hal-hal. Bukan keinginanmu. Keinginannya sendiri."
Hun Ta merasakan dingin itu lagi di tulangnya. Suara yang tadi berkata jangan percaya kini diam, tapi kehadirannya masih ada, seperti seseorang yang berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh.
"Xiao Ling," katanya tiba-tiba. Ia berbalik, mencari-cari. "Di mana Xiao Ling?"
"Di bawah pohon itu. Aku menyuruhnya menunggu." Su Luo mengangguk ke arah hutan kecil di tepi ladang. "Kau lihat sendiri-ia tertidur sebelum kau mendekati sumur."
Hun Ta berjalan cepat ke arah pohon itu, dan memang, Xiao Ling duduk bersandar pada batang, kepalanya miring, napasnya teratur. Belati kayu itu masih tergenggam di tangannya, dan wajahnya tenang, tanpa mimpi buruk.
Hun Ta berjongkok di sampingnya. Ia memperhatikan wajah adiknya lama sekali-alis yang sama dengan ibunya, dagu yang sama dengan ayahnya, dan sesuatu di antara keduanya yang hanya milik Xiao Ling sendiri. Anak yang bisa mendengar batu berbicara. Anak yang darahnya membangunkan orang mati.
Anak yang di Alam Atas, menurut Wei Shan, dianggap ancaman.
"Kau tahu sesuatu," kata Hun Ta tanpa menoleh. "Tentang Xiao Ling. Kau bilang separuh Fragmen ada di tubuhnya. Tapi kau juga bilang fragmen itu tidak bisa dipisahkan dari pembawanya tanpa membunuh keduanya. Jadi kalau Wei Qianjin datang untuknya-"
"Kau tidak bisa melindunginya dengan pedang." Su Luo duduk di batu terdekat, meletakkan pedangnya di pangkuan. "Kau bahkan belum bisa mengendalikan separuh fragmenmu sendiri selama lebih dari beberapa detik. Kalau kau melawan Wei Qianjin sekarang, kau akan mati, dan Xiao Ling akan ikut mati bersamamu."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Belajar. Lebih cepat. Lebih keras." Su Luo menatap langit yang mulai memucat di ufuk timur. "Dan kau harus berhenti berpikir bahwa kau punya waktu."
Hun Ta menunduk. Fragmen di dadanya berdenyut-pelan, teratur, seperti detak jantung kedua di dalam jantungnya sendiri. Ia meletakkan tangannya di atas dada.
"Aku tidak takut mati," katanya.
"Aku tahu. Itu masalahnya." Su Luo berdiri, menyarungkan pedangnya. "Orang yang tidak takut mati tidak belajar bertahan hidup. Mereka belajar menyerang. Dan kau akan menyerang sesuatu yang jauh lebih besar darimu sebelum kau siap, karena kau pikir kehilangan hidupmu adalah harga yang pantas untuk membalas."
Hun Ta terdiam.
"Apakah itu yang ayahmu lakukan?" kata Su Luo, lebih pelan. "Berjalan ke Pilar Selatan tanpa persiapan karena ia tidak takut kehilangan apa pun?"
"Kau bilang kau mengenalnya selama tiga puluh tahun."
"Aku mengenal yang ia tunjukkan padaku. Pria yang tersenyum saat mengajar, yang menuang teh, yang berbicara tentang pohon dan musim. Bukan pria yang membuka pintu terlarang dan melarikan diri dengan separuh langit di tubuhnya." Su Luo menatap cakrawala. "Kadang aku pikir aku tidak pernah mengenalnya sama sekali. Kadang aku pikir ia mengenal dirinya sendiri bahkan lebih sedikit dariku."
Angin pagi bergerak melalui ladang, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih pahit-asap tipis dari arah desa yang sudah tidak ada. Hun Ta berdiri.
"Ajari aku," katanya. "Sekarang. Sebelum matahari terbit."
Su Luo mengangguk. Ia berjalan ke tengah ladang, dan Hun Ta mengikutinya, meninggalkan Xiao Ling yang masih tertidur di bawah pohon. Di belakang mereka, sumur itu tetap diam. Tapi jauh di bawah, di ruang bercahaya biru pucat, bayangan berbentuk perempuan itu tidak menghilang. Ia berdiri di sudut, tak bergerak, dan ukiran di sekitar dada Hun Feng berdenyut ungu, dan sesuatu yang dingin mulai merembes keluar dari celah-celah batu, merayap naik ke lorong yang pernah dilalui Hun Ta, mencari jalan ke atas.
*
Latihan pertama bukan tentang kekuatan. Su Luo menyuruh Hun Ta berdiri di tengah ladang dengan mata tertutup, kedua tangan di sisi tubuh, dan bernapas.
"Rasakan Fragmen itu," katanya. "Jangan panggil. Jangan tahan. Cukup rasakan."
Hun Ta mencoba. Pada awalnya tidak ada apa-apa selain suara angin dan detak jantungnya sendiri. Lalu perlahan, sesuatu yang hangat muncul di dadanya, dan ketika ia memusatkan perhatian padanya, dunia di sekitarnya menjadi lebih terang di balik kelopak matanya. Ia bisa merasakan rumput di bawah kakinya-bukan hanya menyentuh, tapi benar-benar merasakan setiap helai, setiap akar, setiap butir tanah di bawahnya. Ia bisa merasakan detak jantung Su Luo beberapa langkah darinya, dan napas Xiao Ling yang tertidur di bawah pohon, dan sesuatu yang lebih jauh-sesuatu di dalam sumur, sesuatu yang dingin dan tua dan sadar bahwa ia sedang merasakannya.
Matanya terbuka.
"Itu cukup," kata Su Luo. "Untuk hari ini."
"Aku belum melakukan apa-apa."
"Kau merasakan sesuatu yang berada di luar dirimu, dan kau tidak meledak. Itu lebih banyak dari yang bisa dilakukan kebanyakan orang di hari pertama." Su Luo menatapnya. "Besok kau akan belajar bagaimana mengarahkan. Lusa kau akan belajar bagaimana melepaskan tanpa membunuh dirimu sendiri. Dan setelah itu-"
"Setelah itu apa?"
Su Luo tersenyum tipis, tanpa humor.
"Setelah itu kau akan belajar bagaimana bertarung melawan sesuatu yang tidak punya tubuh, tidak punya nyawa, dan tidak bisa disembuhkan."
Hun Ta menatapnya. "Kau bilang kau tidak tahu apa yang ada di bawah sana."
"Aku bilang aku baru menyadarinya. Aku tidak bilang aku tidak tahu." Su Luo berjalan kembali ke arah pohon. "Ayahmu menyegel pintu di Pilar Selatan untuk menahan sesuatu. Kau tahu apa yang ia kunci di dalam ruangnya sendiri, di bawah sumur itu?"
"Kau baru saja bilang kau tidak tahu."
"Aku bilang aku tidak tahu bentuknya. Tapi aku tahu namanya." Su Luo berhenti, dan tanpa menoleh, ia berkata: "Dalam catatan lama di Alam Atas, ada tujuh hal yang lebih tua dari langit. Enam di antaranya sudah hilang atau tersegel di tempat yang tidak ada yang tahu. Yang ketujuh tidak punya nama, karena tidak ada yang pernah melihatnya dan hidup untuk memberinya nama. Orang-orang menyebutnya Yang Menunggu. Dan ayahmu, ketika ia membuka Pintu Kesembilan, menemukan bahwa Yang Menunggu bukan sesuatu yang terkurung di dalamnya."
Hun Ta merasakan darahnya dingin.
"Yang Menunggu adalah pintunya sendiri," kata Su Luo. "Dan ayahmu membawanya keluar bersamanya. Itulah sebabnya ia melarikan diri. Bukan karena ia mencuri Fragmen Langit. Karena ia mengeluarkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah keluar."
Hun Ta membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Kau sudah merasakannya," kata Su Luo. "Di bawah sumur. Suara yang bukan suara ayahmu. Yang terdengar lebih tua. Yang menyebutmu anak Kaisar Langit Ke-9, seolah kau bukan manusia sama sekali."
Hun Ta tidak menjawab. Ia tidak perlu.
"Kau tidak menyegelnya," kata Su Luo. "Ayahmu menyegelnya. Dan kau baru saja mengajaknya bicara."
*
Matahari terbit, dan Xiao Ling terbangun dengan wajah cerah, seolah tidak ada apa pun yang aneh terjadi semalaman. Ia merapikan rambutnya sendiri, mengikatnya dengan tali kulit yang diberikan Su Luo, dan bertanya apakah mereka akan berjalan lagi hari ini.
"Ya," kata Hun Ta. "Ke timur."
"Lagi?"
"Kita belum sampai."
Xiao Ling mengangguk, dan mengambil belati kayunya dari tanah, dan menempelkan tangannya ke tangan Hun Ta saat mereka mulai berjalan. Su Luo di depan, memimpin jalan melalui ladang yang mulai berubah menjadi hutan.
"Sugeng," kata Xiao Ling setelah beberapa saat. "Kau tidak tidur."
"Aku tidur sedikit."
"Kau berbicara dengan seseorang di dekat sumur."
Hun Ta menunduk ke arahnya. "Kau dengar?"
"Aku tidak dengar. Aku tahu." Xiao Ling menatapnya dengan mata yang jernih dan tua di wajah seorang anak. "Ada dua suara dari mulutmu. Satu milikmu. Satu lagi-yang lebih tua. Aku tidak suka suara itu."
Hun Ta berhenti berjalan. Su Luo, beberapa langkah di depan, juga berhenti, tapi tidak menoleh.
"Kapan kau mulai bisa melakukan itu?" tanya Hun Ta.
"Semalam. Sebelum tidur. Aku meminum air dari kulit Su Luo dan kemudian semuanya menjadi lebih keras." Ia menunjuk ke arah pepohonan di sekeliling mereka. "Batu-batu itu, dedaunan itu, mereka berbisik. Mereka bilang ada sesuatu di belakang kita yang mengikuti. Bukan orang. Bukan hewan. Sesuatu yang tidak berjalan."
Hun Ta menahan napas. Ia menoleh, dan di kejauhan, di batas ladang tempat mereka berpisah dengan sumur, udara terlihat bergoyang. Tidak seperti panas. Lebih seperti air yang dipanaskan dari bawah.
Su Luo telah berbalik, dan pedangnya sudah di tangan.
"Jangan berlari," katanya tenang. "Apapun yang kau lihat, jangan berlari."
Hun Ta merasakan Fragmen di dadanya berdenyut-kali ini bukan pelan. Keras. Seperti burung yang memukul-mukul sangkar tulangnya dari dalam, ingin keluar.
Dan di belakang mereka, udara bergoyang itu mulai membentuk sesuatu. Sebuah bentuk yang tidak lengkap, seperti bayangan yang lupa bagaimana caranya menjadi manusia, berdiri di tengah ladang tempat Sumur Yanhe berada. Bentuk itu tidak punya wajah. Tapi Hun Ta tahu apa yang sedang dilihatnya, karena Fragmen di dadanya memberitahunya tanpa kata:
Yang Menunggu sudah bangun. Dan ia tahu ke mana kalian pergi.
Xiao Ling menggenggam tangan Hun Ta dengan kuat. Kali ini, ia tidak menangis. Ia hanya berkata, dengan suara kecil yang jernih:
"Sugeng, aku bisa mendengar pikirannya. Ia tidak ingin melukai kita. Ia hanya ingin pulang."
Hun Ta menatap bentuk tanpa wajah itu, dan merasakan sesuatu di dalam dirinya retak-bukan karena takut, bukan karena marah, tapi karena ia mengenali perasaan itu. Ia tahu bagaimana rasanya ingin pulang ke tempat yang sudah tidak ada lagi.
"Kalau begitu," kata Hun Ta, "kita harus memastikan ia tidak menemukannya."
~ Bab 4 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.