SEBELUM LANGIT MERUNTUH
Bab 3
Pedang yang Runtuh
Dengar Audio Novel
Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.
Su Luo tetap berlutut di tanah yang basah oleh embun pagi. Pedang bersarung hitam di tangannya bergetar-bukan karena ketakutan, melainkan karena resonansi yang tidak bisa ia hentikan. Kekuatan yang baru saja meletus dari tubuh pemuda di depannya itu terlalu familiar. Terlalu mirip. Seperti mendengar suara seseorang yang telah lama dimakamkan dalam ingatannya.
Hun Ta masih berdiri di tempatnya, napasnya memburu. Fragmen di dadanya kini meredup, tapi sisa panasnya masih terasa membakar tulang rusuk. Ia menatap sosok berjubah putih itu dengan mata yang tidak berkedip.
"Kau... kenal ayahku," kata Hun Ta. Bukan pertanyaan.
Su Luo mengangkat wajahnya perlahan. Rambut peraknya yang panjang tergerai menutupi sebagian matanya, tapi tidak cukup untuk menyembunyikan guncangan yang terukir di sana. Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun-sejak ia terakhir kali melihat langit runtuh di atas Pilar Utara-wajahnya kehilangan ketenangan yang selalu ia jaga.
"Kau tahu siapa ayahmu?" Su Luo berdiri. Suaranya lebih pelan sekarang, tapi ada ketajaman di ujungnya. "Kau tahu apa yang ia lakukan?"
"Kaisar Langit Ke-9," jawab Hun Ta. "Yang melarikan diri dari pertempuran. Yang membawa separuh Fragmen Langit Kuno ke Alam Bawah." Ia menoleh ke arah sumur tua di belakangnya-tempat ia baru saja menemukan kebenaran yang memutarbalikkan seluruh hidupnya. "Itu yang kulihat di bawah tanah."
Su Luo tertawa. Bukan tawa yang hangat-tawa seorang pria yang mendengar lelucon yang ia benci karena kebenarannya. "Melarikan diri." Ia mengulangi kata itu seperti mencicipi racun. "Itu yang ia katakan padamu? Melarikan diri?"
Hun Ta tidak menjawab.
"Ayahmu, Hun Feng, adalah Kaisar Langit Ke-9. Dan kau benar-ia melarikan diri." Su Luo melangkah maju. Pedangnya masih di sarung, tapi Hun Ta bisa merasakan tekanan yang menguar dari tubuhnya-kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia rasakan dari entitas bermata emas. "Tapi ia tidak melarikan diri dari pertempuran, Nak. Ia melarikan diri dari kematian yang seharusnya ia terima."
Xiao Ling, yang selama ini berdiri diam di belakang kakaknya sambil menggenggam ujung lengan baju Hun Ta, menegang. Hun Ta menurunkan tangannya, menutupi adiknya dari pandangan Su Luo.
"Jelaskan," kata Hun Ta.
Su Luo berhenti tiga langkah dari mereka. Matanya-biru es yang dingin-menelusuri wajah Hun Ta seperti mencoba menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik kulit dan tulang.
"Ayahmu adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit. Yang terkuat di antara mereka, katanya. Yang paling dicintai. Aku adalah muridnya-ah, kau terkejut? Ya. Aku menghabiskan tiga puluh tahun belajar di bawah bimbingannya. Ia mengajariku cara memegang pedang, cara membaca langit, cara bernapas dalam kekosongan." Su Luo meraih sarung pedangnya, tapi tidak menariknya. "Lalu suatu hari, ia menemukan sesuatu. Sesuatu di dalam Pilar Selatan-jantung dunia, jika kau mau menyebutnya begitu. Sebuah pintu yang tidak seharusnya dibuka."
"Pintu?" Hun Ta mengerutkan dahi.
"Pintu menuju apa, tidak ada yang tahu. Tapi ayahmu-Kaisar Langit Ke-9, yang dianggap paling bijaksana di antara Sembilan-membukanya. Dan dari pintu itu keluar sesuatu yang bukan dewa, bukan manusia, bukan iblis. Sesuatu yang lebih tua dari semua itu." Su Luo menunduk, dan untuk sesaat wajahnya terlihat jauh lebih tua dari yang seharusnya. "Sembilan Kaisar Langit berkumpul untuk menutupnya. Delapan dari mereka mengorbankan separuh kekuatan mereka untuk menyegel apa yang keluar. Tapi ayahmu... ayahmu mengambil Fragmen Langit Kuno-pecahan dari langit asli sebelum Sembilan Kaisar membaginya-dan melarikan diri ke Alam Bawah. Ia meninggalkan kami. Meninggalkan aku-menghadapi murka delapan Kaisar Langit yang mengira aku terlibat."
"Kau bilang ayahku mengkhianatimu," kata Hun Ta, suaranya datar. "Tapi kau juga bilang kau adalah muridnya. Kau menghabiskan tiga puluh tahun bersamanya."
"Dan aku masih tidak tahu apakah ia mengkhianati kami karena kelemahan, atau karena ia tahu sesuatu yang tidak kami ketahui." Su Luo akhirnya menatap lurus ke mata Hun Ta. "Fragmen Langit yang bersemayam di dadamu-itu adalah separuh dari yang ia curi. Kau tidak memintanya. Kau tidak memilihnya. Tapi itu akan membunuhmu, perlahan, dari dalam. Aku datang untuk mengambilnya karena itu satu-satunya cara kau bisa hidup."
"Dan setelah kau mengambilnya?"
Su Luo terdiam.
"Kau akan membawanya ke Pilar Selatan," lanjut Hun Ta. "Untuk menutup pintu yang ayahku buka. Menggunakan kekuatannya sendiri."
"Kau pintar," kata Su Luo. "Sayang sekali kepintaran tidak menyelamatkanmu dari apa yang ada di dadamu."
Matahari mulai naik di atas cakrawala, membakar kabut pagi yang menempel di reruntuhan Desa Yanhe. Abu dan puing-puing masih berasap di kejauhan-sisa-sisa dari apa yang dulu adalah rumah. Hun Ta melihat sekilas ke arah tempat rumahnya berdiri. Tidak ada yang tersisa. Tidak satu pun.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya," kata Hun Ta.
Su Luo menghela napas. Panjang, pelan, seperti seseorang yang telah mendengar jawaban itu jauh sebelum kata-kata itu diucapkan. "Kau baru saja kehilangan segalanya semalam. Kau belum tidur. Kau belum makan. Tubuhmu belum pulih dari apa yang terjadi di bawah tanah. Dan kau ingin melawanku?"
"Aku tidak ingin melawanmu," jawab Hun Ta. "Aku hanya tidak akan membiarkanmu menyentuh adikku."
Xiao Ling menoleh, terkejut. "Kak?"
Hun Ta tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada Su Luo. "Fragmen itu ada di tubuhku. Jika kau mencabutnya, itu akan keluar dari diriku-dan apa yang terjadi pada tubuhku, tidak masalah. Tapi darah Xiao Ling membangunkan kesadaran ayahku di bawah sumur. Jika kau mencabut fragmen ini di dekatnya, kau tidak tahu apa yang akan terjadi."
Itu tebakan. Tapi tebakan yang masuk akal-dan Su Luo tampaknya berpikir begitu juga. Mata biru es itu menyempit.
"Kau mengancamku dengan adikmu sendiri?"
"Aku melindunginya," koreksi Hun Ta.
Su Luo menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia menarik kembali tangannya dari sarung pedang. Bukan karena menyerah-tapi karena kalkulasi. Hun Ta bisa melihatnya. Sosok berjubah putih itu sedang menghitung: berapa besar risiko, berapa besar manfaat, berapa lama waktu yang ia punya.
"Pintu di Pilar Selatan melemah," kata Su Luo akhirnya. "Setiap hari, setiap jam, apa yang keluar dari sana semakin kuat. Delapan Kaisar Langit yang tersisa telah menjaga segel itu selama seratus tahun-dan mereka sekarat perlahan. Kau punya waktu sebelum mereka menyerah dan datang mencarimu sendiri."
"Berapa lama?"
"Tidak cukup lama untukmu menjadi kuat." Su Luo berbalik, jubah putihnya berkibar tertiup angin gunung. "Tapi mungkin cukup lama untukku mengajarimu bertahan hidup."
Hun Ta mengerutkan dahi. "Kau baru saja mencoba mencabut fragmen dari tubuhku."
"Dan gagal." Su Luo menoleh sedikit, memperlihatkan profilnya yang tajam. "Fragmen itu mengenali kekuatan ayahmu dalam diriku-dan menolak. Itu artinya fragmen itu tidak akan bisa kau lepaskan secara paksa. Tidak sekarang. Tidak olehku. Kau harus membawanya sampai kau cukup kuat untuk menyerahkannya sendiri-atau sampai kau mati mencoba."
"Kau ingin mengajariku?"
"Aku ingin memastikan fragmen itu tidak jatuh ke tangan yang salah." Su Luo menatap langit yang mulai berwarna oranye. "Aku sudah menunggu seratus tahun untuk balas dendam. Aku bisa menunggu beberapa tahun lagi untuk mengajari anak pengkhianat itu cara hidup."
Hun Ta terdiam. Xiao Ling menggenggam tangannya erat. Angin membawa bau abu dan tanah basah. Di kejauhan, Gunung Sunyi masih berdiri-sunyi, seperti namanya-dan langit di atasnya kini biru biasa, seolah tidak pernah terbelah semalam.
"Kau tahu di mana pintu itu berada," kata Hun Ta. "Pintu yang ayahku buka. Kau tahu cara menutupnya."
"Aku tahu teorinya. Prakteknya... itu urusan yang lain." Su Luo mulai berjalan menjauh dari reruntuhan desa. "Ikutlah atau tidak, itu pilihanmu. Tapi jika kau memilih untuk tidak ikut-jangan pernah datang ke Pilar Selatan. Kau tidak akan bertahan satu langkah pun di sana."
Hun Ta menatap punggung Su Luo yang menjauh. Pedang bersarung hitam itu terayun pelan di sisi tubuhnya. Lalu ia menoleh ke Xiao Ling.
"Aku tidak takut," kata Xiao Ling sebelum kakaknya bisa bicara. Gadis kecil itu mengangkat dagunya. "Ayah bilang kau harus menjaga langit. Aku akan menunggu di mana pun kau pergi."
Hun Ta menatapnya lama. Lalu ia mengangguk pelan.
"Maka kita ikut," katanya. "Tapi bukan karena aku percaya padanya."
"Lalu kenapa?"
"Karena aku ingin tahu siapa ayah kita sebenarnya." Hun Ta melangkah mengikuti Su Luo. "Dan karena satu hal yang ia katakan itu benar-aku tidak akan cukup kuat jika aku belajar sendiri."
Mereka berjalan sepanjang pagi tanpa bicara. Su Luo tidak menoleh sekali pun, tapi langkahnya sengaja diperlambat-cukup agar Xiao Ling, dengan kaki kecilnya yang lelah, bisa mengikuti. Hun Ta memperhatikan itu diam-diam. Ia tidak percaya pada pria ini. Tapi ia juga tidak bodoh-dan Su Luo, untuk beberapa alasan, ingin mereka hidup.
Menjelang tengah hari, mereka mencapai tepi hutan di kaki Gunung Sunyi. Su Luo akhirnya berhenti di sebuah batu besar yang rata, mengeluarkan sebatang kayu dan mulai mengukir sesuatu di pasir.
"Sebelum kau belajar memegang pedang," katanya tanpa menoleh, "kau harus belajar bernapas."
"Aku sudah bisa bernapas," kata Hun Ta.
"Bernapas seperti orang biasa, ya. Bernapas seperti Pewaris Langit Kuno-tidak." Su Luo menyelesaikan ukirannya: sebuah lingkaran dengan sembilan titik di sekelilingnya. "Fragmen di dadamu memberimu kekuatan yang bukan milikmu. Setiap kali kau marah, setiap kali kau takut, setiap kali kau mengingat malam itu-fragmen itu akan bereaksi. Kalau kau tidak belajar mengendalikannya, kau akan meledak dari dalam sebelum pintu itu sempat melemah."
Hun Ta duduk di seberang pola itu. Xiao Ling duduk di samping batu, mengeluarkan belati kayunya dan mulai mengukir sesuatu di tanah-meniru apa yang dilakukan Su Luo, dengan hasil yang jauh lebih buruk.
"Tarik napas," kata Su Luo. "Dan saat kau menarik napas, rasakan fragmen itu. Jangan lawan. Jangan panggil. Hanya... rasakan."
Hun Ta menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak malam pembantaian, ia merasakan sesuatu selain kemarahan. Something di dalam dadanya-sesuatu yang hangat, tua, dan sunyi-berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang telah menunggu untuk dikenali.
Dan di kejauhan, di bawah gunung, di dalam sumur tua yang kini tertutup puing, ukiran keemasan di dada seorang pria yang tidak pernah dikuburkan terus menyala-merah, menyala, menunggu.
CATATAN PENULIS (Plot untuk Bab 4): Hun Ta belajar dasar-dasar pengendalian fragmen-dan gagal berkali-kali. Dalam salah satu kegagalan itu, ia secara tidak sengaja memicu resonansi yang menghubungkan pikirannya dengan kesadaran ayahnya yang tersegel di bawah sumur. Untuk pertama kalinya, ayahnya berbicara-bukan sebagai suara kuno, tapi sebagai pria yang lelah, penuh penyesalan, yang mengaku bahwa alasan sebenarnya ia melarikan diri ke Alam Bawah bukan karena takut mati, melainkan karena ia menemukan sesuatu di dalam pintu yang membuatnya yakin: jika Fragmen Langit Kuno tetap berada di tangan Sembilan Kaisar Langit, seluruh alam semesta akan dihapus. Ayahnya bukan pengkhianat-ia adalah satu-satunya yang tahu kebenaran, dan ia mengorbankan segalanya untuk menyembunyikannya. Namun Su Luo tidak tahu ini. Dan ketika Hun Ta mencoba menceritakan apa yang ia dengar, Su Luo menolak percaya-dan memutuskan untuk mempercepat pelatihan dengan cara yang lebih brutal, karena ia berpikir Hun Ta sedang berbohong untuk melindungi nama ayahnya.
Hun Ta berdiri di tengah lingkaran batu di tepi hutan, tubuhnya gemetar hebat, namun bukan karena dingin.
Su Luo berdiri di hadapannya dengan pedang bersarung hitam terhunus setengah-bukan untuk menyerang, tetapi untuk mengancam. Mata peraknya yang dingin menatap Hun Ta tanpa sedikit pun keraguan. "Kau punya waktu satu menit untuk menarik kembali kata-katamu," ujarnya datar. "Atau kita mulai latihan ini dengan cara yang tidak akan kau lupakan seumur hidup."
"Aku tidak berbohong," kata Hun Ta, suaranya serak. "Ayahku mengatakan-"
"Ayahmu adalah pengkhianat." Su Luo melangkah maju. "Dan kau mewarisi darahnya. Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana orang seperti dia bisa membuat seseorang percaya? Dia menipu Sembilan Alam, Hun Ta. Dia menipuku. Dan sekarang kau menggunakan kalimat yang sama-"
"Aku tidak tahu apa yang kau dengar," potong Hun Ta, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang keras dalam suaranya-sesuatu yang bukan milik seorang petani desa. "Tapi aku mendengar suaranya. Aku merasakan apa yang dia rasakan. Dan dia takut, Su Luo. Bukan takut mati. Takut pada sesuatu di dalam pintu itu."
Su Luo terdiam.
Angin malam bertiup melewati pepohonan, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua-sesuatu yang seperti logam dan waktu. Pedang di tangan Su Luo bergetar halus, seolah merespons sesuatu yang tidak terlihat.
"Kau bicara tentang Pintu Kesembilan," kata Su Luo akhirnya, suaranya kini lebih pelan. "Kau tidak mungkin tahu tentang itu."
"Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu apa yang kulihat." Hun Ta menatap matanya. "Kau mengenal ayahku. Bukan hanya sebagai pengkhianat-kau mengenalnya sebelum itu. Sebelum dia melarikan diri. Kau tahu siapa dia sebenarnya."
Su Luo tidak menjawab.
Untuk sesaat, topeng dingin di wajahnya retak. Ada sesuatu di sana-sesuatu yang lama terkubur, sesuatu yang lebih tua dari kemarahan. Sesuatu yang mirip dengan rasa kehilangan.
"Kau tidak tahu apa yang kau minta," bisik Su Luo. "Kau tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba memahami Pintu Kesembilan."
"Ayahku mencoba," kata Hun Ta. "Dan dia mati karena itu. Tapi dia mati untuk menyembunyikan sesuatu-bukan untuk mengambilnya. Itu perbedaannya, bukan?"
Su Luo menutup matanya.
Ketika ia membukanya kembali, mata peraknya tidak lagi dingin. Mereka lelah. "Kau memang anaknya," katanya, hampir seperti kutukan. "Kau bicara seperti dia. Sebelum semuanya runtuh."
Lalu ia menyarungkan pedangnya.
"Kita tidak akan melanjutkan latihan malam ini," kata Su Luo, berbalik. "Kau akan beristirahat. Besok, kau akan mulai belajar mengendalikan fragmen itu-bukan dengan kekerasan, tetapi dengan pemahaman. Aku akan mengajarimu apa yang kau butuhkan untuk bertahan hidup." Ia berhenti, tanpa menoleh. "Tapi ketahuilah ini: aku melakukan ini bukan karena aku percaya padamu. Aku melakukan ini karena jika kau benar, maka aku telah salah selama seratus tahun. Dan aku perlu tahu kebenarannya-apa pun harganya."
Hun Ta menatap punggung Su Luo yang menghilang di antara pepohonan, dan untuk pertama kalinya sejak kehancuran desanya, ia merasakan sesuatu yang aneh: harapan.
Di bawah tanah, di kedalaman yang tidak dijangkau cahaya, tubuh ayah Hun Ta masih terbaring di atas altar batu hitam. Ukiran keemasan yang sebelumnya berubah merah kini mulai berdenyut pelan-seperti detak jantung yang mencoba mengingat ritmenya sendiri.
Dan di dalam sumur, jauh di atas ruang bawah tanah itu, tetesan darah Xiao Ling yang tertinggal di celah batu mulai menguap.
Bukan karena panas.
Melainkan karena sesuatu di dalam batu itu sedang bernapas.
Pagi berikutnya, Hun Ta terbangun oleh suara aneh dari luar pondok kayu tempat Su Luo menampungnya sementara. Ia keluar dan menemukan Xiao Ling sedang duduk di batu besar dekat sungai, matanya menatap kosong ke arah air.
"Kau tidak tidur?" tanya Hun Ta.
Xiao Ling menggeleng. "Aku bermimpi lagi," katanya pelan. "Tentang suara di bawah sumur. Dia bilang... dia bilang aku harus belajar mendengarkan."
Hun Ta berjongkok di sampingnya. "Mendengarkan apa?"
"Batu-batu," jawab Xiao Ling, dan ia menatap kakaknya dengan mata yang terlalu tua untuk usianya yang sepuluh tahun. "Mereka bicara, Kak. Aku tidak tahu kenapa, tapi mereka bicara."
Jauh di dalam hutan, Su Luo berdiri di atas tebing, memandangi langit yang mulai berwarna keunguan di ufuk timur. Di tangannya, sepotong kain tua yang usang-potongan dari jubah yang sama dengan yang dikenakan ayah Hun Ta dalam kenangan yang dilihat Hun Ta di ruang bawah tanah.
"Kau meninggalkan sesuatu yang lebih berbahaya dari pengkhianatan," bisik Su Luo pada angin. "Kau meninggalkan harapan."
Dan di Alam Atas, di atas awan yang tidak pernah tersentuh hujan, Wei Qianjin berdiri di depan cermin yang terbuat dari cahaya bintang. Di dalamnya, ia bisa melihat Hun Ta-dan di sampingnya, Xiao Ling.
"Menarik," katanya pelan, suaranya seperti kapas yang menutupi belati. "Sang Pewaris memang membawa fragmen itu. Tapi anak perempuan itu..."
Ia menyentuh cermin, dan gambar Xiao Ling membesar.
"Anak perempuan itu kosong," bisiknya. "Tidak ada fragmen. Tidak ada darah Kaisar. Hanya... ruang kosong yang menunggu."
Wei Qianjin tersenyum, dan di seluruh Alam Atas, bintang-bintang meredup sejenak, seolah menahan napas.
"Menunggu untuk diisi."
Malam itu, ketika Hun Ta tertidur, ia bermimpi tentang seorang pria yang ia tidak pernah kenal-seorang pria dengan wajah yang mirip dengannya, berdiri di depan pintu raksasa yang terbuat dari cahaya hitam. Pria itu menoleh, dan matanya-mata yang sama dengan yang Hun Ta lihat di cermin setiap pagi-penuh dengan air mata yang tidak bisa jatuh.
"Aku tidak melarikan diri karena takut," kata pria itu. "Aku melarikan diri karena aku mencintai sesuatu yang lebih dari kebenaran. Dan aku kehilangan keduanya."
Pintu itu terbuka, dan dari dalamnya keluar suara yang membuat mimpi itu runtuh-suara yang seperti batu berbicara, dan darah bernyanyi, dan langit yang mencoba mengingat namanya sendiri.
Hun Ta terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan di luar pondok, langit sedang retak untuk kedua kalinya.
Namun kali ini, bukan retakan yang sama.
Kali ini, langit retak dari dalam.
Langit retak dari dalam.
Bukan seperti malam pertama-bukan cahaya ungu yang membelah cakrawala dari atas ke bawah-melainkan sesuatu yang merayap keluar dari dalam cakrawala itu sendiri, seperti kaca yang dipanaskan dari sisi yang salah. Garis-garis tipis berwarna keperakan menyebar dari titik-titik yang tidak mungkin terlihat oleh mata biasa, dan setiap retakan memancarkan bisikan.
Hun Ta berdiri di ambang pintu pondok, napasnya masih berat dari mimpi. Xiao Ling masih tertidur di dalam, tubuh kecilnya meringkuk di bawah selimut wol yang mereka selamatkan dari reruntuhan desa. Ia menoleh sebentar ke belakang-memastikan adiknya tidak terbangun-lalu melangkah keluar.
Retakan itu tidak mengeluarkan cahaya yang menghancurkan. Tidak ada entitas bermata emas yang turun. Tidak ada penghapusan. Hanya... bisikan.
"Kembalilah."
Bisikan itu bukan suara. Lebih seperti getaran yang merambat melalui tanah, melalui tulang, melalui fragmen di dadanya yang kini berdenyut pelan seperti jantung kedua. Hun Ta menekan telapak tangan ke dadanya, merasakan panas yang aneh-tidak menyakitkan, tapi asing. Seperti sesuatu di dalam dirinya sedang bangun.
Di bawah sana, di dalam sumur tua yang kini tertutup tanah dan batu, ayahnya masih terbaring. Dan ukiran keemasan yang berubah merah itu-Hun Ta tidak bisa melupakan warna itu. Peringatan. Bukan restu.
Ia menatap langit yang retak. Retakan itu tidak menyebar cepat. Justru seperti ada yang menahannya. Seperti ada tangan tak terlihat yang mencoba menutup kembali luka di langit itu, tapi tidak cukup kuat.
Hun Ta mengangkat lengan kirinya-yang masih membekas bakar dari cahaya penghapus malam itu. Kulitnya sudah menutup, tapi bekasnya tetap ada: pola seperti akar yang menjalar dari pergelangan hingga siku, berwarna lebih gelap dari kulit di sekitarnya. Ia mengepalkan tangan.
"Ayah," bisiknya, bukan kepada langit, bukan kepada siapa pun. Hanya kepada kesadaran yang ia tahu sedang mendengarkan dari suatu tempat di bawah sana. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?"
Tidak ada jawaban. Tapi fragmen di dadanya berdenyut sekali lagi-lebih kuat-dan Hun Ta merasakan sesuatu yang bukan kata-kata: sebuah arah. Seperti kompas yang berputar di dalam dirinya, menunjuk ke suatu tempat. Bukan ke bawah sumur. Bukan ke langit.
Ke timur.
Ia tidak pergi malam itu. Xiao Ling membutuhkannya, dan meskipun setiap serat dalam tubuhnya ingin berlari mengikuti arah yang ditunjukkan fragmen itu, Hun Ta menunggu. Ia duduk di samping adiknya sampai fajar, mengasah anak panah seperti yang biasa ia lakukan-tapi kali ini gerakannya lebih lambat, lebih hati-hati, seolah setiap anak panah adalah doa yang tidak boleh salah ucap.
Saat matahari terbit, Xiao Ling terbangun dan langsung menatap kakaknya dengan mata yang terlalu tua untuk anak berusia sepuluh tahun.
"Kak," katanya, suaranya serak karena tidur. "Aku mimpi lagi."
Hun Ta tidak bertanya tentang isi mimpinya. Ia sudah tahu.
"Suara dari bawah sumur itu bilang," lanjut Xiao Ling, duduk dan menggosok matanya, "kalau kakak harus pergi ke timur. Ada sesuatu di sana yang menunggu. Tapi dia juga bilang-" Xiao Ling berhenti, bibirnya bergetar.
"Apa, Ling?"
"Dia bilang kalau kakak pergi, aku nggak boleh ikut. Karena kalau aku ikut, salah satu dari kita nggak akan kembali."
Hun Ta merasakan dingin menjalar di tengkuknya. Suara dari bawah sumur itu-kesadaran ayahnya, atau sisa darinya-berbicara kepada Xiao Ling. Bukan kepadanya. Kenapa?
Ia menatap adiknya, pada wajah kecil yang berusaha tegar meskipun matanya basah. Pada belati kayu yang masih digenggamnya bahkan saat tidur. Pada darah yang pernah menetes dari luka kecil di tangannya dan membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur.
Darah Xiao Ling-lah yang membangunkan kesadaran ayahnya, bukan darahnya sendiri.
Kalimat itu kembali menghantamnya seperti batu. Fragmen Langit ada di tubuhnya-tapi sesuatu dalam diri Xiao Ling juga. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui ayah mereka.
"Kita nggak akan berpisah," kata Hun Ta, dan ia mengucapkannya dengan keyakinan yang ia harap tidak terdengar seperti kebohongan. "Aku janji."
Xiao Ling menatapnya lama, lalu mengangguk. Tapi Hun Ta melihat sesuatu di mata adiknya-sesuatu yang tidak ia lihat sebelumnya. Bukan ketakutan. Bukan kesedihan. Melainkan... penerimaan. Seperti anak yang sudah tahu bahwa janji kakaknya adalah janji yang harus ia bantu jaga, bukan janji yang bisa ia percayai sepenuhnya.
Hun Ta bangkit, mengemasi sisa perbekalan mereka: beberapa keping roti keras, sekantung kecil air, dan anak panah yang tersisa. Ia menyarungkan pisau berburu di pinggangnya, lalu berhenti di depan pintu.
"Kita ke timur," katanya. "Ada sesuatu yang harus kucari."
Xiao Ling tidak bertanya apa. Ia hanya meraih tangan kakaknya, dan mereka melangkah keluar bersama, meninggalkan pondok kayu yang selama ini menjadi satu-satunya tempat berlindung mereka sejak malam kehancuran.
Di belakang mereka, langit masih retak.
Mereka berjalan selama tiga hari. Hutan di barat kaki Gunung Sunyi ternyata lebih dalam dari yang Hun Ta ingat-pohon-pohon pinus raksasa dengan batang sebesar rumah, akar-akar yang menjulang seperti tembok, dan kabut yang tidak pernah sepenuhnya hilang bahkan saat tengah hari. Fragmen di dada Hun Ta terus berdenyut, arahnya stabil: ke timur, selalu ke timur.
Pada hari ketiga, Xiao Ling berhenti di tengah langkah. Ia menatap ke arah semak-semak di sisi kiri mereka.
"Kak," katanya pelan. "Ada yang mengikuti kita."
Hun Ta sudah menyadarinya sejak pagi. Jejak kaki di tanah yang tidak sesuai dengan ukuran hewan. Sunyi yang terlalu sunyi di area tertentu. Tapi ia tidak menyangka Xiao Ling juga bisa merasakannya-tidak secepat itu.
"Sejak kapan kau tahu?" tanyanya, tetap berjalan.
"Dari semalam. Dia nggak tidur. Aku dengar napasnya."
Hun Ta menoleh ke adiknya, dan untuk sesaat ia melihat sesuatu yang membuatnya ingin berhenti dan memeluk anak itu. Xiao Ling tidak terlihat takut. Ia terlihat waspada-seperti pemburu kecil yang sedang menilai mangsanya.
"Ini bukan pertama kalinya kau dengar hal seperti ini, ya?"
Xiao Ling menggeleng. "Sejak aku minum air dari sumur itu, Kak. Aku bisa dengar lebih banyak. Lebih jelas. Kadang... aku bisa dengar apa yang orang pikirkan. Kalau mereka dekat."
Hun Ta berhenti melangkah.
Air dari sumur tua. Sumur tempat Xiao Ling bersembunyi malam itu. Sumur yang di bawahnya terdapat ruang rahasia ayah mereka. Air itu-entah apa pun yang terkandung di dalamnya-telah mengubah adiknya.
"Kenapa kau tidak bilang?"
"Karena kakak sudah punya cukup banyak yang harus dipikirkan." Xiao Ling mengangkat wajahnya, dan senyum kecil-senyum yang terlalu dewasa-muncul di bibirnya. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Ayah bilang begitu."
Hun Ta membuka mulut untuk bertanya kapan ayah mereka bilang begitu, karena ayahnya sudah mati sebelum Xiao Ling bisa mengingat apa pun. Tapi sebelum kata-kata itu keluar, semak-semak di sisi kiri mereka bergerak.
Sosok itu muncul tanpa suara-tinggi, kurus, berbalut jubah abu-abu yang lusuh. Wajahnya tertutup kain, hanya menyisakan sepasang mata yang menatap mereka dengan intensitas yang tidak nyaman. Di punggungnya, Hun Ta melihat sesuatu yang membuat fragmennya berdenyut keras: sebuah pedang panjang dengan sarung hitam, dihiasi ukiran yang sama dengan yang ada di dinding lorong bawah tanah.
"Kau," kata sosok itu, suaranya serak seperti batu bergesekan. "Kau anaknya."
Hun Ta menurunkan tasnya perlahan, posisi tubuhnya otomatis berubah menjadi kuda-kuda bertarung. "Kau siapa?"
"Namaku tidak penting." Sosok itu melangkah maju, dan Hun Ta merasakan tekanan yang aneh-bukan kekuatan kultivasi, tapi sesuatu yang lebih berat. Sesuatu yang menekan jiwanya. "Yang penting adalah apa yang ada di dadamu. Dan siapa yang menanamkannya."
"Kau tahu tentang fragmen ini?"
Sosok itu tertawa-tawa pendek yang tidak mengandung humor. "Semua orang tahu tentang fragmen itu, anak muda. Kau pikir kau satu-satunya? Kau pikir ayahmu satu-satunya Kaisar Langit yang melarikan diri ke Alam Bawah?"
Hun Ta merasakan darahnya dingin. "Apa maksudmu?"
Sosok itu menarik kain penutup wajahnya.
Hun Ta melihat wajah yang setengah hancur-kulit meleleh seperti lilin, tulang pipi yang menonjol keluar, dan satu mata yang hilang, digantikan oleh rongga gelap. Tapi mata yang tersisa-mata itu berwarna keemasan. Sama seperti entitas yang menghancurkan desanya.
"Namaku Wei Shan," kata sosok itu. "Dan aku adalah salah satu dari mereka yang kau sebut entitas langit. Aku turun ke Alam Bawah seratus tahun yang lalu untuk mencari fragmen yang sama dengan yang ada di dadamu. Tapi aku gagal. Dan sekarang-" ia tersenyum, dan senyum itu mengerikan pada wajah yang hancur itu, "-sekarang aku hanya ingin melihat langit runtuh. Bersama orang-orang yang menyebabkannya."
Hun Ta merasakan Xiao Ling menggenggam tangannya lebih keras. Ia tidak menoleh, tapi ia merasakan adiknya tidak gemetar.
"Kau bilang orang-orang yang menyebabkannya," kata Hun Ta hati-hati. "Ayahku?"
"Bukan hanya ayahmu." Wei Shan mendekat selangkah lagi. "Sembilan Kaisar Langit. Mereka semua melarikan diri dari tugas mereka. Mereka semua meninggalkan langit tanpa penjaga. Dan sekarang-" ia menunjuk ke atas, ke retakan yang masih menyebar di cakrawala, "-langit itu runtuh dari dalam, dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Kecuali kau."
"Aku?"
"Kau membawa separuh Fragmen Langit Kuno. Separuh lainnya-" Wei Shan menatap Xiao Ling, dan mata keemasannya menyipit. "-separuh lainnya ada di adikmu. Kalian berdua adalah kunci untuk menutup langit. Atau untuk membukanya sepenuhnya."
Hun Ta merasakan dunia berhenti berputar. Ia menoleh ke Xiao Ling-adiknya, anak sepuluh tahun yang selama ini ia lindungi, yang tidur di sampingnya setiap malam, yang ia ajari memanah dan memasak dan bertahan hidup. Adiknya yang darahnya membangunkan kesadaran ayah mereka. Adiknya yang bisa mendengar pikiran orang.
Separuh Fragmen Langit Kuno ada di dalam dirinya.
"Kau berbohong," kata Hun Ta, tapi suaranya bergetar.
"Aku tidak punya alasan untuk berbohong." Wei Shan mundur, melipat kembali kain penutup wajahnya. "Aku datang untuk memberitahumu satu hal, dan satu hal saja: Wei Qianjin sudah tahu tentang adikmu. Dia tidak akan datang untukmu-dia akan datang untuknya. Karena kau sudah 'berguna', kata dia. Tapi adikmu-" Wei Shan berhenti, dan untuk sesaat, ada sesuatu seperti belas kasihan di mata keemasannya yang tersisa. "-adikmu adalah ancaman. Dan kau tahu apa yang dilakukan Wei Qianjin pada ancaman."
Ia berbalik, melangkah ke dalam kabut.
"Kenapa kau memberitahuku ini?" Hun Ta berteriak. "Kau salah satu dari mereka!"
Wei Shan berhenti, tapi tidak menoleh.
"Karena seratus tahun yang lalu," katanya pelan, "aku juga punya adik. Dan aku juga memilih jalan yang salah."
Lalu ia menghilang ke dalam kabut, meninggalkan Hun Ta dan Xiao Ling berdiri di tengah hutan, dengan langit yang retak di atas mereka, dan kebenaran yang jauh lebih berat dari apa pun yang pernah Hun Ta bayangkan.
Malam itu, mereka berkemah di bawah akar pohon raksasa yang membentuk semacam gua alami. Xiao Ling tertidur lebih cepat dari biasanya-mungkin karena kelelahan, mungkin karena sesuatu yang ia dengar dari Wei Shan membuatnya butuh waktu untuk memproses. Hun Ta duduk terjaga, punggungnya bersandar pada akar, matanya menatap api unggun kecil yang ia nyalakan dengan susah payah.
Fragmen di dadanya berdenyut pelan, seperti bisikan yang tidak bisa ia mengerti.
Ayah, pikirnya, kau tahu tentang ini. Kau tahu Xiao Ling juga membawa fragmen itu. Kenapa kau tidak pernah bilang?
Ia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya sejak malam kehancuran, ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu selain amarah dan tekad. Ia merasakan takut. Bukan takut mati. Bukan takut menghadapi Wei Qianjin.
Takut kehilangan Xiao Ling.
Pintu raksasa dari cahaya hitam dalam mimpinya muncul kembali di benaknya-dan pria dengan wajahnya sendiri, menangis tanpa air mata. "Aku melarikan diri karena aku mencintai sesuatu yang lebih dari kebenaran. Dan aku kehilangan keduanya."
Hun Ta membuka matanya.
Ia menatap adiknya yang tertidur, pada wajah kecil yang damai meskipun dunia mereka hancur. Pada belati kayu yang masih digenggam di tangan mungil itu.
"Aku tidak akan melarikan diri," bisiknya, bukan kepada langit, bukan kepada ayahnya, bukan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri. "Aku tidak akan kehilangan kau."
Di kejauhan, langit retak sekali lagi-lebih dalam, lebih lebar, dan untuk pertama kalinya, Hun Ta mendengar suara yang keluar dari retakan itu. Bukan bisikan. Bukan getaran.
Suara seseorang yang menangis.
Dan suara itu... suara itu mirip dengan suara ibunya.
DI ALAM ATAS - DIMENSI YANG TIDAK TERJANGKAU OLEH WAKTU ALAM BAWAH
Wei Qianjin berdiri di depan cermin yang terbuat dari cahaya bintang yang dipadatkan. Di dalamnya, ia bisa melihat Alam Bawah-sebuah dunia yang menurut sebagian besar entitas Alam Atas hanyalah dongeng, tempat pembuangan, atau kandang.
Tapi Wei Qianjin tahu lebih baik. Ia tahu bahwa Alam Bawah adalah kunci. Dan sekarang, kunci itu sedang berjalan menuju timur, membawa dua fragmen yang bisa mengubah segalanya.
"Guru," kata seseorang di belakangnya.
Wei Qianjin tidak menoleh. "Kau sudah kembali."
Su Luo berdiri di ambang pintu, jubah putihnya masih kotor oleh debu Alam Bawah-debu yang tidak seharusnya menempel pada pakaian seorang kultivator levelnya. Wajahnya pucat, dan ada sesuatu di matanya yang tidak pernah Wei Qianjin lihat sebelumnya: keraguan.
"Aku bertemu anak itu," kata Su Luo. "Dia... berbeda dari yang kau gambarkan."
"Tentu saja dia berbeda. Dia anak dari orang yang mengkhianatiku." Wei Qianjin akhirnya menoleh, dan senyumnya tipis. "Kau ragu, Su Luo?"
"Aku tidak ragu." Tapi suara Su Luo bergetar. "Aku hanya... aku perlu tahu. Apakah kau benar-benar akan membunuh adiknya? Anak itu tidak bersalah."
Wei Qianjin menatap muridnya lama. Lalu ia tertawa-tawa yang lembut, hampir seperti tawa seorang ayah.
"Su Luo," katanya. "Kau masih berpikir dalam kerangka bersalah dan tidak bersalah. Itu sangat... Alam Bawah." Ia berjalan mendekat, meletakkan tangan di bahu Su Luo. "Fragmen Langit Kuno tidak peduli siapa yang membawanya. Ia hanya peduli pada keseimbangan. Dan keseimbangan-
-Keseimbangan harus dijaga, bahkan jika itu berarti mengorbankan yang tak bersalah. Terutama yang tak bersalah." Wei Qianjin menepuk bahu Su Luo pelan, lalu melepaskannya dan berjalan ke tepi balkon. Dari sana, seluruh Alam Atas terlihat-menara-menara kristal yang mengambang, sungai cahaya yang mengalir di antara mereka, dan di kejauhan, gerbang besar yang menghubungkan sembilan lapisan langit. "Kau tahu berapa lama aku menunggu? Seratus tahun, Su Luo. Seratus tahun aku menahan luka yang dia berikan, menunggu fragmen itu matang. Dan sekarang anaknya muncul, membawa separuh yang lain. Kau ingin aku berhenti karena seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun?"
Su Luo tidak menjawab. Pedang bersarung hitam di pinggangnya terasa berat-bukan karena bobotnya, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan rasa malu.
"Guru," katanya akhirnya, "guru bilang kau akan datang kembali saat fragmennya matang."
"Aku akan datang. Tapi bukan untuk mencabutnya." Wei Qianjin berbalik, dan senyumnya memudar. "Aku akan membiarkannya matang sepenuhnya. Lalu aku akan mengambilnya-bersama dengan jiwa anak itu. Fragmen Langit Kuno tidak bisa dipisahkan dari pembawanya tanpa membunuh keduanya. Kau tahu itu."
"Jadi kau akan membunuhnya."
"Aku akan mengembalikan keseimbangan." Wei Qianjin mengangkat tangannya, dan di telapaknya muncul sebuah bola cahaya keemasan-kecil, berdenyut, seperti jantung. "Kau ingat ini?"
Su Luo mengangguk pelan. Itu adalah Fragmen Langit Kuno yang tersisa di tangan Wei Qianjin-separuh yang dia rebut dari Kaisar Langit Ke-9 dalam pertempuran seratus tahun lalu. Separuh lainnya ada di dada Hun Ta.
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk membiarkan sentimentalitas menghalangiku," kata Wei Qianjin. "Dan kau, muridku, sebaiknya memutuskan di mana kau berdiri. Karena ketika aku turun ke Alam Bawah, aku tidak akan membedakan antara yang bersalah dan yang tidak."
Ia menutup telapak tangannya, dan cahaya itu padam.
"Kembalilah ke Alam Bawah," perintahnya. "Awasi anak itu. Laporkan setiap perubahan pada fragmennya. Dan Su Luo-"
Su Luo menoleh.
"Jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku lagi."
Di bawah, di Alam Bawah, fajar telah sepenuhnya menyingsing di atas reruntuhan Desa Yanhe. Hun Ta duduk di tepi sumur tua, Xiao Ling tertidur di pangkuannya, kepalanya bersandar di lengan kiri kakaknya-lengan yang kini memiliki bekas luka bakar keunguan yang membentuk pola aneh, seperti akar yang menyebar dari pergelangan tangan hingga siku. Ia menatapnya lama. Sebelumnya, luka itu hanya terasa panas. Sekarang, saat Xiao Ling tidur di dekatnya, luka itu terasa... hidup.
Fragmen di dadanya berdenyut pelan, seirama dengan napas Xiao Ling.
Hun Ta mengeratkan pelukannya. Ia tidak tahu apa artinya. Ia hanya tahu bahwa adiknya adalah satu-satunya yang tersisa, dan ia akan melakukan apa pun untuk melindunginya-bahkan jika itu berarti menyentuh urusan langit yang ayahnya larang.
Di kejauhan, di atas puncak Gunung Sunyi, langit yang retak mulai menutup perlahan-tapi tidak sepenuhnya. Sebuah garis tipis cahaya keemasan masih terlihat, seperti luka yang belum sembuh. Dan dari garis itu, sesuatu turun.
Bukan Wei Qianjin.
Bukan Su Luo.
Sesuatu yang jauh lebih kecil-seekor burung dengan bulu seputih salju dan mata emas, terbang rendah di atas reruntuhan, hinggap di batu nisan yang belum jadi-batu yang Hun Ta dirikan untuk ibunya semalam, dengan tangan kosong dan air mata yang kering.
Burung itu menatap Hun Ta.
Lalu ia berbicara.
"Pewaris Langit Kuno," katanya, suaranya seperti denting logam yang jauh. "Aku datang dengan pesan dari salah satu dari Sembilan. Yang kelima. Dia ingin kau tahu-ayahmu bukan satu-satunya yang bersembunyi di Alam Bawah. Dan kau bukan satu-satunya yang mereka cari."
Hun Ta menegang.
"Ada tiga lagi," lanjut burung itu. "Tiga pewaris. Tiga fragmen. Dan ketika semuanya matang-"
Burung itu memiringkan kepalanya.
"-langit akan runtuh lebih cepat dari yang kau bayangkan."
Ia melebarkan sayapnya, dan sebelum Hun Ta bisa bertanya, burung itu sudah terbang-menembus garis cahaya keemasan di langit, menghilang ke Alam Atas.
Xiao Ling bergerak dalam tidurnya, menggumam sesuatu yang tidak jelas. Hun Ta menunduk, dan melihat tangannya-tangan kanan yang menggenggam belati kayu pemberiannya-mulai bergetar.
Di bawah tanah, jauh di bawah sumur, ukiran keemasan di dada ayahnya berubah warna lagi. Dari merah menjadi hitam.
Dan di suatu tempat di Alam Atas, Wei Qianjin membuka matanya untuk kedua kalinya.
"Yang Kelima," bisiknya. "Jadi kau juga mengirim pesan."
Ia tersenyum.
"Bagus. Biarkan mereka semua datang. Semakin banyak fragmen-semakin cepat keseimbangan dipulihkan."
Ia berdiri, dan di belakangnya, di dinding ruangannya, sembilan cermin mulai menyala satu per satu-masing-masing menampilkan wajah seseorang di Alam Bawah.
Hun Ta ada di cermin ketiga.
Xiao Ling ada di cermin keempat.
Dan di cermin kelima-yang belum pernah menyala selama seratus tahun-sebuah wajah mulai terbentuk.
Wajah seorang perempuan.
Muda.
Dengan mata yang sama seperti Hun Ta.
~ Bab 3 Selesai ~
Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.