Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SEBELUM LANGIT MERUNTUH

Bab 2

WARISAN DARI BAWAH TANAH

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Langit di atas Yanhe masih berwarna biru keunguan yang aneh ketika Hun Ta melangkah keluar dari sumur tua. Udara malam menusuk paru-parunya, tajam dan asing, seperti menghirup pecahan kaca. Di punggungnya, Xiao Ling tertidur-bukan karena tenang, tapi karena kelelahan yang mengalahkan ketakutan. Anak itu masih menggenggam belati kayunya, bahkan dalam tidurnya.

Hun Ta tidak menoleh ke belakang. Tidak ke sumur. Tidak ke desa yang kini hanya tinggal kerangka.

Tapi sesuatu di dalam dirinya berdenyut-bukan Fragmen, bukan suara ayahnya-melainkan semacam tarikan yang membuat langkahnya berat. Seperti ada benang tak terlihat yang mengikat tulang rusuknya pada tanah di bawah sana. Pada tubuh yang terbaring di platform batu.

Kau tidak bisa pergi begitu saja, bisik sesuatu. Bukan suara ayahnya. Suara lain. Lebih tua. Lebih gelap.

Hun Ta menggertakkan gigi dan terus berjalan.

## Tiga Jam Sebelumnya

Ia tidak sadar telah berjalan selama itu. Kakinya membawanya menuruni lereng Gunung Sunyi, melewati batu-batu yang masih hangat oleh api dari langit. Asap tipis mengepul dari reruntuhan rumah-rumah yang ia kenal seumur hidup. Wangi daging terbakar bercampur aroma tanah basah-campuran yang akan menghantuinya selamanya.

Ia tidak menangis.

Air matanya sudah habis sejak ia menemukan tubuh ibunya tergeletak di depan tungku, tangan masih memeluk erat tubuh adiknya yang lebih kecil. Tidak ada lagi air mata yang tersisa. Yang tersisa hanya sesuatu yang lebih dingin dari salju puncak gunung.

Di dadanya, di bawah tulang rusuk ketiga, sesuatu berdenyut. Bukan jantung. Jantungnya berdetak normal-terlalu normal, terlalu tenang untuk seseorang yang baru kehilangan segalanya. Yang berdenyut itu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang selalu ada di sana, sejak ia lahir, tapi baru sekarang ia sadari keberadaannya.

Fragmen Langit.

Kata-kata itu muncul di benaknya tanpa ia tahu dari mana. Terukir di dinding reruntuhan kuil kecil desa-kuil yang ia dan Xiao Ling sering lewati saat bermain. Kuil yang kini tinggal puing-puing. Tapi ukiran itu masih ada, terpahat di batu yang tidak hancur oleh api dari langit.

Hun Ta berhenti. Ia menoleh ke belakang, menatap desa yang telah menjadi lautan abu dan tulang. Sesuatu di dalam dirinya-bukan Fragmen, tapi sesuatu yang lebih tua, lebih dalam-berbisik bahwa ia seharusnya tidak pergi.

Tidak seperti ini.

Ada sesuatu yang tertinggal.

Bodoh, batinnya. Kau melihat mereka semua mati. Tidak ada yang tertinggal.

Ia hampir berbalik untuk melanjutkan perjalanan ketika ia merasakannya.

Sebuah tarikan. Halus, seperti benang yang diikatkan pada tulangnya, menariknya kembali ke arah desa. Bukan ke rumahnya. Bukan ke kuil. Tapi ke suatu titik di sebelah barat-ke arah sumur tua tempat penduduk desa mengambil air.

Sumur.

Hun Ta mengerutkan kening. Sumur itu tidak istimewa. Hanya lubang batu sedalam sepuluh meter, digali oleh kakek buyutnya, tempat semua anak desa belajar menimba air. Tidak ada yang tersembunyi di sana. Tidak ada yang-

Desir.

Angin malam tiba-tiba berhenti. Udara di sekelilingnya menjadi berat, padat, seperti air terjun yang membeku di tengah udara. Hun Ta merasakan rambut di lehernya berdiri. Fragmen di dadanya berdenyut lebih keras, lebih cepat, seperti burung yang mencoba keluar dari sangkarnya.

Dan kemudian ia mendengar suara itu.

Bukan suara manusia. Bukan suara angin. Suara seperti batu menggesek batu, dalam dan bergema, datang dari bawah tanah. Dari arah sumur.

'...akhirnya...'

Hun Ta menegang. Suara itu tidak datang dari luar. Suara itu datang dari dalam kepalanya. Tidak, dari dalam tulangnya. Dari sesuatu yang telah lama tidur di sana.

'...akhirnya kau kembali, anak Kaisar Langit Ke-9...'

Hun Ta tidak bergerak. Napasnya terhenti. Pikirannya berputar liar, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.

Kaisar Langit Ke-9.

Ayahnya.

Petani yang mengajarinya membajak sawah, memanah rusa, mengasah anak panah dengan batu asahan warisan. Ayahnya yang meninggal saat ia berumur dua belas tahun, karena demam biasa-demam yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib desa.

Bukan demam, bisik suara itu. Segel. Aku yang menyegelnya. Aku yang menyelamatkannya dari Wei Qianjin.

Hun Ta terjatuh ke tanah. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin, tapi karena sesuatu di dalam dirinya mengambil alih. Fragmen di dadanya menyala, memancarkan cahaya biru keunguan yang tembus melalui kulit dan bajunya. Cahaya yang sama dengan warna langit malam itu.

'SIAPA KAU?!' teriaknya ke udara kosong. Suaranya pecah, serak, bukan suara yang ia kenal sebagai miliknya sendiri.

Bukan siapa-siapa, jawab suara itu, dan kali ini ada nada getir di dalamnya. Hanya sisa kesadaran seorang tua yang terlalu banyak melihat langit runtuh. Aku meninggalkan segel ini untukmu, anakku. Segel di bawah sumur. Di bawah tempat kau bermain saat kecil.

Hun Ta mendorong tubuhnya berdiri. Kakinya lemah, tapi tekadnya membaja. Ia berjalan menuju sumur-sumur yang kini tampak berbeda di matanya. Batu-batu di tepinya masih sama, masih berlumut, masih retak di sisi utara tempat ia pernah terjatuh saat berumur enam tahun. Tapi sekarang ia melihatnya.

Ukiran.

Di batu dasar sumur, tersembunyi di bawah lumut dan kotoran bertahun-tahun, ada pola rumit yang tidak pernah ia perhatikan. Pola yang sama dengan ukiran di kuil. Pola yang sama dengan yang kini menyala di dadanya.

Turun, bisik suara itu. Kau tidak akan jatuh. Aku menjagamu.

Hun Ta menelan ludah. Ia menatap ke dalam sumur-lubang gelap yang menelan semua cahaya. Tidak ada tangga. Tidak ada tali. Hanya kegelapan.

Dan di kedalaman kegelapan itu, sesuatu menunggu.

Ia melompat.

Angin menderu melewati telinganya. Tubuhnya jatuh bebas, lebih cepat dari yang seharusnya, melewati batas dasar sumur yang ia ketahui. Sepuluh meter. Dua puluh. Lima puluh. Ia terus jatuh, melewati lapisan batu, melewati akar-akar yang menjalar seperti ular raksasa, melewati sesuatu yang bukan tanah.

Cahaya biru dari dadanya menerangi dinding-dinding yang kini tidak lagi batu. Dinding logam. Dinding yang berdenyut seperti daging hidup. Di setiap sisi, ukiran bergerak, berputar, membentuk wajah-wajah yang menjerit tanpa suara.

Ini bukan sumur, pikir Hun Ta. Ini penjara.

Ia mendarat. Kakinya menyentuh lantai yang dingin dan keras, berkilau seperti kaca hitam. Ruangan itu luas-jauh lebih luas dari desanya sendiri. Di tengah ruangan, sebuah platform batu menjulang, dikelilingi oleh rantai cahaya yang mengambang di udara.

Dan di atas platform itu, terbaring, adalah seseorang.

Hun Ta mendekat dengan langkah gontai. Jantungnya berdebar keras di tenggorokan. Ia sudah tahu siapa yang akan ia lihat-tapi ia tidak siap.

Ayahnya.

Tubuh yang ia kenal-tubuh yang ia kubur dengan tangannya sendiri tujuh tahun lalu-terbaring di atas platform, utuh, tidak membusuk. Wajahnya tenang, seperti sedang tidur. Tapi ada sesuatu yang salah.

Di dadanya, tepat di tempat yang sama dengan tempat Fragmen Hun Ta berdenyut, ada lubang. Lubang sebesar kepalan tangan, menganga, kosong. Dan di sekitar lubang itu, terukir kata-kata dengan cahaya keemasan yang berdenyut lemah, seperti jantung yang sekarat.

Hun Ta membaca kata-kata itu.

'Jangan biarkan anak kita tahu.'

'Langit yang runtuh malam ini adalah langit yang aku tinggalkan.'

'Aku bukan petani.'

'Aku adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit yang melarikan diri.'

Hun Ta jatuh berlutut. Tangannya menyentuh tepi platform, dan seketika itu, cahaya keemasan dari ukiran itu menjalar ke jari-jarinya, ke lengannya, ke dadanya-dan ia melihat.

Bukan penglihatan. Bukan mimpi. Kenangan.

Seorang pria berdiri di atas pilar langit, mahkota awan mengambang di atas kepalanya. Wajahnya adalah wajah ayahnya-lebih muda, lebih keras, mata keemasan yang sama dengan Wei Qianjin. Ia berdiri di antara delapan sosok lain, semuanya berwajah dingin, semuanya memakai mahkota awan.

'Pilar Ke-9 runtuh,' kata seseorang. Suara Wei Qianjin. 'Kaisar Langit Ke-9 telah melarikan diri. Ia membawa separuh Fragmen Langit Kuno.'

'Cari dia,' perintah suara lain. 'Bawa kembali fragmen itu. Bunuh siapa pun yang menghalangi.'

Dan kemudian-kekacauan. Langit terbelah. Pilar-pilar runtuh. Sembilan sosok bertarung di antara awan yang berdarah. Ayahnya-Kaisar Langit Ke-9-berlari, terluka, separuh jiwanya terlepas dari tubuhnya. Ia turun ke Alam Bawah, menyembunyikan sisa kekuatannya, menyegel separuh kesadarannya di bawah sumur desa yang belum bernama.

Dan di pelukannya, seorang bayi.

Hun Ta.

Penglihatan itu berakhir. Hun Ta terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dan air mata yang entah kapan mulai mengalir. Ia menatap wajah ayahnya-wajah yang kini ia tahu adalah wajah seorang dewa yang jatuh.

'Kau... menyegel dirimu sendiri,' bisik Hun Ta. Suaranya pecah. 'Untuk menyembunyikanku. Untuk melindungiku dari mereka.'

Ya, jawab suara itu-suara ayahnya, dari suatu tempat di dalam platform, di dalam sisa kesadaran yang tersegel. Dan sekarang mereka tahu kau ada. Wei Qianjin merasakan fragmen itu malam ini. Ia akan datang lagi. Lebih banyak. Lebih kuat.

Hun Ta mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, meneteskan darah ke lantai kaca hitam. Darah itu mengalir, membentuk pola, dan tiba-tiba-

'Kak Hun Ta?'

Suara itu. Kecil. Lemah. Bergetar.

Hun Ta berputar. Di ambang pintu ruang bawah tanah-pintu yang tidak ia sadari ada-berdiri sesosok tubuh kecil. Rambut dikuncir dua, kusut, berdebu. Mata besar yang basah oleh air mata. Tangan kecil yang menggenggam belati kayu.

Xiao Ling.

'Ling...?' Hun Ta tidak percaya. Ia tidak berani percaya. 'Kau... bagaimana...'

'Ling sembunyi di sumur,' bisik Xiao Ling. Air matanya jatuh satu per satu, meninggalkan jejak di pipi kotornya. 'Ling janji nggak keluar. Tapi... tapi Ling dengar suara Kak Hun Ta. Dari bawah. Jadi Ling ikut turun.'

Ia menatap platform batu, menatap tubuh yang terbaring di atasnya. Matanya membelalak.

'Itu... itu ayah?'

Hun Ta tidak menjawab. Ia melangkah menuju Xiao Ling, berlutut di depannya, dan meraih tubuh kecil itu dalam pelukan. Xiao Ling menangis-menangis keras, menangis seperti anak kecil yang baru menyadari bahwa dunianya telah hancur.

Dan Hun Ta membiarkannya. Ia tidak mengatakan apa pun. Tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan. Tidak ada janji yang bisa ia berikan.

Tapi di dalam pelukannya, di dalam dadanya yang berdenyut oleh Fragmen Langit, sesuatu berubah. Bukan kemarahan. Bukan dendam. Bukan itu.

Tanggung jawab.

Ia menatap ayahnya-Kaisar Langit Ke-9 yang mengorbankan segalanya untuk melindunginya. Ia menatap Xiao Ling-anak yang kehilangan segalanya, tapi masih hidup, masih bernapas, masih menggenggam belati kayu yang ia berikan.

Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.

'Ling,' katanya pelan. 'Kita akan pergi dari sini.'

Xiao Ling mendongak, mata besarnya merah dan bengkak. 'Ke mana?'

Hun Ta menatap ke atas-ke arah langit yang tidak bisa ia lihat, tapi yang ia rasakan menekan dari atas, dingin dan kejam. Langit yang telah meruntuhkan dunianya. Langit yang menyembunyikan delapan dewa yang menginginkan kematiannya.

'Ke tempat di mana kita bisa menjadi kuat,' jawabnya. 'Ke tempat di mana langit tidak bisa menjangkau kita.'

Belum, bisik suara ayahnya. Kau belum siap. Fragmen itu belum matang. Kau harus menemukan Pedang dari Langit yang Runtuh. Su Luo. Hanya dia yang bisa mengajarimu menggunakan fragmen itu tanpa membunuhmu.

Hun Ta mengangguk. Ia tidak tahu siapa Su Luo. Ia tidak tahu di mana harus mencari. Tapi ia tahu satu hal: ia akan menemukannya.

Ia akan menjadi kuat.

Ia akan naik ke Alam Atas.

Dan ia akan membuat mereka-semua dari mereka-merasakan apa yang ia rasakan malam ini.

Ia berdiri, menggendong Xiao Ling di punggungnya. Anak itu terlalu lelah untuk berjalan. Sebelum ia melangkah pergi, ia menatap ayahnya untuk terakhir kalinya.

'Ayah,' katanya pelan, suaranya mantap. 'Aku akan kembali. Setelah semuanya selesai. Aku janji.'

Platform batu itu berdenyut pelan. Ukiran keemasan di sekitar lubang di dada ayahnya berkedip-sekali, dua kali-seperti anggukan. Seperti restu.

Hun Ta berjalan menuju pintu yang tidak ia sadari ada sebelumnya-pintu yang kini terbuka, memperlihatkan lorong panjang yang mendaki ke atas. Tapi sebelum ia melangkah melewatinya, sesuatu menarik perhatiannya.

Di dinding di samping pintu, terukir kalimat lain. Bukan kalimat ayahnya. Kalimat yang lebih tua, lebih gelap, tertulis dengan goresan kasar seperti cakar.

'Ketika sembilan menjadi satu, langit akan runtuh.

Ketika yang runtuh bangkit kembali, langit akan meruntuhkan.

Ketika Pewaris Langit Kuno naik ke pilar terakhir,

Tidak ada langit yang tersisa untuk diruntuhkan.'

Hun Ta membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu ia melangkah melewati pintu, membawa Xiao Ling di punggungnya, meninggalkan makam ayahnya di bawah tanah.

Di belakangnya, di dalam ruang bawah tanah yang kini sunyi, sesuatu bergerak.

Rantai cahaya yang mengambang di sekitar platform mulai bergetar. Ukiran keemasan di dada ayahnya berdenyut lebih cepat-tidak seperti restu, tapi seperti peringatan.

Dan jauh di atas, di Alam Atas, di Pilar Selatan, Wei Qianjin membuka matanya.

Ia tersenyum.

'Ketemu.'

Fajar belum tiba ketika Hun Ta mencapai tepi hutan yang mengelilingi Desa Yanhe. Embun menempel di daun-daun pinus, dingin dan basah, membasahi lengan bajunya yang sudah compang-camping. Xiao Ling masih tertidur di punggungnya, napasnya lemah tapi teratur. Anak itu tidak bergerak sejak mereka meninggalkan sumur-entah karena kelelahan atau karena sesuatu dalam dirinya memilih untuk tidak bangun dan menghadapi dunia yang telah berubah.

Hun Ta tidak menyalahkannya.

Ia sendiri ingin tidur. Ingin menutup mata dan berpura-pura bahwa semalam hanyalah mimpi buruk. Bahwa ia akan bangun di rumahnya, di atas tikar jerami, dengan aroma bubur yang dimasak ibunya dari dapur. Bahwa Xiao Ling akan menarik-narik leng

ngan bajunya. Bahwa ibunya akan muncul di ambang pintu dengan mangkuk kayu berisi bubur hangat dan senyum yang tidak pernah pudar.

Tapi tidak.

Fajar benar-benar tiba. Cahaya keemasan merayap di atas pucuk-pucuk pinus, dan bersamanya datang kenyataan yang tidak bisa ia tolak lagi. Hun Ta menghentikan langkahnya di puncak sebuah bukit kecil, tempat ia bisa melihat seluruh lembah Yanhe terbentang di bawah. Dari sini, desanya terlihat seperti luka di tubuh bumi-hitam, hangus, berasap. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada yang hidup.

Ia menurunkan Xiao Ling dari punggungnya dengan hati-hati, meletakkannya di atas batu datar yang ditumbuhi lumut. Anak itu membuka matanya-merah, bengkak, kosong.

'Kak...' bisiknya. 'Kita di mana?'

'Di tempat yang aman,' jawab Hun Ta. Ia tidak yakin itu benar. Tapi ia tidak tahu apa lagi yang bisa ia katakan.

Xiao Ling menatap lembah di bawah mereka. Matanya tidak berkedip. Tidak ada air mata lagi-mungkin sudah habis, seperti milik Hun Ta. Hanya ada keheningan yang terlalu dalam untuk anak berumur sepuluh tahun.

'Kak,' katanya lagi, suaranya nyaris tak terdengar. 'Ling mimpi semalam. Ling mimpi ada suara dari bawah sumur. Suara yang bilang... bilang Ling harus menjaga Kak Hun Ta.'

Hun Ta menegang.

'Apa?' tanyanya, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan. 'Suara apa?'

Xiao Ling menggeleng pelan. 'Ling nggak tahu. Ling tidur. Tapi...' Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu ke arah luka goresan kecil di ujung jarinya-luka yang tidak Hun Ta ingat ada sebelumnya. 'Ling luka. Di batu. Darah Ling jatuh ke celah. Terus... ada suara.'

Darah Xiao Ling. Jatuh ke celah batu. Di dalam sumur.

Hun Ta merasakan darahnya sendiri mengalir dingin.

'Darah anak itu,' bisik suara ayahnya-lebih lemah sekarang, seperti gema yang hampir hilang. 'Darah keturunanku. Darah Kaisar Langit. Itu yang membangunkanku. Bukan kau. Dia.'

Hun Ta tidak sempat menjawab. Karena saat itu, udara di sekitar mereka berubah. Bukan karena angin. Bukan karena cuaca. Tapi karena kehadiran. Sesuatu yang jauh lebih tua dari pohon-pohon di gunung ini, jauh lebih tua dari desa yang telah lenyap.

Sosok itu muncul di antara pepohonan pinus, berjalan tanpa suara.

Jubah putih. Rambut perak yang menjuntai hingga pinggang, bergerak seperti asap meski tidak ada angin. Wajahnya muda-terlalu muda untuk rambut seputih itu-dengan mata abu-abu yang tenang dan dalam, seperti kolam yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari. Di punggungnya, tergantung sebuah pedang panjang bersarung hitam, tanpa hiasan, tanpa permata. Hanya kayu dan logam yang tampak biasa.

Tapi Hun Ta tahu itu bukan pedang biasa.

Setiap serat di tubuhnya berteriak bahaya. Fragmen di dadanya berdenyut liar, seperti hewan yang terperangkap dan panik. Bahkan suara ayahnya-sisa kesadaran yang tersegel di bawah tanah-mendadak padam, seperti lilin yang ditiup angin.

Sosok itu berhenti lima langkah dari mereka.

Ia menatap Hun Ta. Lalu ke arah dada Hun Ta, tempat cahaya biru keunguan masih samar-samar berpendar melalui kain.

'Jadi benar,' katanya. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti batu yang dijatuhkan ke air dingin. 'Kau memang hidup.'

'Kau siapa?' tanya Hun Ta. Ia melangkah maju, menempatkan tubuhnya di antara sosok itu dan Xiao Ling. Kaki-kakinya gemetar, tapi ia tidak mundur.

Sosok itu tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia mengangkat tangan kanannya. Di ujung jarinya, muncul benang-benang cahaya tipis yang mengambang di udara, berputar-putar seperti jaring laba-laba yang tak terlihat.

'Aku sudah menunggu seratus tahun untuk ini,' katanya. 'Fragmen Langit Kuno. Sepotong kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia ini.' Ia menatap Hun Ta dengan sesuatu yang mirip iba. 'Kau tidak tahu apa yang kau bawa, anak kecil. Fragmen itu bukan hadiah. Itu kutukan. Ia akan membunuhmu seperti ia membunuh ayahmu.'

'Ayahku tidak mati karena fragmen,' bantah Hun Ta. 'Ayahku mati karena mereka. Karena Wei Qianjin. Karena langit-'

'Langit?' Sosok itu tertawa. Tawa yang tidak mengandung kehangatan. 'Kau pikir langit yang runtuh semalam adalah bencana? Kau pikir itu kejahatan? Tidak. Itu kebaikan. Mereka mencoba membersihkan dunia dari sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada. Dan kau-' ia menunjuk Hun Ta, jari telunjuknya memancarkan cahaya abu-abu '-adalah sisa terakhir dari wabah itu.'

Hun Ta mengepalkan tangannya. 'Aku tidak tahu siapa kau. Tapi ayahku bilang ada seseorang yang bisa membantuku. Seseorang bernama Su Luo. Pedang dari Langit yang Runtuh.'

Sosok itu terdiam.

Untuk sesaat, ekspresinya berubah. Nyaris tak terlihat-hanya kedipan, hanya getaran kecil di sudut bibirnya. Tapi Hun Ta melihatnya.

'Ayahmu menyebut namaku,' kata sosok itu pelan. 'Menarik.'

'Kau... Su Luo?'

Sosok itu-Su Luo-mengangguk pelan. 'Aku datang ke sini untuk mencari fragmen itu. Untuk memusnahkannya sebelum ia jatuh ke tangan yang salah.' Ia menatap Hun Ta dengan mata abu-abu yang kini sedikit lebih lembut. Sedikit. 'Tapi melihatmu... kau masih anak-anak. Kau bahkan tidak tahu apa yang kau miliki.'

'Aku tahu cukup,' kata Hun Ta. 'Aku tahu aku harus menjadi kuat. Aku tahu aku harus melindungi adikku. Dan aku tahu-'

'Apa kau tahu bahwa fragmen di dadamu itu bisa meledak kapan saja?' potong Su Luo. 'Apa kau tahu bahwa setiap kali ia berdenyut, ia memakan jiwamu sedikit demi sedikit? Apa kau tahu bahwa dalam waktu kurang dari satu bulan, kau akan menjadi gila-atau mati-atau lebih buruk: menjadi wadah bagi sesuatu yang bukan dirimu?'

Hun Ta terdiam. Ia tidak tahu itu. Di belakangnya, Xiao Ling menggenggam ujung bajunya, tangannya kecil dan dingin.

'Itu sebabnya aku di sini,' lanjut Su Luo. 'Bukan untuk membunuhmu. Untuk menyelamatkanmu. Aku akan mencabut fragmen itu-prosesnya akan menyakitkan, tapi kau akan hidup. Kau bisa kembali menjadi manusia biasa. Kau bisa melindungi adikmu dengan cara yang tidak akan membunuhmu.'

Hun Ta menatapnya. 'Kau bohong.'

Su Luo mengangkat alis. 'Oh?'

'Ayahku menyegel dirinya sendiri untuk melindungi fragmen itu. Untuk melindungi aku. Ia bilang kau bisa mengajariku. Tidak sekali pun ia bilang kau akan mencabutnya.' Hun Ta melangkah maju, mendekati Su Luo hingga hanya tersisa dua langkah di antara mereka. 'Jadi entah kau berbohong tentang siapa kau, atau kau berbohong tentang apa yang ayahku katakan.'

Su Luo tersenyum tipis. Bukan senyum yang ramah. 'Kau pintar. Sayangnya, kepintaran tidak akan menyelamatkanmu.'

Ia mengangkat tangannya.

Dunia meledak.

Bukan ledakan api atau suara-ledakan tekanan. Udara di sekitar Hun Ta tiba-tiba menjadi berat, padat, seperti lautan yang jatuh menimpanya. Ia tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Bahkan jantungnya berhenti berdetak untuk satu detik yang panjang.

Su Luo bergerak. Satu langkah, dua langkah-ia sudah berdiri di depan Hun Ta, tangannya terulur, jari-jarinya menempel di dada Hun Ta tepat di atas Fragmen Langit.

'Jangan bergerak,' katanya. 'Ini akan terasa seperti kau mati. Tapi kau tidak akan mati. Sayangnya.'

Hun Ta membuka mulutnya untuk berteriak-untuk Xiao Ling, untuk apa pun-tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya kaku, lumpuh, seperti boneka yang kehilangan talinya.

Su Luo menarik tangannya.

Dan Fragmen Langit di dada Hun Ta membalas.

Bukan dengan cahaya. Bukan dengan ledakan. Dengan kehendak. Sesuatu yang dingin, kuno, dan tak terbatas mengalir keluar dari dada Hun Ta, menembus jari Su Luo, naik ke lengannya, ke dadanya-

Dan Su Luo terlempar ke belakang. Bukan didorong. Dilempar. Tubuhnya menghantam pohon pinus terdekat dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan batang pohon itu menjadi dua. Suara kayu pecah memenuhi udara, diikuti oleh suara batuk yang keras dan napas yang tersengal.

Su Luo jatuh ke tanah, satu tangan mencengkeram dadanya. Mata abu-abunya membelalak-bukan karena marah. Karena kaget. Karena sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dalam seratus tahun terakhir.

Ia menatap Hun Ta, yang masih berdiri di tempatnya, dikelilingi oleh cahaya biru keunguan yang kini menyala terang, membubung tinggi ke langit seperti pilar yang tak terlihat.

'Kau...' Su Luo terbatuk. Darah menetes dari sudut bibirnya-darah perak, bukan merah. 'Kau... membawa sesuatu yang lain. Bukan hanya fragmen.'

Hun Ta tidak mendengarnya. Matanya tertutup. Di dalam kepalanya, ada suara-bukan suara ayahnya, bukan suara Wei Qianjin. Suara yang lebih dalam. Lebih tua. Suara yang berbicara dalam bahasa yang tidak ia kenal, tapi ia mengerti.

'Kau bukan pewaris,' kata suara itu. 'Kau adalah pintu.'

Lalu cahaya itu padam. Hun Ta jatuh ke tanah, tubuhnya lemas, napasnya berat. Di belakangnya, Xiao Ling berteriak dan berlari ke arahnya, memeluknya erat-erat, menangis tanpa suara.

Dan Su Luo-Pedang dari Langit yang Runtuh, yang telah bertarung melawan dewa dan iblis selama seratus tahun-perlahan bangkit dari tanah, menyeka darah dari bibirnya, dan menatapnya dengan sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak kejatuhan Pilar Kesembilan.

Ketakutan.

Bukan kepada Hun Ta.

Kepada kekuatan yang ia kenali. Kekuatan yang pernah ia hadapi sekali, seratus tahun lalu, di puncak dunia yang runtuh. Kekuatan yang seharusnya telah lenyap bersama Kaisar Langit Ke-9.

'Tidak mungkin,' bisiknya. 'Kau seharusnya sudah mati. Kau seharusnya sudah mati, guru.'

Ia menatap Hun Ta yang terbaring tak sadarkan diri di tanah, dikelilingi oleh cahaya yang perlahan memudar. Di dadanya, Fragmen Langit berdenyut pelan, stabil, seperti jantung yang baru saja belajar berdetak.

Dan Su Luo, untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, berlutut. Bukan karena terpaksa. Karena ia ingat sesuatu-sesuatu yang telah ia kubur bersama kenangan perang.

Tangan yang mengajarinya memegang pedang. Suara yang membimbingnya melewati badai pertama. Mata keemasan yang menatapnya dengan bangga saat ia pertama kali mengalahkan dewa.

Ayah Hun Ta.

Guru yang ia kira mengkhianatinya.

Guru yang ia benci selama seratus tahun.

Guru yang, ternyata, masih hidup-entah bagaimana, di suatu tempat, di dalam anak yang kini terbaring di tanah di depannya.

'Guru,' ulangnya, suaranya pecah. 'Kau... menyegel dirimu sendiri...?'

Tidak ada jawaban. Hanya angin pagi yang berhembus melewati pepohonan yang patah, membawa aroma pinus dan debu dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya.

Di dalam pelukannya, Hun Ta tidak sadar bahwa di dadanya, Fragmen Langit berdenyut dengan pola yang berbeda sekarang. Bukan pola burung yang mencoba keluar. Pola jantung kedua, yang baru saja belajar berdetak bersama jantung pertamanya.

Dan di bawah tanah, jauh di bawah reruntuhan Desa Yanhe, di dalam ruang bawah tanah yang kini sunyi, ukiran keemasan di sekitar lubang di dada Kaisar Langit Ke-9 perlahan berubah warna.

Dari emas ke merah.

Dari restu ke peringatan.

Dari ayah ke sesuatu yang lain.

CATATAN PENULIS (Plot Twist untuk Bab 3):

Di luar reruntuhan desa, Hun Ta bertemu dengan sosok berjubah putih berambut perak yang telah menunggu sejak malam pembantaian-Su Luo. Namun Su Luo bukan datang untuk menolong. Ia datang untuk mengambil Fragmen Langit dari tubuh Hun Ta dengan paksa, karena ia percaya fragmen itu terlalu berbahaya bagi manusia biasa.

Pertarungan pertama Hun Ta-bukan melawan dewa, tapi melawan satu-satunya orang yang bisa mengajarinya bertahan hidup-dan ia kalah dalam satu serangan. Tapi tepat saat Su Luo hendak mencabut fragmen itu, tubuh Hun Ta bereaksi: Fragmen Langit Kuno memancarkan kekuatan yang bahkan Su Luo tidak bisa menahan-dan untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, Pedang dari Langit yang Runtuh jatuh berlutut, bukan karena dipaksa, tapi karena terkejut: kekuatan itu identik dengan kekuatan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang ia kira telah mati. Ayah Hun Ta.

Su Luo kemudian menyadari bahwa Hun Ta bukan sekadar 'Pewaris Langit Kuno'-ia adalah anak dari orang yang mengkhianatinya seratus tahun lalu. Dan di dalam fragmen itu, tersimpan kesadaran sang ayah yang perlahan bangkit-bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai ancaman yang bahkan Su Luo tidak bisa hadapi.

Su Luo menatap Hun Ta dengan mata yang seratus tahun tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun: mata seorang prajurit yang baru saja melihat hantu.

Hun Ta masih berlutut di tanah, satu tangan menahan tubuh Xiao Ling yang gemetar di belakangnya, tangan lainnya menekan dada tempat Fragmen Langit berdenyut kencang. Darah menetes dari sudut bibirnya-satu serangan Su Luo cukup untuk meremukkan tiga tulang rusuknya, meski tidak menembus kulit.

"Kau," kata Su Luo. Suaranya serak, tidak seperti suara seorang pendekar legendaris. Lebih seperti suara orang yang baru saja kehilangan kata-kata. "Kekuatan itu. Aku mengenalnya."

Hun Ta mendongak. Matanya masih basah, tapi tidak ada ketakutan di sana. Hanya sesuatu yang jauh lebih dingin-sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya sebagai petani.

"Kau kenal ayahku," katanya. Bukan pertanyaan.

Su Luo tersentak. Pedang di tangannya-Pedang dari Langit yang Runtuh-bergetar halus, meski tidak ada angin. Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, pedang itu menolak untuk diangkat.

"Ayahmu," ulang Su Luo. Ia mundur selangkah. Bukan karena takut kepada Hun Ta. Karena takut kepada apa yang baru saja ia rasakan. "Wei Qianjin menghancurkan desa ini karena dia. Kau anaknya. Kau-"

Ia berhenti. Matanya membelalak, lalu menajam. "Kau bukan sekadar anaknya. Kau adalah kunci segelnya."*

Hun Ta tidak mengerti. Tapi Fragmen di dadanya berdenyut, dan suara itu-suara ayahnya-berbisik pelan di tengkoraknya: "Jangan biarkan dia menyentuhmu. Dia akan membunuhmu untuk menghentikanku."

Su Luo melangkah maju. Pedangnya masih menolak diangkat, tapi tangannya tidak perlu pedang. Ia bisa meremukkan tengkorak Hun Ta dengan telapak tangan kosong jika ia mau.

"Kau tidak tahu apa yang kau bawa," kata Su Luo pelan. "Ayahmu-Kaisar Langit Ke-9-bukan korban. Dia pengkhianat. Dia membunuh tujuh dari delapan Kaisar Langit lainnya untuk merebut Fragmen Langit Kuno. Aku salah satu dari delapan yang selamat. Aku-"

Suara itu tercekat. Sesuatu di matanya berubah. Bukan kemarahan. Sesuatu yang jauh lebih tua. Rasa bersalah.

"Aku hampir mati malam itu. Sepuluh ribu tahun yang lalu. Kuhabiskan seratus tahun terakhir mencari fragmen ini untuk menghancurkannya. Dan sekarang aku menemukannya-di dalam tubuh anak seorang pengkhianat."

Hun Ta menatapnya. Wajahnya kosong, tapi di dalam kepalanya, semua yang ia tahu tentang ayahnya-petani yang mengajarinya memanah, yang tertawa saat Xiao Ling jatuh ke lumpur, yang mati karena demam-hancur berkeping-keping.

"Kau bohong," bisiknya.

"Aku tidak berbohong," jawab Su Luo. "Dan kau tahu itu. Kau merasakan kesadaran ayahmu di dalam fragmen itu. Kau mendengar suaranya. Apakah dia terdengar seperti seorang ayah? Atau seperti sesuatu yang menggunakanmu?"

Hun Ta terdiam. Karena di dalam dadanya, suara itu-suara ayahnya-tertawa pelan. Tawa yang tidak pernah ia dengar di dunia nyata. Tawa yang dingin.

"Dia benar," bisik suara itu. "Tapi dia juga salah. Aku mengkhianati delapan Kaisar Langit karena mereka akan menghancurkan Alam Bawah untuk memperebutkan fragmen. Aku menyegel diriku sendiri untuk menghentikan perang. Dan sekarang-"

Suara itu berhenti.

"-sekarang dia ingin membebaskanku. Karena dia tidak punya pilihan lain."

Hun Ta mengerjapkan mata. "Apa maksudmu?"

Tapi sebelum suara itu bisa menjawab, Su Luo sudah bergerak. Cepat. Terlalu cepat untuk diikuti mata manusia. Tangannya menghantam dada Hun Ta-bukan untuk membunuh, tapi untuk mencabut.

Dan kemudian-

Fragmen itu menyala.

Bukan cahaya biru keunguan seperti sebelumnya. Cahaya putih. Putih menyilaukan, putih yang membutakan, putih seperti bintang yang meledak. Hun Ta menjerit-bukan karena sakit, tapi karena sesuatu di dalam dirinya terbuka. Sesuatu yang telah terkunci selama seratus tahun.

Su Luo terlempar ke belakang. Tubuhnya menghantam batu reruntuhan desa, menghancurkannya menjadi debu. Pedang dari Langit yang Runtuh-pedang yang telah menewaskan tiga Kaisar Langit dan empat ribu prajurit-terlepas dari tangannya dan menancap ke tanah lima meter darinya.

Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, Su Luo jatuh berlutut.

Bukan karena luka.

Karena kekuatan yang baru saja ia rasakan-kekuatan yang keluar dari tubuh Hun Ta-identik dengan kekuatan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang ia kira telah mati seratus tahun lalu. Seseorang yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.

"Wei... Qianjin?" bisiknya.

Tapi bukan Wei Qianjin yang berdiri di hadapannya sekarang.

Hun Ta berdiri tegak, tubuhnya bersinar dalam cahaya putih yang tidak wajar, matanya membuka-dan di dalam matanya, Su Luo melihat sesuatu yang bukan milik anak petani. Sesuatu yang tua. Sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang tersenyum padanya dengan senyum yang ia kenal terlalu baik.

"Halo, Su Luo," kata suara itu-bukan suara Hun Ta, tapi suara pria yang pernah ia panggil saudara. "Sudah lama."

Su Luo menatapnya. Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, Pedang dari Langit yang Runtuh-pendekar yang tidak pernah kalah-merasakan sesuatu yang mendekati ketakutan.

"Kau," katanya. "Kau menyegel dirimu sendiri di dalam anakmu."

"Tidak," jawab suara itu. "Aku menyegel diriku sendiri di dalam fragmen. Fragmen itu ada di dalam anakku. Jadi secara teknis-"

Senyum itu melebar.

"-aku selalu bersamanya. Sejak lahir. Mengawasinya. Mengajarinya memanah. Menontonnya tumbuh menjadi pria yang lembut, yang menolak kultivasi, yang memilih menjadi petani. Anak yang baik."

Su Luo meraih pedangnya. Kali ini pedang itu menurut. "Dan sekarang?"*

"Sekarang," kata suara itu, "kau punya dua pilihan. Bunuh anakku dan hancurkan fragmen bersamanya-tapi kau tahu itu tidak akan berhasil. Atau-"

Suara itu berhenti. Senyum itu menghilang. Dan untuk sesaat, Su Luo melihat sesuatu yang lain di mata Hun Ta. Sesuatu yang manusiawi. Sesuatu yang ketakutan. Sesuatu yang-

Hun Ta tersadar.

Cahaya putih itu padam seketika. Tubuhnya ambruk ke depan, jatuh ke tanah, darah mengalir dari hidung dan telinganya. Di belakangnya, Xiao Ling menjerit, berlari menangkap tubuh kakaknya yang jatuh.

"KAK HUN TA!"

Su Luo berdiri diam. Pedangnya masih di tangan. Ia bisa membunuh Hun Ta sekarang. Anak itu tidak sadarkan diri. Fragmen itu tidak aktif. Satu tebasan. Selesai. Seratus tahun pencarian berakhir.

Ia melangkah maju.

Lalu berhenti.

Xiao Ling menatapnya. Mata besar itu-mata yang sama dengan mata anak yang pernah ia lihat seratus tahun lalu, sebelum semuanya hancur-menatapnya tanpa takut. Tanpa kebencian. Hanya dengan air mata.

"Jangan sakiti Kak Hun Ta," katanya. Suaranya kecil. "Tolong."

Dan Su Luo-pendekar yang telah membunuh lebih banyak dewa daripada manusia-terdiam.

Di dalam dadanya, sesuatu yang telah mati seratus tahun lalu berdenyut.

"Kau... mirip dia," bisiknya.

Ia tidak menjelaskan siapa.

Ia menurunkan pedangnya. Untuk sesaat, ia hanya berdiri di sana, di tengah reruntuhan desa, menatap dua anak yang kehilangan segalanya-sama seperti dirinya, seratus tahun lalu.

Lalu ia berbicara, suaranya pelan.

"Bawa dia. Ikuti aku. Tapi jika fragmen itu bangun lagi-"

Matanya menajam.

"-aku tidak akan ragu."

Di kejauhan, di atas puncak Gunung Sunyi, langit mulai retak lagi. Bukan karena Wei Qianjin. Bukan karena Kaisar Langit. Tapi karena sesuatu yang lain-sesuatu yang lebih tua, yang telah menunggu di bawah tanah selama sepuluh ribu tahun.

Rantai cahaya di ruang bawah tanah tempat ayah Hun Ta terbaring mulai putus satu per satu.

Dan di kedalaman segel, di dalam sisa kesadaran Wei Qianjin yang terluka, sesuatu yang bukan manusia membuka matanya.

"Pewaris Langit Kuno sudah bangun," bisiknya. "Sekarang giliran kami."

CATATAN PENULIS (Plot Twist untuk Bab 3): Su Luo membawa Hun Ta dan Xiao Ling ke tempat persembunyiannya-Kuil Pedang di Puncak Awan, sebuah tempat yang tidak ada di peta mana pun, di mana waktu berjalan berbeda. Di sana, Su Luo mulai melatih Hun Ta-bukan karena ia ingin, tapi karena ia menyadari sesuatu: Fragmen Langit di tubuh Hun Ta adalah satu-satunya senjata yang bisa menghancurkan Wei Qianjin dan delapan Kaisar Langit yang tersisa. Tapi selama pelatihan, Hun Ta mulai mengalami 'ingatan' yang bukan miliknya-ingatan tentang perang kuno, tentang pengkhianatan, tentang seorang wanita bernama Yue Lian yang dikatakan tewas oleh Wei Qianjin. Su Luo mengenal nama itu. Yue Lian adalah muridnya-murid yang ia kira tewas seratus tahun lalu. Namun ingatan Hun Ta menunjukkan sesuatu yang berbeda: Yue Lian tidak tewas. Ia masih hidup. Dan ia berada di Alam Atas-sebagai tangan kanan Wei Qianjin. Sementara itu, di desa yang hancur, rantai segel bawah tanah akhirnya putus sepenuhnya-dan sesuatu yang terkubur di bawah makam ayah Hun Ta terbangun, sesuatu yang bahkan Wei Qianjin takutkan. Sesuatu yang memanggil Hun Ta dengan satu kata: "Putraku."

Hun Ta berjalan tanpa arah selama tiga jam. Kakinya membawa ia menuruni lereng Gunung Sunyi, melewati batu-batu yang masih hangat oleh api dari langit. Asap tipis masih mengepul dari reruntuhan rumah-rumah yang ia kenal seumur hidup. Wangi daging terbakar bercampur dengan aroma tanah basah-campuran yang akan menghantuinya selamanya.

Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis sejak ia menemukan tubuh ibunya tergeletak di depan tungku, tangan masih memeluk erat tubuh adiknya yang lebih kecil. Tidak ada lagi air mata yang tersisa di tubuhnya. Yang tersisa hanya sesuatu yang lebih dingin dari salju puncak gunung.

Di dadanya, di bawah tulang rusuk ketiga, sesuatu berdenyut. Bukan jantung. Jantungnya berdetak normal-terlalu normal, terlalu tenang untuk seseorang yang baru kehilangan segalanya. Yang berdenyut itu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang selalu ada di sana, sejak ia lahir, tapi baru sekarang ia sadari keberadaannya.

Fragmen Langit.

Kata-kata itu muncul di benaknya tanpa ia tahu dari mana. Terukir di dinding reruntuhan kuil kecil desa-kuil yang ia dan Xiao Ling sering lewati saat bermain. Kuil yang kini tinggal puing-puing. Tapi ukiran itu masih ada, terpahat di batu yang tidak hancur oleh api dari langit.

Hun Ta berhenti. Ia menoleh ke belakang, menatap desa yang telah menjadi lautan abu dan tulang. Sesuatu di dalam dirinya-bukan Fragmen, tapi sesuatu yang lebih tua, lebih dalam-berbisik bahwa ia seharusnya tidak pergi. Tidak seperti ini. Ada sesuatu yang tertinggal.

Bodoh, batinnya. Kau melihat mereka semua mati. Tidak ada yang tertinggal.

Ia hampir berbalik untuk melanjutkan perjalanan ketika ia merasakannya.

Sebuah tarikan. Halus, seperti benang yang diikatkan pada tulangnya, menariknya kembali ke arah desa. Bukan ke rumahnya. Bukan ke kuil. Tapi ke suatu titik di sebelah barat-ke arah sumur tua tempat penduduk desa mengambil air.

Sumur.

Hun Ta mengerutkan kening. Sumur itu tidak istimewa. Hanya lubang batu sedalam sepuluh meter, digali oleh kakek buyutnya, tempat semua anak desa belajar menimba air. Tidak ada yang tersembunyi di sana. Tidak ada yang-

Desir.

Angin malam tiba-tiba berhenti. Udara di sekelilingnya menjadi berat, padat, seperti air terjun yang membeku di tengah udara. Hun Ta merasakan rambut di lehernya berdiri. Fragmen di dadanya berdenyut lebih keras, lebih cepat, seperti burung yang mencoba keluar dari sangkarnya.

Dan kemudian ia mendengar suara itu.

Bukan suara manusia. Bukan suara angin. Suara seperti batu menggesek batu, dalam dan bergema, datang dari bawah tanah. Dari arah sumur.

'...akhirnya...'

Hun Ta menegang. Suara itu tidak datang dari luar. Suara itu datang dari dalam kepalanya. Tidak, dari dalam tulangnya. Dari sesuatu yang telah lama tidur di sana.

'...akhirnya kau kembali, anak Kaisar Langit Ke-9...'

Hun Ta tidak bergerak. Napasnya terhenti. Pikirannya berputar liar, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.

Kaisar Langit Ke-9. Ayahnya. Petani yang mengajarinya membajak sawah, memanah rusa, mengasah anak panah dengan batu asahan warisan. Ayahnya yang meninggal saat ia berumur dua belas tahun, karena demam biasa-demam yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib desa.

Bukan demam, bisik suara itu. Segel. Aku yang menyegelnya. Aku yang menyelamatkannya dari Wei Qianjin.

Hun Ta terjatuh ke tanah. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin, tapi karena sesuatu di dalam dirinya mengambil alih. Fragmen di dadanya menyala, memancarkan cahaya biru keunguan yang tembus melalui kulit dan bajunya. Cahaya yang sama dengan warna langit malam itu.

'SIAPA KAU?!' teriaknya ke udara kosong. Suaranya pecah, serak, bukan suara yang ia kenal sebagai miliknya sendiri.

Bukan siapa-siapa, jawab suara itu, dan kali ini ada nada getir di dalamnya. Hanya sisa kesadaran seorang tua yang terlalu banyak melihat langit runtuh. Aku meninggalkan segel ini untukmu, anakku. Segel di bawah sumur. Di bawah tempat kau bermain saat kecil.

Hun Ta mendorong tubuhnya berdiri. Kakinya lemah, tapi tekadnya membaja. Ia berjalan menuju sumur-sumur yang kini tampak berbeda di matanya. Batu-batu di tepinya masih sama, masih berlumut, masih retak di sisi utara tempat ia pernah terjatuh saat berumur enam tahun. Tapi sekarang ia melihatnya.

Ukiran. Di batu dasar sumur, tersembunyi di bawah lumut dan kotoran bertahun-tahun, ada pola rumit yang tidak pernah ia perhatikan. Pola yang sama dengan ukiran di kuil. Pola yang sama dengan yang kini menyala di dadanya.

Turun, bisik suara itu. Kau tidak akan jatuh. Aku menjagamu.

Hun Ta menelan ludah. Ia menatap ke dalam sumur-lubang gelap yang menelan semua cahaya. Tidak ada tangga. Tidak ada tali. Hanya kegelapan.

Dan di kedalaman kegelapan itu, sesuatu menunggu.

Ia melompat.

Angin menderu melewati telinganya. Tubuhnya jatuh bebas, lebih cepat dari yang seharusnya, melewati batas dasar sumur yang ia ketahui. Sepuluh meter. Dua puluh. Lima puluh. Ia terus jatuh, melewati lapisan batu, melewati akar-akar yang menjalar seperti ular raksasa, melewati sesuatu yang bukan tanah. Cahaya biru dari dadanya menerangi dinding-dinding yang kini tidak lagi batu. Dinding logam. Dinding yang berdenyut seperti daging hidup. Di setiap sisi, ukiran bergerak, berputar, membentuk wajah-wajah yang menjerit tanpa suara.

Ini bukan sumur, pikir Hun Ta. Ini penjara.

Ia mendarat. Kakinya menyentuh lantai yang dingin dan keras, berkilau seperti kaca hitam. Ruangan itu luas-jauh lebih luas dari desanya sendiri. Di tengah ruangan, sebuah platform batu menjulang, dikelilingi oleh rantai cahaya yang mengambang di udara. Dan di atas platform itu, terbaring, adalah seseorang.

Hun Ta mendekat dengan langkah gontai. Jantungnya berdebar keras di tenggorokan. Ia sudah tahu siapa yang akan ia lihat-tapi ia tidak siap.

Ayahnya.

Tubuh yang ia kenal-tubuh yang ia kubur dengan tangannya sendiri tujuh tahun lalu-terbaring di atas platform, utuh, tidak membusuk. Wajahnya tenang, seperti sedang tidur. Tapi ada sesuatu yang salah. Di dadanya, tepat di tempat yang sama dengan tempat Fragmen Hun Ta berdenyut, ada lubang. Lubang sebesar kepalan tangan, menganga, kosong.

Dan di sekitar lubang itu, terukir kata-kata dengan cahaya keemasan yang berdenyut lemah, seperti jantung yang sekarat.

Hun Ta membaca kata-kata itu.

'Jangan biarkan anak kita tahu.'

'Langit yang runtuh malam ini adalah langit yang aku tinggalkan.'

'Aku bukan petani.'

'Aku adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit yang melarikan diri.'

Hun Ta jatuh berlutut. Tangannya menyentuh tepi platform, dan seketika itu, cahaya keemasan dari ukiran itu menjalar ke jari-jarinya, ke lengannya, ke dadanya-dan ia melihat.

Bukan penglihatan. Bukan mimpi. Kenangan.

Seorang pria berdiri di atas pilar langit, mahkota awan mengambang di atas kepalanya. Wajahnya adalah wajah ayahnya-lebih muda, lebih keras, mata keemasan yang sama dengan Wei Qianjin. Ia berdiri di antara delapan sosok lain, semuanya berwajah dingin, semuanya memakai mahkota awan.

'Pilar Ke-9 runtuh,' kata seseorang. Suara Wei Qianjin. 'Kaisar Langit Ke-9 telah melarikan diri. Ia membawa separuh Fragmen Langit Kuno.'

'Cari dia,' perintah suara lain. 'Bawa kembali fragmen itu. Bunuh siapa pun yang menghalangi.'

Dan kemudian-kekacauan. Langit terbelah. Pilar-pilar runtuh. Sembilan sosok bertarung di antara awan yang berdarah. Ayahnya-Kaisar Langit Ke-9-berlari, terluka, separuh jiwanya terlepas dari tubuhnya. Ia turun ke Alam Bawah, menyembunyikan sisa kekuatannya, menyegel separuh kesadarannya di bawah sumur desa yang belum bernama.

Dan di pelukannya, seorang bayi.

Hun Ta.

Penglihatan itu berakhir. Hun Ta terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dan air mata yang entah kapan mulai mengalir. Ia menatap wajah ayahnya-wajah yang kini ia tahu adalah wajah seorang dewa yang jatuh.

'Kau... menyegel dirimu sendiri,' bisik Hun Ta. Suaranya pecah. 'Untuk menyembunyikanku. Untuk melindungiku dari mereka.'

Ya, jawab suara itu-suara ayahnya, dari suatu tempat di dalam platform, di dalam sisa kesadaran yang tersegel. Dan sekarang mereka tahu kau ada. Wei Qianjin merasakan fragmen itu malam ini. Ia akan datang lagi. Lebih banyak. Lebih kuat.

Hun Ta mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, meneteskan darah ke lantai kaca hitam. Darah itu mengalir, membentuk pola, dan tiba-tiba-

'Kak Hun Ta?'

Suara itu. Kecil. Lemah. Bergetar.

Hun Ta berputar. Di ambang pintu ruang bawah tanah-pintu yang tidak ia sadari ada-berdiri sesosok tubuh kecil. Rambut dikuncir dua, kusut, berdebu. Mata besar yang basah oleh air mata. Tangan kecil yang menggenggam belati kayu.

Xiao Ling.

'Ling...?' Hun Ta tidak percaya. Ia tidak berani percaya. 'Kau... bagaimana...'

'Ling sembunyi di sumur,' bisik Xiao Ling. Air matanya jatuh satu per satu, meninggalkan jejak di pipi kotornya. 'Ling janji nggak keluar. Tapi... tapi Ling dengar suara Kak Hun Ta. Dari bawah. Jadi Ling ikut turun.'

Ia menatap platform batu, menatap tubuh yang terbaring di atasnya. Matanya membelalak.

'Itu... itu ayah?'

Hun Ta tidak menjawab. Ia melangkah menuju Xiao Ling, berlutut di depannya, dan meraih tubuh kecil itu dalam pelukan. Xiao Ling menangis-menangis keras, menangis seperti anak kecil yang baru menyadari bahwa dunianya telah hancur. Dan Hun Ta membiarkannya. Ia tidak mengatakan apa pun. Tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan. Tidak ada janji yang bisa ia berikan.

Tapi di dalam pelukannya, di dalam dadanya yang berdenyut oleh Fragmen Langit, sesuatu berubah. Bukan kemarahan. Bukan dendam. Bukan itu.

Tanggung jawab.

Ia menatap ayahnya-Kaisar Langit Ke-9 yang mengorbankan segalanya untuk melindunginya. Ia menatap Xiao Ling-anak yang kehilangan segalanya, tapi masih hidup, masih bernapas, masih menggenggam belati kayu yang ia berikan.

Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.

'Ling,' katanya pelan. 'Kita akan pergi dari sini.'

Xiao Ling mendongak, mata besarnya merah dan bengkak. 'Ke mana?'

Hun Ta menatap ke atas-ke arah langit yang tidak bisa ia lihat, tapi yang ia rasakan menekan dari atas, dingin dan kejam. Langit yang telah meruntuhkan dunianya. Langit yang menyembunyikan delapan dewa yang menginginkan kematiannya.

'Ke tempat di mana kita bisa menjadi kuat,' jawabnya. 'Ke tempat di mana langit tidak bisa menjangkau kita.'

Belum, bisik suara ayahnya. Kau belum siap. Fragmen itu belum matang. Kau harus menemukan Pedang dari Langit yang Runtuh. Su Luo. Hanya dia yang bisa mengajarimu menggunakan fragmen itu tanpa membunuhmu.

Hun Ta mengangguk. Ia tidak tahu siapa Su Luo. Ia tidak tahu di mana harus mencari. Tapi ia tahu satu hal: ia akan menemukannya. Ia akan menjadi kuat. Ia akan naik ke Alam Atas. Dan ia akan membuat mereka-semua dari mereka-merasakan apa yang ia rasakan malam ini.

Ia berdiri, menggendong Xiao Ling di punggungnya. Anak itu terlalu lelah untuk berjalan. Sebelum ia melangkah pergi, ia menatap ayahnya untuk terakhir kalinya.

'Ayah,' katanya pelan, suaranya mantap. 'Aku akan kembali. Setelah semuanya selesai. Aku janji.'

Platform batu itu berdenyut pelan. Ukiran keemasan di sekitar lubang di dada ayahnya berkedip-sekali, dua kali-seperti anggukan. Seperti restu.

Hun Ta berjalan menuju pintu yang tidak ia sadari ada sebelumnya-pintu yang kini terbuka, memperlihatkan lorong panjang yang mendaki ke atas. Tapi sebelum ia melangkah melewatinya, sesuatu menarik perhatiannya.

Di dinding di samping pintu, terukir kalimat lain. Bukan kalimat ayahnya. Kalimat yang lebih tua, lebih gelap, tertulis dengan goresan kasar seperti cakar.

'Ketika sembilan menjadi satu, langit akan runtuh.

Ketika yang runtuh bangkit kembali, langit akan meruntuhkan.

Ketika Pewaris Langit Kuno naik ke pilar terakhir,

Tidak ada langit yang tersisa untuk diruntuhkan.'

Hun Ta membaca kalimat itu tiga kali. Lalu ia melangkah melewati pintu, membawa Xiao Ling di punggungnya, meninggalkan makam ayahnya di bawah tanah.

Di belakangnya, di dalam ruang bawah tanah yang kini sunyi, sesuatu bergerak. Rantai cahaya yang mengambang di sekitar platform mulai bergetar. Ukiran keemasan di dada ayahnya berdenyut lebih cepat-tidak seperti restu, tapi seperti peringatan.

Dan jauh di atas, di Alam Atas, di Pilar Selatan, Wei Qianjin membuka matanya.

Ia tersenyum.

'Ketemu.'

CATATAN PENULIS (Plot Twist untuk Bab 3): Di luar reruntuhan desa, Hun Ta bertemu dengan sosok berjubah putih berambut perak yang telah menunggu sejak malam pembantaian-Su Luo. Namun Su Luo bukan datang untuk menolong. Ia datang untuk mengambil Fragmen Langit dari tubuh Hun Ta dengan paksa, karena ia percaya fragmen itu terlalu berbahaya bagi manusia biasa. Pertarungan pertama Hun Ta-bukan melawan dewa, tapi melawan satu-satunya orang yang bisa mengajarinya bertahan hidup-dan ia kalah dalam satu serangan. Tapi tepat saat Su Luo hendak mencabut fragmen itu, tubuh Hun Ta bereaksi: Fragmen Langit Kuno memancarkan kekuatan yang bahkan Su Luo tidak bisa menahan-dan untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, Pedang dari Langit yang Runtuh jatuh berlutut, bukan karena dipaksa, tapi karena terkejut: kekuatan itu identik dengan kekuatan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang ia kira telah mati. Ayah Hun Ta. Su Luo kemudian menyadari bahwa Hun Ta bukan sekadar 'Pewaris Langit Kuno'-ia adalah anak dari orang yang mengkhianatinya seratus tahun lalu.

~ Bab 2 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai