Ambient:
Font:
Ukuran:
18px

SEBELUM LANGIT MERUNTUH

Bab 1

Langit yang Terbelah

Pena: @aikasaja • Drafted with AI Co-Writer

Dengar Audio Novel

Gunakan Google/Browser TTS untuk membacakan novel ini secara lisan.

Kecepatan

Malam itu, langit di atas Desa Yanhe berwarna biru keunguan yang aneh.

Hun Ta menyadarinya saat ia duduk di beranda rumahnya, mengasah sebilah anak panah dengan batu asah warisan ayahnya. Udara malam biasanya sejuk di kaki Gunung Sunyi-cukup dingin untuk membuat embun menempel di dedaunan, tapi tidak cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Malam ini berbeda. Udara terasa... berat. Seperti ada sesuatu yang tak terlihat menekan dari atas, membuat dada sesak dan telinga berdenging halus.

"Kak?"

Hun Ta menoleh. Xiao Ling berdiri di ambang pintu, rambutnya yang dikuncir dua sedikit acak-acakan karena baru bangun. Gadis sepuluh tahun itu menggosok matanya dengan punggung tangan, tangannya yang satu lagi masih menggenggam belati kayu yang selalu ia bawa ke mana-mana-hadiah ulang tahun dari Hun Ta tiga tahun lalu.

"Kenapa belum tidur?" tanya Hun Ta lembut.

"Ling nggak bisa tidur." Xiao Ling berjalan menghampirinya, lalu duduk di samping kakaknya, menyandarkan kepala ke lengan Hun Ta. "Langitnya aneh. Ling mimpi buruk."

Hun Ta menahan diri untuk tidak menegang. Adiknya memang sering mimpi buruk sejak kecil-tapi biasanya mimpinya hanya tentang ular atau kegelapan. Bukan tentang langit.

"Langit cuma sedang mendung," kata Hun Ta sambil mengusap rambut Xiao Ling. "Besok pagi pasti cerah lagi. Ayo, kembali tidur. Ibu akan marah kalau kau bangun kesiangan."

"Kak Hun Ta nggak tidur?"

"Aku menyelesaikan ini dulu." Hun Ta mengangkat anak panah yang diasahnya. "Besok aku mau berburu ke lereng utara. Kata Pak Tua Zhou, ada rusa yang turun dari gunung."

Xiao Ling mengangguk, tapi belum beranjak. Matanya yang besar menatap langit di atas mereka-langit yang berwarna aneh itu-dengan ekspresi yang terlalu serius untuk anak seusianya.

"Kak... kalau suatu hari langit benar-benar runtuh, kita bakal baik-baik aja, kan?"

Hun Ta terdiam sejenak. Entah kenapa, pertanyaan itu mengirimkan hawa dingin yang menjalar dari tengkuknya hingga ke tulang ekor. Ia menatap adiknya, lalu tersenyum tipis-senyum yang ia paksakan agar tidak terlihat gelisah.

"Selama aku masih bisa mengangkat pedang, langit tidak akan menyentuhmu," katanya. "Sekarang tidur. Besok aku akan mengajarimu memanah."

Wajah Xiao Ling langsung berseri-seri. Ia melompat berdiri, mencium pipi kakaknya dengan cepat, lalu berlari kembali ke dalam rumah sambil berbisik lantang, "Janji ya, Kak!"

Hun Ta menatap punggung adiknya sampai menghilang di balik pintu. Senyumnya perlahan memudar.

Ia menoleh lagi ke langit. Di kejauhan, di atas puncak Gunung Sunyi, awan-awan bergerak aneh. Mereka tidak ditiup angin-mereka berkumpul. Berputar perlahan seperti pusaran air raksasa yang tak terlihat.

Dan di tengah pusaran itu, langit tampak... retak.

Garis-garis tipis berwarna perak, seperti urat kaca yang hendak pecah, mulai terlihat samar-samar di antara bintang-bintang.

Hun Ta mengepalkan tangannya.

"Orang biasa sebaiknya tidak menyentuh urusan langit."

Kalimat almarhum ayahnya bergema di kepalanya. Kalimat yang sudah ia dengar ribuan kali sejak kecil, kalimat yang selalu diucapkan ayahnya dengan nada berat setiap kali ada kultivator melintas di desa mereka-entah itu sekte yang lewat mencari murid berbakat, atau pedagang yang membawa barang-barang ajaib dari kota.

Hun Ta selalu menuruti prinsip itu. Meski bakatnya-yang bahkan tidak pernah ia pahami sepenuhnya-terasa berdenyut di dalam dirinya setiap kali ada kultivator mendekat. Meski tiga sekte berbeda pernah menawarinya berguru, dan tiga kali pula ia menolak dengan sopan.

Ia memilih tinggal di desa kecil ini, bertani di siang hari, berburu di sore hari, dan mendengarkan tawa ibunya saat memasak makan malam.

Karena ayahnya benar. Orang biasa tidak seharusnya menyentuh urusan langit.

Tapi malam itu, langit yang menyentuh desanya.

Pertama, cahaya itu.

Sinar putih menyilaukan-lebih terang dari matahari, lebih dingin dari bulan-turun dari langit seperti tombak raksasa yang menghunjam bumi.

Hun Ta merasakan hawa panas yang aneh, bukan panas api, tapi panas yang membakar dari dalam tulang.

Rumah mereka bergetar. Jendela-jendela pecah. Xiao Ling menjerit dari dalam.

"Ling!"

Hun Ta melompat berdiri, berlari ke dalam rumah. Ibunya sudah berdiri di tengah ruangan, memeluk Xiao Ling yang menangis ketakutan. Wajah ibunya pucat, tapi matanya-mata yang sama dengan mata Hun Ta, gelap dan dalam-tetap tenang.

"Ta," katanya, suaranya tenang meski tubuhnya gemetar. "Bawa adikmu. Ke sumur. Sekarang."

"Ibu, apa yang-"

"SEKARANG, Ta!"

Hun Ta tidak pernah mendengar ibunya berteriak seperti itu. Ia tidak pernah mendengar suara ibunya pecah seperti itu-penuh ketakutan yang ia coba sembunyikan, penuh cinta yang ia coba lindungi.

Hun Ta meraih Xiao Ling, menggendongnya. Adiknya menangis, memukul-mukul punggungnya, memanggil-manggil ibunya.

Tapi Hun Ta berlari. Keluar dari rumah, menembus halaman, menuju sumur batu tua di belakang rumah-sumur yang sudah tidak dipakai sejak ayahnya meninggal, tapi masih cukup lebar untuk menyembunyikan seorang anak.

"Kak! Kak, Ibu! IBU!"

"Ling, dengar." Hun Ta menurunkan adiknya ke dalam sumur, tangannya gemetar. "Kau sembunyi di sini. Jangan keluar. Jangan bersuara. Apa pun yang kau dengar... jangan keluar."

"Kak-"

"JANJI, Ling!"

Xiao Ling menatapnya. Mata besar itu-mata yang selalu penuh semangat, mata yang selalu tersenyum-kini penuh air mata dan ketakutan.

Tapi ia mengangguk. Pelan. Tubuhnya gemetar hebat.

Hun Ta menutup mulut sumur dengan papan kayu, lalu berlari kembali ke rumah.

Ia tidak sampai ke rumah.

Langit benar-benar terbelah.

Sebuah celah panjang-seperti luka yang menganga di tubuh langit-terbuka dari ujung cakrawala ke ujung lainnya. Dan dari celah itu, sesuatu turun.

Sosok itu tinggi. Terlalu tinggi untuk manusia. Tubuhnya terbungkus jubah putih yang mengalir seperti air, bermandikan cahaya yang membuat Hun Ta harus menyipitkan mata. Wajahnya-jika bisa disebut wajah-tampak seperti ukiran batu yang sempurna, tanpa ekspresi, tanpa emosi.

Matanya berwarna emas, dan saat ia menatap ke bawah-ke desa kecil di kaki gunung itu-Hun Ta merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk dari ketakutan.

Ia merasakan ketiadaan. Seperti dirinya bukan apa-apa. Seperti nyawanya tidak berarti.

Sosok itu mengangkat tangannya.

"Fragmen Langit," suaranya bergema di kepala Hun Ta, bukan melalui telinga, tapi langsung ke dalam pikiran. "Kembalikan apa yang bukan milikmu."

Hun Ta tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti.

Tapi desa itu-desa yang damai, desa yang hanya ingin hidup tenang-mulai hancur.

Cahaya itu menyapu rumah-rumah. Bukan api, bukan ledakan-hanya cahaya yang menyentuh, dan apa pun yang disentuhnya... lenyap. Bukan terbakar. Bukan hancur. Lenyap. Seperti tidak pernah ada.

Hun Ta melihat Pak Tua Zhou-tetangga yang selalu tersenyum saat memberinya daging rusa-mengangkat tangannya, lalu lenyap.

Ia melihat keluarga Zhang-pasangan muda dengan bayi yang baru lahir-berlari, lalu lenyap.

Ia melihat semua orang yang ia kenal sepanjang hidupnya, satu per satu, lenyap.

Dan di tengah kekacauan itu, suara ibunya terdengar.

"TA!"

Hun Ta menoleh. Ibunya berlari ke arahnya, tangannya terulur. Di belakangnya, cahaya itu menyapu rumah mereka-rumah tempat Hun Ta dilahirkan, rumah tempat ayahnya meninggal, rumah tempat Xiao Ling belajar berjalan.

"TA, LARI!"

Tapi Hun Ta tidak bisa berlari. Kakinya seperti akar yang menancap di tanah. Ia hanya bisa menatap ibunya-wanita yang selalu tersenyum, wanita yang selalu berkata bahwa yang terpenting adalah keluarga-berlari ke arahnya, tangannya terulur.

Lalu cahaya itu menyentuh ibunya.

Tubuh itu-tubuh yang hangat, tubuh yang selalu memeluknya, tubuh yang selalu wangi bunga melati-hancur. Bukan lenyap. Hancur. Menjadi serpihan-serpihan kecil yang tersebar di udara.

Tapi sebelum benar-benar hilang, ibu Hun Ta sempat menatapnya. Dan di mata itu-mata yang gelap dan dalam, mata yang sama dengan mata Hun Ta-ada sesuatu yang bukan ketakutan.

Ada sesuatu yang bukan permintaan maaf.

Ada sesuatu yang... harapan.

Lalu ibunya lenyap.

Hun Ta tidak ingat bagaimana ia bertahan.

Mungkin karena tubuhnya menyimpan sesuatu yang bahkan tidak ia sadari. Fragmen yang menyatu sejak ia lahir-fragmen yang membuat cahaya itu, cahaya yang menghapus segala sesuatu, tidak bisa menghapusnya.

Cahaya itu menyentuhnya, membakar lengan kirinya, meninggalkan bekas luka yang akan selalu mengingatkannya pada malam itu-tapi tidak menghancurkannya.

Sosok dari langit itu menatapnya. Mata emas itu menyipit, seperti sedang menilai sesuatu.

"Menarik," katanya. "Kau membawa fragmen. Tapi tidak menyadarinya." Suaranya dingin, tanpa emosi. "Kau berguna. Aku akan datang kembali saat fragmen itu matang."

Lalu ia menghilang. Celah di langit menutup. Warna biru keunguan memudar, berganti dengan hitam pekat malam yang normal-tapi langit yang normal tidak lagi terasa sama.

Hun Ta berdiri di tengah reruntuhan desanya. Rumah-rumah lenyap. Orang-orang lenyap. Yang tersisa hanya tanah kosong, abu, dan bau hangus yang menyengat.

Ia menatap langit. Langit yang sudah runtuh. Langit yang telah menghancurkan segalanya.

Dan sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang selama ini ia tekan, ia tahan, ia sembunyikan-mulai retak.

Ia ingin berteriak. Ia ingin menangis. Ia ingin menghancurkan langit itu dengan tangannya sendiri.

Tapi ia tidak bisa. Ia hanya manusia biasa. Manusia yang tidak bisa menyentuh urusan langit.

"Orang biasa sebaiknya tidak menyentuh urusan langit."

Kata-kata ayahnya terngiang di kepalanya. Kata-kata yang pernah ia pegang teguh. Kata-kata yang kini terasa seperti lelucon.

"Kalau begitu..." Hun Ta mengepalkan tangannya. Darah menetes dari lengan kirinya yang terbakar, tapi ia tidak merasakannya. "Kalau begitu aku tidak akan jadi orang biasa lagi."

Ia menatap langit, mata gelapnya yang dalam kini menyala dengan sesuatu yang bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Ada... tekad.

"Langit yang runtuh malam ini," bisiknya, suaranya serak, "akan runtuh lagi. Tapi kali ini... aku yang akan meruntuhkannya."

Dari dalam sumur, di bawah tumpukan papan kayu, Xiao Ling menggigil.

Ia mendengar semuanya. Jeritan. Cahaya. Kehancuran.

Tapi ia tidak keluar. Ia menepati janjinya.

Karena Xiao Ling selalu menepati janjinya pada kakaknya. Bahkan saat ia tidak tahu apakah kakaknya masih hidup. Bahkan saat ia tidak tahu apakah ia masih punya keluarga. Bahkan saat langit di atasnya-langit yang selalu ia lihat saat bermain dengan kakaknya-kini terasa asing, dingin, dan kejam.

Xiao Ling menekan belati kayunya ke dadanya, menahan tangis yang ingin meledak.

"Kak Hun Ta," bisiknya dalam gelap. "Ling nggak keluar. Ling janji."

Dan di atasnya, di permukaan bumi yang hancur, Hun Ta mulai berjalan.

Langkah pertama menuju langit. Langkah pertama menuju balas dendam. Langkah pertama menuju kehancuran-bukan kehancuran dirinya, tapi kehancuran langit yang telah mengambil segalanya.

CATATAN PENULIS (Plot Twist untuk Bab 2):

Saat Hun Ta meninggalkan reruntuhan desanya, ia tidak sadar bahwa di bawah tanah-tepat di bawah sumur tempat Xiao Ling bersembunyi-ada ruang tersembunyi berisi jasad ayahnya yang tidak pernah dikuburkan, dan di tubuh itu terukir pesan kuno: 'Jangan biarkan anak kita tahu. Langit yang runtuh malam ini adalah langit yang aku tinggalkan. Aku bukan petani. Aku adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit yang melarikan diri.'

Bersambung ke Bab 2: "Warisan dari Bawah Tanah"

Tanah di bawah kaki Hun Ta masih hangus. Bau terbakar bercampur dengan sesuatu yang lebih busuk-sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di abu yang dulunya adalah jalan desa tempat ia belajar berjalan. Ia tidak menoleh. Tidak berani.

Karena kalau ia menoleh, ia akan melihat sumur itu. Dan kalau ia melihat sumur itu, ia akan ingat bahwa Xiao Ling masih di bawah sana. Sendirian. Dalam gelap. Menunggu kakaknya yang mungkin tidak akan pernah kembali.

"Jangan keluar."

Bahkan sekarang, kata-kata itu terasa seperti belati yang ia tusukkan ke dada adiknya sendiri.

Hun Ta menggigit bibir sampai ia merasakan darah. Ia harus pergi. Ia harus mencari kekuatan. Ia harus-

Tubuhnya berhenti.

Bukan karena kehendaknya sendiri. Kakinya-kaki yang sudah membawanya berjalan sejak ia bangkit dari reruntuhan-tiba-tiba terasa seperti ditanam ke dalam bumi. Sebuah getaran halus menjalar dari telapak kakinya, merambat naik melalui tulang kering, lutut, pinggul. Getaran yang tidak berasal dari tanah yang hangus.

Denyut.

Sesuatu di bawah sana berdenyut. Seperti jantung. Seperti sesuatu yang hidup-atau sesuatu yang menunggu untuk hidup kembali.

Hun Ta menoleh ke belakang. Terlalu cepat. Lehernya nyeri, tapi ia tidak peduli.

Matanya menatap sumur tua itu. Sumur tempat ia menyembunyikan adiknya. Sumur yang sudah tidak dipakai sejak ayahnya meninggal-sumur yang, kata ibunya, sudah kering bahkan sebelum Hun Ta lahir.

Tapi sekarang, dari dalam kegelapan sumur itu, ia bisa melihat cahaya samar. Cahaya keemasan yang berdenyut pelan, teratur, seperti napas seseorang yang tertidur lelap.

'Kak?'

Suara Xiao Ling. Hun Ta menggeleng keras. Bukan. Bukan suara Xiao Ling. Suara itu-cahaya itu-berasal dari sesuatu yang lain. Dari bawah sumur. Dari bawah tanah di bawah sumur.

Dan tiba-tiba, Hun Ta teringat sesuatu.

Ayahnya.

Bukan kenangan tentang wajahnya-Hun Ta bahkan tidak bisa mengingat wajah ayahnya dengan jelas. Yang ia ingat hanya punggung lebar yang selalu membelakanginya, suara berat yang selalu berbicara tentang hal-hal yang tidak ia mengerti. Yang ia ingat adalah tangan ayahnya-tangan yang kasar karena bekerja di sawah, tangan yang selalu ia genggam saat mereka berjalan ke pasar desa. Tangan yang, entah kenapa, selalu terasa lebih hangat dari tangan manusia biasa.

Dan yang paling ia ingat-yang paling ia takutkan untuk diingat-adalah malam terakhir sebelum ayahnya "meninggal".

Hun Ta berumur delapan tahun saat itu. Ia terbangun di tengah malam karena mendengar suara ayahnya berbicara dengan seseorang. Bukan suara manusia-suara yang bergema di dalam kepalanya, seperti suara sosok dari langit malam ini. Ia mengintip dari balik pintu dan melihat ayahnya berdiri di tengah ruangan, tubuhnya bersinar samar dengan cahaya keemasan yang sama dengan yang sekarang berdenyut di bawah sumur.

Ayahnya berbicara dengan langit-langit. Dengan sesuatu di langit-langit.

"Aku sudah menyerahkan semuanya," kata ayahnya saat itu, suaranya berat, penuh sesuatu yang tidak bisa Hun Ta pahami. "Fragmennya. Semuanya. Biarkan mereka hidup."

Dan langit-langit rumah mereka menjawab. "Kau tahu konsekuensinya, Kaisar."

"Aku tahu."

Keesokan paginya, ayahnya ditemukan tergeletak di sawah. Mati. Jantungnya berhenti. Kata orang-orang, ia terkena serangan jantung. Kata ibunya, ia sudah sakit sejak lama. Tapi Hun Ta-anak delapan tahun yang mengintip dari balik pintu-tahu bahwa ayahnya tidak mati karena sakit. Ayahnya mati karena sesuatu.

Dan sekarang, sesuatu di bawah sumur itu berdenyut dengan cahaya yang sama.

Hun Ta mengangkat tangannya. Lengan kirinya-lengan yang terbakar oleh cahaya sosok dari langit-berdenyut pelan, selaras dengan denyut dari bawah sumur. Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkannya dengan sesuatu di bawah sana. Sesuatu yang memanggilnya.

"Ta."

Suara ayahnya. Jelas. Bukan dalam ingatan. Bukan dalam mimpi. Suara itu datang dari bawah tanah, dari bawah sumur, dari tempat yang bahkan tidak seharusnya ada.

Hun Ta menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia tahu ia seharusnya pergi. Ia tahu ia seharusnya tidak menoleh ke belakang, tidak menggali masa lalu, tidak membuka pintu yang bahkan ayahnya sendiri berusaha tutup. Tapi kakinya-kaki yang tadi seperti ditanam-kini bergerak sendiri. Menuju sumur. Menuju cahaya.

"Ta. Kau harus tahu."

Sumur itu lebih dalam dari yang Hun Ta ingat.

Ia menurunkan dirinya perlahan, kaki menapaki dinding batu yang licin dan dingin. Di bawahnya, cahaya keemasan itu semakin terang-bukan menyilaukan, tapi hangat. Hangat seperti tangan yang pernah menggenggamnya saat kecil.

Di dasar sumur, ia tidak menemukan air. Ia menemukan tangga batu yang tidak seharusnya ada di sana. Tangga yang turun lebih dalam lagi, ke dalam kegelapan yang bahkan cahaya keemasan itu tidak bisa menembus sepenuhnya.

Hun Ta mengikuti tangga itu.

Setiap langkah terasa seperti memasuki dunia lain. Udara di bawah sana berbeda-lebih tua, lebih berat, seperti menghirup napas dari sesuatu yang sudah ada sejak sebelum langit dan bumi ada. Di dinding-dinding lorong sempit itu, ukiran-ukiran kuno terpampang. Bukan ukiran manusia. Ukiran yang menggambarkan sosok-sosok tinggi dengan jubah mengalir, bermandikan cahaya, berdiri di atas awan-awan yang terbelah.

Sembilan sosok.

Dan di antara mereka, di tengah-tengah, ada satu sosok yang wajahnya sengaja dihancurkan-dipahat dengan kasar, seolah seseorang ingin melupakannya. Tapi tangan di ukiran itu-tangan yang tergenggam erat di atas dada-Hun Ta mengenalnya. Tangan yang kasar karena bekerja di sawah. Tangan yang selalu ia genggam saat mereka berjalan ke pasar desa.

Tangan ayahnya.

"Ta."

Suara itu lagi. Kali ini lebih dekat. Lebih jelas. Hun Ta mempercepat langkahnya, menembus lorong terakhir, dan-

Ia berhenti.

Ruangan itu kecil. Tidak lebih besar dari kamar tidurnya di desa. Di tengahnya, ada sebuah altar batu sederhana-bukan altar mewah, bukan altar istana. Altar yang dibuat oleh tangan yang terbiasa bekerja di tanah. Di atas altar itu, terbaring sesosok tubuh.

Tubuh itu tidak membusuk. Tidak mengering. Tidak membatu. Tubuh itu hanya... tidur. Dada yang luas, naik-turun perlahan dengan napas yang teratur. Tangan yang kasar karena bekerja di sawah, terlipat tenang di atas perut. Wajah yang Hun Ta kenali meski ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Ayahnya.

Masih hidup.

Atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai hidup.

Hun Ta jatuh ke lantai. Lututnya menghantam batu, tapi ia tidak merasakan sakit. Matanya tidak bisa lepas dari tubuh itu-tubuh yang ia kuburkan delapan tahun lalu, tubuh yang ia lihat diturunkan ke dalam liang lahat, tubuh yang ia tangisi sampai suaranya habis.

"Kau tidak menguburku, Ta."

Suara itu keluar dari bibir ayahnya. Tapi bibir itu tidak bergerak. Mata itu tetap tertutup. Suara itu bergema langsung di dalam kepala Hun Ta, seperti suara sosok dari langit malam ini.

"Kau mengubur boneka. Aku membuatnya sendiri. Untuk melindungi kalian."

Hun Ta membuka mulutnya. Tidak ada suara yang keluar. Hanya napas yang tersengal-sengal, dan detak jantung yang terlalu cepat.

"Aku tidak mati. Aku hanya... berhenti. Untuk sementara."

"Ayah..." Akhirnya suara itu keluar. Pecah. Seperti anak kecil yang tersesat.

Dan di atas altar batu itu, tubuh ayahnya-tubuh yang tersenyum tipis meski matanya tetap tertutup-membuka mulutnya. Kali ini, suara itu keluar dari bibir yang bergerak. Suara yang berat, hangat, penuh cinta yang ia coba sembunyikan.

"Maafkan aku, Ta. Aku bukan petani."

"Aku adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit."

"Dan langit yang runtuh malam ini... adalah langit yang aku tinggalkan."

Hun Ta menatap ayahnya. Matanya kering. Tidak ada air mata yang tersisa-ia sudah menangis terlalu banyak malam ini. Yang tersisa hanya kekosongan, dan sesuatu yang perlahan-lahan mengeras di dalam dadanya.

"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kau tinggalkan kami? Kenapa kau sembunyikan ini? Kenapa kau biarkan Ibu-"

Suaranya pecah. Ia tidak bisa menyelesaikan kalimat itu.

Ayahnya menghela napas. Napas yang panjang, napas yang lelah. "Karena aku tahu mereka akan datang. Aku tahu langit tidak akan membiarkan fragmen itu hilang. Dan aku tahu..." Ia berhenti. Matanya-masih tertutup-seperti melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat. "Aku tahu mereka akan membunuh kalian jika aku tetap di sana."

"Tapi mereka tetap membunuh Ibu!" Hun Ta tidak sadar ia sudah berteriak. Suaranya memantul di dinding batu, keras, pecah, penuh luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.

Ayahnya terdiam. Untuk waktu yang lama. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, ia berkata:

"Aku tahu."

"Dan aku akan membayarnya."

Hun Ta mengangkat kepalanya. Matanya yang gelap dan dalam-mata yang sama dengan mata ibunya-menatap tubuh yang terbaring di altar. "Apa maksudmu?"

Ayahnya membuka matanya.

Mata itu-mata yang sama dengan mata Hun Ta, gelap, dalam-berwarna emas. Bersinar dengan cahaya yang sama dengan cahaya sosok dari langit malam ini. Tapi tidak dingin. Tidak kejam. Mata itu hangat. Mata itu... menangis.

"Aku akan memberimu warisanku, Ta."

"Aku akan memberimu kekuatan untuk membalas dendam pada langit."

"Tapi kau harus tahu sesuatu."

Ayahnya menatapnya lurus. Mata emas itu menembus sesuatu di dalam diri Hun Ta-sesuatu yang berdenyut di lengan kirinya, sesuatu yang berdenyut di dadanya, sesuatu yang berdenyut di dirinya.

"Kau bukan manusia biasa, Ta."

"Kau adalah anak dari Kaisar Langit."

"Dan fragmen yang ada di dalam dirimu-fragmen yang membuat cahaya itu tidak bisa menghapusmu-adalah fragmen yang paling berbahaya dari semuanya."

"Fragmen Langit yang Jatuh."

Hun Ta menatap ayahnya. Dunia di sekelilingnya-ruangan batu itu, altar, tubuh yang terbaring-semuanya terasa jauh. Yang tersisa hanya suara ayahnya, dan denyut di dalam dirinya yang semakin kuat, semakin cepat, semakin panas.

"Apa artinya semua ini?" bisiknya.

Ayahnya tersenyum. Senyum yang sedih. Senyum yang penuh sesuatu yang tidak bisa Hun Ta pahami. "Artinya, Ta..."

"Kau adalah alasan mereka datang malam ini."

"Dan kau adalah alasan mereka akan datang lagi."

Di atas mereka, di permukaan bumi yang hancur, langit mulai berubah lagi. Awan-awan berkumpul. Berputar. Celah di langit-celah yang tadi menutup-mulai terbuka kembali.

Dan dari dalam celah itu, sosok dengan mata emas yang dingin menatap ke bawah. Ia tidak tersenyum. Ia tidak marah. Ia hanya... menunggu.

"Fragmen itu matang lebih cepat dari yang kuduga," bisiknya. "Menarik."

Lalu ia menghilang lagi.

Di dasar sumur, di dalam ruangan batu yang tersembunyi dari dunia, Hun Ta mengepalkan tangannya. Darah menetes dari lengan kirinya yang masih berdenyut-tapi kali ini, darah itu tidak berwarna merah. Darah itu berwarna emas.

"Ayah," katanya, suaranya mantap meski tubuhnya gemetar. "Ajari aku."

Ayahnya menatapnya. Mata emas itu berkedip. "Kau yakin?"

Hun Ta mengangguk. Satu anggukan. Satu anggukan yang berisi seluruh tekad yang ia kumpulkan dari abu desanya, dari tubuh ibunya yang hancur, dari suara Xiao Ling yang memanggil-manggil namanya dari dalam sumur.

"Aku akan menghancurkan langit," katanya. "Aku akan menghancurkan siapa pun yang berdiri di jalanku. Aku akan menghancurkan... diriku sendiri jika perlu."

"Tapi aku tidak akan biarkan mereka menyentuh Xiao Ling."

Ayahnya menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia tersenyum-senyum pertama yang Hun Ta lihat dari wajahnya sejak malam itu. Senyum yang hangat. Senyum yang, entah kenapa, membuat Hun Ta ingin menangis lagi.

"Bagus," katanya. "Kalau begitu..."

"Kau harus tahu bahwa warisanku bukan sekadar kekuatan."

"Warisan dari bawah tanah ini adalah kebenaran."

"Dan kebenaran itu-kebenaran tentang siapa dirimu, tentang apa yang terjadi malam ini, tentang mengapa langit runtuh-"

Ayahnya menatapnya lurus. Mata emas itu kini menyala terang, menerangi seluruh ruangan, menerangi ukiran-ukiran kuno di dinding, menerangi sembilan sosok yang berdiri di atas awan-awan terbelah.

"-adalah kebenaran yang akan menghancurkanmu jika kau tidak siap."

"Apakah kau siap, Hun Ta?"

Hun Ta menatap ayahnya. Menatap altar batu yang menjadi tempat tidur ayahnya selama delapan tahun. Menatap ukiran-ukiran yang menceritakan sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti. Menatap tangannya sendiri-tangan yang kasar karena bekerja di sawah, tangan yang selalu ia genggam saat mereka berjalan ke pasar desa.

Tangan yang kini meneteskan darah emas.

"Aku siap," katanya.

Dan di atas mereka, di permukaan bumi yang hancur, langit yang terbelah kembali menutup.

Untuk sekarang.

CATATAN PENULIS (Plot Twist untuk Bab 3):

Hun Ta tidak sadar bahwa saat ayahnya menatapnya dengan mata emas itu, ayahnya tidak sepenuhnya mengatakannya kebenaran. Fragmen Langit yang Jatuh di dalam diri Hun Ta bukan sesuatu yang diberikan ayahnya-melainkan sesuatu yang ditanamkan oleh sosok dari langit malam itu, sosok yang sama yang menghancurkan desanya. Ayah Hun Ta tidak melarikan diri dari Sembilan Kaisar Langit karena ia ingin melindungi keluarganya. Ayah Hun Ta melarikan diri karena ia mencuri fragmen itu-fragmen yang seharusnya menjadi milik sosok bermata emas-dan menanamkannya ke dalam tubuh anaknya yang baru lahir untuk menyembunyikannya. Malam ini, sosok bermata emas itu datang bukan untuk menghancurkan desa, melainkan untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Dan Hun Ta-Hun Ta yang tidak tahu apa-apa-adalah wadah yang menyimpan harta curian itu.

Bersambung ke Bab 3: "Kebenaran yang Menghancurkan"

Hun Ta tidak sadar bahwa saat ayahnya menatapnya dengan mata emas itu, ayahnya tidak sepenuhnya mengatakannya kebenaran. Fragmen Langit yang Jatuh di dalam diri Hun Ta bukan sesuatu yang diberikan ayahnya-melainkan sesuatu yang ditanamkan oleh sosok dari langit malam itu, sosok yang sama yang menghancurkan desanya. Ayah Hun Ta tidak melarikan diri dari Sembilan Kaisar Langit karena ia ingin melindungi keluarganya. Ayah Hun Ta melarikan diri karena ia mencuri fragmen itu-fragmen yang seharusnya menjadi milik sosok bermata emas-dan menanamkannya ke dalam tubuh anaknya yang baru lahir untuk menyembunyikannya. Malam ini, sosok bermata emas itu datang bukan untuk menghancurkan desa, melainkan untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Dan Hun Ta-Hun Ta yang tidak tahu apa-apa-adalah wadah yang menyimpan harta curian itu.

Tapi malam ini, di bawah reruntuhan Desa Yanhe, ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih tua dari langit.

Hun Ta berjalan selama tiga hari.

Tiga hari tanpa tidur. Tiga hari tanpa makanan. Tiga hari dengan lengan kiri yang melepuh dan berdarah, tapi tidak terasa sakit-atau mungkin rasa sakit itu sudah tenggelam oleh sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membakar dari dalam tulangnya seperti api yang tidak bisa padam.

Ia tidak tahu ke mana ia pergi. Ia hanya berjalan-menuruni lereng Gunung Sunyi, menembus hutan pinus yang lebat, melintasi sungai yang airnya dingin seperti es. Kakinya membawa tubuhnya ke arah barat, ke arah yang selalu ia hindari sejak kecil, ke arah yang ayahnya pernah katakan: "Jangan pernah ke sana, Ta. Di barat ada kota. Di kota ada manusia. Dan manusia... manusia tidak pernah membawa kebaikan bagi orang seperti kita."

Tapi ayahnya sudah mati. Dan desanya sudah lenyap. Dan yang tersisa hanyalah dirinya, lengan yang terbakar, dan tekad yang mengeras seperti baja.

Pada hari keempat, ia menemukan sebuah kuil.

Kuil itu tidak besar. Terletak di tepi jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar, atapnya melengkung seperti punggung kura-kura yang tertidur. Dindingnya terbuat dari kayu gelap yang sudah lapuk dimakan usia, dan di atas pintu masuknya terukir aksara kuno yang Hun Ta tidak bisa baca-tapi entah kenapa, matanya bisa mengenalinya. Huruf-huruf itu seperti berdenyut, seperti hidup, seperti memanggil sesuatu di dalam dirinya.

Hun Ta mendorong pintu kayu itu.

Berderit.

Di dalamnya, gelap. Hanya ada satu lilin yang menyala di sudut, menerangi patung batu setinggi dada manusia-sesosok pria tua dengan janggut panjang, matanya tertutup, tangannya memegang pedang yang terhunus ke bawah. Di depan patung itu, duduk seorang wanita.

Wanita itu tidak menoleh saat Hun Ta masuk. Ia hanya duduk bersila, punggungnya lurus, rambutnya yang putih panjang tergerai hingga ke lantai. Usianya sulit ditebak-mungkin lima puluh, mungkin seratus, mungkin lebih. Kulitnya keriput seperti kertas tua, tapi matanya yang terbuka-saat akhirnya ia menoleh-berwarna biru sebening kaca, dan di dalamnya ada sesuatu yang membuat Hun Ta merasa... kecil.

"Kau akhirnya datang," kata wanita itu. Suaranya serak, tapi tenang. Seperti suara air yang mengalir di bawah batu.

Hun Ta berhenti di ambang pintu. "Kau... menungguku?"

"Bukan aku." Wanita itu menunjuk ke patung batu. "Dia. Dia yang menunggumu. Sudah tiga belas tahun."

Hun Ta menatap patung itu. Pria tua dengan pedang terhunus. Wajahnya... wajahnya tidak asing. Tapi ia tidak tahu dari mana ia mengenalnya.

"Aku tidak mengerti," kata Hun Ta. Suaranya serak-suara orang yang belum bicara selama berhari-hari. "Siapa kau? Siapa dia? Dan kenapa-"

"Namaku Yue. Aku penjaga kuil ini." Wanita itu berdiri. Gerakannya lambat, seperti pohon tua yang ditiup angin. "Dan pria di patung itu... pria itu adalah ayahmu."

Dunia Hun Ta berhenti berputar.

"Ayahku... ayahku adalah petani," katanya pelan. "Ayahku meninggal saat aku berumur delapan tahun. Ayahku dimakamkan di belakang rumah kami. Aku melihat makamnya. Aku menaburkan bunga di atasnya setiap tahun. Ayahku-"

"Ayahmu bukan petani." Yue memotongnya, suaranya tegas tapi tidak kejam. "Ayahmu adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit. Kaisar Kedua-penjaga Gerbang Barat. Dan tiga belas tahun lalu, ia mencuri sesuatu dari Kaisar Pertama. Sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang kemudian ia tanamkan ke dalam tubuhmu."

Hun Ta mundur satu langkah. Dinding kayu di belakangnya terasa dingin, tapi tidak sedingin yang ia rasakan di dalam dadanya. "Kau... kau bohong."

"Apakah aku terlihat seperti orang yang berbohong?"

"Kau terlihat seperti orang gila."

Yue tersenyum tipis. "Mungkin. Tapi orang gila tidak bisa menjelaskan kenapa lengan kirimu tidak hancur meskipun terkena Cahaya Penghapus. Orang gila tidak bisa menjelaskan kenapa kau bisa membaca aksara di atas pintu kuil ini-aksara yang bahkan para kultivator tingkat tinggi tidak bisa membacanya. Orang gila tidak bisa menjelaskan kenapa kau masih hidup, Hun Ta. Kenapa kau selalu bisa hidup, sejak kau lahir, meskipun tubuhmu seharusnya tidak mampu menahan kekuatan yang ada di dalamnya."

Hun Ta menatap lengan kirinya. Kulitnya masih melepuh-merah, berdarah, mengerikan. Tapi di bawah luka itu, di bawah darah dan daging yang terbakar... ada sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang hidup.

"Ayahmu mencuri Fragmen Langit dari Kaisar Pertama," lanjut Yue. "Fragmen itu-pecahan dari langit asli, langit yang ada sebelum langit yang kita lihat sekarang-adalah sumber kekuatan para Kaisar Langit. Tanpa fragmen itu, Kaisar Pertama tidak bisa membuka Gerbang Langit. Tidak bisa naik ke tingkat berikutnya. Tidak bisa menjadi... dewa."

"Dan ayahmu... menanamkannya ke dalam diriku."

"Untuk menyembunyikannya. Karena Kaisar Pertama tidak akan pernah berpikir untuk mencari fragmennya di dalam tubuh seorang anak manusia biasa. Kau adalah tempat persembunyian yang sempurna, Hun Ta. Terlalu lemah untuk mencurigakan. Terlalu tidak berarti untuk diperhatikan." Yue berhenti sejenak. "Tapi malam itu, Kaisar Pertama akhirnya menemukanmu. Dan dia datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya."

Hun Ta menutup matanya. Ia melihat lagi-cahaya itu, sosok itu, mata emas itu. "Kau membawa fragmen. Tapi tidak menyadarinya. Kau berguna. Aku akan datang kembali saat fragmen itu matang."

"Kenapa?" tanya Hun Ta. Suaranya pecah. "Kenapa ayahku melakukan ini? Kenapa dia mencuri dari Kaisar Pertama? Kenapa dia menanamkannya ke dalam diriku? Kenapa dia tidak-kenapa dia tidak memberitahuku?"

Yue menatapnya lama. Di mata biru itu, ada sesuatu yang sulit dibaca-sesuatu antara belas kasihan dan penyesalan.

"Karena ayahmu tahu kau tidak akan bisa menyembunyikannya jika kau tahu," katanya pelan. "Karena ayahmu tahu bahwa Fragmen Langit yang tidak diketahui oleh pemiliknya akan tetap dorman. Tidak aktif. Tidak bisa dilacak. Tapi begitu kau tahu... begitu kau sadar... fragmen itu akan bangun. Dan ketika fragmen itu bangun, seluruh langit akan merasakannya."

Hun Ta membuka matanya. "Apa maksudmu?"

"Aku maksud..." Yue melangkah maju, tangannya yang keriput meraih lengan kiri Hun Ta. "Bahwa malam ini, ketika kau melihat Kaisar Pertama, ketika kau melihat langit terbelah, ketika kau merasakan kehancuran desamu... kau telah membangunkan fragmen itu. Dan sekarang, di dalam tubuhmu, ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang lapar. Sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan."

Hun Ta menatap lengannya. Di bawah kulit yang melepuh, di bawah darah yang mengering, ada garis-garis tipis berwarna perak-seperti urat kaca yang hendak pecah-mulai terlihat samar-samar. Persis seperti retakan di langit malam itu.

"Apa yang terjadi padaku?" bisiknya.

"Kau sedang berubah," kata Yue. "Fragmen itu sedang menyatu denganmu. Bukan lagi ditanamkan-tapi menyatu. Dan ketika proses itu selesai... kau tidak akan menjadi manusia lagi."

Hun Ta mengepalkan tangannya. "Aku tidak peduli."

Yue mengangkat alis. "Kau tidak peduli?"

"Aku tidak peduli apakah aku menjadi manusia atau monster." Hun Ta menatap Yue, matanya yang gelap kini menyala dengan sesuatu yang bukan kesedihan, bukan kemarahan-tapi tekad yang membara seperti bara api yang tidak bisa dipadamkan. "Aku tidak peduli apakah aku harus kehilangan tubuhku, jiwaku, atau apa pun. Aku hanya peduli pada satu hal."

"Dan apa itu?"

"Langit." Hun Ta menoleh ke arah pintu kuil, ke arah cahaya matahari yang menembus celah-celah kayu. "Langit yang mengambil segalanya dariku. Langit yang menghancurkan desaku. Langit yang membunuh ibuku. Aku akan meruntuhkannya. Bahkan jika aku harus menjadi monster untuk melakukannya."

Yue menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia tersenyum-senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Bagus," katanya. "Karena untuk meruntuhkan langit, kau tidak bisa menjadi manusia biasa."

Ia berbalik, berjalan menuju patung batu itu. Tangannya menyentuh pedang yang dipegang patung itu-pedang yang terhunus ke bawah, pedang yang tampak biasa tapi entah kenapa membuat Hun Ta merasa... terhubung.

"Pedang ini," kata Yue, "adalah pedang ayahmu. Namanya Pembelah Langit. Ia tidak bisa memotong manusia. Tidak bisa memotong batu. Tidak bisa memotong apa pun yang ada di bumi ini."

"Lalu apa gunanya?"

"Pedang ini hanya bisa memotong satu hal." Yue menoleh, matanya biru sebening kaca, dan di dalamnya ada sesuatu yang membuat Hun Ta merasa seperti sedang dilihat oleh lautan. "Langit."

Hun Ta menerima pedang itu. Pegangannya dingin, tapi tidak dingin seperti besi-dingin seperti angin malam, seperti bintang-bintang, seperti sesuatu yang jauh dan tinggi dan tak terjangkau.

"Kau akan membutuhkan lebih dari ini," kata Yue. "Kau akan membutuhkan kekuatan. Kau akan membutuhkan sekutu. Kau akan membutuhkan... kebenaran."

"Apa maksudmu?"

"Ayahmu tidak mencuri fragmen itu untuk menyembunyikannya." Yue menatap Hun Ta dengan tatapan yang dalam. "Ayahmu mencuri fragmen itu karena ia tahu sesuatu. Sesuatu yang Kaisar Pertama tidak ingin ada yang tahu. Sesuatu yang bisa... menghancurkan langit dari dalam."

Hun Ta menatap pedang di tangannya. Pembelah Langit. Nama yang berat untuk pedang yang bahkan tidak bisa memotong kayu.

"Di mana aku bisa menemukan kebenaran itu?"

Yue tersenyum tipis. "Di tempat di mana ayahmu menyembunyikan harta terbesarnya. Di bawah sumur tempat adikmu bersembunyi. Di bawah tanah yang kau injak setiap hari selama tiga belas tahun."

Hun Ta menegang. "Sumur...?"

"Ayahmu tidak dimakamkan di belakang rumahmu, Hun Ta. Jasad yang kau taburi bunga setiap tahun adalah jasad kosong-kuburan simbolis. Jasad ayahmu yang sebenarnya... ada di bawah sumur. Di ruang tersembunyi. Dan di tubuh itu, terukir pesan yang akan mengubah segalanya."

Hun Ta tidak bicara selama beberapa saat. Di luar kuil, matahari mulai terbenam, dan bayangan-bayangan panjang mulai merayap masuk melalui celah-celah pintu. Pedang di tangannya terasa berat-lebih berat dari yang seharusnya.

"Adikku," katanya akhirnya. "Xiao Ling. Dia... dia masih di sumur itu. Dia masih menungguku."

"Kalau begitu," kata Yue, "kau lebih baik cepat kembali. Karena malam ini, saat bulan terbit... Kaisar Pertama akan mengirim seseorang untuk mengambilmu."

Hun Ta menoleh tajam. "Apa?"

"Kau sudah membangunkan fragmen itu, Hun Ta. Kau telah menyalakan obor yang akan membakar langit. Dan Kaisar Pertama-dia tidak akan membiarkan obor itu menyala terlalu lama." Yue menatap langit melalui celah atap. "Kau punya waktu sampai fajar. Setelah itu... setelah itu, tidak ada tempat di bumi ini yang bisa menyembunyikanmu."

Hun Ta mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak perlu bertanya lagi.

Ia berbalik, melangkah keluar dari kuil, menembus pintu kayu yang berderit, dan berlari.

Berlari kembali ke desanya. Berlari kembali ke reruntuhan. Berlari kembali ke sumur tempat adiknya menunggu.

Dan di belakangnya, Yue menatap punggung pemuda itu sampai menghilang di balik pepohonan. Lalu, perlahan, ia menoleh ke patung batu-patung ayah Hun Ta-dan berbisik:

"Dia tidak akan pernah memaafkanmu, Kaisar Kedua. Tapi dia akan melakukan apa yang kau tidak bisa lakukan." Ia menatap langit yang mulai gelap. "Dia akan menghancurkan langit. Dan kau... kau akan menyesal telah menjadikannya senjata."

Patung batu itu tidak menjawab. Tapi di sudut matanya yang tertutup-jika ada yang memperhatikan dengan cukup teliti-ada setetes air yang mengalir turun. Seperti air mata.

Atau mungkin hanya embun.

Hun Ta berlari sepanjang malam.

Ia tidak peduli pada duri yang mencakar kakinya. Tidak peduli pada cabang pohon yang memukul wajahnya. Tidak peduli pada rasa sakit di lengan kirinya yang semakin membakar setiap kali ia mengingat mata emas itu.

Yang ia pedulikan hanya satu: Xiao Ling.

Adiknya. Adiknya yang masih menunggu di bawah sumur. Adiknya yang masih percaya bahwa kakaknya akan kembali. Adiknya yang masih menggenggam belati kayu itu-belati yang Hun Ta buat dengan tangannya sendiri tiga tahun lalu, belati yang ia ukir dengan simbol matahari dan bulan, belati yang ia berikan sambil berkata: "Selama kau memegang ini, kau akan selalu aman."

Kebohongan. Semua kebohongan.

Tapi malam ini, Hun Ta akan membuatnya menjadi kenyataan.

Ia sampai di Desa Yanhe saat bulan tepat berada di atas kepala. Reruntuhan itu masih sama seperti saat ia tinggalkan-tanah kosong, abu, bau hangus. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat Hun Ta berhenti di tepi desa, menajamkan pendengarannya.

Suara. Suara langkah kaki. Banyak langkah kaki.

Hun Ta merunduk, bersembunyi di balik batu besar yang dulu adalah bagian dari rumah Pak Tua Zhou. Matanya menembus kegelapan-dan apa yang ia lihat membuat darahnya membeku.

Sosok-sosok berbaju putih. Setidaknya sepuluh. Mereka berdiri di tengah reruntuhan, mata mereka menyala redup seperti bara, dan di tangan mereka... di tangan mereka ada rantai. Rantai yang berkilau dengan cahaya yang sama dengan cahaya yang menghancurkan desanya.

Kaisar Pertama. Dia benar-benar mengirim seseorang.

Hun Ta mengepalkan pedangnya-Pembelah Langit-dan merasakan pegangan itu berdenyut di tangannya. Pedang itu tahu. Pedang itu merasakan kehadiran langit.

Tapi Hun Ta tidak bisa melawan sepuluh kultivator. Tidak sekarang. Tidak dengan lengan yang masih terluka

Malam itu, langit di atas Desa Yanhe berwarna biru keunguan yang aneh.

Hun Ta menyadarinya saat ia duduk di beranda rumahnya, mengasah sebilah anak panah dengan batu asah warisan ayahnya. Udara malam biasanya sejuk di kaki Gunung Sunyi-cukup dingin untuk membuat embun menempel di dedaunan, tapi tidak cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Malam ini berbeda.

Udara terasa... berat. Seperti ada sesuatu yang tak terlihat menekan dari atas, membuat dada sesak dan telinga berdenging halus.

"Kak?"

Hun Ta menoleh. Xiao Ling berdiri di ambang pintu, rambutnya yang dikuncir dua sedikit acak-acakan karena baru bangun. Gadis sepuluh tahun itu menggosok matanya dengan punggung tangan, tangannya yang satu lagi masih menggenggam belati kayu yang selalu ia bawa ke mana-mana-hadiah ulang tahun dari Hun Ta tiga tahun lalu.

"Kenapa belum tidur?" tanya Hun Ta lembut.

"Ling nggak bisa tidur." Xiao Ling berjalan menghampirinya, lalu duduk di samping kakaknya, menyandarkan kepala ke lengan Hun Ta. "Langitnya aneh. Ling mimpi buruk."

Hun Ta menahan diri untuk tidak menegang. Adiknya memang sering mimpi buruk sejak kecil-tapi biasanya mimpinya hanya tentang ular atau kegelapan.

Bukan tentang langit.

"Langit cuma sedang mendung," kata Hun Ta sambil mengusap rambut Xiao Ling. "Besok pagi pasti cerah lagi. Ayo, kembali tidur. Ibu akan marah kalau kau bangun kesiangan."

"Kak Hun Ta nggak tidur?"

"Aku menyelesaikan ini dulu." Hun Ta mengangkat anak panah yang diasahnya. "Besok aku mau berburu ke lereng utara. Kata Pak Tua Zhou, ada rusa yang turun dari gunung."

Xiao Ling mengangguk, tapi belum beranjak. Matanya yang besar menatap langit di atas mereka-langit yang berwarna aneh itu-dengan ekspresi yang terlalu serius untuk anak seusianya.

"Kak... kalau suatu hari langit benar-benar runtuh, kita bakal baik-baik aja, kan?"

Hun Ta terdiam sejenak.

Entah kenapa, pertanyaan itu mengirimkan hawa dingin yang menjalar dari tengkuknya hingga ke tulang ekor. Ia menatap adiknya, lalu tersenyum tipis-senyum yang ia paksakan agar tidak terlihat gelisah.

"Selama aku masih bisa mengangkat pedang, langit tidak akan menyentuhmu," katanya. "Sekarang tidur. Besok aku akan mengajarimu memanah."

Wajah Xiao Ling langsung berseri-seri. Ia melompat berdiri, mencium pipi kakaknya dengan cepat, lalu berlari kembali ke dalam rumah sambil berbisik lantang, "Janji ya, Kak!"

Hun Ta menatap punggung adiknya sampai menghilang di balik pintu.

Senyumnya perlahan memudar.

Ia menoleh lagi ke langit. Di kejauhan, di atas puncak Gunung Sunyi, awan-awan bergerak aneh. Mereka tidak ditiup angin-mereka berkumpul. Berputar perlahan seperti pusaran air raksasa yang tak terlihat. Dan di tengah pusaran itu, langit tampak... retak.

Garis-garis tipis berwarna perak, seperti urat kaca yang hendak pecah, mulai terlihat samar-samar di antara bintang-bintang.

Hun Ta mengepalkan tangannya.

'Orang biasa sebaiknya tidak menyentuh urusan langit.'

Kalimat almarhum ayahnya bergema di kepalanya. Kalimat yang sudah ia dengar ribuan kali sejak kecil, kalimat yang selalu diucapkan ayahnya dengan nada berat setiap kali ada kultivator melintas di desa mereka-entah itu sekte yang lewat mencari murid berbakat, atau pedagang yang membawa barang-barang ajaib dari kota.

Hun Ta selalu menuruti prinsip itu. Meski bakatnya-yang bahkan tidak pernah ia pahami sepenuhnya-terasa berdenyut di dalam dirinya setiap kali ada kultivator mendekat. Meski tiga sekte berbeda pernah menawarinya berguru, dan tiga kali pula ia menolak dengan sopan.

Ia memilih tinggal di desa kecil ini, bertani di siang hari, berburu di sore hari, dan mendengarkan tawa ibunya saat memasak makan malam.

Karena ayahnya benar.

Orang biasa tidak seharusnya menyentuh urusan langit.

Tapi malam itu, langit yang menyentuh desanya.

Pertama, cahaya itu.

Sinar putih menyilaukan-lebih terang dari matahari, lebih dingin dari bulan-turun dari langit seperti tombak raksasa yang menghunjam bumi. Hun Ta merasakan hawa panas yang aneh, bukan panas api, tapi panas yang membakar dari dalam tulang.

Rumah mereka bergetar. Jendela-jendela pecah.

Xiao Ling menjerit dari dalam.

"Ling!"

Hun Ta melompat berdiri, berlari ke dalam rumah. Ibunya sudah berdiri di tengah ruangan, memeluk Xiao Ling yang menangis ketakutan. Wajah ibunya pucat, tapi matanya-mata yang sama dengan mata Hun Ta, gelap dan dalam-tetap tenang.

"Ta," katanya, suaranya tenang meski tubuhnya gemetar. "Bawa adikmu. Ke sumur. Sekarang."

"Ibu, apa yang-"

"SEKARANG, Ta!"

Hun Ta tidak pernah mendengar ibunya berteriak seperti itu. Ia tidak pernah mendengar suara ibunya pecah seperti itu-penuh ketakutan yang ia coba sembunyikan, penuh cinta yang ia coba lindungi.

Hun Ta meraih Xiao Ling, menggendongnya. Adiknya menangis, memukul-mukul punggungnya, memanggil-manggil ibunya.

Tapi Hun Ta berlari.

Keluar dari rumah, menembus halaman, menuju sumur batu tua di belakang rumah-sumur yang sudah tidak dipakai sejak ayahnya meninggal, tapi masih cukup lebar untuk menyembunyikan seorang anak.

"Kak! Kak, Ibu! IBU!"

"Ling, dengar." Hun Ta menurunkan adiknya ke dalam sumur, tangannya gemetar. "Kau sembunyi di sini. Jangan keluar. Jangan bersuara. Apa pun yang kau dengar... jangan keluar."

"Kak-"

"JANJI, Ling!"

Xiao Ling menatapnya. Mata besar itu-mata yang selalu penuh semangat, mata yang selalu tersenyum-kini penuh air mata dan ketakutan.

Tapi ia mengangguk. Pelan. Tubuhnya gemetar hebat.

Hun Ta menutup mulut sumur dengan papan kayu, lalu berlari kembali ke rumah.

Ia tidak sampai ke rumah.

Langit benar-benar terbelah.

Sebuah celah panjang-seperti luka yang menganga di tubuh langit-terbuka dari ujung cakrawala ke ujung lainnya. Dan dari celah itu, sesuatu turun.

Sosok itu tinggi. Terlalu tinggi untuk manusia. Tubuhnya terbungkus jubah putih yang mengalir seperti air, bermandikan cahaya yang membuat Hun Ta harus menyipitkan mata. Wajahnya-jika bisa disebut wajah-tampak seperti ukiran batu yang sempurna, tanpa ekspresi, tanpa emosi.

Matanya berwarna emas, dan saat ia menatap ke bawah-ke desa kecil di kaki gunung itu-Hun Ta merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk dari ketakutan.

Ia merasakan ketiadaan.

Seperti dirinya bukan apa-apa. Seperti nyawanya tidak berarti.

Sosok itu mengangkat tangannya.

"Fragmen Langit," suaranya bergema di kepala Hun Ta, bukan melalui telinga, tapi langsung ke dalam pikiran. "Kembalikan apa yang bukan milikmu."

Hun Ta tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti.

Tapi desa itu-desa yang damai, desa yang hanya ingin hidup tenang-mulai hancur.

Cahaya itu menyapu rumah-rumah. Bukan api, bukan ledakan-hanya cahaya yang menyentuh, dan apa pun yang disentuhnya... lenyap. Bukan terbakar. Bukan hancur. Lenyap. Seperti tidak pernah ada.

Hun Ta melihat Pak Tua Zhou-tetangga yang selalu tersenyum saat memberinya daging rusa-mengangkat tangannya, lalu lenyap.

Ia melihat keluarga Zhang-pasangan muda dengan bayi yang baru lahir-berlari, lalu lenyap.

Ia melihat semua orang yang ia kenal sepanjang hidupnya, satu per satu, lenyap.

Dan di tengah kekacauan itu, suara ibunya terdengar.

"TA!"

Hun Ta menoleh. Ibunya berlari ke arahnya, tangannya terulur. Di belakangnya, cahaya itu menyapu rumah mereka-rumah tempat Hun Ta dilahirkan, rumah tempat ayahnya meninggal, rumah tempat Xiao Ling belajar berjalan.

"TA, LARI!"

Tapi Hun Ta tidak bisa berlari. Kakinya seperti akar yang menancap di tanah. Ia hanya bisa menatap ibunya-wanita yang selalu tersenyum, wanita yang selalu berkata bahwa yang terpenting adalah keluarga-berlari ke arahnya, tangannya terulur.

Lalu cahaya itu menyentuh ibunya.

Tubuh itu-tubuh yang hangat, tubuh yang selalu memeluknya, tubuh yang selalu wangi bunga melati-hancur. Bukan lenyap. Hancur. Menjadi serpihan-serpihan kecil yang tersebar di udara.

Tapi sebelum benar-benar hilang, ibu Hun Ta sempat menatapnya.

Dan di mata itu-mata yang gelap dan dalam, mata yang sama dengan mata Hun Ta-ada sesuatu yang bukan ketakutan. Ada sesuatu yang bukan permintaan maaf.

Ada sesuatu yang... harapan.

Lalu ibunya lenyap.

Hun Ta tidak ingat bagaimana ia bertahan.

Mungkin karena tubuhnya menyimpan sesuatu yang bahkan tidak ia sadari. Fragmen yang menyatu sejak ia lahir-fragmen yang membuat cahaya itu, cahaya yang menghapus segala sesuatu, tidak bisa menghapusnya.

Cahaya itu menyentuhnya, membakar lengan kirinya, meninggalkan bekas luka yang akan selalu mengingatkannya pada malam itu-tapi tidak menghancurkannya.

Sosok dari langit itu menatapnya. Mata emas itu menyipit, seperti sedang menilai sesuatu.

"Menarik," katanya. "Kau membawa fragmen. Tapi tidak menyadarinya." Suaranya dingin, tanpa emosi. "Kau berguna. Aku akan datang kembali saat fragmen itu matang."

Lalu ia menghilang.

Celah di langit menutup. Warna biru keunguan memudar, berganti dengan hitam pekat malam yang normal-tapi langit yang normal tidak lagi terasa sama.

Hun Ta berdiri di tengah reruntuhan desanya.

Rumah-rumah lenyap. Orang-orang lenyap. Yang tersisa hanya tanah kosong, abu, dan bau hangus yang menyengat.

Ia menatap langit.

Langit yang sudah runtuh.

Langit yang telah menghancurkan segalanya.

Dan sesuatu di dalam dirinya-sesuatu yang selama ini ia tekan, ia tahan, ia sembunyikan-mulai retak.

Ia ingin berteriak. Ia ingin menangis. Ia ingin menghancurkan langit itu dengan tangannya sendiri.

Tapi ia tidak bisa.

Ia hanya manusia biasa. Manusia yang tidak bisa menyentuh urusan langit.

'Orang biasa sebaiknya tidak menyentuh urusan langit.'

Kata-kata ayahnya terngiang di kepalanya. Kata-kata yang pernah ia pegang teguh. Kata-kata yang kini terasa seperti lelucon.

"Kalau begitu..."

Hun Ta mengepalkan tangannya. Darah menetes dari lengan kirinya yang terbakar, tapi ia tidak merasakannya.

"Kalau begitu aku tidak akan jadi orang biasa lagi."

Ia menatap langit, mata gelapnya yang dalam kini menyala dengan sesuatu yang bukan kesedihan. Bukan kemarahan.

Ada... tekad.

"Langit yang runtuh malam ini," bisiknya, suaranya serak, "akan runtuh lagi. Tapi kali ini... aku yang akan meruntuhkannya."

Dari dalam sumur, di bawah tumpukan papan kayu, Xiao Ling menggigil.

Ia mendengar semuanya. Jeritan. Cahaya. Kehancuran.

Tapi ia tidak keluar.

Ia menepati janjinya. Karena Xiao Ling selalu menepati janjinya pada kakaknya. Bahkan saat ia tidak tahu apakah kakaknya masih hidup. Bahkan saat ia tidak tahu apakah ia masih punya keluarga. Bahkan saat langit di atasnya-langit yang selalu ia lihat saat bermain dengan kakaknya-kini terasa asing, dingin, dan kejam.

Xiao Ling menekan belati kayunya ke dadanya, menahan tangis yang ingin meledak.

"Kak Hun Ta," bisiknya dalam gelap. "Ling nggak keluar. Ling janji."

Dan di atasnya, di permukaan bumi yang hancur, Hun Ta mulai berjalan.

Langkah pertama menuju langit.

Langkah pertama menuju balas dendam.

Langkah pertama menuju kehancuran-bukan kehancuran dirinya, tapi kehancuran langit yang telah mengambil segalanya.

CATATAN PENULIS (Plot Twist untuk Bab 2):

Saat Hun Ta meninggalkan reruntuhan desanya, ia tidak sadar bahwa di bawah tanah-tepat di bawah sumur tempat Xiao Ling bersembunyi-ada ruang tersembunyi berisi jasad ayahnya yang tidak pernah dikuburkan, dan di tubuh itu terukir pesan kuno:

'Jangan biarkan anak kita tahu. Langit yang runtuh malam ini adalah langit yang aku tinggalkan. Aku bukan petani. Aku adalah salah satu dari Sembilan Kaisar Langit yang melarikan diri.'

Bersambung ke Bab 2: 'Warisan dari Bawah Tanah'

~ Bab 1 Selesai ~

Draf awal bab ini dianyam oleh kecerdasan AI yang kemudian disunting kembali oleh Penulis Utama demi kepuasan rasa Anda.

Daftar Bab

© 2026 Novel Indonesia Ai